Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Metode istinbath hukum syar'i1 METODE INSTINBATH 1. Pengertian. Kata “Istinbath” menurut bahasa ialah mengeluarkan, seperti “ istanbathal maau minal ‘ain.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Metode istinbath hukum syar'i1 METODE INSTINBATH 1. Pengertian. Kata “Istinbath” menurut bahasa ialah mengeluarkan, seperti “ istanbathal maau minal ‘ain."— Transcript presentasi:

1 metode istinbath hukum syar'i1 METODE INSTINBATH 1. Pengertian. Kata “Istinbath” menurut bahasa ialah mengeluarkan, seperti “ istanbathal maau minal ‘ain (mengeluarkan/mengambil air dari mata air). Menurut Istilah: Istikhrajul ma’ani minan nushush bi farthiz zihn wa quwatil qarihah (mengeluarkan makna-makna dai nash-nash (yang terkandung) dengan mencurahkan pikiran dan kemampuan (potensi) nalutiah.

2 metode istinbath hukum syar'i2 Untuk melakukan istinbath yang tepat ada 4 (emapt) hal yang harus diperhatikan: 1.Apakah lafad-lafad itu telah jelas makna dan dalalahnya 2.Apakah susunan bahasanya cukup jelas untuk suatu pengertian ataukah dengan isyarah. Apakah pengetian yang terkandung di dalamnya tersurat atau tersirat. 3.Apakah lafad itu umum atau khusus, muthlaq atau muqayyad dsb. 4.Bagaimana bentuk lafad yang menimbulkan hukum taklifi ataukah lafad amr (perintah) atau nahy (larangan).

3 metode istinbath hukum syar'i3 2. Qaidah Syar’iyah Kaidah Syar’iyah ialah ketentuan umum yang ditempuh Syara’ dalam menetapkan hukum dan tujuan penetapan hukum bagi Subyek Hukum (Mukallaf). Perumusan pokok tentang kaidah-kaidah syar’iyah: 1)Istidlal adalah pencarian dalil. “istidlal” adalah qiyas atau ijtihad

4 metode istinbath hukum syar'i4 2).Proses dalam beristidlal untuk menetapkan hukum syara’: a.Melihat pada Al-Quran (Sumber Pertama). b.Melihat pada Sunnah (penjelas Al-Quran atau penetap hukum baru yang belum ada dalam Al-Quran). c.Melakukan ijtihad dalam menggunakan atau memahami dalil; baik dalam Al- Quran atau Sunnah (dalil-dalil dhanni).

5 metode istinbath hukum syar'i5 d.Melakukan ijtihad saat menghadapi dua dalil atau lebih yang saling kekuatannya sama atau dhahirnya saling bertentangan (Ta’arudl al-Adillah): -Berusaha melakukan pengumpulan isi dalil tersebut sehingga dapat diamalkan semua. -Dalam menghadapi dalil (Al-Quran dan Sunnah) dapat dilakukan penetian mengenai asbab nuzul atau wurud dan menganggap yang terdahulu dapat dinasakh dengan yang kemudian. -Apabila tidak dapat dikumpulkan atau tidak bisa terjadi nasikh mansukh maka dilakukan tarjih (pemenangan dalil yang dianggap lebih kuat), dan -Apabila proses Tarjih tidak memungkinkan maka diambil salah satu dalil dan meninggalkan dalil yang lainnya.

6 metode istinbath hukum syar'i6 3). Tujuan Penetapan Hukum a.Tujuan penetapan hukum (‘amaliah) untuk kemaslahatan hidup manusia. b.Dalam mencapai kemaslahatan, diadakan pembagian 3 (tiga) kualifikasi: -Ad-Dharuriyat: yakni Keniscayaan tidak boleh tidak/ tidak adanya tidak berarti hidup ini. -Al-Hajiyat: Yang sangat dihajatkan, tidak adanya akan menjadi sempit dan sulit hidup ini. -At-Tahsiniyat: Keserasian dan kenyamanan. Ketiadaannya hanya menyebabkan hidup ini tidak nyaman.

