Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Waktu: 8 x 45 Menit (Keseluruhan KD) STANDAR KOMPETENSI: 6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia. KOMPETENSI DASAR : 6.1. Mendeskripsikan Infrastruktur.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Waktu: 8 x 45 Menit (Keseluruhan KD) STANDAR KOMPETENSI: 6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia. KOMPETENSI DASAR : 6.1. Mendeskripsikan Infrastruktur."— Transcript presentasi:

1

2 Waktu: 8 x 45 Menit (Keseluruhan KD) STANDAR KOMPETENSI: 6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia. KOMPETENSI DASAR : 6.1. Mendeskripsikan Infrastruktur Dan Suprastruktur Politik Di Indonesia Mendeskripsikan Perbedaan Sistem Politik Di Berbagai Negara Menampilkan Peran Serta Dalam Sistem Politik Di Indonesia.

3 Waktu : 4 x 45 Menit STANDAR KOMPETENSI : 6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia KOMPETENSI DASAR : 6.1. Mendeskripsikan Infrastruktur Dan Suprastruktur Politik Di Indonesia.

4 (Indikator) Hasil Yang Diharapkan:  Menguraikan Pengertian Sistem Politik.  Mendeskripsikan Ciri-ciri Umum, Macam-macam Sistem Politik Dan Demokrasi Sebagai Sistem Politik.  Menganalisis Infrastruktur Politik Dari Masa Ke Masa Di Indonesia.  Menganalisis Suprastruktur Politik Di Indonesia.

5 Pengertian Sistem Politik, Fungsi dan Kapabilitas Ciri-ciri Umum dan Macam-macam Sistem Politik Demokrasi Sebagai Sistem Politik  Rusandi S.  David Easton  Robert Dahl, dll. INFRASTRUKTUR DAN SUPRASTRUKTUR POLITIK DI INDONESIA Infrastruktur Politik Suprastruktur Politik Pasca Kemerdekaan Kel. Kepentingan Kel. Penekan Media Komunikasi Tokoh Politik

6 1. SISTEM POLITIK Dalam arti umum, politik adalah “ macam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik/negara yang menyangkut proses menentukan dan sekaligus melaksanakan tujuan-tujuan sistem itu ”. Kata ”politik” (Yunani) ”polis” = negara kota. “Polis” berarti “ city state ” – merupakan segala aktivitas yang dijalankan oleh Polis untuk kelestarian dan perkembangannya “ politike techne ” (politika). Politik pada hakikatnya “ the art and science of government ” atau seni dan ilmu memerintah. a. Pengertian Sistem Politik

7 Dalam pengertian lain, politik dapat diartikan : Seni dan ilmu meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). Hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Merupakan kegiatan yangg diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

8 Batasan sistem politik menurut beberapa ahli ; a. Rusandi Simuntapura, sistem politik ialah mekanisme seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik dalam hubungan satu sama lain yang menunjukkan suatu proses yang langgeng. b.Sukarna, sistem politik ialah tata cara mengatur neg. c.David Easton, sistem politik dapat diperkenalkan sebagai interaksi yang diabstraksikan dari seluruh tingkah laku sosial sehingga nilai-nilai dialokasikan secara otoritatif kepada masyarakat. d.Robert Dahl, sistem politik merupakan pola yang tetap dari hubu-ngan antara manusia serta melibatkan sesuatu yang luas dan berarti ttg kekuasaan, aturan-aturan, dan kewenangan.

9  Kapabilitas, adalah kemampuan sistem politik dalam menjalankan fungsinya (eksistensi) di lingkungan yang lebih luas.  Konversi, menggambarkan kegiatan pengolonganahan input menjadi ouput mulai dari : penyampaian tuntutan, perangkuman tuntutan menjadi tindakan pembuatan aturan, pelaksanaan peraturan, menghakimi, dan komunikasi.  Adaptif, yaitu menyangkut sosialisasi dan rekruitmen yang bertujuan memantapkan bangunan struktur politik dari sistem politik. FUNGSI SISTEM POLITIK 2 Fungsi Utama Sistem politik : Perumusan kepentingan rakyat, dan Pemilihan pemimpin serta pejabat pembuat keputusan.

10  Regulatif, merupakan penyelenggaraan pengawasan terhadap tingkah laku individu dan kelompok yang ada di dalamnya.  Ekstraktif, merupakan pengelolaan SDA dan SDM untuk mencapai tujuan dari sistem politik.  Distributive, hasil pengelolaan SDA untuk didistribusikan kepada masyarakat.  Responsif, kemampuan sistem politik dalam menanggapi tekanan dari masyarakat.  Simbolik, efektivitas simbol dari sistem politik terhadap lingkungan intra dan ekstra masyarakat.  Domestik dan Internasional, suatu sistem politik berinteraksi di lingkungan domestik dan internasional. KAPABILITAS SISTEM POLITIK

11 1.Fungsi integrasi dan adaptasi terhadap masyarakat, baik ke dalam maupun keluar. 2.Penerapan nilai-nilai dalam masyarakat berdasarkan kewenangan. 3.Penggunaan kewenangan atau kekuasaan, baik secara sah ataupun tidak. SISTEM POLITIK MENCAKUP : MENCAKUP :

12 B. CIRI-CIRI UMUM SISTEM POLITIK  Mempunyai kebudayaan politik.  Menjalankan fungsi-fungsi.  Memiliki spesialisasi.  Merupakan sistem campuran. Sistem Politik Menurut Almond, Memiliki 4 (Empat) Ciri-ciri :

13 CARA KERJA SISTEM POLITIK BERDASARKAN INPUT DAN OUTPUT YANG DIGAMBARKAN OLEH HOOGERWERF SISTEM EKONOMI MASUKAN (Input) Referensi Kebijaksanaan sarana kekuasaan SISTEM TEKNIS HASIL (Output) Kebijaksanaan pemerintah Dampak kebijaksanaan pemerintah Sistem Budaya Politik Struktur Politik Pengembangan Integrasi Dampak kebijaksanaan pemerintah MASUKAN (INPUT) UMPAN BALIK

14 C. MACAM-MACAM SISTEM POLITIK Almond dan Powell, membagi 3 (tiga) kategori sistem politik yakni :  Primitif yang intermittent (bekerja dengan sebentar-sebentar istirahat).  Tradisional dengan struktur-struktur bersifat pemerintahan politik yang berbeda-beda dan suatu kebudayaan “subyek”.  Modern di mana struktur-struktur politik yang berbeda-beda, berkembang dan mencerminkan aktivitas budaya politik “ participant ”.

