Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

VIII. Penentuan Biaya Pesanan

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "VIII. Penentuan Biaya Pesanan"— Transcript presentasi:

1 VIII. Penentuan Biaya Pesanan
AKUNTANSI BIAYA VIII. Penentuan Biaya Pesanan

2 Karakteristik Biaya Pesanan
1. Sifat produksinya terputus-putus tergantung pada pesanan yang diterima. 2. Bentuk produk tergantung pada spesifikasi pemesanan. 3. Pengumpulan biaya produksi dilakukan pada kartu biaya pesanan, yang memuat rincian untuk masing-masing pesanan. 4. Total biaya produksi dikalkulasi setelah pesanan selesai. 5. Biaya produksi per unit dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan total unit yang dipesan. 6. Akumulasi biaya umumnya menggunakan biaya normal. 7. Produk yang sudah selesai langsung diserahkan pada pemesan.

3 Manfaat Penentuan Biaya Pesanan
Penentuan biaya pesanan sangat penting untuk penetapan harga jual dan pengendalian biaya. Kebiasaan calon pelanggan selalu meminta estimasi terlebih dahulu, dan sering memberi pekerjaan membandingkan dengan pesaing. Akibatnya perusahaan harus dapat mengestimasi biaya secara akurat agar dapat bersaing dengan perusahaan lain dan menghasilkan laba yang optimal.

4 Penentuan Biaya Normal
Sistem akuntansi dimana bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung dibebankan pada objek biaya berdasarkan biaya aktual, dan biaya overhead pabrik dibebankan tarif ditentukan dimuka. Tarif Ditentukan Dimuka : Suatu jumlah yang diperoleh dengan membagi total biaya overhead pabrik yang diestimasi untuk periode mendatang dengan total dasar alokasi biaya overhead pabrik yang diestimasi untuk periode mendatang. Tarif BOP = Estimasi BOP Dasar Alokasi Tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka “menormalkan” penerapan overhead pabrik ke pesanan, karena itu biaya overhead pabrik yang dihasilkan disebut biaya normal dan metode akuntansi disebut kalkulasi biaya normal.

5 Kartu Biaya Pesanan Dokumen dasar dalam penentuan biaya pesanan yang
mengakumulasikan biaya-biaya untuk setiap pesanan, karena biaya diakumulasi setiap batch atau lot pesanan dalam sistem biaya pesanan menunjukkan bahan baku langsung dan tenaga kerja serta biaya overhead pabrik yang dibebankan untuk suatu pesanan. File kartu biaya pesanan yang belum selesai dapat berfungsi sebagai buku besar tambahan untuk persediaan produk dalam proses.

6 Kerugian dalam Proses Produksi
berdasarkan pesanan tidak dapat dihindari, kerugian ini disa diakibatkan oleh : 1. Adanya sisa bahan. 2. Produk cacat. 3. Produk rusak.

7 1. Sisa Bahan Manajemen yang terlibat dalam proses
produksi harus dapat bekerja sama untuk mengurangi kerugian seminimal mungkin. Kesuksesan perusahaan Jepang saat ini dengan menganut zero defect, yaitu ukuran untuk mengurangi kerugian tersebut merupakan biaya efektif karena total biaya pabrikasi jangka panjang akan menurun sejalan menurunnya persentase sisa bahan.

8 1. Sisa Bahan Dalam proses pabrikasi sisa bahan dapat berasal dari :
1. Pengolahan kurang baik. 2. Suku cadang rusak atau cacat yang tidak bisa diretur. 3. Stok bahan terlalu lama. 4. Penghentian proyek-proyek percobaan. 5. Mesin-mesin pengolahan sudah terlalu tua.

9 2. Produk Cacat Produk cacat adalah produk yang
dihasilkan dalam proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan, tetapi secara ekonomis produk tersebut dapat diperbaiki dengan mengeluarkan biaya tertentu setelah produk tersebut diperbaiki.

