Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERTEMUAN KE – 14 M.K. TINGKAH LAKU IKAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN TINGKAH LAKU IKAN ASEP HAMZAH.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERTEMUAN KE – 14 M.K. TINGKAH LAKU IKAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN TINGKAH LAKU IKAN ASEP HAMZAH."— Transcript presentasi:

1 PERTEMUAN KE – 14 M.K. TINGKAH LAKU IKAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN TINGKAH LAKU IKAN ASEP HAMZAH

2 Materi Konsep baru penangkapan ikan Penangkapan ikan ramah lingkungan

3 1 KITA RUBAH KONSEP NELAYAN MENCARI/MENDATANGI IKAN... MENJADI IKAN MENDATANGI NELAYAN MUNGKIN???

4 Sekresi/telemediator kimiawi organisme laut SDI Hampir seluruh organisme laut diketahui mengeluarkan sekresi. Sekresi tersebut antaralain sekresi yang berkaitan dengan fenomena seksual, dengan tanda bahaya, dengan pengenalan individu/kelompok dan sekresi dengan pemanduan (navigasi) dan migrasi . Sekresi diatas mampu mengumpulkan individu spesies/kelompok spesies.

5 sifat sekresi diatas dimanfaatkan untuk mengumpulkan individu/kelompok organisme laut. Sekresi yang telah diketahui kemudian direkayasa sintetisnya. Selanjutnya sekresi sintetis disebar dilaut untuk mengumpulkan individu organisme laut Sekresi merupakan pesan organisme laut : telemediator kimiawi. Sekresi yang dipancarkan kelaut pada hakikatnya adalah suatu pesan dari organisme laut sejenis/jenis lainnya.individu/kelompok organisme laut sejenis/jenis lainnya tersebut adalah sebagi penerima pesan dan akan melkaukan reaksi terhadap pesan tersebut. Contoh dengan mendatangi tempat atau sumber sekresi tersebut.

6 sejak 40 tahun yang lalu sampai saat ini pentingnya sekresi semakin jelas. Sekresi di pancarkan kedalam air laut dan kemudian dimodifikasi langsung reaksi/prilaku individu, kelompok individu dari 1 spesies. Deketahui juga terdapat suatu pengaturan biologik organisme laut yang dilakukan dengan media perantara substansi-substansi kimiawi yang telah dilepaskan kedalam air laut oleh suatu organisme laut yang hidup didalam air laut tersebut.

7 Pengaturan kehidupan biologik tersebut berkaitan erat dengan hubungan antar individu, antar spesies dan kelompok. Berkaitan erat pula dengan terhambatnya metabolisme biologik suatu organisme laut. Substansi kimiawi tersebut oleh para ahli disebut TELEMEDIATOR KIMIAWI

8 Telemediator adalah substansi yang dibentuk oleh organisme laut baik hewan maupun tumbuhan dipancarjan kedalam air laut dan yang menimbulkan reaksi jarak tertentu terhadap fungsi-fingsi biologis dan atau prilaku individu /kelompok spesies yang sama/spesies-spesies yang berbeda lainnya.tidak remasuk sekresi yang dihasilkan dalam tubuh suatu organisme dan dipancarkan didalam tubuh organisme tersebut

9 Sebaliknya dalam lingkungan air laut mekanisme yang sama seperti yang digambarkan pada suatu pase diluar tubuh organisme:substansi aktif dibebaskan/di pancarkan kedam air laut dan sebagai organisme penerima. Aksi mediasi dapt menimbulkan tambahan pada telemediator. Tambahan tesebut “pemancaran substansi langsung dapat terjadi secara sengaja/tidak disengaja. Artinya terdapt pengeluran substansi kimiawi tenpa sengaja keluarnya darah akibat terlukanya bagian tubuh SDI.oleh karena itu telemediator jga disebut sekresi

10 Telemediator menurut para ahli
Lucas 1955, hubungan antarspesies tidak lagi didasrkan pada fenomena-fenomena predasi tetapi haruslah memperhitungkan pengaruh-pengaruh biologik dari luar organisme seperti toxines, vitamines, hormones. Fantaine, sama dengan definisi awal tetapi ia melanjutkan substansi-substansi tersebut adalah jelas memilki senyawa kimia dan fungsi-fungsi psysiologiqies yang sangat bervariasi.

