Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Seni rupa Indonesia pada masa pendudukan Jepang Pertemuan 10

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Seni rupa Indonesia pada masa pendudukan Jepang Pertemuan 10"— Transcript presentasi:

1

2 Seni rupa Indonesia pada masa pendudukan Jepang Pertemuan 10
Matakuliah : W0502 | SEJARAH SENI RUPA INDONESIA Tahun : 2009/2010 Seni rupa Indonesia pada masa pendudukan Jepang Pertemuan 10

3 SENI MASA PENDUDUKAN JEPANG
Selama masa pendudukan Jepang ( ), Jepang berusaha untuk menyenangkan hati rakyat salah satunya dengan mengizinkan berdirinya: POETERA dan mendirikan Keimin Bunka Shidoso. Anggota Keimin Bunka Shidoso 3

4 POETERA POETERA atau Poesat Tenaga Rakjat adalah sebuah organisasi politik yang berdiri tahun 1942 oleh sekelompok pejuang Indonesia pada masa penjajahan Jepang. Tujuan utamanya adalah membuat suatu “kekuatan” hebat yang berangkat dari masyarakat dibawah kepemimpinan Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan K.H. Mas Mansoer (Empat Serangkai). POETERA – juga turut membantu kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui lembaga ini pula kebudayaan mengambil bagian dengan mendorong semangat para seniman muda yang berbakat. Basuki Abdullah | Soekarno 4

5 POETERA Jepang mengijinkan berdirinya organisasi ini, namun mereka selalu berusaha untuk mengontrol kegiatannya. Bagi Jepang, Poetera dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan perasaan anti Barat dan melalui organisasi ini segala potensi masyarakat Indonesia dapat dipusatkan untuk membantu usaha perang Jepang. Self-portraits – Affandi 5

6 POETERA| departemen kebudayaan
POETERA memiliki beberapa departemen. Pada Departemen Kebudayaan di bawah kepemimpinan Sudjojono dan Affandi. Misi mereka adalah: untuk mempromosikan dan mempopulerkan seni murni kepada masyarakat luas. Khususnya pada perkembangan Seni Modern Indonesia di dunia. Pada masa depannya, organisasi yang sangat patriotik ini berhasil memproteksi seni dari propaganda Jepang khususnya untuk mensukseskan militer Jepang. S. Sudjojono POETERA dan Keimin Bunka Shidoso 6

7 POETERA| perkembangan
1942 – POETERA berdiri dan mulai memamerkan hasil lukisan dari para seniman muda yang berdomisili di Jakarta. Pada tahun ini pula dipertunjukkan pameran solo dari pelukis Basuki Abdullah, Affandi, Kartono Yudokusumo dan Nyoman Ngendon. Setelah melihat hasil karya Affandi, para pengamat seni percaya bahwa Seni Indonesia bergerak ke arah yang benar. beberapa pameran diselenggarakan dan masyarakat memiliki kesempatan untuk melihatnya. 1944 – Pemerintah Jepang membubarkan POETERA setelah mereka menyadari bahwa perkembangan Poetera ternyata lebih menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Affandi 7

8 KEIMIN BUNKA SHIDOSO Keimin Bunka Shidoso merupakan pusat kebudayaan yang didirikan secara resmi oleh pemerintah Jepang pada 1943. Keimin Bunka Shidoso dan terdiri dari berbagai aliran seni seperti sastra, musik, tari, drama, film, dan seni murni. Departemen Seni Murni dipimpin oleh Agus Djaja yang dahulu menjadi salah satu pendiri PERSAGI. Drinking Palm Beer | Agus Djaja 1964 8

9 KEIMIN BUNKA SHIDOSO|seniman
Untuk kegiatan lembaga ini pihak Jepang meminta Sudjojono, Basuki Abdullah dan Subanto untuk mengajarkan seni murni kepada para seniman baru. Seniman baru ini banyak yang datang dari luar Jakarta seperti Zaini, Nashar dan Moctar Apin dari Sumatera Barat; Trubus dan Kusnadi dari Jawa Tengah. Henk Ngantung, Hendra Gunawan, Otto Djaja dan Dullah merupakan seniman-seniman pemula yang karyanya dipamerkan pada pameran Keimin Bunka Shidoso. Hendra Gunawan (atas), Dullah (bawah) 9

10 KEIMIN BUNKA SHIDOSO| peran
Pusat kebudayaan yang mendedikasikan untuk mempromosikan seni murni ini berhasil membentuk ikatan yang baik antara seniman dengan masyarakat. Program ini menyediakan : Ruangan studio gambar dan fasilitas model Ruangan untuk berpameran Dana untuk melakukan perjalanan guna menambah wawasan pelukis Hadiah bagi para seniman yang berbakat. Memfasilitasi seniman Jepang untuk memberikan workshop. Dullah | Rambut Terurai 10

11 KEIMIN BUNKA SHIDOSO| perkembangan
1943 – Keimin Bunka Shidoso berdiri. Pada pembukaan suatu pameran, pimpinan KBS, Sanusi Pane menyampaikan bahwa para seniman berusaha mencapai ciri khas berbasis budaya Timur, walaupun lingkungan sekitarnya masih sangat dipengaruhi budaya Barat. 1944 – Dibawah kepemimpinan Sudjono dan Basuki Abdullah perkembangan seni lukis yang semula bersifat kursus lebih difokuskan menjadi lebih akademik. 1945 – Keimin Bunka Shidoso dibubarkan bersama dengan runtuhnya pendudukan Jepang. Basuki Abdullah 11

12 KARYA SENI | seniman pemula
Otto Djaja| Pertemuan|1947 Hendra Gunawan |Mengupas Petai Dullah |Wanita Memintal Kartono Yudokusumo |Anggrek 12

13 KARYA SENI | Sudjojono & murid
S.Sudjojono |Human Glamour |1967 Trubus|Reclining Nude|1956 13

14 KARYA SENI | Affandi & murid
Mochtar Apin |Pemandangan Padang |1948 Nashar |Ingatan Affandi|Pengemis, Ia berhenti, Ia datang dan Ia pergi 14

15 KARYA SENI | Basuki Abdullah & murid
Kusnadi |Model|1959 Zaini|Rumah |1948 Basuki Abdullah |Gadis Bali|1942 15

16 DAFTAR PUSTAKA Soekmono, R. (1981). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1, 2 dan 3. Kanisius. Yogyakarta. Miksic, John (ed) (1998). Indonesian Heritage vol. 1 - Ancient History. Didier Millet. Singapore Reid, Anthony (ed) (1998). Indonesian Heritage vol. 3 - Early Modern History. Didier Millet. Singapore Tjahjono, G. (ed) (1998). Indonesian Heritage vol. 6 - Architecture. Didier Millet. Singapore Soemantri, H. (ed) (1998). Indonesian Heritage vol. 7 - Visual Art. Didier Millet. Singapore. Fox, James (ed) (1998). Indonesian Heritage vol. 9 – Religion and Ritual. Didier Millet. Singapore McGlynn, J.H. (ed)(1998). Indonesian Heritage vol Language and literature. Didier Millet, Singapore


Download ppt "Seni rupa Indonesia pada masa pendudukan Jepang Pertemuan 10"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google