Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Unemployment CHAPTER SIX

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Unemployment CHAPTER SIX"— Transcript presentasi:

1 Unemployment CHAPTER SIX
Except for the material on economic growth (Chapters 7 and 8), this chapter completes our study of the economy’s behavior in the long run, when prices generally are flexible and markets clear.

2 Chapter objectives Memahami pengangguran alamiah: Apa artinya
Apa penyebabnya Memahami prilaku di dunia nyata Unemployment is a critical issue in macroeconomics. The PowerPoint presentation of chapter 1 included some data showing that unemployment is statistically associated with many other social problems. Unemployment especially hurts those who are unemployed, but it affects the rest of us, as well. When unemployment is high, those of us who remain employed are likely to experience slower wage increases, a greater sense of economic uncertainty, and a greater likelihood of falling victim to crime (crime rates are correlated with unemployment). Also, the new case study on pp shows a significant statistical correlation between a country’s unemployment rate and the happiness of its citizens - including those that are employed. Unemployment represents wasted resources: the higher the unemployment rate, the less labor is involved in the production of goods and services, implying a lower level of output and income in the economy. If you want to solve a problem, you need to first understand its causes. The causes of unemployment can be broken down into long-run and short-run. This chapter focuses on the long-run, particularly the causes of the so-called “natural rate of unemployment.”

3 Natural Rate of Unemployment
Natural rate of unemployment: rata-rata penganguran yang berada dalam perekonomian yang sedang berfluktuasi. Saat resesesi, sebenarnya pengangguran naik di atas rata-rata pengangguran alamiahnya. Saat booming, sebenarnya pengangguran sedang turun dari rata-rata tingkat alamiahnya. The natural rate of unemployment is the “normal” unemployment rate the economy experiences when it is neither in a recession nor a boom.

4 U.S. Unemployment, Figure 6-1 on p Source of data: U.S. Department of Labor, Bureau of Labor Statistics (via FRED, the Economic and Financial Database of the St. Louis Federal Reserve Bank.) Point out to students that the actual unemployment rate fluctuates considerably over the short run. These fluctuations will be the focus of chapters 9-13 later this semester. For this chapter, though, our goal is to understand the red line: the so-called “natural rate of unemployment.”

5 A first model of the natural rate
Notation: L = # angkatan kerja (a.k.) E = # a.k. yang bekerja U = # a.k. yang menganggur U/L = tingkat pengangguran Section 6-1

6 Assumptions: s = rate of job separations f = rate of job finding
1. L ditenturkan oleh fariabel eksogen 2. Dalam waktu bulan tertentu s =angkatan kerja yang berhenti kerja f = angkatan kerja yang diterima kerja s = rate of job separations f = rate of job finding (both exogenous)

7 The transitions between employment and unemployment
s E Employed Unemployed f U figure 6-2, p. 157

8 The steady state condition
Definition: kondisi pasar tenaga kerja yang stabil, dalam keseimbangan jangka panjang, tenaga kerja adalah konstan s E = f U Pengangguran yang memperoleh pekerjaan Orang yang melepaskan pekerjaan

9 Pemecahan untuk keseimbangan tingkat pengangguran
f U = s E = s (L –U ) = s L – s U Solve for U/L: (f + s)U = s L so,

10 Example: Setiap bulan, 1% dari pekerja yang bekerja kehilangan pekerjaan mereka (s = 0,01) Setiap bulan, 19% dari para penganggur mencari pekerjaan (f = 0,19) Menemukan tingkat pengangguran alamiah:

11 policy implication Sebuah kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi tingkat pengangguran alamiah akan berhasil hanya jika menurunkan s atau meningkatkan f.

