Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 Sehat dan Sakit Jiwa Tinjauan Pendekatan, Definisi, Perspektif.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 Sehat dan Sakit Jiwa Tinjauan Pendekatan, Definisi, Perspektif."— Transcript presentasi:

1 1 Sehat dan Sakit Jiwa Tinjauan Pendekatan, Definisi, Perspektif

2 2 Suatu Kesinambungan atau tersendiri? Model berkesinambungan : Model berkesinambungan : Sehat Mental Sakit Mental Sehat>>>>Reaksi penyesuaian>>>>Neurosis>>>>Psikosis Sehat>>>>Reaksi penyesuaian>>>>Neurosis>>>>Psikosis Kesehatan jiwa manusia dialami dalam berbagai gradasi selama hidupnya. Kebanyakan tidak sampai pada titik ujung, berada ditengah Setiap orang dapat sakit mental, pada suatu situasi tertentu.

3 3 Model Terpisah Beberapa orang sehat mental; beberapa dengan gangguan khusus. Beberapa orang sehat mental; beberapa dengan gangguan khusus. “Decision trees” akan membedakan yang sakit dan sehat. “Decision trees” akan membedakan yang sakit dan sehat. Sehat Mental Sakit Mental

4 4 Jiwa yang Sehat Orang yang berjiwa sehat: Punya self-esteem, self-acceptance Punya self-esteem, self-acceptance Menyadari potensi dirinya Menyadari potensi dirinya Mampu mempertahankan dan mengisi hubungan dengan sesama Mampu mempertahankan dan mengisi hubungan dengan sesama Merasa sejahtera secara psikologik Merasa sejahtera secara psikologik Otonomi diri Otonomi diri Menguasai dan mengendalikan diri,kompeten dan mempunyai tujuan Menguasai dan mengendalikan diri,kompeten dan mempunyai tujuan Sesuai norma budaya dan agama

5 5 Perlukah jiwa sehat? Jiwa perlu dijaga kesehatannya Jiwa perlu dijaga kesehatannya Perlu advokasi kepada pemegang kebijakan akan perlunya edukasi, pencegahan dan bukan hanya mengobati ketika sakit Perlu advokasi kepada pemegang kebijakan akan perlunya edukasi, pencegahan dan bukan hanya mengobati ketika sakit Ketersediaan ruang gerak mengembangkan diri, menumbuhkan kreativitas, mencapai goal Ketersediaan ruang gerak mengembangkan diri, menumbuhkan kreativitas, mencapai goal

6 6 Sakit Jiwa? Merupakan gangguan pada otak Merupakan gangguan pada otak Gangguan pada otak dicerminkan dalam gangguan pikiran, perasaan dan perilaku Gangguan pada otak dicerminkan dalam gangguan pikiran, perasaan dan perilaku Perilaku memberontak, kreatif, berkeyakinan, berkepercayaan yang ekstrim; tidak sesuai norma budaya dan agama yang dianut masyarakat umum Perilaku memberontak, kreatif, berkeyakinan, berkepercayaan yang ekstrim; tidak sesuai norma budaya dan agama yang dianut masyarakat umum

7 7 Model Medik dan Konsep Penyakit “Ketika terjadi ketidak nyamanan atau perilaku tidak sesuai karena fungsi tubuh yang salah, maka disebut ‘disease.’” Mechanic, p. 14. “Ketika terjadi ketidak nyamanan atau perilaku tidak sesuai karena fungsi tubuh yang salah, maka disebut ‘disease.’” Mechanic, p. 14. Dalam mendiagnosis penyakit fisik dibutuhkan wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dsb Dalam mendiagnosis penyakit fisik dibutuhkan wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dsb Setelah diperiksa akan diketahui : Setelah diperiksa akan diketahui :  Penyebab  Perjalanan penyakit  Penentuan terapi

8 8 Apakah gangguan mental sama dengan penyakit fisik ? Gangguan mental tidak dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium darah atau MRI Gangguan mental tidak dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium darah atau MRI Diagnosis gangguan jiwa tidak terkait dengan etiologi, perjalanan gangguan atau terapi secara umum. Diagnosis gangguan jiwa tidak terkait dengan etiologi, perjalanan gangguan atau terapi secara umum. Karena itu beberapa ahli tak sependapat dengan penyakit jiwa tetapi gangguan jiwa (misal Thomas Szasz). Karena itu beberapa ahli tak sependapat dengan penyakit jiwa tetapi gangguan jiwa (misal Thomas Szasz).

