Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 Tutor : dr. Arisman  Anggota : › Azwar Zulmi › Mutia Fatrina › Mita Adriani › Andi Hasyim › Kenny Merryn › Yuliarni › Leo Fernando › Rani Apriani ›

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " Tutor : dr. Arisman  Anggota : › Azwar Zulmi › Mutia Fatrina › Mita Adriani › Andi Hasyim › Kenny Merryn › Yuliarni › Leo Fernando › Rani Apriani ›"— Transcript presentasi:

1

2  Tutor : dr. Arisman  Anggota : › Azwar Zulmi › Mutia Fatrina › Mita Adriani › Andi Hasyim › Kenny Merryn › Yuliarni › Leo Fernando › Rani Apriani › Said Sabri › Intan Meilita › Septika Lena Elida

3  Mr. Brown, 60 years old come to emergency room with chief complaint can not voiding spontaneously since 3 hours ago and suffered from lower abdominal pain.  History of illness, he has weak of stream and strain of urination since 6 months ago.  Discuss this case completely.

4 INFORMASI TAMBAHAN  Obstructive symptoms occurred since 6 months ago include hesitancy (delay to start voiding), decreased force and caliber of stream, sensation of incomplete bladder emptying, straining to urinate, post void dribbling (kencing terakhir menetes)  Iritative symptoms : urgency, frequency (kencing sedikit – sedikit dan sering karena obstruksi prostate) and nocturia (terbangun waktu kencing selama jam tidur > 1)  IPSS (International Prostatic Symptoms Score) since 6 months ago = 28 (0-7 = mild ; 8-9 = moderate; = severe)  On physical examination - BP = 150/90 mmHg - HR = 105 x/min - Temperature = 37 0 C - Head and neck : normal - Chest : normal

5 - Abdominal : › Inspection : distend lower abdominal › Palpation : bladder palpable 2 cm below the umbilicus  DRE (Digital Rectal Examination) should be done after insert the catheter into the urethra : › Sphincter tone is normal, prostate enlarge, consistency rubbery, no induration.  Laboratory finding : serum creatinine = 1,0 urine sediment = RBC 10 /HPF, WBC 0-2/HPF  Imaging : USG : bilateral mild hydronefrosis, bladder is full, prostate enlarge 6 cm x 5 cm x 5 cm

6  Cannot voiding spontaneously : Tidak bisa berkemih secara spontan  Lower abdominal pain : Nyeri perut bagian bawah  Hesitancy : menunggu lama dipermulaan berkemih  Sensation of incomplete bladder emptying : sensasi rasa penuh di buli-buli akibat pengosongan buli-buli yang tidak sempurna  Straining to urinate : mengedan saat berkemih  Dribbling : urin yang menetes pada akhir miksi  Urgency : sensasi ingin berkemih yang tak terkontrol / tak bisa tertahan lagi.

7  Frequency : berkemih sering tetapi sedikit-sedikit  Nocturia : keinginan untuk berkemih pada malam hari  IPSS/ AUA since 2 months ago : 28  Distend lower abdominal : perasaan penuh pada bagian bawah perut (vesika urinaria )  Consistency rubbery: konsistensi kenyal / elastis ( kelenjar prostat)  Induration : bagian yang menonjol dan teraba keras  Bilateral mild hydronephrosis : Hidronefrosis bilateral ringan

8  Mr. Brown 60 tahun mengeluh nyeri pada perut bawah dan tidak bisa kencing sejak 3 jam yang lalu.  Tekanan darahnya 150/90 mmHg, nadi 105 x/ menit.Buli-buli penuh, prostate membesar, micros hematuria, hidroneprosis ringan bilateral. Gejala Lower Urinary Tract Symptoms sejak 6 bulan lalu.

