EVALUASI KURIKULUM PK750 HANSISWANY KAMARGA.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
PEMBELAJARAN DI KELAS, LAB & LAPANGAN
Advertisements

PENGEMBANGAN SILABUS.
Assalamu'alaikum....
MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMBELAJARAN
RAMBU-RAMBU PENYUSUNAN RPP
MERENCANAKAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PERANGKAT AKREDITASI SD/MI
PENGEMBANGAN MODEL MATA PELAJARAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
PENGEMBANGAN KURIKULUM
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PENGEMBANGAN SILABUS.
PERENCANAAN PENGAJARAN SEJARAH HANSISWANY KAMARGA.
KONSEP PENILAIAN AUTENTIK PADA PROSES DAN HASIL BELAJAR
(Oleh: Prof. Dr. I Wayan Koyan, M.Pd.)
PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Penyusunan RPP DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KEMENTeRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
disajikan oleh : Machmud SYAM
SUPERVISI AKADEMIK Oleh H.M. Purwono, S. Pd PCT B. Ind. Jatim.
Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar PAI
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
PERENCANAAN PENGAJARAN SEJARAH
MANAJEMEN PERUBAHAN Oleh H.M. PURWONO, S. Pd PCT B. INDONESIA JATIM.
RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
SUPERVISI AKADEMIK PELATIHAN PENDAMPINGAN
LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
PENGEMBANGAN KURIKULUM PAUD
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PENGEMBANGAN SILABUS PEMBELAJARAN.
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
EVALUASI KURIKULUM PK750 HANSISWANY KAMARGA.
PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN IPA
EVALUASI KURIKULUM PK750 HANSISWANY KAMARGA.
PENGEMBANGAN SILABUS.
MERANCANG PEMBELAJARAN IPA DI SD PERTEMUAN 13
Pengertian Microteaching
MODEL PEMBELAJARAN IPA
PERENCANAAN PENGAJARAN SEJARAH
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
STRATEGI MENGAJAR HANSISWANY KAMARGA.
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
PEMBELAJARAN BERBASIS PAIKEM
6/11/2018 Orientasi Pengajaran Mikro Dwi Anggraeni Siwi/
Workshop Pembuatan RPP
PEMBELAJARAN BERBASIS PAIKEM.
PANDUAN PENYUSUNAN RPP
Pengembangan dan Penilaian Kurikulum
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
HAKIKAT BELAJAR & PEMBELAJARAN
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
Penggunaan Dimensi Belajar
KUALIFIKASI & KOMPETENSI GURU
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
STRATEGI PEMBELAJARAN
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN MODEL PEMBELAJARAN.
Transcript presentasi:

EVALUASI KURIKULUM PK750 HANSISWANY KAMARGA

EVALUASI IDE KURIKULUM Dalam mengevaluasi IDE (konsep dasar dari ide tersebut) tidak lepas dari unsur NILAI dan ARTI Apakah konsep utuh / merupakan kesatuan  berbicara tentang NILAI yakni internal kurikulum Apakah sesuai dengan tujuan nasional  berbicara tentang ARTI yakni kontribusi ide terhadap tujuan bangsa

Value Contribution Technique VCT: Apa yang menjadi tujuan (goal based) Apa yang dapat menyumbang untuk tujuan Contoh: evaluasi terhadap ide KTSP untuk jenjang SMA/MA Konsep dasar tentang kurikulum adalah kurikulum akademik  apakah ide kurikulum tsb utuh sebagai kurikulum akademik Tujuan menuju pada masyarakat industri  apakah sesuai antara kurikulum akademik dengan tujuan masyarakat industri

Value Contribution Technique Tujuan SMA/MA IPA Kim Bio Fis Bahasa Bhs Ind Bhs Asing IPS Geo Sej Eko Sos Antro Contoh: mata pelajaran apa yang memberi kontribusi paling besar terhadap tujuan SMA/MA Apa yang menjadi tujuan SMA/MA Apa yang bisa menyumbang untuk tujuan (contoh IPA, Bahasa, IPS di mana ketiganya harus berjumlah 100%) Berapa level yang dimiliki masing-masing unity (contoh IPS kimia, fisika, biologi) yang masing-masing berjumlah 100% Dievaluasi mana yang paling besar kontribusinya