9 9 Perspektif DSM Gangguan Mental menggambarkan “perilaku yang secara klinis nampak atau sindroma psikologik pada individu karena didera stres kini (misal simtom nyeri) atau disabilitas.” Gangguan Mental menggambarkan “perilaku yang secara klinis nampak atau sindroma psikologik pada individu karena didera stres kini (misal simtom nyeri) atau disabilitas.” DSM membuat diagnosis psikiatri menyamai penyakit diagnosis medik. Simtom merupakan indikator penyakit, bukan penyimpangan perilaku DSM membuat diagnosis psikiatri menyamai penyakit diagnosis medik. Simtom merupakan indikator penyakit, bukan penyimpangan perilaku

10 10 DSM Kekuatan: terstandar bagi praktisi, asuransi penyandang dana, pihak hukum, dan institusi yang berkepentingan lainnya Kekuatan: terstandar bagi praktisi, asuransi penyandang dana, pihak hukum, dan institusi yang berkepentingan lainnya Limitasi: Bersifat deskriptif sehingga tidak menggambarkan kausa, perjalanan penyakit dan terapi Limitasi: Bersifat deskriptif sehingga tidak menggambarkan kausa, perjalanan penyakit dan terapi

11 11 Kategori Utama DSM-IV Gangguan yang biasanya mulai didiagnosis pada masa bayi, kanak, remaja Gangguan yang biasanya mulai didiagnosis pada masa bayi, kanak, remaja Delirium, demensia, amnesia, dan gangguan kognitif lainnya Delirium, demensia, amnesia, dan gangguan kognitif lainnya Gangguan mental yang disebabkan gangguan kondisi medik yang tidak diklasifikasikan di tempat lain Gangguan mental yang disebabkan gangguan kondisi medik yang tidak diklasifikasikan di tempat lain Gangguan terkait penggunaan zat Gangguan terkait penggunaan zat Schizophrenia dan gangguan psikotik lainnya Schizophrenia dan gangguan psikotik lainnya Gangguan Mood Gangguan Mood Gangguan Anxietas Gangguan Somatoform Gangguan Buatan Gangguan Dissosiatif Gangguan Sexual dan Identitas gender Gangguan Makan Gangguan Tidur Gangguan Kendali Impuls yang tidak diklasifikasikan di tempat lain Gangguan Penyesuaian Gangguan Personaliti Kondisi lain yang menjadi perhatian klinis

12 12 Perspektif Sosiologik Gangguan Mental merupakan jenis perilaku menyimpang, bukan proses penyakit Gangguan Mental merupakan jenis perilaku menyimpang, bukan proses penyakit Mereka yang mengalami gangguan mental adalah mereka yang melanggar norma sosial atau tak sesuai norma. Mereka yang mengalami gangguan mental adalah mereka yang melanggar norma sosial atau tak sesuai norma. Individu dengan gangguan jiwa menjadi tak berdaya diberi label tertentu Individu dengan gangguan jiwa menjadi tak berdaya diberi label tertentu

13 13 Gangguan Mental sebagai Perilaku Menyimpang Periset yang menganggap gangguan mental sebagai perilaku menyimpang meneliti proses dan aturan dan bukan simtom. Szasz (1963, 1984): Szasz (1963, 1984):  Gangguan Mental bukan penyakit, sebab secara fisik tak ada luka/lesi  Menyebut sakit jiwa berarti membuat manusia tak mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya

14 14 Jelek atau Gila? Perilaku yang menyimpang sering dibilang jelek atau gila Jika ada minat pribadi, kita bilang jelek Jika ada minat pribadi, kita bilang jelek Perilaku yang sama, konteks berbeda, dapat diberi label berbeda misal orang miskin mencuri kita sebut ‘jelek’, orang sangat kaya mencuri kita sebut ‘sakit’ ? Perilaku yang sama, konteks berbeda, dapat diberi label berbeda misal orang miskin mencuri kita sebut ‘jelek’, orang sangat kaya mencuri kita sebut ‘sakit’ ?

