Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KELAINAN PENGATURAN TEMPERATUR

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KELAINAN PENGATURAN TEMPERATUR"— Transcript presentasi:

1 KELAINAN PENGATURAN TEMPERATUR
dr. Aulia Syavitri D.

2 Control of Body Temperature

3 Abnormalities in Heat Regulation
Fever Heat stroke Frosbite

4 DEMAM Demam/Febris/Fever/Pyrexia adalah :
Keadaan dimana temperatur tubuh meningkat diatas temperatur normal, dalam rentang waktu tertentu. Suhu tubuh diukur dengan termometer air raksa, dengan tempat pengambilan di aksila, oral dan rektum. Demam secara umum: suhu tubuh > 37,2 oC Hiperpireksia : suhu tubuh > 41,2 oC Hipotermia : suhu tubuh < 35 oC Biasanya suhu rektal > oral > aksila, dengan beda ber-kisar 0,5 oC.

5 Temperatur tubuh normal :
Pemeriksaan oral = 37,2 oC (Berlow & Talbott, 1977) atau 37,2 oC - 37,7 oC (Gelfand, 1994) dengan variasi terendah pada pagi hari jam tertinggi pada jam Pemeriksaan rektal : 37,5 oC (Dale, 1992) atau 0,3 oC - 0,6 oC diatas temp.oral (Peterdorf & Roof, 1987) Keadaan fisiologis seperti sesudah makan, hamil dan usia tua  nilai standar temperatur tubuh berubah.

6 Fungsi pengaturan suhu untuk mempertahankan suhu inti tubuh (dengan fluktuasi pada ambilan panas, produksi panas dan pengeluaran panas), Pada nilai rata-rata 37 oC dengan variasi diurnal + 0,5 oC

7 Penyebab: - Penyakit bakteri - Tumor otak - Dehidrasi - Kelainan otak atau zat toksik lain yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu Pyrogens – cause fever - Exogenous – LPS - Endogenous – IL-1a,IL-1B,IL ,TNF a, Interferon

8 Endogenous Pyrogens Stimulate synthesis of arachidonic acid metabolites such as prostaglandins This causes hypothalamus to raise its thermoregulatory set point

9

10 Pengukuran febris : dilakukan setiap 4 jam sekali  kurva febris  untuk menduga jenis penyakit atau penyebab yang melatar belakangi febris.

11 Gambaran / kurva febris :
Onset Temp. meningkat tiba-tiba, sering didahului menggigil  diagnosa alternatif : malaria, infeksi piogenik atau virus Temp. meningkat gradual : infeksi sub akut / kronis seperti tifoid atau tuberkulosis Regular periodic intermittent fever : febris muncul periodic dalam interval jam  malaria tertiana  kuartana Relapsing fever : febris muncul diselingi fase a febril selama 1 - beberapa hari  malaria, tripanosomiasis, bruselosis Remittent fever : temp.selalu diatas normal dengan fluktuasi > 1 oC  septikemi tidak spesifik

12 Intermittent fever : temp
Intermittent fever : temp.tubuh berfluktuasi sangat besar (terendah mencapai normal)  infeksi piogenik akibat abses, limfoma atau TBC milier Biphasic fever : febris muncul dalam beberapa hari diikuti a febril 1-2 hari kemudian febris lagi  infeksi alpha virus seperti demam dengue 7. Sustained fever/demam kontinyu : temp. tubuh selalu menetap diatas temp. normal dengan fluktuasi < 1 oC  demam tifoid yang tidak diobati 8. Hiperthermic : temp.tubuh berada pada > 40,5 oC

13 9. Septic : febris berfluktuasi sangat besar dengan menggigil dan berkeringat. Suhu meningkat tinggi pada malam hari dan turun diatas normal pada pagi hari 10. Rel Ebstein fever : febris hari diikuti fase a febril dan asimptomatic hari  berbulan-bulan  Hodgkin’s disease Klasifikasi dan diagnosis : Menjadi 2 kelompok besar yaitu : febris akut ( < 2 minggu) dan febris kronis ( > 2 minggu). Febris akut akibat penyakit infeksi yang tidak terdiagnosis, umumnya disebabkan oleh infeksi virus  hingga sembuh tetap tidak berdiagnosis o.k.sarana diagnostik sulit / mahal

14 Demam yang belum terdiagnosis / FUO (Fever of undiagnosed origin)
Penyebab : infeksi (40%), neoplasma (20%), penyakit kolagen (20%), penyakit lain (10%) dan penyakit yang tidak diketahui sebabnya (10%)

15 Keadaan-keadaan yang mendorong kecurigaan kearah infeksi akut :
Onset febris yang tiba-tiba Panas sekitar 38,9 oC – 40 oC disertai atau tanpa disertai rasa dingin Gejala malaise berat disertai nyeri sendi dan otot, fotofobi, dan sakit kepala Nausea, vomiting, atau diare Pembesaran akut kelenjar limfe atau limpa Tanda-tanda meningeal disertai atau tanpa disertai kelainan cairan serebrospinal Hitung leukosit <5000 atau >12000 Disuria, dan nyeri pinggang

16 Keluhan-keluhan tersebut diatas dapat dijumpai pada penderita-penderita non infeksi  sehingga perlu menetap-kan diagnosis secara tepat dengan melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap yang didahului dengan anamnesis secara cermat, pemeriksaan fisik teliti, pemeriksaan darah, analisa urin dan lain-lain. Juga diperhatikan keluhan “khas” untuk membantu penetapan diagnosis.

