Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENDEKATAN EKLEKTIK DALAM PSIKOLOGI KONSELING DAN TERAPI

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENDEKATAN EKLEKTIK DALAM PSIKOLOGI KONSELING DAN TERAPI"— Transcript presentasi:

1 PENDEKATAN EKLEKTIK DALAM PSIKOLOGI KONSELING DAN TERAPI
ARIF FARADITA R ( ) SELFIRA M ( ) DEVI PRAMESTY S ( ) DINDA RIZKY k ( ) NURIEKA AULIA f ( )

2 PENGERTIAN KONSELING EKLEKTIK
Pendekatan Eklektik berpandangan bahwa sebuah teori memiliki keterbatasan konsep, prosedur, dan teknik. Sehingga pendekatan ini “dengan sengaja” mempelajari berbagai teori dan menerapkan sesuai keadaan realita konselee.

3 TUJUAN KONSELING EKLEKTIK
Membantu konselee mengembangkan integritasnya pada level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Dan untuk mencapai tujuan tersebut maka konselee dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya, mengajari konselee untuk melatih pengendalian diatas masalah tingkah laku. Eklektik berfokus pada tingkah laku, tujuan, masalah, dan sebagainya.

4 PRINSIP DASAR Menurut Thorne kepribadian individu terbentuk dan tercermin sebagai interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. Gaya hidup individu didasarkan pada pola karakteristik pencapaian strateginya dalam memuaskan kebutuhan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan hidup. Perkembangan kepribadian diakui sebagai perjuangan penentu ketidaksadaran afektif-implusif dari perilaku-perilaku melalui pembelajaran dan penyempurnaan rasional-logika-fakultatif-kontrol perilaku. Kata eklektik berarti menyeleksi, memilih metode yang sesuai dari berbagai sumber atau sistem. Asumsi yang mendasari pendekatan eklektik ini ialah bahwa individu secara berkala membutuhkan pertolongan professional untuk memahami dirinya sendiri serta situasi-situasinya, dan mengatasi aneka masalahnya.

5 KONSEP DASAR Dalam melaksanakan tugasnya, konselor eklektik mengikuti sebuah filsafat dan arah yang konsisten, sedangkan teknik-teknik yang digunakannya pun dipilih karena sudah teruji bukan berdasarkan coba-coba belaka. Konselor mengembangkan pandangan eklektik yang digambarkan oleh Brammer dengan urutan sebagai berikut : Konselor menolak penekanan teori secara khusus dengan mengamati dan menilai klien dan perilaku konselor lainnya. Konselor mempelajari sejarah dari konseling dan psikoterapi untuk mengembangkan pengetahuannya. Konselor yang mengembangkan pandangan eklektik mengetahui kepribadiannya sendiri dan menyadari gaya interaksi yang perlu dikembangkan dalam hubungan konseling sesuai dengan karakteristik klien yang berbeda-beda.

6 Teori konseling eklektik seperti yang dipersepsikan oleh Thorne membutuhkan tanggapan dari klien tentang sejarah masa lalu mereka, situasi saat ini, dan kemungkinan di masa yang akan datang, dengan memanfaatkan pengetahuan perkembangan kepribadian dari ilmu biologi dan sosial. Oleh karena itu, konselor perlu memiliki pengetahuan yang mendalam tentang perwujudan diri individu. Teori konseling eklektik dibangun atas kebutuhan akan memaksimalkan intelektual individu sebagai sumber daya untuk mengembangkan pemecahan masalah. Konseling eklektik menekankan pentingnya diagnosis dalam memahami seseorang. Para konselor yang mengikuti model ini haruslah mengenal indikasi-indikasi dari aneka metode yang sudah dikenal luas serta harus mampu menggunakannya tanpa bias.

7 Konselor eklektik sering dipandang sebagai jalan tengah untuk menjembatani polarisasi antara konseling direktif dan konseling non direktif. Menurut Thorne, konseling dan psikoterapi dipahami sebagai proses pembelajaran yang meliputi: Mendiagnosis faktor – faktor psikodinamika etiologi dalam rangka untuk merumuskan masalah yang akan dipelajari. Menyusun suasana kondusif untuk pembelajaran. Menguraikan dan membimbing langkah – langkah pendidikan. Menyediakan kesempatan untuk praktik. Memberi wawasan terhadap proses yang alami dan hasilnya untuk meningkatkan motivasi belajar.

