Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

BAB 7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "BAB 7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA"— Transcript presentasi:

1 BAB 7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman BAB 7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA TEKNIK OBSERVASI Observasi (observation) merupakan teknik atau pendekatan untuk mendapatkan data primer dengan cara mengamati langsung obyek datanya. Klasifikasi Pendekatan Observasi Pendekatan observasi dapat diklasifikasikan ke dalam observasi perilaku (behavioral observation) dan observasi non-perilaku (nonbehavioral observation).

2 1. Analisis nonverbal (nonverbal analysis).
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Observasi perilaku (behavioral observation) terdiri sebagai berikut ini. 1. Analisis nonverbal (nonverbal analysis). Observasi analisis nonverbal (nonverbal analysis) dapat dilakukan pada gerakan bukan ucapan, seperti misalnya observasi terhadap bahasa tubuh seseorang, ekspresi wajah dan lain sebagainya. 2. Analisis linguistik (linguistic analysis). Observasi analisis linguistik (linguistic analysis) dilakukan pada analisis bahasa yang digunakan oleh seseorang atau beberapa orang yang sedang berinteraksi. 3. Analisis linguistik ekstra (extralinguistic analysis). Observasi analisis linguistik ekstra (extralinguistic analysis) dilakukan dengan mengobservasi empat dimensi, yaitu vokal (termasuk tinggi nada, kekerasan, kualitas), tempo (termasuk kecepatan bicara, durasinya dan ritmenya), interaksi (termasuk tendensi untuk menginterupsi pembicaraan, mendominasi) dan cara bicara (termasuk vokabulari, dialek dan ekspresi bicara). 4. Analisis spatial (spatial analysis). Observasi analisis spatial (spatial analysis) mengobservasi hubungan antara orang secara fisik. Contohnya adalah observasi tentang bagaimana salesman secara fisik mendekati pelanggan.

3 1. Analisis catatan (record analysis).
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Observasi non-perilaku (nonbehavioral observation) terdiri sebagai berikut ini. 1. Analisis catatan (record analysis). Observasi analisis catatan (record analysis) dapat berupa pengumpulan data baik dari catatan data sekarang atau catatan data historis. 2. Analisis kondisi fisik (physical condition analysis). Observasi analisis kondisi fisik (physical condition analysis) dilakukan pada data kondisi fisik seperti fisik sediaan, kondisi keamanan pabrik. 3. Analisis proses fisik (physical process analysis). Observasi analisis proses fisik (physical process analysis) dapat berupa observasi pada time and motion dari suatu proses, prosedur-prosedur akuntansi dan lain sebagainya.

4 Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman
Validitas Observasi Kehadiran pengamat secara fisik ini dapat mengganggu subyek yang diobservasi. Respon subyek yang berubah akibat kehadiran pengamat ini disebut dengan reactivity response. Webb et al. (1999) mengusulkan suatu cara pemecahan yang disebut dengan unobstructive measure. Cara ini dilakukan melalui observasi tidak langsung yang kreatif, misalnya melalui lacak fisik yaitu dengan melihat keusangan benda sebagai akibat digunakan.

5 Kebaikan-Kebaikan Observasi
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Kebaikan-Kebaikan Observasi Observasi mempunyai kebaikan-kebaikan atau kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan metoda pengumpulan data lainnya. Kebaikan-kebaikannya adalah sebagai berikut ini. 1. Untuk data yang berupa catatan dan prosedur-prosedur mekanik, observasi merupakan cara satu-satunya yang dapat dilakukan. 2. Data dapat diperoleh secara orisinal pada saat terjadinya. 3. Observasi menghindari data yang dilupakan atau disaring jika digunakan cara lain untuk mendapatkan data, misalnya menggunakan cara wawancara. Pada metoda wawancara, kejadian sudah terjadi pada saat wawancara dan responden mungkin sudah lupa kejadiannya. 4. Data diperoleh langsung dari pengaturan alamiah (natural setting) yang belum dirubah atau dibuat oleh peneliti. 5. Observasi tidak menanyakan langsung kepada responden, sehingga tidak membuat responden tertekan.

