Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

DEWI NURUL MUSJTARI,S.H., M.HUM DOSEN FAKULTAS HUKUM UMY Dipresentasikan pada: Training Hukum Pertanahan yang diselenggarakan oleh PT Fresh Consultant,

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "DEWI NURUL MUSJTARI,S.H., M.HUM DOSEN FAKULTAS HUKUM UMY Dipresentasikan pada: Training Hukum Pertanahan yang diselenggarakan oleh PT Fresh Consultant,"— Transcript presentasi:

1 DEWI NURUL MUSJTARI,S.H., M.HUM DOSEN FAKULTAS HUKUM UMY Dipresentasikan pada: Training Hukum Pertanahan yang diselenggarakan oleh PT Fresh Consultant, tanggal 1-3 November 2011, Hotel IBIS Arcadia-Jakarta.

2 PENGERTIAN HAK TANGGUNGAN: HT adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan terhadap kreditur-kreditur lain.

3 Dasar HukumHT: Undang-undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang berkaitan dengan Tanah. UUHT disahkan pada tanggal 9 April Peraturan ini dimaksudkan sebagai pengganti hypotheek yang diatur dalarn KUH Perdata yang berlaku sejak tanggal 1 Mei 1848 dengan Staatsblaad 1847 Nomor 67 dan Creditverband (Staatsblaad 1908 : 190). Dengan demikian sejak bulan April hanya ada satu hukum pertanggungan dan sebagai lembaga pertanggungan tanahnya disebut hak tanggungan (HT).

4 SUBYEK HT: 1. Pemberi HT, yaitu: orang perseorangan atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek Hak Tanggungan yang bersangkutan (Pasal 8 ayat (1) UUHT. 2. Pemegang HT, yaitu orang perseorangan atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang. Dalam hal ini pemegang HT adalah perseorangan maupun Badan Hukum yang menjadi kreditur (Pasal 9 UUHT).

5 OBYEK HAK TANGGUNGAN: Tanah dan benda atau hasil karya yang terkait dengan tanah. Hak atas tanah yang dapat dibebani Hak Tanggungan adalah tanah dengan status: Hak Milik; Hak Guna Usaha; Hak Guna Bangunan; Hak Pakai Diatas Tanah Negara dan Tanah Hak Pengelolaan. Hak kepemilikan tanah eks hukum adat yang telah ada akan tetapi proses administrasi/konversinya belum dilaksanakan seperti girik, petuk, ketitir, dan lain-lain dapat juga dijadikan obyek Hak Tanggungan dengan ketentuan pembebanannya dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan.

6 PEMBEBANAN HT: Dapat meliputi juga benda-benda yang terkait dengan tanah dengan memperjanjikannya dalam Akta Pembebanan Hak Tanggungan, seperti : a. Bangunan yang berada di atas tanah maupun di bawah permukaan tanah obyek Hak Tanggungan (basement); b. Satuan rumah susun atau apartemen yang berada di atas tanah obyek Hak Tanggungan (Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai di atas Tanah Negara dan Tanah Hak Pengelolaan); c. Tanaman yang tumbuh di atas tanah obyek Hak Tanggungan; d. Mesin-mesin yang tertanam dalam fondasi tanah obyek Hak Tanggungan; e. Hasil karya lainnya yang merupakan satu kesatuan dengan hak atas tanah obyek Hak Tanggungan dan secara hukum dianggap sebagai benda tidak bergerak.

7 PEMBERIAN HT: Agar pembebanan Hak Tanggungan dapat diakui secara hukum dan mengikat bagi para pihak maka pemberiannya harus melalui tiga fase sebagai berikut : a. Pembuatan perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok yang di dalamnya terdapat janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan kredit; b. Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang menunjuk pada perjanjian pokok dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang wilayah kerjanya mencakup tempat di mana hak atas tanah berada;

8 PEMBERIAN HT. (Ljt…): 3. Pendaftaran APHT ke Kantor Pertanahan (BPN). Pendaftaran merupakan syarat mutlak lahirnya Hak Tanggungan dan mengikatnya Hak Tanggungan terhadap pihak ketiga. Sebagai bukti pendaftaran Hak Tanggungan diterbitkan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT) oleh Kantor Pertanahan di mana sertifikat tersebut memuat irah-irah “Demi Ketuhanan Yang Maha Esa” sehingga mempunyai kekuatan eksekutorial sebagaimana putusan pengadilan.

9 Surat Kuasa Memasang Hak Tanggungan (SKMHT): Pada dasarnya pembebanan Hak Tanggungan wajib dilakukan sendiri oleh pemberi Hak Tanggungan, hanya apabila benar-benar diperlukan yaitu dalam hal pemberi Hak Tanggungan tidak dapat hadir di hadapan PPAT diperkenankan menggunakan Surat Kuasa Memasang Hak Tanggungan (SKMHT). Dalam hal pemberian Hak Tanggungan dilakukan melalui SKMHT maka kuasa yang diberikan tersebut tidak dapat ditarik kembali dan tidak dapat berakhir oleh sebab apapun kecuali kuasa tersebut telah dijalankan atau telah habis jangka waktunya.