7 metode istinbath hukum syar'i7 c. Cakupan dan Realisasi 1) Yang masuk pada cakupan “dlaruriyat” adalah adalah: -Hifdhuddin (Qawaidul Iman dan Islam). -Hifdhun Nafsi (Hukum qishash, diyat, dan hukuman hudud, jinayat dan ta’zir). -Hifdhul ‘aql (haram minum khamr, hura-hura dsb). -Hifdhul Nasl (Hukum pernikahan, Hukum Pendidikan). -Hifdhul Maal (Hukum muamalat) 2) Hukum Hajiyat, Rincian hukum ibadah dan muamalah. 3) Hukum Tahsiniyat, Sikap dan pengamalan Akhlaqul Karimah

8 metode istinbath hukum syar'i8 d.Tingkatan ke tiga kualifikasi tersebut; -Posisi adl-dlaruriyat menenpati posisi paling penting dan tidak dapat dihilangkan; -Posisi kedua adalah “al-haajiyat” sebagai penyempurna tingkat adl-dlaruriyat. -Posisi ketiga adalah at-tahsiniyat, sebagai penyempurna dari tingkat al-hajiyat, guna mewujudkan keserasian dan kenyamanan. Jadi, tidak dapat ditempuh tahsiniyat kalau dapat menghilangkan hajiyat, demikian pula tidak dapat ditempuh yang hajiyat kalau dengan mewujudkan yang hajiyat itu akan menghilangkan yang dlaruriyat.

9 metode istinbath hukum syar'i9 3. Qawaid Lughawiyah Kaidah Lughawiyah adalah Kiadah yang dipakai oleh ulama (para ahli ushul fiqh)berdasarkan makna dan tujuan ungkapan- ungkapan yang telah ditetapkan oleh para ahli bahasa (Arab), sesudah dilakukan penelitian- penelitian yang bersumber dari kesusastraan Arab. Dengan kaidah lughawiyah, makna dari suatu lafad, baik dari dalalah (pengertian konotasi bahasa) ataupun uslub (susunan kata)nya dapat diketahui dan untuk selanjutnya dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menetapkan hukum syar’i.

10 metode istinbath hukum syar'i10 Ada tiga cara untuk mengetahui makna dari suatu lafad atau uslub (susunan kata) bahasa Nash: 1)Berdasarkan pengertian orang yang banyak yang sudah mutawatir (dilakoni secara turun temurun). Seperti: kata “al-maa’ (air); as-maa’ (langit) dan al-ard (bumi) dan sebagainya. 2)Berdasarkan pengertian orang-orang tertentu (imam Syafi’ia: menyebutnya “’ilmul khash”. Pengertian lafad atau uslub ini hanya dapat diketahui oleh sekelompok orang tertentu. Seperti kata “akhbar al-ahad”. 3)Berdasarkan pemikiran akal dan hasil nalar manusia (istinbathul ‘aql) terhadap lafad-lafad itu. Seperti: kata “al- insan” dalam QS. Al-’Ashr. Menurut hasil pemikiran akal, maka kata insan diberi alf-lam (ta’rif: al-jinsiyah) yang memberi pengertian umum. Artinya mencakup semua satuan (fard atau afrad) manusia, dengan alasan bahwa adanya kata “illaa” istitsnaiyah” (pengecualian) sesudah kata insan itu.

11 metode istinbath hukum syar'i11 Makna lafad menurut penetapan bahasa: a. Wadh’iyah: ialah lafad yang mempunyyai arti mula pertama penggunaan lafad itu, seperti kata “دابة “ (dabbah) sejak semula, kata ini dunakan untuk setiap bintang yang merangka, tetapi kemudian dikhususkan pada binatang yang berkaki empat. Kata “متكلم“ (mutakallim) pada awalnya digunakan untuk orang yang berbicara atau mengucapkan kata-kata, akan tetapi kemudian dikhususkan pada ahli ilmu kalam.

12 metode istinbath hukum syar'i12 ‘Urfiyah: ialah lafad yang mempunyai arti yang terbatas menurut pengertian umum, terbatas mengenai sebagian dari semula atau lafad yang mempunyai arti yang telah meluas menurut pandangan umum atau dikenal juga sebagai lafad “majazi”. Seperti kata “rawiyah” ialah tempat perbekalan air yang biasanya terbuat dari kulit, lalu berkembang menurut pengertian umum termasuk unta yang membawa air. Contoh lain, kata “ghaith” semula berarti tempat nyaman di atas tanah, kemudian berarti pula sebagai bangunan untuk tempat membuang hajat (WC).

