Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN Moch Nukhun.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN Moch Nukhun."— Transcript presentasi:

1

2 PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN Moch Nukhun.

3 PENDAHULUAN Semua sel dalam tubuh menghasilkan energi Semua sel dalam tubuh menghasilkan energi Energi digunakan untuk menyelenggarakan fungsi selulernya Energi digunakan untuk menyelenggarakan fungsi selulernya Energi didapat melalui metabolisme zat makanan (gula/ glukosa) dalam rangkaian reaksi kimia dengan menggunakan oksigen Energi didapat melalui metabolisme zat makanan (gula/ glukosa) dalam rangkaian reaksi kimia dengan menggunakan oksigen Reaksi kimia menghasilkan : energi, H2O dan CO2 Reaksi kimia menghasilkan : energi, H2O dan CO2

4 Oksigen merupakan kebutuhan dasar yang paling vital dalam kehidupan Apabila tubuh < O2  sel mendapat energi dari glikolisis anaerob  menghasilkan energi dalam jumlah sedikit & asam laktat Apabila tubuh < O2  sel mendapat energi dari glikolisis anaerob  menghasilkan energi dalam jumlah sedikit & asam laktat Glikolisis anaerob berlangsung lama  timbunan asam laktat akan merubah situasi cairan tubuh menjadi lebih asam  menyebabkan aktivitas sel menurun Glikolisis anaerob berlangsung lama  timbunan asam laktat akan merubah situasi cairan tubuh menjadi lebih asam  menyebabkan aktivitas sel menurun Dampak penurunan aktivitas sel : Dampak penurunan aktivitas sel : * nafsu makan hilang * penurunan jumlah urine * pusing/ sakit kepala * wajah nampak ngantuk * cemas * lelah Pada kondisi lebih berat : penurunan tk kesadaran  koma (diawali klien gelisah & tidak kooperatif.

5 OKSIGENASI Proses mendapatkan O2 dan mengeluarkan CO2 Melibatkan sistem : Respirasi Respirasi Kardiovaskuler Kardiovaskuler Terjadi melalui 3 tahapan : 1. Ventilasi paru 2. Difusi Gas 3. Transportasi Gas

6 VENTILASI PARU Masuknya O2 atmosfir ke dalam alveoli dan keluarnya CO2 dari alveoli ke atmosfir  terjadi saat respirasi (inspirasi & ekspirasi) Masuknya O2 atmosfir ke dalam alveoli dan keluarnya CO2 dari alveoli ke atmosfir  terjadi saat respirasi (inspirasi & ekspirasi) Dipengaruhi oleh : Dipengaruhi oleh : a. Tekanan O2 atmosfir b. Keadaan saluran nafas c. Complience & recoil d. Pengaturan nafas

7 a. Tekanan O2 atmosfir Merupakan jumlah tekanan berbagai gas yang terkandung dalam udara Merupakan jumlah tekanan berbagai gas yang terkandung dalam udara Saat inspirasi udara atmosfir akan masuk Saat inspirasi udara atmosfir akan masuk

8 b. Keadaan saluran nafas Selama inspirasi atau ekspirasi udara akan melewati saluran nafas  hidung, pharynx, larynx, trachea, broncus, bronchiolus, alveoli Selama inspirasi atau ekspirasi udara akan melewati saluran nafas  hidung, pharynx, larynx, trachea, broncus, bronchiolus, alveoli Gangguan dalam atau diluar saluran nafas ata(sekret, spasme, benda asing, masa, dll) dapat memprsulit ventilasi Gangguan dalam atau diluar saluran nafas ata(sekret, spasme, benda asing, masa, dll) dapat memprsulit ventilasi

