Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PRINSIP PENDEKATAN PENELITIAN EKSPERIMEN

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PRINSIP PENDEKATAN PENELITIAN EKSPERIMEN"— Transcript presentasi:

1 PRINSIP PENDEKATAN PENELITIAN EKSPERIMEN
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA

2 Penelitian bidang psikologi
Sebagai cabang ilmu pengetahuan, psikologi memiliki bidang garap berupa perilaku manusia. Penelitian-penelitian di bidang psikologi ini sudah lama dimulai, mulai dari penelitian mengenai kecerdasan sampai dengan aspek kepribadian (termasuk kepemimpinan). Penelitian dalam bidang psikologi dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) bentuk, yaitu penelitian pustaka dan penelitian lapangan : Penelitian Pustaka : menggunakan pustaka sebagai sumber data. Contoh : catatan seseorang, riwayat hidup, surat-surat tertulis, otobiografi, dan sebagainya Penelitian Lapangan : menggunakan data yang diperoleh dari lapangan atau laboratorium. Contoh data-data yang diambil melalui kegiatan observasi, penelitian korelasional dan penelitian eksperimen

3 Perkembangan penelitian eksperimen
Dari kedua kelompok penelitian tersebut, penelitian lapangan memiliki perkembangan yang sangat pesat, antara lain dengan dilakukannya penelitian-penelitian korelasional dan penelitian eksperimen. Perkembangan penelitian eksperimen Penelitian eksperimental di bidang psikologi telah dimulai sejak dahulu. Hal ini pertama kali dilakukan oleh Johanes Mueller (1801 – 1858) yang meneliti sensasi. Salah satu penelitian yang sangat terkenal adalah penelitian yang dilakukan oleh Ivan Pavlov, yang meneliti mengenai terjadinya perilaku asosiasi (terkenal dengan teori classical conditioning).

4 JOHANES MULLER (1801 – 1858) Muller melakukan eksperimen mengenai sensasi terhadap warna. Percobaan yang dilakukannya adalah dengan menyuruh peserta eksperimen untuk menggerakkan bola mata ke arah kanan semaksimal mungkin untuk melihat sebuah warna tertentu. Kemudian, peserta diminta untuk memejamkan. Bersamaan dengan itu, peserta diminta untuk menggerakkan bola mata ke arah kiri semaksimal mungkin. Selanjutnya peserta diminta untuk membuka mata kembali, dan menanyakan kesan yang pertama kali setelah membuka matanya. Dari hasil eksperimen ini, Muller berpendapat bahwa tipe sensasi yang dihasilkan oleh saraf sensasi adalah tunggal, sesuai dengan apa yang dirangsang sebelumnya.

5 IVAN PETROVICH PAVLOV (1849 – 1936)
Pavlov melakukan eksperimen yang berkaitan dengan pencernaan. Namun, dalam eksperimen tersebut ia menemukan fenomena menarik mengenai keluarnya air liur anjing sebagai respon atas munculnya makanan. Dari hasil eksperimen ini, ia mengembangkan suatu tipe perilaku yang kemudian disebut dengan classical conditioning. Hasil eksperimennya menunjukkan bahwa bunyi bel (stimulus bersyarat) dapat merangsang munculnya air liur (respon), tanpa harus disertai oleh adanya serbuk daging (stimulus tak bersyarat). Hal ini terjadi karena munculnya bunyi bel selalu disertai oleh serbuk daging, sehingga ketika bel dibunyikan (meskipun tanpa disertai serbuk daging), maka akan muncul respon berupa keluarnya air liur. Penemuan ini membawa dampak sangat besar bagi kemajuan ilmu psikologi. Misalnya, teori ini digunakan untuk terapi perilaku, seperti pada kasus autistic. Bedakan dengan operant conditioning !!

