Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MATA KULIAH: PSIKOLOGI PENDIDIKAN DIBUAT TAHUN: 2012 STASTUS PERBAIKAN: BARU TAHUN PERBAIKAN: --- DOSEN: RAHMAH HASTUTI, M.PSI PK-FP-02-08 MATA KULIAH:

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MATA KULIAH: PSIKOLOGI PENDIDIKAN DIBUAT TAHUN: 2012 STASTUS PERBAIKAN: BARU TAHUN PERBAIKAN: --- DOSEN: RAHMAH HASTUTI, M.PSI PK-FP-02-08 MATA KULIAH:"— Transcript presentasi:

1 MATA KULIAH: PSIKOLOGI PENDIDIKAN DIBUAT TAHUN: 2012 STASTUS PERBAIKAN: BARU TAHUN PERBAIKAN: --- DOSEN: RAHMAH HASTUTI, M.PSI PK-FP MATA KULIAH: PSIKOLOGI PENDIDIKAN DIBUAT TAHUN: 2012 STASTUS PERBAIKAN: BARU TAHUN PERBAIKAN: --- DOSEN: RAHMAH HASTUTI, M.PSI PK-FP-02-08

2 Tujuan Setelah selesai “tatap muka” ini, para peserta diharapkan mampu: 1.Menjelaskan mengenai hakikat atau pengertian belajar serta contohnya. 2.Menjelaskan hakekat (inti teori) classical conditioning/ Classical Conditioning. 3.Menjelaskan beberapa aplikasi teori classical conditioning/ Classical Conditioning 4.Menjelaskan hakekat (inti teori) operant conditioning/ Operant Conditioning. 5.Menjelaskan hukum efek Thorndike. 6.Menjelaskan dasar teori reinforcement dan punishment dari Skinner. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

3 Pengertian Belajar Belajar (learning) adalah perubahan yang relatif permanen pada perilaku, pengetahuan, dan pikiran yang terjadi melalui pengalaman. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

4 Ketika seorang anak mempelajari bagaimana menggunakan komputer, mereka mungkin mengalami beberapa kesalahan dalam prosesnya, tetapi mereka akan mendapat keterampilan terhadap perilaku yang dibutuhkan untuk menggunakan komputer secara efektif. Anak tersebut akan berubah dari seorang individu yang tidak dapat menggunakan komputer menjadi bisa. Ketika mereka mempelajari bagaimana mengoperasikannya, mereka tidak akan kehilangan skill tersebut. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

5 Seperti halnya pada saat kita mempelajari bagaimana menyetir mobil/ motor. Sekali kita mempelajarinya, kita tidak perlu ulang mempelajarinya lagi dari awal. Inilah yang disebut dengan relatif permanen (menetap) Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

6 Ruang lingkup learning itu luas. Dapat berupa akademik maupun non akademik. Termasuk di sekolah dan dimana pun anak merasakan dan mengalami dunianya. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

7 Tidak semua yang kita ketahui dipelajari. Kita mewarisi beberapa kapasitas, yang merupakan bawaan, tidak dipelajari. Misalnya, kita tidak perlu diajarkan untuk menelan, menyentak pada suara-suara keras, atau berkedip. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

8 1.Behavioral Approach 2.Social Cognitive Approach 3.Information-Processing Approach 4.Cognitive Constructivist 5.Social Contructiv ist Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id) Five Main Approaches in Learning

9 1. Behavioral Approach Behavioral approach. Penegasan pada pengalaman, khususnya reinforcement dan punishment sebagai penentu/determinan dari belajar dan perilaku -> pandangan bahwa perilaku harus dapat dijelaskan dengan pengalaman yang dapat diamati bukan dengan proses mental. Perilaku merupakan semua yang kita lakukan, secara verbal dan non verbal, yang dapat secara langsung dilihat atau didengar. Misal: seorang siswa membuat poster, guru menjelaskan sesuatu kepada muridnya, dan lain-lain. Mental processes didefinisikan sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak dapat dilihat oleh orang lain. Proses mental misalnya seorang anak yang memikirkan cara membuat poster yang baik. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

10 Classical conditioning dan operant conditioning menekankan associative learning yaitu mempelajari mengenai dua kejadian yang saling berhubungan. Misalnya seorang murid yang menghubungkan kejadian yang menyenangkan dengan belajar sesuatu di sekolah, seperti guru yang tersenyum ketika muridnya menjawab pertanyaan dengan benar. 1. Behavioral Approach Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

