Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Definisi dan Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Dasar (TEMU 1-6 ) dr.Farid Budiman MSc.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Definisi dan Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Dasar (TEMU 1-6 ) dr.Farid Budiman MSc."— Transcript presentasi:

1 Definisi dan Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Dasar (TEMU 1-6 ) dr.Farid Budiman MSc

2 Definisi: Konvensi ILO&WHO.Geneva 1959 Definisi: Konvensi ILO&WHO.Geneva 1959 Adalah kondisi kesehatan tenaga kerja yang optimal,sehat kondisi fisik,jiwa dan sosial-ekonomi serta dapat beradaptasi terhadap beban kerja dan lingkungan kerjanya ( prinsip ergonomi ) Adalah kondisi kesehatan tenaga kerja yang optimal,sehat kondisi fisik,jiwa dan sosial-ekonomi serta dapat beradaptasi terhadap beban kerja dan lingkungan kerjanya ( prinsip ergonomi ) Temu : 1 Temu : 1

3 Prinsip Ergonomi kesehatan kerja Adaptasi” Man fit to the job –job fit to the man “ Adaptasi” Man fit to the job –job fit to the man “ -Dasar dari program “ seleksi awal penerimaan -Dasar dari program “ seleksi awal penerimaan tenaga kerja di sektor industri” tenaga kerja di sektor industri” -prinsip ergonomi : “man –machine system” -prinsip ergonomi : “man –machine system” -konsep baru dari preventive medicine -konsep baru dari preventive medicine -pedoman aman bekerja : * Nilai Ambang Batas ( NAB ) lingkungan kerja -pedoman aman bekerja : * Nilai Ambang Batas ( NAB ) lingkungan kerja * Nilai batas Aman Pemaparan Kerja(NAPK), * Nilai batas Aman Pemaparan Kerja(NAPK), /Heath Base Occupational Exposure Limit /Heath Base Occupational Exposure Limit ( HBOEL ) sebagai indikator biologi tenaga kerja ( HBOEL ) sebagai indikator biologi tenaga kerja Temu : 1 Temu : 1

4 Ruang Lingkup temu : 1 Kedokteran Pencegahan (Preventive Medicine ) Kedokteran Pencegahan (Preventive Medicine ) - Promosi Kesehatan - Promosi Kesehatan - Pencegahan penyakit oleh pekerjaan - Pencegahan penyakit oleh pekerjaan - Promp treatment - Promp treatment - Rehabilitasi Kesehatan Kerja - Rehabilitasi Kesehatan Kerja

5 PROMOSI KESEHATAN KERJA temu : 1 Program promosi kesehatan Program promosi kesehatan - Meningkatkan gisi kerja - Meningkatkan gisi kerja - Meningkatkan kebugaran kerja - Meningkatkan kebugaran kerja - Meningkatkan kesehatan jiwa - Meningkatkan kesehatan jiwa - Meningkatkan pengetahuan dan - Meningkatkan pengetahuan dan sikap sehat dan aman kerja sikap sehat dan aman kerja

6 PENCEGAHAN PENYAKIT OLEH PEKERJAAN temu : 1 Program pencegahan penyakit Program pencegahan penyakit - menurunkan resiko penyakit oleh - menurunkan resiko penyakit oleh pekerjaan dengan teknologi pekerjaan dengan teknologi pengendalian linkungan kerja pengendalian linkungan kerja ( higene industri ) ( higene industri ) - Menurunkan resiko penyakit dengan - Menurunkan resiko penyakit dengan pemantauan kesehatan tenaga kerja pemantauan kesehatan tenaga kerja ( pemeriksaan kesehatan: awal,berkala ( pemeriksaan kesehatan: awal,berkala dan khusus pada tenaga kerja ) dan khusus pada tenaga kerja ) - Pelatihan tenaga kerja untuk meningkatkan sikap kerja - Pelatihan tenaga kerja untuk meningkatkan sikap kerja sehat dan aman bekerja. sehat dan aman bekerja. - riset kesehatan kerja - riset kesehatan kerja

7 PROMP TREATMENT temu : 1 PROMP TREATMENT temu : 1 Pengobatan penyakit okupasi Pengobatan penyakit okupasi - pendekatan kuratif klinis dalam - pendekatan kuratif klinis dalam bidang kedokteran okupasi bidang kedokteran okupasi - promp treatment sesuai diagnosa - promp treatment sesuai diagnosa penyakit okupasi murni penyakit okupasi murni - medikamentosa,non medikamantosa - medikamentosa,non medikamantosa