13 metode istinbath hukum syar'i13 Lafad-lafad syar’iyah Lafad-lafad syar’iyah banyak ditemukan dalam bahasa Arab yang artinya tidak diketahui oleh orang arab sendiri sebelum ditetapkan dalam syara’ tentang maknanya. Dalam menetapkan makna suatu lafad, ulama mempunyai pandangan yang berbeda: a. Penetapan syara’ terhadap makna lafad terlepas dari pengertian bahasa, namun penetapan tersebut sejak semula didasarkan dari arti syar’iyah atau diniyah (Mu’tazilah, khawarij dan sebagian dari Fuqaha), alasannya: - adanya nash yang menunjukkan pengertian syara’ terlepas dari pengertian bahasa (lafad iman; shalat, zakat dsb). - pada waktu ditetapkan oleh syara’, arti lafad tersebut belum tergambar oleh orang arab di kala itu.

14 metode istinbath hukum syar'i14 Dalam penggunaan lafad, syara’ menetapkan syarat-syarat dan batasan pelaksanaannya sehingga sesuai yang dimaksud. Seperti kata “shalat” menurut bahasa adalah “doa”, kemudian syara’menetapkan ketentuan pelaksanaannya seperti takbir, berdiri, ruku’, sujud dsb, serta syarat dan rukun tertentu lainnya (Abu Bakar Al Baqillani). Penggunaan lafad didasaarkan pada arti lughawiyah, kemudian diberikan syarat dan batasan. Seperti kata “shalat” ada hubungan antara arti dasarnya (do’a) dengan arti syar’iyahnya (peribadatan yang dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam, dengan ketentuan syarat dan rukun lainnya (Al-Ghazali). Pendapat ini beranggapan bahwa lafad syara’ berasal dari al- Quran dan al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab: QS. Yusuf: (2) dan QS. Asy-Syu’ara’: ( ) dan pemindahan lafad dari arti awal ke arti syar’iyahnya agar mereka faham maksudnya dan menjadi pengertian umum.

15 metode istinbath hukum syar'i15 Makna dari Huruful Ma’ani: a.Huruf “أ” (hamzah): jika dihubungkan dengan lafad-lafad tertentu dapat memberi sejumlah arti, antara lain: 1) dihubungkan dengan isim mashdar dapat berarti “istifham” minta keterangan, contoh pada QS. Al-Anbiya’: (109): وإن أدرى أقريب أم بعيد ما توعدون 2) jika dihubungkan dengan kata “رأى” (ra-a) berarti “berikan berita atau minta pendapat”, QS. Al-Ma’un: (1): أرأيت الذي يكذب بالدين 3) jika dihubungkan dengan kata “ “ (Lam) dapat berarti “peringatan, heran/ta’jub” seperti: ألم تر إلى ربك كيف مد الظل.... (الفرقان: 45) (ألم أعهد إليكم يا بني آدم أن لا تعبدوا الشيطان.... (يس:60) 4) menyatakan keingkaran, seperti QS. Az-Zumar: (36) أليس الله بكاف عبده.... (الزمر: 36)

16 metode istinbath hukum syar'i16 Pembagian lafad menurut makna: Pembagian lafad berdasarkan makna yang ditetapkan ada tiga macam yaitu: khaash, ‘Aam dan Musytarak. A. Lafad khaash: 1.Pengertian: Lafad Khaash adalah lafad yang dari segi kebahasaan ditentukan untuk satu arti secara mandiri. Jadi lafad khaash adalah yang menunjukkan kepada suatu satuan tertentu sehingga ditentukan untuk menunjukkan kepada perseorangan tertentu seperti Ali, Ahmad dsb; secara kelompok (macam/jenis) seperti laki-laki, perempuan, binatang dsb; suatu bilangan tertentu (lima, sepuluh dsb) dan kepada suatu materi/benda konkrit dan suatu yang abstrak (ilmu, kebodohan, pikiran dsb)

