Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

29/09/ Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes. PEMERIKSAAN IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) IVA  cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "29/09/ Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes. PEMERIKSAAN IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) IVA  cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini."— Transcript presentasi:

1 29/09/2019 1 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

2 PEMERIKSAAN IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) IVA  cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009) IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dg cara melihat langsung leher rahim setelah memulas leher rahim dg larutan asam asetat 3-5% (Wijaya Delia, 2010). WHO menyebutkan bahwa IVA dapat mendeteksi lesi tingkat pra kanker (high-Grade Precanceraus Lesions) dg sensitivitas sekitar 66-96% & spesifisitas 64-98%. Sedangkan nilai prediksi positif (positive predective value) & nilai prediksi negatif (negative predective value) masing-masing antara 10-20% & 92-97% (Wijaya Delia, 2010). 29/09/2019 2 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

3 Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan & peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. Pemeriksaan dilakukan dg cara melihat serviks yg telah diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks diulas dg asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yg dapat diamati secara langsung & dapat dibaca sebagai normal atau abnormal. Dibutuhkan waktu satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada jaringan epitel. Serviks yg diberi larutan asam asetat 5% akan merespon lebih cepat daripada larutan 3%. Efek akan menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dg pemberian asam asetat akan didapat hasil gambaran serviks yg normal (merah homogen) & bercak putih (displasia) (Novel S Sinta,dkk,2010). 29/09/2019 3 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

4 Cara membuat larutan cuka: CUKA DAPUR (mengandung asam asetat 20%) ASAM ASETAT (3-5%) Untuk membuat asam asetat 5% dg cara mengambil 1 bagian cuka dapur + 4 bagian air Untuk membuat asam asetat 3% dg cara mengambil 1 bagian cuka dapur + 7 bagian air 29/09/2019 4 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

5 TUJUAN IVA Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dg pengobatan dini terhadap kasus-kasus yg ditemukan. Untuk mengetahui kelainan yg terjadi pada leher rahim. 29/09/2019 5 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

6 KEUNTUNGAN IVA Menurut (Nugroho. 2010:65) keuntungan IVA: Mudah, praktis, mampu laksana Dapat dilaksanakan oleh seluruh tenaga kesehatan Alat-alat yg dibutuhkan sederhana Sesuai untuk pusat pelayanan sederhana Menurut (Emilia. 2010 :53) keuntungan IVA: Kinerja tes sama dg tes lain Memberikan hasil segera sehingga dapat diambil keputusan mengenai penatalaksanaannya 29/09/2019 6 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

7 JADWAL IVA Program Skrining Oleh WHO: Skrining pada setiap wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun Kalau fasilitas memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun (Nugroho Taufan, dr. 2010:66) Ideal & optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun. Skrining yg dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yg cukup signifikan. Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila: hasil positif (+) adalah 1 tahun & bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun 29/09/2019 7 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

8 SYARAT MENGIKUTI TEST IVA Sudah pernah melakukan hubungan seksual Tidak sedang datang bulan/haid Tidak sedang hamil 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual 29/09/2019 8 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

9 SIAPA YANG HARUS MENJALANI TES IVA Menjalani tes kanker atau pra-kanker dianjurkan bagi semua wanita berusia 30 & 45 tahun. Kanker leher rahim menempati angka tertinggi diantara wanita berusia antara 40 dan 50 tahun, sehingga tes harus dilakukan pada usia dimana lesi pra-kanker lebih mungkin terdeteksi, biasanya 10 – 20 tahun lebih awal. Faktor risiko yg berhubungan dg perkembangan kanker leher rahim: Usia muda saat pertama kali melakukan hubungan seksual (usia <20) Memiliki banyak pasangan seksual (wanita atau pasangannya) Riwayat pernah mengalami IMS (Infeksi Menular Seksual), seperti Chlamydia atau gonorrhea, khususnya HIV/AIDS Ibu atau saudara perempuan yg memiliki kanker leher rahim Hasil Pap Smear sebelumnya yg tak normal Merokok Ibu yg mengalami masalah penurunan kekebalan tubuh (mis, HIV/AIDS) atau mengunakan corticosteroid secara kronis (mis, pengobatan asma atau lupus) berisiko lebih tinggi terjadinya kanker leher rahim jika mereka memiliki HPV. (FK.UI.,dll., 2007) 29/09/2019 9 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

