Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

INTERAKSI FARMAKODINAMIKA

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "INTERAKSI FARMAKODINAMIKA"— Transcript presentasi:

1 INTERAKSI FARMAKODINAMIKA
Yunlis silintowe kenta, S.Farm., M.Si., Apt.

2 Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik terjadi bila efek suatu obat diubah karena adanya obat lain di tempat kerjanya. Obat-obat bisa berkompetisi langsung terhadap reseptor (misalnya beta-2 agonis seperti salbutamol dengan beta-antagonis seperti propanolol), tapi sering juga reaksi terjadi tidak secara langsung dan melibatkan perubahan mekanisme fisiologis.

3 Interaksi farmakodinamik meliputi aditif” (efek obat A =1, efek obat B = 1, efek kombinasi keduanya = 2), potensiasi (efek A = 0, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 2), sinergisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 3) dan antagonisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 0). Mekanisme yang terlibat dalam interaksi farmakodinamik adalah perubahan efek pada jaringan atau reseptor. Adisi = efek penjumlahan dari efek masing-masing obat Efek sinergis = efek kombinasi yg sama dgn jmlah dari kegiatan kedua (adisi) atau melebihi jumlah tersebut (potensiasi), Potensiasi = efek timbul lebih besar dari jumlah efek kedua obat

4 Interaksi Obat - Reseptor
Reseptor adalah makromolekul khas dalam organisme, yang merupakan tempat aktif biologi atau tempat obat terikat. Persyaratan untuk interaksi obat-reseptor adalah pembentukan kompleks obat-reseptor. Apakah kompleks ini terbentuk dan seberapa besar terbentuknya bergantung pada afinitas obat/daya ikat obat terhadap reseptor. Obat + Reseptor  kompleks obat-reseptor  efek Afinitas + sejauh mana suatu subtansi cenderung ingin mengikat dengan yang lain

5 Interaksi aditif / sinergis & toksisitas kombinasi
Dua obat dengan efek farmakologi sama diberikan  adisi. Contoh : alkohol (mendepresi SSP) bersama hipno-sedatif,  depresi berlebihan. Efek aditif juga bisa terjadi antara efek utama dengan efek samping. Mis. Kombinasi antiparkinson antikolinergik dengan butirofenon (efek sampingnya antikolinergik)  toksisitas antikolinergik.

6 Contoh interaksi aditif, sinergis atau sumasi
Obat-obat Hasil interaksi Antikolinergik + antikolinergik (antiparkinson, fenotiazin, antidepresan trisiklik Peningkatan efek antikolinergik  bisa terjadi stroke dalam kondisi panas & lembab, gerakan ileus adinamis, toksik psikosis Antihipertensi + obat-obat yang menyebabkan hipotensi (antiangina, vasodilator, fenotiazin) Peningaktan efek antihipertensi Antikolinergik = obat yg mempengaruhi fungsi persarafan. Dimana dlm tubuh manusia terdiri dari beribu-ribu sel saraf. Parkinson adlh penyakit gemetaran yang ditandai dengan gejala tremor, kaku otot atau kekakuan anggota gerak, gangguan gaya berjalan (setapak-demi setapak) bahkan terjadi gangguan daya ingat merupakan penyakit yg terjadi akibat proses degenerasi yang progresif dari sel-sel otak (subtansi nigra) sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi neutransmiter yaitu dopamin. Antideprsean =

7 Contoh interaksi aditif, sinergis atau sumasi
Obat-obat Hasil interaksi Depresan SSP + depresan SSP (alkohol, antiemetik, antihistamin, hipnosedatif, trankuilizer, dsb) Gangguan skil psikomotor, penurunan kewaspadaan, mengantuk, pingsan, depresi pernafasan, koma, kematian Kombinasi obat-obat yang memperpanjang QT (cardiac output) : amiodaron,+ disopiramid Efek perpanjangan QT ditingkatkan

8 Contoh interaksi aditif, sinergis atau sumasi
Obat-obat Hasil interaksi Metotreksat + Kotrimoksazol Megaloblastosis sumsum tulang belakang disebabkan oleh antagonisme asam folat Kombinasi obat-obat nefrotoksis (gentamisin/tobramisin dengan sefalotin) Peningkatan nefrotoksisitas

9 Contoh interaksi aditif, sinergis atau sumasi
Obat-obat Hasil interaksi Pemblok neuromuskuler + obat-obat dengan efek penghambatan neuromuskuler (antibiotik aminoglikosida) Peningkatan efek blokade neuromuskuler, pemulihan tertunda Suplemen Kalium dengan diuretik hemat K Hiperkalemia

10 Interaksi Antagonis Obat-obat dengan efek berlawanan, mis. antikoagulan (memperpanjang waktu pembekuan darah) secara kompetitif dihambat efeknya oleh asupan vitamin K  asupan vit.K >>  efek antikoagulan ditekan.

