Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Hartanto, SIP, MA Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Hartanto, SIP, MA Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta."— Transcript presentasi:

1 Hartanto, SIP, MA Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta

2 Masalah integrasi antar negara telah menjadi perhatian para ilmuwan maupun negarawan sejak berabad-abad, dan dua perang dunia pada abad ke-20 ini telah membuat perhatian mereka semakin besar.

3 “Membentuk bagian-bagian yang terpisah menjadi satu kesatuan” “Proses dengan mana aktor-aktor politik di beberapa wilayah nasional yang berbeda terdorong untuk memindahkan kesetiaan, harapan, dan kegiatan politik mereka ke suatu pusat baru yang lembaga-lembaganya memiliki atau menuntut jurisdiksi atas negara- negara nasional yang ada sebelumnya” (Ernst Haas)

4 Diartikan sebagai proses pencapaian kondisi supranasional di mana urusan yang semula ditangani pemerintah nasional beralih ke unit-unit politik yang lebih besar. Teori Integrasi : a. Pendekatan Fungsionalisme b. Pendekatan Neofungsionalisme

5  Menurut argumen ini, perang terjadi karena adanya perbedaan antar manusia dan konflik kepentingan, ketakutan dan kecemburuan yang muncul akibat perbedaan itu.  Kalau saja orang bisa memperoleh kesempatan untuk saling mengenal dan memahami keyakinan, tujuan dan masalah masing-masing (interaksi) maka rasionalitas dan empati alamiah mereka akan muncul —mengatasi, atau paling tidak mengurangi — permusuhan mereka.  Seperti dikatakan oleh Michael Haas, melalui integrasi internasional, “jembatan bisa dibuat dan tindakan preventif bisa diambil dalam hubungan antar-bangsa dan antar-manusia jauh sebelum pecahnya ketegangan, pertikaian, konflik atau perang itu sendiri”

6  pandangan “neo-fungsionalis” menyatakan bahwa orang-orang yang bekerja sama dalam bidang-isyu yang sempit, non-ideologis dan non-sentral punya peluang besar untuk membina pola-pola kerja sama yang lama- kelamaan akan bisa menangani masalah- masalah yang sangat penting.

7 (James E Dougherty & Robert Pfalzgraff Jr., contending theories of international relations) PE Jacob : 10 faktor yang menjadi pre- kondisi terbentuknya suatu integrasi : 1. Kedekatan letak geografis, 2. Homogenitas komunitas tersebut, 3. Volume transaksi antarkomunitas yang bersangkutan, 4. Adanya tingkat pengetahuan yang relatif berimbang, 5. Adanya suatu interest fungsional dominan yang dipandang penting oleh komunitas, 6. Adanya suatu karakter afiliastik dalam komunitas, 7. Tersedianya struktur politik yang kondusif terhadap partisipasi, 8. Adanya tingkat souvereignty yang memadai dalam diri negara anggota, 9. Adanya suatu tingkat efektivitas pemerintah dalam merespon keputusan-keputusan atau isu-isu yang muncul dalam komunitas 10. Adanya pengalaman positif dalam hal integrasi.

8  Integrasi ekonomi (pembentukan suatu ekonomi transnasional),  Integrasi sosial (pembentukan masyarakat transnasional), dan  Integrasi politik (pembentukan sistem politik transnasional). integrasi institusional (IP-1), integrasi kebijakan (IP-2), integrasi sikap (IP-3), dan konsep Deutsch tentang security-community (IP-4).

9

10  what makes regions regions? must have some substantive underpinnings  geographic proximity, economic/political, fiscal, cultural, linguistic similarities  region most clearly defined where these cleavages overlap rather than cross-cut “regions of the mind”  “imagined communities”  regional identities must be created  internally created or externally imposed regional discontent  regional discontent must be mobilized

11  Region atau kawasan diartikan sebagai sekumpulan negara yang memiliki kedekatan geografis karena berada dalam satu wilayah tertentu.  Meskipun demikian, kedekatan geografis saja tidak cukup untuk menyatukan negara dalam satu kawasan.  Hettne dan Soderbaun mengemukakan bahwa kedekatan geografis tersebut perlu didukung adanya kesamaan budaya, keterikatan sosial dan sejarah yang sama.

12  five/six regions (geographical)  core-periphery/metropolis- hinterland/heartland hinterland (economic/political)  have vs. have nots (fiscal)  French vs. English (linguistic) Quebec and the Rest of Canada (ROC)

13  Regionalisme adalah proses pembagian suatu wilayah menjadi kawasan- kawasan/region-region tertentu.  Menurut Joseph Nye, regionalisme merupakan formasi dari beberapa penggabungan kawasan yang berbasis pada region.

14  Regionalisme terjadi karena adanya interaksi.  Kawasan yang dapat memulai interaksi antar negara di dalamnya, akan terus berkembang karena efek kerjasama “spillovers” hingga akhirnya tercipta integrasi kawasan.  Hal ini berbeda dengan kawasan lain yang tidak memiliki kerjasama kawasan. Maka kawasan tersebut akan tertinggal dibanding kawasan yang lain.

