Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

T.Henny febriana Harumy S.Kom.,M.Kom.,M.Si

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "T.Henny febriana Harumy S.Kom.,M.Kom.,M.Si"— Transcript presentasi:

1 T.Henny febriana Harumy S.Kom.,M.Kom.,M.Si hennyharumy@hotmail.com
NEURAL NETWORK PENILAIAN PRIORITAS PRODUK TURUNAN ALUMINIUM UNTUK OPTIMALISASI INDUSTRI HILIR DALAM MENGEMBANGKAN PEREKONOMIAN DAERAH (PT INDONESIA ASAHAN ALUMINIUM PERSERO ( INALUM ) Oleh: T.Henny febriana Harumy S.Kom.,M.Kom.,M.Si Universitas Pembangunan Pancabudi Medan

2 PERMASALAHAN Permintaan produksi aluminiium ekstruksi billet, slab, rod, alloy dan lembaran dunia maupun domestik memiliki peningkatan yang sangat signifikan 5 tahun terakhir. mewujudkan industri hilir dari aluminium telah lama direncanakan, seperti rencana untuk memproduksi aluminium alloy dan ekstruksi untuk komponen bahan pembuatan pesawat dan bahan baku baja, bangunan dan lain – lain. Hanya saja hal tersebut belum dapat dioptimalkan dengan baik karena diperlukan banyak kajian, analisa dan penelitian untuk mendukung realisasi hal tersebut. menurut Edi A Basuki, dkk., 2007: Belum terbangunnya kesadaran akan manfaat dan pentingnya usaha peningkatan nilai tambah Aluminium di dalam negeri di semua pemangku kepentingan. Belum ada kajian yang komprehensif mengenai rantai kebutuhan dan penyediaan bahan untuk produksi barang jadi di Indonesia. Kajian mengenai peluang yang dapat dilakukan bagi Aluminium di Indonesia untuk ditingkatkan nilai tambahnya masih sangat minim. Untuk dapat menjadi barang jadi, bahan tambang memerlukan rantai proses yang cukup panjang dengan masing-masing tahap proses merupakan proses peningkatan nilai tambah, Proses added-value Aluminium tidak terlepas dari alur proses pengolahan dan ekstraksi Bahan mentah yang telah cukup lama dikenal dalam kegiatan industri metalurgi.

3 Tujuan yang ingin dicapai
Agar PT.Inalum melihat bahwasanya dengan mewujudkan industri hilir merupakan prospek jangka panjang yang sangat menjanjikan dilihat dari konsumsi aluminium dunia 5 tahun terakhir. Dengan meningkatkan nilai tambah produk dari aluminium ingot menjadi produk turunan yang lain seperti aluminium ekstruksi, alloy, sheet dan lain sebagainya akan meningkatkan nilai jual dari produk aluminium yang dihasilkan. Agar PT Inalum fokus & tidak keliru terhadap produk apa yang menjadi prioritas industri hilir yang ingin dihasilkan dalam jangka pendek & panjang. Agar menjadi referensi Pemerintah Daerah untuk ikut mendukung mewujudkan industri hilir PT Inalum yang optimal. Dengan mewujudkan industri hilir akan membuka lapangan pekerjaan serta dapat meningkatkan perekonomian wilayah dan pendapatan masyarakat.

4 RISET TERDAHULU winari dan Ivan(2014), judul “menciptakan nilai tambah dalam pembangunan keberlanjutan” menjelaskan bahwasanya Kebutuhan akan aluminium dalam negeri masih sangat terbuka sehingga INALUM berpeluang untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dengan penerapan UU Minerba, INALUM siap turut serta dalam industri hulu untuk membangun Pabrik Smelter Grade Alumina dengan melakukan joint venture dengan perusahaan lain. Selanjutnya penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ridwan (2012), dengan judul “Analisis Potensi Pengembangan Industri Hilir Aluminium Di Kuala Tanjung” dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwasanya penulis berkesimpulan bahwa kawasan industri Kuala Tanjung memiliki potensi yang besar bagi pengembangan industri hilir aluminium dengan keunggulan seperti potensi pembelian bahan baku aluminium cair dan biaya transportasi bahan baku yang murah.

5 Motivasi Penulis penulis melakukan penelitian ini adalah untuk mengukur nilai tambah produk turunan Aluminium, yang awalnya PT INALUM hanya mampu memproduksi Aluminium batangan Ingot dengan kapasitas 22,7 Kg dengan kadar 99,9 % dan kadar 97,9 % menjadi produk turunan yang lain. Serta melihat potensi dan prospek produk turunan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan dari beberapa potensi industri hilir aluminium. Sebenarnya potensi PT Inalum dapat memproduksi selain Aluminium batangan sangat besar yaitu seperti aluminium ekstruksi, billet, slab, rod, alloy dan lembaran yang sebenarnya paling banyak diminati baik pasar domestik maupun ekspor (kemenperindag,2013). Jika pembangunan industri hilir tersebut terwujud nilai jual produk aluminium PT . Inalum akan semakin meningkat, serta dapat meminimalisir eksport produk setengah jadi seperti Ingot, dapat memenuhi kebutuhan aluminium domestik, meningkatkan perekonomian wilayah serta membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Sumatera Utara.