9 1. Bagaimana anatomi, fisiologi berkemih, dan histology lower abdominal pain traktus urinarius pada ♀ ? 2. Anamnesis a. Keluhan utama : Tidak bisa berkemih secara spontan  Penyebab  Dampak lebih lanjut  Mekanisme pada Mr. Brown b. Keluhan tambahan : nyeri perut bagian bawah  Penyebab  Mekanisme pd Mr. Brown c. RPS : lemahnya pancaran urin, gejala obstruksi, dan IPSS sejak 6 bulan yang lalu, serta adanya gejala iritatif  Penyebab  Mekanisme  Bagaimana RPP dari 6 bulan yang lalu sampai sekarang ?

10 3. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik ? 4. DD 5. Bagaimana interpretasi pemeriksaan penunjang ? 6. DK a. Definisi b. Etiologi c. Faktor resiko d. Manifestasi klinis e. Pathogenesis 7. Penatalaksanaan 8. Prognosis 9. Komplikasi

11 Mr.Brown, 60 tahun, dengan retensi urin yang disebabkan pembesaran prostate jinak, hipertensi serta hidronefrosis ringan.

12

13

14  Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi oleh kapsul fibromuskuler,yang terletak disebelah inferior vesika urinaria, mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika) dan berada disebelah anterior rektum. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram, dengan jarak basis ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm dengan tebal 2,5 cm.12

15  Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus :  lobus medius  lobus lateralis (2 lobus)  lobus anterior  lobus posterior 8,12

16  Kelenjar prostate menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung ion sitrat, kalsium,ion fosfat, enzim pembeku, dan profibrinolisin. Selama pengisian, simpai kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat menambah lebih banyak lagi jumlah semen. Sifat yang sedikit basa dari cairan prostat mungkin penting untuk suatu keberhasilan fertilisasa ovum, karena cairan vas deferens relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir metabolisme sperma, dan sebagai akibat, akan menghambat fertilisasi sperma. Juga, secret vagina bersifat asam (pH 3,5 sampai 4,0). Sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH sekitarnya meningkat kira-kira 6 sampai 6,5. Akibatnya, merupakan suatu kemungkinan bahwa cairan prostate menetralkan sifat asam dari cairan lainnya setelah ejakulasi dan juga meningkatkan motilitas dan fertilitas sperma.

17  Prostat mempunyai kurang lebih 20 duktus yang bermuara dikanan dari verumontanum dibagian posterior dari uretra pars prostatika. Disebelah depan didapatkan ligamentum pubo prostatika, disebelah bawah ligamentum triangulare inferior dan disebelah belakang didapatkan fascia denonvilliers.  Fascia denonvilliers terdiri dari 2 lembar, lembar depan melekat erat dengan prostat dan vesika seminalis, sedangkan lembar belakang melekat secara longgar dengan fascia pelvis dan memisahkan prostat dengan rektum.  Antara fascia endopelvic dan kapsul sebenarnya dari prostat didapatkan jaringan peri prostat yang berisi pleksus prostatovesikal

18  Pada potongan melintang kelenjar prostat terdiri dari :  Kapsul anatomi  Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler  Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian,  Bagian luar disebut kelenjar prostat sebenarnya.  Bagian tengah disebut kelenjar submukosa, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatous zone  Disekitar uretra disebut periurethral gland.

19  Pada BPH kapsul pada prostat terdiri dari 3 lapis : › kapsul anatomis › kapsul chirurgicum, ini terjadi akibat terjepitnya kelenjar prostat yang sebenarnya (outer zone) sehingga terbentuk kapsul › kapsul yang terbentuk dari jaringan fibromuskuler antara bagian dalam (inner zone) dan bagian luar (outer zone) dari kelenjar prostat.  BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena mengandung banyak jaringan kelenjar, tetapi tidak mengalami pembesaran pada bagian posterior daripada lobus medius (lobus posterior) yang merupakan bagian tersering terjadinya perkembangan suatu keganasan prostat. Sedangkan lobus anterior kurang mengalami hiperplasi karena sedikit mengandung jaringan kelenjar.

