Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

2 TAHAPAN PENYUSUNAN TABEL I-O INDONESIA I.Penentuan Klasifikasi sektor II.Pengumpulan data dan informasi III.Penyusunan/estimasi 1.Output (control total/

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "2 TAHAPAN PENYUSUNAN TABEL I-O INDONESIA I.Penentuan Klasifikasi sektor II.Pengumpulan data dan informasi III.Penyusunan/estimasi 1.Output (control total/"— Transcript presentasi:

1

2 2 TAHAPAN PENYUSUNAN TABEL I-O INDONESIA I.Penentuan Klasifikasi sektor II.Pengumpulan data dan informasi III.Penyusunan/estimasi 1.Output (control total/ CT) 2.NTB sektoral dan penggunaan 3.Struktur/koefisien input komponen permintaan akhir IV.Penyusunan matriks transaksi antar sektor V.Rekonsiliasi (baris dan kolom)

3 3 KLASIFIKASI SEKTOR Tujuannya mengelompokkan seluruh kegiatan ekonomi yang beragam ke dalam sektor-sektor yang memiliki kesamaan proses produksi dan menghasilkan output yang homogen Klasifikasi tabel IO merujuk pada kriteria dasar yaitu: Lengkap: mencakup seluruh komoditas/kegiatan baik domestik & impor, Jelas: tidak ada keraguan atas konsep, ruang lingkup & cakupan, Tanggap: alat yang komprehensif bagi perencana atau pembuat keputusan 2 kriteria pengelompokan: 1.Horizontal: menurut kesamaan struktur input (misal usaha kecil, menengah, dan usaha besar) 2.Vertikal: menurut tahapan sekuensial dalam proses produksi (misal KLUI, KKI, ISIC) Konsep satuan ekonomi: 1.Komoditas : pada sektor pertanian & pertambangan 2.Aktivitas : industri pengolahan, bangunan, jasa-jasa 3.Kelembagaan : sektor pemerintahan

4 4 PERKEMBANGAN KLASIFIKASI TABEL I-O INDONESIA PERKEMBANGAN KLASIFIKASI TABEL I-O INDONESIA

5 5 Penyusunan Tabel IO Nasional dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan langsung dan pendekatan tidak langsung;  Pendekatan langsung atau metode survei digunakan apabila seluruh data yang diperlukan dikumpulkan secara langsung melalui survei atau penelitian lapangan,  Pendekatan tidak langsung atau metode non survei dan semi survei digunakan apabila seluruh atau sebagian data yang diperlukan diperoleh dari suatu tabel input-output lain yang sudah ada. PENYUSUNAN TABEL I-O INDONESIA

6 6 Pendekatan langsung atau metode survei  Metode survei adalah suatu cara perolehan/ pengumpulan data/informasi dari populasi yang ada kemudian diambil beberapa sampel untuk diamati;  Penyusunan tabel input-output biasanya digunakan metode non probability sampling atau dikenal sebagai "purposive sampling“, karena informasi yang ingin diperoleh adalah struktur input baik input antara maupun input primer dan indikator produksi guna estimasi output, tidak perlu pendugaan besarnya populasi;  Tabel IO Nasional yang disusun setiap lima tahun sekali menggunakan metode langsung. PENDEKATAN LANGSUNG

7 7 Metode Non Survei  Digunakan dalam penyusunan tabel input-output up-dating (pemutakhiran), di mana pengisian sel-sel tabel input-output tidak menggunakan metode survei.  Tujuannya adalah menaksir dan memperbaiki koefisien input antara atau koefisien teknis (A) pada tahun tabel input- output disusun.  Metode yang sering digunakan dalam penyusunan input- output up-dating adalah RAS Metode Semi Survei  Gabungan antara metode non-survei dengan survei, di mana data/informasi yang diperoleh akan mengisi sel-sel tertentu dalam kuadran I tabel input-output. PENDEKATAN TIDAK LANGSUNG

8 8  Tabel Input-Output (IO) Regional disusun untuk menyajikan gambaran hubungan timbal balik dan saling keterkaitan antar sektor dalam perekonomian di wilayah (propinsi/ kabupaten/kota tertentu;  Bentuk penyajian Tabel IO Regional adalah matriks;  Penyusunan Tabel IO Regional sebagai alat untuk analisis dan proyeksi perekonomian regional. PENYUSUNAN TABEL I-O REGIONAL