Responden harus orang-orang yang kompeten dalam bidangnya Survey Apakah tujuan (kurikuler/mata pelajaran) yang dikembangkan dalam kurikulum sudah mencakup tujuan (institusional / jenjang) Contoh: kurikulum SD/MI tujuannya adalah mengembangkan keterampilan dasar  apakah berhitung, membaca, menulis sudah dapat mencapai keterampilan dasar? Diperlukan judgement dari responden yang berupa skala dengan rentang paling tidak relevan – paling relevan Responden harus orang-orang yang kompeten dalam bidangnya Model ini sering digunakan: Tidak mengganggu posisi mata pelajaran lain Internal mata pelajaran itu sendiri

Goal Free Evaluation (Scriven) Tidak berarti evaluasi dilakukan tanpa adanya tujuan atau tanpa kriteria Meski tujuan sudah ditetapkan oleh pengambil keputusan, tetapi evaluator masih diperkenankan untuk mengembangkan tujuan-tujuan lain Contoh: mengevaluasi KTSP, tujuan yang ditetapkan mengetahui seberapa besar hasil yang diperoleh melalui KTSP Evaluator dapat menambahkan apakah terjadi friksi dengan pemerintah daerah; apakah terjadi perubahan nilai dalam masyarakat (akibat KTSP)

EVALUASI DOKUMEN KURIKULUM Melakukan analisis terhadap dokumen kurikulum dengan menggunakan kriteria pengembangan dokumen, contoh: Terhadap tujuan  apa syarat mengembangkan tujuan Terhadap content  apa syarat mengembangkan content Melihat kesesuaian antara apa yang diinginkan oleh ide dengan apa yang dikembangkan dalam dokumen, contoh: kurikulum IPS idenya adalah integrasi, tetapi terdapat GBPP IPS dan Sejarah

ANALISIS TERHADAP DOKUMEN Tinjau ide kurikulum  bagaimana karakteristiknya Lakukan analisis terhadap dokumen: Apakah karakteristik tergambar dalam dokumen? Apakah terdapat model pengembangan kurikulum? Apakah didasarkan pada prinsip kurikulum dalam hal kemudahan membaca (apakah mudah dibaca atau self explanatory) dan dalam hal kemudahan memahami istilah (apakah KTSP multi tafsir)

Di Indonesia, ketidaksesuaian dokumen tidak menjadi masalah, mengapa ? BUKU 1 BUKU 3 BUKU 2 MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM? PRINSIP KURIKULUM? IDE KURIKULUM KARAKTERISTIK Di Indonesia, ketidaksesuaian dokumen tidak menjadi masalah, mengapa ?

PROFESIONAL JUDGMENT Teknik lain yang dapat dilakukan untuk evaluasi dokumen adalah dengan menyebarkan angket kepada para profesional  mereka melakukan judgment terhadap rambu-rambu yang dibuat oleh evaluator Tujuan: sejauh mana kejelasan tujuan; sejauh mana kejelasan ruang lingkup materi tujuan Materi: apakah materi yang dikembangkan sudah sesuai dengan indikator Proses: apakah tujuan, materi, sesuai dengan proses Evaluasi: apakah alat evaluasi, model evaluasi, pengadministrasian evaluasi sudah sesuai

Pengembangan dan Penilaian Kurikulum

Siklus Pengembangan Kurikulum (Curriculum Engineering Cycle) Perancangan Kurikulum 1 Penilaian Kurikulum Pengembangan Kurikulum 4 2 3 Pelaksanaan Kurikulum

1. Perencanaan Kurikulum

Perencanaan Kurikulum Analisis kebutuhan masyarakat Analisis kebutuhan pengembangan ilmu, pengetahuan, nilai-nilai Analisis kebutuhan peserta didik

2. Pengembangan Kurikulum

Pertanyaan mendasar dalam pengembangan kurikulum: Pertanyaan pertama, "What educational purposes should the school seek to attain?" Pertanyaan kedua, "How can learning experiences be selected which are likely to be useful in attaining these experiences?" Pertanyaan ketiga, "How can learning experiences be organized for effective instruction?" Pertanyaan terakhir, "How can the effectiveness of learning experiences be evaluated?"

