Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MEDIA TODAY, HOW YOU HANDLE IT Surabaya, 27 November 2012 Oleh: Akhmad Munir * *) - Ketua PWI Jawa Timur - Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Jatim - Kepala.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MEDIA TODAY, HOW YOU HANDLE IT Surabaya, 27 November 2012 Oleh: Akhmad Munir * *) - Ketua PWI Jawa Timur - Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Jatim - Kepala."— Transcript presentasi:

1 MEDIA TODAY, HOW YOU HANDLE IT Surabaya, 27 November 2012 Oleh: Akhmad Munir * *) - Ketua PWI Jawa Timur - Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Jatim - Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Jatim

2 Advertorial dan Publisitas Advertorial => Membayar ruang di media. Publisitas => Tidak perlu membayar ruang karena materinya bagian dari isi pemberitaan. “Oleh karena publisitas bagian dari isi media, maka tingkat kepercayaan publik thd publisitas lebih tinggi dibandingkan dengan iklan atau advertorial.”

3 Kenapa publisitas efektif? Sarana ampuh menginformasikan pesan kepada publik. Sifat media yang memiliki daya kuat untuk memengaruhi opini publik.

4 Bagaimana publisitas bisa efektif? Praktisi komunikasi atau PR/External Relations membangun hubungan baik dengan media massa. Komunikasi PR dengan Media adalah komunikasi timbal balik. Artinya selain memberikan informasi kepada media, PR juga harus mendengar masukan dari media. Menjaga sensivitas karena kepentingan PR dan media berbeda. PR ingin perusahaannya bercitra positif, sedangkan media ingin mendapatkan fakta untuk dijadikan bahan berita.

5 Yang harus dihindari agar publisitas efektif Jangan hanya mengirimkan rilis ketika ada berita besar, sebaliknya temukan alasan yang tepat untuk mengirimkan rilis (David Meerman Scott, The New Rules of Marketing&PR). Menjalin hubungan dengan media ketika perusahaan sedang ada masalah saja (Eddy Kurnia, Vice President Public&Marketing Communication PT Telkom).

6 Pertimbangkan beberapa hal sebelum mengeluarkan publisitas Perhatikan situasi dan kondisi serta kebutuhan perusahaan dan media. Identifikasi konten, apakah isu yang akan disiarkan terkait keputusan atau kebijakan strategis atau suatu hal bersifat kritis? Tentukan siapa pejabat yang paling tepat untuk dijadikan narasumber dalam materi publisitas itu. Jika konten siaran pers mengandung hal-hal sensitif dan memerlukan akurasi tinggi, maka beberapa pihak harus melakukan kajian secara simultan.

7 Cara menulis rilis efektif Menggunakan kata kerja dalam bentuk kalimat aktif. Contoh: “SEMEN GRESIK LUNCURKAN PROGRAM CSR” Hindari ungkapan teknis dan asing di telinga. Gunakan kata yang mudah dipahami pembaca dan susun kalimat secara sederhana. Hilangkan anggapan pembaca pasti mengerti istilah-istilah teknis, spt “PI”, “lifting”, “golden share”, dsb. Usahakan mencari padanan kata dari istilah tsb. Jangan Bosan Mengevaluasi. Setelah siaran pers disebarkan, pantau pemuatannya di media massa.

8 Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 Wartawan Indonesia bersikap Independen, menghasilkan berita yang akurat, seimbang dan tidak beritikad buruk. Pasal 2 Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

9 Pasal 3 Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Pasal 4 Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. Pasal 5 Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan

10 Pasal 6 Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Pasal 7 Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan. Pasal 8 Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, cacat jiwa, atau cacat jasmani.

11 Pasal 9 Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. Pasal 10 Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, atau pemirsa Pasal 11 Wartawan Indonesia melayani hak jawab, dan hak koreksi secara proporsional.

12 Bidang Etika Pers Fungsi Pers: media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan lembaga ekonomi. Hak Pers: kemerdekaan pers, tanpa sensor, menyampaikan gagasan dan informasi, serta bertanggung jawab. Kewajiban Pers: menyajikan peristiwa dan opini dg menghormati norma, melayani hak jawab, dan melayani hak koreksi.

13 Peran Pers: - memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. - menegakkan nilai-nilai demokrasi. - mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM. - mengembangkan pendapat umum berdas informasi yg tepat, akurat, dan benar. - mengawasi kritik, koreksi, dan saran terkait kepentingan umum. - memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

14 Pers sebagai institusi sosial Menjadi subsistem kemasyarakatan yang kompleks utk memenuhi hajat masyarakat. Harus sanggup hidup bersama lembaga masyarakat lainnya dalam suasana keserasian. Menggairahkan interaksi positif untuk membangun keterbukaan informasi dan komunikasi yg bermanfaat untuk pembangunan nasional dengan penuh tanggung jawab.

