Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Modul IX. Pengambilan Keputusan Dalam Keadaan Tak Ada Kepastian

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Modul IX. Pengambilan Keputusan Dalam Keadaan Tak Ada Kepastian"— Transcript presentasi:

1 Modul IX. Pengambilan Keputusan Dalam Keadaan Tak Ada Kepastian
Pengambilan keputusan di dalam lingkungan atau situasi di mana probabilitas kejadian tak diketahui, disebut pengambilan keputusan dalam keadaan tak ada kepastian (uncertainty). Pengambilan keputusan dalam keadaan tak ada kepastian mencakup beberapa elemen berikut : 1. Alternatif tindakan (banyak alternative yang harus dipilih) 2. Kemungkinan kejadian tak pasti yang sering disebut states of nature atau uncertain event. 3. Kemungkinan pay off akibat dari kombinasi tindakan dan kejadian (action/event combination). 4. Probabilitas kejadian tak pasti tak diketahui. Pengambilan keputusan dalam keadaan tak ada kepastian merupakan keadaan yang tidak kita inginkan, akan tetapi justru situasi semacam ini yang kita hadapi sehari-hari. Contoh – contoh kejadian dunia yang dramatis sifatnya antara lain embargo tahun 1973 (membuat pimpinan Negara industri pengimpor minyak terkejut dan panik), meletusnya gunung S. Helens, Krisis Iran tahun 1980, bencana Tsunami di Aceh, anjloknya harga saham di Wall Street, New York, dan lain sebagainya. Kita sering menghadapi situasi ketidakpastian, di mana kejadian yang sama sekali baru, terjadi, misalnya sekelompok karyawan baru, proses produksi baru, system pengendalian mutu baru, suatu pasar baru, produk lain baru dan lain sebagainya. Untuk pengambilan keputusan dalam keadaan ketidakpastian, kita dapat menggunakan salah satu dari beberapa kriteria pengambilan keputusan guna memperoleh informasi tambahan untuk pengambilan keputusan yang optimum. 9.1 Kriteria Laplace Karena probabilitas terjadinya beberapa kejadian tak pasti di waktu yang akan datang tak diketahui, maka salah satu pendekatan yang bisa dipergunakan ialah member nilai probabilitas yang sama untuk setiap kejadian yaitu sebesar 1/k untuk setiap k kejadian. ~ 1 ~

2 Berdasarkan kriteria Laplace, pimpinan PT Perkasa akan memilih alternative
t2, yaitu memproduksi alat main ski air karena mempunyai nilai harapan pay off terbesar. 9.2 Kriteria Maximin dari Wald Kriteria maximin juga disebut kriteria Wald, didsarkan pandangan yang sangat pesimistis (berperilaku penghindar risiko) untuk suatu hasil yang akan dicapai di waktu yang akan datang. Dengan demikian kita mengharuskan hasil terjelek (the worst out-come), bagi setiap alternative tindakan yang akan dipilih. Maka dari itu, pay off yang minimum untuk alternative dibandingkan dan alternative yang menghasilkan pay off maksimum di antara pay off yang minimum tersebut harus dipilih. Dengan contoh yang sama seperti di atas diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 2. Matrik Pay Off (jutaan Rp) *Nilai maksimum Maksimin pay off = maks (-12, 2, 10) = 10. Oleh karena alternative t3 memberikan nilai maksimum di antara yang minimum, maka t3 dipilih, artinya pimpinan PT Perkasa harus memproduksi mobil roda tiga. 9.3 Kriteria Maximax Berlawanan dengan kriteria maximin yang didasarkan atas pandangan pesimis, kriteria maximax berdasarkan pandangan yang sangat optimis sikap yang agresif, optimis mengenai hasil yang akan dicapai di waktu yang akan datang Pasar Produk k1 (ramai) k2 (normal) k3 (sepi) Minimum t1 25 18 -12 t2 20 16 2 t3 10 10* Maksimum terbesar (maximum) di antara yang terbesar. Ternyata sepeda motor harus diproduksi dengan pay off sebesar 25, alternative t1 harus dipilih. ~ 3 ~

3 Apabila kita bandingkan alternative t1 dan t2, maka t1 jauh lebih
menguntungkan, jadi alternative t2 didominasi oleh t1 (t1 superior terhadap t2). Kemudian t3 lebih superior dari t4, sehingga alternative t4 didominasi oleh t3. Selanjutnya ternyata masih ada sisa tiga alternative yaitu (t1, t3 dan t5) yang tidak saling mendominasi sehingga kita bisa matrik pay off yang baru : Tabel 5. Matrik pay off sisa alternatif Pasar Produk k1 (ramai) k2 (normal) k3 (sepi) t1 4.000 3.000 2.000 t2 2.500 3.500 t3 Selanjutnya permasalahan ini bisa diselesaikan dengan kriteria-kriteria yang lainnya. 9.5 Kriteria Hurwics Kriteria Hurwics dikembangkan oleh Leonid Hurwics, merupakan kriteria hasil kompromi antara kriteria maximin dan maximax. Dalam prakteknya jarang sekali seorang pengambil keputusan sangat pesimis sehingga menggunakan kriteria maximin atau optimis sehingga menggunakan kriteria maximax, melainkan mempunyai sikap yang agak pesimis atau agak optimis, pendek kata tak terlalu ekstrim. Hurwics mengusulkan suatu koefisien optimism dengan symbol alpha (α) sebagai ukuran tingkat optimism pengambil keputusan. Koefisien optimism berkisar antara 0 sampai 1, seperti nilai probabilitas. Kalau α = 0, pengambil keputusan secara total pesimis (totally pessimist) Kalau α = 1, pengambil keputusan secara total optimis. Kalau Kalau α = 1, maka 1 - α = 1 – 1 = 0, berarti koefisien pesimisme 0. Dengan demikian koefisien pesimis + koefisien optimism sebesar 1. Menurut kriteria Hurwics pay off tertimbang (weighted pay off) untuk setiap alternative seperti berikut : Pay off tertimbang = α (pay off maksimum) + (1 – α) pay off minimum. ~ 5 ~


Download ppt "Modul IX. Pengambilan Keputusan Dalam Keadaan Tak Ada Kepastian"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google