15 Klasifikasi sistem politik menurut Alfian : Otoriter/Totaliter Otoriter/Totaliter Anarki Anarki Demokrasi Demokrasi Demokrasi dalam transisi. Demokrasi dalam transisi. Ramlan Surbakti mengklasifikasikan sistem politik dengan kriteria : 1.Otokrasi Tradisional, 2.Totaliter, 3.Demokrasi, 4.Negara Berkembang

16 MENURUT ALMOND DAN COLEMAN, MACAM-MACAM SISTEM POLITIK YANG BANYAK BERLAKU DI NEGARA BERKEMBANG: 1.Demokrasi Politik, 2.Demokrasi Terpimpin, 3.Oligarki Pembangunan, 4.Oligarki Totaliter, 5.Oligarki Tradisional

17 D. DEMOKRASI SEBAGAI SISTEM POLITIK Menurut Bingham Powel, Jr., sistem politik demokrasi ditandai : Legitimasi pemerintah didasarkan pada klaim bahwa pemerintah tersebut mewakili keinginan rakyatnya. Pengaturan yang mengorganisasikan perundingan untuk mem-peroleh legitimasi, dilaksanakan melalui pemilu. Sebagian besar orang dewasa dapat mengikuti proses pemili-han (memilih/dipilih). Penduduk memilih secara rahasia dan tanpa dipaksa. Masyarakat dan pemimpin menikmati hak-hak dasar (kebebasan berbicara, berorganisasi dan pers). Setiap partai politik berusaha untuk memperoleh dukungan.

18 a. Infrastruktur Politik Berdasarkan teori politik, infra struktur politik mencakup : a.Partai politik ( political party ), b.Kelompok kepentingan ( interest group ), c.Kelompok penekan ( pressure group ), d.Media komunikasi politik ( political communication media ), dan e.Tokoh politik ( political figure ). 2. SUPRA STRUKTUR DAN INFRA STRUKTUR POLITIK DI INDONESIA

19 Hak dasar sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat serta bebas dari segala macam bentuk penjajahan (Pembukaan UUD 1945, alinea I), dan hak dasar sebagai warga negara : Sebagai warga negara dan penduduk Indonesia (Pasal 26), Bersamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat (1)), Memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasa 27 ayat 2), Kemerdekaan berserikat, mengeluarkan pikiran lisan dan tulisan (Pasal 28), Mempertahankan hidup sebagai hak asasi manusia (Pasal 28A) Jaminan beragama dan pelaksanaanya (Pasal 29 ayat (2)), Ikut serta dalam usaha hankam negara (Pasal 30), Mendapat pendidikan (Pasal 31), Mengembangkan kebudayaan nasional (Pasal 32), Mengembangkan usaha di bidang ekonomi (Pasal 33) dan Jaminan pemeliharaan sebagai fakir miskin (Pasal 34).

20 b.PARTAI POLITIK ( POLITICAL PARTAI ) DI INDONESIA Eksistensi parpol merupakan prasyarat, baik sebagai sarana penyaluran aspirasi rakyat, maupun dalam proses penyelenggaraan negara melalui wakil- wakilnya di dalam badan perwakilan rakyat. Cara Memperoleh Kekuasaan ;  Pertama, secara legal (ikut pemilu legislatif).  Kedua, secara ilegal (melakukan subversib, revolusi atau coup d`etat).

21 1)MASA PRA KEMERDEKAAN Budi Utomo (Jkt, 20 Mei 1908), merupakan organisasi modern pertama yang melakukan perlawanan secara non fisik. dalam perkemba- ngannya menjadi partai- partai politik yang didukung kaum terpelajar dan buruh tani.  Sarekat Islam (1912),  Muhammadiyah (1912),  Indische Partij (1912),  PKI (1921),  PNI (1927),  Partai Rakyat Indonesia (1930),  Partai Indonesia (1931),  Partai Indonesia Raya (1931).

22 2)MASA PASCA KEMERDEKAAN (TAHUN 1945 – 1965) Tumbuh suburnya partai-partai politik, didasarkan pada Maklumat Pemerintah tanggal 3 November KLASIFIKASI PARTAI POLITIK MENURUT DASAR/ASASNYA KETUHANANKEBANGSAANMARXISMENASIONALISME  Partai Masjumi,  Partai Sjarikat Indonesia,  Pergerakan Tarbiya Islamiah (Perti),  Partai Kristen Indonesia (Parkindo),  Dll.  Partai Komunis Indonesia (PKI)  Partai Sosialis Indonesia  Partai Murba  Partai Buruh  Permai  Partai Demokrat Tionghoa (PTDI)  Partai Indonesia Nasional (PIN)  IPKI  Partai Nasional Indonesia (PNI)  Partai Indonesia Raya (Parindra)  Partai Rakyat Indonesia (PRI)  Partai Demokrasi Rakyat (Banteng)  Partai Rakyat Nasional (PRN)  Partai Kebangsaan Indonesia (Parki)  Dll.