8 REHABILITASI KESEHATAN KERJA temu : 1 Rehabilitasi Kesehatan Kerja Rehabilitasi Kesehatan Kerja - rehabilitasi medis - rehabilitasi medis - rehabilitasi sosial - rehabilitasi sosial - rehabilitasi okupasi - rehabilitasi okupasi

9 PERUNDANG-UNDANGAN temu : 2 UU No 1 Tahun 1970,tentang Keselamatan Kerja UU No 1 Tahun 1970,tentang Keselamatan Kerja * untuk mencapai kesejahteraan hidup,meningkatkan produksi dan produktivitas nasional * untuk mencapai kesejahteraan hidup,meningkatkan produksi dan produktivitas nasional * perlindungan tenaga kerja, * perlindungan tenaga kerja, - Perlindungan orang lain di tempat kerja - Perlindungan orang lain di tempat kerja - pengawasan alat dan lingkungan kerja agar - pengawasan alat dan lingkungan kerja agar dapat dipakai secara aman dapat dipakai secara aman - Program jaminan sosial tenaga kerja - Program jaminan sosial tenaga kerja

10 UU No,1 Th 1970 tentang Keselamatan Kerja temu : 2 Penyakit Akibat Kerja ( PAK ) Penyakit Akibat Kerja ( PAK ) - Lampiran 1 Keputusan Menaker Transkop No 116/ Kep – Men/1977,PAK adalah - Lampiran 1 Keputusan Menaker Transkop No 116/ Kep – Men/1977,PAK adalah Kecelakaan Kerja Kecelakaan Kerja - Pasal 8 UU No,1 TH ’70,Peraturan - Pasal 8 UU No,1 TH ’70,Peraturan Menteri No.02/Per-Men/1980 tentang Menteri No.02/Per-Men/1980 tentang prosedur penegakan diagnosa PAK oleh prosedur penegakan diagnosa PAK oleh dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja - Seleksi awal masuk kerja dan pemantauan - Seleksi awal masuk kerja dan pemantauan kesehatan tenaga kerja awal,berkala dan kesehatan tenaga kerja awal,berkala dan khusus khusus

11 PEKERJAAN DAN RESIKO PENYAKIT temu : 2 BEBAN KERJA KEBOLEHAN TENAGA KERJA RESIKO GANGGUAN KESEHATAN

12 PEKERJAAN DAN RESIKO PENYAKIT temu : 2 BEBAN KERJA BEBAN FISIK SEHARI-HARI BEBAN OKUPASI BEBAN KEGIATAN SOSIALHOBI

13 KEBOLEHAN TENAGA KERJA temu : 2 KEBOLEHAN TENAGA KERJA MOTRIKSENSORIKKOGNITIF

14 RESIKO GANGGUAN KESEHATAN TENAGA KERJA temu ; 2 PEKERJAAN & LINGKUNGAN KERJA LINGKUNGAN UMUM LINGKUNGAN KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

15 RESIKO GANGGUAN KESEHATAN TENAGA KERJA temu : 3 GANGGUAN KESEHATAN TENAGA KERJA GANGGUAN KESEHATAN DINI PENYAKIT BERSIFAT REVERSIBEL PENYAKIT BERSIFAT IRREVERSIBEL

16 RESIKO PENYAKIT OLEH PEKERJAAN temu : 3 GANGGUAN KESEHATAN DINI GANGGUAN KESEHATAN DINI - gejala penyakit tidak spesifik (prodromal) - gejala penyakit tidak spesifik (prodromal) - sifat penyakit reversibel - sifat penyakit reversibel - Indikator Biologis = atau > NAPK - Indikator Biologis = atau > NAPK ( Nilai Aman Pemaparan Kerja ) ( Nilai Aman Pemaparan Kerja ) / Health Base Occupational Exposure / Health Base Occupational Exposure Limit ( HBOEL ) Limit ( HBOEL ) - diagnosa gangguan kesehatan dini kadang- kadang ditemui pada pemeriksaan kesehatan berkala pada tenaga kerja - diagnosa gangguan kesehatan dini kadang- kadang ditemui pada pemeriksaan kesehatan berkala pada tenaga kerja

