Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Computer Vision Materi 7

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Computer Vision Materi 7"— Transcript presentasi:

1 Computer Vision Materi 7
Ekstraksi Fitur Computer Vision Materi 7 Eko Prasetyo Teknik Informatika UBHARA 2012

2 Fitur Fitur adalah potongan informasi yang relevan untuk menyelesaikan pekerjaan komputasi yang berhubungan dengan aplikasi tertentu. Fitur merujuk pada: Hasil dari operasi ketetanggan general (feature extractor or feature detector) yang diterapkan pada citra. Struktur khusus dalam citra itu sendiri, dari struktur yang sederhana seperti titik atau tepi sampai struktur yang kompleks seperti obyek. Ada beberapa kelompok: titik, boundary, region. Konsep fitur sangat general dan pemilihan fitur dalam sistem computer vision tertentu mungkin sangat tergantung pada masalah yang ditangani.

3 Fitur Fitur citra tertentu, didefinisikan dalam struktur tertentu dalam data citra, dan direpresentasikan dengan cara yang berbeda. Misal: Tepi dapat direpresentasin dengan variabel boolean dala setiap titik citra yang menggambarkan ada/tidak adanya tepi. Jika tepi ada, kemudian ditambah informasi orientasi tepi. Warna dari region tertentu dapat direpresentasikan dengan rata-rata warna (3 skalar) atau histogram warna (3 fungsi) Ketika sistem computer vision atau algoritma computer vision didesain, pilihan representasi fitur menjadi isu kritis Dalam beberapa kasus, level detail yang lebih tinggi dalam deskripsi fitur mungkin dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah, tetapi mahal dalam biaya dengan lebih banyak data dan lebih banyak pemrosesan yang dibutuhkan.

4 Fitur Ada 2 pilihan: Eksternal, boundary. Internal, perbandingan antar piksel didalam region Pemilihan fitur hanya bagian dari pekerjaan pembuatan data yang berguna untuk komputer. Pekerjaan selanjutnya adalah menggambar region berdasarkan pada representasi/fitur yang dipilih Misal, region dapat direpresentasikan oleh boundary, Misal, boundary dapat dideskripsikan oleh fitur seperti panjang dan jumlah isinya. Fitur eksternal dipilih ketika menginginkan karakteristik bentuk obyek. Fitur internal dipilih ketika fokus prinsip pada properti regional seperti warna dan tekstur. Kedua jenis fitur kadang-kadang digunakan bersama untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, fitur yang dipilih sebagai deskriptor seharusnya tidak sensitif sebagai kemungkinan variasi dalam ukuran region, translation, dan rotation.

5 Deskriptor Bentuk yang sederhana
Area, adalah jumlah piksel dalam obyek (luas). Perimeter, adalah jumlah piksel sepanjang boundary (keliling). Rasio compactness, adalah rasio antara (perimeter)2/area. Rasio circularity, adalah rasio antara area dari obyek terhadap area lingkaran (bentuk paling compact) dengan panjang perimeter yang sama. Area dari lingkaran dengan panjang perimeter P adalah P2/4. Maka rasio circularity dinyatakan: Dimana A adalah area, P adalah panjang peirmeter. Nilainya 1 untuk lingkaran, dan  /4 untuk bujur sangkar. Deskriptor yang lain: mean dan median dari level intensitas, minimum dan maksimum level intensitas, dan jumlah piksel dibawah dan diatas rata-rata.

6 Contoh 1 1 P = 17 A = 25 P = 17 A = 32

7 Deskriptor regional Tekstur adalah sifat-sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu daerah yang cukup besar sehingga secara alami sifat-sifat tadi dapat berulang dalam daerah tersebut. Daerah yang kecil bila dibandingkan dengan elemen-elemen tekstur yang ada di dalamnya, tidak dapat menunjukkan tekstur itu sendiri. Pengertian tekstur adalah keteraturan pola-pola tertentu yang terbentuk dari susunan piksel-piksel dalam citra digital. Suatu permukaan dikatakan mempunyai suatu informasi tekstur, bila luasannya diperbesar tanpa mengubah skala, maka sifat-sifat permukaan hasil perluasan mempunyai kemiripan dengan permukaan asalnya Syarat terbentuknya tekstur : Adanya pola-pola primitif yang terdiri dari satu atau lebih piksel. Seperti: titik, garis lurus, garis lengkung, luasan, dan lain-lain yang merupakan elemen dasar dari sebuah bentuk. Pola-pola primitif tadi muncul berulang-ulang dengan interval jarak dan arah tertentu sehingga dapat diprediksi atau ditemukan karakteristik pengulangannya. Contoh; pendekatan statistik, matrik co-occurrence, moment invariant, run-length, dsb.