20  Keluhan utama : tidak bisa voiding secara sempurna › Penyebab tidak bisa voiding secara sempurna dapat dibagi menjadi 3 kelompok (Rochani,2000) : 1. Supra Vesika › Penyebab supra vesikal adalah hal-hal yang disebabkan karena persarafan kandung kemih misalnya trauma medula spinalis, atau kerusakan syaraf-syaraf sympatis dan para sympatis akibat trauma operasi atau neuropati DM. Obat-obatan anticholinergike, smooth muscle relaksasi. Symphatikomimetik dapat menyebabkan retensi urine.

21 2. Vesika. › Penyebab vesikal adalah kelainan-kelainan kandung kemih yang diakibatkan obstruksi lama atau infeksi kronis yang menyebabkan fibrosis buli-buli sehingga kontraksi buli-buli melemah. 3. Infra Vesikal › Penyebab infra vesikal adalah penyebab mekanik seperti:  Klep uretra posterior congenital  Meatus stenosis kongenital  Striktur uretra  Batu uretra  Prostat hipertropi

22  Keluhan tambahan : nyeri perut bagian bawah › Penyebab  Infeksi traktus urinary  Diverticulitis  Ectopic pregnancy  Penyakit radang pelvis › Lokasi  Lower middle abdomen  Dapat disebakan oleh penyakit radang pelvis  Lower left abdomen  Dapat disebabkan oleh gangguan lower colon,lactose intolerance, infeksi traktus urinary, penyakit radang usus besar yang dikenal sebagai diverticulitis  Lower right abdomen  Dapat disebabkan oleh hernia maupun ectopic pregnancy.

23  Riwayat penyakit sekarang : lemahnya pancaran dan aliran urin sejak 2 bulan yang lalu › Penyebab  - Obstruksi pada traktus urinarius akibat pembesaran kelenjar  - Kelemahan otot detrusor dalam berkontraksi › Mekanisme  Pada kasus benign prostat hyperplasia lemahnya pancaran urin merupakan manifestasi dari penyempitan uretra pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama saehingga kontraksi terputus-putus.

24 › Yang perlu anamnesis lainnya :  Berdasarkan Score Madsen Iversen  Pancaran urin:  a. Normalc. Lemah  b. Berubah-ubahd. Menetes  Mengedan saat berkemih:  a. Tidakb. Ya  Harus menunggu saat akan kencing:  a. Tidakb. Ya  Buang air kecil terputus-putus:  a. Tidakb. Ya  Kencing tidak lampias:  a.Tidak tahu  b.Berubah-ubah  c.Tidak lampias

25  Retensi:  a.1 kali retensi  b.> 1 kali retensi  c.Inkontinensia  Kencing sulit ditunda:  a.Tidak tahuc. Sedang  b.Ringand. Berat  Kencing saat malam hari:  a.0 – 1c  b.2 d. > 4  Kencing siang hari  a.> 3 jam sekali  b.Setiap 2 – 3 jam sekali  c.Setiap 1 – 2 jam sekali  d.< 1 jam sekali

26 › Berdasarkan Skor internasional gejala-gejala prostat WHO (International Prostate Symptom Score, IPSS)  Keluhan pada bulan terakhir  a.Tidak sama sekalid. 15 kali  b. 15 kali  c.>5 sampai 15 kalif. Hampir selalu  Adakah anda merasa buli-buli tidak kosong setelah buang air kecil?  a.Ya  b.Tidak  Berapa kali anda hendak buang air kecil lagi dalam waktu 2 jam setelah buang air kecil:  a.0c. 3  b.1d. 4  c.2e. 5

27  Berapa kali terjadi air kencing berhenti sewaktu buang air kecil?  a.0c. 3  b.1d. 4  c.2e. 5  Berapa kali anda tidak dapat menahan keinginan buang air kecil?  a.0c. 3  b.1d. 4  c.2e. 5  Berapa kali arus air seni lemah sekali sewaktu buang kecil?  a.0c. 3  b.1d. 4  c.2e. 5