9 c. Complience & Recoil Daya pengembangan dan pengempisan paru dan thorax Daya pengembangan dan pengempisan paru dan thorax Kemampuan dibentuk oleh : Kemampuan dibentuk oleh : * Gerakan turun naik diafragma melalui kontraksi dan relaksasi otot diafragma untuk memperbesar dan relaksasi otot diafragma untuk memperbesar dan memperkecil rongga dada  gerakan akan terhambat pada memperkecil rongga dada  gerakan akan terhambat pada : kondisi nyeri pada abdomen akibat trauma/ pembedahan, : kondisi nyeri pada abdomen akibat trauma/ pembedahan, distensi abdomen distensi abdomen * Elevasi dan depresi iga-iga untuk meningkatkan/ menurunkan diameter anteroposterior rongga dada melalui kontraksi & diameter anteroposterior rongga dada melalui kontraksi & relaksasi otot-otot pernafasan  keadaan ini dpt terganggu pada relaksasi otot-otot pernafasan  keadaan ini dpt terganggu pada : bentuk dada yg abnormal, multiple fracture costae, gangguan : bentuk dada yg abnormal, multiple fracture costae, gangguan hubungan saraf-otot, kerusakan pusat nafas hubungan saraf-otot, kerusakan pusat nafas

10 * Elastisitas jaringan paru yg memungkinkan alveoli dapat mengembang & mengempis. Ada 2 kemungkinan dlm abnormal elastisitas jaringan paru : a. Jaringan paru berubah menjadi jaringan ikat  shg complience paru menurun shg complience paru menurun b. jaringan paru dapat berkembang tetapi saat recoil terbatas  shg CO2 tertahan (emphysema)  shg CO2 tertahan (emphysema) * Adanya surfactant ; yaitu zat phospholipid yg terdpt pada lapisan cairan yg meliputi permukaan alveoli & bersifat menurunkan tegangan permukaan alveoli  shg paru-paru mudah berkembang & mencegah kolaps paru

11 d. Pengaturan nafas Pusat pengatur nafas : medulla oblangata & Pons Pusat pengatur nafas : medulla oblangata & Pons Area bilateral & bag ventral di dlm Medulla oblangata sangat sensitif terhdp perubahan konsentrasi H2O & CO2 Area bilateral & bag ventral di dlm Medulla oblangata sangat sensitif terhdp perubahan konsentrasi H2O & CO2 Pusat nafas terangsang oleh Peningkatan CO2 Pusat nafas terangsang oleh Peningkatan CO2 Kenaikan CO2  meningkatkan konsentrasi H2O  merangsang pusat nafas Kenaikan CO2  meningkatkan konsentrasi H2O  merangsang pusat nafas Perangsangan pusat nafas oleh peningkatan CO2 merupakan mekanisme umpan balik yg penting untuk mengatur konsentrasi CO2 seluruh tubuh Perangsangan pusat nafas oleh peningkatan CO2 merupakan mekanisme umpan balik yg penting untuk mengatur konsentrasi CO2 seluruh tubuh

12 Pengkajian keadaan saluran nafas a. Apakah klien merasa sesak atau kesulitan bernafas ? Ya  Frekuensi/ tipe pernafasan ? b. Apakah klien batuk ?  ya  batuk kering/ sputum ?  sputum  jumlah, konsistensi, warna ? Adakah hemoptisis ? Apakah batuknya berat ?

13 c. Bagaimana suara nafasnya ? - Bersihkah ? - Adakah suara nafas tambahan, spt : * Snoring (ngorok)  akibat jalan nafas tersumbat oleh pangkal lidah yg jatuh ke belakang (koma) lidah yg jatuh ke belakang (koma) * Gargling (spt suara kumur-kumur)  terdengar saat terdpt muntahan, atau sekret pada sal nafas besar muntahan, atau sekret pada sal nafas besar * Crowing (lengking)  terdengar pada penyempitan larynx akibat spasme atau desakan oleh benda asing spasme atau desakan oleh benda asing - Inspeksi : adanya retraksi sternokleidomastoid yg mengambarkan kesulitan inspirasi akibat sumbatan jalan nafas kesulitan inspirasi akibat sumbatan jalan nafas - Auskultasi paru, adakah : * Wheezing ; terdengar pada penyempitan jalan nafas * Rales ; terdengar pada peningkatan kelembapan saluran nafas * Ronchi ; terdengar pada akumulasi sekret

