Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

TITRASI PENGENDAPAN OLEH: KELOMPOK 3 1.Amalia Fitriana Salsabila 2.Tasya Dwi Yuliani 3.Youlitta Nabila 4.Muhammad Aqil Rafli DOSEN PEMBIMBING : Dr. Ir.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "TITRASI PENGENDAPAN OLEH: KELOMPOK 3 1.Amalia Fitriana Salsabila 2.Tasya Dwi Yuliani 3.Youlitta Nabila 4.Muhammad Aqil Rafli DOSEN PEMBIMBING : Dr. Ir."— Transcript presentasi:

1 TITRASI PENGENDAPAN OLEH: KELOMPOK 3 1.Amalia Fitriana Salsabila 2.Tasya Dwi Yuliani 3.Youlitta Nabila 4.Muhammad Aqil Rafli DOSEN PEMBIMBING : Dr. Ir. RUSDIANASARI, M.Si.

2 Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. PENGERTIAN TITRASI PENGENDAPAN

3 TITRASI PENGENDAPAN Pengendapan terjadi jika konsentrasi senyawa melebihi kelarutan dan lebih cepat dari larutan jenuh.

4 CONTOH TITRASI PENGENDAPAN ARGENTOMETRI MERKURIMETRI

5 Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). ARGENTOMETRI

6 pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit Dasar titrasi argentometri CONTOH : titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl. Ag(NO3)(aq) + NaCl(aq) -> AgCl(s) + NaNO3(aq)

7 Metode Argentometri berdasarkan indikator yang digunakan untuk penentuan titik akhir. METODE MOHR METODE FAJANS METODE LEIBIG METODE DENIGES METODE KOLTHOF METODE VOLHARD

8 Metode mohr pada titrasi argentometri yaitu metode yang terbatas untuk larutan dengan nilai pH sekitar 6 hingga 10. Perak oksida akan mengendap dalam larutan yang lebih basa. pembentukan endapan berwarna

9 CONTOH METODE MOHR Dalam suasana asam, perak kromat larut karena terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan terbentuk endapan perak hidroksida. Reaksi yang terjadi adalah : Asam : 2CrO 4 2- + 2H - ↔ CrO 7 2- + H 2 O Basa : 2 Ag + + 2 OH - ↔ 2 AgOH 2AgOH ↔ Ag 2 O + H 2 O

10 KELEMAHAN METODE MOHR Kemungkinan terjadi kelebihan titran yang menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalen tercapai yang mengakibatkan titik akhir titrasi jadi tidak tajam. Sebagai solusi dilakukan pengadukan secara cepat.

11 GANGGUAN PADA METODE MOHR DISEBABKAN OLEH : 1. Ion yang akan mengendap lebih dulu dari AgCl, misalnya: F, Br, CNSˉ 2. Ion yang membentuk kompleks dengan Ag ⁺, misalnya: CNˉ, NH ₃ diatas Ph 7 3. Ion yang membentuk kompleks dengan Clˉ, misalnya: Hg² ⁺ 4. Kation yang mengendapkan kromat, misalnya: Ba² ⁺ 1. Ion yang akan mengendap lebih dulu dari AgCl, misalnya: F, Br, CNSˉ 2. Ion yang membentuk kompleks dengan Ag ⁺, misalnya: CNˉ, NH ₃ diatas Ph 7 3. Ion yang membentuk kompleks dengan Clˉ, misalnya: Hg² ⁺ 4. Kation yang mengendapkan kromat, misalnya: Ba² ⁺

12 Metode Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN sebagai titrant, dan larutan Fe3+ sebagai indikator.Sampai dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi antara titrant dan Ag, membentuk endapan putih. Reaksi yang terjadi pada saat titrasi : 1. Ag+ (berlebih) + X-à AgX↓+ sisa Ag 2. Ag+ (sisa) + SCN- (titrant) à AgSCN↓ (endapan putih) 3. SCN- (kelebihan titran) + Fe3+ (indikator) à FeSCN2 (endapan merah) Penentu zat warna yang mudah larut

13 1.AgSCN mengadsorpsi ion Ag+ 2. Ag+ dalam larutan menjadi berkurang 3. Penambahan larutan SCN- juga berkurang sehingga perubahan 4. warna nampak terjadi lebih awal hal ini dapat diatasi dengan 5.pengocokan (homogenesasi) yang lebih baik selama titrasi sehingga 6.ion Ag+ yang teradsorpsi dapat terlepas. Terjadi Perubahan Warna Sebelum Titik Ekuivalen Karena

14 1. Penetapan kadar : Cl-, Br- dan SCN- dalam suasana asam. 2. Penetapan kadar senyawa halida yang tidak dapat dititrasi dengan metode mohr ataupun menggunakan indikator adsorbsi (metode fajans). 3. Penetapan kadar Br- dan I- tidak perlu dilakukan penyaringan terhadap endapan AgBr atau AgI sebelum dilakukan titrasi terhadap kelebihan Ag+. 4. Dapat digunakan untuk penetapan kadar halida secara volumetri dalam suasana asam kuat. 5. Dapat dipakai untuk penetapan kadar anion yang garam Ag-nya sukar larut dalam air tetapi larut dalam asam KELEBIHAN METODE VOLHARD