6 Kelemahan-Kelemahan Observasi
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Kelemahan-Kelemahan Observasi Disamping kebaikan-kebaikannya, metoda observasi juga mempunyai kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahannya. Kelemahan-kelemahan dari metoda observasi adalah sebagai berikut ini. 1. Proses observasi biasanya lama dan mahal. 2. Kadangkala kejadian yang akan diobervasi belum jelas kapan akan terjadinya dan dapat terjadi setiap waktu tanpa terduga. Misalnya mengobservasi badai tornedo yang akan terjadi, karena sulit menentukan kapan badai tersebut akan terjadi. 3. Proses observasi hanya melihat bagian yang tampak saja, tetapi bagian yang tidak terlihat seperti persepsi orang tidak dapat diobservasi. 4. Pengamat tidak dapat mengontrol lingkungan terjadinya sehingga tidak dapat melakukan eksperimen apa yang akan terjadi jika kondisi lingkungannya berbeda. 5. Terbatas pada kejadian yang sedang terjadi pada saat dan tempat tertentu saja.

7 Wawancara (interview) dapat berupa:
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman TEKNIK WAWANCARA Wawancara (interview) adalah komunikasi dua arah untuk mendapatkan data dari responden. Wawancara (interview) dapat berupa: wawancara personal (personal interview), -wawancara intersep (intercept interview) dan - wawancara telepon (telephone interview).

8 Permasalahan-permasalahan Wawancara
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Permasalahan-permasalahan Wawancara Permasalahan utama di wawncara adalah terjadinya kesalahan responden (responden error) yaitu data jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Kesalahan responden terjadi karena sebagai berikut ini. 1.  Pewawancara gagal membuat responden bekerjasama dengan baik yang akibatnya responden memberikan jawaban yang bias. Solusinya yaitu pewawancara harus membuat responden bekerjasama dengan baik. 2.  Pewawancara gagal melakukan wawancara dengan prosedur yang benar dan konsisten. 3.  Pewawancara gagal menciptakan lingkungan wawancara yang menyenangkan. Jawaban responden dapat bias karena responden merasa tidak nyaman atau tidak aman. 4.  Pewawancara gagal menangkap jawaban yang tidak jujur dari responden. Masalah ini merupakan masalah yang sering terjadi yaitu responden memberikan jawaban yang sekenanya dan tidak jujur. Permasalahannya adalah responden merasa tidak bertanggungjawab dan ingin wawancara cepat selesai. 5.  Pewawancara gagal mempengaruhi perilaku responden. Kadangkala jawaban responden bias karena pewawancara mempengaruhi perilaku responden dengan tidak tepat, misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak tepat. Solusinya adalah wawancara dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah terstruktur. 6.  Pewawancara gagal mencatat jawaban dengan lengkap dan akurat. Solusinya adalah dengan merekam wawancara. Selain untuk kelengkapan data, juga untuk bukti keberadaan data. 7.  Bias, karena kehadiran fisik. Kehadiran pewawancara dapat membuat cemas responden. Solusinya adalah membuat suasana menjadi nyaman. 8.  Bias karena respon terjadi akibat responden tidak mempunyai pengetahuan yang akan diwawancarainya. 9.  Bias yang lain dari responden adalah karena pertanyaan menyangkut daerah pribadi responden seperti umur, masalah-masalah pribadi, kekayaan dan lain sebagainya.

9 Validitas Wawancara Personal
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Validitas Wawancara Personal Masalah utama dalam wawancara personal adalah responden tidak menjawab dengan benar. Umumnya jawaban responden yang tidak benar ini karena responden tidak memahami pertanyaan yang diajukan atau responden enggan menjawab sebenarnya karena menyangkut masalah pribadi. Teknik probing dapat digunakan untuk mengatasi hal ini. Probing adalah teknik untuk menstimulasi responden menjawab lebih banyak dan lebih relevan. Beberapa cara probing adalah sebagai berikut ini. 1. Pewawancara (interviewer) memberikan kesan mengerti dan mendengarkan. Ekspresi pewawancara sangat penting untuk menyakinkan jawaban responden, misalnya dengan menganggukkan kepala. Untuk penekanan mungkin pewawancara dapat berkata “saya mengerti dan mendengarkan.” 2.   Memberi waktu responden untuk berbicara lagi setelah responden mengakhiri kalimatnya. 3. Mengulangi pertanyaan jika responden ragu-ragu atau tidak mengerti dengan pertanyaannya. 4.   Mengulang jawaban responden. 5.   Memberi pertanyaan netral seperti “Apa yang Anda maksud?,” “terus bagaimana?.” 6.   Memberikan pertanyaan klarifikasi jika jawaban melenceng atau tidak jelas. 7.   Menyakinkan bahwa topik wawancara penting. 8.   Membuat situasi wawancara menyenangkan. 9.    Menyakinkan bahwa responden adalah orang yang suka membantu. 10. Menghindari mempermalukan responden. 11.  Menghindari isi wawancara yang tidak disukai responden. 12.   Menghindari rasa takut responden untuk berpartisipasi.