15 15 Asumsi yang melatar belakangi ‘jelek’ atau ‘gila’ Ide Ambivalen : Ilmu Sosial dan behavioral mempunyai pendapat bahwa perilaku terjadi karena ada kejadian sebelumnya, kekuatan sosial, biologi Ilmu Sosial dan behavioral mempunyai pendapat bahwa perilaku terjadi karena ada kejadian sebelumnya, kekuatan sosial, biologi Padawaktu yang sama, kita berasumsi bahwa individu dapat membedakan benar dan salah dan mempunyai ‘kebebasan bertindak’ sehingga setiap perilakunya berkait dengan tanggung jawab Padawaktu yang sama, kita berasumsi bahwa individu dapat membedakan benar dan salah dan mempunyai ‘kebebasan bertindak’ sehingga setiap perilakunya berkait dengan tanggung jawab

16 16 Definisi dan pemberian label : masalah Pada terapi sukarela- orang datang atas kemauan sendiri untuk berobat, maka penyebab, pencetus, goal dapat diidentifikasi dan dikejar Pada terapi sukarela- orang datang atas kemauan sendiri untuk berobat, maka penyebab, pencetus, goal dapat diidentifikasi dan dikejar Jika individu dipaksa berobat, maka dapat muncul berbagai dilemma Jika individu dipaksa berobat, maka dapat muncul berbagai dilemma

17 17 Bagaimana mengukur Gangguan Jiwa? Beberapa periset (sociologists, public health specialists, social workers) lebih memperhatikan perkembangan gangguan jiwa di masyarakat, daripada manifestasinya pada orang yang diobati gangguan jiwanya. Beberapa periset (sociologists, public health specialists, social workers) lebih memperhatikan perkembangan gangguan jiwa di masyarakat, daripada manifestasinya pada orang yang diobati gangguan jiwanya.

18 18 Penggunaan terminologi dalam asesmen gangguan mental di komunitas : Epidemiology: mempelajari sebaran gangguan dalam populasi, cepatnya berkembang, siapa yang rentan, dalam upaya mengidentifikasi penyebab dan menemukan intervensi (misal pekerjaan John Snow untuk kolera di London pada tahun 1854) Epidemiology: mempelajari sebaran gangguan dalam populasi, cepatnya berkembang, siapa yang rentan, dalam upaya mengidentifikasi penyebab dan menemukan intervensi (misal pekerjaan John Snow untuk kolera di London pada tahun 1854) Morbidity: prevalensi penyakit dalam suatu populasi Morbidity: prevalensi penyakit dalam suatu populasi Comorbidity: terdapatnya lebih dari satu penyakit pada seorang individu Comorbidity: terdapatnya lebih dari satu penyakit pada seorang individu

19 19 Terminologi (lanjutan): Prevalensi: Seberapa sering kejadian penyakit Prevalensi: Seberapa sering kejadian penyakit  Point prevalence: persentase populasi yang dipengaruhi penyakit pada suatu titik waktu  Lifetime prevalence: persentase dari populasi yang pernah terkena sebuah penyakit  Incidence: kecepatan munculnya kasus baru dalam satu waktu yang ditetapkan

20 20 Studi Epidemiologi Gangguan Jiwa 1 st in USA: Epidemiologic Catchment Area (ECA), st in USA: Epidemiologic Catchment Area (ECA), nd in USA: National Comorbidity Study (NCS) 1990’s 2 nd in USA: National Comorbidity Study (NCS) 1990’s Juga beberapa studi tentang prevalensi pada budaya lain Juga beberapa studi tentang prevalensi pada budaya lain

21 21 Studi Lintas Budaya Normalitas budaya satu dengan lainnya berbeda Normalitas budaya satu dengan lainnya berbeda Karena itu pengukuran lintas budaya dapat merupakan masalah Karena itu pengukuran lintas budaya dapat merupakan masalah Jadi hasil riset untuk satu budaya tidak dapat mencerminkan keadaan budaya lainnya Jadi hasil riset untuk satu budaya tidak dapat mencerminkan keadaan budaya lainnya

22 22 Penyebab Gangguan Jiwa Tak seorangpun tahu. Riset sulit menyimpulkan. Tak seorangpun tahu. Riset sulit menyimpulkan. Riset melihatnya dari perspektif yang berbeda : Riset melihatnya dari perspektif yang berbeda :  Psikologik  Biologik  Sosiologik

