Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

EVALUASI PENDIDIKAN SEJARAH Dosen : Agus Gunawan,Drs. ,M. Pd

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "EVALUASI PENDIDIKAN SEJARAH Dosen : Agus Gunawan,Drs. ,M. Pd"— Transcript presentasi:

1 EVALUASI PENDIDIKAN SEJARAH Dosen : Agus Gunawan,Drs. ,M. Pd
EVALUASI PENDIDIKAN SEJARAH Dosen : Agus Gunawan,Drs.,M.Pd. Asisten : Yadi Kusmayadi,S.Pd sks

2 Pertemuan 1 Kegiatan evaluasi dalam komponen kurikulum sangat menentukan dan harus mendapat perhatian guru dalam melakukan tugasnya sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar. Evaluasi tidak saja memberikan informasi mengenai sejauh mana keberhasilan guru dalam memberikan materi dan sejauh mana siswa menyerap materi yang disajikan,tetapi juga memberikan informasi tentang tercapai tidaknya tujuan- tujuan yang telah ditetapkan.

3 Pengertian Tes Tes adalah salah satu alat ukur yang berfungsi untuk mengukur keberhasilan belajar siswa/sekelompok siswa. Jacobs dan Chase(1992),Wiresma dan Jurs(1990) dan Mehren dan Lehman(1985) mengemukakan bahwa tes pada dasarnya adalah suatu daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh seseorang/sekelompok orang.

4 Sax (1980) dan Zainul dan Nasution (1993) memandang tes sebagai suatu pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan secara sistematis untuk memperoleh informasi tentang trait atau atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

5 Menurut definisi yang dikemukakan Sax dan Nasution dapat dikemukakan bahwa apabila ada tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan seseorang atau sekelompok orang tetapi tidak ada jawaban yang benar atau salah atau usaha pengukuran yang tidak mengharuskan subyek untuk menjawab atau mengerjakan suatu tes maka itu bukan tes.

6 Cronbach (1970:26), mengemukakan tes adalah suatu prosedur sistematis untuk mengamati dan mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan skala numerik atau sistem kategori. Kesimpulan : 1. Tes adalah prosedur yang sistematis ,artinya butir-butir soal dalam tes disusun menurut persyaratan-persyaratan tertentu, demikian pula prosedur administrasi dan pemberian skors harus jelas.

7 2 .Tes adalah suatu pertanyaan atau tugas yang harus direspon seseorang atau sekelompok orang dan respon tersebut mempunyai jawaban benar atau salah. 3 .Tes berisi sampel perilaku, artinya kualitas suatu tes tergantung kepada sejauh mana butir-butir tes itu mewakili ranah yang diukur.

8 Pengukuran adalah salah satu pekerjaan profesional guru,tanpa kemampuan melakukan pengukuran seorang guru tidak akan dapat mengolah hasil test dengan baik. Pengukuran adalah pemberian angka kepada seseorang atau sesuatu berdasarkan kriteria tertentu yang hasilnya berupa angka(skor). Sax (1980:9) mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut/karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang,hal/objek tertentu menurut aturan/informasi yang jelas.

9 Kesimpulan,dalam pengukuran terdapat dua karakteristik yaitu:
Penggunaan angka/skala tertentu. Menurut aturan/formula tertentu. Evaluasi (penilaian) dikemukakan Tyler (1949) sebelumnya pengukuran (Measurement) Evaluasi Popham (1981:7) adalah proses pemberian,pengumpulan dan pemberian data (informasi) kepada pengambil keputusan yang dapat dipakai untuk pertimbangan apakah program perlu diperbaiki,diteruskan atau dihentikan.

10 Evaluasi Sax (1980:18) adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari observasi hasil belajar dan latar belakang serta pelatihan dari evaluatornya. Zainul dan Nasution (1993:6) Evaluasi adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar yang menggunakan instrumen tes maupun non-tes

11 Kesimpulan: Evaluasi adalah pengumpulan informasi,pembuatan pertimbangan dan pengambilan keputusan secara sistematis dan menurut prosedur tertentu. Evaluasi adalah memberi nilai tentang kualitas sesuatu atau seseorang. Implikasinya: Tes adalah sejumlah pertanyaan. Pengukuran hasilnya berupa skor. Evaluasi kegiatanuntuk menentukan baik&buruknya PBM di kelas.

