Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

TEKNOLOGI BAHAN BAHAN PEMBENTUK BETON AGREGAT.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "TEKNOLOGI BAHAN BAHAN PEMBENTUK BETON AGREGAT."— Transcript presentasi:

1 TEKNOLOGI BAHAN BAHAN PEMBENTUK BETON AGREGAT

2 Kualitas agregat sangat mempengaruhi kualitas mutu beton
Karena agregat menempati % dari kualitas volume bahan penyusun beton

3 Dengan agregat yang baik, beton dapat dikerjakan (workable), kuat, tahan lama (durable) dan ekonomis

4 Pengaruh sifat Agregat pada sifat bahan
Pengaruh pada Sifat beton Bentuk, tekstur, gradasi Beton cair Kelecakan Pengikatan dan pengerasan Sifat fisik, sifat kimia, mineral Beton keras Kekuatan, kekerasan, katahanan (durability)

5 Beberapa sifat fisik beton secara langsung bergantung terhadap agregat seperti kepadatan, panas jenis dan modulus elastisitas

6 JENIS-JENIS AGREGAT Ukuran dan produksi
perbedaan antara agregat kasar dan halus adalah ayakan 5 mm Agregat halus adalah agregat yang ukuran lebih kecil dari ukuran 5 mm Agregat kasar adalah agregat dengan ukuran lebih besar dari 5 mm

7 JENIS-JENIS AGREGAT Agregat dapat diambil dari batuan alam ukuran kecil maupun batu alam besar yang dipecah

8 JENIS-JENIS AGREGAT 2. Kepadatan Jenis Kepadatan (kg/m³) Ringan
Sedang Berat >4000

9 BS 812 membagi kedalam kelompok :
JENIS-JENIS AGREGAT 3. Petrologi BS 812 membagi kedalam kelompok : Artifisial, basalt, Flint, Gabbo, Granit, Grifstone, Hornfels, batu Kapur, Prophyry, Quartzite dan Schist

10 JENIS-JENIS AGREGAT 4. Mineralogi
Menurut ASTN C294, klasifikasi komposisi mineral semen portland adalah : felpspars, mineral-mineral silika, karbon, sulfat, besi sulfida, besi magnesium, zeolit, oksida besi dan mineral lainnya

11 GRADASI AGREGAT Gradasi (pembagian/ distribusi butir, gradding)
Distribusi ukuran butir agregat Agregat diayak berurutan menurut ayakan standar

12 GRADASI AGREGAT HALUS Bagian yang lolos dari suatu ayakan tidak boleh lebih dari 45% dari yang tertahan di ayakan berikutnya Modulus kehalusan antara 2,3 – 3,1 Variasi tidak lebih dari 0,2

13 GRADASI AGREGAT HALUS Gradasi dan keseragaman agregat halus lebih menentukan kelecakan (workability) daripada gradasi dari keseragaman agregat kasar Karena mortar berfungsi sebagai pelumas sedangkan agregat kasar hanya sebagai pengisi ruang saja

14 SII mensyaratkan modulus kehalusan agregat kasar antara 6,0 – 7,1
GRADASI AGREGAT KASAR SII mensyaratkan modulus kehalusan agregat kasar antara 6,0 – 7,1 Gradasi agregat kasar untuk ukuran maksimum tertentu dapat divariasikan tanpa berpengaruh besar pada kebutuhan semen dan air yang baik

15 PERBANDINGAN ANTARA AGREGAT HALUS DENGAN AGREGAT KASAR
Terlalu sedikit pasir dapat menghasilakn beton yang segregasi atau keropos, karena kelebihan agregat kasar Terlalu banyak pasir juga akan dapat menghasilkan beton dengan kepadatan rendah dan kebutuhan air yang tinggi

16 Pasir umumnya 25 – 65% dari volume total agregat
PERBANDINGAN ANTARA AGREGAT HALUS DENGAN AGREGAT KASAR Pasir umumnya 25 – 65% dari volume total agregat Untuk pemadatan yang baik, volume matriks ( udara, air, semen, dan agregat halus) sebaiknya sekitar 45 sampai 50% volume tergantung angularity dari agregat kasar

17 PERBANDINGAN ANTARA AGREGAT HALUS DENGAN AGREGAT KASAR
Jika agregat halus mengandung butiran yang sangat halus, maka semakin sedikit dibutuhkan untuk membuat campuran workable Namun jika proporsi ini dilebihi, pasta semen harus meliputi lebih banyak total luas permukaan agregat, dan mungkin campuran menjadi tidak workable

18 UNDERSANDED DAN OVERSANDED
Bila jumlah agregat halus terlalu sedikit maka campuran beton akan disebut undersanded Pastanya tidak cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong sehingga campuran akan mudah untuk terpisah (segregate) dan sukar untuk dikerjakan

19 Campuran memang kohesif tapi tidak terlalu lecak
UNDERSANDED DAN OVERSANDED Bila jumlah agregat halus terlalu banyak, maka campuran disebut oversanded Campuran memang kohesif tapi tidak terlalu lecak Ia membutuhkan air yang lebih banyak sehingga mahal karena membutuhkan semen lebih banyak untuk mengimbangi faktor air-semen yang sama

20 UNDERSIZE DAN OVERSIZE
Kadang-kadang kita menjumpai adanya butiran pasir dalam agregat kasar, kondisi ini disebut undersize Sebaliknya kadang-kadang terdapat agregat kasar dalam agregat halus, ini disebut oversize Untuk mengantisipasinya, agregat harus diayak dan dipecah ke ukuran yang benar

21 ABSORPSI DAN KADAR AIR Air yang terkandung dalam agregat akan mempengaruhi jumlah air yang diperlukan dalam campuran (mix) Agregat yang basah akan membuat campuran lebih basah dan meningkatkan faktor air-semen Sebaliknya agregat yang kering akan menyerap air dan menurunkan kelecakan beton

22 KONDISI KANDUNGAN AIR Kering kerontang (bone dry atau oven dry-od) Bisa didapat dengan memasukkan agregat kedalam oven selama 24 jam pada temperatur ᵒC Kering Udara ( air dry- ad) bagian luarnya kering namun bagian dalamnya masih mengandung air. Keadaan agregat di lapangan bila dijemur

23 KONDISI KANDUNGAN AIR Satured Surface Dry (SSD) Ini keadaan teoritis ideal, yaitu butir didalamnya sudah jenuh air (satured), namun bagian sebelah luar masih kering. Kondisi ini dipakai sebagai dasar perhitungan mix design Lembab (moist atau wet) Selain bagian dalam jenuh air, bagian luar juga basah. Didapat dengan merendam agregat selama 24 jam

24 sekian Mari berdiskusi !

25 Teknologi Beton dari Material, Pembuatan, ke Beton Kinerja Tinggi
Referensi : Teknologi Beton dari Material, Pembuatan, ke Beton Kinerja Tinggi penulis : Paul Nugraha, Antoni


Download ppt "TEKNOLOGI BAHAN BAHAN PEMBENTUK BETON AGREGAT."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google