Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS Study Kasus : Proyek Hotel Brawa Residences.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS Study Kasus : Proyek Hotel Brawa Residences."— Transcript presentasi:

1 PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS Study Kasus : Proyek Hotel Brawa Residences

2 Latar belakang Hotel Brawa Residences yang berlokasi di Canggu, Badung, Bali. Hotel Brawa Residences ini dibangun secara vertikal dengan jumlah tujuh (7) lantai dengan tinggi 24 m yang terdiri dari enam lantai dan satu lantai basement dengan basement berada di bawah permukaan tanah, dengan panjang bangunan 23,7 m dan lebar bangunan 15,5 m. Struktur gedung proyek hotel Brawa Residences ini menggunakan struktur baja sebagai struktur utamanya dan pondasi menggunakan pondasi tapak, serta tangganya menggunakan tangga beton. Alternatif desain bangunan gedung pada proyek hotel Brawa Residences, dengan perencanaan awal menggunakan struktur baja sebagai struktur utama dan nantinya akan di rubah perencanaan dengan menggunakan struktur beton bertulang dan dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK), berdasarkan “Persyaratan Beton Struktural untuk Gedung (SNI 2847-2013)”. Analisis beban gempa menggunakan metode spektrum respon berdasarkan “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung (SNI 03-1726-2012)”, dan juga untuk pondasinya pada perencanaan awal menggunakan jenis pondasi tapak yang nantinya akan dirubah desain dengan menggunakan pondasi tiang pancang, sedangkan untuk jumlah lantai dan jenis tangga yang digunakan akan tetap sama dengan perencanaan awal.

3 Sistem rangka pemikul momen (SRPM) adalah sistem struktur yang pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap, sedangkan beban lateral yang diakibatkan oleh gempa dipikul oleh rangka pemikul momen melalui mekanisme lentur. Ciri-ciri SRPM antara lain: 1.Beban lateral khususnya gempa, ditransfer melalui mekanisme lentur antara balok dan kolom. Jadi, peranan balok, kolom, dan sambungan balok kolom di sini sangat penting. 2.Tidak menggunakan dinding geser. Kalaupun ada dinding, dinding tersebut tidak didesain untuk menahan beban lateral. 3.Tidak menggunakan bresing (bracing). Untuk struktur baja, penggunaan bresing kadang sangat diperlukan terutama pada arah sumbu lemah kolom. Dalam hal ini, bangunan tersebut dapat dianalisis sebagai SRPM pada arah sumbu kuat kolom, dan sistem bresing pada arah lainnya.

4 Menurut SNI 2847:2013 : Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB): Suatu sistem rangka yang memenuhi ketentuan-ketentuan SNI Beton Pasal 1-20 dan 22, serta Pasal 21.1.2 dan 21.2. Sistem rangka ini pada dasarnya memiliki tingkat daktilitas terbatas dan hanya cocok digunakan untuk bangunan yang dikenakan maksimal KDS B.

5 Menurut SNI 2847:2013 : Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM): suatu sistem rangka yang selain memenuhi ketentuan- ketentuan untuk rangka pemikul momen biasa juga memenuhi ketentuan-ketentuan detailing Pasal 21.1.2 dan 21.1.8 serta 21.3. Sistem ini pada dasarnya memiliki tingkat daktilitas sedang dan dapat digunakan untuk bangunan yang dikenakan maksimal KDS C.

6 Menurut SNI 2847:2013 : Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK): suatu sistem rangka yang selain memenuhi ketentuan- ketentuan untuk rangka pemikul momen biasa juga memenuhi ketentuan-ketentuan Pasal 21.1.2 hingga 21.1.8, Pasal 21.5 hingga 21.8, serta Pasal 21.11 hingga 21.13. Sistem ini memiliki tingkat daktilitas penuh dan harus digunakan untuk bangunan yang dikenakan KDS D, E atau F.