11 2. Social Cognitive Approach Social cognitive approach (pendekatan sosial kognitif) menekankan pada interaksi dari perilaku, lingkungan, dan faktor kognitif seseorang sebagai penentu dari belajar. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

12 3. Information-Processing Approaches Information-processing approaches (pendekatan proses informasi) fokus pada bagaimana anak memproses informasi melalui atensi, ingatan, pikiran, dan proses kognitif lainnya. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

13 4. Cognitive Constructivist Cognitive constructivist approaches menekankan pengetahuan dan pemahaman konstruksi kognitif anak. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

14 5. Social Constructivist Social constructivist approaches fokus pada kolaborasi dengan yang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

15 1. BEHAVIORAL APPROACH TO LEARNING CLASSICAL CONDITIONING ( A. Generalization, Discrimination, and Extinction) (B. Systematic Desensitization) (C. Evaluating Classical Conditioning) OPERANT CONDITIONING (A. Reinforcement and Punishment) (B. Generalization, Discrimination, andExtinction) Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

16 Classical Conditioning Classical Conditioning merupakan prosedur ketika sebuah stimulus yang mula-mula netral dipasangkan dengan stimulus tak-terkondisi, yang secara tetap membangkitkan suatu pola tingkah laku tertentu (respons tak terkondisi). Setelah Stimulus Netral dan Stimulus Terkondisi dipasangkan berulang-ulang, maka Stimulus Netral yang sendirian mampu membangkitkan suatu reaksi khas (Respons terkondisi). Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

17 Beberapa konsep penting dalam Classical Conditioning Generalisasi: kecenderungan stimulus-stimulus baru yang mirip dengan stimulus original  memproduksi respons yang sama. Misalkan: waktu mengikuti test biologi anak selalu merasa cemas, karena selalu mendapatkan kritik pedas. Akibatnya, waktu dia mempersiapkan Ulangan Kimia, dia merasa kecemasan (serupa). Dia sudah mengeneralisasi (respons) kecemasan pada kritik di Biologi – ke – pelajaran IPA lainnya. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

18 Diskriminasi: terjadi ketika organisme merespon stimulus tertentu tetapi tidak pada stimulus lainnya. Pavlov segera memberi daging pada anjingnya setelah bunyi bel, dan bukan setelah bunyi yang lain. Akibatnya: anjing hanya merespons pada bunyi “bel” dan bukan pada bunyi yang lainnya. Peserta didik yang tadi cemas bila menghadapi ulangan pelajaran IPA, tidak merasa cemas bila mengikuti pelajaran Bahasa Inggris atau pelajaran lain yang tidak ada hubungannya dengan science (IPA). Beberapa konsep penting dalam Classical Conditioning Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

19 Extinction: melemahnya respons terkondisi akibat tidak adanya stimulus pengkondisi. Pavlov membunyikan “bel” tapi tidak disusul kemudian oleh pemberian “daging”. Mula-mula anjing itu mengeluarkan air liur, tapi makin kemudian tidak sama sekali. Demikian anak-anak yang tidak dikritik lagi dan hasil ulangannya baik, mulai tidak merasa cemas lagi. Mengatasi rasa cemasnya. Beberapa konsep penting dalam Classical Conditioning Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

20 Systematic Desensitization Sering terjadi bahwa “kecemasan” dan “stress” diasosiasikan lewat kejadian-kejadian tertentu sebagai hasil Classical Conditioning. Misalnya gugup bicara di depan umum, merasa cemas menghadapi ujian, cemas menghadapi orang tertentu, dll. Untuk menanggulangi keadaan ini, ada satu metode yang disebut: Desensitisasi Sistematik. Beberapa konsep penting dalam Classical Conditioning Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

21 Desensitisasi Sistematik: metode yang didasarkan pada Classical Conditioning untuk mereduksi kecemasan dengan cara membuat individu dalam keadaan rileks dengan memvisualisasikan keadaan yang ternyata tidak menimbulkan kecemasan. Anak didik gugup bicara di depan kelas, maka dia membutuhkan latihan desensitisasi sistematik dengan tujuan: agar dia mengasosiasikan bicara di depan kelas dengan keadaan rileks. Caranya: anak mempraktekkan desensitisasi itu: 2 minggu sebelum dia akan pidato, satu minggu, 4 hari, satu hari sebelum tampil, bahkan beberapa menit sebelum berjalan ke podium. Beberapa konsep penting dalam Classical Conditioning Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