9 9  Tahun penyusunan Tabel IO Regional antar propinsi berbeda-beda tergantung ketersediaan dana;  Model IO Regional terdiri dari:  Model IO satu regional Seperti Tabel IO Propinsi DKI Jakarta tahun 2005, Tabel IO Propinsi Jawa Barat 2005 dsb  Model IO antar regional Seperti Tabel IO antar pulau (5 pulau). PENYUSUNAN TABEL I-O REGIONAL

10 10 Penyusunan Tabel IO satu regional dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan langsung dan pendekatan tidak langsung;  Pendekatan langsung atau metode survei, digunakan apabila seluruh data yang diperlukan dikumpulkan secara langsung melalui survei atau penelitian lapangan,  Pendekatan tidak langsung atau metode non survei menggunakan 1) Metode persentase penyediaan regional atau 2) Metode analisis Location Quotient (LQ).  Penyusunan Tabel IO satu regional lebih banyak menggunakan pendekatan non-survei karena tidak membutuhkan banyak biaya dan mudah. PENYUSUNAN TABEL I-O REGIONAL

11 11 Contoh: Tabel IO Regional Provinsi X Transaksi Total Atas Dasar Harga Pembeli PENYUSUNAN TABEL I-O REGIONAL

12 12 PENYUSUNAN TABEL I-O REGIONAL

13

14 14 Pendekatan langsung atau metode survei: Penyusunan tabel input-output dengan pendekatan metode langsung ditempuh dengan mempersiapkan data penunjang yang dikumpulkan melalui SKIO dan non-SKIO Kedua jenis kegiatan survei tersebut masih harus diikuti lagi dengan kegiatan pengumpulan data sekunder lainnya yang biasanya digunakan untuk mengestimasi output. SURVEI YANG DIBUTUHKAN

15 15 Dalam penyusunan Tabel I-O 2005 kegiatan sektor pertanian terbagi dalam 34 sektor dengan pengelompokan sebagai berikut: Tanaman Bahan Makanan mencakup 11 (sebelas) sektor; Perkebunan mencakup 13 (tigabelas) sektor; Peternakan mencakup 4 (empat) sektor; Kehutanan mencakup 2 (dua) sektor; Perikanan mencakup 3 (tiga) sektor dan Jasa pertanian 1 (satu sektor) Secara umum output sektor pertanian diperoleh dengan mengalikan Produksi (Q) dengan Harga (P). Struktur input sektor pertanian diperoleh dari Struktur Ongkos Usaha Tani "Padi dan Palawija" (Survei Pertanian) BPS, serta survei khusus (SKIO) untuk komoditi selain padi dan palawija. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR PERTANIAN

16 16 Dalam penyusunan Tabel I-O 2005 kegiatan sektor pertambangan terbagi dalam 14 sektor dengan pengelompokan sebagai berikut : Batu Bara, Minyak Bumi, Gas dan Panas Bumi, Bijih Timah, Bijih Nikel, Bijih Bauksit, Bijih Tembaga, Bijih Emas, Bijih Perak, Bijih dan Pasir Besi, Barang Tambang Logam lainnya, Barang Tambang Mineral Bukan Logam, Garam Kasar dan Barang Galian Segala Jenis. Secara umum output sektor pertambangan diperoleh dengan mengalikan Produksi (Q) dengan Harga (P). Struktur input sektor pertambangan diperoleh dari Survei Khusus Input-Output (SKIO) dan Survei Tahunan BPS. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR PERTAMBANGAN

17 17 Dalam penyusunan Tabel I-O 2005 kegiatan sektor Industri dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok komoditi (dalam Tabel IO 2005 menjadi 92 sektor), dimana kilang minyak dan gas alam cair termasuk di dalamnya. Industri Non Migas Sumber data utama adalah hasil survei tahunan industri BPS baik untuk besar/sedang, kecil maupun kerajinan rumahtangga yang terdiri dari kelompok 5 digit KBLI Hasil pengolahan diperoleh output maupun inputnya, karena hasil survei tahunan Industri sudah dalam bentuk nilai rupiah. Masalahnya dari hasil survei tersebut beberapa struktur inputnya masih dalam bentuk gabungan, tidak sesuai dengan klasifikasi sektor input-output perlu proses TITO. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN ESTIMASI OUTPUT SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN

18 18 Industri Non Migas Industri migas dlam Tebal IO hanya terdiri dari industri barang hasil kilang minyak bumi dan gas alam cair. Sumber data yang digunakan diperoleh dari Departemen Pertambangan & Energi, Pertamina dan Survei tahunan yang dilakukan oleh BPS. Output diperoleh dari perkalian antara kuantum produksi (Q) dengan harga (P) untuk masing-masing komoditi seperti: avtur, avigas, premium, minyak tanah, minyak diesel, minyak bakar, LPG, dan sebagainya untuk pengilangan minyak bumi serta gas alam cair (LNG) untuk pengilangan gas alam. Struktur input diperoleh dari pengolahan hasil survei tahunan yang dilakukan oleh BPS. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN ESTIMASI OUTPUT SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN

19 19  Latar Belakang  Survei tahunan industri Besar/Sedang dg pendekatan establishment, 5 digit KBLI sesuai produk utamanya (main characteristic product).  Pada kenyataannya satu establishment dapat menghasilkan beberapa jenis produk disamping produk utama tersebut.  Tidak tertutup kemungkinan bahwa produk lainnya di luar produk utama tersebut mempunyai ciri produk yang tidak sesuai lagi dengan ciri produk utamanya.  Ada kemungkinan bahwa produk lainnya tersebut memiliki kode 5 digit KBLI yg berbeda dengan produk utama  Maka hasil survei industri besar/sedang belum secara murni memperlihatkan identitas dari 5 digit KBLI yang diinginkan.  Agar data hasil survei tahunan industri besar/sedang dapat digunakan untuk kebutuhan penyusunan PDB dan tabel input-output perlu dilakukan proses pengolahan lebih lanjut (TITO) PROSES TRANSFER IN TRANSFER OUT (TITO)

20 20 1. Coding Output dan Bahan Baku  Tujuan : Memberikan kode KBLI untuk setiap komoditi yang dihasilkan dan bahan baku yang digunakan  Dikerjakan oleh Ditjen Bina Produksi Kehutanan (BPK), Dephut dan Direktorat Neraca Produksi, BPS  Komoditi yang dicoding sebanyak : TahunProduksi yang dihasilkan (Komoditi) Bahan baku (Komoditi) PROSES TRANSFER IN TRANSFER OUT (TITO)

21 21 Input (000 Rp) Kode Output Komoditi (000 Rp) Kode KBLI (1)(2)(4)(5) Input Antara: Lamin board lainnya Kayu gelondongan Veneer kupasan Kayu log & gergajian diawetkan Veneer irisan Kertas untuk perekat Ubin lantai (parquet floor) Perekat lainnya Amplas kertas Bahan baku lainnya Input antara non bahan baku Komponen Biaya Primer (NTB) Jumlah XXXXXXX Jumlah XXXXXXX PROSES TRANSFER IN TRANSFER OUT (TITO)

22 22 Tujuan: mendestinasikan atau meletakkan setiap komoditi bahan baku ke KBLI Output yang sesuai Contoh: LK 2. Industri Veneer (20214) Uraian keluar ke:20214 setelah Data Asli transfer-output (1)(2)(3)(4)(5) Output: 1. Lamin board lainnya Veneer kupasan Veneer irisan Ubin lantai (parquet floor) Jumlah Output Input: 1. Kayu gelondongan Kayu log & gergajian diawetkan Kertas untuk perekat Perekat lainnya Amplas kertas Bahan baku lainnya Input antara non bahan baku Komponen Biaya Primer (NTB) Jumlah Input PROSES TRANSFER IN TRANSFER OUT (TITO)

23 23  Tujuan : merekonsiliasi dan menyeimbangkan antara biaya antara dan biaya primer hingga diperoleh rasio nilai tambah yang layak  Contoh: LK 3. Industri Panel Kayu Lainnya (20213) Uraian terima darisetelah Data Asli20214transfer-in (1)(2)(3)(4) Output: 1. Lamin board lainnya Jumlah Output Input: 1. Kayu log & gergajian diawetkan Kertas untuk perekat Amplas kertas Bahan baku lainnya Input antara non bahan baku Komponen Biaya Primer (NTB) Jumlah Input PROSES TRANSFER IN TRANSFER OUT (TITO)

24 24  Tujuan : Menjumlahkan seluruh KBLI yang bersesuaian dan menyusun Neraca produksi untuk setiap KBLI (setelah homogen)  Contoh: LK 4. Neraca Produksi Uraian (Ind. Panel kayu Lainnya) (Ind. Veneer) (Ind. Moulding & Komponen BB) (1)(2)(3)(4) Input Antara Input Primer (NTB) Output PROSES TRANSFER IN TRANSFER OUT (TITO)

