Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Nama: Wa Ode Dewiyati Npm: 200814110 Judul : PEMBUATAN EKSTRAK KURKUMIN MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL DAN ASETAT UNTUK IDENTIFIKASIBORAKSDALAMBAHAN MAKANAN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Nama: Wa Ode Dewiyati Npm: 200814110 Judul : PEMBUATAN EKSTRAK KURKUMIN MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL DAN ASETAT UNTUK IDENTIFIKASIBORAKSDALAMBAHAN MAKANAN."— Transcript presentasi:

1 Nama: Wa Ode Dewiyati Npm: Judul : PEMBUATAN EKSTRAK KURKUMIN MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL DAN ASETAT UNTUK IDENTIFIKASIBORAKSDALAMBAHAN MAKANAN

2 BAB I PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Indonesia yang dianugerahi kekayaan beragaman hayati yang luar biasa. Memiliki lebih dari spesies tanaman dan 940 spesies di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat. Dari spesies tumbuhan tingkat tinggi yang terdapat di dunia, spesies diantaranya terdapat di Indonesia. Sekian banyak tumbuhan tropika ini telah dimanfaatkan antara lain sebagai biofarmaka. Maka penelitian yang sistematik perlu terus dilakukan untuk mengungkap secara optimal manfaat bahan alam di negara kita. Peningkatannya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan bahan-bahan dari alam sebagai obat dalam meningkatkan kesehatan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami pada suhu yang maksimal. Dari jenis tumbuhan,dari jumlah tersebut sekitar 1300 dintaranya digunakan sebagai obat tradisional. Dan telah dimanfaatkan Salah satu jenis tumbuhan yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah kunyit (curcuma longa L), yang berasal dari keluarga jahe (Zingiberaceae family). Salah satu kandungan kunyit yang berkhasiat obat adalah kandungan kurkuminya. Kunyit merupakan (Curcuma domestica VAL.) merupakan salah satu tanaman temu- temuan yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dibudidayakan. Pemakaian kunyit dari waktu ke waktu cenderung terus meningkat baik di dalam negeri maupun di berbagai Negara di dunia.

3 Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian m, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina. Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan (Rukmana, 1994). Kunyit termasuk tanaman yang mempunyai banyak guna, terutama bagian rimpangnya banyak dimanfaatkan untuk keperluan ramuan obat tradisisonal, bahan pewarna tekstil dan masakan serta kerajinan tangan, penyedap masakan, bumbu, rempah-rempah, dan bahan kosmetik. (Rukmana, 1994)

4 Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka semakin banyak jenis bahan makanan yang diproduksi, dijual, dan dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan lebih praktis dibandingkan dengan bentuk segarnya. Berkembangnya produk pangan awet tersebut hanya mungkin terjadi karena semakin tingginya kebutuhan masyarakat perkotaan terhadap berbagai jenis makanan yang praktis dan awet. Bahan tambahan makanan (aditif makanan) digunakan agar makanan tampak lebih menarik dan tahan lama, bahan tersebut dapat sebagai pengawet, pewarna, penyedap rasa dan aroma, anti oksida, dan lain-lain. Jadi bahan tersebut tidak bernilai gizi, tetapi ditambahkan ke dalam makanan pada pembuatan atau pengangkutan untuk mempengaruhi atau mempertahankan sifat khas makanan tersebut. Beberapa bahan tambahan makanan mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap kesehatan manusia, karena itu pemerintah (Departemen Kesehatan) telah mengatur/menetapkan jenis-jenis bahan tambahan makanan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam pengolahan makanan. Salah satu bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan adalah asam borat dan garamnya natrium tetraborat (boraks). Dewasa ini boraks banyak sekali digunakan dalam industri makanan, seperti: dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, tahu, bakso, sosis, bahkan dalam pembuatan kecap. Padahal zat kimia ini merupakan bahan beracun dan bahan berbahaya bagi manusia sehingga sangat dilarang dan digunakan sebagai bahan baku makanan.

5 Tentunya tidak ada seorang pun yang akan mengonsumsi jika mengetahui barang tersebut mengandung zat berbahaya di dalamnya. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui cara mendeteksi adanya kandungan boraks dalam bahan makanan dan bahayanya bagi kesehatan. Teridentifikasinya boraks pada makanan-makanan tersebut dapat kita rasakan pula perbedaannya dengan makanan yang tidak menggunakan boraks, namun hal tersebut tidak mutlak dan hanya sebagai perkiraan saja. Kebanyakan masyarakat mengira bahwa identifikasi boraks dalam makanan yang dapat dibuktikan kebenarannya, harus dilakukan di laboratorium sehingga memerlukan biaya mahal, padahal ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan tanpa harus melalui laboratorium. Boraks merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya bakso dan kerupuk. Boraks juga sering disalah gunakan dalam pangan. Biasanya ditambahkan pada kerupuk, bakso, lontong, dan lain- lain. Bila boraks sering masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal, bahkan pingsan serta kematian. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “ Pembuatan Ekstra Kurkumin mengunakan pelarut ethanol dan asam asetat Untuk Identifikasi Boraks Dalam Bahan Makanan ”.