6 Secara skematis, alur classical conditioning sebagai berikut :
Stimulus bersyarat Stimulus tak bersyarat Respon (Bel) (serbuk daging) Stimulus bersyarat yang dipasangkan dengan stimulus tak bersyarat, dan dilakukan secara berulang-ulang, dapat merangsang munculnya respon meskipun stimulus tak bersyarat dihilangkan Secara skematis, alur operant conditioning sebagai berikut : Stimulus Respon Reward Suatu respon terhadap stimulus tertentu yang diikuti dengan pemberian reward, cenderung akan diulang-ulang

7 Keterbatasan Penelitian Eksperimen
Hingga saat ini, penelitian eksperimen masih banyak digunakan, baik yang dilakukan di dalam ruangan (laboratorium) maupun di luar ruangan. Meski demikian, perkembangan penelitian eksperimen ini tetap tidak sebesar penelitian korelasional, karena adanya keterbatasan-keterbatasan tertentu. Hasil penelitian eksperimen dipandang tidak selalu sejalan dengan keadaan di lapangan, karena terdapat variabel yang dikendalikan. Beberapa variabel secara moral tidak dapat dijadikan kontrol. Beberapa pertimbangan dari aspek waktu, tenaga dan beaya penelitian eksperimen.

8 Peran metode ekperimental dalam penelitian psikologi
Penelitian eksperimental di bidang psikologi dilakukan berdasarkan keunggulannya dibanding dengan penelitian lain. Keunggulan metode eksprimental ini antara lain : Variabel-variabel yang dapat mencemari eksperimen (confounding variable) dapat dikontrol secara ketat, sehingga perubahan-perubahan perilaku (variabel dependen) terjadi semata-mata karena adanya perbedaan perlakuan. Metode eksperimen tidak harus melibatkan jumlah sampel yang besar seperti pada penelitian-penelitian korelasional.

9 Penelitian eksperimental
Pengertian istilah dalam psikologi Eksperimen Eksperimen merupakan suatu prosedur yang terkontrol dalam menerapkan beberapa perlakuan yang berbeda, mencatat dan membandingkan dalam berbagai kondisi, sehingga dapat dilakukan observasi terhadap perubahan perilaku akibat adanya perbedaan perlakuan. Anteseden adalah adalah situasi/kondisi yang datang sebelum/ mendahului suatu kejadian dan perilaku yang dijelaskan. Umumnya anteseden ini disebut dengan sebab Hubungan sebab akibat (kausalitas) adalah hubungan antara kondisi anteseden dengan perilaku subyek. Dalam hal ini, suatu rangkaian anteseden adalah penyebab munculnya perilaku tersebut

10 Tujuan dilakukannya eksperimen
Perlakuan (treatment) adalah suatu rangkaian kondisi anteseden yang sengaja diciptakan dan disusun agar menjadi terstandar Confounding variables adalah variabel-variabel di luar variabel dependen dan independen yang sedang diteliti, namun tidak dikontrol dengan baik sehingga mempengaruhi perubahan pada variabel dependen. Akibatnya, eksperimen yang dihasilkan mengalami situasi yang tercemar. Tujuan dilakukannya eksperimen Menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab akibat antara perlakuan (treatment) dengan efeknya. Memprediksi efek suatu perlakuan pada variabel yang diamati. Mempelajari seberapa besar hubungan sebab akibat tersebut

11 Ciri-ciri esensial dalam penelitian eksperimental
Adanya manipulasi perlakuan (treatment) yang sengaja dilakukan oleh peneliti. Adanya manipulasi perlakuan inilah yang merupakan ciri utama penelitian eksperimen, dan membedakan dari penelitian-penelitian lainnya. Melakukan observasi terhadap efek (akibat) yang ditimbulkan oleh manipulasi perlakuan. Efek perlakuan ini umumnya merupakan perilaku khusus yang ditargetkan. Melakukan pengendalian yang ketat terhadap variabel pencemar (confounding variable)