Pengorganisasian materi dalam mata pelajaran memperhatikan dan mempertimbangkan: Perkembangan psikologis dan fisik anak, Kebermanfaatan atau kegunaan bagi anak, Beban belajar anak, dan Disiplin keilmuan.

Pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum: para pengambil keputusan yang terkait dengan penetapan kurikulum para ahli kurikulum, para ahli disiplin keilmuan, para ahli psikologi, dan guru-guru.

3. Pelaksanaan Kurikulum

Pelaksanaan Kurikulum Pembagian tugas di antara pendidik dan tenaga kependidikan Membuat silabus pembelajaran dan rencana pengajaran Melaksanakan pembelajaran Melaksanakan penilaian proses

Kesesuaian: Kurikulum dan Pembelajaran

4. Penilaian Kurikulum

Penilaian kurikulum sebagai suatu proses: penilaian terhadap unsur tertentu perangkat kurikulum, penilaian terhadap keseluruhan perangkat kurikulum, penilaian kurikulum dilakukan terhadap unsur tertentu pelaksanaan kurikulum, penilaian kurikulum dilakukan terhadap keseluruhan pelaksanaan kurikulum.

Fungsi penilaian kurikulum: to diagnose, to revise, to compare, to anticipate educational needs, and to determine if objective have been achieved.

Beberapa pendekatan penilaian Tyler: Mulai dengan penentuan tujuan penilaian. Tujuan ini harus menyatakan dengan jelas materi yang akan dinilai dalam kurikulum. Memilih, mengubah, atau menyusun alat penilaian dan menguji obyektivitas, realibilitas, dan validitas alat tersebut. Gunakan alat penilaian untuk memperoleh data. Bandingkan data yang diperoleh dengan hasil penilaian sebelumnya yang memperoleh data. Analisa data untuk menentukan kekuatan dan kelemahan dari kurikulum dan jelaskan alasan dari kekuatan dan kelemahan tersebut. Gunakan data untuk membuat perubahan yang dianggap perlu dalam kurikulum.

“model penilaian kurikulum secara sumatif dan formatif”. Bloom, Hastings, dan Madaus dalam penilaian kurikulum mengembangkan: “model penilaian kurikulum secara sumatif dan formatif”.

Stufflebeam memperkenalkan model penilaian kurikulum: CIPP Context Input Process Product Tujuan Metode Hubungan dengan pembuatan keputusan

Stake mengembangkan model penilaian kurikulum: CCM Dasar pemikiran penilaian kurikulum (1) Tujuan Pengamatan Patokan Pertimbangan Matriks Deskripsi Matriks Pertimbangan (2) (3)

Kesesuaian dan Kecocokan Data pendahuluan yang diharapkan Hasil pengamatan pendahuluan sesuai Data proses belajar mengajar yang diharapkan Hasil pengamatan proses belajar mengajar sesuai Data hasil belajar yang diharapkan Hasil pengamatan hasil belajar sesuai

Model Provus: discrepancy evaluation model Tahap 1: Menentukan kriteria yang diinginkan. Kemudian penilai mengidentifikasi ketidaksesuaian antara kriteria dan perencanaan program kurikulum. Dara dilaporkan kepada pembuat keputusan yang harus memutuskan apakah pembuat keputusan yang harus memutuskan apakah ketidaksesuaian dapat diabaikan atau perencanaan program harus dirubah. Tahap 2: Membandingkan antara kenyataan atau pelaksanaan program kurikulum dan kriteria. Tugas penilai adalah melaporkan ketidaksesuaian kedua hal tersebut. Perubahanm pelaksanaan kurikulum pada tahap ini dimungkinkan sebelum penilaian dilanjutkan. Perubahan harus melibatkan para ahli untuk membantu guru dalam mempelajari metode-metode pengajaran baru.