12 Pertemuan 2 Tujuan,Fungsi dan Prinsip Evaluasi A. Tujuan Evaluasi
Menurut Tyler (1971:54) ada tiga macam komponen dalam pendidikan yaitu: Tujuan belajar,merupakan petunjuk bagi pemilihan suatu pengalaman belajar. Pengalaman belajar,adanya tujuan belajar guru dapat mengarahkan pengalaman belajar siswa. Evaluasi belajar,berdasarkan pengalaman belajar yang ada guru mengadakan evaluasi.

13 Tujuan utama dari kegiatan evaluasi adalah untuk membuat keputusan.
Guba&Lincoln (1981:8) menyatakan bahwa fokus utama dari tujuan evaluasi ialah untuk membuat keputusan. Jenis keputusan: Umpan balik,berhubungan dengan suatu skors atau tes tertentu baik individu/kelompoknya. Kelayakan,seorang siswa naik kelas atau tidak,melihat aspek intelektual,sosial,emosional,moral dan keterampilan.

14 3) Penempatan,untuk menentukan tempat yang paling cocok bagi seorang untuk berprestasi dalam suatu proses pendidikan. Mehrens dan Lehmann (1985:7-8) memberikan tiga pedoman tentang pengambilan keputusan yang baik yaitu: Semua alternatif keputusan yang ada Kemungkinan hasil dari keputusan- keputusan yang ada. Kemungkinan-kemungkinan dan kegunaan dari hasil keputusan tersebut.

15 B. Fungsi Evaluasi Menurut Scriven (Sax,1980:26) terdapat dua fungsi evaluasi yaitu: Fungi formatif,evaluasi berkenaan dengan keputusan tentang perbaikan hasil belajar maupun aspek kurikulum. Fungsi Sumatif berguna mengambil keputusan tentang keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan.

16 C. Prinsip Evaluasi. Prinsip-prinsip evaluasi diantaranya: Berkesinambungan. Kegiatan evaluasi hendaklah dilakukan secara terus menerus,artinya guru harus selalu memberikan tes kepada siswa sehingga keputusan yang diambil akan lebih tepat. Keterpaduan. Evaluasi yang dilakukan hendaklah terdiri atas keseluruhan aspek tingkah laku siswa,disamping tujuan,materi,serta metode pengajaran yang digunakan.

17 Keterlibatan Siswa. Evaluasi bagi siswa merupakan suatu kebutuhan,sehingga siswa diharapkan mengikuti evaluasi dan bukan untuk dihindari. Koherensi. Prinsip ini berkaitan dengan materi yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.

18 Pedagogis Prinsip evaluasi ini diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku. Akuntabilitas Prinsip evaluasi ini untuk melihat sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban.

19 Pertemuan 3 Perencanaan Tes Tes baru dapat berfungsi dengan baik apabila terdiri atas butir-butir soal yang menguji tujuan yang penting dan mewakili ranah pengetahuan, pemahaman, aplikasi, anlisis, sinthesis dan evaluasi serta kemampuan dan keterampilan berpikir.Tes tanpa rencana yang dapat dipertanggungjawabkan dapat menjadi usaha yang sia-sia bahkan mengganggu proses pencapaian tujuan.

20 Menurut Zainul dan Nasution (1993:15) terdapat enam aspek yang harus diperhatikan dalam perencanaan suatu tes,yakni: Perencanaan Sampel dan pemilihan Butir Soal; Tes yang digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar siswa harus disusun atas butir-butir soal yang terpilih ,yang secara akademik dapat dipertanggungjawabkan sebagai sampel yang dapat mewakili dari ilmu atau bidang studi yang diujikan tersebut,terbagi atas (pokok bahasan dan sub pokok bahasan)

21 b. Tipe tes yang akan digunakan Pemilihan tipe tes yang akan digunakan lebih banyak ditentukan oleh tujuan dilakukannya tes, kemampuan mengkonstruksi tes dan waktu yang tersedia dalam mengkonstruksi butir soal daripada aspek kemampuan peserta tes atau aspek yang diukur, ( Tes uraian digunakan jika waktu yang tersedia untuk mengkonstruksi butir soal sangat terbatas, Tes objektif digunakan jika dalam memilih satu jawaban diantara alternatif jawaban dengan waktu mengkonstruksi soal banyak)

22 c. Aspek yang akan diuji. Aspek kemampuan yang akan diuji harus cocok dengan kemampuan yang telah ditentukan dalam tujuan pengajaran semester yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Aspek kemampuan ranah kognitif yang diuji terdiri atas enam tingkatan kemampuan yaitu; pengetahuan(c1),pemahaman(c2),aplikasi(c3), analisis(c4),sinthesis(c5),evaluasi(c6).