22 Evaluasi Classical Conditioning membantu kita melihat bagaimana terjadinya proses belajar, melalui asosiasi. Ternyata ada banyak dari reaksi kita merupakan hasil dari Classical Conditioning. Khususnya kecemasan dan ketakutan, hampir ada hubungannya dengan asosiasi atas kejadian tertentu di masa lampau, yang akhirnya digeneralisasi. Artinya hasil dari Classical Conditioning. Classical Conditioning tidak bisa menerangkan bagaimana proses belajar yang terjadi karena belajar itu sendiri dikehendaki. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

23 Aplikasi dalam belajar Classical Conditioning dapat diaplikasikan secara positif atau negatif dalam pengalaman seorang siswa di dalam kelas. Misalnya para peserta-didik menyanyikan lagu-lagu kesukaan mereka. Hal ini dpt memproduksi dalam diri mereka rasa senang, rasa aman dan kegembiraan. Sebaliknya: anak akan mengembangkan perasaan cemas dan perasaan takut. Bila dia sering mendapat kritik (diberi cap, orang bodoh, gagal, dll) Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

24 Aplikasi dalam Perilaku Ada banyak masalah seputar kesehatan anak merupakan akibat dari penerapan Classical Conditioning. Seperti: asma, sakit kepala, tekanan darah tinggi. Biasanya penyakit-penyakit itu kita sebut akibat stress (pengkondisian!) Biasanya anak sakit kepala setelah menerima kritik berat dari orang tua atau gurunya. Akibatnya apa saja obyek yang berkaitan dengan kritik tersebut (pekerjaan rumah) dapat menimbulkan gangguan sakit kepala atau darah tinggi. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

25 PRINSIP-PRINSIP OPERANT CONDITIONING Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

26 Operant Conditioning Skinner Skinner seorang behavioris mengemukakan akibat- akibat dari: “rewards” dan “punishment” yang mempengaruhi perilaku individu. Reinforcement (reward): akibat yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perilaku tertentu. Misalnya, seorang guru memuji muridnya yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Yang bersangkutan, bila diberi tugas akan membuat tugas (mungkin lebih baik). Sebaliknya: bila guru mengkritik anak yang berbisik-bisik dalam kelas, maka perilaku berbisik itu akan dilemahkan. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

27 OPERANT CONDITIONING Prinsip-prinsip operant conditioning menjelaskan hubungan antara perilaku dan kejadian lingkungan (yang mendahului dan konsekuensi) yang mempengaruhi perilaku. Contingency (ketergantungan)  hubungan antara perilaku dan keadaan yang mengikuti perilaku. Prinsip-prinsip yang dibahas berikut ini mengacu pada berbagai macam hubungan yang saling tergantung antara perilaku dan keadaan yang mengikuti perilaku. Prinsip-prinsip utamanya ialah reinforcement (penguatan), punishment, dan extinction. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

28 Reinforcement Prinsip-prinsip reinforcement menunjukkan adanya peningkatan frekuensi dari suatu respon saat hal tersebut diikuti segera oleh konsekuensi-konsekuensi tertentu. Konsekuensi yang mengikuti perilaku harus bergantung pada perilaku tersebut. Suatu keadaan yang bergantung dan meningkatkan frekuensi perilaku disebut sebagai reinforcer (penguat). Reinforcement : bisa positif dan bisa juga negatif. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

29 Reinforcement Positive Reinforcement  Positive reinforcement (penguatan positif)  meningkatnya frekuensi dari suatu respon yang diikuti oleh keadaan yang menyenangkan (penguat positif).  Sesuatu yang menyenangkan atau positif sering disebut juga sebagai reward, padahal “penguat positif” dan reward memiliki arti yang berbeda.  Misalnya prilaku murid (bertanya dalam kelas) makin bertambah karena guru selalu memberikan pujian bagi murid-murid yang bertanya. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

30 Reward  sesuatu yang diberikan atau diterima kembali karena telah melakukan sesuatu hal; biasanya bernilai tinggi tetapi tidak perlu meningkatkan kemungkinan perilaku yang diikutinya. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

31 Reinforcement Negative Reinforcement  Negative reinforcement (penguatan negatif) merupakan meningkatnya frekuensi dari suatu respon dengan memindahkan keadaan aversif segera setelah munculnya respon.  Pemindahan keadaan aversif atau penguat negatif bergantung pada suatu respon.  Sesuatu disebut sebagai penguat negatif hanya bila pemindahannya setelah suatu respon, meningkatkan munculnya respon tersebut. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