17 RESIKO PENYAKIT OLEH PEKERJAAN temu : 3 PENYAKIT HUBUNGAN KERJA PENYAKIT HUBUNGAN KERJA ( WORK RELATED DISEASES ) ( WORK RELATED DISEASES ) - etiologi penyakit multikausal - etiologi penyakit multikausal ( oleh faktor industri & non industri ) ( oleh faktor industri & non industri ) - diagnosa penyakit sulit - diagnosa penyakit sulit - gejala penyakit tidak spesifik - gejala penyakit tidak spesifik - indikator biologis multikompleks - indikator biologis multikompleks NAPK/HBOEL disertai gangguan NAPK/HBOEL disertai gangguan nilai indikator patologi klinik lainnya nilai indikator patologi klinik lainnya - morbititas tinggi dinegara berkembang - morbititas tinggi dinegara berkembang - dibawah penanganan multidisiplin profesi - dibawah penanganan multidisiplin profesi - misal : anemia defisiensi Fe di sektor perkebunan, - misal : anemia defisiensi Fe di sektor perkebunan, silikotuberkulosis silikotuberkulosis

18 RESIKO PENYAKIT OLEH PEKERJAAN temu : 3 PENYAKIT AKIBAT KERJA PENYAKIT AKIBAT KERJA ( OCCUPATIONAL DISEASES ) ( OCCUPATIONAL DISEASES ) - gejala penyakit spesifik - gejala penyakit spesifik ( patognomonis ) ( patognomonis ) - sifat penyakit reversibel atau ireversibel - sifat penyakit reversibel atau ireversibel - indikator biologis > NAPK / HBOEL - indikator biologis > NAPK / HBOEL - ditemui pada pemeriksaan kesehatan khusus - ditemui pada pemeriksaan kesehatan khusus pada tenaga kerja pada tenaga kerja - dibawah penanganan kedokteran okupasi - dibawah penanganan kedokteran okupasi - morbiditas penyakit menurun dinegara - morbiditas penyakit menurun dinegara berpenghasilan tinggi,jarang ditemui dinegara berpenghasilan tinggi,jarang ditemui dinegara berkembang berkembang

19 RESIKO PENYAKIT OLEH PEKERJAAN temu : 3 PENYAKIT AGREGASI KERJA PENYAKIT AGREGASI KERJA /WORK AGGRAGETED DISEASES /WORK AGGRAGETED DISEASES - etiologi penyakit berasal dari penyakit - etiologi penyakit berasal dari penyakit penyerta / penyakit bawaan penyerta / penyakit bawaan - gejala penyakit semula menjadi ganas oleh - gejala penyakit semula menjadi ganas oleh faktor pekerjaan faktor pekerjaan - misal : dermatitis ecema,status asmaticus - misal : dermatitis ecema,status asmaticus tuberkulosilikosis tuberkulosilikosis - morbiditas penyakit tinggi di negara - morbiditas penyakit tinggi di negara berkembang berkembang

20 RESIKO PENYAKIT OLEH PEKERJAAN temu : 3 STRES KERJA STRES KERJA - Penyakit Manajerial ( Managerial – - Penyakit Manajerial ( Managerial – Diseases ) : Neurosis,psikosomatik Diseases ) : Neurosis,psikosomatik - Penyakit Kebosanan : pekerjaan - - Penyakit Kebosanan : pekerjaan - monotoni, status kerja statis monotoni, status kerja statis - Stres sosial-ekonomi : tekanan - Stres sosial-ekonomi : tekanan psikis sosial kelompok kerja & atasan, psikis sosial kelompok kerja & atasan, upah kerja rendah upah kerja rendah

21 BEBAN KERJA OKUPASI temu : 4 BEBAN KERJA FISIK BEBAN KERJA FISIK - cara kerja - cara kerja - beban mekanik - beban mekanik - lama kerja - lama kerja - lama istirahat - lama istirahat

22 BEBAN KERJA OKUPASI temu : 4 FAKTOR LINGKUNGAN KERJA FAKTOR LINGKUNGAN KERJA - Faktor Lingkungan Kerja Fisik - Faktor Lingkungan Kerja Fisik - Faktor Lingkungan Kerja Kimia - Faktor Lingkungan Kerja Kimia - Faktor Lingungan Kerja Biologi - Faktor Lingungan Kerja Biologi - Faktor Lingkungan Kerja Psikologi - Faktor Lingkungan Kerja Psikologi - Faktor Lingkungan Kerja Ergonomi - Faktor Lingkungan Kerja Ergonomi