6 1.Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang tersebut diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penilitian ini adalah: 1. Bagaiamana mengetahui cara membuat kurkumin dengan pelarut setat dan ethanol 2. Bagaimana cara mengidentifikasi boraks dalam bahan makanan menggunakan kurkumin. 1.Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah: Untuk mengetahui cara membuat kurkumin dengan pelarut ethanol dan asetat Untuk mengetahui Bagaimana cara mengidentifikasi boraks dalam bahan makanan menggunakan kurkumin 1. Manfaat Penelitian Adapun yang menjadi manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi masyarakat tentang dampak penggunaan kurkumin terhadap boraks dalam bahan makanan. Sebagai bahan referensi untukpenelitian-penelitian selanjutnya,kususnya yang berkaitan dengan penelitian senyawa bahan alam. 1.Penjelasan Istilah Adapun istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Kukurmin adalah Salah satu bahan alami yang berpotensi dapat digunakan untuk mendeteksi boraks. Kunyit adalah tanaman herbal yang banyak di jumpai di sekitar kita. Kunyit juga dapat digunakan sebagai obat dan bumbu dalam berbagai resep makanan. (Hermani, 1995)

7 Ekstrak adalah suatu produk hasil pengambilan zat aktif dari tanaman menggunakan pelarut, tetapi pelarutnya diuapkan kembali sehingga zat aktif ekstrak menjadi pekat. Benetuknya dapat kental atau kering tergantung apakah sebagian aja pelarut yang diuapkan atau seluruhnya. Boraks adalah senyawa berbentuk kristal putih, tidak berbau serta stabil pada suhu dan tekanan normal. Boraks bersifat sedikit larut dalam air. Dalam air, boraks, berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat. Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan. ( Arsyad, 1997). Ekstraksi pelarut adalah ektraksi salah satu pemisahan kimia berdasarkan atas kelarutan komponen-komponen yang dipisahkan dengan pelarut yang digunakan (Anwar, 1994).

8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.Deskripsi Tanaman Kunyit (Curcuma domestica VAL.) Tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu ini memiliki kandungan kurkuminoid yang kuat. Hal ini membuat kunyit mampu menberikan warna kuning dan oranye yang cerah. Berdasarkan namanya Curcuma domestica VAL. kunyit tergolong dalam tanaman yang tidak berbahaya tetapi memiliki khasiat yang tinggi, karena kandungan utama di dalam rimpangnya terdiri dari minyak atsiri, kurkumin, resin, oleoresin, desmetoksikurkumin, dan bidesmetoksikurkumin, damar, gom, lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi. Jadi kunyit baik digunakan sebagai obat herbal maupun zat pewarna. Dalam penggunaannya sebagai bahan pewarna ialah lakukan pengupasan atau pencucian saja pada rimpang kunyit, kemudian parut dan peraslah di atas saringan agar hasilnya bersih dari ampas sisa pemarutan. Hasil penyaringan siap dipakai sebagai pewarna kuning atau oranye adalah berdasarkan kematangan warna kunyit tersebut. Berdasarkan penggolongan dan tata nama tumbuhan, tanaman kunyit termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut: Kingdom : Plantae (Tumbuh-tumbuhan) Divisio: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) Sub-diviso: Angiospermae (Berbiji tertutup) Kelas: Monocotyledoneae (Biji berkeping satu) Ordo: Zingiberales

9 Kandungan zat kimia (dari bobot kering) KP Cimanggu Bogor (240 m dpl) KP. Manoko Lembang (1.200 m dpl) Kadar minyak atsiri (%) Kadar pati (%) Kadar serat (%) Kadar abu (%) Indeks bias (%) Bobot jenis (%) Warna minyak (%) 1, ,0300 3,4400 6,4700 1,5030 0,9300 Kuning 1, ,8100 2,8700 7,5200 1,5086 0,9465 Kuning Famili: Zungiberaceae Genus: Curcuma Species : Curcuma domestica VALET. Di berbagai daerah kunyit mempunyai nama yang berbeda, kunyit mempunyai nama yang beragam. Misalnya kunyir, koneng atau koneng temen (sunda), kunyit (Aceh), kuning (Gayo), kuning, unik (Batak), kunyit (Melayu), cahang (Dayak), kunyit (Lampung), kunyit, janar (Banjar), kunir, kunir betis, temu kuning (Jawa), konye, temu koneng (Madura), kunyik (Sasak), huni (Bima), alawahu (Gorontalu), uni, kuni (Toraja), kunyi (Makasar), unyi (Bugis), kumino, unine, uninum (Ambon), rame, kandeifu, nikwai, mingguai, jaw (Irian). Kandungan zat kimia pada rimpang kunyit adalah minyak atsiri, pati, serat, dan abu. Rimpang kunyit yang dihasilkan dari dataran rendah kandungan kimianya lebih tinggi dari pada rimpang kunyit dari dataran tinggi, seperti disajikan pada Tabel 2.1 berikut. Tabel 2.1 Kandungan zat kimia pada rimpang kunyit Sumber: Triyono, dkk (1988)