17 metode istinbath hukum syar'i17 2. Hukum Khaash a.Bila lafad khaash pada nash syara’ (teks hukum) menunjuk pada yang dituju madlulnya (penunjukkannya) secara qath’iy, hukumnya menjadi qath’iy pula, selama tidak ada dalil yang mengalihkannya. Umpmanya dalam QS. Al-Baqarah: 196: فصيام ثلاثة أيام في الحج وسبعة إذا رجعتم.... (…maka waji berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu telah pulang…). Maka hukum yang dapat diperoleh dari ayat di atas adalah keharusan berpuasa selama tiga hari di Mekkah dan sepuluh hari setelah tiba di negerinya, tidak lebih atau kurang dari bilangan tersebut. b.Bila lafad khaash dalam bentuk amer (perintah), maka menunjukkan pada hukum wajib selama tidak ada dalil atau qarinah (konjuksi) yang mengalihkan kepada hal lain. Umpamanya dalam QS. An-Nur: 56: وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة وأطيعوا الرسول... (dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul (Muhammad)…). Maka lafad amer pada ayat di atas secara pasti menunjukkan wajibnya melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat dan mentaati Rasulullah, karena sighat amer termasuk lafad khaash.

18 metode istinbath hukum syar'i18 a.Demikian halnya, bila lafad khaash dalam bentuk nahy (larangan) maka menunjukkan hukum tahrim (keharaman) perbuatan yang dicegah tersebut. Umpamanya: dalam QS. Al-’An’am: 151: ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق... (…dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar…). Maka lafad nahy pada ayat di atas secara pasti menunjukkan haramnya menghilangkan nyawa orang lain tanpa ada alasan yang benar, karena sighat nahy termasuk lafad khaash. b.Bila lafad khaash itu terdiri dari lafad muthlaq, maka harus difungsikan kemutlakannya, selama ada dalil atau qarinah yang mengalihkan kepada arti lain atau memberi batasan artinya. Umpamanya dalam QS. Al- Maidah: 89: فكفارته إطعام عشرة مساكين من أوسط ما تطعمون أهليكم أو كسوتهم أو تحرير رقبة.... (maka kaffarahnya (denda pelanggatan sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa diberikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang budak…), maka lafad budak tetap pada difungsikan kemutlakannya karena lafad muthlaq termasuk lafad khaash, terkecuali ada pebatasan (qayd) seperti pada kaffarah pembunuhan tidak sengaja dalam QS. An-Nisa: 92: فتحرير رقبة مؤمنة (maka merdekakanlah seorang budak mukmin…)

19 metode istinbath hukum syar'i19 Qaidah yang bertalian dengan Khaash A.Al-Amr ( الأمر ): Menurut bahasa: طلب الفعل على جهة الحتم والالزام Menurut syara’: اللفظ الدال على طلب الفعل على جهة الاستيلاء ( suatu lafad yang menunjukkan terhadap perintah melaksanakan suatu perbuatan dengan meninggikan aksen suara ). Lafad perintah memiliki tiga kategori: -Al-Amr ( الأمر ) : suatu permintaan untuk dikerjakan datangnya dari atas ke bawah -Ad-Do’a’ ( الدعاء ) : suatu permintaan untuk dikerjakan datangnya dari bawah ke atas -Al-Iltimas ( الالتماس ) : suatu permintaan untuk dikerjakan datangnya dari sesama derajatnya.

20 metode istinbath hukum syar'i20 Sighat (bentuk kata) Al-Amr: -إفعل (if’al) atau fi’il amr: إذهب إلى فرعون إنه طغى اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس ليفعل – (liyaf’al) atau fi’il mudhari’ yang dimasuki “lam amr”: وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا فليعمل عملا صالحا -الجملة الخبرية المستعملة في الإنشاء (susunan kata berbentuk khabar (berita) digunakan dalam insya’ atau perintah): والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء وأولات الأحمال أجلهن أن يضعن حملهن

21 metode istinbath hukum syar'i21 -Lafad كتب على (kutiba ‘alaa): كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم كتب عليكم القصاص في القتلى -Lafad أمر (amara): إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها قل أمر ربي بالقسط -Lafad yang memberitakan bahwa perbuatan itu untuk orang mukallaf: ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا -Lafad yang menunjukan bahwa perbuatan itu baik (khair) atau (al-birr): قل إصلاح لهم خير ولكن البر من اتقى