32 Reinforcement Negatif Frekuensi respons bertambah karena tidak adanya stimulus atau karena ingin dihindari stimulus tertentu. Misalkan: anak menyerahkan PR-nya tepat waktu. Maka guru berhenti mengkritik anak. Akibatnya: anak cenderung menyerahkan PR- nya tepat waktu. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

33 Punishment Punishment adalah adanya suatu keadaan yang aversif atau pemindahan keadaan positif yang mengikuti respon yang menurunkan frekuensi respon tersebut. Definisi ini berbeda dengan istilah yang biasa digunakan dalam bahasa sehari-hari, yaitu sebagai penalty (hukuman) yang diberikan untuk munculnya perilaku tertentu. Terdapat dua perbedaan tipe punishment: 1.Tipe yang pertama, ialah suatu keadaan aversif muncul setelah sebuah respon. 2.Tipe yang kedua, ialah pemindahan suatu positive reinforcer setelah sebuah respon. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

34 Punishment Perilaku tertentu ~ bukan hanya dikurangi frekuensinya tapi dihentikan sama sekali ~ akibat dari stimulus yang mengikuti perbuatan tersebut tidak menyenangkan. Misalnya: anak menginterupsi gurunya yang sedang bicara. Gurunya dengan tegas memperingati untuk tidak menginterupsi lagi. Perilaku murid: berhenti menginterupsi guru. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

35 Premack Principle Jika suatu aktivitas terjadi lebih sering ketimbang aktivitas-aktivitas lain, maka aktivitas itu dapat digunakan sebagai penguat untuk memperkuat aktivitas yang kurang sering dilakukan yang disebut dengan Premack Principle. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

36 Extinction Extinction merupakan berhentinya pemberian reinforcement terhadap suatu respon; atau suatu respon yang sebelumnya diberi reinforcement kemudian tidak diberikan lagi. Extinction perlu dibedakan dengan punishment. -Dalam extinction, tidak ada konsekuensi yang mengikuti respon, dimana suatu keadaan tidak dicabut walaupun keadaan tersebut ditunjukkan. -Dalam punishment, beberapa keadaan aversif yang mengikuti suatu respon atau beberapa keadaan positif dicabut. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

37 Shaping dan Chaining Shaping  Dalam shaping, perilaku akhir dicapai dengan memperkuat langkah-langkah kecil atau langkah- langkah sedang yang menuju ke respon akhir dari pada hanya memperkuat respon akhir itu sendiri.  Respon-respon yang diperkuat baik agar menyerupai dengan respon akhir atau dengan melibatkan komponen-komponen respon tersebut. Dengan memperkuat langkah-langkah menuju respon akhir secara berurutan, maka respon akhir tersebut akan dicapai secara bertahap. Respon-respon yang hampir menyerupai dengan tujuan akhir diperkuat dan akan meningkat, sedangkan respon-respon yang tidak menyerupai dengan tujuan akhir tidak diperkuat dan akan dihilangkan. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

38 Shaping dan Chaining Chaining  Kebanyak perilaku terdiri dari suatu rangkaian beberapa respon. suatu rangkaian respon-respon tersebut disebut sebagai chain (rangkaian). Bagian- bagian komponen dari suatu rangkaian biasanya merepresentasikan respon-respon yang sudah diulang oleh individu. Chain merepresentasikan suatu kombinasi respon-respon individu yang mengatur suatu urutan tertentu. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

39 Shaping dan Chaining Perbedaan Shaping dg Chaining  Perbedaan antara shaping dengan chaining masih tidak jelas.  Secara umum, baik shaping maupun chaining dapat digunakan untuk membangun perilaku baru. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

40  Shaping: -memfokuskannya pada suatu seri langkah-langkah yang akhirnya mengarah kepada perilaku yang diinginkan. Langkah-langkah itu sendiri hanya berguna untuk proses menuju ke perilaku akhir. -bekerja dalam arah yang maju ke depan. Selain itu, dalam shaping tujuannya ialah untuk membangun suatu respon akhir. Shaping dan Chaining Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

41 Shaping dan Chaining Chaining: -digunakan untuk membangun suatu urutan perilaku yang terpisah-pisah. Tujuan akhirnya dapat menjadi suatu rangkaian dari beberapa respon yang berbeda (seperti saat memakai pakaian). -menggunakan arah yang sebaliknya dimulai dari respon terakhir dan membangun perilaku utama -Dalam chaining, perilaku yang dibangun pada awal training tetap ditemukan pada saat training telah selesai. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