23

24 Alfian, mengelompokkan partai politik hasil Pemilu 1955 : 1.Aliran Nasionalis (Partai Buruh, PNI, PRN, PIR Hazairin, Parindra, SKI, dan PIR-Wongsonegoro). 2.Partai Islam (Masjumi, NU, PSII, dan Perti). 3.Aliran Komunis (PKI) 4.Aliran Sosialis (PSI, dan GTI). 5.Aliran Kristen (Partai Katolik, dan Parkindo).

25

26 Kehidupan politik masa demokrasi liberal (1955–1959), banyak ditandai pergantian kabinet. Persaingan antar elit partai politik besar, telah membawa negara pada instabilitas politik, sehingga mandeknya pembangunan ekonomi dan rawannya keamanan. Akibat konflik berkepanjangan pada Badan Konstituante (merumuskan UUD yang bersifat), mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang selanjutnya melahirkan demokrasi terpimpin.

27 3)MASA ORDE BARU (TAHUN ) Orde Baru (1966) melakukan pembenahan institusi politik, karena jumlah parpol yang banyak, tidak menjamin stabilitas politik PARPOL PESERTA PEMILU 1971 : Golongan Karya (Golkar), Golongan Karya (Golkar), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Nahdatul Ulama (NU), Nahdatul Ulama (NU), Partai Katolik, Partai Katolik, Partai Murba, Partai Murba, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah).

28 Hasil Pemilu 1971, menunjukkan kemenangan Golongan Karya Berdasarkan UU No. 3 Tahun 1975, Pemilu 1977 dan 1982 hanya diikuti 3 (tiga) peserta : 1.PPP (ke-Islaman dan ideologi Islam) 2.Golongan Karya (kekaryaan dan keadilan sosial) 3.PDI (demokrasi, kebangsaan/ nasionalisme dan keadilan). Terjadi penyederhanaan partai politik ; Partai berbasis Islam (NU, Parmusi, PSII, dan Partai Islam) menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP); Partai berbasis sosialis dan nasionalis (Parkindo, Partai Katolik, PNI, Murba dan IPKI) menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

29 No Tahun Pemilu Partai Politik Peserta Pemilu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Golongan Karya (Golkar) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) (96) (236) (30) (99) (232) (29) (94) (242) (24) (61) (299) (40) (62) (282) (56) (89) (325) (11) PERBANDINGAN PEROLEHAN SUARA PARTAI PESERTA PEMILU SELAMA ORDE BARU

30 4)MASA/ ERA REFORMASI (TAHUN 1999 S.D. SEKARANG) Berdasarkan UU No. 3/1999, partai-partai politik di Indonesia diberikan kesempatan hidup kembali mengikuti pemilu multi partai NONAMA PARTAI POLITIKNONAMA PARTAI POLITIK Partai Indonesia Baru (PIB) Partai Kristen Indonesia (Krisna) Partai Nasional Indonesia (PNI) Partai Aliansi Demokrat Indonesia P. Kebangkitan Muslim Indonesia Partai Umat Islam (PUI) Partai Kebangkitan Umat (PKU) Partai Masyumi Baru (PMB) P. Persatuan Pembangunan (PPP) P. Syarikat Islam Indonesia (PSII) P. Demokrasi Indonesia Perj (PDIP) Partai Kebangsaan Merdeka (PKM) P. Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) Partai Amanat Nasional (PAN) Partai Rakyat Demokrat (PRD) P. Syarikat Islam Indonesia 1905 Partai Katolik Demokrat Partai Pilihan Rakyat (Pilar) Partai Rakyat Indonesia (PARI) Partai Bulan Bintang (PBB) Partai Pekerja Indonesia

31 c.KELOMPOK KEPENTINGAN ( INTEREST GROUP ) Jenis-jenis kelompok kepentingan :  Kelompok Anomik (kelompok spontan dan tidak memiliki nilai/norma),  Kelompok Asosiasional (biasanya jarang terorganisir dan kegiatannya kadang-kadang),  Kelompok Institusional ( merupakan kelompok pendukung kepentingan institusional; seperti partai politik, korporasi bisnis, dll.),  Kelompok Assosiasonal (merupakan kelompok yang terorga- nisir yang menyatakan kepentingan dari suatu kelompok dan memiliki prosedur teratur).

32 Kegiatan kelompok kepentingan di dalam suatu negara, sangat bergantung kepada sistem politik pemerintah apakah menerapkan sistem kepartaian tunggal/ dua partai/ lebih. Pada sistem partai tunggal, kelompok kepentingan sangat dibatasi, karena pemerintahan totaliter. Pada umumnya dianut oleh negara komunis (Rusia, RRC, Vietnam, Korea Utara, Kuba dll.). Pada sistem dua partai/ lebih, kelompok kepentingan berpeluang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Pada umumnya dianut oleh negara-negara yang Demokratis.

33 d.KELOMPOK PENEKAN ( PRESSURE GROUP ) Kelompok penekan, dapat dipergunakan rakyat untuk menyalurkan aspirasinya dengan sasaran mempengaruhi atau membentuk kebijaksanaan pemerintah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi sosial keagamaan, Organisasi Kepemudaan, Organisasi Lingkungan Hidup, Organisasi pembela Hukum dan HAM, Yayasan atau Badan hukum lainnya. Contoh institusi Kelompok penekan

34 e.MEDIA KOMUNIKASI POLITIK ( POLITICAL COMMUNICATION MEDIA ) Media komunikasi politik, dapat berfungsi untuk menyampaikan informasi dan persuasi mengenai politik baik dari pemerintah kepada masyarakat maupun sebaliknya. Dapat memainkan peran penting terhadap penyampaian informasi serta membentuk/mengubah pendapat umum dan sikap politik publik. Media komunikasi ; surat kabar, telefon, faximile, internet, televisi, radio, film, dan sebagainya.