Tahap 3: meneliti proses belajar mengajar dan hasilnya secara khusus digunakan untuk menentukan hubungan penyebab dan pengaruh. Provus menamakan tahap 3 ini sebagai microlevel evaluation. Jika ternyata proses belajar mengajar tidak menghasilkan hasil belajar yang diinginkan, proses belajar mengajar hendaknya diperbaiki. Pada tahap ini, penilai juga diharapkan mendeteksi berbagai masalah yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Tahap 4: Meneliti pengaruh dari kurikulum secara keseluruhan dalam hubungannya dengan perubahan tingkah laku anak didik. Provus menamakan tahap ini dengan macrolevel evaluation. Dalam tahap ini akan diketahui apakah pelaksanaan kurikulum telah mencapai tujuannya ataukah tidak mencapai. Data yang diperoleh dari tahap 2 dan 3 akan sangat membantu dalam pelaksanaan penilaian pada tahap ini. Tahap 5: Merencanakan kurikulum baru berdasarkan data dari pelaksanaan kurikulum yang telah dinilai.

7 Perencanaan Pembelajaran

STRATEGI MENGAJAR Proses belajar adalah kegiatan utama dari suatu sistem pengajaran Secara mendasar dapat dikatakan bahwa semua komponen lain diadakan dan disiapkan untuk melakukan proses belajar. Proses belajar tersebut terdiri atas beberapa fase yang bersifat sekuensial tetapi juga memiliki lingkar balik. Secara mendasar fase tersebut adalah pembukaan, pengembangan proses belajar, dan penutup.

PENENTUAN PROSES DAN METODE MENGAJAR STRATEGI MENGAJAR DIAGRAM 1 PENENTUAN PROSES DAN METODE MENGAJAR TUJUAN MATERI PERALATAN CARA BELAJAR SUMBER METODE

KONSOLIDASI PEMBELAJARAN PEMBENTUKAN SIKAP DAN PERILAKU STRATEGI MENGAJAR ALOKASI WAKTU APERSEPSI Tanya jawab tentang pengetahuan dan pengalaman 5 – 10 % EKSPLORASI Memperoleh/mencari informasi baru 25 – 30 % KONSOLIDASI PEMBELAJARAN Negosiasi dalam rangka mencapai pengetahuan baru 35 – 40 % PEMBENTUKAN SIKAP DAN PERILAKU Pengetahuan diproses menjadi nilai, sikap, dan perilaku 10 % PENILAIAN FORMATIF 10 %

STRATEGI MENGAJAR Dalam setiap kegiatan terjadi proses: Pemberian informasi Pemantapan pemahaman terhadap informasi Pengembangan wawasan Pelatihan ketrampilan/sikap Pemantapan wawasan/ketrampilan/sikap Penerapan wawasan/pemahaman/ketrampilan/sikap

STRATEGI MENGAJAR Berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu proses belajar yang baik adalah: melibatkan aktivitas peserta didik yang tinggi (time engagement) sesuai dengan kualitas yang tercantum dalam tujuan sesuai dengan sifat bahan ajar menyenangkan bermakna (meaningful) dikembangkan dari kemampuan awal peserta didik

STRATEGI MENGAJAR prinsip-prinsip kegiatan belajar-mengajar Berpusat pada siswa Belajar dengan melakukan Mengembangkan kemampuan sosial Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah bertuhan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah mengembangkan kreatvitas siswa mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik belajar sepanjang hayat perpaduan kompetisi, kerjasama, dan solidaritas.

STRATEGI MENGAJAR Variabel-variabel dalam memilih bentuk pembelajaran Sejumlah variabel sebaiknya dijadikan pertimbangan ketika guru menyeleksi model pembelajaran, strategi, dan metode-metode yang akan digunakan. Variabel-variabel tersebut di antaranya: hasil dan pengalaman belajar siswa yang diinginkan; urutan pembelajaran (sequence) yang selaras: deduktif atau induktif; tingkat pilihan dan tanggung jawab siswa (degree); pola interaksi yang memungkinkan; keterbatasan praktek pembelajaran yang ada.

STRATEGI MENGAJAR Model-model Pembelajaran Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pendidikan dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran. Model digunakan untuk menyeleksi dan menyusun strategi pengajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas siswa untuk memberikan tekanan pada salah satu bagian pembelajaran (topik konten). Joyce dan Weil (1986) mengidentifikasi empat model yakni (a) model proses informasi, (b) model personal, (c) model interaksi sosial, dan (d) model behavior. Strategi Pembelajaran Dalam setiap model terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan. Menurut arti secara leksikal, strategi adalah rencana atau kebijakan yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian strategi mengacu kepada pendekatan yang dapat dipakai oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi dikelompokkan menjadi strategi langsung (direct), strategi tidak langsung (indirect), strategi interaktif (interactive), strategi melalui pengalaman (experiential), dan strategi mandiri (independent).