10 Kebaikan-kebaikan Wawancara Personal
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Kebaikan-kebaikan Wawancara Personal Kebaikan-kebaikan dari wawancara adalah sebagai berikut ini. 1.  Kerjasama yang baik dari responden dapat dilakukan. 2.  Pewawancara dapat melakukan probing untuk mengurangi jawaban yang bias. 3.  Bantuan visual khusus atau alat penilai lainnya dapat dilakukan. 4.  Responden yang tidak mempunyai pengetahuan dapat diidentifikasi. 5.  Pewawancara dapat menyaring responden sesuai dengan yang dibutuhkan.

11 Kelemahan-kelemahan Wawancara Personal
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Kelemahan-kelemahan Wawancara Personal Sebaliknya, kelemahan-kelemahan atau kejelekan-kejelekan dari wawancara adalah sebagai berikut ini. 1.  Biaya mahal jika responden tidak dapat mudah diakses. 2.  Membutuhkan pewawancara yang terlatih. 3.  Waktu pengumpulan data lama. 4.  Beberapa responden tidak mau berbicara dengan orang yang tidak dikenal di rumahnya. 5.  Beberapa area pemukiman sulit untuk dijangkau. 6.  Responden dapat diatur atau dilatih oleh pewawancara untuk menjawab sesuai kehendak pewawancara.

12 Wawancara Lewat Telepon
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Wawancara Lewat Telepon Wawancara telepon (telephone interview), yaitu wawancara yang dilakukan lewat telepon. Wawancara lewat telepon mulai banyak dilakukan terutama jika respondennya cukup banyak dan menyebar, dan tidak dapat didatangi satu persatu. Wawancara lewat telepon juga dapat diprogramkan lewat komputer. Sistem ini disebut dengan CATI (Computer Administered Telephone Interview) yaitu komputer akan menelepon nomor telepon yang sudah diprogramkan, menanyakan pertanyaan dan responden menjawab dengan penekanan tombol-tombol di telepon, dan jawaban dapat langsung disimpan oleh komputer.

13 Kebaikan-kebaikan Wawancara Telepon
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Kebaikan-kebaikan Wawancara Telepon Berikut ini menunjukkan kebaikan-kebaikan dari wawancara telepon. 1.  Biaya lebih murah dibandingkan dengan wawancara personal. 2.  Letak geografik responden dapat lebih luas dan menyebar tanpa peningkatan biaya yang tinggi. 3.  Hanya membutuhkan sedikit atau tidak membutuhkan pewawancara sama sekali. 4.  Mengurangi bias dari pewawancara. 5.  Waktu penyelesaian yang cepat. 6.  Akses yang lebih baik ke responden karena dapat ditelepon berkali-kali jika belum tersambung. 7.  Dapat digunakan komputer untuk menelepon dengan nomor telepon yang acak. 8.  Dapat menggunakan CATI sehingga data dapat langsung direkam di komputer.

14 Kelemahan-kelemahan Wawancara Telepon
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Kelemahan-kelemahan Wawancara Telepon Kelemahan-kelemahan dari wawancara telepon adalah sebagai berikut ini. 1.  Tingkat respon lebih rendah dibandingkan dengan wawancara personil. 2.  Biaya pulsa telepon mahal jika area menyebar secara geografik. 3.  Banyak nomor telepon yang tidak tercatat. 4.  Respon dapat tidak selesai jika sambungan telepon terputus di tengah. 5.  Ilustrasi tidak dapat digunakan sewaktu wawancara.

15 variabel yang diamati efeknya adalah variabel dependen.
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman 7.4. TEKNIK EKSPERIMEN Eksperimen (experiment) adalah suatu studi yang melibatkan keterlibatan peneliti memanipulasi beberapa variabel, mengamati dan mengobservasi efeknya. Variabel-variabel yang dimanipulasi atau yang diberi treatmen adalah variabel-variabel independen dan variabel yang diamati efeknya adalah variabel dependen.