23 Pemaparan faktor lingkungan kerja fisik temu : 4 - pemaparan iklim kerja panas&dingin - pemaparan iklim kerja panas&dingin - pemaparan kebisingan & getaran - pemaparan kebisingan & getaran - pemaparan sinar tidak mengion - pemaparan sinar tidak mengion - pemaran sinar mengion pemaparan - pemaran sinar mengion pemaparan - pemaparan gelombang elektro - pemaparan gelombang elektro magnetik magnetik

24 Pemaparan faktor lingkungan kerja kimia temu : 4 - bahan kimia iritan - bahan kimia iritan - bahan kimia asfiksian - bahan kimia asfiksian - bahan kimia narkotik - bahan kimia narkotik - bahan kimia partikel - bahan kimia partikel - bahan kimia karsinogen - bahan kimia karsinogen - bahan kimia mutagen - bahan kimia mutagen

25 Pemaparan faktor lingkungan kerja biologis temu : 4 - kuman : Anthks, tuberkulosis - kuman : Anthks, tuberkulosis - parasit : Ascaris,ankilostomum, - parasit : Ascaris,ankilostomum, malaria, malaria, - jamur : kandida,aspergilus - jamur : kandida,aspergilus - virus : Transmitted sexual - virus : Transmitted sexual diseases (HIV, Lues/ diseases (HIV, Lues/ venerial diseases),H5NI venerial diseases),H5NI

26 Pemaparan Lingkungan Kerja Faktor Psikologis temu : 4 - tanggung jawab okupasi pada - tanggung jawab okupasi pada para manajer para manajer - Cara kerja monotoni pada pekerja - Cara kerja monotoni pada pekerja asembling / sistem ban berjalan asembling / sistem ban berjalan - tekanan psikologis antar karyawan/ - tekanan psikologis antar karyawan/ kecemburuan profesi,atau tekanan kecemburuan profesi,atau tekanan oleh manjemen atasan oleh manjemen atasan

27 Pemaparan lingkungan kerja faktor faal kerja/ergonomi temu : 4 - Man-machine system (ukuran mesin - Man-machine system (ukuran mesin <---  ukuran tubuh tenaga kerja ) <---  ukuran tubuh tenaga kerja ) - beban kerja mekanik - beban kerja mekanik - sikap / cara kerja - sikap / cara kerja - waktu istirahat - waktu istirahat - shift kerja ( ritme sirkadian ) - shift kerja ( ritme sirkadian )

28 Pengaruh pemaparan iklim kerja panas temu : 5 - Tekanan Panas ( Heat Stress ) - Tekanan Panas ( Heat Stress ) - NAB : > ISBB – Indeks Suhu Bola Basah - NAB : > ISBB – Indeks Suhu Bola Basah - gejala: kepanasan (merasa tidak - gejala: kepanasan (merasa tidak nyaman,pengeluaran keringat nyaman,pengeluaran keringat meningkat tinggi untuk meningkat tinggi untuk belum beraklimatisasi ),suhu belum beraklimatisasi ),suhu tubuh meningkat-  turun setelah tubuh meningkat-  turun setelah berkeringat (deep core temp ) berkeringat (deep core temp ) miliaria, keringat buntet miliaria, keringat buntet - termoregulator tubuh : berfungsi normal - termoregulator tubuh : berfungsi normal - Terapi : minum cairan elektrolit - Terapi : minum cairan elektrolit

29 Pengaruh iklim kerja panas temu : 5 Kejang Panas ( Heat Cramps ) Kejang Panas ( Heat Cramps ) NAB :> ISBB NAB :> ISBB Gejala Gejala - kejang pada otot-otot tungkai - kejang pada otot-otot tungkai - dehidrasi,terutama kekurangan Ca  - dehidrasi,terutama kekurangan Ca  tetani tetani - suhu tubuh tergantung aklimatisasi - suhu tubuh tergantung aklimatisasi Termoregulator tubuh  berfungsi normal Termoregulator tubuh  berfungsi normal Terapi,berikan cairan elektrolit + Calcium Terapi,berikan cairan elektrolit + Calcium

