Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KETAHANAN LINGKUNGAN: KELESTARIAN & KONSERVASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KETAHANAN LINGKUNGAN: KELESTARIAN & KONSERVASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013."— Transcript presentasi:

1 KETAHANAN LINGKUNGAN: KELESTARIAN & KONSERVASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013

2 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Berdasarkan analisis, biaya degradasi lingkungan terhadap perekonomian Indonesia dapat dirangkum sebagai berikut: Modal alam yang mencapai sekitar seperempat total kekayaan Indonesia tapi menyusut cepat dan tidak diimbangi dengan investasi yang mencukupi dalam modal sumber daya manusia atau yang dihasilkan. Perubahan iklim akan menciptakan sejumlah dampak negatif di Indonesia, termasuk penurunan produksi panen, risiko banjir yang lebih besar, serta penyebaran penyakit bawaan vektor yang lebih luas, dengan proyeksi biaya ekonomi mencapai 2,5-7,0 persen PDB di tahun Sanitasi yang buruk diperkirakan telah menimbulkan biaya kesehatan, air, pariwisata yang besar dan biaya kesejahteraan lain senilai lebih dari $6 miliar di tahun 2005, atau lebih dari 2 persen PDB tahun itu. Polusi udara di luar dan dalam ruangan diperkirakan menimbulkan dampak kesehatan sekitar $5.5 miliar per tahun atau sekitar 1,3 persen PDB (2007). Penggundulan hutan sejak 2001 telah mencapai lebih dari 1 juta hektare per tahun. Tingkat ini telah mengalami penurunan dari 2,5 juta hektare per tahun, tapi masih sangat tinggi dibandingkan dengan negara berhutan tropis lain. Penggundulan hutan dan konversi lahan gambut menyebabkan degradasi lingkungan, kerugian kesehatan dan keanekaragaman hayati, serta emisi gas rumah kaca. “Degradasi lingkungan menimbulkan biaya tinggi untuk Indonesia. Namun, melalui pemberlakuan undang-undang baru mengenai lingkungan, ketenagalistrikan dan pengelolaan limbah padat, Indonesia secara jelas berada di jalur menuju masa depan dengan lingkungan yang lebih lestari,” ujar Joachim von Amsberg, Kepal Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. “Langkah selanjutnya dalam transformasi ini adalah menyeimbangkan kerangka kerja hukum ini dengan kapasitas dan insentif yang memadai di semua tingkat pemerintahan, sekaligus mengambil tindakan adaptasi dan mitigasi yang sesuai untuk mengatasi perubahan iklim.” Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

3 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Indonesia telah diidentifikasi sebagai salah satu negara Asia yang paling rentan terhadap bahaya perubahan iklim. Kekeringan, banjir, kenaikan permukaan laut, dan longsor merupakan bahaya yang akan berdampak pada masyarakat miskin yang tinggal di pesisir pantai dan bergantung pada pertanian, perikanan dan kehutanan sebagai sumber penghasilan mereka. Namun, dengan tindakan adaptasi yang tepat, manfaat tahunan dari menghindari kerusakan akibat perubahan iklim kemungkinan akan melebihi biaya tahunan tanpa adanya investasi adaptasi sampai “Perubahan iklim meningkatkan kesulitan dalam mencapai pembangunan yang berkesinambungan, sekaligus membawa peluang untuk pertumbuhan rendah karbon dan pembiayaan iklim untuk mitigasi dan adaptasi. Seperti yang disebutkan dalam pidato Presiden Yudhoyono pada pertemuan G-20 terbaru, hal yang lebih penting adalah Indonesia benar-benar berkomitmen untuk mencapai kelestarian dan telah mengambil tindakan” (Timothy H. Brown, Senior Natural Resources Specialist untuk Bank Dunia di Indonesia). “Mitra internasional seperti Bank Dunia siap membantu Indonesia mencapai kesinambungan yang lebih besar dan mewujudkan ambisi pertumbuhan rendah karbon.” Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

4 Country Environmental Analysis: Pilihan Memperluas Akses ke Tata Kelola Lingkungan Sumber: SAEXTN/0,,contentMDK: ~pagePK: ~piPK:217854~theSitePK:447244,00.html… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN PemerintahBekerja bersama pemangku kepentingan lain dalam mengawasi dan menilai kinerja lembaganya dalam memenuhi akses ke informasi, partisipasi dan keadilan, serta mendorong adopsi kebijakan yang lebih menjamin pencapaiannya. Mendorong proses reformasi hukum yang menyelaraskan situasi de jure dan de facto. Menyediakan sistem terintegrasi yang dapat menjamin akses, terutama untuk kelompok yang terpinggirkan. Mengembangkan kapasitas lembaganya melalui penugasan staf yang dilatih secara khusus, penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang diperlukan, serta alokasi pendanaan yang memadai. Meningkatkan kerja sama dengan media dan LSM, serta pemangku kepentingan lain yang berpotensi mendorong pencapaian prinsip akses. MediaSecara aktif dan terus menerus memeriksa kinerja pemerintah dalam hal akses. Meningkatkan perhatian terhadap masalah lingkungan, termasuk pengambilan keputusan yang kemungkinan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. LSMMemonitor proses reformasi hukum untuk memastikan bahwa kesenjangan antara situasi de facto dan de jure dapat dijembatani. Bekerja sama dengan Pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk mendorong akses yang lebih baik. Mendorong peningkatan permintaan publik atas akses ke informasi, partisipasi dan keadilan. Mengembangkan kapasitasnya sendiri dan kapasitas publik, terutama kelompok yang terpinggirkan dalam mendapatkan akses ke informasi, partisipasi dan keadilan.

5 Country Environmental Analysis: Adaptasi Perubahan Iklim KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Reaktif/ResponsifProaktif/Antisipatif Sumber Daya Air Perlindungan terhadap sumber daya air tanah Peningkatan pengelolaan dan pemeliharaan sistem pasokan air yang ada Perlindungan terhadap daerah tangkapan air Peningkatan pasokan air Pengumpulan dan desalinasi air tanah dan air hujan Penggunaan air daur ulang yang lebih baik Konservasi daerah tangkapan air Peningkatan sistem pengelolaan air Reformasi kebijakan mengenai air termasuk kebijakan irigasi dan penetapan harga Pengembangan pengendalian banjir dan pengawasan kekeringan PertanianPengendalian erosi Pembangunan bendungan untuk irigasi Perubahan dalam penggunaan dan aplikasi pupuk Pengenalan panenan baru Pemeliharaan kesuburan tanah Perubahan dalam waktu tanam dan panen Pergantian ke tanaman pangan yang berbeda Program pendidikan dan penjangkauan mengenai konservasi dan pengelolaan tanah dan air Pengembangan panenan berdaya tahan (terhadap kekeringan, garam, serangga/hama) Penelitian dan pengembangan Pengelolaan tanah dan air Diversifikasi dan intensifikasi pangan dan tanaman pangan Tindakan kebijakan, insentif pajak/subsidi, pasar bebas Pengembangan sistem peringatan dini KehutananPeningkatan sistem pengelolaan termasuk pengendalian penggundulan hutan, reboisasi, dan konversi tanah menjadi hutan Promosi pertanian kehutanan untuk meningkatkan barang dan jasa kehutanan Pengembangan/peningkatan rencana pengelolaan kebakaran hutan nasional Peningkatan penyimpanan karbon di hutan Penciptaan taman/cagar alam, lindungan dan koridor keanekaragaman hayati Identifikasi/pengembangan spesies yang tahan terhadap perubahan iklim Penilaian kerentanan ekosistem yang lebih baik Pengawasan spesies Pengembangan dan pemeliharaan bank benih Sistem peringatan dini kebakaran hutan Pantai/LautPerlindungan terhadap infrastruktur ekonomi Kesadaran masyarakat untuk meningkatkan perlindungan terhadap ekosistem pantai dan laut Pembangunan tembok laut dan penguatan pantai Perlindungan dan konservasi terumbu karang, hutan bakau, rumput laut, dan tanaman pantai Pengelolaan zona pantai terintegrasi Perencanaan dan pembagian daerah pantai yang lebih baik Pengembangan peraturan atas perlindungan pantai Penelitian dan pengembangan ekosistem pantai KesehatanReformasi pengelolaan kesehatan masyarakat Peningkatan kondisi perumbahan dan kehidupan Peningkatan tanggapan darurat Pengembangan sistem peringatan dini Pengamatan dan pengawasan yang lebih baik terhadap penyakit/vektor Peningkatan kualitas lingkungan Perubahan dalam rancangan perkotaan dan perumahan Sumber: SAEXTN/0,,contentMDK: ~pagePK: ~piPK:217854~theSitePK:447244,00.html… diunduh 31 Maret 2012