10 Komponen utama yang terpenting dalam rimpang kunyit adalah “kurkuminoid” dan minyak atsiri. Hasil penelitian balai penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) bahwa kandungan kurkumin rimpang kunyit rata-rata 10,92%. Kandungan kurkuminoid terdiri atas senyawa kurkumin dan keturunannya, yang mempunyai aktivitas biologis berspektrum luas, di antaranya antibakteri, antioksidan, dan antihepatotoksik. Kurkumin diduga merupakan penyebab berkhasiatnya rimpang kunyit sebagai obat-obatan (Rukmana, 1994). 2.2 Kurkumin Kurkumin mempunyai rumus molekul C 21 H 20 O 6 (BM = 368). Sifat kimia kurkumin yang menarik adalah sifat perubahan warna akibat perubahan pH lingkungan. Kurkumin berwarna kuning atau kuning jingga pada suasana asam, sedangkan dalam suasana basa berwarna merah. Kurkumin dalam suasana basa atau pada lingkungan pH 8,5-10,0 dalam waktu yang relatif lama dapat mengalami proses disosiasi, kurkumin mengalami degradasi membentuk asam ferulat dan feruloilmetan. Warna kuning coklat feruloilmetan akan mempengaruhi warna merah dari kurkumin yang seharusnya terjadi. Sifat kurkumin lain yang penting adalah kestabilannya terhadap cahaya (Tonnesen, 1985; Van der Good, 1997). Adanya cahaya dapat menyebabkan terjadinya degradasi fotokimia senyawa tersebut. Hal ini karena adanya gugus metilen aktif (-CH 2 -) diantara dua gugus keton pada senyawa tersebut. Kurkumin mempunyai aroma yang khas dan tidak bersifat

11 toksik bila dikonsumsi oleh manusia. Jumlah kurkumin yang aman dikonsumsi oleh manusia adalah 100 mg/hari. (Rosmawani dkk, 2007) Bentuk Keton dari kukurmin Sifat-sifat kurkumin adalah sebagai berikut (Wahyuni, 2004): Berat molekul: (C = 68,47 %; H = 5,47 %; O = 26,06 %) Warna: Light yellow Melting point: 183ºC Larut dalam alkohol dan asam asetat glacial Tidak larut dalam air Kurkumin dapat ditemukan pada dua bentuk tautomer, yaitu bentuk keton dan bentuk enol. Struktur keton lebih stabil atau lebih banyak ditemukan pada fasa padat, sedangkan struktur enol lebih dominan pada fasa cair atau larutan (Yudha, 2009). Rumus struktur kurkumin adalah sebagai berikut: Struktur kurkumin dari struktur Keton Struktur kurkumin dari struktur enol

12 Gambar 1. Struktur Molekul Kurkumin Kurkumin atau diferuloimetana pertama kali diisolasi pada tahun Kemudian tahun 1910, kurkumin didapatkan berbentuk kristal dan bisa dilarutkan, tahun 1913, kurkumin tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam etanol dan aseton (Joe dkk., 2004; Chattopadhyay dkk., 2004; Araujo dan Leon, 2001). Sedangkan menurut Kiso (1985) kurkumin merupakan senyawa yang sedikit pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam asetat glasial dan alkali hidroksida, serta tidak larut dalam air dan dietileter. Salah satu cara pengambilan kurkumin dari rimpangnya adalah dengan cara ekstraksi. Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan. Secara umum ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan dan isolasi zat dari suatu zat dengan penambahan pelarut tertentu untuk mengeluarkan komponen campuran dari zat padat atau zat cair. Dalam hal ini fraksi padat yang diinginkan bersifat larut dalam pelarut (solvent), sedangkan fraksi padat lainnya tidak dapat larut. Proses tersebut akan menjadi sempurna jika solute dipisahkan dari pelarutnya, misalnya dengan cara distilasi/penguapan. 2.3 Ekstraksi Senyawa aktif Salah satu cara pengambilan kurkumin dari rimpangnya adalah dengan cara ekstraksi. Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan. Secara umum ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan dan dan isolasi dari zat padat atau cair. Dalam hal ini fraksi padat yang diinginkan bersifat larut dalam pelarut (solvent), sedangkan fraksi padat lainnya tidak dapat larut dalam. Proses tersebut akan menjadi sempurna jika solute dipisahkan dari pelarutnya, misalnya dengan cara destilasi/penguapan (Wahyuni, 2004).