11 Istilah ECTOHORMONE, dari substansi ectorine bahwa kedekatan dan substansi endocrine yang pada organisme hidup fungsinya menjamin pengkondisian mekanisme-mekanisme yang berbeda pada organisme. Istilah TELERGONE, menggambrkan denga baik aksi substansi pada jarak tertentu dan substansi kimiawi ini. Istilah PHERAMONE, mengatakan dengan baik aksi substansi-subsatansi ectocrine yang bereaksi terhadap individu-individu dan spesies yang sama denga spesies yang mneghasilkan substansi tersebbut.

12 Bidang-bidang cakupan yang berkaitan dengan telemediator
Fungsi nutrisi Fungsi reproduksi Fungsi pertahanan Fungsi yang berhungan dengan chimiotectesome atau lainnya yang belum diketahui.

13 Fungsi-fungsi yang berbeda ini berkompilasi kepada mekanisme-mekanisme yang bervariasi
Ketertarikan makanan Ketertarikan seksual Ketertarikan sambil menciptakan comensalisme dan simbiosisme Ketertarikan migrasi Ketertarikan dalam kaitan dengan kapsitas/kemampuan pembentukan substansi yang menjalankan terjadinya metabolisme tertentu. Ketertarikan kelompok Ketertarikan habitat

14 Mekanisme biologik dapat terjadi melalui perantara substansi kimiawi yang memperingatkan organisme tertentu terhadap adanya organisme lainnya

15 Telemediator Yang diperoleh di Air laut
Aubar (1970), telemediator adalah semua substansi yang dihasilkan hewan/tumbuhan laut yang dibebaskan/dipancarkan kedalam lingkungan laut dan menimbulkna rekasi terhadap prilaku dan fungsi-fungsi biologis spesies yang sama/spesies lainnya. Definisi yang lengkap, substansi yang dibentuk oleh organisme laut baik hewan/tumbuhan. Dipancarkan kedalam air laut, baik di sengaja/tidak disengaja. Dan menimbulkan reaksi pada jarak tertentu terhadap fungsi-fungsi biologis dan atau prilaku individu/kelompok spesies yang sama/spesies lainnya.

16 3 aspek dari fungsi telemediator
Pemancaran/pengiriman pesan Mentransfer pesan Penerimaan pesan

17 Penerimaan pesan Bergantung dari kapasitas pesan dan dari organisme yang memerlukannya: yaitu kemampuan memproduksi substansi kimiawi yang stabil dari suatu fungsi biologis Substansi dapat terjadi secara spontan dan secara tidak spontan.

18 Pemencaran dapat terjadi melalui Sekresi. Ekresi.
Organ yang memproduksi substansi kimiawi berbeda, sehingga pesannya berbeda Pemencaran dapat terjadi melalui Sekresi. Ekresi. Secara sederhana melalui luka.

19 Jenis substansi kimiawi organik
Contoh : asam amino bebas, asam amini terikat, gula bebas, polysacarida, asam lemak, gula amino, aminiak dll (ada 300 jenis).

20 Jenis-jenis substansi kimia dalam laut berbeda tergantung pada :
Jenis dan jumlah organisme laut Kondisi perairan laut (ombak, gelombang, angin, pasang surut) Kandungan kimiawi awal air laut Kandungan sejenis(mengikat konsentrasi substansi kimiawi) Kandungan tidak sejenis(terjadi reaksi/ikatan baru, tidak terjadi reaksi).