6 MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN, INDOSAT MENANAM POHON “ Kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama, Indosat berinisiatif untuk turut mengambil peran aktif dengan mendukung program Pemerintah melalui Program Penanaman Pohon ini, yang tidak hanya menanam namun juga turut memelihara untuk memastikan pohon yang kita tanam benar-benar tumbuh dan nantinya memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. ” Program yang dilakukan Indosat bekerjasama dengan para mitra serta didukung oleh Departemen Kehutanan ini telah berhasil menyelesaikan program penanaman pohon di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dimulai sejak November 2010, di beberapa wilayah seperti Jatiluhur, daerah aliran sungai Ciliwung, Citarum, Cisadane, Cihedeung, dan Ciapus, yang tersebar di 13 Kelurahan dan 1 Kecamatan di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Berbeda dengan program sejenis lainnya, tidak hanya program penanaman, namun Indosat akan turut bertanggung jawab dalam program pemeliharaan bersama dengan masyarakat setempat secara partisipatif pada tahap awal, untuk selanjutkan kegiatan pemeliharaan akan diserahkan kepada masyarakat secara mandiri. Penanaman pohon difokuskan pada daerah pinggiran aliran sungai, dimana berdasarkan data lapangan, daerah sekitar aliran sungai merupakan daerah yang mengalami kerusakan cukup parah, meliputi kerusakan biofisik dan juga penurunan kualitas air. Kondisi ini juga semakin menurun dari tahun ke tahun. Fokus kegiatan penanaman bibit pohon adalah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) bertujuan untuk turut berperan memelihara kesinambungan ekosistem di daerah aliran sungai yang rawan banjir. Sumber: Pohon# … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Program Hijau Indosat Dalam kesempatan ini, Indosat juga meresmikan program pembibitan dan pembuatan kompos yang berlokasi di kantor Indosat Daan Mogot. Program ini telah dilakukan sejak tahun 2008 untuk mendukung berjalannya program Indonesia Hijau. Pelaksanaan program Indonesia Hijau juga diterapkan di lingkungan internal dengan menanam lebih dari 1000 pohon yang apabila telah berkembang baik, pohon-pohon tersebut secara rutin dialokasikan untuk kebutuhan penghijauan di kantor Indosat di Jakarta. Disamping itu juga dibuat 400 lubang biopori yang berfungsi sebagai lubang resapan air di lingkungan Indosat Daan Mogot.

7 Solusi alternatif bagi kelestarian lingkungan Budidaya Sayuran Organik Sistem pertanian konvensional disinyalir berpotensi mencemari lingkungan dan kesehatan manusia. Untuk mengatasinya dikembangkan pertanian organik yang dapat menjadi solusi alternatif bagi kelestarian lingkungan dan pertanian yang lebih produktif. Sumber: diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Prospek Pertanian Organik di Indonesia Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco- labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat. Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. (Sumber: BALITBANG PERTANIAN)

8 Hutan Bernilai Koservasi Tinggi Dalam pengelolaan lingkungan, Perhutani melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap keberadaan High Conservation Value Forest (HCVF) atau Kawasan hutan bernilai konservasi yang tinggi di wilayah pengelolaan hutannya. HCVF adalah kawasan-kawasan yang memiliki satu atau lebih ciri-ciri berikut: 1.HCV1 merupakan wilayah-wilayah hutan yang merupakan tempat konsentrasi nilai-nilai keanekaragaman hayati tinggi (misalnya endemisme, spesies-spesies langka atau terancam, tempat pengungsian satwa/refugia dan lain-lain), baik yang memiliki signifikansi nasional, regional maupun global. 2.HCV2 adalah kawasan hutan yang mempunyai tingkat lanskap yang luas yang penting secara global, regional dan lokal, yang berada di dalam atau mempunyai unit pengelolaan, dimana sebagian besar populasi species, atau seluruh species yang secara alami ada di kawasan tersebut berada dalam pola- pola distribusi dan kelimpahan alami. 3.HCV3 adalah wilayah-wilayah hutan yang berada di dalam, atau mencakup, ekosistem-ekosistem yang langka atau terancam punah. 4.HCV4 yaitu wilayah-wilayah hutan yang menye­diakan fungsi-fungsi dasar lingkungan alami dalam situasi kritis (misalnya, perlindungan DAS, pengendalian erosi dan lain-lainnya.) 5.HCV5 adalah wilayah-wilayah hutan yang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal (misalnya, pemenuhan subsistensi, kesehatan dan lain- lainnya.) 6.HCV6 adalah wilayah-wilayah hutan yang penting sebagai identitas budaya masyarakat lokal (memiliki sig­nifikansi budaya, ekologis, ekonomis atau religi; teridenti­fikasi dalam proses bersama masyarakat setempat). Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

9 Kelola Biodiversity Perhatian terhadap keanekaragaman hayati flora dan fauna yang terdapat di kawasan hutan merupakan salah satu komitmen Perhutani dalam mengelola lingkungan. Kegiatan yang dilakukan adalah Survey potensi biodiversity, penetapan species interest, penetapan kawasan, dan kegiatan pengelolaan. Kegiatan survey biodiversity merupakan langkah awal untuk menentukan prioritas konservasi terhadap keanekaragaman hayati suatu kawasan. Survey biodiversity dilakukan di Stasiun-stasiun Pemantauan Biodiversity yang berasal berbagai tipe habitat. Baik di Kawasan Lindung (Hutan Lindung, Sempadan Sungai/Mata Air/Pantai/Danau, Jurang, Hutan Alam Sekunder (HAS), dan Wana Wisata) ataupun Kawasan Produksi. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN. VEGETASI MANGROVE Mangrove mempunyai komposisi vegetasi tertentu. Pembentuk kelompok vegetasi ini adalah berbagai spesies tanaman mangrove yang dapat ber adaptasi secara fisiologis terhadap lingkungan yang khas, yaitu salinitas tinggi, sedang atau rendah, tipe tanah yang didominasi lumpur, pasir atau lumpur berpasir, dan terpengaruh pasang surut sehingga terbentuk zonasi. Setiap lokasi mangrove mempunyai keanekaragaman vegetasi yang berbeda, bergantung pada umur mangrove tersebut. Perbedaan vegetasi tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan salinitas. Pada perairan dengan salinitas tinggi di tepi pantai dijumpai komunitas Rhizophora apiculata, R. mucronata, Soneratia alba, dan Bruguera gymnorrhiza. Menurut Kitamura et al. (1997), vegetasi mangrove dapat dibagi menjadi tiga, yaitu vegetasi utama, vegetasi pendukung, dan vegetasi asosiasinya. Di mangrove Pulau Bali dan Lombok ditemukan 17 spesies vegetasi utama, di antaranya R. apiculata, R. mucronata, B. gymnorrhiza, B. cylindrica, dan Xylocarpus granatum (vegetasi utama), 13 spesies vegetasi pendukung antara lain A. aureum, Aegiceras corniculatum, dan A. floridum, serta 19 spesies vegetasi mangrove asosiasi, misalnya Acanthus sp., Baringtonia sp., Callophyllum sp., Calotropis sp., Cerbera sp., Clerodendron sp., dan Derris sp. Sumber: Jurnal Litbang Pertanian, 23(1), 2004