22 metode istinbath hukum syar'i22 Arti lafad amr: -lafad amr berarti wajib seperti: أقيموا الصلاة وآتوا الزكاة -Berarti nadb atau sunnah : فكاتبوهم إن علمتم فيهم خيرا -Berarti pendidikan: كل بيمينك وكل مما يليك -Berarti petunjuk: واشهدوا إذا تبايعتم -Berarti ibahah atau boleh: وإذا حللتم فاصطادوا -Berarti menghardik: إعملوا ما شئتم Kaidah Hukum yang ditetapkan dengan Lafad amr 1. الأصل في الأمر للوجوب (مالم توجد قرينة تصرف عن ذلك) (Pada pokoknya amr itu menunjukkan hukum wajib, terkecuali ada qarinah atau tanda-tanda yang dapat mengalihkan kepada arti lain). Menurut pendapat Jumhur Ulama اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس لم يكن من الساجدين، قال ما منعك ألا تسجد إذ أمرتك...

23 metode istinbath hukum syar'i23 2. الأصل في الأمر للندب (Pada dasarnya amr menunjukkan hukum sunnah), ini menurut golongan Mu’tazilah إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه الأمر بعد الحظر أو التحريم يفيد الإباحة (Perintah setelah adanya larangan menunjukkan hukum boleh) فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله sesudah firman Allah:... إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع.... كنت نهيتكم عن زيارة القبور، ألا فزورها Dalam masalah ini (apakah menunjukkan boleh atau wajib) ada tiga pendapat: -Syafi’iyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah: perintah setelah adanya larangan menunjukkan hukum boleh; وإذا حللتم فاصطادوا setelah ayat: لا تقتلوا الصيد وأنتم حرم - Hanafiyah (sebagian Syafi’iyah dan Malikiyah): perintah setelah adanya larangan menunjukkan hukum wajib; فإذا انسلح الأشهر الحرم فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم - Al-Kamal Ibn Al-Umam: dikembalikan kepada hukum asalnya: فإذا انسلح الأشهر الحرم فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم karena perintah memerangi orang musyrik hukum asalnya wajib, kemudian diharamkan pada bulan-bulan haram tertentu.

24 metode istinbath hukum syar'i24 4. الأصل في الأمر يقتضى الفور أو التراخى (Pada pokoknya perintah menghendaki kesegeraan atau penundaan) وأتموا االحج والعمرة لله ما منعك ألا تسجد إذ أمرتك وسارعوا إلى مغفرة من ربكم Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat: -Malikiyah dan hanabilah serta Al-Karakhi dari Hanafiyah: perintah yang tidak disertai qarinah atau tanda-tanda baik untuk kesegeraan atau penundaan, maka menunjukkan kesegeraan -Hanafiyah: perintah yang tidak disertai qarinah atau tanda-tanda baik untuk kesegeraan atau penundaan, maka menunjukkan penundaan -Syafi’iyah: perintah yang tidak disertai qarinah atau tanda-tanda baik untuk kesegeraan atau penundaan, maka tidak menunjukkan kesegeraan atau penundaan.

25 metode istinbath hukum syar'i25 5. الأصل في الأمر يقتضى التكرار أو الوحدة -Hanafiyah dan Hanabilah serta pendapat ini diakomodir oleh Ibn Badran, Al-Razi, Al-Amidi, Ibn Al-Hajib, Al-Baidhawi, Ibn As-Subki dan kebanyakan Syafi’iyah: perintah yang tidak disertai qarinah atau tanda-tanda tidak menunjukkan pengulangan, tetapi sesuai dengan hakikat dari perintah itu sendiri: إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم، وإن كنتم جنبا فاطهروا وغيرها -Malikiyah (Al-Qadhi Abdul Wahab dan Asy-Syairazi):perintah yang tidak disertai qarinah atau tanda-tanda secara lafdi hanya menunjukkan sekali, namun memungkinkan untuk berualng kali: قال صم: يا أيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا... -Al-Isfirani dan Asy-Syairazi dan sekelompok Mutakallimin: perintah yang tidak disertai qarinah atau tanda-tanda menunjukkan pengulangan dalam seumur hidup dengan syarat memungkinkan untuk dilaakukan: وأتوا الزكاة