23 d. Format butir soal. Tes objektif maupun tes uraian mengenal berbagai format,(pilihan ganda,uraian bebas/terbatas,mecocokan,betul/salah). e. Jumlah butir soal. Jumlah butir soal berhubungan langsung dengan reliabilitas dan representasi isi bidang studi yang dites. Dilihat dari segi jumlah tes objektif dimungkinkan lebih banyak daripada tes uraian.

24 f. Distribusi tingkat kesukaran butir soal
f. Distribusi tingkat kesukaran butir soal. Pada umumnya para ahli konstruksi tes sependapat bahwa tes yang terbaik adalah tes yang mempunyai tingkat kesukaran sekitar 0,50. Makin dekat ke titik itu makin mampu membedakan antara kelompok belajar dan kelompok yang tidak belajar.

25 Pertemuan ke 4 Penyusunan butir soal Menurut Zainul dan Nasution (1993:24) bahwa kelemahan pokok pengukuran hasil belajar di lembaga pendidikan pada umumnya tidak terletak pada bentuk dan tipe butir soal yang digunakan, tetapi terutama terletak pada bentuk dan kemampuan guru untuk mengkonstruksi butir soal dengan baik. Butir soal tipe apapun dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar bila butir soal tersebut dikonstruksi dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

26 Penulisan Butir Soal Uraian
Tes uraian adalah butir soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawabannya atau pengerjaan soalnya dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes. Ciri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh penyusun soal tetapi dipasok oleh siswa, sehingga siswa bebas meyampaikan gagasanya dengan kata-kata sendiri.

27 Kelebihan Tes Uraian Tes uraian dapat digunakan dengan baik untuk mengukur hasil belajar yang kompleks. Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dibandingkan tes lainnya,disebabkan untuk menjawab tes ini siswa harus mengusai bahan pelajaran secara tuntas. Memudahkan guru untuk menyusun butir soal,karena jumlah butir soal tidak terlalu banyak dan guru tidak selalu membuat alternatif jawaban yang benar.

28 Kelemahan Tes uraian Reliabilitas rendah artinya skor yang diperoleh oleh siswa tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang paralel diuji ulang beberapa kali. dibutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tes uraian baik guru maupun siswa. Jawaban siswa kadang-kadang disertai bualan,terutama siswa yang tidak memahami materi yang telah dijelaskan. Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling utama untuk membedakan prestasi belajar antar siswa.

29 Prinsip-prinsip penulisan butir soal uraian
Rumusan pertanyaan hendaknya menggunakan kata tanya atau perintah. Soal hendaknya dirimuskan dengan kalimat sederhana sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Tetapkanlah waktu yang disediakan untuk menjawab soal uraian. Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal. Lengkapilah setiap butir soal dengan kunci atau kriteria jawaban sebagai pedoman penskoran.

30 Pertemuan Ke 5 Penulisan Butir Soal Objektif
Tipe butir soal pilihan ganda yang dalam bahasa inggris dikenal dengan nama multiple choice item. Butir soal ini terdiri atas dua bagian ,yakni: Pernyataan atau disebut stem yang dapat berbentuk pernyataan dan pernyataan. Alternatif jawaban atau disebut juga option.

31 Kelebihan butir soal pilihan ganda:
Butir soal ini dapat dikonstruksi dan digunakan untuk mengukur semua level tujuan instruksional , mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Penskoran hasil kerja siswa dapat dikerjakan secara objektif. Butir soal ini menuntut kemampuan siswa untuk membedakan berbagai tingkatan kebenaran sekaligus.

32 Jumlah option lebih dari dua sehingga dapat mengurangi keinginan siswa untuk menebak.
Butir soal ini memungkinkan dilakukan analisis secara bai k. Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendalikan dengan hanya mengubah tingkat homogenitas alternatif jawaban. Butir tes ini dapat memberikan informasi tentang siswa yang lebih banyak kepada guru, terutama bila butir soalnya mempunyai homogenitas yang tinggi.