10 Pengendalian Dampak Aktivitas pengelolaan lingkungan meliputi penerapan kaidah-kaidah konservasi pada penanaman dan rehabilitasi, penetapan kawasan perlindungan serta pembuatan stasiun pengamat lingkungan (SPL) terhadap masalah erosi, debit air, sedimentasi, curah hujan serta biodiversity dan pemantauan bahan beracun berbahaya (B3) Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN FUNGSI MANGROVE Mangrove biasanya berada di daerah muara sungai atau estuarin sehingga merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. Dengan demikian, daerah mangrove merupakan daerah yang subur, baik daratannya maupun perairannya, karena selalu terjadi transportasi nutrien akibat adanya pasang surut. Mangrove mempunyai berbagai fungsi. Fungsi fisiknya yaitu untuk menjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah sebagai habitat benih ikan, udang, dan kepiting untuk hidup dan mencari makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik seperti burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber plasma nutfah. Fungsi ekonomis mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan. Sumber: Jurnal Litbang Pertanian, 23(1), 2004

11 Pengembangan Hutan Rakyat Untuk mempercepat terwujudnya pembangunan wilayah Jawa dan Madura khususnya peningkatan kualitas lingkungan di luar kawasan hutan, Perum Perhutani sejak tahun 2009 melalui Direktorat Rehabilitasi & Usaha Hutan Rakyat bekerja mendorong masyarakat menciptakan peluang bisnis perhutanan rakyat dengan target 2 juta hektar sekaligus merehabilitasi lahan mereka. Manfaat pengembangan hutan rakyat antara lain: 1.Perluasan penutupan lahan hutan di wilayah pulau Jawa-Madura, 2.Meningkatkan kualitas biofisik lingkungan, 3.Penurunan tingkat potensi bahaya erosi, laju sedimentasi dan tanah longsor melalui keberhasilan lahan kritis dan pengelolaaan lahan berkaidah konservasi, 4.Perbaikan iklim mikro dalam bentuk peningkatan produksi oksigen dan penyerapan emisi karbon, 5.Peningkatan produktifitas lahan dan pendapatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan tanaman kehutanan cepat tumbuh (FGS), tanaman buah-buahan dan tanaman hortikultura, 6.Peningkatan supply produksi kayu dan pengembangan industrinya, 7.Penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, 8.Peningkatan pendapatan perusahaan dan masyarakat. Sumber: diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

12 Pengelolaan Kawasan Konservasi Indonesia : Konflik Kepentingan Konservasi Lingkungan Hidup dengan Kepentingan Rakyat - Hari Bumi 2009 Untuk pengelolaan hutan konservasi, seperti taman nasional, cagar alam, taman buru, hutan wisata dan hutan lindung, dilakukan pengelolaan oleh pemerintah melalui unit pelaksana teknis sebagai perwakilan pemerintah di lapangan. Sebagian lokasi kawasan konservasi juga dikelola bersama dengan lembaga konservasi internasional. Hingga saat ini pengelolaan hutan konservasi masih sangat jauh dari sisi pengelolaan hutan oleh rakyat, karena pengertian konservasi sebagai kawasan yang "steril" dari masyarakat masih menjadi pegangan pemerintah dalam pengelolaan hutan. Hal tersebut mengakibatkan seringnya terjadi konflik antara rakyat dengan pengelola kawasan, misalnya di Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Lore Lindu, Taman Nasional Rawa Aopa Watumoai, Taman Nasional Gunung Halimun, dan beberapa kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Sumber: %20Konflik%20Kepentingan%20Konservasi%20Lingkungan%20Hidup%20dengan%20Kepentingan%20Ra kyat%20-%20Hari%20Bumi%202009&&nomorurut_artikel=315… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

13 Pengelolaan Kawasan Konservasi Indonesia : Konflik Kepentingan Konservasi Lingkungan Hidup dengan Kepentingan Rakyat - Hari Bumi 2009 Kekerasan di Hutan : Pengelolaan Kawasan Konservasi Indonesia Indonesia yang memiliki Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Perlindungan Alam seluas ,57 hektar, dimana sebagian besarnya merupakan Taman Nasional. Konsep pengelolaan Taman Nasional sangat sentralistik dan kerap mengabaikan keberadaan masyarakat adat/lokal yang justru telah hidup di kawasan-kawasan tersebut secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Hal inilah yang menjadi titik terjadinya konflik kepentingan antara kepentingan konservasi dan kepentingan rakyat. Untuk pengelolaan hutan konservasi, seperti taman nasional, cagar alam, taman buru, hutan wisata dan hutan lindung, dilakukan pengelolaan oleh pemerintah melalui unit pelaksana teknis sebagai perwakilan pemerintah di lapangan. Sebagian lokasi kawasan konservasi juga dikelola bersama dengan lembaga konservasi internasional. Hingga saat ini pengelolaan hutan konservasi masih sangat jauh dari sisi pengelolaan hutan oleh rakyat, karena pengertian konservasi sebagai kawasan yang "steril" dari masyarakat masih menjadi pegangan pemerintah dalam pengelolaan hutan. Sementara di tingkat daerah, pengelolaan kawasan konservasi menjadi bagian yang dianggap tidak penting dan tidak diperhatikan, karena saat ini dipandang bahwa kawasan konservasi merupakan wewenang pemerintah pusat. Namun untuk kawasan hutan lindung dan hutan wisata, yang merupakan wewenang pemerintah daerah, mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan. Pola pengelolaan yang digunakan juga tidak berbeda dengan pola pengelolaan kawasan konservasi, dimana di dalam kawasan hutan, tidak dibenarkan rakyat berada di dalam kawasan. Sumber: %20Konflik%20Kepentingan%20Konservasi%20Lingkungan%20Hidup%20dengan%20Kepentingan%20Ra kyat%20-%20Hari%20Bumi%202009&&nomorurut_artikel=315… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