10 Faktor Penyebab Terjadi Produk Cacat
1. Bersifat normal. Dalam setiap proses produksi baik yang dilakukan dengan menggunakan biaya pesanan, terjadinya produk cacat tidak bisa dihindari, maka untuk memperbaiki produk cacat tersebut membutuhkan biaya tertentu. Perlakuan biaya tambahan ini, akan dibebankan pada pengendali overhead pabrik.

11 Contoh 1 PT Lucky Star adalah perusahaan yang menghasilkan komponen untuk sepeda motor. Pada bulan September 2006 perusahaan menerima pesanan unit komponen. Harga pokok untuk satu unit komponen Rp 4.500, yang terdiri bahan baku langsung Rp 2.000, tenaga kerja langsung Rp 1.600, dan BOP dibebankan Rp 900. Terjadi kerusakan sebanyak 50 unit, dianggap sebagai kerusakan normal. Produk ini perlu diperbaiki dengan mengeluarkan : biaya bahan baku langsung Rp , biaya tenaga kerja langsung Rp , biaya overhead pabrik Rp Jurnal : Pengendali Overhead Pabrik Rp Persediaan bahan baku Rp Beban gaji Rp Macam-macam kredit Rp

12 Faktor Penyebab Terjadi Produk Cacat
2. Karena kesalahan. Terjadinya produk cacat akibat kesalahan dalam proses produksi seperti kurangnya perencanaan, pengawasan, dan pengendalian, kelalaian pekerja. Maka biaya untuk memperbaiki produk cacat ini diperlakukan sebagai rugi produk cacat.

13 Contoh 2 PT Dinda Star adalah perusahaan yang menghasilkan komponen untuk radio. Pada bulan September 2006 perusahaan menerima pesanan 3.000 unit komponen. Harga pokok untuk satu unit komponen Rp 1.800, yang terdiri bahan baku langsung Rp 700, tenaga kerja langsung Rp 800, dan BOP dibebankan Rp 300. Terjadi kerusakan sebanyak 100 unit, dianggap sebagai kerusakan karena kesalahan. Produk ini perlu diperbaiki dengan mengeluarkan : biaya bahan baku langsung Rp , biaya tenaga kerja langsung Rp , biaya overhead pabrik Rp Jurnal : Rugi Produk Cacat Rp Persediaan bahan baku Rp Beban gaji Rp Macam-macam kredit Rp

14 3. Produk Rusak Produk rusak adalah produk yang dihasilkan
dalam proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tersebut tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan, tetapi secara ekonomis produk tersebut dapat diperbaiki dengan mengeluarkan biaya yang lebih besar dari nilai jualnya setelah produk tesebut diperbaiki. Produk rusak ini umumnya diketahui setelah proses produksi selesai.

15 Faktor Penyebab Terjadi Produk Rusak
1. Bersifat normal. Setiap proses produksi tidak akan bisa dihindari terjadinya produk rusak, maka perusahaan akan memperhitungkan sebelum proses produksi dimulai. 2. Karena kesalahan. Terjadinya produk rusak diakibatkan kesalahan dalam proses produksi, masalah ini karena kurangnya perencanaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja.

16 Perlakuan Harga Pokok Produk Rusak Produk Rusak Laku Dijual Bersifat Normal : Contoh 3
Produk rusak normal laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak diperlakukan sebagai : pengurang pengendali overhead pabrik. PT Lucky Star adalah perusahaan yang menghasilkan mainan anak-anak. Pada bulan September 2006 perusahaan menerima pesanan unit mainan. Harga pokok untuk satu unit mainan Rp 4.500, yang terdiri bahan baku langsung Rp 2.000, tenaga kerja langsung Rp 1.600, dan BOP dibebankan Rp 900. Dari pesanan unit tersebut, perusahaan memproduksi unit, sebanyak 50 unit terjadi kerusakan normal, yang laku dijual dengan harga Rp per unit. Harga Pokok Produk Selesai per unit : HP. Produk Selesai, produk baik : unit x Rp = Rp HP. Produk Rusak : unit x Rp = Rp HP. Produk Selesai, produk baik = Rp