13 menurut JECFA spesifikasi ilmiah untuk kurkumin(FNP 52,2001) beberapa pelarut yang dipertimbngkan sesuai adalah: Isopropanol : pada proses pabrikasi kurkumin, isopropyl, alkohol digunakan sebagai proses bantuan untuk pemurnian kurkumin. asam asetat : Dengan suatu pembatasan tempat pada penggunaan pelarut yang diklorinasi, seperti dikloroetana, ditemukan bahwa asetat, pantas menggantikan kualitas produk dan secara komersial dapat menggiatkan hasil. Aseton : Bahan pelarut ini digunakan sbagai pelarut pada proses pabrikan kurkumin. Metanol : Bahan pelarut ini digunakan secara paa proses bantuan pemurnian. Ethanol : Bahan pelarut ini digunakan dengan hemat sebab kukumin dengan spenuhnya dapat larut pada ethanol. Ekstraksi padat cair digunakan untuk memisahkan analit yang terdapat pada padatan menggunakan pelarut organik. Padatan yang akan di ekstrak dilembutkan terlebih dahulu, dilakukan dengan cara di iris-iris menjadi bagian yang tipis-tipis. Kemudian peralatan ekstraksi soxlet dirangkai dengan menggunakan pendingin air. Ekstraksi dilakukuan memanaskan pelarut organic sampai semua analit terekstrak (Khamidal, 2009) Pada ekstraksi soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fase cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifone sam dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggerojok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya.

14 1.Macam-macam Kromatografi Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya dengan bantun perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Komponen utama kromatografi adalah fase stationer dan kromatografi di bagi menjadi beberapa jenis bergantung pada mekanisme pemisahannya. 1.Kromatografi adsorpsi Kromatografi adsorpsi didasarkan pada retensi zat terlarut oleh andsorpsi permukaan. Teknik ini berguna dalam pemisahan senyawa-senyawa non polar kontituen-kontituen yang sulit menguap. Pada kromatografi cair padat, suatu substrat padat berindak sebagai fase diam. Pemisahan bergantung pada bidang antara muka di cair yang bergerak serta pada kelarutan relatif zat terlarut pada fase geraknya (Khopkar, 2003). 1.Kromatografi Lapis Tipis Teknik ini di kembangkan pada tahun 1938 oleh Ismailoff dan Schrairber. Adsorben dilapiskan pada lempeng kaca yang bertindak sebagai penunnjang fase diam. Fase bergerak akan menyerap sepanjang fase diam dan terbentuklah kromatogram ini di kenal juga sebagai kromatografi kolom terbuka. Metode ini sederhana cepat dalam pemisahan dan sensitif. Kecepatan pemisahan tinggi dan mudah untuk memperoleh kembali senyawa-senyawa yang terpisahkan (Khopkar, 2003). 1.Pengertian Boraks Menurut Encyclopedi Britanica dan Encyclopedi Nasional Indonesia, kata boraks berasal dari kata Arab yaitu Bauraq dan istilah melayunya tingkal yang berarti putih, merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron, tidak berwarna dan mudah larut dalam air. Boraks merupakan garam Natrium Na 2 B 4 O 7 10H 2 O, rumus struktur boraks adalah sebagai berikut.

15 Boraks terjadi dalam suatu deposit hasil dari proses penguapan “hot spring” (pancuran air panas) atau danau garam. Boraks termasuk kelompok mineral borat, suatu jenis senyawa kimia alami yang terbentuk dari Boron (B) dan Oksigen (O). Boraks erat kaitannya dengan asam borat, dan kemungkinan besar daya pengawetan boraks disebabkan karena adanya senyawa aktif asam borat (asam borosat). Boraks secara lokal dikenal sebagai air ”bleng”, ”garam bleng” atau ”pijer’. Disamping itu boraks juga digunakan dalam industri makanan seperti industri pembuatan mie, lontong, ketupat, pembuatan gendar. Konon pembuatan bakmi pabrik dan makaroni biasanya menggunakan asam boraks murni, suatu kristal putih produksi industri farmasi (Winarno,1994). Sementara itu, Kepala Disperindag Pemprov Kalbar RN Silalahi mengatakan, tindakan memasukkan boraks ke dalam makanan melanggar UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan khususnya Pasal 21. Intinya, makanan yang mengandung bahan beracun dilarang diproduksi. Selain itu, perbuatan para produsen juga melanggar PP Nomor 69 Tahun 1999 tentang label dan iklan pangan (Anonim, 2005). 1.Toksisitas Boraks Masalah boraks dalam makanan timbul di Asia, dan larangan penggunaan telah dilakukan khususnya di Thailand (1977), Indonesia (1979) dan Malaysia (1984). Apabila konsumen mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks, tidak serta merta berdampak buruk terhadap kesehatan. Tetapi boraks yang sedikit tersebut diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Di samping melalui saluran pencernaan, boraks dapat diserap melalui kulit. Dan boraks yang terlanjur terserap ke dalam tubuh dalam jumlah yang kecil dikeluarkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat (Winarno, 1994).