16 Tabel 7.1. Perbedaan eksperimen-betulan dengan eksperimen-kuasi.
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Tabel. Perbedaan eksperimen-betulan dengan eksperimen-kuasi. Eksperimen-betulan Eksperimen-kuasi - Dilakukan dengan memanipu-lasi secara eksplisit terhadap satu atau lebih variabel independen Data eksperimen berupa fakta yang sedang terjadi di eksperimen. -Grup eksperimen dibentuk dari subyek-subyek yang diberi treatmen atau dimani-pulasi dan grup kontrol dibentuk dari subyek-subyek yang tidak diberi treatmen. -Metoda randomisasi (random-ization) digunakan untuk mengurangi bahkan menghi-langkan pengaruh variabel-variabel ekstrani (extraneous variables). - Tidak dilakukan manipulasi secara eksplisit, tetapi manipu-lasi terhadap variabel inde-penden sudah terjadi karena oleh suatu peristiwa yang tidak diintervensi oleh peneliti. - Data berupa fakta yang sudah terjadi sebelumnya (­ex-post facto). - Grup eksperimen dibentuk dari subyek-subyek yang sudah mendapat treatmen akibat peristiwa atau kejadian tertentu yang sudah terjadi dan grup kontrol dibentuk dari subyek-subyek yang tidak mendapat treatmen peristiwa tersebut. - Menggunakan metoda pair-matching untuk membentuk grup kontrol.

17 Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman
Randomisasi Randomisasi digunakan untuk meminimalkan atau bahkan menghilangkan pengaruh dari variabel ekstrani (extraneous variable). Randomisasi (randomization) melibatkan pemilihan subyek-subyek penelitian secara random dari populasinya dan kemudian memberi subyek-subyek itu dengan kondisi-kondisi tetentu yang juga dilakukan secara random. Di cara randomisasi ini, grup kontrol dapat dibuat atau tidak dibuat. Pair-Matching Padanan-sepasang (pair-matching) dilakukan dengan cara masing-masing item di sampel ekeperimen dipadankan dengan item di sampel kontrol dengan karakteristik yang sama (atau mendekati sama jika tidak mungkin sama persis) dengan yang berbeda hanya kategorinya.

18 Tabel 7.2. Ancaman terhadap validitas internal di eksperimen.
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Validitas Internal Validitas internal (internal validity) adalah pengukur seberapa benar atau valid kausalitas terjadi, yaitu seberapa benar variasi di variabel dependen diakibatkan oleh variasi dari variabel-variabel independennya. Riset disain yang baik harus mempunyai validitas internal yang kuat. Tabel 7.2. Ancaman terhadap validitas internal di eksperimen. Ancaman Penjelasan 1. Histori (history) 2.Maturasi (maturation) 3 Pengujian (testing). 4. Instrumentasi (intsrumentation). 5. Seleksi (selection). 6. Regresi (regression). 7. Mortaliti eksperimen (experiment mortality). 1. Pengaruh peristiwa-peristiwa lain yang terjadi antara periode pretest dan posttest. 2. Pengaruh waktu yang mempengaruhi subyek. 3. Pengaruh pengujian sebelumnya yang membuat subyek belajar yang akan mempengaruhi pengujian selanjutnya. 4. Pengaruh pergantian instrumen atau pergantian pengamat. 5. Pengaruh karakteristik subyek yang berbeda di grup treatmen dengan yang di grup kontrol. 6. Pengaruh menuju ke garis regresi yang berupa nilai ekspektasi sehingga nilai-nilai kecil akan cenderung bergerak naik dan nilai-nilai besar akan cenderung bergerak turun. 7. Pengaruh perubahan komposisi subyek di grup treatmen.

19 Terdapat tiga kelompok disain eksperimen, yaitu: pre-experiments,
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Disain Eskperimen Terdapat tiga kelompok disain eksperimen, yaitu: pre-experiments, true experiments dan field experiments.