25 25 Listrik Output listrik meliputi listrik yang dijual, dipakai sendiri, hilang dalam transmisi dan yang dicuri. Estimasi output listrik dihitung berdasarkan perkalian produksi (Q) dan harga (P) per satuan produksi untuk masingmasing listrik PLN dan Non-PLN. Untuk listrik PLN, ke dalam nilai outputnya masih harus ditambahkan lagi dengan pendapatan lainnya yang berupa margin yang diperoleh karena mendistribusikan listrik Non-PLN. Estimasi susunan input listrik PLN dan Non PLN dapat diperoleh langsung melalui SKIO. Gas Output sektor gas mencakup kegiatan penyediaan serta penyaluran gas untuk keperluan bahan bakar rumah tangga, industri, rumah sakit, hotel, dan sebagainya. Output Gas : perkalian produksi (Q) dan harga (P) dari survei tahunan BPS. Estimasi susunan input gas dapat diperoleh dari survei tahunan BPS. Air Bersih Output sektor air bersih meliputi kegiatan penjernihan, penampungan dan pendistribusian air bersih secara langsung melalui pipa atau mobil tangki dengan tujuan untuk dijual. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh Perusahaan Air Bersih (PAM) maupun bukan PAM. Output Air Bersih perkalian produksi (Q) & harga (P) survei tahunan BPS. Estimasi susunan input Air Bersih dapat diperoleh dari SKIO dan hasil Survei Tahunan BPS, ESTIMASI OUTPUT SEKTOR LGA

26 26 Sektor konstruksi adalah suatu kegiatan yang hasil akhirnya berupa bangunan/konstruksi yang menyatu dengan lahan tempat kedudukannya, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana lainnya. Kegiatan di sektor ini dapat dilakukan oleh kontraktor umum (General Contractor) dan kontraktor khusus (Special Contractor) termasuk pula kegiatan konstruksi yang dilakukan oleh perseorangan/individu. Pada Tabel IO Indonesia, sektor konstruksi dibedakan menjadi 5 sektor utama yaitu Bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal; Prasarana pertanian; Jalan/jembatan dan pelabuhan; Bangunan instalasi listrik, gas, air bersih, dan komunikasi; serta Konstruksi lainnya. Estimasi output dengan metode pendekatan arus barang (Commodity Flow Approach) yaitu suatu metode pendugaan output sektor konstruksi berdasarkan input yang diperoleh dari sektor lain. Susunan input dari Survei Tahunan Perusahaan Konstruksi AKI (Asosiasi Konstruksi Indonesia) dan Non AKI yang dilakukan BPS. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR KONSTRUKSI

27 27 Sektor perdagangan mencakup kegiatan pengumpulan dan pendistribusian barang baru maupun bekas, oleh para pedagang. Pendistribusian tersebut dimulai dari tangan produsen (untuk produk dalam negeri) dan importir (untuk produk impor) sampai ke tangan konsumen tanpa merubah sifat dari barang tersebut. Menurut fungsi dan tujuannya perdagangan dibedakan ke dalam 2 jenis kegiatan, yaitu perdagangan besar dan perdagangan eceran. Estimasi output perdagangan merupakan jumlah margin dari nilai barang yang diperdagangkan. Perhitungan output ini dilakukan dengan melakukan pendekatan arus barang, yaitu total nilai barang yang diperdagangkan dikalikan dengan rasio margin perdagangan. Data mengenai total nilai barang diperdagangkan yang berasal dari produk domestik diperoleh dari hasil estimasi output masing-masing komoditi, sedangkan yang berasal dari produk impor diperoleh dari statistik impor (BPS). Sedangkan data mengenai rasio margin perdagangan baik untuk produk domestik maupun impor diperoleh dari survei khusus (SKIO). Struktur input perdagangan berasal dari SKIO. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR PERDAGANGAN

28 28 Restoran Kegiatan restoran mencakup kegiatan penyediaan makanan dan bersihan jadi untuk dikonsumsi dengan jalan menghidangkan di tempat penjualan (dikonsumsi langsung) atau tidak di tempat (dibawa pergi). Cara penjualannya bisa dilakukan pada suatu tempat tertentu secara menetap maupun dijajakan secara berkeliling. Estimasi output restoran diperoleh dengan cara mengalikan tenaga kerja dengan rata-rata output per tenaga kerja. Data tenaga kerja dari Sensus Penduduk atau Survei Angkatan Kerja Nasional, rata- rata output per tenaga kerjanya dari SKIO Struktur input restoran berasal dari SKIO. Hotel Kegiatan hotel mencakup kegiatan penyediaan akomodasi yang menggunakan satu atau sebagian dari bangunan sebagai tempat penginapan, atas dasar suatu pembayaran. Estimasi output perhotelan diperoleh dengan mengalikan jumlah kamar yang tersedia dikalikan dengan tingkat pengisian (load factor) dikali dengan ratarata output per kamar. Data jumlah kamar dari Publikasi Statistik Pariwisata (BPS) dan Dirjen Pariwisata. Rata-rata output per kamar diperoleh dari SKIO. Struktur input hotel berasal dari SKIO. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR HOTEL DAN RESTORAN

