Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Bab 17 Manajemen Piutang Jika perusahaan menjual barang secara kredit maka akan timbul piutang. Alasan perusahaan melakukan penjualan secara kredit: -

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Bab 17 Manajemen Piutang Jika perusahaan menjual barang secara kredit maka akan timbul piutang. Alasan perusahaan melakukan penjualan secara kredit: -"— Transcript presentasi:

1 Bab 17 Manajemen Piutang Jika perusahaan menjual barang secara kredit maka akan timbul piutang. Alasan perusahaan melakukan penjualan secara kredit: - Meningkatkan penjualan - Persaingan - Adanya kapasitas menganggur

2 Komponen Kebijakan Kredit
a. Syarat penjualan Jika penjualan dilakukan secara kredit, maka syarat penjualan harus menentukan secara spesifik mengenai jangka waktu kredit, potongan tunai dan periode potongan, serta jenis kredit. b. Analisis kredit Aspek yang dianalisis biasanya didasarkan pada five C’s of credit, yaitu character, capacity, capital, collateral, dan condition. c. Kebijakan penagihan piutang Setelah kredit diberikan, perusahaam mempunyai masalah yang potensial dalam pengumpulan kas, untuk itu perusahaan harus menentukan kebijakan penagihan piutang.

3 Investasi Dalam Piutang
Investasi dalam piutang bagi suatu perusahaan tergantung pada jumlah penjualan kredit dan rata-rata periode pengumpulan piutang (average collection period atau ACP). Sebagai contoh, jika ACP perusahaan adalah 30 hari, dan penjualan secara kredit Rp per hari, maka piutang perusahaan adalah: 30 x Rp = Rp secara rata-rata. Account receivable = Average daily sales x ACP

4 Syarat Penjualan Secara Kredit
Syarat penjualan mencakup tiga unsur yang berbeda, yaitu: jangka waktu kredit, potongan tunai dan periode potongan Sebagai contoh, syarat penjualan adalah: 2/10, net 60. Misalkan pelanggan membeli barang senilai Rp Pelanggan mempunyai pilihan untuk membayar dalam 10 hari sebesar: Rp x (1 – 0,02) = Rp atau membayar Rp dalam waktu 60 hari.

5 Jangka Waktu Kredit Terdapat beberapa faktor lain yang memengaruhi jangka waktu kridit, yaitu: a. Jenis barang yang dihasilkan atau dijual. b. Permintaan konsumen. c. Biaya, profitabilitas dan standarisasi. d. Risiko kridit. e. Besarnya transaksi. f. Persaingan. g. Jenis pelanggan.

6 Potongan tunai Hal ini dimaksudkan untuk mendorong pelanggan membayar lebih cepat dari jangka waktu kredit Contoh dengan syarat penjualan 2/10, net 30. Apakah potongan 2% tersebut menarik bagi pembeli untuk membayar lebih cepat ? Anggap pembeli membeli barang senilai Rp Pembeli dapat membayar Rp ,- dalam janka waktu 10 hari atau menunggu 20 hari dan membayar Rp ,- . Hal ini berarti pembeli meminjam Rp ,- selama 20 hari dan membayar bunga Rp20.000,- Dengan bunga Rp atas pinjaman Rp berarti suku bunga pinjaman tersebut adalah: / = 2,0408%, Harus diingat suku bunga tersebut untuk jangka waktu 20 hari. Ada 365/20 = 18,25 periode dalam satu tahun, jika pembeli tidak mengambil kesempatan untuk memperoleh potongan tunai, berarti pembeli membayar suku bunga efektif tahunan (effective annual rate atau EAR) sebesar: EAR = (1 + 0,020408) 18,25 – 1 = 44,6%

7 Potongan tunai dan ACP Sebagai contoh, anggap sekarang perusahaan mempunyai syarat penjualan net 30 dan ACP selama 30 hari. Jika perusahaan menawarkan syarat penjualan 2/10, net 30, dan sebanyak 50% pelanggan (atas volume pembelian) memanfaatkan kesempatan memperoleh potongan dan membayar dalam waktu 10 hari, sedangkan sisanya membayar dalam waktu 30 hari. Berapa ACP setelah perubahan kebijakan kredit tersebut ? Jika penjualan perusahaan sebanyak Rp15 juta setiap tahun (sebelum potongan), berapa investasi dalam piutang ? Jika dianggap 50% pelanggan membayar dalam waktu 10 hari, dan sisanya membayar dalam waktu 30 hari, maka ACP yang baru adalah : ACP baru = 0,50 x 10 hari + 0,50 x 30 hari = 20 hari Dengan demikian ACP mengalami penurunan dari 30 hari menjadi 20 hari. Rata-rata penjualan per hari adalah Rp15 juta / 365 = Rp Piutang akan berkurang sebesar Rp x 10 = Rp

8 Analisis Kebijakan Kredit
Dalam mengevaluasi kebijakan kredit, ada lima faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu: 1. Dampak terhadap penjualan (revenue effects). 2. Dampak terhadap biaya (cost effect). 3. Biaya atas utang. 4. Kemungkinan tidak membayar. 5. Potongan tunai.

