Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Analisis Antioksidan Kimia analitik Rabu, 11 November 2009

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Analisis Antioksidan Kimia analitik Rabu, 11 November 2009"— Transcript presentasi:

1 Analisis Antioksidan Kimia analitik Rabu, 11 November 2009
Oleh : Kelompok 3

2 Kelompok 3: Aziz Priambodo (0806340006) Harnadiemas R.F. (0806340044)
Muhammad Iqbal ( ) Raditya Imamul K. ( )

3 Definisi Antioksidan didefinisikan sebagai senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah proses oksidasi lipid. Umum

4 Definisi Dalam arti khusus, antioksidan adalah zat yang dapat menunda atau mencegah terjadinya reaksi antioksidasi radikal bebas dalam oksidasi lipid Khusus ( Kochhar dan Rossell, 1990)

5 antioksidan senyawa yang secara nyata dapat memperlambat oksidasi, walaupun dengan konsentrasi yang lebih rendah sekalipun dibandingkan dengan substrat yang dapat dioksidasi. Menurut Cuppert (1997) Disitir Widjaya (2003)

6 Kegunaan Antioksidan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan berperan penting untuk mempertahankan mutu produk pangan. Berbagai kerusakan seperti ketengikan, perubahan nilai gizi, perubahan warna dan aroma, serta kerusakan fisik lain pada produk pangan karena oksidasi dapat dihambat oleh antioksidan ini.

7 Antioksidan Berdasarkan Sumbernya
Antioksidan sintetik. Antioksidan alami.

8 Antioksidan Sintetik Yaitu antioksidan yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia dan telah diproduksi untuk tujuan komersial. Contoh: Butil Hidroksi Anisol (BHA) Butil Hidroksi Toluen (BHT) propil galat, Tert-Butil Hidoksi Quinon (TBHQ) Tokoferol

9 Butil Hidroksi Anisol (BHA)
BHA memiliki kemampuan antioksidan yang baik pada lemak hewan dalam sistem makanan panggang, namun relatif tidak efektif pada minyak tanaman. BHA bersifat larut lemak dan tidak larut air, berbentuk padat putih dan dijual dalam bentuk tablet atau serpih, bersifat volatil sehingga berguna untuk penambahan ke materi pengemas. (Buck, 1991 ; Coppen, 1983).

10 Butil Hidroksi Toluen (BHT)
Antioksidan sintetik BHT memiliki sifat serupa BHA, akan memberi efek sinergis bila dimanfaatkan bersama BHA, berbentuk kristal padat putih dan digunakan secara luas karena relatif murah. Menurut Sherwin (1990)

11 Propil Galat Propil galat mempunyai karakteristik sensitif terhadap panas, terdekomposisi pada titik cairnya 148 0C, dapat membentuk komplek warna dengan ion metal, sehingga kemampuan antioksidannya rendah. Propil galat memiliki sifat berbentuk kristal padat putih, sedikit tidak larut lemak tetapi larut air, serta memberi efek sinergis dengan BHA dan BHT (Buck, 1991).

12 Tert-Butil Hidoksi Quinon (TBHQ)
TBHQ dikenal sebagai antioksidan paling efektif untuk lemak dan minyak, khususnya minyak tanaman. TBHQ memiliki kemampuan antioksidan yang baik pada penggorengan tetapi rendah pada pembakaran. TBHQ dikenal berbentuk bubuk putih sampai coklat terang, mempunyai kelarutan cukup pada lemak dan minyak, tidak membentuk kompleks warna dengan Fe dan Cu tetapi dapat berubah pink dengan adanya basa. (Buck,1991)

13 Tokoferol Tokoferol merupakan antioksidan alami yang dapat ditemukan hampir disetiap minyak tanaman Tokoferol memiliki karakteristik berwarna kuning terang, cukup larut dalam lipida karena rantai C panjang. Pengaruh nutrisi secara lengkap dari tokoferol belum diketahui, tetapi α-tokoferol dikenal sebagai sumber vitamin E. (Belitz dan Grosch, 1987) Menurut Sherwin (1990),

