Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

JUNIVAN, S.Kom (1491761006) IDA BAGUS GEDE WIDNYANA PUTRA, S.Kom (1491761007) 2014.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "JUNIVAN, S.Kom (1491761006) IDA BAGUS GEDE WIDNYANA PUTRA, S.Kom (1491761007) 2014."— Transcript presentasi:

1 JUNIVAN, S.Kom ( ) IDA BAGUS GEDE WIDNYANA PUTRA, S.Kom ( ) 2014

2  Bali terletak sangat dekat dengan zona tumbukan (atau subduction zone) antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menyebabkan pulau Bali menjadi daerah rawan tsunami.  Pada UPT. Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali telah dibangun Tsunami Early Warning System (TEWS) atau Sistem Peringatan Dini Tsunami untuk memberi peringatan dini terhadap adanya ancaman tsunami.  Fungsi Sistem Peringatan Dini Tsunami pada Pusdalops PB memiliki peran yang sangat penting untuk menghindari jatuhnya korban yang besar jika terjadi tsunami di Bali  Pemanfaatan IT pada SPDT yang tidak optimal dapat berakibat fatal terhadap pengurangan resiko terjadinya bencana  Perlu dilakukan audit TI untuk memastikan pemafaatan IT telah memberikan layanan yang optimal dalam medukung fungsi Sistem Peringatan Dini Tsunami di UPT. Pusdalops PB Provinsi Bali  Information Technology Infrastructure Library (ITIL) sebagai suatu kerangka kerja manajemen layanan TI dapat digunakan sebagai panduan dalam melakukan audit yang dapat memberikan rekomendasi langkah-langkah untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan TI

3  Framework yang digunakan dalam pelaksanaan audit ini adalah ITIL.  Tempat pelaksanaan audit di UPT. Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali.  Audit mengkhusus pada fungsi Sistem Peringatan Dini Tsunami. “Bagaimana melakukan audit teknologi informasi dengan framework ITIL yang dapat meningkatkan pelayanan Sistem Peringatan Dini Tsunami di UPT. Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali”.

4 “Menigkatkan efektifitas dari penggunaan teknologi informasi dalam mendukung fungsi Sistem Peringatan Dini Tsunami di UPT. Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali”.  Meningkatkan pelayanan TI khususnya pada Sistem Peringatan Dini Tsunami di UPT. Pusdalops PB Provinsi Bali.  Penghematan anggaran dan waktu melalui pengurangan penanganan kegagalan teknologi yang berulang  Memberikan rekomendasi perbaikan dan pengembangan TI  Mengurangi resiko terhadap kegagalan penerapan TI

5  Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima. (http://id.wikipedia.org/wiki/Audit)  Audit TI (Inggris: information technology (IT) audit atau information systems (IS) audit) adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh. Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis. Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemrosesan data elektronik, dan sekarang audit teknologi informasi secara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan sistem informasi dalam perusahaan itu. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit komputer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah aset sistem informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integratif dalam mencapai target organisasinya.

6  Infrastruktur TI Library (ITIL) adalah kerangka kerja umum yang menggambarkan Best Practice dalam manajemen layanan TI  ITIL menyediakan kerangka kerja bagi tatakelola TI, yang dibalut dalam bentuk layanan  ITIL memfokuskan diri pada pengukuran terusmenerus dan perbaikan kualitas layanan TI yangdisampaikan, baik dari perspektif bisnis dan pelanggan.  Fokus ini merupakan faktor utama dalam keberhasilan ITIL di seluruh dunia dan telah memberikan kontribusi untuk penggunaan produktif dan memberikan manfaat yang diperoleh organisasi dengan pengembangan teknik dan proses sepanjang organisasi ada  ITIL atau Information Technology Infrastructure Library, merupakan sebuah framework yang dibuat dan dikembangkan oleh Office of Government Commerce (OGC) di Inggris.  ITIL merupakan kumpulan dari best practice tata kelola layanan teknologi informasi diberbagai bidang dan industri, dari mulai manufaktur sampai finansial, industri besar dan kecil, swasta dan pemerintah.