16 Konsumsi boraks yang tinggi jumlahnya dalam makanan dan terserap dalam tubuh akan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak atau testis (buah zakar). Lee dkk (dalam Winarno, 1994) menyatakan bahwa boraks dapat berpengaruh buruk seperti mengganggu berfungsinya testis (testicular). Kerusakan testis tersebut terjadi pada dosis 1170 ppm selama 90 hari dengan akibat testis mengecil dan pada dosis yang lebih tinggi yaitu 52 – 50 ppm dalam waktu 30 hari dapat mengakibatkan degenerasi gonad. (Wen dan Fisher tahun 1972 dalam Winarno, 1994) mengutarakan bahwa boraks relatif kurang beracun apabila dikonsumsi melalui oral karena memiliki batas keamanan (reasonable margin of safety) antara dosis keracunan pada binatang dan jumlah yang sesungguhnya dikonsumsi manusia. Dalam dosis yang cukup tinggi dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala pusing-pusing, muntah, mencret, kram perut, cyanis, kompulsi. Pada anak kecil dan bayi bila dosis dalam tubuhnya sebanyak 5 gr atau lebih dapat menyebabkan kematian, sedang untuk orang dewasa, kematian terjadi pada dosis 10 – 20 gr atau lebih. Bakso dan Mie merupakan jenis makanan yang tergolong jenis makanan yang tergolong paling digemari di Indonesia pada umumnya terbuat dari daging sapi, tetapi dapat pula dibuat dari jenis daging lain, termasuk daging ikan. Dalam pembuatan bakso disamping daging, diperlukan bahan-bahan lain seperti, pati, es, bumbu-bumbu serta bahan kimia lain. Pada beberapa pembuat bakso komersial, beberapa zat kimia ditambahkan khususnya boraks dan tawas. Biasanya boraks dengan dosis 0,1 – 0,5% (dari berat adonan) dicampurkan ke dalam adonan, untuk mendapatkan produk bakso yang kering, kesat atau kenyal teksturnya. Berikut ini terdapat beberapa ciri pangan yang mengandung boraks. Walaupun tidak terlampau khas namun dapat membantu membedakannya dari pangan tanpa boraks. Mie Basah yang mengandung boraks :

17 Teksturnya sangat kenyal Biasanya lebih mengkilat, tidak lengket dan tidak cepat putus. Bakso mengandung boraks: Teksturnya sangat kenyal Warnanya tidak kecokelatan seperti penggunaan daging namun lebih cenderung keputihan Ciri-ciri jajanan (seperti lontong) mengandung boraks : Teksturnya sangat kenyal Berasa “tajam” semisal sangat gurih dan membuat lidah bergetar dan memberikan rasa getir Ciri-ciri kerupuk mengandung boraks : Teksturnya sangat renyah Dapat memberikan rasa getir Sikap dan tindakan konsumen supaya tidak salah memilih produk pangan yang mengandung boraks, konsumen harus lebih selektif. Berhati-hatilah memilih produk pangan yang akan dikonsumsi dengan cara tidak segan-segan menanyakan kepada penjual pangan, apakah produknya menggunakan boraks atau tidak. Waspadai produk tertentu yang sering menggunakan boraks dengan memperhatikan ciri-cirinya.

18 1.Dampak Negatif atau Bahaya Boraks (Bleng) dalam Makanan Sudah tidak asing lagi bahwa banyak zat-zat berbahaya yang langsung dicampur sebagai bahan pembuat makanan, salah satu zat yang sering digunakan yaitu ‘Boraks’ atau ‘Bleng’. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk secara langsung, tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan, namun juga melalui kulit. Boraks akan menganggu enzim-enzim metabolisme.otakhatiginjal Ada beberapa ciri Gejala Keracunan Boraks, antara lain sebagai berikut: Keadaan umum: lemah, sianosis, hipotensi Terhirup: iritasi membran mukosa, tenggorokan sakit, dan batuk, efek pada sistem saraf pusat berupa hiperaktifitas, agitasi dan kejang. Aritmia berupa atrial fibrilasi, syok dan asidosis metabolik. Kematian dapat terjadi setelah pemaparan, akibat syok, depresi saraf pusat atau gagal ginjal. Kontak dengan kulit: Eritrodemik rash (merah), iritasi dan gejala seperti orang mabuk, deskuamasi dalam 3-5 hari setelah pemaparan. Tertelan: mual, muntah, diare, gangguan pencernaan, denyut nadi tidak beraturan, nyeri kepala, gangguan pendengaran dan penglihatan, sianosis, kejang dan koma. Keracunan berat dan kematian umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak dalam 1-7 hari setelah penelanan, sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi. Dalam jumlah banyak boraks dapat menimbulkan keracunan kronis akibat tibunan boraks, antara lain: demam, koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, kematian.demam

