SKS/JS 2/2 NINIK INDAWATI

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Oleh: Prof.Dr.Mungin Eddy Wibowo, M.Pd Universitas Negeri Semarang
Advertisements

DASAR-DASAR KOMUNIKASI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
HANDOUT 8 KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Harun Imansyah Jurusan Pendidikan Fisika, FPMIPA - UPI
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN ASAS ASAS PEMBELAJARAN
Keterampilan Dasar Mengajar
Komunikasi Lisan Kelompok Manajemen Rapat
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
KONFLIK PADA DUNIA KERJA
BAB V KEPEMIMPINAN PARTISIPATIF, DELEGASI DAN PEMBERDAYAAN
Pembentukan Sikap Dan Tingkah Laku
MANAJEMEN KELAS Diah Latifah NIM:
PENGELOLAAN KELAS (Disarikan dari T. Raka Joni, 1980: 2)
Keterampilan Mengelola Kelas
STKIP-PGRI Banjarmasin
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
DASAR-DASAR KOMUNIKASI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
J Refleksi Pembelajaran dan Tindak Lanjutnya Melalui PTK
Keberhasilan belajar dan mengajar
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Pengertian Microteaching
PRINSIP–PRINSIP Perkembangan
PENGELOLAAN KELAS KELOMPOK RIANA LUTFITASARI (A )
PERTEMUAN 4 HARLINDA SYOFYAN, S.Si., M.Pd
KARAKTERISTIK MATEMATIKA
PERENCANAAN Lecture 6 Disampaikan oleh: Dr. Ir. NUDDIN HARA.
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN KELAS Ghina Anzalina
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
Konsep CBSA.
KETRAMPILAN INTERPERSONAL
TEORI BELAJAR Teori Keterampilan Proses Oleh : Iswadi, M. Pd.
MENGAJAR UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN IPS
Manajemen Konflik Negosiasi.
KETRAMPILAN INTERPERSONAL
Standar Pelayanan Pekerjaan Sosial di bidang kesehatan.
Keterampilan Mengelola Kelas
BIMBINGAN KONSELING.
Pengaruh Kondisi Kelas dan Penciptaan Iklim Belajar..
JABATAN PROFESIONAL DAN TANTANGAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
MEDIA PEMBELAJARAN By: Durinda Puspasari.
MANAJEMEN KELAS/ PENGELOLAAN KELAS
KARAKTERISTIK MATEMATIKA
Keterampilan Dasar Mengajar
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
3 Keterampilan Dasar Bertanya
HAKIKAT BELAJAR & PEMBELAJARAN
Keterampilan Dasar Mengajar
PENGELOLAAN KELAS Meylia Elizabeth.
Pengasuhan Anak Usia Sekolah Dasar PERTEMUAN 8
PERAN GURU DALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR
DASAR-DASAR KOMUNIKASI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
PEMBERDAYAAN.
Pengaruh Faktor-Faktor Non-Rasional Dalam Pengambilan Keputusan
“UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI MENGAJAR MENUJU GURU PROFESIONAL”
Persiapan Guru sebagai Fasilitator dalam Memberikan
PERANAN GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
DITULIS OLEH : AFRIYANDI, S.Pd.SD NIP
STRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI PADA AKTIVITAS SISWA (PBAS)
MANAJEMEN KELAS.
TEORI BELAJAR Teori Keterampilan Proses Oleh : Iswadi, M. Pd.
KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Oleh: Prof.Dr.Mungin Eddy Wibowo, M.Pd Universitas Negeri Semarang
BAB III PROSES BELAJAR MENGAJAR ORANG DEWASA
KET. INTER-INTRA PERSONAL
KET. INTER-INTRA PERSONAL
H. M. JUPRI RIYADI Kepala Dinas Pendidikan. Keterampilan dasar mengajar yaitu keterampilan yang bersifat mendasar atau umum yang harus dikuasai oleh setiap.
MANAJEMEN KELAS. Pengertian Manajemen Kelas Kata manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata manus yang berarti tangan dan agree berarti melakukan.
Transcript presentasi:

SKS/JS 2/2 NINIK INDAWATI MANAJEMEN KELAS SKS/JS 2/2 NINIK INDAWATI

DAFTAR ISI BAB I Prinsip-prinsip Manajemen Kelas BAB II Menciptakan Lingkungan Belajar BAB III Pendekatan Dalam Manajemen Kelas BAB IV Prosedur dan Rancangan Manajemen Kelas BAB V Pengaturan Kondisi dan Penciptaan Iklim Belajar yang Menunjang BAB VI Manajemen Guru Terhadap Pembelajaran