14 - Palpasi daerah leher : adakah pembesaran thyroid - Adakah klien merasakan nyeri pada thorax atau abdomen ? Kel nyeri akan menghalangi kemampuan batuk

15 Dx. Keperawatan ventilasi 1. Jalan nafas tidak efektif, b.d : * Penumpukan sekret/ sekret yg kental/ benda asing * Trauma yg menghalangi batuk * Nyeri dada/ abd yg menghalangi ekspansi dada/paru dan batuk batuk * Tidak sadar oleh karena pengaruh anestesi, coma yg menyebabkan relaksasi otot-otot menyebabkan relaksasi otot-otot * Penyakit yg menganggu kemampuan batuk/ pengeluaran sekret sekret * Tidak adekuat hidrasi * Penyakit paru yg meningkatkan penumpukan sekret

16 Manifestasi klinik : Suara nafas abnormal Suara nafas abnormal Batuk produktif dg sekresi berlebihan Batuk produktif dg sekresi berlebihan Batuk tidak produktif Batuk tidak produktif Sianosis Sianosis Dispnea Dispnea Retraksi otot sternokleidomastoid Retraksi otot sternokleidomastoid Perubahan rate dan kedalaman pernafasan Perubahan rate dan kedalaman pernafasan

17 Intervensi : 1. Istirahat 2. Penumpukan sekret : a. Sekret kental : - Berikan cairan yg adekuat - Humidifikasi/ nebulisasi - Kolaborasi pemberian ekspektoran b. Sekret berada pada saluran nafas besar (s.d bronchus) : - Latihan batuk efektif (klien sadar/ koopratif & kemampuan batuk +) - Jika tdk bisa batuk (karena nyeri thorax/ abd  setelah pembedahan atau trauma)  kolaborasi pemberian analgesik pembedahan atau trauma)  kolaborasi pemberian analgesik - Jika tidak bisa batuk  lakukan penghisapan lendir c. Sekret terdpt pada percabangan saluran nafas yg kecil/ alveoli  lakukan fisioterapi dada dg postural drainage, kmd latihan  lakukan fisioterapi dada dg postural drainage, kmd latihan batuk efektif atau penghisapan lendir. batuk efektif atau penghisapan lendir.

18 3. Tersumbat/ obstruksi : - tersumbat oleh lidah yg jatuh ke belakang  lakukan pemasangan oropharyngeal  lakukan pemasangan oropharyngeal tube (mouth tube/ goedel) tube (mouth tube/ goedel) - tersumbat oleh masa, trauma atau peny  lakukan kolaborasi pemasangan  lakukan kolaborasi pemasangan endotracheal tube atau tracheostomy endotracheal tube atau tracheostomy - akibat infeksi akut, allergi yg menyebabkan spasme bronchial & edema atau bronchokonstriksi spasme bronchial & edema atau bronchokonstriksi  lakukan kolaborasi pemberian kortikosteroid,  lakukan kolaborasi pemberian kortikosteroid, anti allergi atau bronchodilator anti allergi atau bronchodilator

19 Pengkajian kemampuan complience dan recoil thorax & paru a. Apakah klien mengalami kesulitan bernafas ? b. Lakukan pemeriksaan fisik : * Inspeksi : - penggunaan otot-otot pernafasan tambahan (retraksi sternokleidomastoid, retraksi suprasternal, retraksi sternokleidomastoid, retraksi suprasternal, retraksi intercostal, retraksi substernal) intercostal, retraksi substernal) - Frekuensi, irama, kedalaman pernafasan, rasio inspirasi & ekspirasi ekspirasi - Adakah distensi abdomen yg akan menghalangi turunnya diafragma diafragma * Auskultasi : - bandingkan suara aliran udara paru kiri & kanan - adakah suara nafas tambahan (rales, wheezing, ronchi) * Palpasi : - Keadaan tulang iga  adakah fraktur - Vocal fremitus ? * Perkusi : - Adakah perubahan suara perkusi diatas area paru

20 c. Adakah klien mengalami masalah pada hub saraf-otot atau masalah system saraf d. Adakah klien mengalami nyeri abdomen/ thorak ? e. Apakah mampu melakukan aktivitas/ immobilisasi ? f. Apakah ada riwayat trauma kepala/ penggunaan obat-obatan narkotik yang menekan pusat nafas ? g. Hasil analisa gas darah ?