8 ASUMSI DASAR KONSELING EKLEKTIK
Eklektik mempunyai beberapa asumsi dasar yang berkaitan dengan proses konseling, diantaranya adalah: Tidak ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh situasi klien, dan Pertimbangan profesional atau pribadi konselor adalah factor penting akan berhasilnya konseling pada berbagai tahap proses konseling.

9 Menurut Gilliland dkk. (1884) asumsi- asumsi dasar di atas di tunjang oleh kenyataan sebagai berikut. Tidak ada dua klien atau situasi klien yang sama. Setiap klien dan konselor adalah pribadi yang berubah dan berkembang. Konselor yang efektif menunjukkan fleksibelitas dalam perbendaharaan aktivitas, berada pada kontinum dari non directif ke directif. Klien adalah pihak yang paling tahu dengan problemnya. Konselor menggunakan keseluruhan sumber professional dan personal yang tersedia dalam situasi pemberian bantuan (konseling). Konselor dan proses konseling dapat salah dan dapat tidak mampu untuk melihat secara jelas atau cepat berhasil dalam setiap konseling atau situasi klien.

10 Kompetensi konselor menyadari kualifikasi profesional setiap personal dan kekurangan-kekurangannya, dan kompetensi itu juga bertanggung jawab untuk menjamin bahwa proses konseling secara etis tertangani dan dalam keadaan yang sangat di minati klien dan masyarakat. Keputusan klien lebih di utamakan di atas pemenuhan kebutuhan konselor. Banyak perbedaan pendekatan yang strategis berguna bagi konseptualisasi dan pemecahan setiap masalah. Mungkin ini bukan pendekatan terbaik. Banyak masalah yang kelihatan sebuah dilemma yang tidak dapat di pecahkan dan selalu ada berbagai alternatifnya. Beberapa alternative itu adalah terbaik bagi klien tertentu dan tidak bagi klien yang lain. Secara umum efektivitas konseling adalah proses yang dikerjakan “dengan” klien bukan “kepada” atau “untuk” klien.

11 TUJUAN KONSELING MENURUT EKLEKTIK
Membantu klien mengembangkan integrasinya pada level tertinggi yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Tujuan layanan konseling eklektik : Menggantikan tingkah laku yang terlalu komplusif dan emosional dengan tingkah laku yang bercorak lebih rasional dan lebih konstruktif.

12 HUBUNGAN KONSELOR DAN KONSELEE
Tugas konselor adalah mendampingi konseli dalam melatih diri sendiri untuk memanfaatkan kemampuan berpikir yang dimilikinya. Dalam berkomunikasi dengan konseli, konselor harus menentukan kapan konseli membutuhkan banyak pengarahan untuk penyaluran pikiran, informasi, instruksi, usul, serta saran; dan kapan konseli tidak membutuhkan pengarahan itu. Konselorlah yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan konseli pada tahap tertentu dalam proses konseling.

13 setiap kali konseli menunjukkan kemajuan dalam mengatur kehidupannya sendiri dengan berpikir rasional, konselor mengurangi pengarahan yang diberikannya. Sedangkan setiap kali konseli menunjukkan kemunduran dalam mengatur diri sendiri, konselor menambah pengarahan dengan membantu berpikir yang lebih baik. Bagi konseli, proses konseling merupakan suatu proses belajar yang mengalami gelombang pasang surut, yang berarti mengalami masa kemajuan dan masa kemunduran, tetapi secara keseluruhannya proses belajar itu memperlihatkan tanda-tanda kemajuan.

14 Menurut patokan yang dipegang oleh Thorne, seseorang dikatakan telah berhasil dalam menjalani proses konseling bila individu : Mampu mengungkapkan perasaan-perasaan dan motif-motifnya secara lebih memadai. Mampu mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik. Mampu memandang dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya secara lebih realistik. Mampu berpikir lebih rasional dan logis. Mampu mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang lebih selaras dan lebih konsisten yang satu dengan yang lain. Mampu mengatasi penipuan diri dengan meninggalkan penggunaan berbagai mekanisme pertahanan diri. Menunjukkan tanda-tanda lebih mampu mandiri dan bertindak secara lebih dewasa.

