Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pengelolaan Pengganggu Tanaman Oleh : Irda Safni.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pengelolaan Pengganggu Tanaman Oleh : Irda Safni."— Transcript presentasi:

1 Pengelolaan Pengganggu Tanaman Oleh : Irda Safni

2 1.Pendahuluan - Pengelolaan pengganggu tanaman yang berhubungan dengan penyakit tumbuhan pada tanaman perkebunan I 2.Pengelolaan pengganggu tanaman yang berhubungan dengan penyakit tumbuhan pada tanaman perkebunan II 3.Pengelolaan pengganggu tanaman yang berhubungan dengan penyakit tumbuhan pada tanaman pangan 4.Pengelolaan pengganggu tanaman yang berhubungan dengan penyakit pada tanaman hortikultura & palawija Silabus

3 Bahan kuliah dapat diunduh di: irdasafni.wordpress.com

4 PENDAHULUAN

5 The Disease Triangle Environment Pathogen Host

6 Disease Cycle Survival Inoculum produced Dispersal Infection ColonizationSymptoms Production of survival structures Adapted from P. Vincelli, 2005 Management = interrupt the disease cycle

7

8 What causes plant diseases? Nematodes Bacteria Viruses Fungi

9 BacteriaVirusesNematodes SurvivalCrop residue Soil Alt. hosts - Crop residue Soil Alt. hosts Insect vectors - Alt. hosts Insect vectors Crop residue Soil - DispersalWind Rain Insects Wind Rain Insects - Insects Tillage Equipment Water run-off InfectionDirectly Wounds Insect feeding - Wounds Insect feeding - Insect feeding Directly - Comparison of Disease Cycles

10 Management Practices Variety selection Manage insects, weeds, and nematodes Cultural practices (rotation, tillage, planting date, etc.) Reduce plant stress (population, weed management, fertility) Fungicides (seed treatments, foliar fungicides) GOAL: interrupt the disease cycle

11 Management Practices Resistance - prevents colonization and disease development Variety selection B. Matthews, ARSSCN Management Guide, 1999

12 Resistance - reduces build up of inoculum Variety selection Resistant variety has smaller and yellowish- green color lesions Susceptible variety has large lesions Management Practices

13 Seed quality - plant seed that is high quality Variety selection Management Practices Planting infected seed can inhibit germination, slow seedling growth, or introduce new pathogens into a field.

14 Manage weeds, insects, and nematodes Weeds - increase inoculum - “improve” microclimate for spore production Desmodium species (tick trefoils) are an alternate source of some viruses Management Practices

15 Insects - source of inoculum - provide entry wounds for pathogens Management Practices Manage weeds, insects, and nematodes © Marlin E. Rice

16 Nematodes - interact with other pathogens The presence of soybean cyst nematode can increase other soybean diseases like brown stem rot and sudden death syndrome. Management Practices Manage nematodes

17 Crop rotation - prevents build up of inoculum Cultural practices Competition for foodDestroyed/suppressed Management Practices Photo by Brenda Collins, courtesy Dr. Randy Martin, Bioworks, inc.

18 Tillage - decreases surface residue (foliar disease inoculum) - conservation tillage increases soil moisture Management Practices Cultural practices

19 Planting date - escape infection - escape severe disease Harvest date - remove plants from field before disease becomes problematic Management Practices Cultural practices

20 High populations - compete for light, water, and nutrients Heavy weed pressure - competition Fertility - adequate nitrogen and potassium Management Practices Reduce plant stress

21 Fungicides Seed treatments - protect roots from soilborne pathogens Management Practices

22 Fungicides Foliar fungicides - stop infection and colonization of host Management Practices Syngenta

23 Fungicides Foliar fungicides Management Practices CONSIDERATIONS Cropping history and percent surface crop residue affect the risk of disease. Many pathogens survive in crop residue, which can be a source of inoculum. Varieties vary in their susceptibility to diseases. Disease presence early in the season may result in greater yield loss than diseases that occur later in the season. Fungicides do not affect diseases caused by bacteria, viruses, or nematodes. Profitability of a fungicide application depends on the price of grain and the cost of application.