10 JANGKA WAKTU SKMHT: Mengenai jangka waktu SKMHT, Undang-Undang Hak Tanggungan Atas Tanah membedakannya berdasarkan status hak atas tanah yang akan dibebani Hak Tanggungan dan jenis kredit yang diberikan, yaitu sebagai berikut : a. SKMHT untuk obyek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang sudah terdaftar (Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha, Hak Pakai) jangka waktunya ditetapkan 1 (satu) bulan setelah diberikan; b. SKMHT untuk hak atas tanah yang belum terdaftar (eks tanah adat atau konversi hak lama) jangka waktunya ditetapkan 3 (tiga) bulan setelah diberikan;

11 JANGKA WAKTU SKMHT….(Ljt.): d. SKMHT untuk kredit tertentu (Peraturan Menteri Negara Agraria No. 4 Tahun 1996) yaitu Kredit Usaha Kecil (kredit kepada KUD, KUT, Koperasi Primer), Kredit Pemilikan Rumah/Rumah Susun Sederhana, dan kredit produktif dengan plafond tidak melebihi Rp 50 juta (Kupedes, KKU), jangka waktunya ditetapkan sampai saat berakhirnya masa berlakunya perjanjian pokok yang bersangkutan. Yang dimaksud masa berlaku perjanjian pokok tersebut adalah jangka waktu perjanjian kredit sehingga misalnya perjanjian kredit berjangka waktu 1 (satu) tahun maka SKMHT untuk kredit tersebut berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.

12 Tujuan UUHT: Memberikan landasan untuk dapat berlakunya lembaga HT yang kuat yang didalamnya antara lain menegaskan atau meluruskan persepsi yang kurang tepat diwaktu lalu. Tujuan yang lainnya adalah memberikan jaminan kepastian hukum. baik bagi kreditur maupun debitur.

13 PEMBEBANAN HT, berdasarkan Pasal 5 UUHT: Suatu obyek HT dapat dibebani dengan lebih dari satu HT guna menjamin pelunasan lebih dari satu utang. Apabila suatu obyek HT dibebani dengan lebih dari satu HT, peringkat masaing-masing HT ditentukan menurut tanggal pendaftarannya pada Kantor Pertanahan. Peningkat HT yang didaftar pada tanggal yang sama ditentukan menurut tanggal pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan.

14 PEMBERIAN HT, Pasal 10 UUHT: Pemberian HT didahului dengan janji untuk memberikan HT sebagai jaminan pelunasan hutang tertentu, yang dituangkan didalam dan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian hutang-piutang yang bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan hutang tersebut. Pemberian HT dilakukan dengan pembuatan APHT oleh PPAT sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila obyek HT berupa hak atas tanah yang berasal dari konversi hak lama yang telah memenuhi syarat untuk didaftarkan akan tetapi pendaftarannya belum dilakukan, pemberian HT harus dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan.

15 PENDAFTARAN TANAH: Adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus-menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta, pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian syarat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya (PP No. 24 Th. 1997).

16 TUJUAN PENDAFTARAN HT: a. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang sah dari hak yang bersangkutan; b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk Pemerintah, agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan rumah susun yang terdaftar. c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.

17 FUNGSI UTAMA PENDAFTARAN TANAH: Adalah melaksanakan pendaftaran dalam "daftar- daftar umum" (public registers) perbuatan hukum mengalihkan hak dan pembebanan hak, serta, peralihan hak yang bukan karena perbuatan hukum seperti pewarisan dan lelang. Pendaftaran ini termasuk pula pendaftaran atau pencatatan hapusnya utang (pembebanan), pemberian hak, hapusnya hak, dipecahnya hak dan sebagainya (Djoko Walijatun, 1996: 1).

18 HAPUSNYA HT: 1. Hapusnya atau lunasnya hutang yang dijamin dengan Hak Tanggungan. Sesuai dengan sifat accesoir dari Hak Tanggungan maka adanya Hak Tanggungan tergantung dari adanya hutang yang dijamin dalam hal ini perjanjian kredit/perjanjian pokoknya, sehingga apabila perjanjian kredit tersebut hapus maka demi hukum Hak Tanggungan akan turut hapus. Adapun perjanjian kredit akan hapus antara lain oleh sebab-sebab sebagai berikut: karena pembayaran/pelunasan hutang, pembaharuan hutang (novasi), pembebasan hutang (hapus tagih), kebatalan atau pemabatalan oleh Pengadilan, dan kadaluwarsa (tidak dilakukan penagihan selama 30 tahun);

19 HAPUSNYA HT (Ljt…): 2. Dilepaskannya Hak Tanggungan oleh pemegang Hak Tanggungan. Hak Tanggungan diberikan semata-mata untuk kepentingan kreditur/penerima Hak Tanggungan sehingga apabila penerima Hak Tanggungan secara sukarela melepaskannya maka Hak Tanggungan dengan sendirinya hapus; 3. Pembersihan sisa nilai Hak Tanggungan yang membebani obyek Hak tanggungan yang dijual dalam pelelangan berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri; 4. Hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan. Hak atas tanah dapat hapus karena sebab-sebab yang ditentukan UUPA anrtara lain karena pencabutan hak oleh negara, hapus jangka waktunya (Hak Pakai, HGB, HGU) karena pelepasan hak oleh pemiliknya, tanahnya musnah.


Download ppt "DEWI NURUL MUSJTARI,S.H., M.HUM DOSEN FAKULTAS HUKUM UMY Dipresentasikan pada: Training Hukum Pertanahan yang diselenggarakan oleh PT Fresh Consultant,"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google