30 Pengaruh iklim kerja panas temu : 5 Pukulan Panas ( Heat Stroke ) NAB : > ISBB Pukulan Panas ( Heat Stroke ) NAB : > ISBB Gejala :. dehidrasi Gejala :. dehidrasi. hipertermia ( suhu tubuh. hipertermia ( suhu tubuh tinggi ) tinggi ) Termoregulator : tidak berfungsi Termoregulator : tidak berfungsi Terapi : pindahkan ke tempat bersu Terapi : pindahkan ke tempat bersu hu dingin hu dingin

31 Pengaruh pemaparan kebisingan temu : 5 Tinitus ( telinga berdenging ) & Tinitus ( telinga berdenging ) & Gangguan Komunikasi Berbicara Gangguan Komunikasi Berbicara NAB Lingkungan Kerja > 85 dBA, Audiometri normal NAB Lingkungan Kerja > 85 dBA, Audiometri normal Gejala :. gejala awal dari penurunan Gejala :. gejala awal dari penurunan intensitas(atenuasi ) intensitas(atenuasi ) pendengaran pendengaran.harus dibedakan dengan.harus dibedakan dengan oleh pengaruh non okupasi oleh pengaruh non okupasi Sifat :. reversibel/tidak permanen Sifat :. reversibel/tidak permanen. merupakan gejala prodromal dari. merupakan gejala prodromal dari gangguan kesehatan dini gangguan kesehatan dini. Sering ditemukan pada pemeriksaan. Sering ditemukan pada pemeriksaan kesehatan awal tenaga kerja terpapar kesehatan awal tenaga kerja terpapar kebisingan kebisingan

32 Pengaruh pemaparan kebisingan temu : 5 Tuli Perseptif Sementara ( Temporary Tuli Perseptif Sementara ( Temporary Threshold Shift / TTS ) Threshold Shift / TTS ) NAB Lingkungan Kerja : > 85 dBA NAB Lingkungan Kerja : > 85 dBA Audiometri : atenuasi > 10 db pada Audiometri : atenuasi > 10 db pada frekuensi suara Hz frekuensi suara Hz ( gambar : 1 ) ( gambar : 1 ) Reversibel -  pulih setelah beristirahat /tanpa Reversibel -  pulih setelah beristirahat /tanpa pemaparan kebisingan selama pemaparan kebisingan selama 3x24 jam 3x24 jam

33 Pengaruh Pemaparan Kebisingan temu : 5 Tuli Perseptif Permanen (Permanent Tuli Perseptif Permanen (Permanent Threshold Shift / PTS ) Threshold Shift / PTS ) NAB Lingkungan Kerja: > 85 dBA NAB Lingkungan Kerja: > 85 dBA Audiometri :atenuasi> 10db Audiometri :atenuasi> 10db kurva audiometri kurva audiometri pada frekuensi pada frekuensi Hz Hz ( gambar : 2 ) ( gambar : 2 ) Sifat gangguan ireversibel-  tidak dapat pulih kembali setelah tidak terpapar kebisingan selama 3x 24jam Sifat gangguan ireversibel-  tidak dapat pulih kembali setelah tidak terpapar kebisingan selama 3x 24jam

34 Audiogram penurunan penurunan daya dengar temu : 5 (Dan Petersen, Techniques of safety management,Mc Graw Hill Kogakusha ) Tingkat penurunan daya dengar ( decibel ) Tingkat penurunan daya dengar ( decibel ) ( dB ) normal ( dB ) normal > ( dB ) gangguan > ( dB ) gangguan ringan ringan >40 – 60 ( dB ) gangguan >40 – 60 ( dB ) gangguan moderate moderate >60– 120( dB ) gangguan >60– 120( dB ) gangguan berat berat

35 KURVA AUDIOGRAM PENURUNAN DAYA DENGAR OLEH PEMAPARAN KEBISINGAN temu : 5 ( SUMBER DAN PETERSEN,Techniques of safety management )` kanan 20 kanan kiri 80 kiri

36 Kurva penurunan pendengaran oleh gangguan konduktif telinga tengah ( sumber Petersen,Techniques of safety management )