17 Pengobatan : Meningkatkan pelepasan panas kompres alkohol, kantung es atau ice bath Pemberian antipiretik jika temp. > 40 oC antara lain dengan : aspirin (dosis 300 – 600 mg/4 jam), NSAID (golongan ibuprofen, endometasin dan naproksen), juga glukokortikoid untuk menghambat sintesis prostaglandin E2 dan mRNA transkriptase (namun juga berefek imunosupresif). Pemberian cairan dan elektrolit peroral atau perenteral Pemberian antibiotik

18 Heat Stroke Collapse of temperature regulating mechanisms
Hipotalamus sangat panas ( > 105 oF oF)  kemampuan pengaturan panas ditekan  kemampuan berkeringat hilang  temperatur tubuh tetap tinggi > temperatur kritis (106 oF oF)  serangan panas Medical emergency T>41 C symptoms disstress abdomen dizziness Delirium  kehilangan kesadaran

19 Efek temperatur tinggi : perdarahan lokal dan degenerasi parenkimatosa sel2 t.u. otak, hati dan ginjal Tx / penanganan segera  kompres seluruh tubuh dengan es

20 Frosbite adalah : membekunya daerah permukaan tubuh o.k terpapar temperatur yang sangat rendah, t.u.terjadi pd daun telinga, jari-2 tangan & kaki  bila sampai terbentuk kristal es dlm sel  kerusakan permanen, misal, kerusakan sirkulasi & kerusakan jar.setempat  sering diikuti gangren & daerah yang frosbite diangkat dengan pembedahan.

21

22

23 PATOFISIOLOGI RESPIRASI

24 Modifying Respiration

25

26

27 Regulation of Blood pH and Gases

28 Pernafasan Periodik Merupakan kelainan pernafasan.Orang bernafas dalam selama interval waktu yang singkat, kemudian bernafas dangkal atau sama sekali tidak bernafas pada interval berikutnya, siklus tersebut terjadi secara berulang-ulang. Tipe pernafasan periodik yang paling sering yaitu pernafasan cheyne-stokes, ditandai dengan pernafasan yang bertambah dan berkurang secara perlahan-lahan terjadi berulang-ulang kira-kira setiap 40 sampai 60 detik

29

30 Effects of Aging Vital capacity and maximum minute ventilation decrease Residual volume and dead space increase Ability to remove mucus from respiratory passageways decreases Gas exchange across respiratory membrane is reduced

31 Asidosis Respiratorik
Penurunan kecepatan ventilasi paru - konsentrasi CO2 cairan ekstrasel  - asam karbonat&ion hidrogen  PH cairan tubuh turun sampai 7,0 Penyebab antara lain: - kerusakan pusat pernapasan dlm MO - obstruksi saluran nafas - pneumonia dll

32 Alkalosis respiratorik
Ventilasi paru yang berlebihan - konsentrasi ion hidrogen  - konsentrasi CO2 cairan ekstrasel  PH cairan tubuh  sampai 7,9 Penyebab: - Psikoneurosis - Berada pada tempat yang tinggi

33 Penyakit pernafasan Obstruktif
Peningkatan resistensi terhadap aliran udara Penyakit Paru Obsrtuktif Menahun (PPOM) - Bronkitis kronik: pembentukan mukus yang berlebihan dlm bronkus  batuk kronik & pembentukan sputum paling sedikit 3 bulan dalam waktu 1 tahun sekurang-kurangnya dalam 2 tahun berturut-turut - Emfisema paru: perubahan anatomis parenkim paru yg ditandai dgn pembesaran alveolus dan duktus alveolaris,serta destruksi dinding alveolar

34 - Asma: hipersensitifitas cabang2 trakeobronkial thd pelbagai jenis rangsangan
Bronkiektasis: dilatasi kronik bronkus dan bronkiolus ukuran sedang Fibrosis kistik: pembentukan sekret abnormal yang lengket penyumbatan fibrosis

35 Pneumonia,emfisema O2 yg rendah penting dlm membantu ↑pernafasan. Jika seseorang diberi O2 dg konsentrasi tinggi →kehilangan rangsangan stimulatornya dari PO2 arteri yg rendah & ventilasi turun sangat rendah→ kematian akibat terbentuknya PCO2 letal & konsentrasi ion H yg berlebihan. Pd latihan yg sangat berat (khususnya pada penderita dg sistem paru terganggu) → PCO2 arteri & konsentrasi ion H ↑ pd saat yg bersamaan dgn ↓PO2. P ↓ PO2 arteri bersama dg p ↑ CO2 & p ↑ konsentrasi ion H →menghasilkan rangsangan ventilasi yg sangat kuat.

36 Penyakit Pernafasan Restriktif
Ditandai dng kekakuan paru-paru, toraks atau keduanya Penurunan compliance dan seluruh volume paru termasuk kapasitas vital

37 INTERPRETASI TES FAAL PARU
Kelainan Obtruksi: VC normal/turun Maximal Voluntary Ventilation (MVV) turun Forced Expiratory Volume in one second (FEV1) turun FEV1 /Forced Vital Capacity (FVC) turun

38 INTERPRETASI TES FAAL PARU
Kelainan Restriksi: penurunan VC yg mencerminkan pembatasan ekskursi dada VC<80% prediksi MVV relatif normal

39


Download ppt "KELAINAN PENGATURAN TEMPERATUR"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google