26 metode istinbath hukum syar'i26 7. الأمر بالشيء نهي عن ضده (Perintah terhadap sesuatu, merupakan larangan terhadap lawannya) seperti: perintah beriman menjadi larangan untuk mengkafiri. 8. الأمر بالشيء أمر بوسائله (Perintah terhadap sesuatu merupakan perintah atas sarana yang menjadi alat pelaksanaannya). Kaidah yang berhubungan dengan hal ini: للوسائل حكم المقصود (Bagi sarana itu hukumnya sama dengan yang dituju);

27 metode istinbath hukum syar'i27 B. An-Nahy (Larangan) Menurut bahasa: طلب الترك أو الكف على جهة الحتم والالزام ( perintah meninggalkan secara pasti dan konsisten ). Menurut bahasa: اللفظ الدال على طلب الكف عن الفعل على جهة الاستيلاء ( suatu lafad yang menunjukkan terhadap perintah mengerjakan suatu perbuatan dengan meninggikan aksen suara ). Sighat (bentuk kata) Al-Amr: -Lafad Fi’il Mudhari’ dimasuki hurun Lam Nahy (لا تفعل) atau الجملة الخبرية المستعملة في النهي ( susunan kata berbentuk khabar (berita) digunakan dalam larangan):... لا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق... لا يحل لكم أن تأخذوا مما أتيتموهن شيئا... ولا تنكحوا المشركات حتى يؤمن... -Kata “nahy” : وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي -Kata “haram ” : إنما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها وما بطن -Kata perintah untuk meninggalkan : وذروا البيع.... فاجتنبوا الرجس من الأوثان واجتنبوا قول الزور. -Kata yang menunjukkan penafian terhadap perbuatan: فلا عدوان إلا على الظالمين

28 metode istinbath hukum syar'i28 Arti Lafad Nahy: -Lafad Nahy menunjukkan kepada hukum haram: لا تقربوا الزني -Menunjukkan kepada hukum makruh: يا أيها الذين آمنوا لا تحرموا الطيبات ما أحل الله لكم -Menunjukkan irsyad (petunjuk/bimbingan): لا تسألوا عن أشياء إن تبد لكم تسؤكم -Untuk do’a: ربنا لا تزع قلوبنا بعد إذ هديتنا -Untuk kelanggengan: ولا تحسبن الله غافلا عما يعمل الظالمون -Menerangkan akibat : ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء -Dsb. Kaidah Hukum yang ditetapkan dengan Lafad Nahy 1. الأصل في النهي للتحريم (مالم توجد قرينة تصرف عن ذلك) (Pada pokoknya larangan itu menunjukkan hukum haram, terkecuali ada qarinah atau tanda-tanda yang dapat mengalihkan kepada arti lain): لا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق...

29 metode istinbath hukum syar'i29 2. الأصل في النهي المطلق يقتضى التكرار أو الفور (Pada pokoknya dalam nahy yang mutlak menghendaki perulangan atau kesegeraan): لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى دعى الصلاة أيام أقرائك - Ar-Razi, Al-Baidhawi: Larangan tidak menghendaki adanya perulangan atau kesegeraan, karena terkadang larang tersebut tidak mengehndaki kedua hal hal tersebut, seperti dikala dokter mengatakan: jangan minum susu atau jangan makan daging. - Al-Amidi, Ibnul Hajib dan Al-Qarafi: Larangan itu menghendaki adanya perulangan atau kesegeraan, seperti jika dikatakan jangan lakukan itu, maka mengehndaki perulangan dan kesegeraan, apalagi kalau disertai dengan syarat seperti: فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن إلى الكفار، لا هن حل لهم، ولا هم يحلون لهن...


Download ppt "Metode istinbath hukum syar'i1 METODE INSTINBATH 1. Pengertian. Kata “Istinbath” menurut bahasa ialah mengeluarkan, seperti “ istanbathal maau minal ‘ain."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google