21 Dx. Keperawatan Ventilasi 2. Pola nafas tidak efektif b.d : a. Obstruksi jalan nafas b. Ekspansi dada yang tidak adekuat  karena adekuat  karena immobilisasi, nyeri dada/ immobilisasi, nyeri dada/ abdomen abdomen c. Gangguan neuromuskuler d. Penyakit paru kronis  menyebabkan penumpukan menyebabkan penumpukan udara/ cairan pada rongga udara/ cairan pada rongga pleura pleura e. Penurunan pengeluaran CO2  karena penyakit paru  karena penyakit paru (empisema) (empisema) Manifestasi Klinis : a. Dispnea b. Peningkatan frekuensi pernafasan c. Perubahan kedalaman pernafasan d. Perubahan rasio inspirasi : ekspirasi e. Retraksi dada

22 Intervensi 1. Intervensi yg sifatnya umum untuk semua perubahan pola nafas : a. Posisi semi fowler/ fowler  meningkatkan kapasitas vital paru b. Perubahan posisi  memberikan kesempatan semua alveoli berkembang secara optimal berkembang secara optimal c. Ambulasi/ exercise  meningkatkan pembentukan energi untuk bernafas & CO2 yg akan merangsang pusat nafas bernafas & CO2 yg akan merangsang pusat nafas 2. Intervensi spesifik : a. Latihan nafas dalam  untuk pasien dengan pernafasan cepat & dangkal  mencegah atelektasis dangkal  mencegah atelektasis b. Latihan pursed lip breathing  latihan nafas diafragma/ menggunakan incentive spirometer  untuk pasien dg hambatan dalam ekspirasi/ incentive spirometer  untuk pasien dg hambatan dalam ekspirasi/ retensi CO2 retensi CO2 3. Intervensi medis : a. Pemasangan WSD  untuk menurunkan tekanan intra pleura akibat efusi pleura, pneumothorak yg menganggu pengembangan paru efusi pleura, pneumothorak yg menganggu pengembangan paru b. Pemasangan ventilator/ respirator/IPPB  klien yg mengalami kesulitan nafas akibat gangguan pada hubungan saraf otot/ gangguan sistem saraf akibat gangguan pada hubungan saraf otot/ gangguan sistem saraf

23 DIFUSI GAS Pertukaran antara O2 dan CO2 alveoli dengan kapiler paru Pertukaran antara O2 dan CO2 alveoli dengan kapiler paru Dipengaruhi oleh : Dipengaruhi oleh : –Ketebalan membran respirasi –Luas permukaan membran –Koefisien difusi –Perbedaan tekanan

24

25 Pemeriksaan 1. Ketebalan membran respirasi a. Inspeksi : - Retraksi intercostals, retraksi substernal (klien dg edema paru/ radang paru akut) edema paru/ radang paru akut) - Pernafasan cepat & dangkal - Pernafasan cepat & dangkal - Pernafasan cuping hidung b. Auskultasi : - Rales (edema paru/ radang paru akut) c. Perkusi : - Redup/ dullness (edema paru/ radang paru akut)

26 2. Perubahan luas permukaan paru : - Adakah riwayat operasi  pengangkatan lobus paru pengangkatan lobus paru - Hasil pemeriksaan thorak photo ? 3. Perkiraan tekanan gas pada alveoli : - Tanda-tanda hambatan ventilasi

27 Dx. Keperawatan Difusi 1. Perubahan pertukaran gas  perfusi jaringan tidak adekuat b.d : - Edema paru - Edema paru - Congesti paru - Congesti paru Manifestasi klinis : - Hipoventilasi - Penurunan kesadaran - Sianosis - Ekstremitas dingin & lembap - Gas darah abnormal