8 Pendekatan statistik Analisis tekstur yang didasarkan pada properti statistik histogram intensitas. Satu kelas pengukuran didasarkan pada moment statistik. Untuk menghitung moment nth terhadap mean: di mana zi adalah variabel random yang mengindikasikan intensitas, p(z) adalah histogram level intensitas dalam region, L adalah jumlah level intensitas yang tersedia, dan adalah mean (rata-rata) intensitas.

9 Pendekatan statistik Mean Ukuran rata-rata intensitas Standar deviasi
Ukuran rata-rata kontras Smoothness Ukuran smoothness relatif dari intensitas dalam region. R bernilai 0 untuk region dalam intensitas konstan dan mendekati 1 untuk region dengan ekskursi yang besar dalam nilai level intensitas. Dalam prakteknya, varian digunakan dalam ukuran ini yang dinormalisasikan dalam range [0,1] oleh pembagian dengan (L-1)2 Uniformity Ukuran keseragaman. Ukuran ini maksimum ketika semua gray level sama (keseragaman maksimal) dan menurun dari sana. Entropy Ukuran keacakan.

10 Contoh 3 2 4 6 7 5 p(0) = 1/16 = 0.0625 p(1) = 0 p(2) = 4/16 = 0.25
3 2 4 6 7 5 p(0) = 1/16 = p(1) = 0 p(2) = 4/16 = 0.25 p(3) = 4/16 = 0.25 p(4) = 2/16 = 0.125 p(5) = 1/16 = p(6) = 1/16 = p(7) = 3/16 = Rata-rata M = 0 * * * * * * + 6 * * = = 3.75 Standar deviasi  = ((0 – 3.75)2 + (3 – 3.75)2 + (3 – 3.75)2 + (2 – 3.75)2 + (4 – 3.75)2 + (2 – 3.75)2 + (4 – 3.75)2 + (6 – 3.75)2 + (3 – 3.75)2 + (7 – 3.75)2 + (3 – 3.75)2 + (7 – 3.75)2 + (2 – 3.75)2 + (7 – 3.75)2 + (2 – 3.75)2 + (5 – 3.75)2 ) / (16-1) =

11 Contoh 3 2 4 6 7 5 Smoothness R = 1 – 1 / (1 + 2.11342) = 0.8171
3 2 4 6 7 5 Smoothness R = 1 – 1 / ( ) = Uniformity U = p(0)2 + p(1)2 + p(2)2 + p(3)2 + p(4)2 + p(5)2 + p(6)2 + p(7)2 = = Entropy U = -[ p(0) * log2(p(0)+eps) + p(1) * log2(p(1)+eps) + p(2) * log2(p(2)+eps) + p(3) * log2(p(3)+eps)+p(4)* log2(p(4)+eps) + p(5) * log2(p(5)+eps) + p(6) * log2(p(6)+eps) + p(7)* log(p(7)+eps)] = -[ * log2( eps) + 0 * log2(0+eps) * log2(0.25 +eps) * log2(0.25 +eps) * log2(0.125+eps) * log2( eps) * log2( eps) * log2( eps)] =

12 Perhitungan tekstur di matlab
function [t] = teksturstatistik(D) %Hitung Mean t(1) = mean(mean(D)); %Hitung Varian [m,n] = size(D); mv = sum(sum((D-t(1)).^2 ./ (m*n - 1))); t(2) = mv^0.5; %Hitung smoothness t(3) = 1 - (1/(1+mv)); %Hitung uniformity for i=1:8 p(i) = length(find(D == i-1)) / (m*n); end t(4) = sum(sum(p.^2)); %Hitung Entropy t(5) = -sum(sum(p.*log2(p+eps))); >> a = [ ; ; ; ] a = >> tekstur = teksturstatistik(a) tekstur =

13 Pengekstrakan fitur dari citra
Misal: kasus mengenali buah jeruk impor dan buah jeruk lokal Siapkan citra buah jeruk impor 30 buah dan citra buah jeruk lokal 30 buah. Masing-masing diproses intensitasnya, di segmentasi dan morfologi, kemudian dihitung tekstur untuk setiap citra. Simpan sebagai dataset untuk diproses menggunakan teknik pengenalan pola. Data yang berasal dari jeruk impor diberi label kelas impor, data dari jeruk lokal diberi label kelas lokal. Teknik Pengenalan Pola akan memproses untuk dapat mengenali ketika ada buah jeruk yang belum diketahui kelasnya, apakah impor atau lokal. Dengan model yang sudah dibangun, maka sistem akan dapat mengenalinya dengan benar.

14 Pembentukan dataset dari pembangkitan fitur
Ekstraksi fitur Fitur bentuk Fitur tekstur Jeruk Impor Jeruk Lokal Diproses menggunakan teknik pengenalan pola

15 To Be Continued … Materi 8 – Pengenalan Pola
ANY QUESTION ?


Download ppt "Computer Vision Materi 7"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google