15  Aliran neofungsionalis menyatakan bahwa tingkat ketergantungan yang tinggi akan mengarahkan negara-negara pada political integration.  Regionalisme sebagai respon fungsional yang dilakukan oleh negara untuk menyelesaikan masalah yang diciptakan oleh adanya interdependensi regional dan menekankan pada peran strategis institusi regional dalam mengembangkan kepaduan regional.

16

17  in international politics, an association of two or more nations united by a formal treaty for some agreed-upon purpose.  Most alliances are defensive in form, involving a pledge of mutual military assistance against an actual or potential common enemy.  An alliance may sometimes be made to achieve economic goals, for example, the Alliance for Progress. Alliance for Progress, program for technical and financial cooperation and development among the American nations of the Organization of American States (OAS). The alliance was established by the Charter of Punta del Este, signed in August 1961 at the suggestion of U.S. President John F. Kennedy. The U.S. agreed to provide assistance for the development goals to be carried out within the framework of the OAS to benefit developing countries of Latin America.

18  Aliansi adalah suatu asosiasi formal dari beberapa negara untuk atau dalam hal penggunaan (atau tidak) kekuatan militer dimaksudkan baik untuk keamanan atau memperbesar keanggotaannya, melawan negara (negara-negara) tertentu.  Jadi Aliansi adalah suatu koalisi yang erat kaitannya dengan “aturan pertama statecraft kaum realist: yaitu untuk meningkatkan kemampuan militer.

19  Sebagaimana telah dijelaskan di depan, suatu negara dapat meningkatkan kemampuan militernya dengan cara membangunan persenjataan atau membentuk aliansi.  Secara historis biasanya para pemimpin dunia cenderung menggunakan kedua cara tersebut.

20  Akan tetapi metode sering dianggap lebih disukai karena jauh lebih ekonomis. Metode aliansi memungkinkan beban pertahanan di shared dengan angota aliansi lainnya.  Walaupun demikian, metode aliansi ini juga tetap memiliki kelemahan; misal ia menitikberatkan pada kekuatan militer, goals, reliabilitas aliansi dan musuh.

21  Aliansi pada dasarnya menguntungkan.  Bahwa Aliansi menyediakan alat untuk counterbalance terhadap ancaman dari pihak agresor potensial dalam lingkungan internasional yang anarkis.  Keuntungan beraliansi yang utama yaitu meningkatkan keamanan.

22  Aliansi dapat mengurangi probabilitas atau kemungkinan diserang oleh pihak lain (meningkatkan kemampuan deterrence);  Aliansi dapat meningkatkan kemampuan atau kekuatan dalam kasus telah atau sedang diserang (kemampuan defence);  Aliansi dapat mencegah negara anggota beraliansi dengan pihak musuh (preclusion) sehingga merubah perimbangan kekuatan (balance of power)

23  Aliansi merugikan; biaya yang harus dibayar melebihi keuntungan yang harapkan akan diperoleh.  Bahwa aliansi mengurangi fleksibelitas negara- negara anggotanya dalam menghadapi siatusai atau kondisi tertentu.  Dapat menjerumuskan suatu negara ke dalam peperangan yang sesungguhnya tidak diinginkannya atau tidak berkaitan langsung dengannya.

24  Bahwa Aliansi sangat berbahaya bagi keamanan dan perdamaian dunia, oleh karena itu seluruh negara harus menghindarinya.  Pertama, Aliansi cendeung mendorong negara- negara agresif untuk memupuk kekuatan gunakan melakukan perang atau serangan ofensif.  Kedua, Aliansi akan mengancam pihak musuh dan memprovokasi mereka untuk membentuk counteralliances, yang pada gilirannya akan berakibat pada berkurangnya keamanan kedua belah pihak (kedua aliansi tersebut)

25  Ketiga, Aliansi dapat mendorong pihak-pihak yang sebelumnya netral menjadi beraliansi dengan pihak musuh.  Keempat, sekali negara –negara melakukan join forces, maka mereka harus pula dapat mengendalikan prilaku para anggotanya (managemen intra aliansi perlu kokoh).  Kelima, selalu ada kemungkinan bahwa teman aliansi hari ini bisa jadi besok menjadi musuh.

26

27  Kohesi adalah hubungan yg erat atau perpaduan yg kokoh.  Kohesi internasional dapat dilatarbelakangi oleh keinginan untuk membentuk organisasi internasional yang supranasional untuk memperdalam integrasi ekonomi dan membentuk rezim serta membentuk hegemoni internasional yang kuat.

28  Adanya ketergantungan antar negara terutama dalam bidang ekonomi dan juga complex social networks yang merupakan gagasan terbentuknya transregional civil society.  Adanya kesadaran internasional dan juga adanya persamaan persepsi mengenai sejarah, tradisi religious, dan nilai-nilai bersama.  Bertujuan untuk mengamankan kesejahteraan, menyebarkan nilai-nilai bersama.  Negara diharapkan dapat membantu penghapusan hambatan-hambatan perdagangan yang ada dan salah satunya adalah dengan membentuk suatu region dimana hambatan-hambatan perdagangan dapat diminimalisasi.

29


Download ppt "Hartanto, SIP, MA Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google