7  ITIL diterbitkan antara tahun 1989 dan 1995 oleh Her Majesty’s Stationery Office (HMSO) di Inggris atas nama Central Communications and Telecommunications Agency (CCTA)  Penggunaan awal pada ITIL terbatas di Inggris dan Belanda  Versi awal ITIL terdiri dari sebuah kumpulan dari 31 buku terkait yang meliputi semua aspek penyediaan layanan TI  Versi awal ini kemudian direvisi dan digantikan oleh tujuh buku, yang lebih erat berhubungan dan konsisten (ITIL V2)  Versi kedua ITIL diterbitkan sebagai suatu set revisi buku antara tahun 2000 dan 2004  Versi kedua ini diterima secara universal dan sekarang digunakan di banyak negara oleh ribuan organisasi sebagai dasar untuk penyediaan layanan TI yang efektif  Pada tahun 2007, ITIL V2 digantikan oleh versi ketiga yang telah disempurnakan, terdiri dari lima buku inti

8  Peningkatan kepuasan pengguna dan pelanggan dengan layanan TI  Meningkatkan ketersediaan layanan  Penghematan anggaran dan waktu melalui pengurangan penanganan kegagalan teknologi yang berulang  Peningkatan penggunaan sumber daya  Membantu pengambilan keputusan  Meminimalkan risiko dalam penerapan IT

9  Bagaimana IT bisa dianggap sebagai sebuah layanan (service)? ada tiga aspek yang terkandung dalam arti/makna layanan menurut ITIL, yaitu:  Harus membantu pelanggan/pengguna mencapai tujuan mereka  Pelanggan/pengguna tidak harus membeli sendiri peralatan dan infrastruktur yang dibutuhkan  Resiko menjadi tanggung jawab penyedia layanan  Menurut ITIL, sebuah layanan bisa memberikan value/nilai, jika sudah memberikan warranty untuk keempat aspek Availability, Capacity, Security dan Continuity.  Banyak contoh lain yang kita bisa kategorikan sebagai layanan/service IT, misalnya: Aplikasi ERP, Aplikasi CRM, Video Conference, Internet Connection, Data Center Hosting, IT Support, dll.  Secara umum, pembagian layanan-layanan IT terbagi kedalam tiga kategori, yaitu kelompok layanan Aplikasi, kelompok layanan Infrastruktur dan kelompok layanan Support.

10

11

12  ITIL melihat layanan IT dimulai dengan tahapan SERVICE STRATEGY, tahapan ini terdiri dari proses-proses untuk merencanakan serta menentukan layanan-layanan IT apa saja yang akan dibangun atau dikelola. Layanan yang akan dibangun akan masuk kedalam Service Portfolio, akan dihitung aspek finansialnya melalui Financial Management, sebelum akhirnya akan masuk ke tahap Design.  Tahapan selanjutnya adalah bagaimana setiap layanan yang akan dibangun, dibuat disainnya melalui proses-proses yang ada dalam SERVICE DESIGN

13  Setelah design dibuat dan layanan dikembangkan, baik dengan bantuan vendor atau dibangun sendiri, tahapan selanjutnya adalah mengupdate “Menu” atau Katalog Layanan, yang mengindikasikan bahwa IT siap untuk meluncurkan layanan baru  Setelah menginformasikan bahwa akan ada layanan baru, maka tahap berikutnya adalah bagaimana layanan baru dipindakan dari development (tahap pengembangan) ke production (operasional). Proses-proses unuk memmindahkan layanan baru tersebut berada dalam tahapan SERVICE TRANSITION

14  Layanan-layanan yang telah beroperasi, akan dikelola oleh proses-proses yang berada dalam SERVICE OPERATION, dengan tujuan untuk memastikan bahwa semua pengguna dapat menikmati layanan yang diberikan dengan gangguan seminimal mungkin sesuai dengan Service Level Agreement yang telah di design pada tahapan Service Design.  Seiring berjalannya waktu, tentunya baik proses maupun layanan harus dievaluasi untuk memperbaiki yang kurang, menambah yang diperlukan dan meningkatkan yang sudah berjalan dengan baik. Mekanisme monitoring, evaluasi dan peningkatan kualitas, baik dari sisi layanan, proses maupun teknologi yang mendukung, menjadi tanggung jawab proses dalam tahapan CONTINUAL SERVICE IMPROVEMENT