29 29 Pada Tabel IO Indonesia, sektor pengangkutan dan komunikasi dibedakan menjadi 7 sektor yaitu Angkutan rel; Angkutan jalan raya; Angkutan sungai danau dan penyebrangan Angkutan laut Angkutan udara Jasa penunjang angkutan Komunikasi Estimasi output dengan metode pendapatan dari laporan keuangan perusahaan terkait seperti PT. KAI, ASDP, garuda, Telkom, Indosat dan sebagainya. Susunan input dari laporan keuangan perusahaan terkait tersebut dan hasil SKIO. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI ESTIMASI OUTPUT SEKTOR PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

30 30 Pada Tabel IO Indonesia, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dibedakan menjadi 5 sektor yaitu Bank; Asuransi dan dana pensiun; Lembaga keuangan lainnya Real estate Jasa perusahaan Estimasi output dengan metode pendapatan dari laporan keuangan perusahaan terkait seperti Bank Indonesia, Asosiasi Perasuransian, Dana Pensiun, Pegadaian dan sebagainya. Susunan input dari laporan keuangan perusahaan terkait tersebut dan hasil Survei Khusus Lembaga Keuangan Bukan Bank (SK-LKBB). ESTIMASI OUTPUT SEKTOR KEUANGAN, REAL ESTAT, DAN JASA PERUSAHAAN ESTIMASI OUTPUT SEKTOR KEUANGAN, REAL ESTAT, DAN JASA PERUSAHAAN

31 31 Pada Tabel IO Indonesia, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dibedakan menjadi 11 sektor yaitu Administrasi pemerintaahan Jasa pendidikan pemerintah Jasa pendidikan swasta Jasa kesehatan pemerintah Jasa kesehatan swasta Jasa pemerintah lainnya Jasa kemasyarakatan swasta lainnya Jasa film dan distribusi film Jasa hiburan dan rekreasi Jasa perbengkelan Jasa perorangan lainnya Estimasi output dengan metode pendapatan dari laporan data realisasi APBN diperoleh dari Direktorat Pengelolaan Kas Negara (DPKN) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DPbn) Departemen Keuangan dan pendekatan produksi (produksi dikali harga) untuk sektor jasa.. Susunan input diperoleh dari laporan perusahaan dan hasil SKIO. ESTIMASI OUTPUT SEKTOR JASA-JASA

32 32 UPDATING TABEL I-O Updating IO dilakukan dengan mendayagunakan data PDRB baik menurut lapangan usaha maupun penggunaan sebagai kontrol (Mangiri, 1999) Sumber data yang dibutuhkan: Tabel I-O propinsi yang akan di-update PDRB lapangan usaha PDRB penggunaan Ekspor dan impor menurut sektor Konsumsi RT menurut sektor (Susenas ) APBD menurut sektor Tenaga kerja menurut sektor (Sakernas) Rasio NTB menurut sektor (survey sektoral)

33 33 METODE RAS Dikembangkan Richard Stone, Cambridge Univ., 1961 Koefisien input tabel I-O dibuat berdasarkan koefisien input tahun sebelumnya ditambah dgn beberapa informasi tentang total penjualan output antarsektor, total input antarsektor, dan total output keseluruhan A(t) = R*A(0)*S A(t )=matriks koef input pd thn-t A(0)=matriks koef input pd thn-0 R=efek substitusi teknologi (penambahan jml permintaan tiap ouput sektor) S= efek perubahan jml input pd tiap sektor

34 34 PROSES UPDATING RAS Matriks Permintaan Antara (Intermediate Consumption) Matriks Permintaan Antara (Intermediate Consumption) Matriks Permintaan Akhir (Final Cons) Matriks Balas Jasa Faktor Produksi (Gross Value Added) Total Input Demand Impor Output Supply Identity unbalance

35 35 PROSES RAS UNBALANCE Matriks Permintaan Antara (Intermediate Consumption) Matriks Permintaan Antara (Intermediate Consumption) Matriks Balas Jasa Faktor Produksi (Gross Value Added) unbalance Distribusi unbalance ke total kolom Dist barisDist baris

36


Download ppt "2 TAHAPAN PENYUSUNAN TABEL I-O INDONESIA I.Penentuan Klasifikasi sektor II.Pengumpulan data dan informasi III.Penyusunan/estimasi 1.Output (control total/"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google