28 Intervensi 1. Istirahat (intervensi utama) 2. Pemberian O2  untuk meningkatkan perbedaan konsentrasi/ tekanan oksigen antara alveoli dg kapiler 3. Membatasi intake cairan (pada klien edema paru) 4. Ambulasi  untuk meningkatkan sirkulasi yg akan memperbaiki rasio perfusi-ventilasi 5. Kolaborasi : antibiotik (klien radang akut parenkim paru) 6. Meningkatkan intake protein melalui oral/ pemberian plasma albumin (klien dg hipoalbumin)

29 TRANSPORTASI GAS Untuk transportasi gas (O2 & CO2) ditentukan oleh aktivitas sistem KARDIOVASKULER

30 Transport Oksigen Oksigen dapat ditransport dari kapiler paru ke jaringan-jaringan melalui 2 cara : 1. Secara fisik : larut dalam plasma  3 % 2. Secara Kimia : berikatan dengan Hb dalam bentuk oxyhaemoglobin/ HbO2  97 %

31 Transport CO2 Transport dari jaringan ke paru-paru kemudian dikeluarkan ke atmosfir, dilakukan dengan cara : 1. Secara fisik : larut dalam plasma  5 % 2. Secara kimia : bergabung dengan Hb membentuk Carbaminohaemoglobin  30 % 3. Berikatan dengan air dan kemudian membentuk bikarbonat plasma  65 %

32 Dalam keadaan istirahat sekitar 4 ml CO2 per 100 ml darah ditransport dari jaringan ke paru-paru CO2 penting bagi keseimbangan asam basa

33 TRANSPORTASI GAS DIPENGARUHI OLEH : 1. Curah Jantung 2. Jumlah eritrosit 3. Exercise 4. Hematokrit darah 5. Keadaan pembuluh darah

34 Curah Jantung Normal dewasa 5 lt Normal dewasa 5 lt Melalui darah ditransport sekitar 5 ml O2 & 4 ml CO2 per 100 ml darah Melalui darah ditransport sekitar 5 ml O2 & 4 ml CO2 per 100 ml darah Peningkatan curah jantung  kecepatan transport O2 ke jaringan & CO2 dari jaringan Peningkatan curah jantung  kecepatan transport O2 ke jaringan & CO2 dari jaringan

35 Jumlah Eritrosit O2 ditrasport secara kimia berikatan dengan Hb yang terdapat dalam eritrosit O2 ditrasport secara kimia berikatan dengan Hb yang terdapat dalam eritrosit Penurunan eritrosit & konsentrasi Hb  menurunkan transport oksigen Penurunan eritrosit & konsentrasi Hb  menurunkan transport oksigen

36 Exercise Pada gerak badan/ atlet terlatih kecepatan transport O2 ke jaringan meningkat kali dari normal Pada gerak badan/ atlet terlatih kecepatan transport O2 ke jaringan meningkat kali dari normal Exercise meningkatkan produksi CO2  merangsang pusat nafas & meningkatkan kecepatan denyut jantung sehingga mempercepat pengiriman CO2 keluar tubuh Exercise meningkatkan produksi CO2  merangsang pusat nafas & meningkatkan kecepatan denyut jantung sehingga mempercepat pengiriman CO2 keluar tubuh

37 Hematokrit Peningkatan hematokrit akan meningkatkan viskositas darah sehingga beban jantung meningkat  mengakibatkan penurunan curah jantung Peningkatan hematokrit akan meningkatkan viskositas darah sehingga beban jantung meningkat  mengakibatkan penurunan curah jantung Peningkatan HCT menggambarkan jumlah cairan berkurang, sementara 65 % CO2 ditransport dalam keadaan berikatan H2O Peningkatan HCT menggambarkan jumlah cairan berkurang, sementara 65 % CO2 ditransport dalam keadaan berikatan H2O Penurunan HCT menggambarkan rendahnya konsentrasi eritrosit dalam darah  menyebabkan penurunan transportasi O2 Penurunan HCT menggambarkan rendahnya konsentrasi eritrosit dalam darah  menyebabkan penurunan transportasi O2