35 f.TOKOH POLITIK ( POLITICAL FIGURE ) Pengangkatan tokoh politik dilakukan melalui proses :  Transformasi dari peranan-peranan non-politis (keagamaan, kebudayaan, status sosial, dll.) untuk memainkan peranan politik yang bersifat khusus.  Pengangkatan dan penugasan untuk menjalankan tugas-tugas politik.

36  Legitimasi elit politik,  Masalah kekuasaan,  Representativitas elit politik, dan  Hubungan antara pengangkatan tokoh- tokoh politik dengan perubahan politik. Menurut Lester G. Seligman, bahwa proses pengangkatan tokoh-tokoh politik berkaitan dengan :

37 G. SUPRASTRUKTUR POLITIK Merupakan mesin politik resmi sebagai penggerak politik formal. Pada Negara Monarki, pemerintahan dikuasai oleh keluarga bangsawan. Raja/Ratu, berperan sebagai lambang kebesaran/alat pemersatu. Kabinet dapat dibentuk berdasarkan pemilu (tergantung tingkat pendemokrasiannya). Pada Negara Republik, elit politik ada yang memegang kekuasaannya secara diktator. Namun juga banyak yang bersifat demokratis (tergantung Konstitusi/UUD negaranya).

38 Perkembangan ketatanegaraan modern, pd umumnya elit politik pemerintah dibagi dalam kekuasaan :  Eksekutif (pelaksana undang-undang),  Legislatif (pembuat undang-undang), dan  Yudikatif (mengadili pelanggaran undang-undang) dengan sistem pembagian atau pemisahan kekuasaan. Didukung infra struktur politik (rakyat, partai politik dan ormas), dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya. Supra struktur politik mantap HARUS

39 Mekanisme pemerintahan ( infrastruktur dan suprastruktur politik ) dapat memenuhi fungsinya, manakala Sistem Politik mampu : 1.Mempertahankan pola (tata cara, norma-norma dan prosedur- prosedur yang berlaku). 2.Menyelesaikan ketegangan (menyelesaikan, konflik dan perbedaan pendapat) yang memuaskan semua pihak. 3.Melakukan perubahan (kemampuan adaptasi dengan perkembangan baik di dalam maupun luar negeri). 4.Mewujudkan tujuan nasional (kristalisasi keinginan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut). 5.Mengintegrasikan dan menjamin keutuhan seluruh sistem.

40 Waktu : 4 x 45 Menit Standar Kompetensi : 6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia.. Kompetensi Dasar : 6.2. Mendeskripsikan Perbedaan Sistem Politik Di Berbagai Negara Menampilkan Peran Serta Dalam Sistem Politik Di Indonesia.

41 (Indikator) Hasil Yang Diharapkan :  Mendeskripsikan Pendekatan Sistem Politik Negara.  Menganalisis Perbedaan Sistem Politik Negara (Inggris, RRC, Dan Republik Indonesia).  Menganalisis Partisipasi Politik Warga Negara.  Menganalisis Faktor-faktor Pendukung Partisipasi Politik.

42 Pendekatan Sistem Politik Negara Perbedaan Sistem Politik Negara  Inggris  RRC  Indonesia Partisipasi Politik WN Faktor-faktor Pendukung Partisipasi Pol. PERBEDAAN SISTEM POLITIK DAN PERAN SERTA DALAM SISTEM POLITIK DI INDONESIA Bentuk Partisipasi Tingkatan Partisipasi Pendidikan Politik Kesadaran Politik Sosialisasi Politik

43  Sejarah  Sosiologis  Kultural / Budaya  Psycho-Sosial (Kejiwaan masyarakat)  Filsafat  Ideologi  Konstitusi dan Hukum Setiap negara memiliki sistem politik yang berbeda. untuk mempelajari proses politik suatu negara diperlukan beberapa pendekatan : a. Pendekatan Sistem Politik Negara 3. PERBEDAAN SISTEM POLITIK DI BERBAGAI NEGARA

44 B. PERBEDAAN SISTEM POLITIK NEGARA a). Sistem Politik Negara Inggris NO FAKTOR YANG MEMPENGARUHI URAIAN / KETERANGAN 1.Latar Belakang Sejarah Sejak abad 19, Inggris berubah menjadi masyarakat industri modern. Para politisi mulai menyesuaiakan sistem politik tsb. Mereka juga dihadapkan pada masalah upaya membangun kesejahteraan warganegaranya. 2.Kondisi Sosiologis Kondisi masyarakat Inggris dalam waktu cepat mampu bersaing dengan negara–negara lain yang lebih dahulu merintis ke arah industrialisasi. Meskipun masyarakat Inggris ”bersifat kekotaan”, namun tetap menghendaki sistem monarki dengan satu raja dan banyak bangsa. 3.Kondisi Kultural/ Budaya Sebagian masyarakat Inggris dikenal sebagai masyarakat yang disiplin dan taat pada aturan. Nilai-nilai dan kebudayaan politik diwariskan dari generasi ke generasi melalui suatu rangkaian pengalaman dalam keluarga, di sekolah dan ditempat kerja.

45 4.Kondisi Psycho-Sosial / Kejiwaan masyarakat Mayoritas masyarakat sangat menghormati simbol-simbol kekuasaan negara (ratu/raja, lembaga pemerintah, dll). Mereka senantiasa menunjukkan ketaatannya kepada undang-undang politik azasi. 5.Pedoman Filsafat Masyarakat sangat mendukung rejim yang berkuasa, manakala para penguasa juga mentaati undang-undang politik asasi, dan jika dilanggar maka akan mengahadapi perlawanan. Kejahatan sangat tercela dan dianggap melawan masyarakat. 6.Paham atau Ideologi yang diterapkan Penerapan ideologi negara, adalah ideologi liberal. Dalam kehidupan sehari-hari, sangat menghormati kebebasan dan hak-hak asasi manusia. 7.Pedoman Konstitusi dan Hukum Kekuasaan pemerintah, lebih banyak dibatasi oleh konvensi dari pada hukum formal. Rakyat hidup dalam ketenangan dan kepastian hukum, karena pemerintah memberikan perlindungan hukum yang baik dan penghormatan terhadap hak-hak asasi warganegaranya. Aturan yang dibuat, ditaati oleh semua komponen elit politik, pemerintah maupun masyarakat demi jaminan keamanan dan kesejahteraan bersama.