15  Audit dilaksanakan di UPT. Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali yang beralamat di Jalan DI Panjaitan No. 6 Denpasar. UPT Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali Dibentuk berdasarkan Perda No. 2 Tahun 2008, pedoman operasionalnya berdasarkan PERGUB Bali No. 30 Tahun 2009 dan bertujuan untuk mengintegrasikan manajemen penanggulangan bencana  UPT PUSDALOSPS PB adalah suatu unit pelaksana teknis pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana Provinsi Bali yang bertanggung jawab kepada Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali. UPT PUSDALOPS PB dipimpin oleh Kepala UPT PUSDALOPS PB dan dibantu oleh satu Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan dua Kepala Seksi, yaitu Kepala Seksi Peringatan Dini, Data, dan Pelayanan Informasi Kebencanaan dan Kepala Seksi Tanggap Darurat dan Pelayanan Kegawatdaruratan, yang bertanggung jawab kepada Kepala UPT PUSDALOPS PB.  Objek penelitian adalah Sistem Peringatan Dini Tsunami di UPT. Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali.

16

17

18  Menghimpun dan menyajikan informasi dari pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan  Pusat layanan informasi keamanan dan kebencanaan  Memelihara jaringan informasi dan komunikasi (hardware dan software)  Server sebagai penyimpan data dan informasi  Data base & peta bencana dan buku perpustakaan tentang kebencanaan  Jaringan komunikasi (telp/faximile, sms, radio, TV, internet, jaringan informasi masyarakat)  Work station dan operator Pusdatim (Minimal D3 IT)  SOP

19  Memberi peringatan dini kepada masyarakat sehingga terhindar dari segala ancaman bencana/ keamanan  Pusat pengendali mobilitas masyarakat agar terhindar dari bencana  Monitoring titik-titik rawan bencana  Server BMKG/INA TEWS dan CCTV  Menara pemantau  Camera CCTV  Workstation BMKG dan aktivasi sirine tsunami  Sirine peringatan dini  Layar proyektor CCTV & LCD TV  Terminal informasi digital  Radio komunikasi  Telp/faximil/internet  Workstation CCTV  SOP dan SDM IT

20  Sebagai pusat pelayanan tanggap darurat dgn fokus koordinasi.komando dan pelaksanaan  Memberikan layanan informasi emergency  Melakukan kajian cepat  Menyusun Renop  Mendukung tanggap darurat tingkat Kabupaten  Melakukan tanggap darurat di Kab/Kota (bila diperlukan)  Menyediakan bantuan teknis operasi tanggap darurat kepada Rupusdalops  Melakukan pemantauan dan evaluasi  Data base kebencanaan (kapasitas instansi terkait, peta rawan bencana, sejarah bencana dst)  Computer Client  Alat komunikasi dan desiminasi tindakan tanggap darurat (Line telpon, PABX, pesawat telp.)  Alat kebutuhan dasar tanggap darurat  GPS  Ruang rapat tanggap darurat  SDM  SOP

21  Sebagai elemen kesiapsiagaan pada dititik-titik rawan,  Dapat memberikan emergency information secara langsung ditempat.  Mengkoordinasikan dan memberikan pelayanan kegawatdaruratan  Dapat melakukan operasi minor di tempat dan pelayanan medis standar di lapangan.  Sosialisasi  Pemantauan dan evaluasi  Data kapasitas instansi  Alat komunikasi  GPS  Sarana kesehatan (ambulance)  Sarana pemadam kebakaran  Sarana pengamanan lokasi TKP  SDM dengan kualifikasi yang dibutuhkan (fungsi kesehatan, Keamanan, kebakaran)  SOP

22  Audit dilakukan melalui observasi terhadap orang-orang, keadaan, atau institusi dalam keadaan yang sebenarnya terjadi.  Objek audit adalah pejabat/staf yang berhubungan dengan Sistem Peringatan Dini Tsunami, dalam hal ini Kepala UPT. Pusdalops PB Provinsi Bali, Kasubag TU, Kasi. Peringatan Dini Tsunami, Kordinator Piket dan anggota Piket 24/7 di UPT. Pusdalops PB Provinsi Bali.