15 CONTOH SENYAWA YANG DIGUNAKAN DALAM METODE VOLHARD 1.Standarisasi larutan ammonium tiosianat (NH4SCN) dengan larutan standar AgNO3 2. Penentuan kadar NaCl dalam garam dapur 3. Penentuan konsentrasi klorida dalam air laut Syarat Titrasi Volhard adalah harus asam dan merupakan kelebihan dibandingkan dengan penggunaan cara-cara lain untuk penentuan ion halogenida karena ion karbonat, oksalat dan arsenat tidak mengganggu reaksi sebab garamnya larut dalam keadaan asam.

16 Titrasi argentometri dengan metode fajans menggunakan indikator absorbsi seperti cosine atau fluonescein menurut macam anion yang diendapkan oleh Ag+. Metode ini menggunakan indikator absorbsi yang berguna untuk reaksi pengendapan. Selama proses absorbsi terjadi suatu perubahan dalam indikator yang menimbulkan suatu zat dengan warna yang berbeda. Titrannya adalah AgNO3 hingga suspensi violet menjadi merah.pH tergantung pada macam anion dan indikator yang dipakai. Indikator Absorbsi

17 Indikator absorbsi adalah zat yang dapat diserap oleh permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Pengendapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekuivalen antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH. Sebelum titik ekuivalen tercapai, ion Cl- berada dalam lapisan primer dan setelah tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit AgNO3

18 1.Fluorescein a)Merupakan indikator yang banyak digunakan. Flourescein merupakan asam lemah dengan konstanta ionisasi = 10-8 b) Perubahan warna disebabkan teradsorbsinya fluorescein dalam bentuk ion c) Ion H+ mempengaruhi jumlah ion fluorescein dalam larutan maka titrasi harus dilakukan pada pH : 7– 10 MACAM MACAM INDIKATOR

19 2. Dichlorofluorescein a)Merupakan asam yang lebih kuat dari fluorescein, sehingga dapat digunakan pada titrasi suasana sedikit asam, pH > 4. b)Dapat digunakan pada penetapan kadar Cl- dalam senyawa dengan Cu, Ni, Mn, Zn dan Al secara titrasi langsung, dimana senyawa-senyawa tadi tidak dapat dititrasi dgn metoda mohr MACAM MACAM INDIKATOR

20 3. Eosin Atau Tetrabrom Fluorescein a)Digunakan pada penetapan kadar Br-, I- dan CNS- b)Tidak untuk penetapan kadar Cl- sebab TAT akan jatuh lebih awal dari titik ekivalen. c) Dapat digunakan pada pH ≥ 2, biasanya pada pH : 3 – 10 d) Perubahan warna yang terjadi sangat tajam hingga dapat dipakai pada penetapan kadar dalam suatu larutan yang sangat encer, yaitu sampai pada konsentrasi 0,001 N. MACAM MACAM INDIKATOR

21 4. Diiodofluorescein a) Digunakan untuk penetapan kadar I- yang terdapat bersama-sama dengan ion Cl-. b) Ion I- jauh lebih kuat teradsorbsi pada permukaan endapan AgI dari pada ion Cl-. c) Indikator diiodofluorescein teradsorbsi sedikit lebih lemah dari pada ion I- tetapi masih jauh lebih kuat dari pada ion Cl-. d) Perubahan warna terjadi sebelum ion Cl- mengendap. e) Konsentrasi ion I- yang ditentukan kadarnya tidak lebih dari 0,02 N f) pada penetapan kadar I- yang terdapat bersama- sama dengan ion Cl-, dapat digunakan indikator Dimethyl Diodofluorescein atau juga Bengal Red MACAM MACAM INDIKATOR

22 1)Standarisasi Larutan AgNO3 Dengan Larutan Standar NaCl. 2) Penentuan Kadar NaCl Dalam Garam Dapur 3) Penentuan Konsentrasi ion klorida (Cl-) dalam air laut 4) Penentuan Kadar Sulfat CONTOH SENYAWA

23 Pada metode ini, titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan indikator, akan tetapi ditunjukkan dengan adanya kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat ditambahkan kepada larutan alkali sianida akanterbentuk endapan putih, tetapi pada penggojog anakan larut kembali karena terbentuk kompleks sianida yang stabil dan larut METODE LEIBIG

24 Cara Leibig hanya menghasilkan titik akhir yang memuaskan apabila pemberian pereaksi pada saat mendekati titik akhir dilakukan perlahan- lahan. Cara Leibig ini tidak dapat dilakukan pada keadaan larutanamoni-akalis karena ion perak akan membentukkompleks Ag(NH3)2- yang larut. Hal ini dapat diatasidengan menambahkan sedikit larutan kalium iodida METODE LEIBIG

25 METODE DENIGES Metode deniges yaitu dengan menambahkan KI sebagai indikator dan larutan ammonia encer untuk melarutkan endapan Ag-cyanida. Kelebihan ion Ag + setelah bereaksi dengan ion CN – akan bereaksi dengan I – membentuk endapan AgI yang menunjukkan titik akhir titrasi.

