Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PROPOSAL TUGAS AKHIR GAMBARAN PRILAKU IBU RUMAH TANGGA DALAM MENGENDALIKAN ANGKA BEBAS JENTIK DI PUSKESMAS TEBAS TAHUN 2018 Disusun Oleh H.MARADI NIM

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PROPOSAL TUGAS AKHIR GAMBARAN PRILAKU IBU RUMAH TANGGA DALAM MENGENDALIKAN ANGKA BEBAS JENTIK DI PUSKESMAS TEBAS TAHUN 2018 Disusun Oleh H.MARADI NIM"— Transcript presentasi:

1 PROPOSAL TUGAS AKHIR GAMBARAN PRILAKU IBU RUMAH TANGGA DALAM MENGENDALIKAN ANGKA BEBAS JENTIK DI PUSKESMAS TEBAS TAHUN 2018 Disusun Oleh H.MARADI NIM 20171116011 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PONTIANAK JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PRODI D – III KESLING 2018

2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau yang disebut Dengue Hemorragic Fever (DHF) merupakan salah satu jenis penyakit menular akut yang menjadi masalah kesehatan dunia terutama pada negara-negara berkembang termasuk indonesia. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan di Indonesia yang menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi sering menimbulkan keresahan masyarakat karena perjalanan penyakitnya yanng begitu singkat. Seluruh wilayah di indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD kecuali daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (Suhardi, 2010).

3 Di Kabupaten Sambas data penyakit DBD tahun 2017 berjumlah 341 orang. Menyadari akan pentingnya kegiatan pemberantasan dan pencegahan penyakit menular terutama penyakit Demam Berdarah yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti, maka Pemerintah khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas telah melaksanakan program secara rutin, yaitu melakukan kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB), Abatesasi kolektif, fogging sebelum masa penularan dan penyuluhan.

4 Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Tebas Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas mengenai hasil kegiatan Pemantauan Jentik Berkala khususnya di Desa Tebas Kuala tersebut dapat diketahui bahwa HI (House Indeks) dan Container Indeks (CI) selama 3 tahun terakhir rata-rata hanya 20%. Pada tahun 2015 kasus kejadian DBD, yaitu sebanyak 4 kasus tidak ada yang meninggal, tahun 2016 sebanyak 3 kasus tidak ada yang meninggal, dan pada tahun 2017 sebanyak 5 kasus dan 1 orang meninggal (Puskesmas Tebas, 2017).

5 B. Perumusan Masalah Bagaimanakan gambaran perilaku ibu rumah tangga dalam mengendalikan angka bebas jentik di Puskesmas Tebas tahun 2018. C. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan terdiri dari dua tujuan, yaitu : 1. Tujuan umum Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu rumah tangga dalam mengendalikan angka bebas jentik di Puskesmas tebas tahun 2018. 2. Tujuan Khusus A. Untuk menggambarkan perilaku ibu rumah tangga dalam menutup tempat- tempat penampungan air hujan. B. Untuk menggambarkan perilaku ibu rumah tangga dalam menguras tempat-tempat penampungan air hujan. C. Untuk menggambarkan perilaku ibu rumah tangga dalam mengubur barang-barang bekas. D. Menabur abate pada tempat penampungan air. E. Memelihara ikan pemangsa jentik.

6 D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut 1. Manfaat bagi masyarakat Desa Tebas Kuala Kecamatan Tebas Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang rendahnya Angka Bebas Jentik pada daerahnya dan cara penanggulangannya. 2. Manfaat bagi Instansi Dapat memberikan informasi kepada instansi yang terkait khususnya Dinas Kesehatan, Kecamatan dan Kepala Desa Tebas Kuala dalam menangani masalah Jentik. 3. Manfaat bagi peneliti Dapat memberikan pengalaman dalam melaksanakan (mengaplikasikan) hasil penelitian ini baik secara tertulis maupun secara nyata pada kegiatan lapangan nantinya.

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Angka Bebas Jentik Aedes aegypti merupakan spesies nyamuk yang kecil berwarna gelap yang dapat diketahui dari adanya garis putih keperakan yang tajam dengan bentuk lyre pada thoraknya dan adanya gelang putih pada pangkal kaki dan merupakan nyamuk yang potensial bagi penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (Depkes RI, 1990). Nyamuk Aedes aegypti mempunyai bionomic (siklus hidup) seperti serangga lainnya, yaitu memiliki bentuk, stadium,tempat perindukan, kesenangan menggigit dan kesenangan tempat hinggap dan beristirahat. Adapun bionomiknya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

8 1. Morfologi Nyamuk ini memiliki empat stadium, yaitu Telur ------3 hr-----Larva----5 hr-----Pupa-----2 hr-------Dewasa. A. Telur Telurnya lonjong, tanpa pelampung dan pada dindingnya tampak garis-garis menyerupai anyaman kain kasa. B. Larva 1) Ciri-ciri jentik Telur akan menetas menjadi larva atau sering disebut dengan jentik, adapun ciri-cirinya adalah: a)Adanya corong udara pada segmen terakhir. b)Pada segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambut-rambut berbentuk kipas. c)Sepasang rambut serta jumbai akan dijumpai pada siphon. d)Pada setiap sisi abdomen segmen kedelapan ada comb scale sebanyak 8-21 helai/buah. e)Bintik individu dari comb scale seperti duri. f ) Pada sisi thorak terdapat duri yang panjang berbentuk kurva dan adanya sepasang rambut dikepala.