7 Menurut Iswandi Imran dan Fajar Hendrik (2014). Kerusakan yang terjadi pada struktur bangunan akibat gempa-gempa tersebut pada umumnya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: 1.Sistem bangunan yang digunakan tidak sesuai dengan tingkat kerawanan daerah setempat terhadap gempa. 2.Rancangan struktur dan detail penulangan yang diaplikasikan pada dasarnya kurang memadai. 3.Kualitas material dan praktik konstruksi pada umumnya kurang baik. 4.Pengawasan dan kontrol pelaksanaan pembangunan kurang memadai. Identifikasi Faktor Dominan Penyebab Kerentanan Bangunan Di Daerah Rawan Gempa, Provinsi Sumatera Barat 120 M. Heri Zulfiar et al / Semesta Teknika, Vol. 17, No. 2, 116-125, Nov 2014 1.Kegagalan konstruksi terjadi akibat soft story effect dikarenakan kegagalan lentur dan geser kolom pada lantai 1. 2.Kerusakan konstruksi terjadi pada lantai di atasnya terutama diakibatkan oleh kurangnya kapasitas lentur kolom dalam menahan gaya lateral yang terjadi. 3.Kualitas material konstruksi kurang baik, ditandai rendahnya mutu beton, penggunaan besi polos sebagai tuluangan utama, sambungan tulangan pada daerah momen maksimum, ukuran dan jarak besi sengkang tidak memadai, sengkang tidak terikat dengan benar.

8 JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG MENARA BRI SEMARANG : Linda Permatasari Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) SRPMK adalah suatu sistem di mana struktur gedung mampu mengalami simpangan pasca elastic pada saat mencapai kondisi di ambang keruntuhan yang paling besar (struktur daktail). Maksud dari system ini adalah apabila terjadi gempa yang kuat, struktur masih dapat berdiri (tidak terjadi keruntuhan) sehingga jatuhnya korban jiwa masih dapat dihindari. Sistem ini menggunakan konsep kolom kuat balok lemah, yang artinya kolom didesain agar dapat menahan balok pada saat balok mencapai sendi plastis. Pada konsep ini, sendi plastis harus terlebih dahulu terjadi pada balok. PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH FAKULTAS EKONOMI UNNES SEMARANG: Adhitya Pratama Tahun 2018 Perencanaan Kolom Berdasarkan SNI 2847-2013 pasal 23.4 dijelaskan bahwa untuk komponen- komponen struktur pada perhitungan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK), Komponen elemen struktur tersebut harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut : 1.Komponen struktur memikul gaya tekan aksial terfaktor tidak kurang dari 0,1.Ag.fc’ 2.Dimensi sisi terpendek tidak kurang dari 300 mm 3.Rasio dimensi penampang terpendek terhadap sisi tegak lurus tidak kurang dari 0,40 Kolom direncanakan lebih kuat dari pada balok (strong coloumn weak beam). Kolom ditinjau terhadap portal bergoyang atau tidak bergoyang, serta ditinjau terhadap kelangsingan.

9 PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG BETA COORPORATION SEMARANG Aldy Andrian Saputra PERENCANAAN HUBUNGAN BALOK KOLOM Sambungan pada hubungan balok dan kolom (HBK) mempunyai peran yang penting pada suatu struktur gedung dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Sambungan pada hubungan balok dan kolom akan menerima gaya-gaya yang dihasilkan oleh struktur balok dan kolom secara bersamaan. Hal tersebut menyebabkan sambungan yang mempertemukan balok dan kolom menjadi tidak kuat dan cepat mengalami keruntuhan. Maka diperlukan tulangan pengekang sehingga sambungan mampu menerima dan menyalurkan gaya-gaya yang dihasilkan oleh balok dan kolom sehinggakonsep SRPMK dapat terpenuhi. Beton Bertulang Beton bertulang mempunyai sifat sesuai dengan sifat bahan penyusunnya, yaitu sangat kuat terhadap beban tarik maupun beban tekan. Beban tarik pada beton bertulang ditahan oleh baja tulangan, sedangkan beban tekan ditahan oleh beton. Berdasarkan Pasal 8.5.2 SNI 2847-2013 modulus elastisitas baja tulangan nonprategang Es dapat diambil 200000 Mpa. Sedangkan pada Pasal 8.5.1 SNI 2847-2013 modulus elastisitas beton normal ditentukan berdasarkan: = 4700√′ PERHITUNGAN GEDUNG 10 LANTAI DENGAN PERENCANAAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS (SRPMK) DI JALAN SEPAKAT II KOTA PONTIANAK (Budianto1)


Download ppt "PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS Study Kasus : Proyek Hotel Brawa Residences."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google