46 Penyelenggaraan pemerintah, dilaksanakan oleh :  Kabinet (Perdana menteri dan dewan menteri) serta parlemen (Majelis Rendah dan Majelis Tinggi).  Parlemen dalam merumuskan kebijakan pemerintah dibatasi, karena cara kerjanya diawasi oleh kabinet.  Perdana Menteri dapat memastikan bahwa setiap usul yang diajukan pemerintahnya, akan disetujui dalam bentuk yang dikehendaki parlemen.

47 NO FAKTOR YANG MEMPENGARUHI URAIAN / KETERANGAN 1.Latar Belakang Sejarah Proses kehidupan sistem politik di China, merupakan produk revolusi menggantikan sistem kerajaan yang telah bertahan berabad-abad. Revolusi demi revolusi, menjadikan Partai Komunis Cina (PKC) sebagai penguasa dan membentuk pemerintahan komunis sampai dengan sekarang. 2.Kondisi SosiologisPada masyarakat Cina, lembaga-lembaga sosial yang dominan adalah keluarga. Mereka mengakui wewenang kekuasaan para pemimpinnya atas tingkah laku sosialnya. Kesetiaan harus diarahkan pada kepentingan kolektif dan bukan pada ikatan- ikatan pribadi. 3.Kondisi Kultural/ Budaya Pemerintah Cina sejak tahun 1949, telah mengupayakan pendidikan sabagai salah satu alat yang paling efektif untuk mengubah sikap politik orang-orang Cina. Melalui pendidikan, masyarakat ikut menanggung beban sosialisasi dan menciptakan masyarakat yang melek huruf sebagai syarat pendidikan politik dan keterlibatan politik. b). Sistem Politik Negara RRC

48 4.Kondisi Psycho- Sosial / Kejiwaan masyarakat Negara Cina memiliki wilayah dan penduduk terbesar di dunia. Sebelum menjadikan Partai Komunis Cina berkuasa, selalu dilanda perang saudara. Dewasa ini, mereka bangga karena memiliki kekayaan budaya tinggi yang diwariskan oleh para pendahulunya. 5.Pedoman Filsafat Mayoritas masyarakat Cina memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi. Sifat-sifat antusiasme, kepahlawanan, pengorbanan, dan usaha bersama – mendapatkan nilai tinggi. Azas percaya diri sendiri mempunyai implikasi nasional maupun internasional. 6.Paham atau Ideologi yang diterapkan Revolusi Cina telah berlangsung selama puluhan tahun sebelum partai komunis menjadi kekuatan yang besar dalam politik Cina dan mulai menguasai pemerintahannya. Anti imperialisme merupakan unsur paling kuat dalam pembentukan ideologi komunis. 7.Pedoman Konstitusi dan Hukum Berdasarkan Konstitusi 1954, organ wewenang negara tertinggi dan pemegang wewenang legislatif adalah ”Konggres Rakyat Nasional” (KRN). Selain KRN, adalah Dewan Negara (Perdana Menteri, Wakil-wakil Perdana Menteri dan kepala-kepala dari semua kementerian dan komisi). Selain itu juga ada Mahkamah Rakyat Tertinggi dan Kejakasaan Rakyat Tertinggi.

49 PENGUASA KOMUNIS CINA SELALU BERUPAYA:  Mengikutsertakan warganya dalam kegiatan politik secara teratur dan terorganisir melalui; gerakan masa, keanggotaan dalam organisasi masa, dan partisipasi dalam pengelolaan unit-unit produksi).  Dalam kaderisasi calon-calon pemimpin komunis, dilakukan; rekruitmen aktivis, kader dan anggota partai.  Masuk menjadi anggota PKC merupakan tindakan yang menentukan dalam rekruitmen politik yang akan memperoleh promosi dan kekuasaan.

50 C). SISTEM POLITIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA No Faktor Yang Mempengaruhi Uraian / Keterangan 1.Latar Belakang Sejarah Bangsa Indonesia harus menghadapi kolonial Belanda dan bala tentara Jepang untuk mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus Pasca proklamasi kemerdekaan, para pemimpin Indonesia terlibat dalam proses politik dengan mencari format berdasarkan demokrasi Pancasila. 2.Kondisi Sosiologis Masyarakat Indonesia yang multi agama, ras dan antar Golongan telah dipersatukan dalam kesatuan politik dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan demikian, upaya saling menghormati dan kerja sama dalam membangun kerukunan hidup penting untuk ditegakkan. 3.Kondisi Kultural/ Budaya Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun atas dasar sendi- sendi multi kultural. Bangsa Indonesia memiliki semangat untuk selalu menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, serta rela berkorban untuk bangsa dan negaranya. Budaya musyawarah, toleransi, dan saling menghormati telah diwariskan kepada calon- calon pemimpin melalui jalur-jalur pendidikan formal, in-formal, maupun nor-formal.