Bab I Prinsip-prinsip Manajemen Kelas Mengajar dan Manajemen Kelas Kegiatan guru di dalam kelas meliputi 2 (dua) hal pokok, yaitu : Kegiatan mengajar dan kegiatan manajerial

Kegiatan Mengajar Dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan pelajaran misalnya : menelaah kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan, mengajukan pertanyaan, menilai kemajuan siswa

Kegiatan Manajerial Bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien seperti : mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok, penghentian tingkah laku siswa yang menyimpang/tidak sesuai dengan tata tertib

Keterkaitan antara manajemen dan keberhasilan siswa pengajaran Keberhasilan siswa manajemen

Menurut Swardi ( 2008 : 107 ) B. Pengertian dan Tujuan Manajemen Kelas Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yakni : Pengelolaan dan kelas Pengelolaan memiliki makna yang sama dengan management dalam Bahasa Inggris, dalam Bahasa Indonesia menjadi manajemen

Menurut Hamalik Adalah sekelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru Kelas berarti sekelompok siswa dalam waktu yang sama menerima pelajaran dari guru yang sama ( menurut Suharsimi )

Usaha guru dalam menciptakan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila : Diketahui secara cepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses pembelajaran Dikenal masalah-masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat merusak iklim pembelajaran Dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan

Kerja dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kaitannya dengan kegiatan pengelolaan kelas, tidak bisa bertindak seperti seorang juru masak dengan buku resep masakannya. Suatu masalah mungkin dapat diatasi dengan cara tertentu pada saat tertentu dan untuk seorang/sekelompok siswa tertentu Akan tetapi mungkin tak dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah yang sama, pada waktu yang berbeda, terhadap seorang/sekelompok siswa yang lain.

Prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas Kehangatan dan keantusiasan Tantangan Bervariasi Luwes Penekanan tantangan pada hal-hal positif Peneneman disiplin diri

Keterampilan mengelola kelas memiliki komponen Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal a. modifikasi perilaku b. pengelolaan kelompok c. Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah

Aspek, fungsi Manajemen Kelas Dewasa ini aktivitas guru yang terpenting adalah memanajemeni, mengorganisir, dan mengkoordinasikan usaha/aktivitas siswa menuju tujuan pembelajaran Memanajemeni kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis, dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas Sifat kelas Pendorong kekuatan kelas Situasi kelas Tindakan selektif dan kreatif ( Lois V. Johnson dan Mary A. Bany, 1970 )

Hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru baru dalam pertemuan pertama dengan siswa di kelas … ?

Fungsi manajemen yang dipandang perlu dilaksanakan secara khusus oleh Kepala Sekolah di SD 1. Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas, seperti : membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menentukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerja sama dengan kelompok/kelas, membantu prosedur kerja, merubah kondisi kelas 2. Memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan lancar

Fungsi-fungsi manajemen di SD Perencanaan Pengorganisasian Menggerakkan Memberi arahan Pengkoordinasian pengendalian

Masalah-masalah Manajemen Kelas Masalah individual Masalah kelompok Tindakan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, sehingga ia dapat memilih strategi

Rudolf Drekurs dan Pearl Cassel dalam Ahmad Rohani ( 2004 : 125 ) Membedakan 4 (4) kelompok masalah pengelolaan kelas individu yang didasarkan asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan keputusan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri. Bila kebutuhan tidak dapat dipenuhi melalui cara yang lumrah dapat diterima masyarakat, dalam masyarakat kelas, maka individu ybs akan berusaha mencapainya dengan cara lain. Ia akan berbuat “ tidak baik “

Perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang asosial oleh pasangan penulis di atas digolongkan sbb : Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain Peragaan ketidak mampuan

Usaha preventif masalah Manajemen Kelas Menurut Piet Sahertian & Ida Aleida Sahertian ( 1992 : 106 ) Pengelolaan kelas sangat berhubungan dengan keberhasilan dalam situasi belajar mengajar Tindakan pengelolahan kelas adalah tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses pembelajaran berlangsung aktif.