23 23 Biologik, perkembangan, atau sosial? Manusia terdiri dari biologik dan sosial, maka penyebab gangguan jiwa melibatkan keduanya. Manusia terdiri dari biologik dan sosial, maka penyebab gangguan jiwa melibatkan keduanya. Penyebab tunggal tak ada, merupakan kombinasi kerentanan biologik, kondisi lingkungan, stressor sosial, jejaring sosial dan dukungan, orientasi psikologik dan pembelajaran perilaku Penyebab tunggal tak ada, merupakan kombinasi kerentanan biologik, kondisi lingkungan, stressor sosial, jejaring sosial dan dukungan, orientasi psikologik dan pembelajaran perilaku

24 24 Kemungkinan penyebab psikologik/perkembangan Riset Psikologi dalam penyebab gangguan jiwa memperhatikan kepribadian individu (early development, cognitive styles, personal identity) Riset Psikologi dalam penyebab gangguan jiwa memperhatikan kepribadian individu (early development, cognitive styles, personal identity) Sudut pandang Sudut pandang  Psikoanalitik—pengaruh perkembangan dini, seperti KDRT, pengabaian anak, kualitas pengasuhan  Cognitive-behavioral/behavioral—cara pikir mempengaruhi perilaku, pembelajaran sosial  Phenomenological/existential—fokus pada pilihan, pertanggunan jawab, pemaknaan  Dinamika Keluarga—fokus pada peran keluarga, pola komunikasi

25 25 Kemungkinan penyebab biologik : Periset mengamati faktor : Genetik Genetik Neurokimiawi Neurokimiawi Viral Viral

26 26 Kemungkinan penyebab lingkungan/ sosial Periset mengamati faktor : Keadaan lingkungan yang kronis menetap Keadaan lingkungan yang kronis menetap  Kemiskinan  Kondisi lingkungan yang buruk  Lingkungan hidup yang membahayakan (Dangerous neighborhoods)  Peran tanggung jawab diluar batas kemampuan Peristiwa kehidupan yang Negatif—stress and coping Peristiwa kehidupan yang Negatif—stress and coping  Bencana alam  Pengangguran  Penyesuaian peran dan diri pada lingkungan baru

27 27 Kemungkinan penyebab lingkungan/ sosial: Faktor lain adalah : Labeling Labeling  Kendali Sosial—cara diagnosis dan terapi gangguan jiwa merupakan agen kendali sosial  Relationship hubungan antara sikap sosial dan perjalanan gangguan—dampak stigma, diskriminasi, dan pengucilan sosial

28 28 Kemungkinan penyebab lingkungan/ sosial: Mobilisasi Kolektif Gejolak dalam masyarakat dapat menyebabkan disabilitas dengan cara : Gejolak dalam masyarakat dapat menyebabkan disabilitas dengan cara :  Membatasi gerak orang dengan gangguan  Membatasi akses ke fasilitas masyarakat dan pekerjaan  Diskriminasi melawan mereka Perburukan (Impairment) dapat menjadi aspek besar atau kecil bagi orang yang diberi identitas, tergantung pada sikap pemerintah dan masyarakat merespon kecacatannya Perburukan (Impairment) dapat menjadi aspek besar atau kecil bagi orang yang diberi identitas, tergantung pada sikap pemerintah dan masyarakat merespon kecacatannya

29 29 Penyakit atau masalah kehidupan? Beberapa perilaku bermasalah dalam DSM: Beberapa perilaku bermasalah dalam DSM:  Penggunaan alkohol bermasalah dan dependensi  Penggunaan zat  Perilaku menantang pada anak Tidak sepenuhnya sesuai dengan model penyakit Tidak sepenuhnya sesuai dengan model penyakit Lebih cocok mempertimbangkannya sebagai masalah dalam kehidupan Lebih cocok mempertimbangkannya sebagai masalah dalam kehidupan