51 4.Kondisi Psycho- Sosial / Kejiwaan masyarakat Bangsa Indonesia, sebelum menjadikan Pancasila sebagai dasar negara selalu dapat dipecah belah oleh bangsa lain. Dengan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bangsa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bangsa Indonesia sangat menentang segala mecam bentuk penjajahan. 5.Pedoman Filsafat Pancasila dalam sistem politik Indonesia, telah dijadikan dasar dan motivasi dalam segala sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasionalnya sebagaimana terkandung di dalam Pembukaan UUD Paham atau Ideologi yang diterapkan Ideologi negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, akan selalu dikaitkan dengan proses politik dalam pengaturan penyelengga- raan pemerintahan negara yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Dalam struktur politik, Pancasila menjadi sumber segala sumber hukum. 7.Pedoman Konstitusi dan Hukum Sejak pemilu 2004, presiden dipilih oleh rakyat sehingga tanggung jawabnya kepada rakyat. Lembaga negara, terdiri dari ; MPR, Presiden, DPR, Badan Pengawas Keuangan (BPK), dan Mahkamah Agung.

52 DEMOKRASI DI INDONESIA DENGAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA DENGAN PRINSIP : a. Harus berdasarkan Pancasila sebagaimana disebut di dalam Pembukaan UUD 1945, serta penjabarannya dalam Batang Tubuh dan Penjelasan UUD b.Menghargai dan melindungi hak-hak asasi manusia. c.Dalam ketatanegaraan, harus berdasar atas kelembagaan yang diharapkan segala sesuatunya dapat diselesaikan melalui saluran-saluran tertentu sesuai UUD d.Bersendi atas hukum sebagaimana dijelaskan di dalam penjelasan UUD 1945.

53 SISTEM POLITIK DEMOKRASI PANCASILA MENGHARGAI NILAI-NILAI MUSYAWARAH SEBAGAI BERIKUT: 1.Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat; 2.Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain; 3.Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama; 4.Musyawarah harus diliputi olh semangat kekeluargaan; 5.Dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab menerima dan melaksanakan keputusan musyawarah; 6.Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur; 7.Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan YME, menjun-jung tinggi harkat dan martabat manusia, serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

54 Demokrasi Pancasila Pada Hakikatnya Demokrasi Yang Bercorak Khas Indonesia, Yang Penerapannya Dijabarkan Dalam :  Pemerintahan Berdasarkan Hukum.  Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia  Pengambilan Keputusan Berdasakan Musyawarah  Peradilan yang Bebas dan Merdeka  Partai Politik (Parpol) dan Organisasi Sosial Politik (Orsospol)  Pelaksanaan Pemilihan Umum ( pemilu )

55 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SESUAI DENGAN PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI PANCASILA: a.Keseimbangan antara hak dan kewajiban, b.Persamaan, c.Kebebasan yang bertanggungjawab, d.Mengutamakan persatuan dan kesatuan. ASPEK - ASPEK DEMOKRASI PANCASILA: a.Aspek formal b.Aspek materiil c.Aspek normatif ( kaidah )

56 Penugasan Praktik Kewarganegaraan Setelah mempelajari materi-materi tentang : Sistem Politik di Berbagai Negara, dilanjutkan Penugasan dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut : 1.Berikan penjelasan singkat, apa sajakah perbedaan pokok dalam menentukan cara bekerjanya sistem politik sebagai berikut : NOCARA KERJAURAIAN SINGKAT 1.Sosial Politik Rekruitmen Politik Komunikasi Politik Berikan tanggapan penjelasan, bagaimanakah pola pembinaan dan proses politik pada masyarakat Inggris yang dikenal sangat patuh kepada peraturan perundangan dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari !

57 3.Dalam sistem politik negara Cina berdasarkan Konstitusi Tahun 1954, terdapat 3 elit politik yang sangat berpengaruh. Berikan penjelasan singkat tugas pokok elit politik tersebut ! KONGGRES RAKYAT NASIONAL DEWAN NEGARA MAHKAMAH RAKYAT TERTINGGI DEMOKRASI TERPIMPIN DEMOKRASI PANCASILA Tuliskan persamaan dan perbedaan Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila yang pernah dipraktikkan dalam sistem politik negara Inodnesia !

58 C. PERAN SERTA DALAM SISTEM POLITIK DI INDONESIA a.Partisipasi Politik Warga Negara Partisipasi politik, merupakan penentuan sikap dan  keterlibatan hasrat setiap individu dalam situasi dan kondisi organisasinya, sehingga pada akhirnya :  Mendorong individu tersebut berperan serta dalam pencapaian tujuan organisasi,  Mengambil bagian dalam setiap pertanggungjawaban bersama.

59 PENGERTIAN PARTISIPASI POLITIK MENURUT PARA AHLI :  Herbert Mc. Closky, Partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui darimana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langsung, dalam proses pembentukan kebijaksanaan umum.  Norman H. Nie dan Sidney Verba, Partisipasi politik adalah kegiatan pribadi warga negara yang legal yang sedikit banyak langsung bertujuan untuk mempengaruhi seleksi pejabat-pejabat negara dan/atau tindakan-tindakan yang diambil oleh mereka.  Prof. Miriam Budiardjo, Partisipasi politik merupakan kegiatan seseorang dalam partai politik. Partisipasi politik mencakup semua kegiatan sukarela melalui mana seseorang turut serta dalam proses pemilihan pemimpin-pemimpin politik dan turut serta – secara langsung atau tak langsung – dalam pembentukan kebijaksanaan umum.

60 BENTUK-BENTUK PARTISIPASI POLITIK KONVENSIONALNON-KONVENSIONAL  Pemberian Suara ( voting )  Diskusi politik  Kegiatan kampanye  Membentuk dan bergabung dalam kelompok Kepentingan.  Komunikasi individual dengan pejabat politik/administratif.  Pengajuan petisi  Berdemonstrasi  Konfrontasi  Mogok  Tindak kekerasan politik terhadap harta benda.  Tindak kekerasan politik terhadap manusia.

