Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 Analisis Data Output Slide terutama diambil dari: “The Art of Computer Systems Performance Analysis” by Raj Jain, Wiley 1991. [Chapters 12, 13, and 25]

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 Analisis Data Output Slide terutama diambil dari: “The Art of Computer Systems Performance Analysis” by Raj Jain, Wiley 1991. [Chapters 12, 13, and 25]"— Transcript presentasi:

1 1 Analisis Data Output Slide terutama diambil dari: “The Art of Computer Systems Performance Analysis” by Raj Jain, Wiley 1991. [Chapters 12, 13, and 25]

2 2 Outline r Pengukuran Central Tendency m Mean, Median, Mode r Bagaimana merangkum Variabilitas? r Membandingkan sistem dengan menggunakan Sample Data r Membandingkan dua alternatif r Transient Removal

3 3 Pengukuran Central Tendency (1) r Sample mean – Jumlah semua hasil observasi dibagi banyaknya observasi m Selalu ada dan unik m Mean memberikan beban yang sama pada semua observasi m Mean sangat dipengaruhi oleh outlier r Sample median – daftar hasil observasi dengan urutan naik; hasil observasi yang di tengah adalah median; m # observasi genap – mean dari dua nilai tengah m Selalu ada dan unik m Tidak terpengaruh outlier

4 4 Pengukuran Central Tendency (2) r Modus sample – plot histogram dari observasi; temukan puncak dengan frekuensi paling besar; titik ini adalah modus; m Modus mungkin tidak ada (yaitu, semua sample memiliki frekuensi yang sama) m Bisa lebih dari satu (yaitu, bimodal) m Jika hanya ada satu modus, distribusi tersebut adalah unimodal mode

5 5 Pengukuran Central Tendency (3) r Pakah data categorical? m Ya: gunakan modus m Contoh: sumber daya yang paling banyak dipakai dalam sistem r Apakah jumlah total penting? m Ya: gunakan mean m Contoh: total response time untuk Web requests r Apakah distribusi tidak simetris? m Ya: gunakan median Median lebih tidak terpengaruh oleh outlier, dibandingkan dengan mean. m Tidak: gunakan mean. Kenapa?

6 6 Penyalahgunaan Mean yang umum (1) r Kegunaan mean bergantung pada jumlah observasi dan varians m Contoh: dua sample response time: 10 ms and 1000 ms. Mean adalah 505 ms! Nilai yang benar, tetapi tidak ada gunanya. r Penggunaan mean tanpa,mempedulikan ketaksimetrisan Sistem A Sistem B 105 95 115 104 1031 Mean: 1010 Modus:105 Min,Max : [9,11] [4,31]

7 7 Penyalahgunaan Mean yang umum(2) r Mean suatu hasil kali dengan mengalikan mean m Mean suatu hasil kali sama dengan hasil kali mean jika kedua variabel acak tersebut independen. m Jika x dan y berkorelasi E(xy) != E(x)E(y) m Rata-rata user pada sistem system 23; rata-rata proses/user 2. Rata-rata # proses pada sistem? Apakah sama dengan 46? m Tidak! Umlah proses yang dipakai bersama oleh user bergantung pada beban.

8 8 Outline r Pengukuran Central Tendency r Bagaimana merangkum Variabilitas? r Membandingkan sistem dengan menggunakan Sample Data r Membandingkan dua alternatif r Transient Removal

9 9 Merangkum Variabilitas r Merangkum dengan satu bilangan cukup jarang dilakukan m Jika ada dua sistem dengan mean yang sama, kita biasanya memilih yang variabilitasnya lebih rendah Frequency Mean=2s Response Time 1.5 s 80% 4 s 20% Frequency Mean=2s Response Time 60% ~ 0.001 s 40% ~5 s r Indeks penyebaran Range, Varians, 10- dan 90-percentil, Semi-interquantile range, dan mean absolute deviation

10 10 Range (kisaran) r Mudah dihitung; range = max – min r Pada banyak skenario, tidak terlalu berguna: m Min mungkin sama dengan nol m Max bisa jadi merupakan “outlier”  Dengan lebih banyak sample, max mungkin terus naik, dan min mungkin terus turun → tidak ada titik “stabil” r Range berguna jika kinerja sistem terbatas

11 11 Varians dan Standard Deviasi r Jika ada sample dari n observasi {x 1, x 2, …, x n }, varians sample dihitung sebagai: r Varians sample: s 2 (kuadrat satuan observasi) r Standard deviasi sample: s (dalam satuan observasi) r Perhatikan (n-1) pada perhitungan varians m (n-1) dari n selisih bersifat independen m Jika ada (n-1) selisih, selisih ke-n dapat dihitung m Jumlah independent terms adalah “derajat kebebasan” / degrees of freedom (df)