19 Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tak sertamerta berakibat buruk terhadap kesehatan. Tetapi boraks yang sedikit ini akan diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Selain melalui saluran pencernaan, boraks juga bisa diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh ini akan disimpan secara kumulatif di dalam hati, otak, dan testes (buah zakar). 1.Cara Mengidentifikasi Boraks dalam Makanan Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengetahui atau mengidentifikasi makanan yang mengandung boraks. Cara-cara yang dapat kita tempuh misalanya yang paling mudah adalah dengan pengamatan fisik, adapun yang lebih meyakinkan yaitu dengan pemeriksaan laboratorium, namun jika masyarakat awam terlalu asing dengan laboratorium, maka ada cara mengidentifikasi yang lebih mudah yaitu metode kunyit. 1.Identifikasi dengan pengamatan fisik Dari berbagai macam jenis makanan, ada beberapa makanan yang biasa dicampuri dengan boraks baik dengan alasan untuk mengawetkan, maupun untuk kepentingan dagang, serta dapat dengan mudah kita identifikasi menurut ciri fisiknya. 1.Identifikasi dengan metode kunyit Tentunya tidak ada seorang pun yang akan mengonsumsi barang yang diketahui mengandung zat berbahaya di dalamnya. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui cara mendeteksi adanya kandungan boraks dalam bahan makanan. Kebanyakan masyarakat mengira bahwa mendeteksi

20 boraks harus di laboratorium sehingga memerlukan biaya mahal. Hal ini membuat masyarakat malas menguji dan langsung mengonsumsi barang yang dibeli. Padahal jika dapat mengetahui cara yang benar dan mudah untuk mendeteksi boraks, pasti masyarakat tidak akan kesulitan untuk melakukan sendiri. Salah satu bahan alami yang berpotensi dapat digunakan untuk mendeteksi boraks adalah kunyit. Kunyit dapat digunakan sebagai obat dan bumbu dalam berbagai resep makanan. Tanaman kunyit banyak ditemui di pasar dan lingkungan sekitar kita sehingga dapat dengan mudah didapat. Harga tanaman kunyit juga terjangkau sehingga dapat dibeli oleh berbagai kalangan masyarakat dari kelas bawah hingga atas. Hal ini menunjukkan bahwa kunyit merupakan detektor alami untuk boraks yang tepat. Deteksi boraks bisa dimulai dari bahan makanan yang sering kita konsumsi. Kewaspadaan kita terhadap boraks menentukan kualitas tubuh kita. (Putri, 2011)

21 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen, guna pembuatan ekstrak kurkumin terhadap boraks dalam bahan makanan. 1.Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada laboratorium FKIP Kimia Universitas Darussalam Ambon. Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 April s/d 14 Mei Alat dan Bahan Alat Ekstraksi Soxhlet Timbangan Pengaduk kaca Labu Dasar Bulat Gelas Ukur Gelas Kimia Labu Erlemeyer Corong Cawan petri Pipet tetes

22 Alat penumbuk Desikator Hotplate Oven Kain putih Pisau Bahan Kunyit (Curcuma domestica Val.) Asam asetat Alkohol kertas saring Boraks Air Sampel bahan makanan (biji bakso) 3.4. Prosedur Kerja 1.Ekstraksi kunyit Sampel kunyit di potong kecil-kecil kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 100 o C sampai beratnya konstan. Setelah kering kunyit ditimbang sebanyak 20 gram. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut alkohol dan esil asetat. Sebanyak 20 gram kunyit yang telah di keringkan kemudian dibungkus dengan kertas saring. Alat ekstraksi soxhlet disiapkan dan kunyit yang telah dibungkus dimasukkan ke dalamnya. Sampel

23 diekstraksi sampai cairan ekstrak menjadi jernih atau berwarna orange untuk pelarut asam asetat, sedangkang pelarut etanol berwarna kuning-ke kuningan. Ekstrak yang diperoleh kemudian dituangkan ke dalam erlemeyer dan ditutup dan diupkan Identifikasi Boraks Menggunakan Ekstrak Kurkumin 1.Dengan menggunakan pipet: 1.Campurkan lima tetes larutan hasil ekstraksi kurkumin dengan lima tetes larutan boraks. Aduk kedua larutan itu hingga rata dan berwarna merah kecoklatan itu dapat dijadikan indikator adanya kandungan boraks. 2.Teteskanlah larutan kurkumin ke atas contoh bahan makanan yang mengandung boraks yang telah dihaluskan tadi. Amati dan catat perubahan warna yang terjadi. 2.Dengan menggunakan kertas tumerik: 1.Mula-mula, menyiapakan kertas saring, kemudian celupkan kertas saring ke dalam cairan kunyit yang telah disediakan larutan yang diperoleh dari ekstraksi ini. Buat kertas yang berfungsi sebagai kontrol positif, dengan memasukkan satu sendok teh boraks ke dalam gelas yang berisi air dan aduk larutan boraks, teteskan pada kertas tumerik yang sudah disiapkan, amati perubahan warna pada kertas tumerik. Warna yang dihasilkan tersebut akan dipergunakan sebagai kontrol positif. Apabila warnanya sama dengan pada kertas