61 7 (TUJUH) BENTUK PARTISIPASI POLITIK INDIVIDUAL MENURUT MILBRATH M.L. GOEL : NO BENTUK PARTISIPASI URAIAN / KETERANGAN 1. Aphatetic Inactives Tidak beraktifitas dan partisipatif, tidak pernah memilih. 2. Passive Supporters Memilih secara reguler/teratur, menghadiri Parade patriotik, membayar seluruh pajak, “mencintai negara”. 3. Contact Specialist Pejabat penghubung lokal (daerah), propinsi dan nasional dalam masalah-masalah tertentu.

62 4.Communicators Mengikuti informasi politik, mengirim pesan dukungan dan protes terhadap pemimpin- pemimpin partai politik. 5. Party and CampaignWorkers Bekerja untuk partai politik atau kandidat, meyakinkan orang lain tentang bagaimana memilih, bergabung dan mendukung partai politik, dipilih jadi kandidat partai politik. 6.CommunityActivist Bekerja dengan orang-orang lain berkaitan dengan masalah-masalah lokal dan melakukan kontak terhadap pejabat-pejabat berkenaan dengan isu-isu sosial. 7.Protesters Bergabung dengan demonstrasi publik di jalanan, melakukan protes keras bila pemerintah melakukan sesuatu yang salah.

63 Tingkatan atau piramida partisipasi politik menurut David F. Roth dan Frank L. Wilson (1980). (Menyimpang) Pembunuh politik, teroris, pembajak Pejabat umum, pejabat parpol sepenuh waktu, pimpinan kelompok kepentingan Petugas kampanye, aktif dalam parpol/kelompok kepentingan, aktif dalam proyek-proyek sosial Menghadiri rapat umum, anggota kelompok kepentingan, usaha meyakinkan orang, memberikan suara dalam pemilu, mendiskusikan masalah politik, perhatian pada perkembangan politik. Orang Yang apolitis Pengamat Partisipan Aktivis

64 TINGKATAN PADA PARTISIPASI POLITIK, SANGAT TERGANTUNG DARI AKIBAT YANG DISEBABKANNYA :  Menduduki jabatan politik atau administratif.  Mencari jabatan politik atau administratif.  Keanggotaan aktif suatu organisasi politik.  Keanggotaan pasif suatu organisasi politik.  Keanggotan aktif suatu organisasi semu politik ( quasi-political ).  Keanggotan pasif suatu organisasi semu politik ( quasi-political ).  Partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi, dan sebagainya.  Partisipasi dalam diskusi politik informal minat dalam bidang politik.  Voting (pemberian suara).

65 b.FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG PARTISIPASI POLITIK Menurut Alfian, Pendidikan politik dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk mengubah proses sosialisasi politik masyarakat sehingga mereka memahami dan menghayati betul-betul nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. 1) PENDIDIKAN POLITIK Pendidikan politik sebenarnya dimaksudkan untuk mewujudkan atau setidak-tidaknya menyiapkan kader-kader yang dapat diandalkan untuk memenuhi harapan masyarakat luas, dalam arti yang benar-benar memahami semangat yang terkandung di dalam perjuangan sebagai kader bangsa.

66 Melalui pendidikan politik, diharapkan kader-kader anggota partai politik akan memperoleh manfaat : 1.Dapat memperluas pemahaman, penghayatan dan wawasan terhadap masalah-masalah atau isu-isu yang bersifat politis. 2.Mampu meningkatkan kualitas diri dalam berpolitik dan berbudaya politik sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. 3.Lebih meningkatkan kualitas kesadaran politik rakyat menuju peran aktif dan partisipasinya terhadap pembangunan politik bangsa secara keseluruhan.

67 2) KESADARAN POLITIK Menurut Drs. M. Taopan, kesadaran politik adalah suatu proses batin yang menampakkan keinsafan dari setiap warga negara akan urgensi (hal terpenting) urusan kenegaraan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tingkat kesadaran politik masyarakat tidaklah sama, sangat tergantung pada latar belakang pendidikannya. Kaum elit dan kelompok menengah, nampak relatif lebih baik. Sedangkan kelompok masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah, diperlukan pembinaan yang intensif.

68 PARTISIPASI POLITIK ANGGOTA MASYARAKAT DAPAT DILAKSANAKAN DENGAN : NoBidangImplementasi Partisipasi politik 1. Politik Setiap warga negara dapat ikut serta secara langsung ataupun tidak langsung dalam kegiatan-kegiatan antara lain : a.Ikut memilih dalam pemilihan umum, b.Duduk dalam lembaga politik, seperti MPR, Presiden, DPR, Menteri, dan sebagainya, c.Berkampanye, menghadiri kelompok diskusi, dan lain-lain. 2. Ekonomi Setiap warga negara dapat ikut serta secara aktif dalam kegiatan- kegiatan antara lain : a.Menciptakan sektor-sektor ekonomi yang produktif baik dalam bentuk jasa, barang, transportasi, komunikasi, dan sebagainya. b.Melalui keahlian masing-masing, dapat menciptakan produk- produk unggulan yang inovatif, kreatif dan kompetitif daripada produk luar. c.Kesadaran untuk membayar pajak secara teratur demi kesejahteraan dan kemajuan bersama.

69 3. Sosial- Budaya Setiap warga negara dapat mengikuti kegiatan-kegiatan a.l. : a.Sebagai pelajar atau mahasiswa, harus dapat menunjukkan prestasi belajar yang tinggi. b.Menjauhkan diri dari perbuatan yang melanggar hukum, seperti: tawuran, narkoba, merampok, berjudi, dan sebagainya. c.Profesional dalam bidang pekerjaannya, disiplin, dan produktivitas tinggi untuk menunjang keberhasilan pembangunan nasional. 4.Hankam Setiap warga negara dapat ikut serta secara aktif dalam kegiatan- kegiatan antara lain : a.Bela negara dalam arti luas, sesuai dengan kemampuan dan profesinya masing-masing. b.Senantiasa memelihara ketertiban dan keamanan wilayah atau lingkungan tempat tinggalnya. c.Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa demi tetap tegak negara Republik Indonesia. d.Menjaga stabilitas dan kemanan nasional agar pelaksanaan pembangunan dapat berjalan sesuai dengan rencana.