24 Survival Inoculum produced Dispersal Infection Colonization Symptoms Production of survival structures How does management interrupt the disease cycle? Interrupting the disease cycle

25 Survival Inoculum produced Dispersal Infection Colonization Symptoms Production of survival structures Rotation; tillage; planting high quality seed Interrupting the disease cycle

26 Survival Inoculum produced Dispersal Infection Colonization Symptoms Production of survival structures Interrupting the disease cycle Variety resistance; fungicides

27 Summary The disease cycle for all pathogens is essentially the same. Effective management strategies break the disease cycle. An understanding of the disease cycle will help implement management strategies. Understanding disease cycle is the fundamental of plant disease management

28 Pengelolaan Pengganggu Tanaman Yang Berhubungan dengan Penyakit Tumbuhan pada Tanaman Perkebunan Penyakit Tanaman Perkebunan Penting yang Disebabkan oleh Jamur

29 Penyakit Busuk Pangkal Batang (Ganoderma spp.)  Pertama kali ditemukan tahun 1915 di Zaire, Afrika, tidak menimbulkan kerugian berarti. Tahun 1920 telah menyebar ke banyak negara-negara di Afrika.  Pada tahun 1931 telah dijumpai di Malaysia pada tanaman kelapa sawit yang berumur 25 tahun.  Beberapa lama setelah ini, penyakit ini mulai masuk ke Indonesia dan berkembang pesat.

30  Awalnya bukan merupakan penyakit penting, tapi beberapa tahun terakhir penyakit ini menjadi masalah paling serius pada pertanaman kelapa sawit, terutama pada satu atau lebih dari dua generasi tanam.  Dapat menyebabkan kematian kelapa sawit hingga 80%.  Kerugian disebabkan: kerugian langsung (penurunan produksi karena kematian tanaman) & kerugian tidak langsung (berat tanaman berkurang  tanaman menjadi tidak berbuah)

31  Species Ganoderma yang menyebabkan penyakit Busuk Pangkal batang di Indonesia: Ganoderma boninense, G. zonatum, G. Australe (di Papua)  Genus Ganoderma termasuk filum Basidiomycota, famili Ganodermataceae  Jamur Ganoderma memiliki basidiocarp yang bervariasi (ada yang dimidiate atau stipitate, ada yang bertangkai atau tidak, tumbuh horizontal atau vertikal, ada yang rata atau menggembung, dan ada yang terbentuk lingkaran konsentris).  Merupakan patogen tular tanah (soil borne pathogen).

32 Gejala Busuk Pangkal Batang Tanaman kelapa Sawit G. Boninense pada batang kelapa sawit

33 Beberapa jenis basidiokarp Ganoderma spp.

34 Ganoderma berakibat fatal pada daun tombak dan pengeringan pelepah

35 Ganoderma menyebabkan tumbangnya kelapa sawit

36 Pengendalian  Membersihkan sumber infeksi sebelum penanaman di bekas areal kelapa & kelapa sawit  Mencegah penularan di dalam kebun dengan: - Pohon yang sudah menunjukkah gejala pada daun, umumnya tidak dapat ditolong lagi, sehingga sebaiknya diracun, kemudian ditebang. Tunggul dan akar-akarnya digali dalam radius 60 cm. Kemudian tunggul dan akar-akar terinfeksi dibakar. - Pohon dengan serangan gejala awal, dilakukan pembedahan dengan membuang bagian yang busuk, lalu luka ditutup dengan protectant (ter, arang).