17 Perlakuan Harga Pokok Produk Rusak Produk Rusak Laku Dijual Bersifat Normal
Harga pokok produk rusak sebesar Rp diperlakukan sebagai pengendali overhead pabrik. Hasil penjualan produk rusak Rp (50 unit x Rp 2.000). Jurnal : Kas Rp Pengendali overhead pabrik Rp Produk Dalam Proses – Bahan Rp Produk Dalam Proses – Tenaga Kerja Rp Produk Dalam Proses – BOP Rp

18 Perlakuan Harga Pokok Produk Rusak Produk Rusak Laku Dijual Karena Kesalahan
Produk rusak karena kesalahan laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak diperlakukan sebagai : pengurang bagi produk rusak. Harga Pokok Produk Rusak Rp Penjualan Produk Rusak : 50 unit x Rp Rp Rugi Produk Rusak Rp

19 Perlakuan Harga Pokok Produk Rusak Produk Rusak Tidak Laku Dijual Bersifat Normal : Contoh 4
Produk rusak normal tidak laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak diperlakukan sebagai : pengendali overhead pabrik. PT Lucky Star adalah perusahaan yang menghasilkan mainan anak-anak. Pada bulan September 2006 perusahaan menerima pesanan unit mainan. Harga pokok untuk satu unit mainan Rp 4.500, yang terdiri bahan baku langsung Rp 2.000, tenaga kerja langsung Rp 1.600, dan BOP dibebankan Rp 900. Dari pesanan unit tersebut, perusahaan memproduksi unit, sebanyak 50 unit terjadi kerusakan normal, yang tidak laku dijual. Jurnal : Pengendali overhead pabrik Rp Produk Dalam Proses – Bahan Rp Produk Dalam Proses – Tenaga Kerja Rp Produk Dalam Proses – BOP Rp

20 Perlakuan Harga Pokok Produk Rusak Produk Rusak Tidak Laku Dijual Karena Kesalahan
Produk rusak karena kesalahan tidak laku dijual, maka harga Pokok produk rusak diperlakukan sebagai : rugi produk rusak. Rugi Produk Rusak Rp Produk Dalam Proses – Bahan Rp Produk Dalam Proses – Tenaga Kerja Rp Produk Dalam Proses – BOP Rp

21 Contoh 5 PT Marga KOM adalah perusahaan penghasil komponen untuk sepeda motor, dalam proses produksi yang dilakukan berdasarkan pesanan. Di bawah ini data transaksi berikut akan dicatat setiap hari dalam buku harian : 1. Pembelian dan Penerimaan Bahan : Bahan A Rp Bahan B Rp Bahan C Rp Bahan D Rp Rp Biaya dibayar dimuka Rp Jurnal : Bahan Rp Biaya dibayar dimuka Rp Utang usaha Rp

22 Penyelesaian 2. Penggunaan Bahan. Penggunaan Bahan Langsung untuk :
Pesanan B.1 Rp Pesanan B Rp Pesanan B Rp Total Rp Penggunaan Bahan Tak Langsung Rp Rp Jurnal : Produk Dalam Proses Rp Pengendali Overhead Pabrik Rp Bahan Rp

23 Penyelesaian 3. Biaya Tenaga Kerja yang digunakan berdasarkan waktu.
Tenaga Kerja Langsung : Pesanan B.1 Rp Pesanan B Rp Pesanan B Rp Total Rp Tenaga Kerja Tak Langsung Rp Rp Jurnal : Produk Dalam Proses Rp Pengendali Overhead Pabrik Rp Utang Gaji Rp

24 Penyelesaian 4. Biaya-biaya terjadi yang berkaitan dengan biaya overhead pabrik. Biaya Penyusutan Mesin Rp Biaya Listrik Rp Pajak Bumi dan Bangunan Pabrik Rp Gaji Supervisi Produksi Rp Rp Jurnal : Pengendali Overhead Pabrik Rp Gaji Supervisi Pabrik Rp