14 Contoh antioksidan untuk produk pangan di beberapa negara

15 Contoh antioksidan untuk produk pangan di beberapa negara

16 Inhibitor seluler oksidasi lemak

17 Antioksidan Alami (a) senyawa antioksidan yang sudah ada dari satu atau dua komponen makanan (b) senyawa antioksidan yang terbentuk dari reaksi-reaksi selama proses pengolahan (c) senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan ditambahkan ke makanan sebagai bahan tambahan pangan. (Pratt,1992)

18 Isolasi antioksidan alami telah dilakukan dari tumbuhan yang dapat dimakan, tetapi tidak selalu dari bagian yang dapat dimakan. Antioksidan alami tersebar di beberapa bagian tanaman, seperti pada kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji, dan serbuk sari (Pratt,1992).

19 Golongan Antioksidan Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organic polifungsional. Menurut Pratt dan Hudson (1990) serta Shahidi dan Naczk (1950,

20 Jenis flavonoid Golongan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan meliputi: Flavon Flavonol Isoflavon Kateksin Kalkon Ditambahkan oleh Pratt (1992),

21 Sementara turunan asam sinamat meliputi asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat, dan lain-lain.
Senyawa antioksidan alami polifenolik ini adalah multifungsional dan dapat beraksi sebagai (a) pereduksi (b) penangkap radikal bebas (c) pengkelat logam (d) peredam terbentuknya singlet oksigen.

22 Jenis Antioksidan Berdasarkan Mekanisme Kerja
Antioksidan primer Antioksidan sekunder

23 Antioksidan Primer Merupakan antioksidan yang berfungsi sebagai pemberi atom hidrogen. Senyawa ini dapat memberikan atom hidrogen secara cepat ke radikal lipida (R*, ROO*) atau mengubahnya ke bentuk lebih stabil. Sementara turunan radikal antioksidan (A*) tersebut memiliki keadaan lebih stabil dibanding radikal lipida.

24 Mekanisme Kerja Antioksidan Primer
(a) pemberian hidrogen (b) pemberian elektron (c) penambahan lipida pada cincin aromatik antioksidan (d) pembentukan kompleks antara lipida dan cincin aromatik antioksidan.

25 Reaksi Penghambatan antioksidan primer terhadap radikal lipida:
Inisiasi : R* + AH  RH + A* Radikal lipida Propagasi : ROO* + AH  ROOH + A* (Gordon 1990).

26 Antioksidan Sekunder Merupakan antioksidan yang berfungsi memperlambat laju autooksidasi dengan berbagai mekanisme diluar mekanisme pemutusan rantai autooksidasi dengan pengubahan radikal lipida ke bentuk lebih stabil. (Gordon,1990)

27 Mekanisme Kerja Antioksidan Sekunder
Antioksidan sekunder ini bekerja dengan satu atau lebih mekanisme berikut (a) memberikan suasana asam pada medium (sistem makanan) (b) meregenerasi antioksidan utama (c) mengkelat atau mendeaktifkan kontaminan logam prooksidan (d) menangkap oksigen (e) mengikat singlet oksigen dan mengubahnya ke bentuk triplet oksigen. (Gordon, 1990)

28 Kelebihan Antioksidan
Aman Tidak memberi flavor, odor, dan warna pada produk Efisien Tahan pada proses pengolahan produk Murah

29 Kekurangan Antioksidan
Antioksidan tidak dapat memperbaiki flavor lipida yang berkualitas rendah. Antioksidan tidak dapat memperbaiki lipida yang sudah tengik. Antioksidan tidak dapat mencegah kerusakan hidrolisis, maupun kerusakan mikroba.

30 Metode Analisis Antioksidan
Metode Kualitatif Uji Warna Spektrofotometri IR DPPH (Diphenyl pycril Hidrazil) Metode Kuantitatif Metode ORAC (Oxygen Radical Absorbance Capacity) Iodimetri dan iodometri

31 Uji Warna Merupakan suatu metode kualitatif untuk menentukan keberadaan suatu antioksidan dengan mereaksikan suatu sampel dengan reaktan tertentu sehingga menunjukkan sifat fisik berupa perubahan warna tertentu sebagai indikator.