28  Berapa kali terjadi anda mengalami kesulitan memulai buang air kecil (harus mengejan)?  0c. 3  1d. 4  2e. 5  Berapa kali anda bangun untuk buang air kacil di waktu malam?  0c. 3  1d. 4  2e. 5  Andaikata hal yang anda alami sekarang akan tetap berlangsung seumur hidup, bagaimana perasaan anda?  Sangat senangd. Agak tidak senang  Cukup senage. Tidak menyenangkan  Biasa saja f. Sangat tidak menyenangkan

29  Jumlah nilai : › 0 = baik sekali › 1 = baik › 2 = kurang baik › 3 = kurang › 4 = buruk › 5 = buruk sekali

30 › Kencing sedikit dan frekuensi sering : karena konstriksi leher kandung kemih memerlukan tekanan yang tinggi untuk mengeluarkan urin. Kandung kemih diregangkan sampai mencapau tekanan tersebut dan akan mengeluarkan isinya sampai tekanan tersebut turun lagi. Keadaan ini merupakan miksi karena kelebihan isi (overflow voiding). › Urgensi : idem › Sensasi pengosongan bledder tidak lampias: idem › Masih menetes : idem › Sering terbangun dari tidur : idem › Suhu tubuh 37 0 C : sedikit demam › Distensi abnormal › Bladder teraba 2 cm di bawah umbilicus : prostat membesar

31 › Tekanan darah 150/90 mmHg : Hipertensi stage 1 › HR 105x/menit : takikardi ringan › Colok dubur setelah dilakukan kateter di uretra  Tonus spincter normal  Pembesaran prostat  Kensistensi rubri (karet)  Tidak ada undurasi (sklerosis/pengerasan)

32 VU berisi 300 – 400 cc Peregangan VU Mengaktifkan reseptor regang yg membawa impuls ke korda spinalis Merangsang persarafan parasimpatis VU berkontraksi secara volunter Relaksasi otot2 perineal dan m. sfingter uretra Kontraksi m. detrusor Perbedaan tekanan Tek. VU > tek. uretra Urin dipancarkan keluar melalui uretra

33 Gejala - gejala BPHBatu di bladderProstatitis Tidak dapat berkemih secara sempurna+-- Nyeri perut bagian bawah+++ Pancaran dan aliran urin lemah++- Sakit saat kencing+++ Frekuensi++ Sensasi pengosongan tidak lampias+-- Masih menetes+++ Sering terbangun malam hari untuk berkemih +++

34 Intermiten+++ Distensi abnormal Tekanan darah naik++ Hidronefrosis+++ Pembesaran prostat+ - [+, Pembesaran bladder] + Demam--+ Kreatinin serum Ureum RBC ↑ atau normal ↑↑ WBC ↑↑↑ Kultur - -+

35  Laboratorium KasusNormalInterpretasi Serum Kretinin1 mg/dl 0,5 – 1,4 mg/dl Normal Tinggi : azotemia pra renal, penyakit ginjal, gagal ginjal, azotemia pasca renal. RBC10 lpb0 – 3 lpb Hematuria, adanya infeksi atau inflamasi pada traktus urinarius. Leukosit0 – 2 lpb 0 – 5 lpbNormal Jika meningkat menunjukkan adanya peradangan

36  USG  Bilateral mild hidronefrosis: meningkatnya tekanan di pyelum dan di calyx akibat urin yang tidak keluar.  Bladder is full : penuh karena urin tidak dapat keluar sehingga terus tertahan di bladder  Prostate enlargement 6 x 5 x 5 cm ( normal = 3 x 4 x 2,5 cm) : terjadi pembesaran prostat

37 BPH [Benign Prostate Hyperplasia]

38  BPH adalah pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran prostat jinak akibat sel-sel prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal, yang biasanya dialami laki-laki berusia diatas 50 tahun.