24 1.tumerik kontrol positif berarti mengandung boraks, dan apabila tidak sama warnanya, berarti tidak mengandung boraks. 3.5 Analisis Data Data yang digunakan dalam penelitin ini adalah dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Di lakukan pada saat pengujian ekstraksi larutan kurkumin

25 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Ekstraksi kunyit menggunakan pelarut etanol dan pelarut ethyl acetat dari ekstraksi kunyit bertujuan untuk mendapatkan kurkumin dari sampel tersebut. Hasil dari ekstraksi kunyit antara dua pelarut tersebut menghasilkan warna yang berbeda. Warna larutan kurkumin dari pelarut asetat oranye pekat (kehitaman ) dan warna larutan kurkumin dari pelarut alkohol oranye. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Pelarut asam asetat Pelarut ethanol Gambar 4.1. Hasil larutan kurkumin dari pelarut ethil asetat dan pelarut etanol

26 Hasil ekstraksi kurkumin di atas dapat diuji dengan menggunakan KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Untuk mengetahui banyaknya larutan kurkumin dari kedua pelarut tersebut, hasil larutan kurkumin yang di dapatkan dari sampel kunyit tersebut hal ini dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut Tabel 4.1 Hasil Pengujian Ekstrak Kunyit Pelarut Etanol dan pelarut asam asetat Paremete r uji PelarutHasil Satua n Metode CurcuminEtanol35,84PpmKLT CurcuminAsam asetat 0,28%KLT Dari tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa hasil ekstraksi kunyit dengan menggunakan pelarut etanol dan asam asetat yang dapat menghasilkan kurkumin berturut-turut adalah 135,84 ppm dan 0,28%. Keterangan : ppm mg ml % g ml

27 4.2. Pembahasan Ekstraksi kunyit di lakukan pada proses ekstraksi soxhet yaitu mengestrak senyawa kurkumin dan turunannya dalam sampel kunyit. Ekstrak kunyit mengunakan pelarut ethanol dan asam asetat 40 ml dengan suhu ekstraksi kunyit 60 0 C, sehingga ethanol dan asam asetat dapat menguap. Menggunakan suhu 60 0 C karena titik didih ethanol adalah 61,1 0 C dan titik didih asam asetat 118,1 0 C.Pada ethanol dan asam asetat menguap maka akan terjadi kodensasi antara uap ethanol dan asam asetat dengan udara dingain dari kondensor sehingga uap ethanol dan asam asetat akan menjadi molekul – molekul cairan yang jatuh kedalam labu alas bulat. Ekstrak dalam labu alas bulat hasil proses ekstrak ini masih bercampur dengan pelarut ethanol dan asam asetat oleh karena itu untuk mendapatkan ekstraknya saja, maka pelarut akan di uapkan. Penguapan ini akan di lakukan menggunakan rotary evaporator. (Ennie 2010) Ekstaksi kunyit di laboratorium dengan mengunakan pelarut ethanol dan asam asetat menghasilkan warna yang berbeda. Warna yang berbeda menunjukan banyaknya kurkumin dari pelarut ethanol dan asam asetat. Warna kurkumin dari pelarut ethanol oranye dan asam asetat oranye pekat (hitam). Dari hasil ekstraksi kurkumin dari kunyit. Dalam kunyit mengadung kurkuminoid sekitar 10 % yang terdiri dari kurkumin (1-5) dan sisahnya di mitoksis kurkumin. Disamping itu juga mengandung minyak atsiri (1-5 %), protein (8%), pati (45-55%) dan sisahnya terdiri dari vitamin C. (devy 2011)