37 Pengendalian  Early Warning System (EWS) dengan pengamatan rutin 1-3 kali setahun.  Pengendalian secara kultur teknis dengan pembuatan lubang tanam besar (3 x 3 x 0.8 m) dan diberi tankos.  Pengendalian secara hayati - Perlakuan bibit dengan jamur antagonis (Trichoderma spp. Dan Gliocladium spp.) & jamur mikoriza  Pemanfaatan tanaman yang toleran terhadap Ganoderma.  Membuat parit isolasi untuk tanaman terinfeksi.  Pengendalian secara kimiawi dengan fungisida berbahan aktif Triadimenol dan Triademorph cc (untuk menahan perkembangan penyakit)

38 Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) Menyerang tanaman karet, kakao, ubi kayu, dan teh. Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditi perkebunan penting. Indonesia merupakan negara dengan luas areal penanaman karet terluas (3.44 juta ha tahun 2013) dan produksi kedua terbesar di dunia (2.98 juta ton tahun 2011), tetapi masih mengalami kendala, yaitu produktivitas yang rendah. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas karet di Indonesia adalah karena penyakit tanaman.

39 Penyakit JAP merupakan penyakit utama pada pertanaman karet yang menyebabkan kerusakan pada akar tanaman. Disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus; syn. Rigidoporus lignosus; syn. Fomes lignosus Jamur termasuk filum Basidiomycota, kelas Agaricomycetes, ordo Polyporales. Jamur ini bersifat parasit fakultatif

40 Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp. 3.3 juta trilyun/tahun di Indonesia, dan sentra perkebunan karet Riau, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat merupakan daerah yang paling tinggi kejadian penyakitnya. Dapat menimbulkan kerusakan di kebun entres, tanaman belum dan telah meghasilkan, namun kerusakan paling berat biasa terjadi pada tanaman yang belum menghasilkan.

41 Gejala Penyakit  Gejala serangan JAP ditandai dengan perubahan warna daun menjadi lebih kusam dan permukaan daun yang tebal. Daun akan menguning dan rontok.  Pada tanaman dewasa, gugurnya daun disertai dengan matinya ranting, sehingga pohon mempunyai mahkota yang jarang.  Pohon akhirnya tumbang dengan daun yang masih menggantung.

42 Gejala Penyakit  Apabila leher akar tanaman yang terinfeksi dibuka, akan tampak benang-benang miselium jamur (rizomorf) berwarna putih di sepanjang akar, baik di akar tunggang ataupun di akar lateral.  Akar menjadi busuk dan tanaman mati.

43 Gejala penyakit Jamur Akar Putih pada karet

44

45 Pengendalian Pencegahan Penyakit  Pengurangan/pemusnahan sumber infeksi : tunggul dan sisa akar  Pembongkaran tunggul dan sisa akar  Peracunan tunggul  Pemberdayaan jamur pelapuk unggul  Pemberdayaan tumbuhan antagonis  Penanaman tanaman kacang-kacangan  Penaburan belerang  Teknik pemusnahan/pengurangan sumber infeksi terpadu

46 Perlindungan Tanaman Pengendalian  Penggunaan belerang/fungisida lainnya  Penggunaan tumbuhan antagonis  Monitoring NoUraianJenis bahan Selang waktu aplikasi (bulan) 1.Fungisida kimia a. PengolesanCalixin CP, Ingro Pasta 20 PA dan Shell CP 6 b. PenyiramanAnvil 50 SC, Danvil6 Bayfidan 250 EC dan Bayleton 250 EC10 c. PenaburanBayfidan 3 G Belerang MikrobiaTriko SP+6 3.Tumbuhan antagonisKunyit, lidah mertua dan laosSatu kali aplikasi Tabel 1. Jenis bahan yang digunakan dalam pengobatan dan selang waktu aplikasinya. Sumber : Basuki, 1986; Bayer, 1988; Komisi Pestisida. 1996; Situmorang dan Husen, 2002; Situmorang dan Suryaningthyas, 2003.

47


Download ppt "Pengelolaan Pengganggu Tanaman Oleh : Irda Safni."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google