14 10 Teknologi Pencegah Bumi dari Kehancuran Ada anggapan dari kaum skeptis bahwa teknologi hanya merusak lingkungan. Anggapan ini menantang para ilmuwan untuk mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan. PBB memperkirakan, hingga tahun 2030 kebutuhan energi akan melonjak sebesar 60 persen. Sebanyak 2,9 miliar manusia akan kekurangan pasokan air. Berikut 10 jenis teknologi yang tergolong dapat mencegah bumi dari kehancuran. 1. Memproduksi minyak secara alami Ada proses bernama thermo-depolymerization, suatu proses yang sama dengan bagaimana alam memproduksi minyak. Misalnya limbah berbasis karbon jika dipanaskan dan diberi tekanan tepat, mampu menghasilkan bahan minyak. Secara alamiah proses ini menbutuhkan waktu jutaan tahun. Dari eksperiman yang sudah- sudah, kotoran ayam kalkun mampu memproduksi sekitar 600 pon petroleum. 2. Menghilangkan garam dari air laut. PBB mencatat, suplai air bersih akan sangat terbatas bagi miliaran manusia pada pertengahan abad ini. Ada teknologi bernama desalinasi, yakni menghilangkan kadar garam dan mineral dari air laut sehingga layak diminum. Ini merupakan solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah krisis air. Masalahnya, teknologi ini masih terlalu mahal dan membutuhkan energi cukup besar. Kini para ilmuwan tengah mencari jalan agar desalinasi dapat berlangsung dengan energi lebih sedikit. Salah satu caranya adalah dengan melakukan evaporasi pada air sebelum masuk ke membran dengan pori-pori mikroskopis. Source : Merry Magdalena - Netsains.com Merry Magdalena - Netsains.com Dikirim oleh Admin Tanggal Jam 07:27:27 Sumber: 0Kehancuran&&nomorurut_artikel=90… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

15 . 10 Teknologi Pencegah Bumi dari Kehancuran 3. Tenaga Hidrogen. Bahan bakar hidrogen dianggap sebagai bahan bakar alternatif bebas polusi. Energi dihasilkan dari perpaduan antara hidrogen dan oksigen. Problemnya adalah bagaimana hidrogen itu dihasilkan. Molekul seperti air dan alkohol harus diproses dulu untuk mengekstaksi hidrogen sehingga menjadi sel bahan bakar. Proses ini juga membutuhkan energi besar. Namun setidaknya ilmuwan sudah mencoba membuat laptop serta peranti lain dengan tenaga fuel cell. 4. Tenaga surya Energi surya yang sampai di bumi terbentuk dari photon, dapat dikonversikan menjadi listrik atau panas. Beberapa perusahaan dan perumahan sudah berhasil menggunakan aplikasi ini. Mereka memakai sel surya dan termal surya lain sebagai media pengumpul energi. 5. Konversi Panas Laut Media pengumpul tenaga surya terbesar di bumi ini adalah air laut. Departemen Energi Amerika Serikat (AS) menyebut, laut mampu menyerap panas surya setara dengan energi yang dihasilkan 250 miliar barel minyal per hari. Ada teknologi bernama OTEC yang mampu mengkonversikan energi termal laut menjadi listrik. Perbedaan suhu antar permukaan laut mampu menjalankan turbin dan menggerakan generator. Masalahnya, teknologi ini masih kurang efisien. 6. Energi gelombang laut. Laut melingkupi 70 persen permukaan bumi. Gelombangnya menyimpan energi besar yang dapat menggerakkan turbin-turbin sehingga mengasilkan listrik. Problemnya agak sulit memperkirakan kapan gelombang laut cukup besar sehingga memproduksi energi yang cukup. Solusinya adalah dengan menyimpan sebagian energi ketika gelombang cukup besar. Sungai Timur kota New York saat ini sedang menjadi proyek percobaan dengan enam turbin bertenaga gelombanng air. Sedangkan Portugis justru sudah lebih dulu mempraktikan teknologi ini dan sukses menerangi lebih dari 1500 rumah. Source : Merry Magdalena - Netsains.comMerry Magdalena - Netsains.com Dikirim oleh Admin ; Tanggal ; Jam 07:27:27 Sumber: 0Kehancuran&&nomorurut_artikel=90… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

16 . 10 Teknologi Pencegah Bumi dari Kehancuran 7. Menanami atap rumah Konsep ini diilhami dari Taman Gantung Babilonia yang masuk dalam daftar Tujuh Keajaiban Dunia. Istana Babilonia terdiri atas atap yang ditanami aneka flora, juga balkon dan terasnya. Taman atap ini mampu menyerap panas dan mengurangi karbon dioksida. Bayangkan jika burung-burung dan kupu-kupu berterbangan di sekitar rumah hijau kita. 8. Bioremediasi Ada proses bernama bioremediasi, yakni memanfaatkan mikroba dan tanaman untuk membersihkan kontaminasi. Salah satunya adalah membersihkan kandungan nitrat dalam air dengan bantuan mikroba. Atau memakai tanaman untuk menetralisir arsenik dari tanah. Beberapa tumbuhan asli ternyata punya daedah untuk membersihkan bumi kita dari aneka polusi. 9. Kubur barang-barang perusak Karbon dioksida adalah faktor utama penyebab pemanasan global. Energy Information Administration (EIA) mencatat, tahun 2030 emisi karbon dioksida mencapai 8000 juta metrik ton. Metode paling sederhana untuk menekan kandungan zat berbahaya itu adalah dengan menguburkan berbagai sumber penghasil CO2 seperti aneka limbah elektronik berbahaya. Namun ilmuwan masih belum yakin bahwa gas berbahaya akan tersimpan aman. Tetap saja kelak akan muncul imbas negatifnya bagi lingkungan. 10. Buku elektronik Bayangkan, berapa ton kertas dan berapa banyak pohon harus ditebang bagi seantero dunia jika kita semua harus membeli koran, majalah, novel, buku pelajaran, buku tulis, kertas faks, sampai tisu toilet. Buku elektronik atau surat elektronik yang lebih dikenal dengan e-book dan memberi kontribusi sangat berarti pada kelangsungan hidup. Dengan teknologi itu, produksi kertas dapat ditekan, sehingga bahan kita tak perlu menebang terlalu banyak pohon. Source : Merry Magdalena - Netsains.comMerry Magdalena - Netsains.com Dikirim oleh Admin Tanggal Jam 07:27:27 Sumber: 0Kehancuran&&nomorurut_artikel=90… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

17 Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan Rusminarto et al. (1984) dalam pengamatannya di areal hutan mangrove di Tanjung Karawang menjumpai 9 jenis nyamuk yang berada di areal tersebut. Nyamuk Anopheles sp., nyamuk jenis vektor penyakit malaria, ternyata semakin meningkat populasinya seiring dengan makin terbukanya pertambakan dalam areal mangrove. Ini mengindikasikan kemungkinan meningkatnya penularan malaria dengan makin terbukanya areal-areal pertambakan perikanan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dan Anwar (2005) menunjukkan bahwa tambak tanpa mangrove mengandung bahan pencemar berbahaya merkuri (Hg) 16 kali lebih tinggi dari perairan hutan mangrove alami dan 14 kali lebih tinggi dari tambak yang masih bermangrove (silvofishery). Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN WANAMINA Silvofishery atau Wanamina adalah suatu pola agroforestri yang digunakan dalam pelaksanaan program perhutanan sosial di kawasan hutan mangrove. Petani dapat memelihara ikan dan udang atau jenis komersial lainnya untuk menambah penghasilan, di samping itu ada kewajiban untuk memelihara hutan Mangrove. Prinsip silvofishery adalah perlindungan tanaman mangrove dengan memberikan hasil dari sektor perikanan. Sistem ini mampu menambah pendapatan masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan mangrove. Silvofishery yang telah dikembangkan selama ini menggunakan jenis Rhyzophora sp.