12 Prinsip-prinsip dalam eksperimen
Ada beberapa prinsip-prinsip dasar dalam eksperimen, yaitu : Replikasi. Adalah pengulangan perlakuan yang dilakukan dalam suatu eksperimen. Pengulangan perlakuan ini bisa diberikan kepada kelompok eksperimen yang berbeda-beda ataupun diberikan kepada kelompok-kelompok eksperimen yang sama. Tujuannya adalah untuk mengestimasi kesalahan eksperimen dan mempertinggi ketepatan eksperimen. Randomisasi. Adalah penentuan anggota atau kelompok eksperimen untuk diberikan perlakuan tertentu. Salah satu syarat adalah adanya peluang yang sama besar bagi anggota atau kelompok eksperimen untuk menerima perlakuan tertentu. Kontrol internal. Adalah upaya pengendalian kondisi di lapangan menjadi lebih homogen. Umumnya dilakukan dengan melakukan pengelompokkan-pengelompokkan agar menjadi lebih homogen dan berimbang. Perlakuan dan pembanding. Di samping harus ada perlakuan yang akan diteliti efeknya, juga perlu ada kelompok pembanding (kontrol) yang berfungsi sebagai pembanding kelompok perlakuan.

13 Perbandingan eksperimen dengan metode lain
Penelitian eksperimental menggunakan manipulasi perlakuan, sedangkan penelitian observasional tidak ada manipulasi terhadap variabel yang dipelajari. Penelitian eksperimen melakukan kontrol secara ketat terhadap confounding variables. Pada penelitian observasional, kontrol tidak begitu ketat, bahkan ada kalanya tidak ada kontrol. Penelitian eksperimen dilakukan untuk menguji hipotesis hubungan sebab akibat yang bersifat pola hubungan kausalitas sufficient condition. Pada penelitian observasional, penelitian ditujukan untuk menguji hipotesis tentang pola hubungan antar variabel causative factor.

14 Dasar-dasar eksperimen
Dalam suatu eksperimen, seorang peneliti umumnya akan meneliti hubungan sebab akibat antara treatment yang diberikan dengan efeknya pada suatu perilaku tertentu. Dalam eksperimen ini memungkinkan seorang peneliti menarik kesimpulan kausal penyebab (anteseden) dengan perubahan-perubahan dalam perilaku tersebut. Bila terjadi perubahan pada perilaku seiring dengan perubahan pada treatment atau anteseden, dapat disimpulkan bahwa kondisi anteseden tersebut menjadi penyebab perubahan pada perilaku. Dalam eksperimen, ada beberapa komponen-komponen dasar yang perlu mendapat perhatian, yaitu : Variabel Independen, Variabel Dependen, Definisi Operasional Variabel, Kelompok Eksperimen, dan Kelompok Kontrol.

15 Variabel Independen Variabel Independen adalah aspek/dimensi dari eksperimen yang bervariasi, dan merupakan dimensi yang dimanipulasi secara sengaja oleh eksperimenter. Variabel Independen ini juga merupakan anteseden yang dipilih oleh eksperimenter untuk divariasikan. Pada beberapa referensi disebutkan bahwa Variabel Independen ini juga sering disebut dengan Variabel Eksperimental, karena merupakan variabel yang dimanipulasi untuk diketahui efeknya terhadap variabel/ perilaku lain. Untuk dapat menetapkan Variabel Independen ini perlu didukung oleh landasan-landasan teoritis yang memadai, sehingga bila diterapkan dalam eksperimen dapat memberikan pengaruh/efek terhadap variabel atau perilaku lain. Agar dapat meningkatkan reliabilitas eksperimen, Variabel Independen itu harus dirumuskan/didefinisikan secara operasional, sehingga bagi para eksperimenter dapat melakukan sesuai dengan prosedur dan isi yang sama.

16 Umumnya, Variabel Independen ini dapat diperoleh dari aspek-aspek yang umumnya sangat dikenal, seperti : Variabel lingkungan, contoh : Aspek pencahayaan (dibedakan antara cerah, redup, gelap); aspek kebisingan (tenang, ramai atau gaduh), aspek ukuran (besar, sedang, kecil), dan sebagainya. Variabel Tugas, contoh : karakteristik tugas (rumit, sedang, mudah), media penyampaian tugas (lisan atau menggunakan alat peraga), praktikum (tidak ada praktikum, praktikum 75%, praktikum 50%, praktikum 25%), dan sebagainya. Variabel subyek, contoh : usia (tua, dewasa, remaja, anak-anak), suku (jawa, sunda, madura, dsb), dan sebagainya.