Tindakan guru dapat berupa tindakan pencegahan, yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio emosional sehingg siswa merasa nyaman dan aman untuk belajar. Tindakan yang menyimpang akan merusak kondisi optimal bagiproses pembelajaran yang sedang berlangsung

Dimensi korektif dapat terbagi 2 : Tindakan yang seharusnya segera diambil guru pada saat terjadi gangguan (dimensi tindakan) Tindakan penyembuhan terhadap tingkah laku yang menyimpang yang terlanjur terjadi agar penyimpangan tidak berlarut-larut

Usaha preventif masalah Manajemen Kelas 1. Kondisi dan situasi pembelajaran a. kondisi fisik : ruangan tempat berlangsungnya proses pembelajaran, pengaturan tempat duduk, ventilasi dan pengaturan cahaya, pengaturan penyimpanan barang b. kondisi sosial emosional suasana sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses pembelajaran - tipe kepemimpinan - sikap guru

- suara guru - pembinaan report c - suara guru - pembinaan report c. kondisi organizational - pergantian pelajaran/kuliah - guru yang berhalangan hadir - masalah antar siswa - upacara bendera, dll d.kondisi administrasi teknik - daftar presensi - ruang bimbingan siswa - tempat baca - tempat sampah - catatan pribadi siswa

2. Disiplin dan tata tertib - pengertian disiplin - sumber pelanggaran disiplin Maslow mengemukakan teori “ Hierarki kebutuhan manusia “ yang digambarkan dalam bentuk “piramid kebutuhan mansia” sebagai berikut :

Piramid kebutuhan manusia Self actualiaton Esteem needs Belonging Needs Safety Needs Psysiological Needs Deficit Needs

Beberapa cara yang dapat ditempuh guru dalam menanggulangi pelanggaran disiplin Pengenalan siswa - interest-inventory (berupa pertanyaan pada siswa, terkait hal yang menyenangkan) - sosiogram (bagaimana persepsi siswa dalam hubungan sosial-psikologis dengan temannya - feedback letter (siswa buat karangan/tentang perasaannya terhadap sekolahnya) 2. Melakukan tindakan korektif

Cara melakukan dimensi tindakan, sebagai bahan yang dapat dijadikan pertimbangan bagi guru : Lakukan tindakan dan bukan ceramah Do not bargain (tidak mencari siapa yang salah) Gunakan kontrol kerja

3. Melakukan tindakan penyembuhan 4. Tertib ke arah siasat

BAB II Menciptakan Lingkungan Belajar Pengelolaan siswa adalah pengaturan siswa di kelas oleh guru yang sedang mengajar sehingga setiap siswa mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dapat dikatakan pengertian pengelolaan kelas sama dengan penciptaan lingkungan belajar

Diagram interaksi belajar mengajar Hasil belajar Tujuan siswa Lingkungan belajar Hambatan pengaruh Dan guru

B. Kelas yang nyaman dan menyenangkan - tata ruang kelas - menata perabot - papan, meja, kursi dan almari - jadwal pelajaran - papan absensi - daftar piket kelas - kalender pendidikan - gambar presiden - tempat cuci tangan - tempat sampah - sapu dan alat pembersih - gambar dan alat peraga

BAB III Pendekatan dalam Manajemen Kelas Guru adalah pekerja sosial guru tidak dapat disamakan dengan seorang tukang. Seorang tukang cukup mengikuti petunjuk yang terdapat dalam buku petunjuk. Guru perlu menyadari bahwa peranannya adalah sebagai manajerial aktivitas yang harus bekerja berdasar pada kerangka acuan pendekatan manajemen kelas.

Memanajemeni kelas dalam proses pemecahan masalah bukan terletak pada banyaknya macam kepemimpinan dan kontrol, tetapi terletak pada keterampilan memberikan fasilitas yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik. Pemecahan masalah merupakan proses penyelesaian yang beragam, ini tergantung pada sumber permasalahan.

Guru harus memiliki, memahami, dan terampil dalam menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam manajemen kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya digunakan bersamaan atau sekaligus. Guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang dianggapnya meyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapinya.

Kemungkinan dari hasil diagnosis memutuskan menggunakan pendekatan A, tetapi setelah diterapkan ternyata gagal. Kemudian situasi tersebut dianalisis kembali, akhirnya sampai pada kesimpulan guru harus menerapkan alternatif kedua, ketiga, atau kombinasi.

macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas yang disarikan dari Wilford A. Weber (1986; 1996); M. Entang dan T. Raka Joni (1983), dan Depdikbud (1983). Boleh jadi dari macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas itu ada pendekatan yang sudah tidak tepat lagi. Oleh karena itu, uraian macam-macam pendekatan ini dimaksudkan untuk lebih memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada setiap pendekatan, sehingga guru tidak terjerumus ke dalam penerapan pendekatan yang sudah tidak tepat itu.