12 12 Standard Deviasi (SD) r Standard deviasi dan mean memiliki satuan yang sama m Lebih baik! m Contoh a) Mean = 2 s, SD = 2 s; variabilitas tinggi? m Contoh b) Mean = 2 s, SD = 0.2 s; variabilitas rendah? r Pengukuran lain yang banyak digunakan – C.O.V m C.O.V = Rasio standard deviasi terhadap mean m C.O.V tidak memiliki satuan m C.O.V menunjukkan besar variabilitas m C.O.V pada (a) adalah 1 dan pada (b) adalah.1

13 13 Percentile, Quantile, Quartile r Batas atas dan bawah dinyatakan dalam persen atau pecahan  90-percentile → 0.9-quantile m  –quantile: men-sort dan mengambil [(n-1)  +1] th observasi [] mean dibulatkan ke integer terdekat  Quartile membagi data menjadi bagian 25%, 50%, 75% → quartile (Q1, Q2, Q3) m 25% dari observasi ≤ Q1 (quartile pertama) m Quartile kedua Q2 juga merupakan median r Range (Q3 – Q1) adalah interquartile range m (Q3 – Q1)/2 adalah semi-interquartile (SIQR) range

14 14 Mean Absolute Deviation r Mean absolute deviation dihitung sebagai:

15 15 Pengaruh Outlier r Range: besar r Varians sample: besar, tetapi lebih kecil dari range r Mean absolute deviation: lebih kecil dari varians m Tidak mengkuadratkan (memperbesar) outlier r SIQR range: sangat resistant r Gunakan SIQR untuk indeks penyebaran jika median dipakai sebagai indeks central tendency

16 16 Outline r Pengukuran Central Tendency r Bagaimana merangkum Variabilitas? r Membandingkan Sistem dengan Mengunakan Sample Data m Sample vs. Populasi m Confidence Interval untuk Mean r Membandingkan dua alternatif r Transient Removal

17 17 Membandingkan Sistem dengan menggunakan Sample Data r Kata “sample” dan “example” memiliki akar yang sama – “essample” (French) r Satu sample tidak membuktikan teori – satu sample hanya merupakan satu contoh (example) r Pada intinya – tidak dapat diberikan pernyataan yang pasti mengenai karakteristik semua sistem. r Bagaimanapun, pernyataan probabilistik mengenai range sebagian besar sistem dapat dibuat. r Konsep Confidence interval (interval kepercayaan) sebagai building block

18 18 Sample versus Populasi r Bangkitkan 1-juta bilangan acak m Dengan mean  dan SD  dan letakkan di satu tempat r Anbil sample dari n observasi m {x 1, x 2, …, x n } memiliki mean, standard deviasi s r mungkin berbeda dari  ! r Di dunia nyata, mean populasi  tidak diketahui atau tidak mungkin didapati m Dengan demikian, dapatkan estimasi  dari x x x

19 19 Confidence Interval untuk Mean r Definisikan batas c 1 dan c 2 sedemikian sehingga: Prob{c 1 <  < c 2 } = 1-  m (c 1, c 2 ) adalah confidence interval m  adalah significance level m 100(1-  ) adalah confidence level r Biasanya diinginkan  yang kecil m confidence level 90%, 95% atau 99% r Satu pendekatan: ambil k sample, cari sample mean, sort, dan ambil ke-[1+0.05(k-1)] sebagai c 1 dan ke-[1+0.95(k-1)] th sebagai c 2

20 20 Teorema Central Limit (CLT) r Kita tidak membutuhkan banyak sample. Confidence interval dapat ditentukan dari satu sample, karena ~ N( ,  /sqrt(n)) r SD sample mean  /sqrt(n) disebut Standard error r Dengan menggunakan CLT, confidence interval 100(1-  )% untuk mean populasi adalah ( -z 1-  /2 s/sqrt(n), +z 1-  /2 s/sqrt(n)) m z 1-  /2 adalah quantil (1-  /2) dari unit normal variate (didapat dari tabel!) m s adalah SD sample x x x

21 21 Contoh Confidence Interval r Waktu CPU didapat dengan mengulangi eksperimen sebanyak 32 kali. Himpunan yang telah di-sort terdiri dari m {1.9,2.7,2.8,2.8,2.8,2.9,3.1,3.1,3.2,3.2,3.3,3.4,3.6,3.7,3.8,3.9,3.9,4.1,4. 1,4.2,4.2,4.4,4.5,4.5,4.8,4.9,5.1,5.1,5.3,5.6,5.9} m Mean = 3.9, standard deviasi (s) = 0.95, n=32 r Untuk confidence interval 90%, z 1-  /2 = 1.645, dan kita dapatkan {3.90 + (1.645)(0.95)/(sqrt(32))} = (3.62,4.17)

22 22 Arti Confidence Interval (CI) xx - c x + c 90% kemungkinan bahwa interval ini berisi  r Dengan confidence 90%, kita dapat mengatakan bahwa mean populasi berada dalam batasan ini; yaitu, kemungkinan error adalah 10%. m Contoh, Ambil 100 sample dan buat CI. Dalam 10 kasus, interval tidak berisi mean populasi.