21 Fungsi viktrias air laut adalah
Perantaraan pesan dari substansi kimiawi dipermudah oleh VIKTRIS air laut Fungsi viktrias air laut adalah Difusi air laut (bersifat memancarkan air laut) Dispersi air laut (bersifat menghambat air laut)

22 Turbulensi DIFUSI Substansi Kimiawi Jarak pancaran Semakin jauh

23 Dispersi air laut Substansi kimiawi dispersi Dlam air laut

24 Turbulensi DISPERSI Substansi Kimiawi Jarak pancaran Semakin jauh

25 Dispersi dipengaruhi oleh
Perpindahan masa air laut secara horozontal Perpindahan masa air laur secara vertikal

26 Kecepatan relatif pesan akan menghasilkan
Suatu rayon yang luas dari substansi tersebut Aksi terjadi dalam waktu relatif terbatas sampai tidak terbatas.

27 Karakter kimiawi yang disampaikan dapat :
Rusak Termodifikasi (oleh unsur kimiawi air laut) dan mikroorganisme yang hidup dalam laut Menyebabkan perubahan pesan yang disampaikan Memperkuat (bila unsur airlautnya sejenis) Memperlemah (jika tidak sejennis) Degradasi air laut kecil/masih pada taraf rendah dan tidak merusak pesan.

28 Tahapan umum sekresi biota PSDI
Identifikasi sekresi alami Ekstraksi sekresi air laut Pengusir sekresi alami Proses pembuatan sekresi sintesis Uji coba sekresi sintesis di laut Produksi masal sekresi sintesis Komersialisasi prosduk.

29 REKAYASA TINGKAH LAKU IKAN DALAM PENGEMBANGAN TPI RAMAH LINGKUNGAN
2 REKAYASA TINGKAH LAKU IKAN DALAM PENGEMBANGAN TPI RAMAH LINGKUNGAN

30 Benarkah SDI kita melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal?
Lautan Indonesia adalah Marine Mega Biodiversity terbesar di dunia: 8500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies terumbu karang. SDI meliputi ikan pelagis, demersal, ikan karang, udang, lobster dan cumi-cumi.Total potensi lestari ton/tahun, produksi ton/tahun, tingkat pemanfaatan 63,49% (LIPI-BRKP, 2001). SDI tersebut menyebar di seluruh perairan Indonesia dengan tinggkat pemanfaatan yang tidak merata, beberapa wilayah over fishing.

31 MAP OF FISHERIES RESOURCE MANAGEMENT ZONE OF INDONESIA
Source: Research Center for Capture Fisheries (2007)

32 Status of Stock (U,M,F,O,UN)
FISH STOCK EXPLOITATION LEVEL BY FISHERIES MANAGEMENT ZONE No. Management zone Fish Resource Status of Stock (U,M,F,O,UN) Notes 1. WPP 571: Malacca Strait and Andaman Sea Demersal O Trawl (depth > 20 m) Illegal fishing (?) All categories of species, Illegal fishing (?) Purse seine, Illegal fishing (?) The northern of Malacca strait Shrimp Small Pelagic F Big Pelagic UN 2. WPP 711: Karimata Strait, Natuna Sea, and South China Sea Northern South China Sea, Illegal fishing (?) Western Kalimantan, bottom boat seine, all species category, illegal fishing (?) Neritic and oceanic small pelagic, Illegal fishing (?) M 3 WPP 712: Java Sea Coastal waters of Kalimantan (except > 40 m) Northern coast of Java Non purse seine, species: spanish mackerel, little tuna 4. WPP 713: Makasar Strait, Bone Bay, Flores Sea, and Bali Sea Including reef waters (O) East coast of Kalimantan Except flying fish (F) 5. WPP 714: Banda Sea Demersal laut dalam (?) Purse seine, Kendari, Banda, Seram Tuna long line