1. Pendekatan Otoriter Pendekatan otoriter memandang bahwa manajerial kelas sebagai suatu pendekatan pengendalian perilaku peserta didik oleh guru. Pendekatan ini menempatkan guru dalam peranan menciptakan dan memelihara ketertiban di kelas dengan menggunakan strategi pengendalian. Tujuan guru yang utama ialah mengendalikan perilaku peserta didik. Guru bertanggung jawab mengendalikan perilaku peserta didik karena gurulah yang paling mengetahui dan berurusan dengan peserta didik. Tugas ini sering dilakukan guru dengan menciptakan dan menjalankan peraturan dan hukuman. Pendekatan otoriter janganlah dipandang sebagai strategi yang bersifat mengintimidasi. Guru yang mempraktekkan pendekatan otoriter tidak memaksakan kepatuhan, merendahkan peserta didik, dan tidak bertindak kasar. Guru otoriter bertindak untuk kepentingan peserta didik dengan menerapkan disiplin yang tegas.

Pendekatan otoriter menawarkan lima strategi yang dapat diterapkan dalam memanajemeni kelas yaitu (1) menetapkan dan menegakkan peraturan, (2) memberikan perintah, pengarahan, dan pesan, (3) menggunakan teguran, (4) menggunakan pengendalian dengan mendekati, dan (5) menggunakan pemisahan dan pengucilan.

2. Pendekatan Intimidasi Pendekatan intimidasi adalah pendekatan yang memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku peserta didik. Berbeda dengan pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru yang manusiawi, pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku guru yang mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar, ejekan, hinaan, paksaan, ancaman, menyalahkan. Peranan guru adalah memaksa peserta didik berperilaku sesuai dengan perintah guru.

Pendekatan intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan menggunakan teguran keras. Teguran keras adalah perintah verbal yang keras yang diberikan pada situasi tertentu dengan maksud untuk segera menghentikan perilaku siswa yang penyimpangannya berat. Misal, guru memergoki dua peserta didik berkelahi.kemudian guru bertindak “berhenti” dengan harapan setelah mendengar suara guru kedua peserta didik itu akan berhenti berkelahi. Kehadiran guru membuat mereka takut, takut karena mereka membayangkan akan memperoleh hukuman yang sangat berat. Dengan demikian, pendekatan intimidasi hanya baik untuk menghentikan perbuatan yang salah berat dengan segera. Apabila perbuatan salah itu selesai atau berhenti maka tindakan intimidasi tidak akan seproduktif strategi lain.

Kendatipun pendekatan intimidasi telah dipakai secara luas dan ada manfaatnya, terdapat kecaman terhadap pendekatan ini. Penggunaan pendekatan ini hanya bersifat pemecahan masalah secara sementara dan hanya menangani gejala-gejala masalahnya, bukan masalahnya itu sendiri. Kelemahan lain yang timbul dari penerapan pendekatan ini adalah tumbuhnya sikap bermusuhan dan hancurnya hubungan antara guru dan peserta didik. Kendatipun pendekatan intimidasi telah dipakai secara luas dan ada manfaatnya, terdapat kecaman terhadap pendekatan ini. Penggunaan pendekatan ini hanya bersifat pemecahan masalah secara sementara dan hanya menangani gejala-gejala masalahnya, bukan masalahnya itu sendiri. Kelemahan lain yang timbul dari penerapan pendekatan ini adalah tumbuhnya sikap bermusuhan dan hancurnya hubungan antara guru dan peserta didik.

3. Pendekatan Permisif Pendekatan permisif adalah pendekatan yang menekankan perlunya memaksimalkan kebebasan siswa. Tema sentral dari pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan dimana juga guru hendaknya membiarkan peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya. Peranan guru adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab dengan itu akan membantu pertumbuhannya secara wajar. Campur tangan guru hendaknya seminimal mungkin, dan berperan sebagai pendorong mengembangkan potensi peserta didik secara penuh. Pendekatan permisif sedikit penganjurannya. Pendekatan ini kurang menyadari bahwa sekolah dan kelas adalah sistem sosial yang memiliki pranata-pranata sosial. Dalam sistem sosial para anggotanya, dalam hal ini guru dan peserta didik menyandang hak dan kewajiban. Mereka diharapkan bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya dan diterima oleh semua pihak. Perbuatan yang bebas tanpa batas akan memerkosa dan mengancam hak-hak orang lain.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pendekatan permisif dalam bentuknya yang murni tidak produktif diterapkan dalam situasi atau lingkungan sekolah dan kelas. Namun disarankan agar guru memberikan kesempatan kepada para peserta didik melakukan urusan sendiri apabila hal itu berguna. Urusan itu seperti para peserta didik memperoleh kesempatan secara psikologis, memilkul risiko yang aman, mengatur kegiatan sekolah sesuai cakupannya, mengembangkan kemampuan memimpin diri sendiri, disiplin sendiri, dan tanggung jawab sendiri. Dengan demikian, guru harus dapat menemukan cara untuk memberikan kebebasan sebesar mungkin kepada peserta didik di satu sisi, di sisi lain tetap dapat mengendalikan kebebasan itu dengan penuh tanggung jawab.