30 30 Definisi Publik Gangguan Jiwa Kebanyakan orang berobat karena merasa tertekan dengan gangguan jiwanya. Kebanyakan orang berobat karena merasa tertekan dengan gangguan jiwanya. Beberapa tidak merasa sakit/terganggu, tetapi keluarganya, orang sekitarnya, sekolah, karyawan, polisi. Dalam beberapa kasus, para evaluator seringkali sulit menjustifikasi Beberapa tidak merasa sakit/terganggu, tetapi keluarganya, orang sekitarnya, sekolah, karyawan, polisi. Dalam beberapa kasus, para evaluator seringkali sulit menjustifikasi

31 31 Peran dari values Values dari evaluator mempengaruhi cara menilai dan orang yang dinilai Values dari evaluator mempengaruhi cara menilai dan orang yang dinilai Values seseorang dipengaruhi budaya dan konteks sosial. Values seseorang dipengaruhi budaya dan konteks sosial. Wawasan yang luas dan pengaruh budaya serta konteks sosial akan menggolongkan seseorang dalam bad atau mad. Wawasan yang luas dan pengaruh budaya serta konteks sosial akan menggolongkan seseorang dalam bad atau mad.

32 32 Value dari model penyakit Disease model berupaya untuk obyektif dan universal, menghindari penghakiman perilaku. Disease model berupaya untuk obyektif dan universal, menghindari penghakiman perilaku. Psikiater berupaya memisahkan simtom dari muatan budaya (misal, schizophrenia). Psikiater berupaya memisahkan simtom dari muatan budaya (misal, schizophrenia).

33 DIAGNOSTIC AND STATISTICAL MANUAL OF MENTAL DISORDERS DSM-IV Sumber :Nicole Letch 2004

34 DSM-IV Apakah itu? Buku manual berisi gangguan jiwa yang sebagian besar terjadi: deskripsi, kriteria diagnosis, terapi dan temuan riset.

35 DSM-IV Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Fourth Edition (DSM-IV), was published by the American Psychiatric Association, Washington D.C., in 1994.

36 “medical student syndrome” Students can come to believe that they suffer from almost all of the disorders with which they are made familiar because the symptoms of disorders usually overlap with experiences that are universal to the human condition. For example, feelings of sadness are not uncommon among people with healthy minds, even though they are a symptom of depression. A word of warning…….

37 DSM-IV Gangguan jiwa dalam DSM-IV terdiri atas 17 kategori. Gambaran Psikologik Tergambar pada masing-masing kelompok kategori Gangguan Mood Gangguan Psikotik Gangguan Anxietas Gangguan Somatoform

38 Gangguan lain dalam DSM-IV Gangguan Tidur Khas dengan gangguan tidur yang jelas Contoh: Insomnia Primer – dkesulitan masuk dan mempertahankan tidur Narcolepsy – serangan tidur yang tidak dapat ditahan meski sudah bangun tidur dengan segar Gangguan Teror Tidur– kejadian teror tidur berulang (terbangun dari tidur biasanya dengan teriakan atau tangisan panik)

39 Gangguan lain dalam DSM-IV Gangguan Masa Bayi, Kanak atau Remaja Gangguan yang biasanya didiagnosis pada masa bayi, kanak atau dewasa : Gangguan membaca – tak dapat membaca sampai pada umur yang biasanya dapat Stuttering– gangguan kelancaran dan pola bicara Encopresis – berulang bab pada tempat tidak semestinya (misal di kasur, di celana, di lantai)

40 Gangguan lain dalam DSM-IV Gangguan Disosiatif Gangguan yang menginterupsi fungsi kesadaran, memori, identitas, persepsi lingkungan Misal : Gangguan Identitas Disosiatif – hadirnya satu atau lebih identitas/personaliti yang berbeda dalam individu yang sama Amnesia Disosiatif– ketidakmampuan me recall informasi penting yang pernah dialaminya, biasanya peristiwa traumatik/stressful

41 Gangguan lain dalam DSM IV Gangguan kendali Impuls Gangguan mengendalikan impul, dorongan, godaan, sehingga tidak dapat menahan serangan berbahaya pada orang lain atau benda lainnya, misal : Kleptomania – berulangkali tidak mampu menahan impul untuk mencuri sesuatu yang tidak ada dasar nilai ekonomis Pyromania– pola membakar untuk mendapatkan kesenangan, kepouasan atau melampiaskan ketegangan Pathological gambling – berulangkali berjudi dengan cara maladaptif Trichotillomania – berulangkali mencabut rambut tanpa dapat dikendalikan