17 Variabel Dependen Variabel Dependen adalah aspek/dimensi perilaku yang diharapkan mengalami perubahan sebagai akibat dari adanya perubahan pada variabel independen dalam suatu eksperimen. Variabel Dependen ini seringkali disebut dengan variabel akibat. Perubahan-perubahan yang terjadi pada variabel dependen, harus selalu diobservasi dan dicatat. Oleh karena itu, pemilihan variabel dependen harus merupakan variabel-variabel yang harus terukur dan teramati (observed). Ada beberapa ketentuan dalam menetapkan variabel dependen, yaitu : Perilaku yang hendak dipelajari adalah terukur Perilaku yang dipelajari dapat berubah karena pemaparan (bukan variabel statis) Variabel dependen adalah reliabel, yaitu memperoleh skor yang sama jika variabel itu diberikan dengan level yang sama dan pada subyek yang sama

18 Beberapa contoh pemilihan variavel sebagai variabel dependen :
Prestasi belajar pada mata pelajaran tertentu Minat terhadap suatu produk tertentu (misal handphone) Prestasi kerja pada karyawan Agresifitas Dan sebagainya Variabel-variabel tersebut dapat berubah (naik turun) akibat adanya perubahan pada variabel independen (anteseden).

19 Definisi Operasional Merupakan spesifikasi makna secara tepat dari sebuah variabel dalam penelitian, yang mencakup deskripsi operasi, dan ukuran-ukuran yang dapat diamati (observable). Dalam eksperimen, definisi operasional dapat berupa definisi operasional eksperimental, yang memberi batasan dengan tepat tentang apa yang akan dilakukan untuk menciptakan berbagai macam kondisi perlakuan dalam eksperimen. Dapat pula berupa definisi operasional terukur, yang memberikan deskripsi dengan tepat prosedur-prosedur apa yang harus diikuti untuk menilai pengaruh yang timbul akibat berbagai kondisi perlakuan yang bervariasi. Contoh : Kondisi perlakuan metode pembelajaran Menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan metode pembelajaran, misal ada tidaknya praktikum, referensi yang digunakan, berapa lama, bagaimana prosedur pembelajarannya, siapa yang memberikan, dan sebagainya.

20 Kelompok Eksperimen Merupakan suatu kelompok subyek yang akan dikenai perlakuan (treatment) tertentu sesuai dengan definisi operasional variabel independen. Kelompok eksperimen ini selanjutnya dibagi menjadi beberapa kelompok kecil sesuai dengan banyaknya perlakuan yang akan diberikan. Contoh : Kelompok eksperimen tentang efektivitas metode praktikum dalam pembelajaran, yaitu kelompok subyek yang akan diberikan perlakuan praktikum, yang selanjutnya bisa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, misalnya praktikum 75%, praktikum 50% atau praktikum 25%.

21 Kelompok Kontrol Merupakan suatu kelompok subyek di dalam suatu eksperimen, yang tidak dikenai dengan perlakuan apapun. Jadi dalam eksperimen, pada kelompok kontrol tersebut, tidak diberikan manipulasi eksperimental. Adakalanya, suatu eksperimen dilakukan tanpa menggunakan kelompok kontrol. Misalnya eksperimen yang dilakukan oleh Halloway dan Hornstein (1976) mengenai pengaruh berita terhadap pendapat tentang sifat manusia. Contoh : Pada eksperimen sebelumnya (efektivitas praktikum), yang dijadikan kelompok kontrol adalah kelompok subyek yang tidak diberikan praktikum apapun dalam proses pembelajaran.