STRATEGI MENGAJAR Metode-metode Pembelajaran Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan menkhususkan aktivitas di mana guru dan siswa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Keterampilan-keterampilan pembelajaran Keterampilan merupakan perilaku pembelajaran yang sangat spesifik. Di dalamnya terdapat teknik-teknik pembelajaran seperti teknik bertanya, diskusi, pembelajaran langsung, teknik menjelaskan dan mendemonstrasikan. Dalam keterampilan-keterampilan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan perencanaan yang dikembangkan guru, struktur dan fokus pembelajaran, serta pengelolaan pembelajaran.

STRATEGI MENGAJAR

STRATEGI MENGAJAR 1. Strategi Pembelajaran Langsung (direct instruction) Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk di dalamnya metode-metode ceramah, pertanyaan didaktik, pengajaran eksplisit, praktek dan latihan, serta demonstrasi. Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah demi langkah 2. Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (indirect instruction) Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan tinggi siswa dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis. Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resource person). Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada siswa ketika mereka melakukan inkuiri. Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.

STRATEGI MENGAJAR 3. Strategi Pembelajaran Interaktif (interactive instruction) Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi di antara peserta didik. Seaman dan Fellenz (1989) mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternatif dalam berpikir. Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokkan dan metode-metode interaktif. Di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengerjaan tugas berkelompok, dan kerjasama siswa secara berpasangan. 4. Strategi Belajar Melalui Pengalaman (experiential learning) Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada siswa, dan berorientasi pada aktivitas. Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah pada proses belajar, dan bukan hasil belajar. Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh, di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.

STRATEGI MENGAJAR 5. Strategi Belajar Mandiri (independent study) Strategi belajar mandiri merujuk kepada penggunaan metode-metode pembelajaran yang tujuannya adalah mempercepat pengembangan inisiatif individu siswa, percaya diri, dan perbaikan diri. Fokus strategi belajar mandiri ini adalah merencanakan belajar mandiri siswa di bawah bimbingan atau supervisi guru. Belajar mandiri menuntut siswa untuk bertanggungjawab dalam merencanakan dan menentukan kecepatan belajarnya.

STRATEGI MENGAJAR

EVALUASI HASIL BELAJAR Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan

EVALUASI HASIL BELAJAR Pengertian Tes, Pengukuran, Evaluasi TES PENGUKURAN EVALUASI Tes: alat pengumpul data yang dirancang secara khusus Pengukuran: set aturan mengenai pemberian angka terhadap hasil suatu kegiatan pengukuran Evaluasi: proses pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan

EVALUASI HASIL BELAJAR Tiga karakteristik penting dalam evaluasi: Kriteria dan Standar Kriteria dapat menggunakan tujuan apa yang hendak dicapai; standar mengacu kepada kualitas yang seharusnya dicapai Tujuan dan Fungsi Evaluasi Tujuan mengacu kepada untuk apa evaluasi itu dilakukan Fungsi formatif  mengenal kelemahan dan keunggulan suatu proses; lebih kepada untuk memberi perbaikan / bantuan Fungsi sumatif  menentukan tingkat keberhasilan yang telah dicapai Keputusan Evaluasi Berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai dan fungsi suatu evaluasi

EVALUASI HASIL BELAJAR Tujuan dan fungsi formatif  keputusannya aspek apa yang masih harus diperbaiki dan aspek apa yang dianggap sudah memenuhi Tujuan dan fungsi sumatif  keputusannya apakah siswa dianggap mampu menguasai kualitas yang dikehendaki oleh tujuan (bisa naik kelas atau tidak)

EVALUASI HASIL BELAJAR Norma yang digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan: Norm Referenced Penguasaan siswa dibandingkan dengan tingkat penguasaan kawan-kawannya dalam satu kelompok, bersifat relatif. Lebih cocok jika digunakan pada evaluasi sumatif (mengapa?) Criterion Referenced Penguasaan siswa diukur dengan menggunakan perbandingan terhadap suatu kriteria tertentu Lebih cocok jika digunakan pada evaluasi formatif (mengapa?)