11 Contoh interaksi antagonis
Obat yang dipengaruhi Obat yang berinteraksi Hasil Interaksi Antikoagulan Vitamin K Efek antikoagulan dihambat Karbenoksolon Spironolakton Efek penyembuhan tukak dihambat Senyawa hipoglikemia Glukokortikoid Efek hipoglikemi dihambat Obat-obat hipnotik Kafein Efek hipnotik dihambat Levodopa Antipsikotik Efek antiparkinson dihambat

12 Interaksi karena perubahan mekansime transport
Sejumlah obat yang bekerja pada neuron adrenergik dapat dicegah untuk mencapai reseptornya oleh obat lain

13 Contoh : Obat yang dipengaruhi Obat yang berinteraksi Hasil Interaksi
Klonidin Antidepresan trisiklik Efek antihipertensi dihambat Antihipertensi guanetidin Antidepresan trisiklik, Klorpromazin, Haloperidol Efek antihipertensi dihambat karena hambatan pencapaian ke neuron adrenergik Noradrenalin Tekanan meningkat karena hambatan pencapaian noradrenalin ke neuron adrenergik

14 FAKTOR FISIOLOGI YANG MEMPENGARUHI INTERAKSI OBAT :
Usia Berat badan Jenis kelamin Genetika Waktu pemberian Variasi diurnal Toleransi Suhu tubuh Kondisi patologis

15 1. Usia Bayi (balita)  fungsi metabolisme belum sempurna  keberadaan obat dalam darah >>  kemungkinan terjadi interaksi >> Lansia  fungsi metabolisme menurun  idem bayi.

16 2. Berat badan Kandungan lemak/protein dalam tubuh  berkaitan dengan distribusi obat, ikatan obat dengan protein plasma  mempengaruhi keberadaan obat bebas dalam darah atau mempengaruhi afinitas satu obat dengan obat lain terhadap protein plasma  pengusiran satu obat oleh obat lain  efek / efek samping yang mungkin terjadi.

17 3. Jenis kelamin Kondisi hormonal  perbedaan kepekaan pria & wanita

18 4. Genetika Contoh pada ras tertentu : defisiensi enzim asetilase  mempengaruhi obat-obat yang dimetabolisme asetilasi (ex INH, dll)

19 5. Waktu pemberian Perbedaan bisa terjadi antara obat diminum sebelum atau sesudah makan  untuk obat yang dipengaruhi asam lambung. Dosis dan interval pemberian  berkaitan dengan terjaganya kadar di atas MEC  untuk obat yang berinteraksi  beri beda waktu kurang lebih 2 jam.

20 6. Variasi diurnal Efek obat dapat dipengaruhi oleh aktivitas tubuh atau kondisi basal tubuh. Contoh : ACTH dari kelenjar pituitari  aktivitasnya paling tinggi pada pagi hari sehingga hormon kortison dari korteks adrenal kadarnya dalam darah paling tinggi pada pagi hari, terendah pada malam hari  jadi dosis untuk malam hari diturunkan (pada pasien asma & rematik)

21 7. Toleransi Adalah kondisi dimana untuk mencapai efek yang sama perlu dosis yang lebih tinggi. Mekanisme : Induksi enzim Toleransi seluler : peningkatan jumlah reseptor. Contoh pada obat-obat yang menimbulkan adiksi (morfin, barbiturat)

22 8. Suhu tubuh Suhu berpengaruh pada distribusi, ikatan, ekskresi dan aktivitas enzim. Contoh : percobaan dengan sulfonamida  metabolisme menurun saat hipotermia  karena aktivitas enzim asetilase hati menurun.

23 9. Kondisi patologik Efek obat / toksisitas obat dapat meningkat pada insufisiensi hati dan insufisiensi ginjal (terutama untuk obat yang diekskresi dalam jumlah besar melalui hati atau ginjal)

24 PERAN FARMASIS Dokumentasikan semua obat yang digunakan pasien
Menguasai farmakodinamika dan farmakokinetika obat-obat yang diresepkan, terutama yang berpotensi untuk interaksi Sarankan mengurangi jumlah item obat yang diberikan (perhatikan rasio untung/rugi)

25 PERAN FARMASIS 4. Waspadai : Obat-obat indeks terapi sempit
Kondisi klinis resiko tinggi (gagal ginjal, gagal jantung, kerusakan hati) Jika kondisi pasien memburuk  waspadai kemungkinan akibat efek samping IO 5. Cari informasi tentang obat baru  data yang belum ada di textbook  jurnal/internet


Download ppt "INTERAKSI FARMAKODINAMIKA"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google