33 Kelemahan butir soal pilihan ganda:
Sukar dikonstruksi,kesukaran dalam mengkonstruksi butir soal ini terutama untuk menemukan alternatif jawaban yang homogen. Ada kecenderungan guru yang mengkontruksi butir soal tipe ini dengan hanya menguji atau mengukur aspek ingatan atau aspek yang paling rendah dalam ranah kognitif.

34 Prinsip-prinsip penulisan butir soal pilihan ganda:
Gronlund dan lin (1990: ) mengemukakan bahwa untuk mempersiapkan dan menyusun butir-butir soal pilihan ganda yang berkualitas terdapat beberapa ketentuan yang harus diperhatikan yakni: Setiap pertanyaan harus mengukur hasil belajar yang penting dan bermakna.

35 2) Saripati permasalahan harus dirumuskan dengan jelas, sehingga dengan membaca pokok soal (stem) siswa dapat menentukan jawaban sebelum dilanjutkan membaca pilihan jawaban (option). Contoh: Bangsa yang menjajah indonesia dari tahun a. Portugis b. Inggris c. Belanda d. Jepang

36 3) Pokok soal dinyatakan dalam bahasa yang sederhana
3) Pokok soal dinyatakan dalam bahasa yang sederhana. 4) Pengulangan kata-kata yang sama dalam setiap pilihan (option) perlu dihindari. Latar belakang berdirinya organisasi negara-negara ASEAN adalah.... a. Latar belakang sejarah b. agama c. ideologi d. bahasa 5) Pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan positif.

37 6) Jika menggunakan pernyataan “negatif” maka kata negatif tersebut digaris bawahi atau ditulis tebal. 7) Kunci jawaban harus jelas merupakan jawaban yang paling tepat. 8) Pokok soal (stem) dan alternatif jawaban (option) perlu disahakan konsisten. 9) Hindari adanya petunjuk pada jawaban yang benar.

38 10) Semua pilihan jawaban (option) harus homogen dan memungkinkan sebagai jawaban yang benar. 11) Alternatif jawaban (option) hendaknya memiliki panjang kalimat yang kira-kira sama,hindari keadaan jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang salah atau sebaliknya. 12) Penggunaan alternatif “semua yang atas benar” atau “semua yang diatas salah” perlu dihindari.

39 13) Bila petunjuk jawaban “pilihlah satu jawaban yang benar” maka option tidak boleh ada lebih dari satu jawaban yang benar. Tetapi bila dalam petunjuk jawaban dikatakan “pilihlah salah satu jawaban yang benar atau yang paling benar”, maka dalam option dapat digunakan alternatif jawaban yang lebih dari satu jawaban yang benar, tetapi harus ada satu option yang paling benar.

40 Pengolahan Hasil Tes. Pengolahan Hasil Tes Objektif. . Pengolahan Hasil Tes Uraian. Mehrens dan Lehman (1985:324) memberikan petunjuk cara mempersiapkan kunci jawaban: Kunci jawaban harus dipersiapkan dan diteliti sebelum tes diberikan. Walaupun guru merasa sudah hafal akan kunci jawaban soal – soal tersebut sangat dianjurkan untuk mempergunakan kunci jawaban tersebut pada waktu memeriksa jaaban siswa.

41 Pengolahan Hasil Tes uraian.
Untuk mendapatkan penskoran tes uraian yang lebih objektif menurut Zainul dan Nasution (1993:48) perlu diperhatikan hal – hal berikut ini : Apakah jawaban yang paling baik untuk satu butir pertanyaan uraian. Butir – butir apa saja yang harus terdapat dalam jawaban pertanyaan uraian. Apakah ada butir yang lebih penting diantara butir – butir jawaban yang diharapkan.

42 Beberapa petunjuk praktis mengolah hasil tes uraian:
Selalulah memeriksa jawan peserta tes dengan kunci jawaban yang telah disediakan sebelum tes diadministrasikan. Skor harus diberikan secara konsisten setiap butir soalnya. Periksalah satu nomor soal untuk semua lembar jawaban siswa setelah itu baru berpindah ke nomor berikutnya. Sedapat mungkin tulislah pemeriksa dalam lembar jawaban siswa, terutama apabila diperiksa oleh seorang pemeriksa.


Download ppt "EVALUASI PENDIDIKAN SEJARAH Dosen : Agus Gunawan,Drs. ,M. Pd"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google