70 2) SOSIALISASI POLITIK Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses dengan jalan mana orang belajar tentang politik dan mengembangkan orientasi pada politik. Sarana Dalam Sosialisasi Politik  Keluarga ( family )  Sekolah  Partai Politik

71 Setelah mempelajari materi-materi tentang : Partisipasi Politik, Faktor-faktor Pendukung Partisipasi Politik, dilanjutkan Penugasan dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut : Penugasan Praktik Kewarganegaraan 1.Berikan penjelasan singkat tentang bentuk-bentuk partisipasi politik sebagai berikut : NO BENTUK PARTISIPASI URAIAN SINGKAT 1. Passive Support Contact Specialist Community Activist

72 Berikan 2 (dua) contoh yang anda ketahui : Berikan penjelasan pentingnya partisipasi politik warga negara di dalam sistem politik negara Indonesia ! Berikan tanggapan penjelasan, pentingnya pendidikan politik warga negara dalam sistem politik negara Indonesia dan berikan contohnya ! …………………………………………………………………………………......

73 SOAL ESSAY/URAIAN Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas ! 1.Berikan penjelasan, ciri-ciri umum sistem politik menurut Almond ! 2.Dalam hal penerapan, jelaskan perbedaan orientasi tujuan partai politik di Indonesia pada masa orde baru dan era reformasi ! 3.Pada akhir abad 20-an, gerakan partisipasi politik di Indonesia semakin meningkat, berikan alasan penjelasannya ! 4.Berikan penjelasan tentang pentingnya pendidikan politik dalam kegiatan partisipai politik di Indonesia ! 5.Berikan masing-masing 2 (dua) contoh wujud sosialisasi politik di dalam keluarga, sekolah maupun melalui partai politik !

74 STUDI KASUS PARTAI POLITIK ALAMI KRISIS, DAYA ARTIKULASI MENURUN Setelah pemilu (2004), daya artikulasi partai politik menurun. Tidak heran jika sekarang kekuatan di luar negara muncul dengan kekuatan yang lebih kentara. Kondisi ini memperlihatkan betapa partai politik sekarang mengalami krisis. Hal ini disampaikan oleh pengamat Fachry Ali dalam diskusi tentang sikap partai politik terhadap masalah diplomasi pertahanan dan keamanan nasional yang diselenggarakan Majelis Pakar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta, Kamis 4 Mei Menurut Fachry, partai politik memang sudah bisa menerima hasil pemilu. Namun, pemerintah yang terpilih tidak mampu membuatg koalisi nasional secara besar-besaran. “Problemnya, presiden terpilih yang berasal dari partai kecil akan bermasalah ketika berhadapan dengan parlemen. Untungnya ada Jusuf Kalla, yang berhasil menguasai Golkar sehingga bisa membuat stabilitas politik lebih kuat di parlemen,” ujarnya. Sayangnya, partai seperti PPP hampir tidak bersuara pada kebijakan pemerintah dan rakyat. Bahkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang sudah menempatkan diri sebagai oposisi, tidak punya kepandaian menangkap esensi persoalan. Mereka tidak punya kemampuan meluncurkan persoalan pada saat yang tepat. “Jadinya, fungsi oposisi hampir tidak berjalan, dan yang dilakukan hanya hal-hal kecil. Padahal, PDIP potensial tampil berhadapan dengan pemerintah, ujarnya. Sumber : Harian Kompas, 5/5/2006

75 TAGIHAN TUGAS : 1.Setelah disimak dan baca baik-baik, jelaskan kembali apa telah ditulis sesuai dengan persepsi yang ada dibenak anda ! 2.Berikan beberapa penjelasan indikasi tentang terjadinya “krisis” dan “menurunnya daya artikulasi” partai politik di Indonesia pasca pemilu 2004 ! 3.Tentukan langkah-langkah konkrit upaya-upaya dalam membangun artikulasi partai politik guna meningkatkan kinerja di parlemen ! 4.Sebagai pelajar, apa yang harus dilakukan sebagai bentuk partisipasi ploitik? 5.Berikan usulan konkrit, apa yang harus anda lakukan guna meningkatkan kinerja pemerintah dengan mitra kerjanya parlemen : a.Sebagai salah satu kelompok kepentingan ! b.Sebagai ketua suatu partai politik ! c.Sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat ! d.Sebagai Presiden Republik Indonesia !

76 INQUIRI Carilah referensi dari berbagai sumber untuk mengkaji ulang tentang rumusan dan penerapan sistem politik demokrasi Pancasila (berikut gambar-gambar pendukungnya) yang berkaitan dengan tata cara pengambilan keputusan ! 1.Pahami kembali tentang rumusan “demokrasi Pancasila ”, dan buatlah skenario ( simulasi atau role play ) wujud demokrasi Pancasila dalam pengambilan keputusan di sekolah ! 2.Carilah topik-topik dari berbagai sumber (mass media cetak atau elektronik) sekitar pelaksanaan sistem politik demokrasi Pancasila (cara pengambilan keputusan), 3.Kemudian lakukan demonstrasi dalam bentuk simulasi atau role play di dalam kelas !


Download ppt "Waktu: 8 x 45 Menit (Keseluruhan KD) STANDAR KOMPETENSI: 6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia. KOMPETENSI DASAR : 6.1. Mendeskripsikan Infrastruktur."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google