MODUL 22 POKOK BAHASAN : MODEL STOKHASTIK DAN IMPLEMENTASINYA

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Penyerapan dan Pengangkutan Air
Advertisements

HUBUNGAN CAHAYA DAN TANAMAN
Kuliah Pertemuan ke-10 Sub Topik : TRIP ASSIGNMENT MODEL/
ABSTRAK Pola pergerakan dalam sistem transportasi sering dijelaskan sebagai arus pergerakan (kendaraan, penumpang dan barang) yang bergerak dari zona asal.
JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA
Pemodelan Sistem & Simulasi Suatu Konsep
Analisis Data: Memeriksa Perbedaan
Hubungan Suhu dan Pertumbuhan Tanaman
PENARIKAN SAMPEL & PENDUGAAN PARAMETER
Pemodelan dan Simulasi Sistem (Pendahuluan)
REKAYASA TRANSPORTASI
TEKNIK SILVIKULTUR Oleh : Suryo Hardiwinoto, dkk Laboratorium Silvikultur & Agroforestry Fakultas Kehutanan UGM, YOGYAKARTA.
INFORMASI AKUNTANSI PENUH
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 19
Materi – 03 Sistem Kantor.
MODUL 7 KEMAMPUAN DALAM MENGELOLA RESIKO DAN TINGKAT PENGEMBALIAN
MODUL 7 KEMAMPUAN DALAM MENGELOLA RESIKO DAN TINGKAT PENGEMBALIAN
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 5 - 6
MODUL 20 POKOK BAHASAN : KOORDINASI LOGISTIK
HUBUNGAN CAHAYA DAN TANAMAN
PEMILIHAN SAMPEL AUDIT PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN
MANAJEMEN INVENTORY DAN LOGISTIK
PENGARUH CAHAYA PADA KEHIDUPAN TANAMAN
PEMILIHAN SAMPEL AUDIT PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN
DALAM HAL BIAYA TIDAK DIKETAHUI
MODUL VI I FUNGSI PRODUKSI DAN OPERASI.
Mata Kuliah : Manajemen Strategik
MANAJEMEN INVENTORY DAN LOGISTIK
MODUL 5 Teori Produksi Dan Biaya TEORI PRODUKSI
MODUL 25 POKOK BAHASAN : LOT FOR LOT
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 28 PERSEDIAAN
Pengantar Pemodelan.
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 20
TOPIK 4 PERAN IKLIM DALAM PRAKTEK PERTANIAN
DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 17 MANAJEMEN PERSEDIAAN
MODUL 19 POKOK BAHASAN : ( TIME SERIES MODEL )
RATA-RATA TERTIMBANG DAN DATA GROUP Oktober 2012
Pemodelan Sistem & Simulasi Suatu Konsep
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 18
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 16
MODUL 21 POKOK BAHASAN : DETERMINISTIK MODEL
DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 3 – 4 MANAJEMEN PERSEDIAAN
MANAJEMEN INVENTORY DAN LOGISTIK
MODUL 24 POKOK BAHASAN : ( ERP ) ENTERPRISE RESOURCES PLANNING
JENIS-JENIS PENELITIAN
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 27
STATISTIKA LINGKUNGAN
MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 1- 2
DAN LOGISTIK POKOK BAHASAN : MODUL 14 MANAJEMEN PERSEDIAAN
AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH
MATERIAL REQUIREMENT PLANNING
KONSEP PERSEDIAAN PENGAMAN
MODUL 2 STRATEGI PERSEDIAAN BARANG A. TUJUAN INTRUKSIONAL
KEPENDUDUKAN-DEMOGRAFI
MODUL 9 PERSEDIAAN PENGAMAN A. TUJUAN INTRUKSIONAL
Pertumbuhan ekonomi.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJEMEN
Penganggaran modal & kriteria investasi
Kuliah Pertemuan ke-10 Sub Topik : TRIP ASSIGNMENT MODEL/
Konsep Simulasi Ipung Permadi, S.Si, M.Cs.
KONSEP PEMODELAN Untuk menyederhanakan suatu realita secara terukur
Ns Chandra W SKP MKep SpMAt
Analisis Kependudukan (estimasi dan proyeksi penduduk):
Analisis dan Estimasi Biaya
HUBUNGAN CAHAYA DAN TANAMAN
Pemodelan Sistem & Simulasi Suatu Konsep
Pertumbuhan ekonomi.
IKG2H3/ PERSAMAAN DIFERENSIAL DAN APLIKASI
TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI. 1. Pendahuluan Untuk melestarikan lingkungan perkotaan yang layak huni, keseimbangan antara fungsi- fungsi tersebut.
PENGENDALIAN : BIAYA OVERHEAD PABRIK (Factory Overhead Control)
Transcript presentasi:

MODUL 22 POKOK BAHASAN : MODEL STOKHASTIK DAN IMPLEMENTASINYA Model Stokastik Model stokastik mengandung unsur acak atau distribusi peluang, sehingga tidak hanya membuat penaksiran keluaran yang definitif tapi juga disertai dengan deviasi (variance). Semakin besar ketidak-pastian akan tingkah-laku suatu sistem, semakin penting penerapan model stokastik. Proses seperti kelahiran, migrasi, kematian, dan konversi kimia cenderung terjadi secara acak. Tingkah-laku sistem dapat menjadi deterministik apabila kuantitas besar dilibatkan, artinya variasi yang sangat kecil tidak begitu berarti dalam taksiran yang dihasilkan model. Kasus epidemiologi, dinamika populasi, pengendalian populasi kadangkadang didekati dengan model stokastik. Model Deskriptif Model tanaman dalam penggunaannya dapat dibagi kepada dua bagian yaitu model deskriptif dan model eksplanatori. Suatu model deskriptif membatasi tingkah-laku atau tabiat suatu sistem dalam suatu cara sederhana, dan mengandung sedikit, jika ada, mekanisme yang menyebabkan tingkah-laku tersebut. Pembentukan dan penggunaan Akan tetapi laju pertumbuhan tanaman tidak akan sama apabila keadaan tanah, pemeliharaan tanaman dan iklim berbeda. Perbedaan iklim saja dapat menghasilkan perbedaan pertumbuhan yang besar. Agar persamaan dapat meliput keadaan yang berbeda misalnya pertumbuhan tanaman pada musim tanam yang berbeda, titik awal dan maksimum dapat diadaptasikan. Tetapi penaksiran parameter demikian terlalu tidak tepat untuk ‘13 Manajemen Inventori dan Logistik Hartri Putranto, SE. MM. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id 1

tergantung pada status dikuantifikasi seperti radiasi dan suhu. Status tanaman harus dipertimbangkan termasuk antara lain luas daun, fase perkembangan dan kandungan nitrogen. Laju pertumbuhan kemudian dihitung untuk setiap fase dari masa pertumbuhan yang tergantung pada status tanaman aktual, tanah dan iklim yang berlaku. Semua faktor penting dapat dijelaskan dengan cara ini asalkan ada cukup teori dan data untuk itu. Laju pertumbuhan pada suatu fase dapat dijelaskan dari segi proses fisiologi, fisika dan kimia serta pengaruh faktor lingkungan. Dalam simulasi model eksplanatori dari sistem dinamis, laju perubahan dapat ditaksir cukup dekat dengan membuat laju proses konstan dalam jangka waktu yang pendek, dan ini dikenal sebagai pendekatan peubah keadaan. Interval waktu yang cukup ideal dalam simulasi tanaman adalah satu hari, dan biomassa yang dibentuk dalam jangka waktu tersebut adalah perkalian laju pertumbuhan dengan waktu. Ini ditambahkan ke biomassa sebelumnya, dan laju pertumbuhan berikutnya dihitung yang dapat berbeda akibat perbedaan dari faktor lingkungan dan keadaan tanaman. Jumlah proses yang sangat penting dalam simulasi pertumbuhan tanaman relatif terbatas, dan kuantifikasi proses tersebut secara rinci tidak perlu. Misalnya, perhitungan efisiensi sintesis setiap senyawa biokimia dalam biomassa biasanya tidak perlu, dan rata-rata dari setiap kelompok biasanya cukup. Aspek dinamis dari fisiologi sel dalam model pertumbuhan tanaman juga dianggap tidak perlu. Model eksplanatori dapat bermanfaat dari segi praktis sekalipun pengetahuan tentang proses tidak mencapai tingkat sel. Suatu hal yang perlu diingat adalah bahwa semakin rinci yang diinginkan dari model, semakin rinci yang harus dikandung model tersebut dan semakin banyak proses eksplanatori yang harus dilibatkan. Perkembangan model eksplanatori dalam beberapa dekade belakangan ini relatif lambat karena antara lain beberapa topik esensial tidak cukup difahami. Sekalipun model tersebut kaya informasi, tetapi susah dipakai (unwieldy). Penggunaanya sering hanya untuk menguji kembali hipotesis dan acuan dalam perbandingan model. Model tersebut jarang digunakan kecuali oleh ilmuan pembuatnya. Model eksplanatori, yang dapat dibagi menjadi tiga bentuk (preliminari, komphrehensif dan iktisar) berkembang secara perlahan. Model preliminari mempunyai struktur yang sederhana karena pemahaman pada tingkat eksplanatori masih samar. ‘13 Manajemen Inventori dan Logistik Hartri Putranto, SE. MM. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id 3

Implementasi Model Stokhastik dalam Transportasi Dynamie programming Integer programming Teori keputusan Network model Simulasi Implementasi Model Stokhastik dalam Transportasi 1.Pendahuluan Kebutuhan transportasi cenderung terus meningkat, hal ini terjadi di Indonesia, terutama diwilayah perkotaan. Transportasi akan menjadi kebutuhan semakin banyak orang, sejalandengan pertumbuhan penduduk dan jumlah kendaraan. Di wilayah perkotaan intensitastransportasi relatif lebih tinggi dibandingkan daerah luar kota dengan kerapatan penduduk yang rendah.Kajian sistem transportasi kota, akan memerlukan pemodelan untuk memperkirakan gerakan.Gerakan yang dimaksud adalah gerakan orang atau barang dengan menggunakan kendaraandiatas jalan dari asal ke tujuan. Pada suatu interval waktu kejadian gerakan yang telahdiperkirakan itu berlangsung serentak dimasing-masing ruas pada jaringan jalan.Pada interval waktu itu gerakan yang terjadi di ruas jalan dapat dinyatakan dengan besaranvolume ruas. Pada konteks waktu masa datang volume lalulintas tersebut, didapat dari hasilperkiraan melalui pemodelan termasuk model pembebanan lalulintas. Perkiraan volumelalulintas ini berguna sekali untuk perencanaan sistem jaringan jalan dan manajemenlalulintas. Perencanaan bersifat antisipasi terhadap kemungkinan yang mungkin terjadi dimasa datang, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Pengembanganriset pemodelan pemilihan rute memegang peranan penting dalam pengembangan pemodelantransportasi untuk kepentingan perencanaan sistem ‘13 Manajemen Inventori dan Logistik Hartri Putranto, SE. MM. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id 5