18 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN WANAMINA Pengelolaan terpadu mangrove-tambak diwujudkan dalam bentuk sistem budidaya perikanan yang memasukkan pohon mangrove sebagai bagian dari sistem budidaya yang dikenal dengan sebutan wanamina (silvofishery). Silvofishery pada dasarnya ialah perlindungan terhadap kawasan mangrove dengan cara membuat tambak yang berbentuk saluran yang keduanya mampu bersimbiosis sehingga diperoleh kuntungan ekologis dan ekonomis (mendatangkan penghasilan tambahan dari hasil pemeliharaan ikan di tambak. Pemanfaatan mangrove untuk silvofishery saat ini mengalami perkembangan yang pesat, karena system ini telah terbukti mendatangkan keuntungan bagi pemerintah dan nelayan secara ekonomis. Fungsi mangrove sebagai nursery ground sering dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan perikanan (sivofishery). Keuntungan ganda telah diperoleh dari simbiosis ini. Selain memperoleh hasil perikanan yang lumayan, biaya pemeliharaannya pun murah, karena tanpa harus memberikan makanan setiap hari. Hal ini disebabkan karena produksi fitoplankton sebagai energi utama perairan telah mampu memenuhi sebagai energi utama perairan telah mampu memenuhi kebutuhan perikanan tersebut. Oleh karena itu keberhasilan silvofishery sangat ditentukan oleh produktivitas fitoplankton. Sumber: silvofishery.html… diunduh 31 Maret 2012

19 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN MODEL SILVOFISHERY ATAU MODEL WANAMINA Ada tiga model tambak wanamina; model empang parit, komplangan, dan jalur. Selain itu terdapat pula tambak sistem tanggul yang berkembang di masyarakat. Pada tambak wanamina model empang parit, lahan untuk hutan mangrove dan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air. Pada tambak wanamina model komplangan, lahan untuk hutan mangrove dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan mangrove dan empang. Tambak wanamina model jalur merupakan hasil modifikasi dari tambak wanamina model empang parit. Pada tambak wanamina model ini terjadi penambahan saluran-saluran di bagian tengah yang berfungsi sebagai empang. Sedangkan tambak model tanggul, hutan mangrove hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak jenis ini yang berkembang di Kelurahan Gresik dan Kariangau Kodya Balikpapan. Berdasarkan 3 pola wanamina dan pola yang berkembang di masyarakat, direkomendasikan pola wanamina kombinasi empat parit dan tanggul. Pemilihan pola ini didasarkan atas pertimbangan: 1.Penanaman mangrove di tanggul bertujuan untuk memperkuat tanggul dari longsor, sehingga biaya perbaikan tanggul dapat ditekan dan untuk produksi serasah. 2.Penanaman mangrove di tengah bertujuan untuk menjaga keseimbangan perubahan kualitas air dan meningkatkan kesuburan di areal pertambakan. Luas permukaan air di dalam tambak budidaya jenis mang-rove yang biasanya ditanam di tanggul adalah Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp. Sedangkan untuk di tengah/pelataran tambak adalah Rhizophora sp. Jarak tanam mangrove di pelataran umumnya 1m x 2m pada saat mangrove masih kecil. Setelah tumbuh membesar (4-5 tahun) mangrove harus dijarangkan. Tujuan penjarangan ini untuk memberi ruang gerak yang lebih luas bagi komoditas budidaya. Selain itu sinar matahari dapat lebih banyak masuk ke dalam tambak dan menyentuh dasar pelataran, untuk meningkatkan kesuburan tambak.

20 Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan Mangrove dan Tsunami Fungsi dan manfaat mangrove telah banyak diketahui, baik sebagai tempat pemijahan ikan di perairan, pelindung daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung daratan dari tiupan angin, penyaring intrusi air laut ke daratan dan kandungan logam berat yang berbahaya bagi kehidupan, tempat singgah migrasi burung, dan sebagai habitat satwa liar serta manfaat langsung lainnya bagi manusia. Musibah gempa dan ombak besar tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Pulau Nias akhir tahun 2004 yang lalu telah mengingatkan kembali betapa pentingnya mangrove dan hutan pantai bagi perlindungan pantai. Berdasar karakteristik wilayahnya, pantai di sekitar Kota Padang ternyata merupakan alur yang rawan gempa tsunami; pada lokasi-lokasi yang memiliki hutan mangrove dan hutan pantai yang relatif baik, cenderung kurang terkena dampak gelombang tsunami tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketebalan mangrove selebar 200 m dengan kerapatan 30 pohon/100 m dengan diameter batang 15 cm dapat meredam sekitar 50% energi gelombang tsunami (Harada dan Fumihiko, 2003 dalam Diposaptono, 2005). Gelombang laut setinggi 1,09 m di Teluk Grajagan, Banyuwangi dengan energi gelombang sebesar 1.493,33 Joule tereduksi gelombangnya oleh hutan mangrove menjadi 0,73 m (Pratikno et al., 2002). Hasil penelitian Istiyanto et al. (2003) di laboratorium menunjukkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora spp.) memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami melalui rumpun tersebut. Keberadaan mangrove di sepanjang pantai dapat memperkecil efek gelombang tsunami yang menerjang pantai. Vegetasi mangrove, terutama perakarannya dapat meredam energi gelombang dengan cara menurunkan tinggi gelombang saat melalui mangrove. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

21 Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan MANGROVE DAN SEDIMENTASI Hutan mangrove mampu mengikat sedimen yang terlarut dari sungai dan memperkecil erosi atau abrasi pantai. Erosi di pantai Marunda, Jakarta yang tidak bermangrove selama dua bulan mencapai 2 m, sementara yang berbakau hanya 1 m (Sediadi, 1991). Penelitian tentnag kecepatan pengendapan tanah di hutan mangrove (Anwar, 1998) di Suwung Bali dan Gili Sulat Lombok, menunjukkan laju akumulasi tanah 20,6 kg/m/th atau setara dengan 14,7 mm/th (dominasi Sonneratia alba); 9,0 kg/m/th atau 6,4 mm/th (dominasi Rhizophora apiculata); 6,0 kg/m /th atau 4,3 mm/th (bekas tambak); dan 8,5 kg/m/th atau 6,0 mm/th (mangrove campuran). Dengan demikian, rata-rata akumulasi tanah pada mangrove Suwung 12,6 kg/m/th atau 9 mm/th, sedang mangrove Gili Sulat 8,5 kg/m/th atau 6,0 mm/th. Data lain menunjukkan adanya kecenderungan terjadinya pengendapan tanah setebal antara 6 sampai 15 mm/ha/th atas kehadiran mangrove. Informasi ini sangat diperlukan guna mengantisipasi permasalahan sosial atas lahan timbul di kemudian hari. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

22 . Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan MANGROVE DAN SIKLUS HARA Penelitian tentang gugur daun telah cukup banyak dilakukan. Hasil pengamatan produksi serasah di Talidendang Besar, Sumatera Timur oleh Kusmana et al. (1995) menunjukkan bahwa jenis Bruguierra parviflora sebesar g/m/th, B. sexangula g/m/th, dan g/m/th untuk komunitas, B. sexangula-Nypa fruticans. Pengamatan Khairijon (1999) di hutan mangrove Pangkalan Batang, Bengkalis, Riau, menghasilkan 5,87 g/0,25m/minggu daun dan ranting R. mucronata atau setara dengan g/m/th dan 2,30 g/0,25m/minggu daun dan ranting Avicennia marina atau setara dengan 478,4 g/m/th, dan cenderung membesar ke arah garis pantai. Hasil penelitian Halidah (2000) di Sinjai, Sulawesi Selatan menunjukkan adanya perbedaan produksi serasah berdasar usia tanamannya. R. mucronata 8 tahun (12,75 ton/ha/th), kemudian 10 tahun (11,68 ton/ha/th), dan 9 tahun (10,09 ton/ha/th), dengan laju pelapukan 74 %/60 hr (tegakan 8 th); 96%/60 hr (tegakan 9 th), dan 96,5%/60 hr (tegakan 10 th). Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Hasil penelitian Sukardjo (1995) menunjukkan guguran serasah mangrove sebesar 13,08 ton/ha/th, yang setara dengan penyumbangan 2 kg P/ha/th dan 148 kg N/ha/th. Nilai ini sangat berarti bagi sumbangan unsur hara bagi flora dan fauna yang hidup di derah tersebut maupun kaitannya dengan perputaran hara dalam ekosistem mangrove.