23 1.Tahap Persiapan Mencari dan mengumpulkan berbagai literatur yang mendukung audit dan pemahaman materi audit. Beberapa literatur didapatkan dari jurnal (baik nasional maupun internasional) dan buku-buku. Pada tahap pertama diperoleh jadwal penelitian, target responden, dan beberapa hal yang akan diteliti. 2.Tahap Pengumpulan Data Input yang didapat merupakan output berupa jadwal penelitian, target responden, dan hal- hal yang menjadi objek penelitian. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara kepada Pejabat dan staf di UPT. Pusdalops PB Provinsi Bali. Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan sebagian bukti mengenai Audit Sistem Peringatan Dini Tsunami 3. Tahap Pengolahan Data Hasil wawancara diolah untuk kemudian dikroscek mengenai hasil wawancara dengan melakukan wawancara lebih detail dan survei lapangan untuk mengetahui kebenaran bukti 4.Tahap Penilaian/Analisis Data Setelah data diperoleh kemudian diolah, dianalisa,dan kemudian akan diketahui temuan- temuan atas audit berdasarkan bukti-bukti lewat studi literatur. Hasil analisa data berupa rekomendasi yang merujuk dari hasil analisis data

24 1. Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) dan Ruang Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Rupusdalops PB) 2. Peraturan Gubernur Bali Nomor 34 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Peringatan Dini Tsunami

25

26 A. INFRASTRUKTUR  Jaringan Komputer, komunikasi (PABX, VOIP), internet,radio  Server Database, Web & SMS Gateway, GIS, Telephone (PABX), Recording (LINUX Open SUSE)  Perangkat Sistem Peringatan Dini Tsunami : Server INA-TEWS (LINUX Open SUSE), Client Control INA-TEWS (LINUX UBUNTU)  Menara Sirine di 6 lokasi  Perangkat Lainnya : Workstation (Windows XP), IP Phone/Wireless Phone, Printer/Scanner, Projector & Screen, LCD TV, Tower 40m/Antena (televisi, BGAN, SSB/VHF), perangkat TOA, Faximile B. APLIKASI  Sistem Aktivasi Sirine  Digital Video Broadcasting (DVB) C. SUPPORT  Operator IT  Pihak Ketiga

27 A. Perangkat Penerima Informasi dari BMKG  Digital Video Broadcasting DVB  Telephone dengan jalur khusus  Fax   Radio B. Perangkat Desiminasi Peringatan  Sirine Tsunami dilengkapi dengan PA  Sms Gateway  Telephone/Fax  Radio Komunikasi Dukungan Perangkat : Penempatan repeater di 4 (empat) lokasi,yaitu: Ungasan, Penulisan Kintamani, Bukit Sega Karangasem dan Gilimanuk Base Station MultiBand SSB BNPB 30 pesawat HT VHF dan 20 pesawat UHF.  Website (balisafety.baliprov.go.id)   LED

28 List Daftar Sirine Tombol Tipe Bunyi Sirine Tombol Aktivasi / Cancel / Deaktivasi Tombol Matikan SirineStatus Aktivitas Sirine Lokasi Sirine Dalam Peta

