Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KONSERVASI RUMAH TEUKU NYAK ARIEF Sejarah Teuku Nyak Arief dan Sejarah Pembagian wilayah kepemimpinan Panglima Sagoe.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KONSERVASI RUMAH TEUKU NYAK ARIEF Sejarah Teuku Nyak Arief dan Sejarah Pembagian wilayah kepemimpinan Panglima Sagoe."— Transcript presentasi:

1 KONSERVASI RUMAH TEUKU NYAK ARIEF Sejarah Teuku Nyak Arief dan Sejarah Pembagian wilayah kepemimpinan Panglima Sagoe

2 Biografi Teuku Nyak Arief T.Nyak Arief merupakan salah satu pejuang nasional yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap perjuangan masyarakat Aceh dalam mempertahankan diri dari penjajahan Belanda. T.Nyak Arief lahir pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulee lee, Banda Aceh. Ayahnya, T. Nyak Banta merupakan seorang panglima (Kepala Daerah) Sagi XXVI Mukim. Dan ibunya yang bernama Cut Nyak Rayeuh merupakan bangsawan di daerah Ulee lee pula. T.Nyak Arief adalah anak ketiga dari lima bersaudara.

3 Biografi Teuku Nyak Arief T.Nyak Arief setelah menamatkan SD di Banda Aceh pada tahun 1908 meneruskan ke Sekolah guru (Kweekschool) di Bukit tinggi jurusan pangrehpraja, kemudian melanjutkanke OSVIA (Opleiding School Voor Inlndsche Ambternaren) di Banten, dan selesai pada tahun Ia memang disiapkan sebagai pamong praja untuk menggantikan ayahnya sebagai Panglima Sagi XXVI. Sejak kecil T.Nyak Arief sudah terkenal sebagai seorang anak yang cerdas, berwatak berani dan keras. Dan juga ia sangat membenci Belanda yang telah menjajah negrinya.

4 Secara singkat bisa dijabarkan… 1899 lahir 1908tamat SD 1915selesai sekolah OSVIA 1911 seharusnya sudah menjadi panglima sagi, namun karena masih terlalu muda, ayahnya tetap menjabat sebagai panglima sagi. 1919menjadi anggota NIP (Nederlandsch Indische Partij) bahkan ketua cabang Banda Aceh 1920menjadi panglima Sagi berkedudukan di lamnyong. Dia juga ikut membantu berdirinya JIB (Jong islamietan Bond) dan Jong Sumatranen Bond (pemuda sumatera) dan dia berpengaruh dalam suatu perkumpulan masyarakat baik antara golongan muda maupun golongan tua.

5 1927Karena kecakapannya dalam memimpin, menjalani pemerintahan memperhatikan kepentingan rakyat maka pada 16 Mei 1927 diangkat Belanda sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) 1928Bergabung dengan PNI 1930mendirikan fraksi Nasional sebagai tindakn kejam Belandsa terhadap gerakan PNI 1931diberhentikan dari dewan rakyat Volksraad Kembali ke Aceh menjadi panglima sagi. Dan memeperkenalkan Indonesia terhadap masyarakat Aceh dengan moderenisasinya dengan cara membantu pergerakan organisasi yang bersifat nasional seperti taman siswa danMuhammadyyah.

6 Pada saat terakhir kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, T.NyakArif berusaha menghimpun seluruh potensi dan kekuatan di Aceh untuk mengusir pemerintah hindia Belanda dari daerah itu. Akibatnya hampir di seluruh daerah Aceh timbul perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Hanya di Aceh terdapat gerakan untuk mengisi kekosongan yang dipimpin dan dipelopori oleh T.Nyak Arief dan kawan-kawannya. Bahkan gerakan itu meluas sampai ke barisan KNIL akibat pengaruh T.Nyak Arief. Pada zaman pendudukan Jepang T.Nyak Arief juga terpaksa ikut bekerjasama dalam pemerintahan Jepang.  1943dipilih sebagai ketua Aceh syiu sangikai, (Dewan perwakilan rakyat)  1944dipilih menjadi wakil ketua Sumatera cuo sangi di bukit tinggi.  28 Agus 1945menjadi ketua komite Nasional Indonesia  3 okto 1945menjadi residen Aceh yang pertama

7 Dalam kedudukannya sebagai Residen Aceh, Teuku Nyak Arief lebih banyak mengurus soal – soal militer.karena jasanya yang luar biasa dalambidang militer maka T.Nyak Arief pada tanggal 17 Januari 1946 oleh panglima T.R.I Komandan Sumatera diangkat sebagai anggota staf umum T.R.I komandan Sumatera dengan pangkat “ Jendral Mayor Tituler” Namun pada saat terakhir kehidupannya sekelompok pemimpin dan rakyat yang menamakan diri mereka Tentara Perlawanan Rakyat (TPR) dibawah pimpinan Husin Al – Mujahid ingin merebut kekuasaan dari tangan T.Nyak Arief. Akhirnya T.Nyak Arief ditangkap secara baik dan terhormat.dengan keputusannya dia akhirnya dibawa ke Takengon danberistirahat disana. Dan dia menghembuskan nafas terkhirnya pada tanggal 26 April 1946 karena penyakit gula yang dideritanya.