23 23 Besar Confidence Interval r z 1-  /2 s/sqrt(n) = c r Maka, z 1-  /2 = (c.sqrt(n))/s m s yang lebih besar menunjukkan confidence interval yang lebih besar m n yang lebih besar menunjukkan confidence interval yang lebih pendek → dengan observasi yang lebih banyak, kita dapat melakukan prediksi yang lebih baik terhadap mean populasi → hubungan akar kuadrat n menunjukkan bahwa penambahan observasi sebesar faktor 4 hanya mengurangi confidence interval dengan faktor 2. r Perhitungan Confidence Interval seperti yang dijelaskan di sini, hanya berlaku untuk n ≥ 30.

24 24 Bagaimana jika n tidak besar? r Untuk sample yang lebih sedikit, confidence interval dapat dibuat hanya jika populasi terdistribusi normal m t [1-α/2;n-1] adalah quantil (1-α/2) dari t-variate dengan derajat kebebasan (n-1)

25 25 Pengujian Zero Mean r Cek apakah nilai yang terukur jauh berbeda dari nol r Tentukan confidence interval r Cek apakah nol ada di dalam interval 0 mean Mean is zero Mean is nonzero

26 26 Outline r Pengukuran Central Tendency r Bagaimana merangkum Variabilitas? r Membandingkan sistem dengan menggunakan Sample Data r Membandingkan dua alternatif r Transient Removal

27 27 Membandingkan Dua Alternatif r Contoh m Penjadwalan “SJF” vs. “FIFO” r Teknik statistik untuk perbandingan seperti ini: m Observasi berpasangan m Observasi tidak berpasangan m Aproksimasi uji visual

28 28 Observasi berpasangan (1) r n eksperimen dengan korespondensi satu-satu antara pengujian pada sistem A dengan pengujian pada sistem B m Tidak ada korespondensi => tidak berpasangan m Uji ini menggunakan ide mean nol… r Perlakukan kedua sample sebagai satu sample dengan n pasang r Untuk setiap pasangan, hitung selisihnya r Buat confidence interval untuk selisih m CI termasul nol => sistem tidak banyak berbeda

29 29 Observasi berpasangan (2) r Enam beban kerja yang hampir sama digunakan pada dua sistem. {(5.4, 19.1), (16.6, 3.5), (0.6,3.4), (1.4,2.5), (0.6, 3.6) (7.3, 1.7)} Apakah salah satunya lebih baik? r Selisih kinerja adalah {-13.7, 13.1, -2.8, -1.1, -3.0, 5.6} r Sample mean = -.32, sample SD = 9.03 r CI = -0.32 + t[sqrt(81.62/6)] = -0.32 + t(3.69) r Quantil.95 dari t dengan DF 5 adalah 2.015 r Confidence interval 90% = (-7.75, 7.11) r Sistem tidak berbeda karena mean nol ada dalam CI

30 30 Aproksimasi Uji Visual r Hitung confidence interval untuk mean r Jika CI tidak bertumpangan, satu sistem lebih baik dari yang lainnya mean CI tidak bertumpangan => alternatif berbeda CI betumpangan dan mean yang satu lebih baik dari yang lain => tidak banyak berbeda CI bertumpangan tetapi mean yang satu tidak berada pada CI yang lain => perlu pengujian lagi

31 31 Menentukan Ukuran Sample r Tujuan: menentukan ukuran sample n sekecil mungkin sehingga hasil dapat dipercaya r Metode: m himpunan pengukn awal m estimasi varians pengukuran m gunakan estimasi untuk menentukan ukuran sample untuk ketepatan r Akurasi r% => +r% pada confidence 100(1-  )%

32 32 Outline r Pengukuran Central Tendency r Bagaimana merangkum Variabilitas? r Membandingkan sistem dengan menggunakan Sample Data r Membandingkan dua alternatif r Transient Removal

33 33 Transient Removal r Pada banyak simulasi, diinginkan adanya steady state performance m Buang status transient awal r Bagaimanapun, pendefinisian status transient secara tepat cukup sulit! r Dikembangkan beberapa heuristik : m Long run m Inisialisasi yang layak m Truncation m Penghapusan data awal m Membuang rata-rata replika m Batch mean

34 34 Long Run r Penggunaan long run (percobaan yang lama/banyak) r Dampak status transient dapat diabaikan r Penggunaan sumber daya yang sia-sia r Seberapa banyak menjadi “cukup banyak”? r Metode ini diusulkan untuk digunakan secara terpisah

35 35 Batch Mean r Jalankan simulasi untuk waktu lama r Bagi observasi (N) menjadi m batch, masing-masing dengan ukuran n r Hitung varians batch mean dengan menggunakan prosedur untuk n = 2, 3, 4, 5 … r Plot varians vs. ukuran batch Abaikan Varians Batch mean Ukuran batch n Transient interval


Download ppt "1 Analisis Data Output Slide terutama diambil dari: “The Art of Computer Systems Performance Analysis” by Raj Jain, Wiley 1991. [Chapters 12, 13, and 25]"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google