12 Kekakuan Upah-Riil dan Pengangguran Struktural
Kekakuan upah (Wage rigidity) adalah gagalnya upah melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya. Pengangguran yang disebabkan keka- kuan upah dan penjatahan pekerjaan disebut pengangguran struktural (structural nemployment).Orang meng-anggur bukan karena mereka tak bisa menemukan pekerjaan yang paling se-suai dengan keahliannya, tapi karena, pada upah yang berlaku, penawaran tenaga kerja melebihi permintaannya. Pekerja ini hanya menunggu pekerjaan yang akan tersedia. Upah riil S U Upah riil kaku D Tenaga kerja Jika upah riil tertahan di atas tingkat ekuilibrium, maka penawar- an tenaga kerja melebihi perminta- an. Akibatnya : pengangguran U.

13 Undang-Undang Upah- Minimum
Pemerintah menyebabkan kekakuan upah ketika mencegah upah turun ke tingkat ekuilibrium. Banyak ekonom dan pembuat kebijakan percaya bahwa keringanan pajak lebih baik daripada meningkatkan upah minimum—jika tujuan kebijakan adalah untuk meningkatkan pendapatan pekerja miskin. Keringanan pajak pendapatan yand didapat (earned income tax credit) adalah jumlah yang keluarga pekerja miskin diizinkan untuk dikurangi dari pajak mereka.

14 Ekonom percaya upah minimum memiliki dampak
Mankiw's Burgers Ekonom percaya upah minimum memiliki dampak terbesar pada pengangguran remaja/pemuda. Penelitian menunjukkan bahwa kenaikan 10-persen pada upah minimum mengurangi pengangguran pemuda sebesar 1 sampai 3 persen. Pemuda berkeahlian paling kecil, memiliki produktivitas marjinal terendah, dan mendapatkan kompensasi mereka dalam bentuk magang (on-the-job-training), katakanlah, di Mankiw’s Burgers. Yum! Bicara tentang burgers, sekitar tiga-perempat dari semua pekerja yang diberi upah minimum atau kurang ada pada industri layanan makanan. Apprenticeship adalah contoh klasik dari latihan yang ditawarkan sebagai pengganti upah. M Mankiw's Burgers

15 Serikat Pekerja dan Tawar-Menawar Kolektif
Sebab lain kekakuan upah yaitu kekuatan monopoli serikat pekerja (unions). Di AS, hanya 18 persen pekerja ikut serikat pekerja. Sering, kesepakatan serikat mengatur upah di atas tingkat ekuilibrium dan meng-izinkan perusahaan memutuskan berapa banyak pekerja yang diterima. Akibatnya : penurunan jumlah pekerja dipekerjakan, tingkat perolehan kerja yang lebih rendah, dan peningkatan pengangguran struktural. Pengangguran yang disebabkan serikat kerja adalah contoh konflik antara berbagai kelompok pekerja—orang dalam (insiders) dan orang luar (outsiders). Di AS, ini diselesaikan pada tingkat perusahaan melalui tawar-menawar (bargaining).

16 Upah Efisiensi Teori upah-efisiensi (efficiency-wage) menyatakan upah tinggi membuat pekerja lebih produktif. Jadi, meskipun pengurangan upah akan menurun- kan tagihan upah perusahaan, itu akan juga menurunkan produktivitas pekerja dan laba perusahaan. Teori upah-efisiensi pertama menyatakan upah mempengaruhi kesehatan. Teori upah-efisiensi kedua menyatakan upah tinggi mengurangi perputaran tenaga kerja. Teori upah-efisiensi ketiga menyatakan kualitas rata-rata tenaga kerja perusahaan bergantung pada upah yang dibayar ke karyawannya. Teori upah-efisiensi keempat menyatakan upah tinggi memperbaiki upaya pekerja.

17 Tren Pengangguran 1950-an & 60-an 1970-an & 80-an 1990-an
Tingkat pengangguran alamiah tidak pernah stabil. 1950-an & 60-an Di bawah 5% 1970-an & 80-an Di atas 6% 1990-an Di bawah 5%


Download ppt "Unemployment CHAPTER SIX"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google