22 Sampel Eksperimen Dalam suatu eksperimen, dibutuhkan populasi yang memiliki variasi yang relatif homogen. Hal ini semata-mata ditujukan untuk kemudahan dalam pengambilan sampel dan penentuan perlakuan yang akan diberikan. Upaya untuk memperoleh homogenitas populasi ini adalah dengan membatasi ciri-ciri populasi yang digunakan, misalnya dengan menggunakan batasan demografi. Dari populasi, umumnya diambil beberapa kelompok subyek untuk dijadikan sampel. Penunjukkan subyek dalam eksperimen ini diharapkan dapat mewakili (representasi) dari populasi. Dengan kata lain, kelompok sampel yang ditunjuk untuk mengikuti eksperimen ini memiliki karakteristik yang identik dengan populasi.

23 Derajat kerepresentatifan sampel ini dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
Homogenitas populasi. Tingkat representatif sampel akan mudah tercapai bila distribusi populasi semakin homogen. Penggunaan kelompok sampel yang semakin besar, maka tingkat representatif sampel semakin tinggi. Semakin tinggi tingkat variabilitas populasi, semakin sulit untuk memperoleh sampel yang representatif. Pemilihan kelompok subyek yang sesuai dengan keadaan populasi lebih menunjukkan sampel yang representatif. Untuk memperoleh sampel yang representatif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : Jumlah kelompok sampel. Penentuan jumlah kelompok sampel yang akan digunakan dalam eksperimen ditentukan oleh disain eksperimen. Besarnya sampel. Dalam eksperimen, besarnya sampel ditentukan oleh kekuatan pengaruh perlakuan yang telah diperoleh dari penelitian-penelitian sebelumnya. Teknik sampling. Dalam penelitian eksperimen, ada dua teknik sampling yang digunakan, yaitu random dan non-random.

24 Random Assignment Yang disebut dengan random assignment adalah penunjukkan subyek sebagai sampel eksperimen yang didasarkan pada teori probabilitas bahwa setiap subyek memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel eksperimen. Dengan kata lain, random assignment ini berfungsi untuk menyetarakan kelompok-kelompok subyek yang diteliti sebelum diberi perlakuan tertentu. Beberapa teknik random yang sering digunakan sebagai berikut : Simple random, dilakukan dengan memilih subyek sebagai sampel. Umumnya dilakukan dengan undian. Random ordering, dilakukan dengan menetapkan subyek yang memiliki nomor-nomor tertentu menjadi kelompok subyek. Random number tables, dilakukan dengan menggunakan tabel bilangan random. Computer selection, pemilihan subyek dengan menggunakan bantuan program komputer tertentu untuk memilih nomor-nomor subyek yang akan dipilih dalam eksperimen.

25 Non-random Teknik sampling random assignment merupakan ciri utama penelitian eksperimen. Namun, dalam eksperimen penentuan sampel dapat pula dilakukan dengan teknik non-random, seperti dalam penelitian kuasi-eksperimen. Contoh teknik non-random sampling : Stratified Sampling : teknik pengambilan sampel berdasarkan strata/tingkatan-tingkatan dalam populasi. Quota Sampling : teknik pengambilan sampel berdasarkan kuota/ proporsi pada setiap kelompok sampel. Purposive Sampling : teknik pengambilan sampel berdasarkan keinginan atau sesuai dengan apa yang dikehendaki. Accidental Sampling : teknik pengambilan sampel yang dilakukan karena faktor-faktor kebetulan yang dijumpai oleh peneliti.

26 Generalisasi Merupakan upaya-upaya untuk mengaplikasikan hasil eksperimen pada subyek-subyek lain di luar subyek yang menjadi sampel eksperimen. Dalam eksperimen ini, upaya generalisasi hasil eksperimen tidak semudah generalisasi pada hasil penelitian korelasional. Penyebab utama adalah situasi eksperimen yang bersifat tidak alamiah, sehingga menyulitkan untuk melakukan generalisasi. Meski demikian, upaya generalisasi ini tetap dapat dilakukan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan replikasi eksperimen, pada kelompok sampel dan situasi yang berbeda. Bila dalam replikasi tersebut, diperoleh hasil yang mendukung eksperimen sebelumnya, maka hasil tersebut cukup meyakinkan untuk dilakukannya generalisasi.

27


Download ppt "PRINSIP PENDEKATAN PENELITIAN EKSPERIMEN"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google