26 METODE KOLTHOF Penentuan kadar Zn2+ (sebagai titran) diendapkan dg larutan baku K-Ferosianida 2 K4Fe(CN)6 + 3 Zn2+ K2Zn3[Fe(CN)6]2+ 6 K+( )2 3[ ( )6]kalium besi(II) sianida kalium seng besi(II) sianida TAT dapat ditentukan dg indikator eksternal seperti uranil nitrat, amonium molibdat, FeCl3, dll, namun diperlukan ketrampilan khusus; shg lebih baik gunakan indikator internal seperti difenilamin, difenilbenzidin, difenilaminsulfonat, dll.

27 MetodeIndikatorSuasanaMetode Reaksi Yang di dalam buret Titik akhir titrasi MohrK 2 CrO 4 NetralLangsungAgNO 3 Endapan merah bata VolhardFe 3+ / Fe AllumAsamTidak langsungKCNS Larutan merah bata FajansAdsorpsi (fluorescein) NetralLangsungAgNO 3 Larutan pink PERBEDAAN METODE PADA ARGENTOMETRI

28 MERKURIMETRI Merkurimetri artinya reaksi titrasi menggunakan garam merkuri (Hg2+) sebagai titrannya sementara titrannya biasanya menggunakan garam-garam halogen, ion CN-, dan ion CNS- yang mana dalam hal ini juga biasanya yang termasuk ke dalam titrat adalah yang biasanya senyawa yang akan ditetapkan kadarnya

29 MERKURIMETRI Pada metode merkurimetri ini, bisa dilakukan dengan cara langsung maupun dengan cara tidak langsung. Cara tidak langsung digunakan apabila dengan cara langsung senyawa kompleks yang terbentuk sulit diamati TAnya, sehingga dengan menggunakan cara tidak langsung diharapkan pembentukan senyawa kompleks dengan titran yang lain dapat dengan mudah diamati TAnya.

30 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELARUTAN DALAM TITRASI PENGENDAPAN TEMPERATUR PEMILIHAN PELARUT EFEK ION-SEKUTU EVEK AKTIFITAS

31 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELARUTAN DALAM TITRASI PENGENDAPAN EVEK pH EVEK HIDROLISIS HIDROLISIS METAL EVEK PEMBENTUKAN KOMPLEKS

32 CARA-CARA YANG DAPAT DIPAKAI UNTUK MENENTUKAN TITIK AKHIR TITRASI PENGENDAPAN PEMBENTUKAN ENDAPAN BERWARNA PEMBENTUKAN SENYAWA BERWARNA PENGUNAAN INDIKATOR ADSOPSI

33 a.Pembentukan suatu endapan berwarna Pada titrasi suatu larutan netral dari ion klorida dengan larutan perak nitrat, sedikit larutan kalium kromat ditambahkan untuk berfungsi sebagai indikator. Pada titik akhir, ion kromat ini bergabung dengan ion perak untuk membentuk perak kromat merah yang sangat sedikit sekali dapat larut. PENETAPAN TITIK AKHIR DALAM REAKSI PENGENDAPAN

34 b. Pembentukan suatu senyawaan berwarna yang dapat larut Metode ini dapat diterapkan untuk penetapan klorida, bromide dan iodide dalam larutan asam. Larutan perak nitrat standar berlebih ditambahkan dan kelebihannya dititrasi balik dengan larutan tiosianat standar. Ag+ + Cl- Û AgCl Ag+ + SCN- Û AgSCN PENETAPAN TITIK AKHIR DALAM REAKSI PENGENDAPAN

35 C. Penggunaan indikator adsorpsi indikator adsorpsi.Zat-zat adalah Aksi dari indikator-indikator ini disebabkan oleh fakta bahwa pada titik ekuivalen, indikator itu diadsorpsi oleh endapan dan selama proses adsorpsi terjadi suatu perubahan dalam indikator yang menimbulkan suatu zat dengan warna berbeda. PENETAPAN TITIK AKHIR DALAM REAKSI PENGENDAPAN

36 CONTOH SOAL Sebuah sample seberat 0,8165 g,yang mengandung ion klorida dianalisis dengan cara volhard. Sample dilarutkan dalam air dan 50 ml AgNO3 0,1214 M ditambahkan untuk mengendapkan ion klorida. AgNO3 yang berlebih dititrasi dengan 11,76 ml 0,1019 M KSCN.Hitung % klorida dalam sample

37 PENYELESAIAN

38

39

40

41


Download ppt "TITRASI PENGENDAPAN OLEH: KELOMPOK 3 1.Amalia Fitriana Salsabila 2.Tasya Dwi Yuliani 3.Youlitta Nabila 4.Muhammad Aqil Rafli DOSEN PEMBIMBING : Dr. Ir."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google