33 Status of Stock (U,M,F,O,UN)
No. Management Zone Fish Resource Status of Stock (U,M,F,O,UN) Notes 1. WPP 715: Aru Sea, Arafura Sea and Timor Sea Demersal O Intensive exploitation in EEZ by shrimp trawl fisheries All fishing grounds are known and fully exploited, fish size decreasing Exploitation by fish and shrimp trawls Shrimp Small Pelagic M Big Pelagic UN 2. WPP 716: Maluku Sea, Tomini Bay, and Seram Sea Illegal fishing (?) Need on monitoring system Neritic and oceanic small pelagic, Illegal fishing (?) Water depth m, need on monitoring system, juvenile fish mostly caught, > 150 m F 3 WPP 717: Sulawesi Sea, Halmahera Sea, and Pacific Ocean Sulawesi Sea - 4. WPP 718: Samudera Hindia barat Sumatera dan Selat Sunda Narow fishing ground ≤ 200m, deep sea untapped, Narrow fishing ground ≤ 200m, deep sea untapped, especially ocenic small pelagic Fishing ground in EEZ to high seas 5. WPP 719: Samudera Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Very narrow fishing ground, deep sea, untapped Except oceanic small pelagic: UN Fishing ground in high sea outside EEZ U: under exploited, M: moderately exploited, F: fully exploited, O: over exploited, UN: uncertain

34 Beberapa Alasan Pengembangan TPI:
Adanya keinginan dan tuntutan kebutuhan ekonomi dari pengusaha maupun nelayan untuk memperoleh hasil tangkapan yang sebanyak- banyaknya. Adanya kebijakan pemerintah yang mendukung peningkatan produktivitas penangkapan atau konservasi sumberdaya ikan. Peningkatan konsumsi ikan dari penduduk dunia akan mendorong peningkatan kegiatan eksploitasi sumberdaya ikan. Adanya tuntutan dunia dan pasar internasional untuk mewujudkan kegiatan penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Arah pengembangan teknologi penangkapan ikan tidak hanya didasarkan pada keinginan dan tuntutan stakeholders semata, tetapi lebih dari itu dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan stok sumberdaya ikan (fish stock availability) dan daya dukungnya (carrying capacity) di suatu wilayah perairan

35 Kriteria TPI Ramah Lingkungan
Nelayan terlatih, memahami dan menerapkan konsep efisiensi dan konservasi Tidak membahayakan nelayan dan orang lain di laut Sesuai dengan peraturan Hemat energi; Tidak menghasilkan polusi Terbuat dari bahan yang pengadaannya tidak merusak lingkungan atau ekosistem yang dilindungi; Selektif: Ikan yang tertangkap seragam, legal atau proper size, Ikan yang tertangkap legal Low potential of ghost fishing Memanfaatkan ikan secara maksimum Menjamin survival dari ikan dan biota laut yang dikembalikan ke laut (discards); Tidak menangkap jenis yang dilindungi/biodiversity Tidak merusak lingkungan perairan dan habitat; Tidak menimbulkan konflik dengan kegiatan lainnya;

36 Perspektif ‘baru’ keberlanjutan perikanan
Keberlanjutan proses yang memperhatikan status ekosistem dan manusia. WCED: “Development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs.” Rees (1988): “Positive socio-economic changes that does not undermine the ecological and social systems upon which communities and society are dependent.”

37 Komponen keberlanjutan perikanan
Community sustainability Komponen keberlanjutan perikanan Institutional sustainability Ecological sustainability Socio-economc sustainability

38 Upaya pengelolan sumberdaya perikanan secara bekelanjutan harus memperhatikan aspek kelestarian sumberdaya ikan. Hal ini dapat dilakukan melalui: Kontrol input (pembatasan jumlah upaya penangkapan) Regulasi selektivitas alat tangkap, dan Regulasi pembatasan waktu penangkapan. Regulasi selektivitas merupakan metode yang sangat umum dan mudah diterapkan dalam pengelolaan perikanan.