15 STRATEGI KONSELING EKLEKTIK
Hubungan Konselor dengan Konselee Interview Asesmen Perubahan ide

16 Hubungan konselor dan konselee
Hubungan konselor dan konselee. Konseling eklektik memandang pentingnya hubungan positif antara konselor dengan konselee yang tergantung pada iklim konseling, ketrampilan konseling, komunikasi verbal dan non verbal, serta kemampuan mendengarkan. Interview. Eklektik memandang interview sebagai strategi untuk membangun atau menciptakan struktur hubungan dan kepercayaan. Sehingga konselor dapat mengidentifikasi danmenjelaskan peran dan tanggung jawab konselor dan konselee, mengidentifikasi alasan konselee datang pada konselor. Assesmen. Untuk mengidentifikasikan alternative dan mengembangkan secara realistic, merencanakan tindakan, dan membantu konselee meningkatkan potensinya. Perubahan ide. Eklektik memandang bahwa alternatif pemecahan dilaksanakan dengan sangat fleksibel. Konselor membutuhkan fleksibilitas pemikiran dan fleksibilitas dalam pemecahan masalah.

17 PROSES KONSELING TAHAP PENUTUP TAHAP PEMBUKAN
TAHAP PENJELASAN TAHAP PENGGALIAN MASALAH TAHAP PENYELESAIAN MASALAH TAHAP PENUTUP

18 TEKNIK-TEKNIK KONSELING
Thorne membuat kesimpulan tentang penggunaan teknik aktif dan teknik pasif: Metode pasif harus digunakan bila memungkinkan. Metode aktif harus digunakan hanya dengan indikasi tertentu. Pada umumnya, hanya meminimalkan campur tangan secara langsung yang diperlukan untuk mencapai tujuan terapeutik. Teknik pasif biasanya menggunakan metode pilihan pada tahap awal terapi saat klien bercerita dan untuk melepaskan emosional. Hukum parsimoni harus diamati setiap saat. Metode yang sulit digunakan setelah metode sederhana gagal dilakukan.

19 Semua terapi berpusat pada klien
Semua terapi berpusat pada klien. Ini berarti bahwa kepentingan klien menjadi pertimbangan utama. Ini tidak berarti bahwa metode aktif kontra-indikasi. Dalam banyak kasus, kebutuhan klien menunjukkan tindakan direktif. Memberi kesempatan kepada setiap klien untuk menyelesaikan masalahnya secara tidak langsung. Metode aktif biasanya ditunjukkan dalam situasi ketidakmampuan dimana solusi tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dengan orang lain. Konseling eklektik cenderung mengutamakan klien yang aktif dan konselor yang pasif. Tetapi bila teknik pasif yang dilakukan konselor mengalami hambatan, maka konselor baru menggunakan teknik aktif.

20 PERBANDINGAN EKLEKTIK DENGAN PENDEKATAN LAIN
Capuzzi dan Gross (1991) menyebutkan terdapat 3 aliran yaitu: Formalisme atau Puritisme Penganut ini akan “menerima atau tidak sama sekali” sebuah teori. Mereka akan menerima apa adanya tanpa kritik. Sinkertisme Penganut ini akan beranggapan bahwa setiap teori adalah baik, efektif, dan positif. Mereka menerapkan teori – teori yang dipelajari tanpa melihat kerangka teori itu dikembangkan. Eklektisme Penganut ini akan menyeleksi berbagai pendekatan yang ada. Prinsipnya setiap teori memiliki kelemahan dan keunggulan.

21 KECOCOKAN DITERAPKAN DI INDONESIA
Konselor yang menggunakan pendekatan ini dapat melayani konseli sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah-masalah yang dihadapi. Dengan demikian, teori ini cocok untuk diterapkan di Indonesia yang individu-individunya memiliki berbagai karakteristik. Hal ini disebabkan Indonesia memiliki beragam budaya dan terdiri dari beragam suku bangsa. Konseling eklektik bertujuan menggantikan tingkah laku yang terlalu kompulsif dan emosional dengan tingkah laku yang bercorak lebih rasional dan lebih konstruktif. Teori ini cocok diterapkan di Indonesia dimana sebagian besar penduduknya masih percaya pada hal-hal yang berhubungan dengan mistis dan takhayul, sehingga kurang bisa berpikir rasional.


Download ppt "PENDEKATAN EKLEKTIK DALAM PSIKOLOGI KONSELING DAN TERAPI"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google