23 . Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan MANGROVE DAN PRODUKTIVITAS PERIKANAN Kebijakan pemerintah dalam menggalakkan komoditi ekspor udang, telah turut andil dalam merubah sistem pertambakan yang ada dalam wilayah kawasan hutan. Empang parit yang semula digarap oleh penggarap tambak petani setempat, berangsur beralih “kepemilikannya” ke pemilik modal, serta merubah menjadi tambak intensif yang tidak berhutan lagi (Bratamihardja, 1991). Ketentuan jalur hijau dengan lebar 130 x nilai rata-rata perbedaan pasang tertinggi dan terendah tahunan (Keppres No. 32/1990) berangsur terabaikan. Hasil penelitian Martosubroto dan Naamin (1979) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara luasan kawasan mangrove dengan produksi perikanan budidaya. Semakin meningkatnya luasan kawasan mangrove maka produksi perikanan pun turut meningkat dengan membentuk persamaan : Y = 0,06 + 0,15 X dimana: Y = produksi tangkapan dalam ton/th; X = luasan mangrove dalam ha. Hasil penelitian lain yang berkaitan dengan ekonomi menunjukkan bahwa pembuatan 1 ha tambak ikan pada hutan mangrove alam akan menghasilkan ikan/udang sebayak 287 kg/tahun, namun dengan hilangnya setiap 1 ha hutan mangrove akan mengakibatkan kerugian 480 kg ikan dan udang di lepas pantai per tahunnya (Turner, 1977). Pengurangan hutan mangrove terutama di areal green belt sudah barang tentu akan menurunkan produktivitas perikanan tangkapan. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

24 Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan MANGROVE DAN INTRUSI AIR LAUT Mangrove juga mampu dalam menekan laju intrusi air laut ke arah daratan. Hasil penelitian Sukresno dan Anwar (1999) tentang air sumur pada berbagai jarak dari pantai, menunjukkan bahwa kondisi air pada jarak 1 km untuk wilayah Pemalang dan Jepara dengan kondisi mangrove-nya yang relatif baik, masih tergolong baik; sedangkan pada wilayah Semarang dan Pekalongan, Jawa Tengah sudah terindikasi adanya intrusi air laut pada jarak 1 km. Sumber: vienastra.wordpress.com/2010/07/06/intrusi-air-laut /… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Masuknya air laut ke sistem akuifer melalui dua proses, yaitu intrusi air laut dan upconning. Intrusi air laut di daerah pantai merupakan suatu poses penyusupan air asin dari laut ke dalam airtanah tawar di daratan. Zona pertemuan antara air asin dengan air tawar disebut interface. Pada kondisi alami, airtanah akan mengalir secara terus menerus ke laut. Berat jenis air asin sedikit lebih besar daripada berat jenis air tawar, maka air laut akan mendesak air tawar di dalam tanah lebih ke hulu. Tetapi karena tinggi tekanan piezometric airtanah lebih tinggi daripada muka air laut, desakan tersebut dapat dinetralisir dan aliran air yang terjadi adalah dari daratan kelautan, sehingga terjadi keseimbangan antara air laut dan airtanah, sehingga tidak terjadi intrusi air laut. Intrusi air laut terjadi bila keseimbangan terganggu. Aktivitas yang menyebabkan intrusi air laut diantaranya pemompaan yang berlebihan, karakteristik pantai dan batuan penyusun, kekuatan airtanah ke laut, serta fluktuasi airtanah di daerah pantai. Proses intrusi makin panjang bisa dilakukan pengambilan airtanah dalam jumlah berlebihan. Bila intrusi sudah masuk pada sumur, maka sumur akan menjadi asing sehingga tidak dapat lagi dipakai untuk keperluan sehari- hari.

25 . Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan MANGROVE DAN KESEHATAN Rusminarto et al. (1984) dalam pengamatannya di areal hutan mangrove di Tanjung Karawang menjumpai 9 jenis nyamuk yang berada di areal tersebut. Nyamuk Anopheles sp., nyamuk jenis vektor penyakit malaria, ternyata semakin meningkat populasinya seiring dengan semakin terbukanya pertambakan dalam areal mangrove. Hal ini mengindikasikan kemungkinan meningkatnya penularan malaria dengan semakin terbukanya areal-areal pertambakan perikanan. Hasil penelitian yang dilaporkan oleh Gunawan dan Anwar (2005) menunjukkan bahwa tambak tanpa mangrove mengandung bahan pencemar merkuri (Hg) 16 kali lebih tinggi daripada perairan hutan mangrove alami dan 14 kali lebih tinggi daripada tambak yang masih bermangrove (silvofishery). Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

26 . Mengapa Ekosistem Hutan Mangrove (Hutan Bakau) harus diselamatkan dari Kerusakan Lingkungan MANGROVE DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi, secara garis besar dapat dibagi dua kelompok, yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, dan lainnya serta kelompok terestrial seperti insekta, reptilia, amphibia, mamalia, dan burung (Nirarita et al., 996). Gunawan (1995) menemukan 12 jenis satwa melata dan amphibia, 3 jenis mamalia, dan 53 jenis burung di hutan mangrove Arakan Wawontulap dan Pulau Mantehage di Sulawesi Utara. Survey Tim ADB dan Pemerintah Indonesia (1992) menemukan 42 jenis burung yang berasosiasi dengan hutan mangrove di Sulawesi. Di Pulau Jawa tercatat 167 jenis burung dijumpai di hutan mangrove, baik yang menetap maupun migran (Nirarita et al., 1996). Kalong (Pteropus vampyrus), monyet (Macaca fascicularis), lutung (Presbytis cristatus), bekantan (Nasalis larvatus), kucing bakau (Felis viverrina), luwak (Paradoxurus hermaphroditus), dan garangan (Herpetes javanicus) juga menyukai hutan mangrove sebagai habitatnya (Nontji, 1987). Beberapa jenis reptilia yang hidup di hutan bakau antara lain biawak (Varanus salvator), ular belang (Boiga dendrophila), ular sanca (Phyton reticulatus), dan jenis- jenis ular air seperti Cerbera rhynchops, Archrochordus granulatus, Homalopsis buccata, dan Fordonia leucobalia. Dua jenis katak yang dapat ditemukan di hutan mangrove adalah Rana cancrivora dan R. limnocharis (Nirarita et al., 1996). Hutan mangrove juga sebagai habitat beberapa jenis burung yang dilindungi seperti pecuk ular (Anhinga anhinga melanogaster), bintayung (Freagata andrew-si), kuntul perak kecil (Egretta garzetta), kowak merah (Nycticorax caledonicus), bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), ibis hitam (Plegadis falcinellus), bangau hitam (Ciconia episcopus), burung duit (Vanellus indicus), trinil tutul (Tringa guitifer), blekek asia (Limnodromus semipalmatus), gegajahan besar (Numenius arquata), dan trulek lidi (Himantopus himantopus) (Sutedja dan Indrabrata, 1992). Jenis-jenis burung Egretta eulophotes, kuntul perak (E. intermedia), kuntul putih besar (E. alba), bluwok (Ibis cinereus), dan cangak laut (Ardea sumatrana) juga mencari makan di dekat hutan mangrove. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