8 Sejarah Pembagian wilayah kepemimpinan Panglima Sagoe Berdasarkan susunan pemerintahan maka wilayah kerajaan Aceh dapat dibagi menjadi Gampong, Mukim, Nanggroe dan Kerajaan. pembagian wilayah ini hanyalah terdapat di beberapa daerah pemerintahan Aceh saja Gampong adalah daerah hukum kerajaan Aceh yang paling bawah, seperti halnya desa di Jawa dan Nagari di Minangkabau. Proses pembentukan desa di Aceh yang dinamai gampong sama dengan pembentukan desa – desa lainnya di Indonesia. Sesudah masuknya agama islam ke Aceh, maka wajah gampong ini disesuaikan dengan peraturan agama islam. Kepala dari gampong dinamai keuchik yang dibantu oleh beberapa staf, dan staf yang mengurus soal – soal keagamaan dinamai “Tengku Meunasah”.

9 Gabungan dari beberapa buah gampong dinamai mukim yang pada mulanya melakukan shalat jumat hanya di sebuah mesjid bersama dimana mereka tinggal (bermukim). Daerah hukum mukim ini bukanlah bentuk daerah hukum asli di Aceh, tetapi baru lahir sesudah seluruh rakyat Aceh memeluk agama islam. Kedudukan mukim yang pada mulanya hanya mengurus soal – soal keagamaaan meningkat mengurus soal – soal pemerintahan, sehingga kedudukannya menjadi atasan gampong.

10 Kepala dari mukim dinamai “imeum” yang tugasnya menjadi koordinator dari keuchik – keuchik dalam mukimnya. Dalam perkembangan selanjutnya urusan agama dan urusan pemerintahan dipisahkan, sehingga imeum kebanyakan diangkat dari cerdik pandai biasa dan lambat laun secara turun – temurun pula. Gabungan dari beberapa buah mukim yang dikepalai oleh uleebalang dinamai Nanggroe (Nagari). Uleebalang di daerah kerajaan Aceh menerima kekuasaan dari Sultan dan kedudukan itu dipegang turun temurun pula. Mereka merupakan golongan bangsawan dan keluarga serta turunan Uleebalang memakai gelar “Teuku”.

11 Kemudian di daerah inti kerajaan Aceh dibentuk tiga federasi yang dinamai Sagoe atau Sagi. Panglima Sagoe lazimnya diangkat langsung oleh Sultan yang diambil dari famili Sultan sendiri. Nama – nama sagoe diambil dari jumlah mukim yang terdapat dalam Sagoe masing – masing. Di daerah Aceh Besar terdapat tiga orang Panglima Sagoe 22 Mukim, Sagoe 25 Mukim dan Sagoe 26 Mukim. Kedudukan panglima Sagoe adalah koordinator dari Nanggroe yang tergabung dalam Sagoe. Bila Sagoe dan Kerajaan berada dalam bahaya, maka seluruh kekuasaan pemerintahan sipil dan militer berada di tangan Panglima Sagoe yang menjalankan kekuasaan atas nama Sultan. Kekuasaan Uleebalang sangat besar, dan adakalanya Uleebalang bertindak sebagai penguasa daerah yang merdeka, sehingga kekuasaan Sultan hanya tinggal formalitas saja sebagai kepala pemerintahan pusat. Panggilan kepada Sultan (Raja) Aceh adalah “Tuanku”.

12 Di daerah Aceh Besar atau biasa disebut Aceh Rayeuk terdapat tiga buah Sagi (Sagoe) yaitu Sagi 22 Mukim, Sagi 25 Mukim dan Sagi 26 Mukim. Masing – masing Sagi diperintah oleh seorang panglima Sagi dan slah seorang Panglima Sagi yang terakhir dan terkenal ialah Teuku Nyak Arief yang memerintah 26 Mukim. Sebagai seorang pemimpin panglima Sagoe T.Nyak Arif merupakan pemimpin yang pintar yang mengetahui niat jelek dari penjajah Belanda yang ingin mengadu dombakan antara golongan Ulama dengan golongan Uleebalang. Sebagai panglima Sagi 26 Mukim kekuasaan T.Nyak Arif sangat terbatas tetapi sebagai pemimpin bangsa Indonesia suku Aceh jangkauan perjuangan T.Nyak Arif bukan hanya meliputi daerah Aceh, tetapi mencakup seluruh Indonesia.


Download ppt "KONSERVASI RUMAH TEUKU NYAK ARIEF Sejarah Teuku Nyak Arief dan Sejarah Pembagian wilayah kepemimpinan Panglima Sagoe."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google