32 Uji Warna Pada Asam askorbat (Vitamin C)
Asam Askorbat + Perak nitrat (amoniakal )  Hitam Asam Askorbat + Pereaksi Benedict  Merah

33 Asam Askorbat + Larutan Iodium (coklat – ungu )  Warna Hilang (bening)

34 Spektroskopi IR (Infra Red)
Merupakan metode analisis suatu gugus fungsi dari suatu senyawa berdasarkan serapannya terhadap sinar infra merah yang diberikan. Cara kerja alat ini adalah dengan mengukur serapan infra merah pada suatu gugus fungsi, dimana tiap gugus fungsi mempunyai daerah serapan yang berbeda-beda.

35 Data Daerah Resapan IR

36 Dari data tersebut kita dapat mengdentifikasi gugus fungsi yang terdapat dalam suatu senyawa yang diuji.

37 Struktur Antioksidan

38 Metode ORAC Digunakan untuk menganalisis kandungan suatu senyawa antioksidan dari suatu benda, misalnya makanan. Pada metode ORAC, digunakan fluorescent sebagai bahan uji selain sampel yang digunakan. Metode ini menggunakan mesin azo-intitiator, suatu alat yang berfungsi untuk membuat radikal bebas, peroxyl.

39 Fluorescent ditembakkan dengan peroxyl, lalu dihitung intensitasnya selama selang waktu tertentu.
Lalu dibuatlah kurva intensitas vs waktu ( baik ataupun tanpa antioksidan), sehingga kita dapat menghitung luasan daerah diatara kedua kurva tersebut. Kadar antioksidan ditentukan dengan standar TE, trolox equivalent, dengan trolox sebagai standarnya.

40 Perhitungan nilai ORAC dilakuakn dengan rumus berikut:
ORAC value (µM) = 20k (SSample - SBlank) / (STrolox - SBlank) Dimana S merupakan daerah dibawah kurva dan k adalah konstanta peluruhan fluoescent.

41

42 Kelebihan ORAC dan Kekurangannya
ORAC merupakan metode yang sangat akurat, karena metode menggunakan pengukuran fluorescent, ehinga ketelitian dari metode ini pn semakin baik Efisien Kekurangannya metode ini hanya menunjukkan aktivitas teradap radikal bebas tertentu, seperti peroxyl, serta metode ini tidak dapat mnentukan sampel yang teah rusak, entah apapun sebabnya.

43

44 Iodimetri Merupakan metode titrasi langsung
Metode kuantitatif karena berdasarkan jumlah I2 yang dihasilkan antara sampel dengan ion iodida Perbedaan dengan iodometri Iodometri titrasi tidak langsung Iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia

45 Cont`d Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Ada beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium.  Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. (Underwood, 1986).

46 Aplikasi Iodimetri Penetapan kadar vitamin C cara Iodimetri
Dasar: Kadar vitamin C yang ditetapkan secara iodimetri menggunakan iod sebagai penitar. Vitamin C bersifat reduktor kuat akan dioksidasikan oleh I2 dalam suasana asam dan I2 tereduksi menjadi ion iodide. Indikator yang digunakan adalah kanji dengan titik akhir biru.

47 Reaksi :

48 Alat :                                                Bahan : a. Erlenmeyer Asah 250 ml             a. Contoh Iberet Folic-500 b. Gelas Ukur 100 ml         b. H2SO4 10 % c. Buret Scelbach 50 ml                    c. Larutan I M d. Pipet Tetes                                     d. Indikator Kanji e. Statip                                              e. Air Suling f. Neraca Analitik

49 Cara Kerja : 1)   Ditimbang contoh sejumlah Y gram kedalam Erlenmeyer asah. 2)   Dilarutkan dengan air dan ditambahkan 25 ml H2SO4 10 %. 3)   Dititrasi dengan I2 0,05 M dengan indikator kanji hingga titik akhir berwarna biru.

50 Perhitungan : Kadar Vit. C = Vp x Mp x BE Vit. C x x Bobot rata –rata x 100%

51 TERIMA KASIH


Download ppt "Analisis Antioksidan Kimia analitik Rabu, 11 November 2009"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google