27 PERIKANAN DAN REHABILITASI MANGROVE Pembuatan 1 ha tambak ikan pada hutan mangrove alam akan menghasilkan ikan/udang sebayak 287 kg/tahun, namun dengan hilangnya setiap 1 ha hutan mangrove akan mengakibatkan kerugian 480 kg ikan dan udang di lepas pantai per tahunnya (Turner, 1977). Keberadaan hutan mangrove sangat penting bagi produktivitas perikanan pada perairan bebas. Dalam mengakomodasi kebutuhan lahan dan lapangan pekerjaan, hutan mangrove dapat dikelola dengan model silvofishery atau wanamina yang dikaitkan dengan program rehabilitasi pantai dan pesisisr. Kegiatan silvofishery berupa empang parit pada kawasan hutan mangrove, terutama di areal Perum Perhutani telah dimulai sejak tahun Empang parit ini pada dasarnya adalah semacam tumpangsari pada hutan jati, di mana ikan dan udang sebagai pengganti tanaman polowijo, dengan jangka waktu 3-5 tahun masa kontrak (Wirjodarmodjo dan Hamzah, 1984). Semula, empang parit ini hanya berupa parit selebar 4 m yang disisihkan dari tepi areal kegiatan reboisasi hutan mangrove, sehingga keluasannya mencapai 10-15% dari total area garapan. Jarak tanam 3 m x 2 m, dengan harapan 4-5 tahun kemudian, tajuk tanaman sudah saling menutup (Perum Perhutani Jawa Barat, 1984). Sejak tahun 1990 dibuat sistem pola terpisah (komplangan) dengan 20 % areal untuk budidaya ikan dan 80% areal untuk hutan dengan pasang surut bebas. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

28 . Perikanan dan Rehabilitasi Mangrove Dari sistem silvofishery semacam ini dengan pemeliharaan bandeng dan udang liar dapat dihasilkan keuntungan sebesar Rp ,-/ha/tahun untuk 2 kali panen setiap tahun (Perum Perhutani, 1995). Dalam membandingkan pola silvofishery di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, pola komplangan menunjukkan perbandingan relatif lebih baik daripada pola empang parit, baik dalam hal produktivitas perairan maupun pertumbuhan mutlak, kelangsungan hidup maupun biomassa bandeng yang dipelihara pada masing-masing pola (Sumedi dan Mulyadhi, 1996). Selisih pertumbuhan mutlaknya hanya 9,6 g sedangkan biomassanya 7,1 kg/m3 Hasil ini berbeda dengan penelitian Poedjirahajoe (2000) yang mengemukakan bahwa justru pola empang parit menghasilkan bandeng pada usia 3 bulan dengan berat rata-rata 1 kg lebih berat dibandingkan dengan pola komplangan. Namun demikian, kedua sistem ini turut membantu dalam meningkatkan income petani petambak. Masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan mangrove dengan sistem ini cukup besar. Data dari KPH Purwakarta menunjukkan bahwa dari luas areal mangrove seluas ha dapat melibatkan sebanyak KK dalam kegiatan silvofoshery (Perhutani Purwakarta, 2005). Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Menurut data Badan Litbang Pertanian (1986), kontribusi dari usaha budidaya tambak dengan luas total ha dapat menghasilkan ton ikan dan udang yang apabila ditaksir, nilainya melebihi dari Rp 138 milyar. Kegiatan ini pun dilaporkan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak KK yang sudah barang tentu dapat memberikan penghasilan yang lebih baik bagi petani kecil.

29 MANGROVE DAN PARIWISATA Wanawisata mangrove dapat dijumpai di lokasi wisata alam Sinjai (Sulawesi Selatan), Muara Angke (DKI), Suwung, Denpasar (Bali), Blanakan dan Cikeong (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Hutan mangrove mempunyai obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam lainnya. Karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut memiliki beragam keunikan dan keindahan. Para wisatawan juga memperoleh pelajaran tentang lingkungan langsung dari alam. Misalnya, Pantai Padang, Sumatera Barat, memiliki kawasan hutan mangrove seluas 43,80 ha, berpotensi untuk dijadikan daerah wisata. Kegiatan wana wisata mangrove ini mampu memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata. Sumber : Chairil Anwar dan Hendra Gunawan Foto : Anwar dan Hendra Gunawanhttp://ujangawis.googlepages.com Dikirim oleh Admin Tanggal Jam 16:43:04 Sumber: 0%28Hutan%20Bakau%29%20harus%20diselamatkan%20dari%20Kerusakan%20Lingkungan&&n omorurut_artikel=269… diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

30 RESTORASI LINGKUNGAN Setiap individu manusia mencintai lingkungan hidupnya, tempat ia tinggal. Lingkungan hidup merupakan tempat sejak kecil dimana mereka dilahirkan dan berinteraksi social, dalam lingkungan itu juga terdapat unsur-unsur seperti: tanah, udara, api, dan air yang merupakan kebutuhan vital manusia. Manusia juga mencintai tumbuh-tumbuhan dan binatang karena hampir 90% kehidupan manusia ditopang oleh makhluk hidup itu. Oleh karena itu, sah-sah saja jika manusia diperbolehkan memanfaatkan tumbuhan dan satwa itu. Hanya saja tidak boleh berlebihan dan merusak daya dukung yang ada. Selama ini, niat dan maksud baik yang telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan patut diberi apresiasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan diberikannya penghargaan Kalpataru untuk Bangka Belitung dan beberapa penghargaan lain seperti Adipura dan Adiwiyata. “Kalpataru” merupakan sebuah penghargaan yang diberikan Presiden kepada orang yang telah berjasa terhadap lingkungannya. Artinya, seseorang yang bisa menjadi pioneer atau leader untuk melakukan sebuah gerakan atau inovasi terhadap lingkungan yang bermanfaat untuk hajat hidup orang banyak berhak mendapatkan penghargaan itu. Sebuah “penghargaan” seyogyanya tidak hanya dijadikan masalah siapa yang pantas atau siapa yang tidak untuk mendapatkannya. Namun seharusnya sebuah penghargaan dimaknai sebagai sebuah penyemangat agar mau berlomba-lomba untuk memperbaiki dan melakukan rehabilitasi, konservasi dan restorasi lingkungan hidup. Written By : Merry Christina Mahasiswi Sosiologi UBB ID Facebook. mey_mocca[At]yahoo.com KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Sumber: 0%28Hutan%20Bakau%29%20harus%20diselamatkan%20dari%20Kerusakan%20Lingkungan&&n omorurut_artikel=269… diunduh 31 Maret 2012