37 Kurva penurunan daya dengar oleh trauma akustik Temu : 5 (sumber : Petersen,Techniques of safety management )

38 KLASIFIKASI TULI KOMUNIKASI BICARA temu : 5 No klsifikasi kehilangan komunikasi bicara kemampuan mendengar No klsifikasi kehilangan komunikasi bicara kemampuan mendengar I normal < 15 decibel normal I normal < 15 decibel normal II hampir >15dB, 15dB, < 25 dB tidak ada kesulitan normal mendengar pembicaraan normal mendengar pembicaraan pada 20 feet ( 6m) pada 20 feet ( 6m) III Gangguan > 25 dB, 25 dB, < 40 dB Kesulitan berkomunikasi ringan bicara pada jarak 5feet ringan bicara pada jarak 5feet IV Gangguan > 40 dB, 40 dB, < 65 dB Kesulitan berkomunikasi moderate bicara pada jarak 5 feet moderate bicara pada jarak 5 feet V Gangguan > 65 dB, 65 dB, < 75 dB Kesulitan mendengar berat teriakan pada jarak 5 feet berat teriakan pada jarak 5 feet VI Hampir tuli > 75 dB, 75 dB, < 85 dB Kesulitan mendengar teriakan pada jarak teriakan pada jarak kurang dari 5 feet kurang dari 5 feet VII Tuli total > 85 dB Tidak mendengar apapun VII Tuli total > 85 dB Tidak mendengar apapun

39 Pengaruh lain pemaparan kebisingan temu : 5 - fisiologis, perubahan tekanan darah - fisiologis, perubahan tekanan darah dan frekuensi denyut nadi dan frekuensi denyut nadi - psikologis,gangguan kenyamanan - psikologis,gangguan kenyamanan ( subyektif ) ( subyektif )

40 BATAS WAKTU KERJA DILINGKUNGAN KERJA BISING ( Sumber Dan Pettersen,Techniques of,Safety Management ) DESIBEL BATAS WAKTU KERJA YANG DIPERKENANKAN DESIBEL BATAS WAKTU KERJA YANG DIPERKENANKAN 90 8 JAM/HARI 90 8 JAM/HARI 92 6,, 92 6,, 95 4,, 95 4,, 97 3,, 97 3,, 100 2,, 100 2,, 102 1,5,, 102 1,5,, 105 1,, 105 1,, 110 0,5,, 110 0,5,, 115 0,25,, 115 0,25,,

41 Pemaparan getaran/vibrasi temu : 6 Pemaparan getaran/vibrasi temu : 6 - komponen yang berpengaruh terhadap tubuh ole4h pemaparan getaran adalah percepatan dan lamanya pemaparan - komponen yang berpengaruh terhadap tubuh ole4h pemaparan getaran adalah percepatan dan lamanya pemaparan - efek terhadap tubuh :efek vertikal, segmental dan - efek terhadap tubuh :efek vertikal, segmental dan resultante efek vertikal dan segmental resultante efek vertikal dan segmental _ Efek vertikal -  belum dilaporkan _ Efek vertikal -  belum dilaporkan _ Efek segmental  “ Hand Arm(vibration)Syndrome _ Efek segmental  “ Hand Arm(vibration)Syndrome (HAVS) (HAVS) _ Resultante efek (vertikal&segmental)->p. Raynaud _ Resultante efek (vertikal&segmental)->p. Raynaud _ Efek vertikal  belum dilaporkan ( vertebra spin.?) _ Efek vertikal  belum dilaporkan ( vertebra spin.?)

42 NAB pemaparan getaran pada tangan(hand vibration ) ( temu 6 ) NAB pemaparan getaran pada tangan(hand vibration ) ( temu 6 ) Nilai frekuensi dominan( Dominant Nilai frekuensi dominan( Dominant Freq.Weighted)komponen aselerasi Freq.Weighted)komponen aselerasi aK.(aKeq) aK.(aKeq) m/s2 gA m/s2 gA Pemaparan total/,hari Pemaparan total/,hari jam 4 0, jam 4 0, jam 6 0, jam 6 0, jam 8 0, jam 8 0,81 < 1 jam < 1 jam

43 Risiko gangguan muskuloskeletal, disamping oleh pengaruh vibrasi ( sumber : Good man and Boissonnaut,Pathology implication for the physcal therapist ) Penggunan mesin –mesin vibrasi selama lebih dari 2 jam Penggunan mesin –mesin vibrasi selama lebih dari 2 jam Mengangkat baran lebih dari 25 lbs ( Kg ? ) lebih dari sekali dalam satu sift kerja Mengangkat baran lebih dari 25 lbs ( Kg ? ) lebih dari sekali dalam satu sift kerja Kerja statis lebih dari 2 jam dalam satu sift Kerja statis lebih dari 2 jam dalam satu sift Bekerja dengan gerakan repetitif setiap detik selama 2 jam kerja Bekerja dengan gerakan repetitif setiap detik selama 2 jam kerja