38 Keadaan pembuluh darah Sumbatan/ penyempitan pembuluh darah (arterioslerosis)  penurunan pengiriman darah  berakibat penurunan transportasi O2 ke jaringan Sumbatan/ penyempitan pembuluh darah (arterioslerosis)  penurunan pengiriman darah  berakibat penurunan transportasi O2 ke jaringan Sumbatan vena  penurunan pengiriman CO2 ke jaringan Sumbatan vena  penurunan pengiriman CO2 ke jaringan

39 Untuk memperkirakan transportasi gas, dilakukan pemeriksaan : Evaluasi curah jantung : * Apakah klien mengalami nafas pendek, kelelahan, ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari ? * Amati sirkulasi perifer : - Adakah perasaan tidak nyaman pada dada ? - Adakah peningkatan/penurunan BB ? - Adakah pembengkakan ekstremitas ? - Adakah klien mengeluh pusing, sakit kepala, palpitasi ? - Berapa jumlah urine output ? - Amati status mental/ tingkat kesadaran klien * Perkirakan keadaan otot jantung : - Pemeriksaan serum enzim - Pemeriksaan EKG

40 * Pemeriksaan suara jantung : - S1-S2 - Suara jantung tambahan : S3-S4, murmur * Lakukan pemeriksaan : - Tekanan darah pada berbagai posisi (N mmHg) - Hitung pulse pressure - Radial pulse - Frekuensi denyut jantung - CTR - CVP - Adanya distensi vena jugularis - Adanya hepato jugular reflux - Serum elektrolit Evaluasi jumlah eritrosit & Hb Evaluasi keadaan cairan tubuh : - Periksa tekanan darah - Periksa HCT dan bandingkan dengan Hb (N. 3 x Hb) - Amati tanda-tana kelebihan / kekurangan cairan

41 Evaluasi kondisi pembuluh darah : * Sumbatan arteri : area distal sumbatan menjadi : - Pucat atau sianosis - pada rabaan dingin - Klien mengeluh nyeri terutama saat digerakkan - Kulit nampak kering - nadi kadang-kadang tak teraba * Sumbatan vena : area proksimal sumbatan menjadi : - kemerahan - pada rabaan panas - klien mengeluh nyeri - Tampak bengkak

42 Dx. Keperawatan Transportasi Gas 1. Hambatan transportasi gas b.d defisiensi hemoglobin Manifestasi Klinis : - Mudah lelah - Pusing/ sakit kepala

43 Intervensi Kolaborasi dengan medis  pemberian transfusi darah ( jika diperlukan ) Kolaborasi dengan medis  pemberian transfusi darah ( jika diperlukan ) Perbaiki diet (TKTP) & banyak mengkonsumsi sayuran berklorophyl Perbaiki diet (TKTP) & banyak mengkonsumsi sayuran berklorophyl

44 2. Perubahan curah jantung b.d - Disfungsi jantung akibat penyakit pada arteri penyakit pada arteri coronaria, penyakit coronaria, penyakit katub jantung, abnormal katub jantung, abnormal struktur, kegagalan konduksi struktur, kegagalan konduksi - Penurunan volume cairan intravaskuler intravaskuler - Cardiac arrest - Imbalance elektrolit Manifestasi Klinis : a. Arrythmia jantung b. Perubahan tekanan darah c. Adanya abnormalitas suara jantung : S3, S4, Murmur d. Pucat, sianosis pada kulit dan mukosa membran e. Kulit dingin dan lembab f. Batuk dengan sputum bercak kemerahan g. Abnormalitas elektrolit terutama kalium

45 Intervensi Untuk mengatasi masalah penurunan curah jantung banyak intervensi medis yang sangat spesifik sesuai dengan penyebabnya Untuk mengatasi masalah penurunan curah jantung banyak intervensi medis yang sangat spesifik sesuai dengan penyebabnya Ners melakukan intervensi sebagai implikasi dari intervensi medis, misalnya : Ners melakukan intervensi sebagai implikasi dari intervensi medis, misalnya :