39 Pengembangan TPI Ramah Lingkungan Melalui Pendekatan
Unit Penang- kapan Ikan Modifikasi/perbaikan ran-cangbangun alat tangkap untuk mengurangi kontak fisik dengan dasar perairan Selektivitas mekanis (mechanical selectivity) Perbesaran mata jaring, pemasangan alat pereduksi hasil tangkap sampingan (BRDs), celah pelolosan (escape vent), dll. Selektivitas oleh manusia (human selectivity) Sortir di atas dek kapal, tempat pendaratan/TPI Selektivitas secara fisiologi dan tingkah laku ikan (physiological-behaviour selectivity) Stimuli penglihatan, pen-dengaran dan penciuman Sumber Daya Ikan Lingkungan Perairan Pelolosan ikan non-target Pelepasan/ pembuangan Ikan non-target Penghindaran ikan non-target dari alat tangkap Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan Jaminan terhadap kelestari-an sumber daya ikan dan habitat perairan Kelangsungan hidup ikan tinggi dengan tingkat stres rendah Buangan limbah (by-product) minimum Lingkungan dan biota benthic dasar perairan tidak terganggu Pengembangan TPI Ramah Lingkungan Melalui Pendekatan Fisiologi-Tingkah Laku Ikan

40 Untuk mewujudkan pembangunan perikanan tangkap Indonesia yang berkelanjutan, maka diperlukan kegiatan pengelolaan perikanan tangkap yang mengacu kepada kode tidak perikanan bertanggungjawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries). Penggunaan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan merupakan suatu keharusan untuk menjamin kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan perairan. Kebijakan pemerintah yang telah dicanangkan yaitu, pro-poor, pro-job dan pro-growth lebih berorientasi kepada peningkatan produksi yang dapat berdampak terhadap eksploitasi sumberdaya ikan secara berlebih. Sudah saatnya pemerintah mendukung dan memihak kepada kepentingan keberlanjutan pembangunan perikanan, yaitu kebijakan yang pro-green atau pro-sustainability.

41 Fishing gear selectivity (message in the CCRF-FAO – Article 8.5)
8.5.1 States should require that fishing gear, methods and practices, to the extent practicable, are sufficiently selective so as to minimize waste, discards, catch of non-target species, both fish and non-fish species, and impacts on associated or dependent species and that the intent of related regulations is not circumvented by technical devices. In this regard, fishers should cooperate in the development of selective fishing gear and methods. States should ensure that information on new developments and requirements is made available to all fishers.

42 CCRF In order to improve selectivity, States should, when drawing up their laws and regulations, take into account the range of selective fishing gear, methods and strategies available to the industry. States and relevant institutions should collaborate in developing standard methodologies for research into fishing gear selectivity, fishing methods and strategies.

43 QUOTES Bersemangatlah dalam belajar, dalam menuntut ilmu, sesungguhnya tidak ada ilmu yang sia-sia.. Jika hari ini tidak terpakai, mungkin suatu saat nanti. Esensi dari kuliah adalah pembentukan karakter, dimana dalam prosesnya kita dituntut untuk berpikir, mencari solusi, dan bekerja secara terstruktur. Cara kalian belajarlah yang akan terpakai nanti di masyarakat. Cara bagaimana kalian berpikir, cara tentang bagaimana mencari solusi dan cara bekerja secara terstruktur. Lakukanlah hal kecil dengan sungguh-sungguh seakan akan itu adalah hal besar akan mengubah hidupmu seketika. Karena saat hal besar datang, kamu sudah siap menghadapinya. Allah maha adil, janganlah kecewa dan berputus asa saat usaha ≠ hasil. Mungkin Allah menyimpan hasilnya untuk hidupmu kelak, untuk sudara/i mu, untuk orang tuamu atau mungkin untuk anakmu (kelak). Tetaplah berusaha, yakinlah.. Bahwa setiap usaha asalkan dengan cara yang baik, akan mendapatkan balasannya.


Download ppt "PERTEMUAN KE – 14 M.K. TINGKAH LAKU IKAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN TINGKAH LAKU IKAN ASEP HAMZAH."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google