42 Gangguan DSM-IV lainnya DELIRIUM, DEMENSIA & AMNESIA serta Gangguan Kognitif Lainnya Gangguan yang menunjukan defisit kognitif atau memori, misal DELIRIUM, DEMENSIA & AMNESIA serta Gangguan Kognitif Lainnya Gangguan yang menunjukan defisit kognitif atau memori, misal : Delirium – Gangguan kesadaran dengan gangguan memori dan kognisi Demensia – Gangguan memori termasuk Alzheimer’s) tanpa gangguan kesadaran Amnesia – Gangguan kognitif dan memori tanpa gangguan kesadaran, pasca sebuah peristiwa traumatik atau benturan kepala

43 Pendekatan multiaksial DSM mengunakan pendekatan multiaxial atau multidimensional untuk mendiagnosis karena jarang menggunakan faktor lain dari kehidupan yang bersangkutan yang tidak terkait dengan kesehatan mental. Multiaksial mempunyai 5 aksis Multiaksial mempunyai 5 aksis

44 Lima Aksis Aksis 1 – sindroma klinis Aksis 1 – sindroma klinis Ini yang kita sebut sebagai diagnosis (misal depresi, schizophrenia, fobia sosial) Ini yang kita sebut sebagai diagnosis (misal depresi, schizophrenia, fobia sosial)

45 Aksis II: Gangguan perkembangan dan Gangguan personaliti Gangguan perkembangan termasuk autism dan retardasi mental, gangguan yang secara khas muncul pada masa kanak Gangguan perkembangan termasuk autism dan retardasi mental, gangguan yang secara khas muncul pada masa kanak Gangguan Personaliti merupakan sindroma klinis yang simtomnya bertahan dalam jangka panjang yang mencirikan interaksi orang tersebut dengan dunia luar. Gangguan Personaliti merupakan sindroma klinis yang simtomnya bertahan dalam jangka panjang yang mencirikan interaksi orang tersebut dengan dunia luar. Misal Gangguan Kepribadian Paranoid, Antisosial, dan Personaliti Ambang Disorders. Misal Gangguan Kepribadian Paranoid, Antisosial, dan Personaliti Ambang Disorders.

46 Aksis III: Kondisi Fisik Mempunyai peran dalam mengembangkan, melanjutkan atau membuat kambuh gangguan pada aksis I dan II Mempunyai peran dalam mengembangkan, melanjutkan atau membuat kambuh gangguan pada aksis I dan II Termasuk didalamnya kondisi fisiktrauma otak, HIV/AIDS, yang membua gejala gangguan mental Termasuk didalamnya kondisi fisiktrauma otak, HIV/AIDS, yang membua gejala gangguan mental

47 Aksis IV: Parahnya Stresor Psikososial Peristiwa dalam kehidupan seseorang, seperti kematian orang yang dicintai, memulai pekerjaan baru, masuk sekolah baru, diberhentikan dari pekerjaan, menikah dapat berdampak pada gangguan pada aksis I dan II. Peristiwa dalam kehidupan seseorang, seperti kematian orang yang dicintai, memulai pekerjaan baru, masuk sekolah baru, diberhentikan dari pekerjaan, menikah dapat berdampak pada gangguan pada aksis I dan II. Kejadian ini mempunyai gradasi tinggi sampai rendah dan dinilai beratnya dalam aksis ini Kejadian ini mempunyai gradasi tinggi sampai rendah dan dinilai beratnya dalam aksis ini

48 Aksis V: Level Fungsi Tertinggi Ada daftar berisi angka yang mengurutkan level tertinggi keberfungsian seseorang sekarang dan dalam setahun ini Ada daftar berisi angka yang mengurutkan level tertinggi keberfungsian seseorang sekarang dan dalam setahun ini Aksis ini mengambarkan bahwa keempat aksis sebelumnya memengaruhi keberfungsian seseorang dan tipe perubahan yang akan kita harapkan Aksis ini mengambarkan bahwa keempat aksis sebelumnya memengaruhi keberfungsian seseorang dan tipe perubahan yang akan kita harapkan

49 49


Download ppt "1 Sehat dan Sakit Jiwa Tinjauan Pendekatan, Definisi, Perspektif."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google