Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Liberalisme dan Sosialisme Sebagai perjuangan moral PERTEMUAN KE-5.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Liberalisme dan Sosialisme Sebagai perjuangan moral PERTEMUAN KE-5."— Transcript presentasi:

1 Liberalisme dan Sosialisme Sebagai perjuangan moral PERTEMUAN KE-5

2 ETIKA BISNIS 2 Liberalisme menekankan milik pribadi sebagai salah satu hak manusia yang terpenting Sosialisme berpendapat bahwa milik tidak boleh dibatasi pada kepentingan individu saja, melainkan mempunyai fungsi sosial. Perjuangan ideologis antara liberalisme dan sosialisme selama abad ke-19 dan ke-20 sebagian besar menghasilkan tatanan ekonomi dunia sekarang dan dengan jelas mempunyai aspek-aspek etis. Pandangan Liberalisme dan Sosialisme terhadap Milik

3 ETIKA BISNIS 3 TINJAUAN SEJARAH 1.John Locke dan Milik Pribadi 2.Adam Smith dan Pasar Bebas 3.Marxisme dan kritiknya atas milik pribadi

4 ETIKA BISNIS 4 John Locke dan Milik Pribadi orang yang pertama kali mendasarkan teori liberalisme tentang milik Manusia mempunyai tiga hak kodrat: 1.Hak untuk hidup (life) 2.Hak untuk bebas (freedom) 3.Hak atas milik (property) Tuhan telah menyerahkan dunia kepada semua manusia bersama-sama. Pada waktu itu belum satu orang pun menyebut sesuatu sebagai miliknya sendiri.

5 ETIKA BISNIS 5 John Locke, lanjutan ….. Mengapa sekarang bisa timbul milik pribadi? Menurut Locke, karena pekerjaan. Setiap manusia adalah tuan serta penguasa penuh atas kepribadiannya, atas tubuhnya dan atas tenaga kerja yang berasal dari tubuhnya. Dengan menambahkan pekerjaannya, manusia membuat sesuatu menjadi miliknya sendiri.

6 ETIKA BISNIS 6 Adam Smith dan Pasar Bebas Smith memandang pekerjaan sebagai sumber hak milik, tenaga kerja merupakan milik yang paling suci dan tidak boleh diganggu gugat. Manusia secara khusus memiliki produktivitas dari pekerjaannya, produktivitas kerja menghasilkan kemakmuran, karena produktivitas kerja, suatu ekonomi dapat tumbuh. Pentingnya pembagian kerja, karena akan meningkatkan produktivitas kerja. Secara ekonomis pembagian kerja dapat dijalankan bila suatu produk dapat dihasilkan dan dipasarkan secara besar-besaran. (ingat produk peniti).

7 ETIKA BISNIS 7 Pemikiran Smith tentang sistem ekonomi pasar bebas mempunyai beberapa implikasi etika yang menarik yaitu : Motivasi untuk mengambil bagian dalam kegiatan tukar-menukar di pasar adalah kepentingan-diri. Harus diakui! Tidak boleh langsung ditarik kesimpulan bahwa kegiatan ekonomis di pasar tidak etis. Semua orang ingin bisa maju dalam kehidupannya, ambisi ini tidak pernah meninggalkan manusia seumur hidup, kita ingin agar kita sendiri maju, bukan supaya orang lain maju. Apakah sikap dasar kita semua tidak etis? Menurut Smith, hal itu karena setiap manusia memilik kepentingan diri/self-interest  egoisme. Egoisme merupakan suatu keburukan; yang kedua adalah cinta diri/self-love, bukan merupakan nilai keutamaan, cinta diri bersifat netral motif yang sah untuk kelakuan kita, kalau berlebihan nantinya akan menuju egoisme, merupakan suatu keburukan juga.

8 ETIKA BISNIS 8 Berilah aku sesuatu yang aku inginkan, dan anda akan mendapatkan sesuatu yang anda inginkan. Memcari kepentingan diri pada kenyataanya menguntungkan untuk kedua belah pihak. Berlaku etis kalau, penjual tidak boleh merugikan pembeli, pembeli tidak boleh merugikan penjual. Berlaku tidak etis kalau penjual menjual barang yang sudah kedaluwarsa atau busuk, pembeli membayar dengan uang palsu. Keduanya harus menerapkan aturan-aturan kebijaksanaan (kaidah emas) Lawan egoisme adalah altruisme. Altruisme adalah sikap suka memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Cinta-diri dan kepentingan diri terletak antara egoisme dan altruisme. Kepentingan diri merupakan motivasi utama yang mendorong kita untuk mengadakan kegiatan ekonomis. Kita berbisnis demi kepentingan kita sendiri. Contoh kita beli beras di pasar atau bahan lainnya.