39  1/3 dari laki-laki berumur diatas 50 tahun  BPH secara histologi 90% terdapat pada pria berumur diatas 85 tahun.  45% terjadi laki-laki berumur 46 tahun  Meningkat 24% pada pria diatas 80 tahun

40 Beberapa teori berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor pertambahan usia, yaitu:  Teori DHT (dehidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-α reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.  Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan epitel.  Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Sel aplifiying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen ini akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.

41  Teori growth factor › Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma dibawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor β (TGF β), akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan akan menghasilkan pembesaran prostat. Peranan dari growth factor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Terdapat empat peptic growth factor yaitu; basic transforming, dan  1, transforming growth factor  growth factor, transforming growth factor epidermal growth factor.

42  Teori Hormonal › Teori ini dibuktikan bahwa sebelum pubertas dilakukan kastrasi maka tidak terjadi BPH, juga terjadinya regresi BPH bila dilakukan kastrasi. Selain androgen (testosteron/DHT), estrogen juga berperan untuk terjadinya BPH.  Teori peningkatan lama hidup sel-sel prostat karena berkuramgnya sel yang mati

43  Perubahan paling awal pada BPH adalah di kelenjar periuretra sekitar verumontanum: › Perubahan hiperplasia pada stroma berupa nodul fibromuskuler, nodul asinar atau nodul campuran fibroadenomatosa. › Hiperplasia glandular terjadi berupa nodul asinar atau campuran dengan hiperplasia stroma. Kelenjar-kelenjar biasanya besar dan terdiri atas tall columnar cells. Inti sel-sel kelenjar tidak menunjukkan proses keganasan.

44  BPH adalah perbesaran kronis dari prostat pada usia lanjut yang berkorelasi dengan pertambahan umur. Perubahan yang terjadi berjalan lambat dan perbesaran ini bersifat lunak dan tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam banyak hal dengan berbagai faktor pembesaran ini menekan uretra sedemikian rupa sehingga dapat terjadi sumbatan partial ataupun komplit.  Penurunan kadar serum testosteron, dan kadar estrogen meningkat. Juga terdapat teori bahwa rasio estrogen/androgen yang lebih tinggi akan merangsang hyperplasia jaringan prostat. Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan kolagen dan elastin di antara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot. Hal ini mengakibatkan terjadinya hipersensitivitas pasca fungsional, ketidakseimbangan neurotransmiter, dan penurunan input sensorik, sehingga otot detrusor tidak stabil.

45  Usia tua  Merokok  Aktivitas fisik yang kurang  PSA tinggi (antigen spesifik prostat)

46 Etiologi2 Penyempit an uretra TIV ↑ Hipertrofi m. detrusor Trabekula, selula, divertikula m. detrusor lbh sensitif Frekuency, urgency, nocturia, urge continance yg berlangsung trs- menerus BPH Tahanan outflow lbh meningkat Pancaran air seni lemah Aliran air seni kecil Hesitancy Daya m. detrusor melemah Masa kontraksi jd lbh pndek Otot2 jd menipis Daya pompa VU < daya tahanan outflow Pengosongan VU tdk smprna Residual urin stasis Daya m. detrusor smkin lmh Residual urin ↑↑ Peradang an Infiltrasi dr plasma sel, limfosit, sel PMN Edema submukos a VU Pembentu kn batu Rasa nyeri, pedih, berdarah, panas saat miksi Daya tampung VU mengecil Mengejan utk BAK Pancaran air seni tetap lemah Aliran seni kecil sekali Menetes Retensi urin VU membsr & meregang Daya kontraksi menghilang Overflow incontinance Refluks vesika ureter Hidroureter hidronefrosis Elektrolit imbalance Hiper kalemia Hiper natremia takikardiHT Usia Gagal ginjal

47  Obstruksi pada uretra dan kehilangan fungsi vesica urinaria menyebabkan pengosongan vesica urinaria tidak sempurna.  Hesistansi, aliran dan pancaran urin lemah  Urgensi, urin keluar hanya menetes atau bocor  Sering berkemih terutama saat malam (nocturia)  Retensi urin dan incontinence karena overflow  Intermiten  Frekuensi  Unge incontinence (sulit menahan kencing)