44 PROGRAM PENCEGAHAN KETULIAN ( HEARING CONSERVATION PROGRAM) ( TEMU 7 ) PROGRAM PENCEGAHAN KETULIAN ( HEARING CONSERVATION PROGRAM) ( TEMU 7 ) 1. PENDEKATAN ADMINISTRATIF 1. PENDEKATAN ADMINISTRATIF 2. PENDEKATAN TEKNIS 2. PENDEKATAN TEKNIS 3. PENDEKATAN MEDIS 3. PENDEKATAN MEDIS

45 PROGRAM PENDEKATAN ADMINISTRATIF Intensitas kebisingan < NAB ( < 85 dB ) Intensitas kebisingan < NAB ( < 85 dB ) Teknologi pengendalian lingkungan kerja ( program higene industri ) Teknologi pengendalian lingkungan kerja ( program higene industri ) ( pemantauan intensitas kebisingan ditempat kerja ( pemantauan intensitas kebisingan ditempat kerja Perlindungan tenaga kerja : inspeksi kerja ( pengawasan kerja ) Perlindungan tenaga kerja : inspeksi kerja ( pengawasan kerja ) Jaminan kesehatan sosial tenaga kerja Jaminan kesehatan sosial tenaga kerja Intensitas kebisingan > NAB -  Pendekatan teknis & medis Intensitas kebisingan > NAB -  Pendekatan teknis & medis Pengendalian enjiniring fasilitas kerja Pengendalian enjiniring fasilitas kerja Pemantauan Kesehatan tenaga kerja ( pemeriksaan kesehatan awal/seleksi tenaga kerja,pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus ) Pemantauan Kesehatan tenaga kerja ( pemeriksaan kesehatan awal/seleksi tenaga kerja,pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus ) Pindah bagaian kerja ( job replacement ) Pindah bagaian kerja ( job replacement ) Pembatasan waktu kerja ( permissible exposure times ) Pembatasan waktu kerja ( permissible exposure times )

46 PROGRAM PENDEKATAN TEKNIS ( NOISE ENGINEERING CONTROL ) 1. Inspeksi /kontrol alat/mesin  baut/sekrup /tatakan mesin longgar 1. Inspeksi /kontrol alat/mesin  baut/sekrup /tatakan mesin longgar 2.Mengganti bagian-bagian mesin dari metal ke kayu (bila mungkin ) 2.Mengganti bagian-bagian mesin dari metal ke kayu (bila mungkin ) -  engine mounting, lantai mesin dsb -  engine mounting, lantai mesin dsb 3.menganti sumber suara ( mesin yang kurang bising ) 3.menganti sumber suara ( mesin yang kurang bising ) 4. Isolasi sumber kebisingan ( memberikan barier /penyekat mesin 4. Isolasi sumber kebisingan ( memberikan barier /penyekat mesin -  misal penyekat dinding beton lebih meredam kebisingan dari -  misal penyekat dinding beton lebih meredam kebisingan dari penyekat /dinding kayu, kebisingan frekuensi tinggi lebih mudah penyekat /dinding kayu, kebisingan frekuensi tinggi lebih mudah dihambat daripada frekuensi rendah ( penting untuk pencegahan dihambat daripada frekuensi rendah ( penting untuk pencegahan ketulian akibat pemaparan kebisingan frekuensi tinggi ) ketulian akibat pemaparan kebisingan frekuensi tinggi ) 5.Perlu bantuan ahli yang lebih profesional untuk penegndalian kebisingan. 5.Perlu bantuan ahli yang lebih profesional untuk penegndalian kebisingan.

47 Program pencegahan ketulian pendekatan medis * Perlu pemeriksaan klinis khusus untuk mengetahui pengaruh * Perlu pemeriksaan klinis khusus untuk mengetahui pengaruh faktor kebisingan terhada alat pendengaran ( Ahli Kedokteran faktor kebisingan terhada alat pendengaran ( Ahli Kedokteran Okupasi ) Okupasi ) * Tes Audiometri ( untuk Temporaly Threshold Shift dan Permanent * Tes Audiometri ( untuk Temporaly Threshold Shift dan Permanent Threshold Shift ) Threshold Shift )


Download ppt "Definisi dan Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Dasar (TEMU 1-6 ) dr.Farid Budiman MSc."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google