20 variabel independen (X)  Pengukuran di variabel dependen (Y)
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Pre-eksperimen Disain pre-experiment merupakan disain eksperimen yang sederhana yang tidak menggunakan sampel kontrol atau jika digunakan sampel kontrol tetapi tidak ekuivalen dengan sampel treatmennya karena item-item sampel tidak dipilih secara random. Beberapa disain pre-eksperimen (pre-experiment) adalah one-shot case study, one-group Pretest-Post-Test Design dan Static Group Comparison.  One-shot Case Study Pemberian treatmen di variabel independen (X) Pengukuran di variabel dependen (Y) T P2   Contoh penerapan disain eksperimen ini adalah pemberian obat peninggi badan pada subyek sampel treatmen dan kemudian mengamati hasil tinggi badan subyek akibat obat tersebut. Dengan demikian variabel independen X adalah obat peninggi badan dan variabel dependen Y adalah tinggi badan manusia.

21 Eksperimen-Betulan Klasik
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Eksperimen-Betulan Klasik Beberapa bentuk disain dari eksperimen-betulan (true-experiment) klasik akan dibahas. Jika di pre-experiment tidak digunakan sampel kontrol atau jika digunakan sampel kontrol tetapi tidak ekuivalen dengan sampel treatmen karena item-item sampelnya tidak dipilih secara random, maka di eksperimen-betulan (true-experiment) klasik digunakan sampel kontrol yang ekuivalen dengan sampel treatmen. Ekuivalensi antara ke dua sampel dapat dilakukan dengan cara randomisasi atau pair-matching.

22 Pretest-Post-Test Control Group
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Pretest-Post-Test Control Group Disain ini menggunakan pre-test dan sampel kontrol atau grup kontrol. Perbedaannya adalah grup kontrol di eksperimen-betulan (true-experiment) ini ekuivalen dengan grup treatmennya dengan cara randomisasi, yaitu subyek dipilih secara random (diberi simbol R). Bentuk umum dari disain ini adalah sebagai berikut ini. Grup Randomi-sasi Pengukuran sebelum treatmen Pemberian treatmen di variabel independen (X) dependen (Y) Treatmen R P1 T P2 Kontrol P3 P4  Efek dari eksperimen ini adalah (P2 – P1) - (P4 – P3) atau (P2 – P4) - (P3 – P1).

23 7.4.5.3. Eksperimen-Betulan Ekstensi
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Eksperimen-Betulan Ekstensi Ekstensi dari eksperimen-betulan klasik adalah completely randomized design, randomized block design, latin square design dan factorial design. Istilah faktor (factor) banyak digunakan di eksperimen-betulan ekstensi. Faktor (factor) adalah nilai yang diberikan di variabel independen. Faktor terdiri dari: faktor-faktor aktif (active factors) dan -faktor-faktor blokan (blocking factors). Faktor-faktor aktif (active factors) adalah faktor-faktor yang nilai tingkatannya diberikan lewat treatmen. Faktor-faktor blokan (blocking factors) adalah faktor-faktor yang nilai tingkatannya sudah ada, misalnya laki-laki dan perempuan, besar dan kecil dan lainnya.

24 Grup berdasarkan faktor aktif -
Completely Randomized Design Disain ini didasarkan pada beberapa grup atau sampel yang dipilih berdasarkan faktor aktif, yaitu faktor yang nilainya diberikan lewat treatmen. Misalnya faktor aktif adalah bea siswa sebagai berikut ini. Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Completely Randomized Design Disain ini didasarkan pada beberapa grup atau sampel yang dipilih berdasarkan faktor aktif, yaitu faktor yang nilainya diberikan lewat treatmen. Misalnya faktor aktif adalah bea siswa sebagai berikut ini. Grup berdasarkan faktor aktif - Bea siswa Ran-do-mi- sasi Pengukuran sebelum treatmen Pemberian treatmen di variabel independen (X) dependen (Y) Rp ,- R P1 T1 P2 Rp ,- P3 T2 P4 Rp ,- P5 T3 P6 Rp ,- P7 T4 P8

25 Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman
TEKNIK SURVEI Untuk mendapatkan data opini individu, teknik pengumpulan data yang dapat digunakan adalah teknik pengumpulan data survei. Untuk mendapatkan data opini grup, teknik pengumpulan data yang dapat digunakan adalah teknik pengumpulan data delphi. Survei (survey) atau lengkapnya self-administered survey adalah metoda pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu. Survei dapat dikelompokkan kedalam mail survey, computer-delivered survey dan intercept studies. Survei pos (mail survey) merupakan survei yang pertanyaan-pertanyaannya dikirimkan kepada responden lewat pos atau fax atau cara pengiriman lainnya. Survei dikirimkan lewat komputer (computer-delivered survey) menggunakan komputer, misalnya intranet, dan internet, untuk mengirimkan pertanyaan-pertanyaan. Survei intersep (intercept study) adalah memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden yang dilakukan di tempat-tempat umum misalnya di mal.