28 Proses penentuan kualitas kurkumin yang di proses ekstraksi pemisahan dari kunyit menggunakan metode kromatografi lapis tipis ( KLT ) adalah merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen – komponen berdasarkan perbedaan kepolaranya. Dari hasil ekstraksi kurkumin dengan pelarut ethanol dan asam asetat dengan bobot sampel 20 gr dengan waktu 2 jam dapat di uji dengan KLT. Hasil pengujian kurkumin dengan KLT menghasilkan larutan kurkumin dari pelarut ethanol sebanyak 35,84 ppm dan asam asetat 0,85 %. Di mana ekstraksi kurkumin dengan menggunakan pelarut ethanol dan asam asetat 20 :1 artinya 20 kali ekstraksi kurkumin dengan mengunakan pelarut asam asetat dan 1 kali ekstrasi pelarut ethanol, dengan hasil kurkumin yang di dapatkan dari pelarut ethanol lebih sedikit, karena pada saat proses ekstraksi kunyit dengan pelarut ethanol tidak semua hasil kurkumin keluar dari sampel kunyit sedangkan pelarut asam asetat semua hasil kurkuminya keluar dari sampel kunyit tersebut. 4.3 Mengidentifikasi boraks dalam bahan makanan (biji bakso) Gambar 4.2 hasil kertas tumerik yang tidak mengandung boraks dan mengandung boraks

29 Dari gambar di atas dapat di lihat bahwa terjadi perubahan warna pada kertas tumerik, hasil ekstraksi kurkumin dari pelarut etanol dan pelarut asam asetet dapat di identifikasi dengan boraks dalam bahan makanan (biji bakso) yang mengandung boraks dan tidak mengandung boraks, apabila kertas tumerik di masukan kedalam sampel bahan makanan (biji bakso) mengalami perubahan warna pada kertas tumerik menjadi kecoklatan, maka sampel bahan makanan tersebut megandung boraks, selanjutnya sampel makanan (biji bakso) yang tidak mengalami perubahan warna pada kertas tumerik berarti sampel (biji bakso) tersebut tidak mengandung boraks.

30 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada hasil ekstraksi kurkumin dengan suhu ( 60 0 C) selama 2 jam total kurkumin yang terambil dari pelarut etanol yang di uji dengan KLT menghasilkan kurkumin sebesar 135,84 ppm. dan pelarut asetat 0,28 %, karena lama waktu ekstraksi pelarut asetat, maka % hasil yang diperoleh semakin besarz. Hal ini disebabkan kandungan kurkumin pada kunyit sudah menurun. Oleh karena itu untuk ekstraksi kunyit pada volume pelarut 40 ml dengan waktu ekstraksi 2 Jam ternyata menghasilkan ekstraksi kurkumin lebih banyak adalah asam asetat. 5.2 Saran Berdasrkan hasil penelitian ini, maka penulis menemukan beberapa saran sebagai berikut: Bagi peneliti berikutnya untuk mengetahui identifikasi boraks dalam bahan makanan perlu mengadakan ekstarksi kurkumin dengan menggunakan pelarut ethanol dan echyl asetat dan yang lainnya. 30 Bagi mahasiswa atau peneliti berikutnya hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi penelitian lanjutan untuk mengetahui ekstraksi sebagai metode pemisahan, dan hasil kurkumin dapat diidentifikasi dengan berbagai bahan makanan.

31 31 DAFTAR PUSTAKA Admin, 2012 Seksi Pengendalian OPT Hortikultura Dipertemen Jabar Anonim, Online. http/// Budidaya Tanaman Kunyit.html Diakses 20 November Anwar, C Pengantar Praktikum Kimia Organik. UGM, Yogyakarta. Arsyad, M. N Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta Brown, H.K Organic Chemistry. Saunder College Publishing. Philadelphia, New York Devy, N.U Ekstraksi (Online), (http://www.majarimagazine.com, diakses 25 November 2012) Khamdinal Teknik Laboratorium Kimia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Mulyono Kamus Kimia. Jakarta: Bumi Aksara. Online. Diakses 21 November 2012.http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/03/ragam05.htm Diakses 21 November 2012 Putri Rizki Amalia 2011, Makalah Identifikasi boraks dalam makanan Polektknik kesehatan Kemenkes Semarang. Rahayu, Hertik DI Pengaruh Pelarut yang Digunakan Terhadap Optimasi Ekstraksi Kurkumin Pada Kunyit (Curcuma domestica Vahl.) Rohman, Abdul dan Ibnu Gholib G Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Saparinto, Cahyo dan Diana Hidayati Bahan Tambahan Pangan. Jakarta Yustina et al Pengaruh bleng, air merang, dan STPP terhadap sifat organoleptik kerupuk puli rambak. BPTP Jawa TimurPengaruh bleng, air merang, dan STPP terhadap sifat organoleptik kerupuk puli rambak Trully, M.S.P dan Kris H.T Pengaruh Penambahan Asam Terhadap Aktivitas Antioksidan Kurkumin. BSS_194_1 Wahyuni, dkk Ekstraksi Kurkumin dari Kunyit. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2004 ISSN : Winarno, F.G., (1994), “ Kimia Pangan dan Gizi ”, PT. Gramedia, Jakarta.


Download ppt "Nama: Wa Ode Dewiyati Npm: 200814110 Judul : PEMBUATAN EKSTRAK KURKUMIN MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL DAN ASETAT UNTUK IDENTIFIKASIBORAKSDALAMBAHAN MAKANAN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google