10 KAPAN HARUS MENJALANI TES IVA Tes IVA dapat dilakukan kapan saja dalam siklus menstruasi, termasuk saat menstruasi, pada masa kehamilan & saat asuhan nifas atau paska keguguran. Tes tersebut dapat dilakukan pada wanita yg dicurigai atau diketahui memiliki IMS atau HIV/AIDS. Bimbingan diberikan untuk tiap hasil tes, termasuk ketika konseling dibutuhkan. Untuk masing-masing hasil akan diberikan beberapa instruksi baik yg sederhana untuk ibu tersebut (mis, kunjungan ulang untuk tes IVA setiap 1 tahun secara berkala atau 3/5 tahun paling lama) atau isu-isu khusus yg harus dibahas seperti kapan & dimana pengobatan dapat diberikan, risiko potensial & manfaat pengobatan, & kapan perlu merujuk untuk tes tambahan atau pengobatan yg lebih lanjut. 29/09/2019 10 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

11 PELAKSANAAN SKRINING IVA Skrining dg metode IVA, dibutuhkan tempat & alat sebagai berikut: Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dg posisi litotomi. Meja/tempat tidur periksa yg memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi. Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks Spekulum vagina Asam asetat (3-5%) Swab-lidi berkapas Sarung tangan 29/09/2019 11 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

12 CARA KERJA IVA Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien akan mendapat penjelasan mengenai prosedur yg akan dijalankan. Privasi & kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini. Pasien dibaringkan dg posisi litotomi (berbaring dg dengkul ditekuk & kaki melebar). Vagina akan dilihat secara visual apakah ada kelainan dg bantuan pencahayaan yg cukup. Spekulum (alat pelebar) akan dibasuh dg air hangat & dimasukkan ke vagina pasien secara tertutup, lalu dibuka untuk melihat leher rahim. Bila terdapat banyak cairan di leher rahim, dipakai kapas steril basah untuk menyerapnya. Dengan menggunakan pipet atau kapas, larutan asam asetat 3-5% diteteskan ke leher rahim. Dalam waktu ± 1 menit, reaksinya pada leher rahim sudah dapat dilihat. Bila warna leher rahim berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan positif terdapat kanker. Asam asetat berfungsi menimbulkan dehidrasi sel yg membuat penggumpalan protein, sehingga sel kanker yg berkepadatan protein tinggi berubah warna menjadi putih. Bila tidak didapatkan gambaran epitel putih pada daerah transformasi berarti hasilnya negative. 29/09/2019 12 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

13 KATEGORI IVA Menurut (Sukaca E. Bertiani, 2009) kategori IVA: IVA negatif = menunjukkan leher rahim normal. IVA radang = Serviks dg radang (servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip serviks). IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yg menjadi sasaran temuan skrining kanker serviks dg metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis Serviks-pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau kanker serviks in situ). IVA-Kanker serviks = pada tahap ini, untuk upaya penurunan temuan stadium kanker serviks, masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks bila ditemukan masih pada stadium invasif dini (stadium IB- IIA). 29/09/2019 13 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

14 29/09/2019 14 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

15 PENATALAKSANAAN IVA Pemeriksaan IVA dilakukan dg spekulum melihat langsung leher rahim yg telah dipulas dg larutan asam asetat 3-5%, jika ada perubahan warna atau tidak muncul plak putih, maka hasil pemeriksaan dinyatakan negative. Sebaliknya jika leher rahim berubah warna menjadi merah & timbul plak putih, maka dinyatakan positif lesi atau kelainan pra kanker. Namun jika masih tahap lesi, pengobatan cukup mudah, bisa langsung diobati dg metode Krioterapi atau gas dingin yg menyemprotkan gas CO2 atau N2 ke leher rahim. Sensivitasnya lebih dari 90% & spesifitasinya sekitar 40% dg metode diagnosis yg hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit tersebut, lesi prakanker bisa dideteksi sejak dini. Dengan demikian, bisa segera ditangani & tidak berkembang menjadi kanker stadium lanjut. Metode krioterapi  membekukan serviks yg terdapat lesi prakanker pada suhu yg amat dingin (dg gas CO2) sehingga sel-sel pada area tersebut mati & luruh, & selanjutnya akan tumbuh sel-sel baru yg sehat (Samadi Priyanto. H, 2010) Kalau hasil dari test IVA dideteksi adanya lesi prakanker, yang terlihat dari adanya perubahan dinding leher rahim dari merah muda menjadi putih, artinya perubahan sel akibat infeksi tersebut baru terjadi di sekitar epitel. Itu bisa dimatikan atau dihilangkan dg dibakar atau dibekukan. Dengan demikian, penyakit kanker yg disebabkan human papillomavirus (HPV) itu tidak jadi berkembang & merusak organ tubuh yg lain. 29/09/2019 15 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

16 TEMPAT PELAYANAN Perawat terlatih Bidan Dokter Umum Dokter Spesialis Obgyn 29/09/2019 16 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes

17 29/09/2019 Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes 17


Download ppt "29/09/ Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes. PEMERIKSAAN IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) IVA  cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google