9 Mengevaluasi Usulan Kebijakan Kredit
Contoh perusahaan Lokus, yang mengevaluasi permintaan dari sejumlah pelanggan untuk merubah kebijakan kredit sekarang, menjadi net 30 hari. Untuk menganalisis perlu dijelaskan notasi yang digunakan sebagai berikut: P = Harga per unit v = Biaya variabel per unit Q = Jumlah unit produk yang dijual per bulan sekarang Q’= Jumlah unit produk yang dijual pada kebijakan baru R = Tingkat keuntungan yang disyaratkan per bulan

10 Untuk menjelaskan perhitungan NPV akibat dari perubahan kebijakan kredit perusahaan Lokus berikut ini adalah informasi perusahaan Lokus: P = Rp 50 v = Rp 20 Q = 100 Q’ = 11 Jika tinkat keuntungan yang disyaratkan 2% per bulan, apakah perubahan kebijakan kredit perusahaan Lokus menguntungkan ? Perusahaan saat ini bekerja masih dibawah kapasitas normal, sehingga peningkatan produksi dan penjualan tidak berdampak pada biaya tetap.

11 Penjualan perusahaan Lokus sekarang setiap bulan = P x Q = Rp 5
Penjualan perusahaan Lokus sekarang setiap bulan = P x Q = Rp 5.000,- Biaya variabel setiap bulan adalah = v x Q = Rp Arus kas dari kebijakan lama = (P – v) Q = ( Rp 50 – Rp 20 ) x 100 = Rp 3.000 Jika perusahaan Lokus merubah kebijakan kreditnya, menjadi net 30 hari, maka kuantitas barang yang dijual meningkat menjadi Q’ = Penjualan tiap bulan menjadi P x Q’ dan biaya variabel menjadi v x Q’. Arus kas kebijakan baru akan menjadi : Arus kas kebijakan baru = ( P – v ) Q’ = ( Rp 50 – Rp 20 ) x 110 = Rp 3.300 Incremental arus kas = (P – v)(Q’ – Q) = (Rp 50 – Rp 20)(110 – 100) = Rp 300. Nilai sekarang dari arus kas incremental adalah : PV = {(P – v )(Q’ – Q)}/ R = {( Rp 50 – Rp 20)(110 – 100) }/0,02 = Rp 300 / 0,02 = Rp

12 Biaya perubahan kebijakan kredit
Pertama, karena penjualan meningkat dari Q menjadi Q’, perusahaan harus memproduksi lebih banyak, yaitu Q’ – Q , dan biaya v ( Q’ – Q ) = Rp 20 ( 110 – 100 ) = Rp200 Kedua, penjualan yang dapat dikumpulkan menjadi kas pada bulan ini berdasarkan kebijakan sekarang = P x Q = Rp50 x100 = Rp5.000 tidak akan bisa dikumpulkan sampai dengan 30 hari kemudian berdasarkan kebijakan baru. Besarnya biaya perubahan kebijakan adalah: Biaya perubahan kebijakan = PxQ + v ( Q’ – Q ) = Rp Rp 200 = Rp 5.200

13 NPV arus kas dari perubahan kebijakan adalah:
NPV = - { PxQ + v ( Q’ – Q )} + { ( P – v )(Q’ – Q )}/ R = - Rp Rp15.000 = Rp9.800 Karena NPV perubahan kebijakan kredit positif, maka perubahan kebijakan kredit adalah menguntungkan perusahaan Lokus

14 Kebijakan Pengumpulan Piutang
Pemantauan piutang Perusahaan dapat menyusun aging schedule, sebagai salah satu alat untuk memantau piutang. Dalam hal ini piutang diklasifikasikan berdasarkan umur, sebagaimana tampak pada tabel berikut. Misalkan perusahaan memiliki piutang sebesar Rp ,- Umur Piutang Jumlah Prosentase terhadap total piutang 0 – 10 hari Rp 50% 11 – 60 hari Rp 25% 61 – 80 hari Rp 20% Lebih dari 80 hari Rp 5% Rp 100%

15 Upaya Pengumpulan Piutang
Mengirim surat pemberitahuan kepada pelanggan tetang telah jatuhtemponya piutang. Perusahaan menghubungi pelanggan melalui telphon Menugaskan kepada tenaga penagih untuk melakukan penagihan piutang 4. Melakukan upaya hukum untuk melakukan penagihan.


Download ppt "Bab 17 Manajemen Piutang Jika perusahaan menjual barang secara kredit maka akan timbul piutang. Alasan perusahaan melakukan penjualan secara kredit: -"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google