25 Penyelesaian 5. Pembebanan biaya overhead pabrik pada pesanan, berdasarkan tarif ditentukan dimuka yang dihitung dari biaya tenaga kerja langsung dengan tarif 90%. Jurnal : Produk Dalam Proses Rp BOP – Dibebankan Rp Perhitungan masing-masing pesanan : Pesanan B.1 = 90% x Rp = Rp Pesanan B.2 = 90% x Rp = Rp Pesanan B.3 = 90% x Rp = Rp

26 Penyelesaian 6. Ketiga pesanan telah selesai dan diserahkan ke pemesan dengan nilai masing-masing : pesanan B.1 = Rp , pesanan B.2 = Rp , pesanan B.3 = Rp Jurnal : Kas/Piutang Usaha Rp Penjualan Rp Harga Pokok Penjualan Rp Produk Selesai Rp Perhitungan Harga Pokok Penjualan masing-masing pesanan : Pesanan B.1 Pesanan B.2 Pesanan B.3 Bahan Langsung Rp Rp Rp Tenaga Kerja Langsung Rp Rp Rp BOP Dibebankan Rp Rp Rp Total Rp Rp Rp

27 Penyelesaian Selisih pembebanan biaya overhead pabrik sesungguhnya
dengan biaya overhead pabrik dibebankan ditutup ke harga pokok penjualan. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp Biaya Overhead Pabrik Dibebankan Rp Pembebanan Terlalu Rendah Rp

28 Contoh 6 PT Bukit Tinggi menggunakan sistem akumulasi biaya berdasarkan pesanan untuk produk yang dihasilkan. Perusahaan membebankan biaya overhead pabriknya berdasarkan Jam Kerja Langsung (JKL). Pada tanggal 1 Januari 2006, kartu biaya pesanan perusahaan menunjukkan sebagai berikut : JOB C.01 JOB C.02 JOB C.03 JOB C.04 Bahan Baku Rp Rp Rp Tenaga Kerja Langsung Rp Rp Rp Rp BOP Dibebankan Rp Rp Rp Total Biaya Produksi Rp Rp Rp Rp Status Produk : JOB C.01 = Telah selesai dan belum diserahkan ke pemesan JOB C.02 = Masih dalam proses JOB C.03 = Masih dalam proses JOB C.04 = Masih dalam proses

29 Contoh 6 Pada bulan Januari selain menyelesaikan JOB C.02, JOB C.03,
JOB C.04, perusahaan juga menerima pesanan lain yaitu : JOB C.05, JOB C.06, dan JOB C.07. Pemakaian bahan baku dan jam kerja untuk masing-masing produk selama bulan Januari 2006 sebagai berikut : JOB C.02 JOB C.03 JOB C.04 JOB C.05 JOB C.06 JOB C.07 Bahan Baku Rp 2.500 Rp 1.110 Rp 1.940 Rp 5.000 Rp 3.960 Rp 4.900 JKL 200 jam 150 jam 100 jam 210 jam 190 jam

30 Contoh 6 Pada tanggal 31 Januari 2006 terdapat produk dalam proses
dan produk selesai dengan serapan biaya sebagai berikut : Produk jadi : JOB C.04 JOB C.07 Bahan Baku Rp Rp Tenaga Kerja Langsung Rp Rp BOP Rp Rp Total Rp Rp Produk Dalam Proses : JOB C.03 JOB C.06 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

31 Contoh 6 Data lain : 1. Tarif biaya tenaga kerja sebesar Rp 20 per jam, tarif ini tidak akan mengalami perubahan selama 2006. 2. Perusahaan hanya memiliki satu akun (pengendali bahan baku) untuk menampung bahan baku langsung. Saldo akun ini pada awal Januari sebesar Rp 3. Biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari, sbb : Pembelian bahan baku Rp Bahan baku langsung digunakan Rp Tenaga kerja tidak langsung Rp Penyusutan peralatan pabrik Rp Listrik, air pabrik Rp 4. Semua penjualan dilakukan secara kredit dengan margin yang diinginkan 40% dari total biaya produksi. 5. Semua varians BOP over/under applied dibebankan ke Harga Pokok Penjualan.