9 2) Sifat-sifat jentik Aedes Aegypti Selain itu sifat-sifat jentik Aedes aegypti adalah: a) Ukuran sekitar 0,5 – 1 cm. b) Selalu bergerak aktif dalam air. c) Gerakkannya berulang-ulang dari bawah keatas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun kembali kebawah dan seterusnya. d) Pada waktu istirahat posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. C. Pupa Bentuknya seperti koma, bernafas melalui bagian depan dan masih melalui tabung pernafasan. Pupa ini selalu terapung dipermukaan air dan tidak lagi membutuhkan makanan meskipun oksigen masih dibutuhkan. Stadium pupa kira- kira 2 - 5 hari dan dapat bertahan dalam keadaan kering dengan suhu 26 0 C. D. Nyamuk dewasa Abdomennya berujung lancip, warna hitam belang-belang putih pada kaki. Antara nyamuk jantan dan nyamuk betina memiliki perbedaan. Nyamuk betina menghisap darah, sedangkan nyamuk jantan suka menghisap sari tumbuh-tumbuhan. Ukuran nyamuk betina biasanya lebih besar dari nyamuk jantan dan masa hidupnya lebih panjang dibanding nyamuk jantan (2-3 bulan). Untuk tempat istirahatnya lebih banyak didalam rumah dengan suhu 26 0 C, sedangkan jantannya diluar rumah.

10 2. Pemberantasan vektor Demam Berdarah Dengue Pemberantasan dapat dilakukan pada saat kepadatan populasi vector yang rendah dan ini biasanya dilakukan pada musim kemarau, karena pada saat musim penghujan populasi vector ini sangat tinggi, cara yang tepat dalam memberantas vector nyamuk adalah : A. Mekanik Yaitu dengan cara menutup rapat tempat-tempat penampungan air dan selalu mengurasnya, mengganti air yang ada disetiap jambangan bunga. B. Biologik Dilakukan dengan cara menggunakan binatang pemangsa vector (jentik), misalnya memberi Ikan Selomang atau Ikan kepala Timah pada tempat- tempat penampungan air. C. Manipulasi Lingkungan Dengan cara mengubah lingkungan sederhana, misalnya melakukan pembersihan total pada tempat sampah, memusnahkan atau menghilangkan tempat-tempat yang menjadi sarang atau tempat berkembang biak nyamuk tersebut.

11 D. Kimiawi 1) Abatisasi Menaburkan bubuk abate kedalam tempat penampungan air yang tidak dikuras dengan dosis 10 gram bubuk Abate untuk 100 liter air. 2) Adultisida Untuk memberantas nyamuk dewasa dapat dilakukan dengan cara pengasapan (fogging) dengan menggunakan malation atau jenis racun pestisida lainnya, dosis yang digunakan adalah 1 liter malation untuk 19 liter solar. 3) Pemakaian minyak yang mudah menyebar dipermukaan air tempat perindukkan dapat digunakan terutama pada daerah yang tidak dikehendaki pemakaian insektisida. 3) Angka Bebas Jentik (ABJ) Untuk melihat tinggi rendahnya angka jentik pada suatu rumah ataupun container biasanya dilakukan perhitungan dan ini akan mempengaruhi angka kepadatan sehingga dapat dijadikan indikator yang berhubungan dengan insiden Demam Berdarah Dengue.

12 B. Perilaku Untuk meningkatkan hidup secara sehat optimal suatu usaha, yaitu pengubahan perilaku dan memberikan suatu pengetahuan yang positif kepada masayrakat agar masyarakat mempunyai sikap dan keyakinan yang positif sehingga nantinya diharapkan timbulnya niat yang positif juga. Perilaku sangat berpengaruh bagi keberadaan lingkungan. Jadi apabila perilaku tidak baik maka lingkungan akan berpengaruh dan itu bisa menjadi baik ataupun buruk sehingga derajat kesehatan tidak tercapai secara optimal. Salah satu contohnya, yaitu tingginya angka jentik pada tempat penampungan air atau pada lingkungan yang memungkinkan adanya genangan air ini dikarenakan adanya perilaku yang tidak baik, misalnya tidak menutup tempat penampungan air, tidak melakukan penyingkiran barang bekas yang bisa menjadi tempat berkembangbiaknya jentik, tidak melakukan abatesasi, tidak menguras tempat penampungan air dan tidak melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), sangatlah jelas bahwa perilaku yang demikian dipengaruhi oleh faktor tingkat pengetahuan dan pendidikan yang kurang, sikap dan keyakinan yang tidak baik jadi tidak menutup kemungkinan hal yang demikian akan menyebabkan terjadinya kasus penyakit Demam Berdarah Dengue akibat tingginya angka jentik. (Depkes RI. 2000).

13 Pengendalian Jentik dengan 3M Plus Dalam penanganan DBD, peran serta masyarakat untuk menekan kasus ini sangat menentukan. Oleh karenanya program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus perlu terus dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun khususnya pada musim penghujan. 1) Program PSN a) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain. b) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. c) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

14 2. Program 3M Plus Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti: a. Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. b. Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk. c. Menggunakan kelambu saat tidur. d. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk. e. Menanam tanaman pengusir nyamuk. f. Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah. g. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk. Pemberantasan sarang nyamuk perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, sehingga seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) terutama pada saat musim penghujan.

15 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Diagram Alir Penelitian Melakukan Survei Menentukan Tujuan Mengurus Izin Penelitian Melaksanakan Penelitian Pembahasan Kesimpulan


Download ppt "PROPOSAL TUGAS AKHIR GAMBARAN PRILAKU IBU RUMAH TANGGA DALAM MENGENDALIKAN ANGKA BEBAS JENTIK DI PUSKESMAS TEBAS TAHUN 2018 Disusun Oleh H.MARADI NIM"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google