46 Disfungsi Jantung (payah jantung) Intervensi keperawatan : Intervensi keperawatan : - Istirahat - Batasi intake cairan - Batasi intake natrium Intervensi medis : Intervensi medis : - Pemberian digokxin  sebelum pemberian periksa denyut jantung (DJ 60- pemberian periksa denyut jantung (DJ x/mt) kolaborasi untuk perubahan dosis/ 80x/mt) kolaborasi untuk perubahan dosis/ hentikan sementara), periksa seum Kalium ( K hentikan sementara), periksa seum Kalium ( K < 3,5 mEq/l  koreksi kalium) < 3,5 mEq/l  koreksi kalium)

47 Penurunan cairan intravaskuler Intervensi medis : Intervensi medis : - Pemberian cairan melalui intravenousline (infus) sesuai kebutuhan (infus) sesuai kebutuhan Implikasi keperawatan : * Tentukan tempat yg sesuai * Observasi kecepatan tetesan & lokasi * Catat intake & output * Observasi tanda-tanda vital

48 Cardiac arrest Intervensi : Intervensi : Resusitasi cardio-pulmo-cerebral

49 Imbalance elektrolit Intervensi : Intervensi : Koreksi elektrolit

50 Kebutuhan O2 dipengaruhi oleh : Ketinggian Ketinggian Lingkungan (dingin/ panas) Lingkungan (dingin/ panas) Latihan/ Exercise Latihan/ Exercise Emosi (takut, cemas, marah) Emosi (takut, cemas, marah) Status kesehatan Status kesehatan Gaya hidup (perokok) Gaya hidup (perokok)

51 THERAPI OKSIGEN Suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara : Meningkatkan kadar oksigen inspirasi (FiO2) Meningkatkan kadar oksigen inspirasi (FiO2) Meningkatkan tekanan oksigen (hiperberik) Meningkatkan tekanan oksigen (hiperberik)

52 TUJUAN TERAPI OKSIGEN Mencegah terjadinya hipoksia Mencegah terjadinya hipoksia Terapi terhadap hipoksia Terapi terhadap hipoksia

53 Beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipoksia antara lain : Kadar oksigen yang rendah Kadar oksigen yang rendah Gangguan jalan nafas dan pernafasan Gangguan jalan nafas dan pernafasan Gangguan difusi Gangguan difusi Gangguan transport oksigen Gangguan transport oksigen Gangguan ekstraksi oksigen atau penggunaan oksigen dijaringan Gangguan ekstraksi oksigen atau penggunaan oksigen dijaringan

54 Tanda dan gejala hipoksia antara lain : sesak nafas sesak nafas pernafasan cuping hidung pernafasan cuping hidung Adanya gerak otot nafas tambahan ; retraksi interkostal suprasternal Adanya gerak otot nafas tambahan ; retraksi interkostal suprasternal Takhikardia Takhikardia tekanan darah meningkat tekanan darah meningkat keringat dingin keringat dingin Gelisah dan bingung Gelisah dan bingung Dalam keadaan berat dapat terjadi sianosis Dalam keadaan berat dapat terjadi sianosis

55 Prinsip alat untuk terapi oksigen : FiO2 dapat diatur sesuai kebutuhan FiO2 dapat diatur sesuai kebutuhan Tidak terjadi rebreathing-penumpukan CO2 Tidak terjadi rebreathing-penumpukan CO2 Resistensi minimal Resistensi minimal Effisiensi dan ekonomis Effisiensi dan ekonomis Nyaman untuk pasien Nyaman untuk pasien

