Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KELOMPOK 6 1. Diva Meliana Dilla (09). Soal no : 2, 6 2

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KELOMPOK 6 1. Diva Meliana Dilla (09). Soal no : 2, 6 2"— Transcript presentasi:

1 KELOMPOK 6 1. Diva Meliana Dilla (09). Soal no : 2, 6 2
KELOMPOK 6 1. Diva Meliana Dilla (09) Soal no : 2, Fitri Sinta Dewi (11) Soal no : Huamaira Rahmi Dewi (15) Soal no : Meiwindriya Mutya G (22) Soal no : Siti Syifa Setia Ningrum (32) Soal no : 7, 8, 9 6. Virginia Miracle Jilena (33) Soal no : 4, 5  

2 Uji Kompetensi

3 pertanyaan Pembukaan lahan yang dilakukan oleh nenek moyang kita dengan penebangan pohon sebenarnya termasuk kearifan local yang perlu dijadikan pelajaran. Bagaimana pendapat dan sikap kamu tentang pernyataan tersebut? Bagaimana pula pendapat kamu tentang aktivitas pembukaan lahan dengan membakar hutan seperti yang dilakukan sekarang ini?

4 Jawab Pembukaan lahan dengan penebangan pohon memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah tidak menyebabkan polusi udara dan kayu hasil penebangan dapat dimanfaatkan. Sisi negatifnya adalah dapat menyebabkan tanah longsor karena terjadinya erosi. Pembukaan lahan dengan pembakaran hutan seperti saat ini sangatlah tidak baik karena dapat menyebabkan polusi udara dan hewan yang ada di dalamnya dapat mati karena terbakar. Sebaliknya untuk pembukaan lahan tidak harus dengan membakar hutan. Namun, walaupun pembukaan lahan dengan penebangan tidak terlalu banyak memiliki risiko, tetap saja pembukaan lahan harus dibatasi.

5 Pertanyaan Buatlah analisis tentang hubungan antara pola tempat tinggal dengan bercocok tanam!

6 Jawab Cara manusia bercocok tanam sangat bergantung pada tempat tinggal saat itu: 1. Tinggal di dataran rendah: sistem perairan sangat cocok dilakukan di kawasan ini karena tanahnya sangat subur yang merupakan hasil sedimentasi tanah alluvial.Tanah alluvial merupakan tanah hasil erosi yang hanyut di sungai dari gunung berapi. Dikarenakan kawasan ini merupakan daerah yang subur untuk bercocok tanam, maka daerah ini cenderung diminati masayarakat untuk dijadikan tempat tinggal sehingga jumlah penduduknya jauh lebih padat daripada dataran tinggi. 2. Tinggal di lahan miring landai Lahan dengan tingkat kemiringan yang landai tidak harus selalu bercocok tanam dengan berkebun.Bersawah juga dapat dilakukan menggunakan teknik terasering, dan strategi khusus agar tumbuh dengan optimal.

7 3. Tinggal di lahan miring
Kawasan yang miring cenderung labil dan mudah longsor karena kondisi yang mudah tergerus air, terutama musim hujan. Tidak semua jenis buah dan sayur cocok ditanam di lahan seperti ini. Biasanya, area yang tinggi cenderung memiliki suhu udara yang rendah sehingga kondisi udara cukup dingin. Cara bercocok tanam yang tepat adalah dengan berkebun menanam sayuran seperti, wortel, kol, kubis, kentang, atau buah-buahan seperti tomat, mentimun, dan stroberi. 4. Tinggal di lahan terjal: berkebun tanaman keras / tahunan  Umumnya, para petani menanam tanaman keras di lahan yang terjal karena memiliki resiko erosi dan tanah lonsor yang tinggi.

8 Pertanyaan Coba kamu identifikasi alat-alat bercocok tanam pada periode tersebut! Berikan nama alat, fungsi, dan gambar!

9 Jawab

10 Pertanyaan Mengapa manusia purba itu banyak yang tinggal di tepi sungai?

11 Jawab Manusia purba banyak yang tinggal di tepi sungai karena di sungai terdapat air yang merupakan kebutuhan pokok setiap makhluk hidup terutama manusia. Selan itu di tepi sungai, terdapat banyak tanaman karena air memberikan kesuburan bagi tanaman dan mengundang kehadiran banyak binatang di sekitarnya. Keberadaan air juga dapat dimanfaatkan manusia purba sebagai sarana penghubung atau mobilitas dari suatu tempat ke tempat lainnya.

12 Pertanyaan Jelaskan pola kehidupan nomaden manusia purba!

13 Jawab Nomaden adalah pola hidup dimana manusia purba pada saat itu hidup berpindah – pindah atau menjelajah. Mereka hidup dalam komunitas – komunitas kecil dengan mobilitas tinggi di suatu tempat. Mata pencaharian manusia purba pada pola nomaden adalah berburu dan mengumpulkan makanan dari alam ( food gathering ).

14 pertanyaan Manusia purba juga memasuki fase bertempat tinggal sementara, misalnya di gua, mengapa demikian?

15 Jawab Manusia purba memilih tinggal di gua pada fase bertempat tinggal sementara karena gua merupakan tempat yang hangat dan baik untuk perlindungan dari cuaca, hewan buas dan ancaman lainnya. Manusia masa itu mempunyai pola hidup berburu menyesuaikan keadaan dan ketersediaan makanan, Mereka bertempat tinggal di tempat yang mereka rasa aman, demi menghindari adanya persaingan dengan kelompok lain.