42 Prompting dan Fading Prompting  Untuk mengembangkan perilaku biasanya difasilitasi dengan menggunakan isyarat, instruksi, gesture, pengarahan, contoh, dan model agar dapat terjadi suatu respon. Kejadian-kejadian yang membantu terjadinya suatu respon disebut dengan prompt.  Prompt mendahului suatu respon.  Pada saat prompt menghasilkan respon, respon tersebut dapat diikuti dengan reinforcement. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

43 Prompting dan Fading Fading  Fading merupakan perpindahan bertahap dari suatu prompt.  Jika suatu prompt dipindahkan dengan tiba- tiba pada awal training, respon mungkin tidak akan muncul lagi. Tetapi jika respon muncul secara konsisten dengan suatu prompt, maka prompt dapat dikurangi secara meningkat dan akhirnya diabaikan, kemudian menghilang. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

44 Discrimination dan Stimulus Control Pada saat individu merespon secara berbeda terhadap stimulus yang berbeda, ia telah melakukan discrimination (diskriminasi). Pada saat respon dikontrol secara berbeda oleh stimulus yang tidak menyenangkan, perilaku yang terjadi dianggap berada di bawah stimulus control. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

45 Generalization Stimulus Generalization  Stimulus generalization merupakan generalisasi atau transfer suatu respon terhadap situasi lain diluar situasi training.  Generalization merupakan kebalikan dari discrimination.  Pada saat seseorang mendiskriminasi penunjukkan, hal ini berarti respon tersebut gagal menggeneralisasi situasi. Sebaliknya, pada saat suatu respon menggeneralisasi situasi, seseorang gagal mendiskriminasi penunjukkan respon tersebut. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

46 Generalization Response Generalization  Response generalization merupakan reinforcement terhadap suatu respon yang menambah kemungkian respon lain yang serupa.  Gagasan mengenai response generalization sering digunakan untuk menjelaskan perubahan pada respon-respon yang tidak termasuk sebagai respon target dalam program behavior modification yang diberikan. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

47 Thorndike’s Law of Effect Thorndike memasukkan seekor kucing yang lapar ke dalam sebuah kotak dan meletakkan ikan di luar kotak. Tugas kucing: harus belajar keluar dari dalam kotak tersebut, dengan cara harus menekan tombol pembuka pintu. Mula-mula kucing tersebut sibuk ke sana ke mari, sampai akhirnya dia secara tidak sengaja menekan tombol dan pintu terbuka. Setelah beberapa kali mengalami latihan seperti itu, akhirnya kucing hanya membutuhkan sedikit waktu untuk langsung menekan tombol itu supaya dia bisa keluar. Proses belajar telah terjadi! Hukum Efek Thorndike: “Perilaku yang diikuti oleh hasil akan diperkuat, dan perilaku yang diikuti oleh kegagalan akan dilemahkan”

48 APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS IN EDUCATION What Is Applied Behavior Analysis ? Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

49 Increasing Desirable Behaviors a. Choose effective reinforcers b. Make reinforcers contigent and timely c. Select the best Schedule of reinforcement d. Consider contracting e. Use negative reinforcement effectively f. Use prompts and shaping Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

50 Decreasing Undesirable Behaviors a. Use differential reinforcement b. Terminate reinforcement (extinction) c. Remove Desirable Stimuli d. Present aversive stimuli (punishment) Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

51 EVALUATING OPERANT CONDITIONING AND APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

52 TEACHING CONNECTION: Best Practices (Strategies for Using Applied Behavior Analysis to Change Behavior). 1.Focus on what you want students to do 2.One size does not fit all when it comes to reinforcement 3.Often reinforce behavior we do not want to continue 4.Premack priciple and information enjoyable 5.Teachers are not only the reinforcement and punishment 6.Punishment is not punishment 7.Taking away recess 8.Problem that associated with punishment Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (www.psikologi.tarumanagara.ac.id)

53


Download ppt "MATA KULIAH: PSIKOLOGI PENDIDIKAN DIBUAT TAHUN: 2012 STASTUS PERBAIKAN: BARU TAHUN PERBAIKAN: --- DOSEN: RAHMAH HASTUTI, M.PSI PK-FP-02-08 MATA KULIAH:"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google