32 Contoh 6 Diminta : 1. Hitunglah saldo persediaan bahan dan produk dalam proses per 31 Januari 2006. 2. Hitunglah Harga Pokok Penjualan bulan Januari 2006. 3. Hitunglah selisih biaya overhead pabrik. 4. Hitunglah Laba Kotor bulan Januari 2006.

33 Penyelesaian Petunjuk :
1. Identifikasi terlebih dahulu masing-masing JOB. 2. Hitunglah jam dan tarif pembebanan BOP. Identifikasi masing-masing JOB per 31 Januari : JOB C.01 = Selesai = Telah diserahkan ke pemesan JOB C.02 = Selesai = Telah diserahkan ke pemesan JOB C.03 = Masih Dalam Proses = Persediaan Produk Dalam Proses JOB C.04 = Selesai = Belum diserahkan ke pemesan JOB C.05 = Selesai = Telah diserahkan ke pemesan JOB C.06 = Masih Dalam Proses = Persediaan Produk Dalam Proses JOB C.07 = Selesai = Belum diserahkan ke pemesan

34 Penyelesaian Tarif Pembebanan
Tarif dihitung berdasarkan jam kerja langsung Contoh JOB C.02 Tenaga Kerja Langsung = Rp tarif per jam Rp 20 Jam kerja langsung = Rp = 150 jam Rp 20 JOB C.02 BOP = Rp 2.400 Jam Kerja Langsung = 150 jam Tarif BOP = Rp = Rp 16 per jam 150 jam Maka tarif BOP sama untuk semua JOB.

35 Penyelesaian Perhitungan Biaya Masing-masing JOB. Rp 19.100 Rp 13.070
JOB C.01 JOB C.02 JOB C.03 JOB C.04 JOB C.05 JOB C.06 JOB C.07 Bahan langsung Rp Rp Rp TKL Rp Rp Rp Rp BOP Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp - Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Total Rp Rp Rp Rp Rp 7.560 Rp

36 Penyelesaian 1. Saldo Bahan Baku per 31 Januari 2006. Saldo Awal
Pembelian Bahan Pemakaian Bahan Bahan Langsung (JOB 02, 03, 04, 05, 06, 07) Bahan tak langsung Saldo Akhir Saldo Produk Dalam Proses Per 31 Jan 2006 Saldo Awal (JOB C.02, 03, 04) Biaya Periode Januari : TKL BOP COGM (JOB 02, 04, 05, 07) Saldo Akhir (JOB 03, 06) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp – Rp Rp Rp Rp Rp Rp

37 Laporan Harga Pokok Penjualan
Penyelesaian PT Bukit Tinggi Laporan Harga Pokok Penjualan Untuk Bulan Januari 2006 Bahan Baku Persediaan awal Pembelian Bahan Baku Bahan Baku siap digunakan Pemakaian Bahan baku tak langsung Persediaan Akhir Bahan Baku Langsung digunakan Tenaga Kerja langsung BOP Dibebankan Total Biaya Produksi Produk Dalam Proses Awal Produk Dalam Proses Akhir Harga Pokok Produksi Produk Selesai awal Produk Selesai akhir Harga Pokok Penjualan Rp Rp Rp Rp Rp Rp – Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp – Rp Rp Rp Rp – Rp

38 Penyelesaian 2. Selisih pembebanan (Over/Under Applied)
BOP sesungguhnya Rp BOP dibebankan Rp Under Applied Rp 3. Laba Kotor Penjualan : x 140% Rp Harga Pokok Penjualan Rp Under Applied Rp Rp Laba Kotor Rp


Download ppt "VIII. Penentuan Biaya Pesanan"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google