29 SEMINYAK TJ. BENOA KUTA BTDC KEDONGANAN SANUR Menara Sirine di 6 lokasi INA – TEWS

30 Digital Video Broadcasting (DVB) untuk menerima informasi gempa bumi dan potensi tsunami dari Server BMKG. 30

31

32 Analisa Teknologi Informasi berdasarkan Fungsi SPDT Proses Penerimaan Informasi dari BMKG Tujuan Menerima informasi resmi gempa dan potensi tsunami dari BMKG Teknologi a.DVB b.Telepon c.Fax d. e.Radio Permasalahan a.DVB -Sistem tidak bisa memberi warning jika pulsa habis a.Telepon b.Fax c. d.Radio Rekomendasi Pengembangan a.Perlu ditambah fitur untuk memberikan warning jika pulsa akan habis

33 Proses Desiminasi Arahan Tujuan Mengirim informasi arahan evakuasi ke masyarakat Teknologi a.Sirine Tsunami dilengkapi dengan PA b.Sms Gateway c.Telephone/Fax d.Radio Komunikasi e.Website (balisafety.baliprov.go.id) f. g.LED Permasalahan a.Sirine Tsunami dilengkapi dengan PA b.Sms Gateway c.Telephone/Fax d.Radio Komunikasi e.Website (balisafety.baliprov.go.id) f. g.LED Rekomendasi Pengembangan a.………….

34  Teknik Pengujian audit teknologi informasi ini menggunakan skala Likert yaitu suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam kuesioner dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei.  Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala Likert, auditor menentukan tingkat persetujuan terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia (1-5).  Dari hasil perhitungan penilaian indikator berdasarkan skala Likert maka akan diperoleh hasil analisa dari proses audit teknologi informasi yang akan menentukan tingkat kematangan (Maturity Level) pada setiap siklus layanan yang tersedia dalam framework IT Infrastructure Library V.3

35 NilaiKeterangan 1Sangat Tidak Baik 2Kurang Baik 3Cukup 4Baik 5Sangat Baik

36 Sesuai dengan Siklus layanan ITIL akan disusun parameter yang menentukan penilaian audit: 1. Service Strategy – Untuk mengetahui mengenai rencana strategi layanan TI yang digunakan untuk mengimplementasikan sistem untuk mendukung fungsi dari suatu organisasi 2. Service Design – Untuk mengetahui desain arsitektur layanan TI infrastruktur, sistem, keamanan, jaringan) yang akan diimplementasikan 3. Service Transition – Untuk mengetahui proses dari migrasi kebutuhan apa saja yang akan diperlukan untuk mereliasisasikan dalam langkah selanjutnya 4. Service Operation – Untuk mengetahui pengelolaan layanan TI/implementasi sistem pada kegiatan operasional harian 5. Continual Service Improvement – Untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan dalam memelihara kualitas layanan dari perencanaan, proses desain, transisi dan pengoperasiannya. Mencakup proses evaluasi & pengembangan sistem

37 Tabel. Parameter Penilaian Service Strategy Maturity Level NoPERNYATAANBobot Nilai Tersedia Layanan IT untuk mendukung obyektif/fungsi organisasi, atau dikenal dengan IT Service Portfolio (3-5 thn kedepan) √ 2Adanya pendefinisian yang jelas kepada siapa saja layanan IT ini diberikan √ 3Adanya prosedur pada setiap infrastruktur pendukung sistem √ 5Tersedia standarisasi dalam penyediaan layanan teknologi √ 6Tersedia anggaran yang cukup dalam penyediaan layanan TI √ 7Adanya rencana kebutuhan SDM pengelola layanan √ 8Adanya komitmen pimpinan dalam penyediaan layanan TI √ Total Rata-RataJumlah bobot nilai Jumlah pertanyaan 21/8 = 2,625

38 IT Infrastructure Library V.3 Service Strategy Nilai2,625 Level 3 : Defined Penyebab  Kebijakan organisasi tidak diikuti dengan rencana strategi dalam pelayanan TI  ……... Rekomendasi  Perlu di buat master plan strategi pelayanan IT  …….