26 Permasalahan Survei Dan Cara Mengatasinya
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman Permasalahan Survei Dan Cara Mengatasinya Beberapa cara telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas dari survei lewat pos ini. Cara-caranya adalah sebagai berikut ini. 1. Pemberitahuan awal. Pemberitahuan awal merupakan pemberitahuan terlebih dahulu kepada responden, biasanya lewat telepon atau lewat , sebelum pertanyaan-pertanyaan dikirimkan. Pemberitahuan ini akan mengingatkan responden tentang adanya survei. 2. Isi dari survei. Isi dari survei dapat meningkatkan kualitas survei sekaligus meningkatkan tingkat respon dalam mengirimkan pertanyaan-pertanyaan kepada responden dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut ini. a. Panjang pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang terlalu panjang membuat responden enggan untuk menjawabnya. Panjang pertanyaan yang melebihi 10 menit untuk menjawabnya dianggap terlalu panjang. b. Sponsor survei. Survei yang disponsori oleh institusi cenderung lebih direspon dibandingkan dengan survei individual tanpa sponsor. c. Amplop kembalian. Amplop kembalian yang sudah dituliskan alamat balasannya dan sudah dilekati dengan perangko balasan akan membuat responden mudah mengirimkan balik jawaban-jawabannya.

27 Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman
d. Cara mengirim. Mengirim dengan menggunakan jasa ekspedisi atau diantarkan sendiri secara pribadi (drop-off delivery) jika dimungkinkan akan membuat responden dihargai, sehingga akan meningkatkan tingkat respon. e. Personalisasi. Personalisasi dapat dilakukan dengan menandatangani satu persatu secara pribadi tidak menggunakan cap secara massal akan membuat responden dihargai. f. Surat pengantar. Surat pengantar yang diberikan bersama-sama dengan pertanyaan-pertanyaan akan membuat responden merasa dihargai juga. g. Tanpa nama. Pengembalian survei yang tanpa nama responden untuk mencegah identitas akan meningkatkan tingkat respon. h. Insentif uang. Pemberian uang insentif yang dikirimkan bersama-sama dengan survei atau dikirimkan setelah responden merespon akan meningkatkan tingkat respon. i. Tanggal jatuh tempo. Menyebutkan tanggal terakhir survei harus direspon mungkin tidak meningkatkan tingkat respon tetapi mempercepat respon. 3. Tindak lanjut. Tindak lanjut (follow-ups) adalah pengiriman kembali pertanyaan atau sekedar mengingatkan kepada responden setelah beberapa waktu responden telah menerima pertanyaan-pertanyaan sebelumnya tetapi belum membalasnya. Tindak lanjut ini baik untuk meningkatkan tingkat respon.

28 SURVEI DIKIRIMKAN-LEWAT-KOMPUTER
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman SURVEI DIKIRIMKAN-LEWAT-KOMPUTER Survei dikirimkan-lewat-komputer (computer-delivered survei), misalnya menggunakan internet untuk menyebarkan pertanyaan-pertanyaan survei mulai banyak digunakan. Biasanya pertanyaan-pertanyaan survei ini disebarkan ke grup-grup diskusi yang relevan dengan survei yang dilakukan. Penyebaran ini dapat lewat atau dapat lewat situs jaringan (web site). Alasan utama menggunakan komputer untuk melakukan survei adalah biayanya yang murah karena menghemat biaya pengiriman lewat pos atau lewat ekspedisi. Alasan lainnya adalah dapat menjangkau subyek yang lebih luas, pertanyaan-pertanyaan dapat dikirimkan dengan cepat dan hasilnya juga dapat diterima dengan cepat.

29 TEKNIK PENGUMPULAN DATA ARSIP
Jogiyanto HM - Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman TEKNIK PENGUMPULAN DATA ARSIP Pengumpulan data arsip (archival) dapat berupa data primer atau data sekunder. Untuk mendapatkan data primer, teknik pengumpulan data yang dapat digunakan adalah teknik pengumpulan data analisis isi (content analysis). Untuk mendapatkan data sekunder, teknik pengumpulan data yang dapat digunakan adalah teknik pengumpulan data di basis data.


Download ppt "BAB 7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google