6 Nilai tambah dari setiap kegiatan proses di atas terlihat pada rantai nilai produksi aluminium rantai nilai produksi aluminium. Dari gambar tersebut, nilai tambah (added value) dari produk primer ke produk setengah jadi sebesar 10 ~100% sedangkan nilai tambah dari produk primer ke produk jadi sebesar 60 ~ 325%. Industri Hilir aluminium merupakan produk akhir yang akan digunakan langsung oleh konsumen seperti Aluminium strip/foil, kawat dan kabel, pipa, profil/ekstrusi, komponen dan peralatan rumah tangga.

7 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Variabel penelitian Sumber : ESDM 2012 Variabel dipilih berdasarkan faktor konsumsi Indonesia.

8 Hasil pengolahan Data

9 Kesadaran bahwasanya Aluminium harus diolah terlebih dahulu, agar terjadi peningkatan nilai tambah yang setinggi - tingginya di dalam negeri, dan tidak diekspor begitu saja sebenarnya telah lama disadari. Bahkan Beberapa kalangan telah dengan tegas mengatakan untuk secepatnya melarang ekspor Aluminium secara langsung ke luar negeri, karena ujung-ujung hanya akan memberikan manfaat yang besar di pihak pengimpor karena mendapat kesempatan melakukan usaha peningkatan nilai tambah di negaranya, sementara Indonesia hanya mendapatkan penghasilan dari penjualan bahan mentah saja. Ada mata rantai proses yang terputus akibat ketiadaan pabrik pemrosesan yang mengakibatkan hilangnya nilai tambah dari proses ini. Mata rantai yang terputus inilah yang menjadi target dari implementasi kebijakan peningkatan nilai tambah. Artinya kedepan, mulai tahun 2015 tidak lagi diperkenankan mengekspor Aluminium namun terlebih dahulu harus diproses untuk mendapatkan nilai tambah Aluminium.

10 KESIMPULAN Setelah Dilakukan pengukuran Produk turunan aluminium dalam hal ini adalah Aluminium ingot, Aluminium Alloy, Aluminium ekstrusi, Aluminium Sheet, Aluminium billet, berdasarkan jumlah konsumsi di Indonesia maka ditemukan bahwasanya aluminium ekstruksi memiliki nilai tambah produk paling tinggi dari pada produk yang lain. PT INALUM Persero sebagai salah satu penghasil bauksit di dunia, belum memiliki pabrik pemrosesan ekstruksi sendiri, saat ini hanya memproduksi aluminium batangan ( ingot ) sehingga seluruh produk aluminiumnya sekitar 60 % dijual ke luar negeri karena PT Inalum belum mampu memproduksi sendiri. Memperhatikan pohon industri aluminium yang ada saat ini, yang sangat mendasar adalah tidak dan belum diusahakannya pendirian pabrik untuk industri hilir. Padahal bahan baku dasar aluminium ingot ada di dalam negeri dengan deposit yang cukup untuk jangka panjang. Salah satu caranya adalah dengan integrasi industri aluminium dari hulu ke hilir di Indonesia sehingga kita tidak perlu mengimpor produk aluminium. Dari sisi industri hilir, diperlukan peningkatan kemampuan industri dalam negeri dalam penguasaan teknologi. Saat ini mesin produksi di industri, khususnya industri kecil masih banyak yang menggunakan teknologi konvensional sehingga menghasilkan kualitas produk yang rendah akibat kurangnya penguasaan teknologi Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan Negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk aluminium, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat bauksit yang di ekspor dilakukan di dalam negeri.

11 Kontribusi Pemikiran /Rekomendasi
Agar Industri Hilir Aluminium dapat terwujud diperlukan kerjasama yang baik dari pemerintah Daerah dan juga PT.Inalum Persero sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik. SDM dari masyarkat juga harus ditingkatkan. Untuk membangun infrastruktur pendukung bagi industri. Pemerintah dan PT Inalum perlu mempertimbangkan pendirian atau peningkatan industri hilir untuk mengurangi jumlah import dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Khusus untuk industri Aluminium, pemerintah diharapkan segera mengembangkan atau mendirikan pabrik Aluminium Ekstruksi melalui BUMN pertambangan ataupun bekerjasama dengan swasta, karena bahan baku dasar Aluminium Ekstruksi seperti Aluminium yang dihasilkan PT Inalum saat ini ada di dalam negeri dengan deposit yang cukup untuk jangka panjang. Selain itu teknologi yang digunakan saat ini juga harus ditingkatkan seperti negara – negara produksi Aluminium lainnya. Jika pembangunan Pabrik dan peningkatan SDM berjalan dengan baik dipastikan akan meningkatkan perekonomian Daerah serta akan meningkatkan pendapatan Daerah, membuka peluang usaha serta lapangan pekerjaan yang besar.


Download ppt "T.Henny febriana Harumy S.Kom.,M.Kom.,M.Si"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google