39 Maturity model digunakan oleh Software Engineering Institute untuk menilai kemapanan pengembangan software. Dalam ISAC Foundation (2007), untuk memetakan status kematangan proses- proses teknologi informasi dalam skala 0 – 5. Skala 0 : Non-Existent; Sama sekali tidak ada proses IT yang diidentifikasi. Perusahaan belum menyadari adanya isu yang harus dibahas. Skala 1 : Initial; Perusahaan sudah mulai mengenali proses teknologi informasi di perusahaannya, belum ada standarisasi, dilakukan secara individual, dan tidak terorganisasi. Terdapat bukti yang memperlihatkan perusahaan telah menyadari adanya isu yang perlu dibahas. Tidak ada proses yang baku; sebagai gantinya ada pendekatan khusus ( adhoc) yang cenderung diterapkan per kasus. Pendekatan manajemen secara keseluruhan masih belum terorganisasi. Skala 2 : Repeatable but Intuitive; Perusahaan sudah mulai memilliki prosedur dalam proses teknologi informasi tetapi tidak ada pelatihan dan komunikasi formal tentang prosedur standar tersebut. Tanggung jawab terhadap proses tersebut masih dibebankan pada individu dan tingkat ketergantungan pada kemampuan individu sangat besar sehingga terjadi kesalahan.

40 Skala 3 : Defined Process; Prosedur di perusahaan sudah distandarisasi, terdokumentasi, dan dikomunikasikan melalui pelatihan tetapi implementasi masih tergantung pada individu apakah mau mengikuti prosedur tersebut atau tidak. Prosedur yang dibuat tersebut tidak rumit, hanya merupakan formalisasi kegiatan yang sudah ada. Skala 4 : Managed and Measurable; Perusahaan dapat mengukur dan memonitor prosedur yang ada sehingga mudah ditanggulangi jika terjadi penyimpangan. Proses yang ada sudah berjalan dengan baik dan konstan. Otomasi dan perangkat teknologi informasi yang digunakan terbatas. Skala 5 : Optimized; Proses yang ada sudah mencapai best practice melalui proses perbaikan yang terus menerus. Teknologi informasi sudah digunakan terintegrasi untuk otomatisasi proses kerja dalam perusahaan, meningkatkan kualitas, efektivitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perusahaan.

41 IT Infrastructure Library V.3 Service Design Nilai2,2 Level 2 : Repetable Penyebab  Tidak ada dokumentasi design arsitektur layanan TI  ……... Rekomendasi  Perlu di buat dokumentasi design arsitektur layanan TI  …….

42 IT Infrastructure Library V.3 Service Transition Nilai2,4 Level 2 : Repetable Penyebab  Tidak ada dokumentasi design arsitektur layanan TI  …….. Rekomendasi  Perlu di buat dokumentasi design arsitektur layanan TI  …….

43 IT Infrastructure Library V.3 Service Operation Nilai2,7 Level 3 : Repetable Penyebab  Tidak ada dokumentasi design arsitektur layanan TI  ……... Rekomendasi  Perlu di buat dokumentasi design arsitektur layanan TI  …….

44 IT Infrastructure Library V.3 Continual Service Improvement Nilai2,2 Level 2 : Repetable Penyebab  Untuk sistem aktivasi sirene telah dilakukan testing secara rutin setiap bulannya sebagai evaluasi keberlansungan sistem  Hasil testing terdokumentasi dan dilaporkan ke atasan dan IT support untuk perbaikkan Rekomendasi  Perlu di buat dokumentasi design arsitektur layanan TI NILAI RATA-RATA Nilai 2,2 Level 3 : Repetable Penyebab  Dalam setiap siklus layanan IT tidak terdokumentasi  ……... Rekomendasi  Perlu di buat dokumentasi design arsitektur layanan TI  …….

45 IT Infrastructure Library V.3 NILAI RATA-RATA Nilai 2,2 Level 3 : Repetable Penyebab  Setiap siklus layanan IT tidak terdokumentasi  ……... Rekomendasi  Perlu di buat dokumentasi design arsitektur layanan TI  …….

46

47 Posisi layanan TI

48


Download ppt "JUNIVAN, S.Kom (1491761006) IDA BAGUS GEDE WIDNYANA PUTRA, S.Kom (1491761007) 2014."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google