Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Wisnu Adisukma, M.Sn. Dianggap sebagai perintis Estetika Guru dari Plato yang dikenal sebagai Dewa Estetika Pada saat itu belum ada istilah Estetika Bermula.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Wisnu Adisukma, M.Sn. Dianggap sebagai perintis Estetika Guru dari Plato yang dikenal sebagai Dewa Estetika Pada saat itu belum ada istilah Estetika Bermula."— Transcript presentasi:

1 Wisnu Adisukma, M.Sn

2 Dianggap sebagai perintis Estetika Guru dari Plato yang dikenal sebagai Dewa Estetika Pada saat itu belum ada istilah Estetika Bermula dari perdebatan Socrates dengan muridnya yang bernama Hippias tentang alat ukur keindahan

3 H : Kebenaran harus dikatakan wahai Socrates “a beautiful maiden is the thing beautiful” : dara cantik adalah sesuatu yang cantik S : Bagus Hippias, tapi aku tidak menanyakan apa yang bersifat cantik, aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang dinamakan kecantikan, yang jika ada pada sesuatu maka kita sebut barang itu cantik. Aku tentu tidak dapat menyatakan demikian. Dara yang cantik adalah kecantikan itu sendiri, jika ia pada suatu barang maka barang itu berhutang kecantikan dari padanya. Tidakkah barang yang cantik itu indah??? H : Tentu saja Kemudian mereka menyebut barang dan mengkomparasikan tentang bagaimana sesuatu dapat dibilang indah…….

4 Keindahan Bagi Socrates Keindahan adalah segala sesuatu yang menyenangkan dan memenuhi keinginan terakhir Keindahan terletak pada diri orang yang melihat (“Beauty is in the eye of the beholder”) yaitu dengan melihat apa yang ada di balik yang nampak

5 PLATO (Aristicle) Athena SM “dunia adalah sebuah kenyataan yang mendahului keberadaan manusia. Karena itu, manusia harus tunduk dan terikat kenyataan itu”

6 BUAH KARYA PLATO Terbagi menjadi tiga periode  Karya-karya yang diduga merupakan dominasi pikiran Socrates.  Karya-karya campuran pikiran Plato dan Socrates.  Karya-karya yang mutlak hasil pikiran Plato

7 Realitas obyek, merupakan prasyarat dalam seni. Namun, jika seniman berhasil mereproduksi realitas duniawi, dia baru mencapai realitas terendah. Realitas obyek merupakan realitas semu, atau realitas tiruan ada realitas tertinggi, heavenly reality, ideal, mutlak atau abadi EIDOS

8 KENYATAAN IDEAL  transenden, ada di ‘alam sana’ letaknya tidak menyatu dengan benda yang dapat diamati KENYATAAN IDEAL  hanya dapat diraih oleh orang-orang tertentu, melalui tahapan-tahapan tertentu.

9 Menurut Plato, keindahan itu objek cinta. Sumber rasa keindahan adalah cinta kasih. Lewat rasa cinta-kasih itulah manusia dapat kembali menikmati keindahan Melalui rasa cinta keindahan dapat diajarkan, sejak usia dini, melalui beberapa tingkat atau tataran cinta: dari yang ragawi berangsur-angsur hingga yang abstrak; dari realitas bendawi ke tingkat realitas yang ideal

10 Menjangkau Eidos memang tidak mudah, karena harus melalui empat tahapan keindahan: ragawi, ruhaniah, intelektual, dan keindahan mutlak atau eidos Eidos itu transenden, ada di luar diri manusia, terletak di dunia spiritual yang serba sempurna

11 Berdasarkan tahapan keindahan itu, Plato memandang adanya 2 keindahan: •K•K eindahan yang melekat pada objek persepsi atau dunia indrawi (the world of sense) •K•K eindahan yang berada di luarnya, yakni esensi keindahan yang ada dalam dunia yang hanya dapat dimengerti oleh “seseorang”(the intelligible world).

12 Plato ‘mengutuk’ seni karena dapat merusak akal sehat akibat kandungan emosi dan irrasionalitasnya. Emosi pada karya seni dapat membangkitkan “banjir emosi” pada manusia yakni membutakan akal sehatnya karena termanipulasi kekuatan di luar dirinya

13 Aristoteles Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stageira. suatu kota di Yunani Utara. Ayahnya adalah dokter pribadi amyntas II, raja Makedonia

14 Ciri-Ciri Keindahan Aristoteles merumuskan sebagai berikut: 1.Harmoni, Berukuran dan Tepat Proporsinya 2.Murni dan Jernih, bahwa segalanya memberikan suatu kesan kejelasan, terang jernih, murni, tanpa adanya keraguan. 3.Sempurna (perfect), utuh, tidak ada cacatnya. kesatuan atau keutuhan yang dapat menggambarkan kesempurnaan bentuk, tak ada yang berlebih atau berkurang

15 Seni sebagai Kartasis Aristoteles menerangkan dalam seni ada tiga unsur yang terlibat: • Obyek kesenian • Media kesenian • Penampilan kesenian Pembebasan dari kesulitan dan ketegangan jiwa yang sedang menekan manusia ia namakan katarsis


Download ppt "Wisnu Adisukma, M.Sn. Dianggap sebagai perintis Estetika Guru dari Plato yang dikenal sebagai Dewa Estetika Pada saat itu belum ada istilah Estetika Bermula."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google