48  Obstruksi. Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga faktor yaitu volume kelenjar periuretral, elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat, kekuatan kontraksi otot detrusor.  Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaris yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh karena hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh., gejalanya ialah: › Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency) › Nokturia › Miksi sulit ditahan (Urgency) › Disuria (Nyeri pada waktu miksi) (P/UI)

49  Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi : Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing 50 ml Grade III : Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa urin > 150 ml 7

50 Watchful Waiting  Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan.Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan.

51 Terapi Medikamentosa. Pilihan terapi non- bedah adalah pengobatan dengan obat (medikamentosa ). › Alpha adrenergic blocker untuk menghambat efek sinapsis postgenglionik pada otot polos dan kelenjar exokrin.  Phenoxybenzamine (Dibenzyline) 10 mg per oral.  Prazosin (Minipress) 2 mg per oral  Alfuzosin (UroXatral) 2,5 mg per oral  Indoramin 20 mg per oral  Terazosin (Hytrin) 1-5 mg peroral; bisa dititrasi dengan dosis maksimal 10 mg berdasarkan tolerabilitas dan perkembangan gejala.may titrate to maximal dose of 10 mg based on tolerability and symptomatic improvement  Doxazosin (Cardura) 1 mg per oral  Tamsulosin (Flomax) 0,4 ma per oral pada awalmya kemudian ditingkatkan menjadi 0,8 mg per oral.

52 › 5-alpha reduktase inhibitors untuk menghampat konversi testosteron menjadi DHT, menyebabkan kadar DHT menjadi turun, yang dapat mengurangi ukuran prostat.  Finasteride (Proscar) 5 mg per oral  Dutasteride (Avodart) 0,5 mg per oral

53 Terapi Bedah Konvensional (Open simple prostatectomy ) › Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat terlalu besar, di atas 100g, atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli.

54 Terapi Invasif Minimal › Transurethral resection of the prostate (TUR-P) Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter. › Transurethral incision of the prostate (TUIP) Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat kecil. › Terapi laser Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.

55 Terapi alat  Microwave hyperthermia › Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan melalui uretra atau rektum sampai suhu 42-45oC sehingga diharapkan terjadi koagulasi.  Trans urethral needle ablation (TUNA) › Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang menancap di jaringan prostat.  High intensity focused ultrasound (HIFU) › Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan energi ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus.  Intraurethral stent › Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa prostatika untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.  Transurethral baloon dilatation › Dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih.

56  Kini, sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH). Hasilnya, kelenjar prostat tidak bertambah besar.

57  Zat-zat gizi yang juga amat penting untuk menjaga kesehatan prostat di antaranya adalah :  Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat berkembang menjadi kanker prostat.  Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak terlalu berat.  Copper (gluconate) dan Parsley Leaf, yang dapat membantu melancarkan pengeluaran air seni dan mendukung fungsi ginjal.  L-Glysine, senyawa asam amino yang membantu sistem penghantaran rangsangan ke susunan syaraf pusat.  Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.

58  Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat. Menurut penelitian, kanker prostat merupakan kanker pembunuh nomer 2 pada pria setelah kanker paru-paru. BPH yang telah diterapi juga menunjukkan berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi penderita.

59  Hemoragi  Pembentukan bekuan  Obstruksi kateter  Disfungsi seksual  Impotensi  Retensi urin  Insufiensi ginjal  Infeksi traktus urinarius berulang  Hematuria  Kalkuli pada vesica urinaria  Gagal ginjal dan uremia  Refluks vesico uretet  Hidroureter  Hidronefrosis

60


Download ppt " Tutor : dr. Arisman  Anggota : › Azwar Zulmi › Mutia Fatrina › Mita Adriani › Andi Hasyim › Kenny Merryn › Yuliarni › Leo Fernando › Rani Apriani ›"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google