56 Macam-macam alat terapi oksigen Nasal kateter-nasal prong ; 2-4 lpm (24-40 %) Nasal kateter-nasal prong ; 2-4 lpm (24-40 %) Masker sederhana ; 6-8 lpm (simple mask : %) Masker sederhana ; 6-8 lpm (simple mask : %) Partial non rebreathing mask ; lpm (40-60 %) Partial non rebreathing mask ; lpm (40-60 %) Rebreathing mask ; lpm (80-90 %) Rebreathing mask ; lpm (80-90 %) Venture mask (24,28,3540,50,60 %) Venture mask (24,28,3540,50,60 %) Bag valve mask (bag & mask : 100 %) Bag valve mask (bag & mask : 100 %) Respirator ( %) Respirator ( %) Jackson rees ; lpm (100 %) Jackson rees ; lpm (100 %) Jet isuflation ; lpm Jet isuflation ; lpm CPAP mask atau nasal ( %) CPAP mask atau nasal ( %) Incubator (sampai 40 %) Incubator (sampai 40 %) Oxygen tent atau head box (30-50 %) Oxygen tent atau head box (30-50 %)

57 Nasal kateter-nasal prong

58 Masker sederhana

59 Sungkup Berbalon

60 Jackson Rees

61 Bag valve mask

62 Ventilator

63 Inkubator

64 Beberapa contoh keadaan atau penyakit yang memerlukan terapi oksigen Gagal nafas Gagal nafas Shock Shock Akut Miokard infark Akut Miokard infark Payah jantung Payah jantung Keracunan carbon monoksida (CO) Keracunan carbon monoksida (CO) Trauma multiple berat Trauma multiple berat Luka baker > 25 % Luka baker > 25 % Pasca bedah Pasca bedah Sepsis Sepsis Dll. Dll.

65 Tugas Kelompok Humidifikasi/ nebulezer Fisiotherapi nafas Latihan pernafasan (breathing exercise) antara lain : pursed lip breathing, Diaphragma Breathing, Batuk efektif Clapping Vibrating Postural drainage Bronchial Toilet Bronchial Toilet

66 Pembahasan tugas Pengertian Pengertian Tujuan Tujuan Indikasi Indikasi Jenis Jenis Persiapan alat Persiapan alat Persiapan klien Persiapan klien Prosedur tindakan Prosedur tindakan Hal-hal yg harus diperhatikan Hal-hal yg harus diperhatikan Dll. Dll.

67 Daftar Pustaka Corola, Harley, Noback, 1992, Human Anatomy & Physiology, International edition, Mc Graw Hill Inc, USA Corola, Harley, Noback, 1992, Human Anatomy & Physiology, International edition, Mc Graw Hill Inc, USA Kemp, B. & Pilitteri, A.,1990, Fundamental of Nursing, WB saunders Company, Philadelphia Kemp, B. & Pilitteri, A.,1990, Fundamental of Nursing, WB saunders Company, Philadelphia Kozier, Erb, Olivery, 1999, Fundamental of Nursing, Concept, Process and Practice, 5th edition, Weshley Publishing Company Inc, California. Kozier, Erb, Olivery, 1999, Fundamental of Nursing, Concept, Process and Practice, 5th edition, Weshley Publishing Company Inc, California. Sherwood, 1997, Human Psysiology, 3rd edition, Wadsworth Publishing Company, Belmont Sherwood, 1997, Human Psysiology, 3rd edition, Wadsworth Publishing Company, Belmont Smeltzer, Suzanne C,Brenda GB., 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, 8th edition, Volume 1, Jakarta, EGC Smeltzer, Suzanne C,Brenda GB., 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, 8th edition, Volume 1, Jakarta, EGC Smith, S.F. & Duell, DJ.,1992. Clinical Nursing Skill, Nursing Process Model Basic to Advanced Skill, Appleton & lange, Norwalk Smith, S.F. & Duell, DJ.,1992. Clinical Nursing Skill, Nursing Process Model Basic to Advanced Skill, Appleton & lange, Norwalk Williams, 1999, Fundamentals of Nursing, Collaboration for Optimal Health, 2nd edition, Appleton & lange, Standford, Connecticut Williams, 1999, Fundamentals of Nursing, Collaboration for Optimal Health, 2nd edition, Appleton & lange, Standford, Connecticut

68


Download ppt "PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN Moch Nukhun."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google