9 ETIKA BISNIS 9 Adam Smith merumuskan pikiran dalam sebuah teks yang terkenal: “Bukan dari kebaikan tukang masak kita mengharapkan santapan malam kita, melainkan dari perhatian mereka untuk kepentingan mereka sendiri. Bila memasuki restoran, kita tidak mengarahkan diri kita kepada perikemanusiaan mereka, melainkan kepada cinti- diri mereka, dan tidak pernah berbicara tentang kebutuhan kita sendiri melainkan tentang keuntungan mereka. Kecuali seorang pengemis, memilih menggantungan diri pada kebaikan hati sesama manusia”. Kegiatan ekonomis menuntut sikap etis atau nilai keutamaan, tapi bukan kebaikan hati. Kebaikan hati adalah keutamaan yang penting jika kita berkarya amal, dalam konteks bisnis tidak ada relevansinya. Kegiatan ekonomis di pasar bukan saja menguntungkan bagi pihak-pihak yang langsung terlibat di dalamnya, tetapi bermanfaat juga untuk masyarakat sebagai keseluruhan. Dengan mengikuti sistem pasar, akan tercipta kemakmuran paling besar dalam masyarakat.

10 ETIKA BISNIS 10 Menurut paham aliensi atau keterasingan bahwa sistem kapitalisme liberal, manusia itu terasing dari dirinya sendiri, terasing dari kodratnya sebagai manusia. Sistem pekerjaan upahan merupakan biang keladi dari keterasingan. Pekerja tidak bisa lagi merealisasikan diri dalam pekerjaannya, karena produk kerjanya menjadi milik majikan. Si pekerja menjual tenaga kerjanya dan sebagai gantinya dia memperoleh upah. Milik pribadi merupakan akibat dari pekerjaan yang teralienasi dan serentak juga merupakan sarana yang menyebabkan alienasi dari pekerjaan, Situasi ini tidak dapat diperbaiki dengan memperjuangkan upah lebih pantas untuk kaum buruh, sebagaimana yang diusahakan oleh kaum sosialis. Marxisme dan kritiknya atas hak milik pribadi

11 ETIKA BISNIS 11 Karena situasi itu, maka kaum maxixme menolak milik probadi. Marxixme menolak pemilikan pribadi atas kapital atau modal, sebab yang memiliki kapital dengan sendirinya memiliki juga sarana- sarana produksi. Manifesto Komunis menegaskan bahwa Kapital bukannya kekuatan pribadi, melainkan kekuatan sosial. Kapital merupakan produk dari pekerjaan kolektif dan serentak juga berfungsi sebagai sarana untuk pekerjaan kolektif. Kapital menurut kodratnya sendiri berkaitan dengan kepentingan seluruh masyarakat dan karena itu harus menjadi milik umum. Lembaga milik pribadi pada dasarnya merupakan penindasan atau eksploitasi kaum pekerja. Kapitalis menjadi pemilik dengan menghisap tenaga kerja orang lain.

12 ETIKA BISNIS 12 Pertentangan dan Perdamaian antara Liberalisme dan Sosialisme Liberalisme Keadaan ekonomi harus berjalan menurut hukum penawaran- permintaan. Keadaan ekonomi paling baik akan tercapai bila mekanisme pasar bisa menentukan segala-galanya: harga jual, kesempatan kerja, volume produksi dan lainnya. Suasana bebas ini harus diberikan kesempatan sebesar-besarnya dalam persaing. Dengan menyerahkan semuanya pada kekuatan pasar, akan tercipta keseimbangan sosio-ekonomi yang paling bagus. Setiap bentuk monopoli ditolak oleh mereka, karena monopoli merupakan buah hasil intervensi, demikian pula dengan proteksionisme.

13 ETIKA BISNIS 13 Sosialisme dilihat sebagi reaksi atas ketidakberesan dalam masyarakat yang disebabkan oleh liberalisme. Sosialisme Pertentangannya adalah: Liberalisme menempatkan individu di atas masyarakat, sedangkan sosialisme menempatkan masyarakat di atas individu. Masyarakat uang diatur secara liberalisme ditandai egoisme, sedangkan masyarakat yang diatur secara sosilisme ditandai solidaritas atau kesetiakawanan. Liberalisme menekankan hak atas milik, sosialismemenekankan pada hak milik bersama.

14 ETIKA BISNIS 14 Milik pribadi diakui sebagai cara penting untuk mewujudkan kebebasan pribadi. KEKUATAN DAN KELEMAHAN Kekuatan Liberalisme : Kurang memperhatikan nasib kaum miskin dan orang yang kurang beruntung Kelemahan Liberalisme : Milik selalu mempunyai fungsi sosial dan tidak pernah boleh dibatasi pada kepenting pribadi saja. Kekuatan Sosialisme : Jika barang dimiliki bersama, tanggung jawab kurang dirasakan, barang yang kita miliki sendiri akan dirawat dan dipelihara agar tetap dalam keadaan baik. Kelemahan Sosialisme :

15 ETIKA BISNIS 15 Menuju Perdamaian Sosialisme gagal karena harus mengakui keunggulan sistem ekonomi pasar bebas. Liberalisme gagal karena harus meninggalkan prinsip dasarnya yaitu laissez faire atau non intervensi pemerintah. Situasi akhir abad 20, yang berlaku untuk sosialisme berlaku juga untuk liberalisme. Seluruh jaminan sosial, direncanakan dan diselenggarkan oleh negara.

16 ETIKA BISNIS 16 ETIKA PASAR BEBAS Kompetisi dalam pasar bebas harus berprinsip pada keadilan seperti kompetisi dalam olahraga. Kompetisi bertentangan dengan monopoli dan oligopoli. Kompetisi dalam bisnis menuntut adanya kerja sama dengan pihak lain.


Download ppt "Liberalisme dan Sosialisme Sebagai perjuangan moral PERTEMUAN KE-5."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google