31 RESTORASI LINGKUNGAN Bangka Belitung adalah sebuah wilayah yang lingkungannya butuh restorasi. Kerusakan alam lingkungan Bangka Belitung harusnya menjadi perhatian seluruh kalangan masyarakat. Selama ini yang terlihat hanya gerakan dari para pencinta lingkungan saja, namun bukan sebuah gerakan yang lahir dari kesadaran seluruh masyarakat terutama masyarakat yang melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap lingkungan. Kearifan untuk menjaga lingkungan nampaknya belum terkonstruksi dalam mindset juga mindstream masyarakat. Kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan hanya terlihat sedikit orang yang baru sadar pentingnya untuk selalu menjaga ekosistem yang ada. Hutan, laut, dan daratan merupakan sirkulasi pembantu hidupnya lingkungan dan manusia. Bayangkan jika salah satu sirkulasi rusak dan tidak berjalan? Sesungguhnya dipercayai bahwa kearifan local yang dimiliki oleh masyarakat mampu untuk tetap menjaga ekosistem lingkungan. Bahwa pantangan-pantangan atau mitos yang ditelurkan oleh masyarakat ampuh untuk melindungi alam agar tetap terjaga. Ini bukan berbicara takhayul, namun ada sebuah upaya untuk kelestarian lingkungan yang lahir dari masyarakat berupa kearifan local. Sejauh ini, restorasi yang dilakukan oleh para pencinta lingkungan nampaknya hanya sebatas pemulihan, reklamasi, dan penanaman. Seharusnya ada sebuah upaya yang dilakukan agar restorasi tidak hanya berhenti dan selesai sampai disitu. Contohnya selama ini jika melakukan penanaman mangrove maka selesai penanaman akan ditinggalkan begitu saja tanpa ada konservasi lanjut yang dilakukan. Contoh lain jika melakukan penanaman pohon maka hanya menanam saja, setelah itu tidak ada upaya pemeliharaan terhadap pohon tersebut karena hanya dibiarkan tanpa dirawat dan dipelihara. Written By : Merry Christina Mahasiswi Sosiologi UBB ID Facebook. mey_mocca[At]yahoo.com KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Sumber: 0%28Hutan%20Bakau%29%20harus%20diselamatkan%20dari%20Kerusakan%20Lingkungan&&n omorurut_artikel=269… diunduh 31 Maret 2012

32 RESTORASI LINGKUNGAN Nampaknya isu seputar lingkungan merupakan hal yang hangat untuk diperbicangkan. Dimana seluruh kalangan berlomba-lomba untuk mendapatkan label cinta lingkungan. Sejujurnya sebuah hal yang positif melakukan sebuah aksi atau gerakan sadar dan peduli lingkungan. Tapi jangan merupakan upaya untuk mendapatkan sesuatu, melakukan pencintraan, atau lain sebagainya. Keseimbangan ekosistem lingkungan merupakan hal yang paling urgent untuk menjadi perhatian kita bersama. Harapan untuk merasakan kembali hijaunya Bangka Belitung yang dulu menjadi kerinduan semua elemen masyarakat. Mudah- mudahan pemerintah memiliki inisiatif untuk melakukan sebuah upaya restorasi yang berkelanjutan. Misalnya membuat undang-undang atau kebijakan peraturan daerah tentang pemeliharaan lingkungan, mengkampanyekan sustainable society, melembagakan kembali kearifan-kearifan local tradisional yang dulunya dimiliki oleh masyarakat, edukasi konservasi terhadap anak-anak sekolah dan melahirkan sebuah wisata yang mengajak turis local maupun mancanegara untuk melakukan penanaman disetiap jengkal daratan yang rusak kemudian melakukan pungutan uang pemeliharaan terhadap tanaman tersebut sehingga mendapatkan perawatan. Ada sebuah kenang-kenangan yang mereka tinggalkan saat meninggalkan Bangka Belitung dan saat mereka kembali, mereka masih dapat melihat tanaman mereka. Ini juga merupakan sebuah upaya agar mereka bisa kembali datang berkunjung ke Bangka Belitung. Pengelolaan dan pemeliharaan lingkungan alam jangan hanya dipandang dalam kacamata yang saling berbenturan dengan kepentingan ekonomi. Upaya-upaya pengelolaan harus dilihat dalam kerangka keharmonisan, baik keharmonisan antar satu generasi dengan generasi selanjutnya. Pada saat ini kita harus sudah mulai membangun kesadaran ekologis, yaitu kesadaran lingkungan untuk mewujudkan keberlanjutan lingkungan hidup bagi generasi mendatang. Written By : Merry Christina Mahasiswi Sosiologi UBB ID Facebook. mey_mocca[At]yahoo.com KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN Sumber: 0%28Hutan%20Bakau%29%20harus%20diselamatkan%20dari%20Kerusakan%20Lingkungan&&n omorurut_artikel=269… diunduh 31 Maret 2012

33 UPAYA PELESTARIAN MANGROVE Tanaman mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, nasional maupun global. Dengan demikian, keberadaan sumber daya mangrove perlu diatur dan ditata pemanfaatannya secara bertanggung jawab sehingga kelestariannya dapat dipertahankan. Inoue et al. (1999) melaporkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 75 spesies vegetasi mangrove yang tersebar di 27 propinsi. Menurut Suryati et al. (2001), beberapa vegetasi mangrove seperti Osbornia octodonta, Exoecaria agalocha, Acanthus ilicifolius, Avicennia alba, Euphatorium inulifolium, Carbera manghas, dan Soneratia caseolaris mengandung zat bioaktif yang dapat dijadikan bahan untuk penanggulangan penyakit bakteri pada budi daya udang windu (Suryati, E., Gunarto, Rosmiati, A. Panrerengi, dan A. Tenriulo Pemanfaatan bioaktif tanaman mangrove untuk mereduksi penyakit pada budi daya udang windu. Laporan Hasil Penelitian Tahun Balai Penelitian Perikanan Pantai, Maros). Daerah pantai termasuk mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat perkembangan infrastuktur, pemukiman, pertanian, perikanan, dan industri, karena 60% dari penduduk Indonesia bermukim di daerah pantai. Diperkirakan sekitar ha mangrove di Indonesia mengalami kerusakan setiap tahun (Inoue, Y., O. Hadiyati, H.M. Afwan Affendi, K. R. Sudarma, and I.N. Budiana Sustainable management models for mangrove forest. Japan International Cooperation Agency, hlm. 46 ). Fungsi mangrove sangat strategis, semakin meluasnya kerusakan yang terjadi, mendorong beragam upaya pelestarian mangrove dilakukan dengan berbagai cara. Dalam budi daya udang, misalnya, harus diterapkan teknik budi daya yang ramah mangrove, artinya dalam satu hamparan tambak harus ada hamparan mangrove yang berfungsi sebagai biofilter dan tandon air sebelum air masuk ke petakan tambak. Upaya penghutanan kembali tepi perairan pantai dan sungai dengan tanaman mangrove perlu dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan. Untuk meningkatkan produktivitas mangrove tanpa merusak keberadaannya dapat dikembangkan budi daya sistem silvo-fishery misalnya untuk pematangan atau penggemukan kepiting bakau, pentokolan benur windu, pendederan nener bandeng, dan pembesaran nila merah. Di perairan sungai di kawasan mangrove dapat dijadikan lahan budi daya ikan dengan sistem karamba apung terutama untuk ikan kakap, kerapu lumpur, nila merah, dan bandeng. Sumber: diunduh 31 Maret 2012 KELESTARIAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

34 KELESTARIAN LINGKUNGAN


Download ppt "KETAHANAN LINGKUNGAN: KELESTARIAN & KONSERVASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google