16 Pertanyaan Apa kira-kira alasan bagi manusia purba memilih tempat tinggal di tepi pantai?

17 Ada beberapa alasan yang menyebabkan manusia purba tinggal ditepi pantai. Antara lain :
Sumber daya makanan yang melimpah. Banyak tempat tinggal Jauh dari binatang buas Banyak senjata Dekat dengan sumber air Jawab

18 pertanyaan Jelaskan kaitan antara manusia yang sudah bertempat tinggal tetap dengan adanya sistem kepercayaan!

19 Jawab Saat manusia mulai bertempat tinggal tetap, manusia mulai mengalami kemajuan yang pesat dalam berpikir. Manusia praaksara mulai mengenal kepercayaan pada zaman batu besar, saat itu mereka mulai percaya jika ada kehidupan setelah mati, mereka juga mempercayai kekuatan roh nenek moyang (animisme) juga kekuatan benda-benda tertentu (dinamisme) Saat masyarakat mulai mengalami kemajuan dengan bertempat tinggal tetap, manusia mulai melakukan interaksi satu sama lain sehingga mulai tercipta pola interaksi yang tidak beraturan. Sehingga manusia mulai menyadari bahwa dibutuhkan sesuatu yang mengatur agar tidak kacau sehingga manusia mulai mendirikan batu-batu besar sebagai pemujaan.

20 Pertanyaan Adakah hubungan antara sistem kepercayaan masyarakat dengan pola mata pencaharian? Jelaskan!

21 jawab Ada. Misalnya, Seiring perkembangan pelayaran, masyarakat zaman praaksara akhir juga mulai mengenal sedekah laut. Agama Islam ada masyarakat yg berpfrofesi sebagai guru agama,guru mengaji dan lain lain yg berkaitan dengan agama Masyarakat yang bekerja dalam pemotongan atau penyembelihan hewan, dalam agama Islam penyembelihan hewan harus mengucapkan basmalah, namun tidak demikian dengan agama lainnya. Semua itu ada kaitannya dengan pekerjaan dan juga kepercayaan manusia.

22 Pertanyaan Buatlah sebuah proyek belajar dengan melakukan penelitian tentang tradisi megalitik dan kepercayaan animisme yang sekarang masih tersisa di daerah kamu.

23 KEPERCAYAAN ANIMISME Animisme adalah suatu kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga pada manusia.Hal ini masih terjadi kalangan masyarakat Indonesia, contohnya: Masyarakat Jawa melakukan upacara untuk meminta berkah pada roh, dan meminta pada roh jahat agar tidak mengganggunya. Cara untuk menghubungi roh orang yang sudah meninggal juga dilakukan dengan cara tidur di atas kuburan-kuburan sambil mengharapkan mendapatkan keberuntungan seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Masyarakat Nias yang meyakini bahwa tikus yang keluar masuk rumah adalah jelmaan dari wanita yang meninggal dalam keadaan melahirkan. Suku Toraja, mereka mempercayai bahwa roh nenek moyang adalah penjaga serta pelindung adat; doa restu mereka sangat diharapkan karena tanpa restu mereka maka hidup akan ditimpa musibah serta bencana lain yang menimpa masyarakat. Suku Ngaju di Kalimantan, roh nenek moyang dianggap yang menjaga kelestarian kampung, sungai, sawah dan lain-lainnya sehingga masih berfungsi sebagaimana mestinya.

24 TRADISI MEGALITIK Tradisi megalitik adalah bentuk-bentuk praktik kebudayaan yang dicirikan oleh pelibatan monumen atau struktur yang tersusun dari batu-batu besar (megalit) sebagai penciri utamanya. Di Indonesia masih ada masyarakat yang masih mendukung tradisi ini, seperti suku bangsa Nias, Batak (sebagian), Sumba, dan Toraja, dan Jawa. Penggunaan batu-batu besar sebagai alat upacara, serta sarana penguburan, tradisi megalitik juga melibatkan struktur ruang/arsitektur tertentu, benda-benda logam (pisau, pedang, tabuhan, dan sebagainya), gerabah (seperti tempayan), kayu, serta manik-manik.

25 Penemuan-penemuan tradisi megalitik:
Sangasanga, Kutai Kartanegara pada tahun 2010 ditemukan 52 kubur dalam tempayan dengan bekal, sebagian masyarakat Dayak timur masih mengenali tradisi ini.

26 Gua Harimau, Ogan Komering Ulu, ditemukan pada kisaran sebanyak 66 kerangka dari berbagai usia kematian dengan tradisi kubur batu dilengkapi bekal kubur berupa tembikar, cangkang moluska, dan benda logam. Bersamaan dengan itu ditemukan lukisan-lukisan di dinding gua.Ini menunjukkan bahwa tradisi batu cadas gua juga dikenal oleh masyarakat di Kepulauan Nusantara bagian barat, tidak hanya di Kalimantan atau Maluku dan Papua.Bahan lukis adalah hematit, suatu mineral oksida besi.

27 Situs Solanggodu, di lereng Bukit Doromanto, Desa Hu'u, Kabupaten Dompu, NTB, merupakan situs kubur batu bertutup (rade doho) berupa waruga bulat pipih dan bentuk alami. Mayat diletakkan duduk, dibekali oleh manik-manik, cincin logam, serta uang kepeng dari Tiongkok abad XI.Terdapat pula tahta batu (kopen cui) yang dilengkapi tatahan sederhana.

28


Download ppt "KELOMPOK 6 1. Diva Meliana Dilla (09). Soal no : 2, 6 2"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google