15 I. Ragam Teknik Reportase Cukup Banyak Tiga jenjang kegiatan reportase : 1.Reportase Dasar (Straight News) 2. Reportase Madya (News Feature) 3. Reportase Lanjutan (News Analysis) Setiap peristiwa dapat dilaporkan dengan ketiga cara kegiatan tersebut

16 II. Empat Kelompok Berita A. Berita Lempang B. Feature (News Feature) Feature : tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian, situasi atau aspek kehidupan seseorang (Williamson : Feature Writing for Nwespapers, Hastings House, New York) Spot News/Straight News Laporan Kejadian mengandung unsur-unsur “5W+1H”

17 C. Berita Cukup Kompleks  Interpretative Report (Interpretative News)  Depth Report (Depth News) Berita tidak cukup berisi unsur-unsur 5W+1H, tapi masih perlu diperhatikan tiga hal : 1.Latar belakang (background) 2.Tafsiran (interpretation) 3.Warna (colour, pelukisan suasana, atmosphere)

18 D. Aliran Precision Journalism (Jurnalisme Presisi) Muncul mulai 1970-an. Gunakan penelitian sebagai alat ukur untuk sajikan objektivitas dan ketepatan berita Banyak surat kabar atau majalah menyajikan penelitian kuantitatif sebagai dasar tulisannya Berkembang pengumpulan pendapat atau public opinion polling Wartawan dituntut menguasai teknik-teknik penelitian dn sekaligus dapat menganalisisnya untuk menjadi sebuah berita yang dijamin objektif dan ketepatannya

19 III. Dua Ragam Teknik Reportase A.Reportase Sederhana (Straight Reporting) Contoh : 1.Reportase hasil perjalanan keliling Pulau Jawa 2.Reportase jalannya pemilu dan sebagainya B.Reportase Mendalam (Indepth Reporting) Reportase jenis ini maskin banyak dan berat tantangannya untuk mendapatkan informasi yang diperlukan

20 IV. Ragam Indepth Reporting Miliki aneka jenis reportase A. INTERPRETATIVE REPORTING A.Interpretative reporting B.Participle reporting C.Investigative reporting (pelaporan selidikan) Berita fakta, peristiwa atau kejadian yang diberi interprestasi (penjelasan atau latar belakang) Kejadian merupakan satu mata rantai yang mempunyai penyebab dan akibat Mengumpulkan suatu analisis, interpretasi beberapa narasumber dengan pokok arahan dari penulisnya

21 B. PARTICIPLE REPORTING Contoh : Menulis reportase mendalam tentang dunia pelacuran Wartawan perlu terjun dan menyatu dengan para pelacur itu. Bila penulisnya wanita, perlu melakukan penyamaran sebagai pelacur, tanpa harus ikut mempraktikan sebagai pelacur sungguhan Digarap wartawan yang berani dan punya jiwa petualangan. Bersedia “masuk” ke dalam kehidupan masyarakat yang akan ditulisnya

22 C. INVESTIGATIVE REPORTING (PELAPORAN SELIDIKAN) Pelaporan selidikan, bentuk jurnalisme yang tidak mudah dilakukan di mana pun. Teristimewa di negara sedang berkembang (dunia ketiga). Sistem pers di dunia ketiga merupakan bagian integral dari pemerintah nasional. Jurnalisme investigasi mencapai cakupan lebih luas dan menjangkau pelaporan tafsiran mendalam (interpretative indepth reporting). Kegiatan penuh tantangan dan banyak problema. Wartawan dituntut memiliki kepekaan dan ketajaman indera keenamnya.

23 Siapakah reporter penyelidik ? Reporter penyelidik identik dengan gabungan antara ‘pejuang berani mati, detektif super, dan anjing polisi” yang terus menerus mencari jejak kejahatan, penjahat, korupsi, dan kelemahan moral manusia.” Wartawan ulet, sinis, memiliki tujuan hidup yakni “membalikkan setiap batu untuk melihat binatang melata apa yang menjalar keluar dari bawahnya” Skandal Watergate, berdampak Presiden Nixon turun dari gedung Putih. Atas kegigihan melakukan reportase untuk mengungkap skandal tersebut, dua wartawan The Washington Post dapat penghargaan tertinggi karya jurnalistik Pulitzer TERIMA KASIH


Download ppt "MEDIA TODAY, HOW YOU HANDLE IT Surabaya, 27 November 2012 Oleh: Akhmad Munir * *) - Ketua PWI Jawa Timur - Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Jatim - Kepala."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google