4. Pendekatan Buku Masak Pendekatan buku masak adalah pendekatan berbentuk rekomendasi berisi daftar hal-hal yang harus dilakukan atau yang tidak harus dilakukan oleh seorang guru apabila menghadapi berbagai tipe masalah manajemen kelas. Daftar tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan ini biasanya dapat ditemukan dalam artikel: Tiga puluh cara untuk memperbaiki perilaku peserta didik, misalnya karena daftar ini sering merupakan resep yang cepat dan mudah, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan “buku masak”.

4. Berikut ini adalah cotoh khas jenis pernyataan yang dapat dijumpai dalam daftar “buku masak” Selalulah menegur siswa secara empat mata Jangan sekali-kali meninggikan suara pada saat waktu memperingatkan siswa Tegas dan bertindak adil sewaktu berurusan dengan siswa Jangan pandang bulu dalam memberikan penghargaan Senantiasalah meyakinkan diri lebih dahulu akan kesalahan siswa sebelum menjatuhkan hukuman Selalulah meyakinkan diri bahwa siswa mengetahui semua peraturan yang ada Tetaplah konsekuen dalam menegakkan peraturan

Pendekatan buku masak tidak dijabarkan atas dasar konsep yang jelas, sehingga tidak ditemukan prinsip-prinsip yang memungkinkan guru menerapkan secara umum pada masalah-masalah lain. Pendekatan ini cenderung menumbuhkan sikap reaktif pada diri guru dalam memanajemeni kelas. Dengan kata lain, guru biasanya memberikan reaksi terhadap masalah tertentu dan sering mempergunakan dalam jangka pendek. Kelemahan lain pendekatan buku masak adalah apabila resep tertentu gagal mencapai tujuan, guru tidak dapat memilih alternatif lain, karena pendekatan ini bersifat mutlak. Guru yang bekerja dengan kerangka acuan buku masak akan merugikan diri sendiri dan tidak mungkin menjadi manajer kelas yang efektif.

5. Pendekatan Instruksional Pendekatan instruksional adalah pendekatan yang mendasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah manajerial kelas. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang efektif adalah hasil perencanaan pengajaran yang bermutu. Dengan demikian peranan guru adalah merencanakan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik. Para penganjur pendekatan instruksional dalam manajemen kelas cenderung memandang perilaku instruksional guru mempunyai potensi mencapai dua tujuan utama manajemen kelas. Tujuan itu adalah: 1) mencegah timbulnya masalah manajerial, dan 2) memecahkan masalah manajerial kelas. Cukup banyak contoh yang membuktikan bahwa kegiatan belajar-mengajar yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik adalah merupakan faktor utama dalam pencegahan timbulnya masalah manajemen kelas.

para pengembang pendekatan instruksional menyarankan guru dalam mengembangkan strategi manajemen kelas memperhatikan hal-hal berikut ini: 1) menyampaikan kurikulum dan pelajaran yang menarik, relevan, dan sesuai, 2) menerapkan kegiatan yang efektif, 3) menyediakan daftar kegiatan rutin kelas, 4) memberikan pengarahan yang jelas, 5) menggunakan dorongan yang bermakna, 6) memberikan bantuan mengatasi rintangan, 7) merencanakan perubahan lingkungan, 8) mengatur kembali struktur situasi.

Menyampaikan kurikulum pelajaran yang menarik, relevan, dan sesuai dengan secara empiris dianggap sebagai penangkal perilaku menyimpang para peserta didik di dalam kelas. Di samping itu penelitian-penelitian menemukan bukti-bukti bahwa kunci keberhasilan manajemen kelas ialah kemampuan guru mempersiapkan dan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar. Hal itu akan mencegah perhatian yang kurang, kebosanan, dan perilaku menyimpang. Guru yang berhasil ialah guru yang menyajikan pelajaran yang disiapkan dengan baik, yang berlangsung dengan lancar, dan dengan tempo yang baik, tepat dan jelas arahnya, memberikan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dan minat peserta didik.

6. Pendekatan Pengubahan Perilaku Pendekatan pengubahan perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaviorisme. Prinsip utama yang mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil proses belajar. Prinsip ini berlaku baik bagi perilaku yang sesuai maupun perilaku yang menyimpang. Penganjur pendekatan ini berpendapat bahwa seorang peserta didik berperilaku menyimpang adalah disebabkan oleh salah satu dari dua alasan berikut: 1) peserta didik telah belajar berperilaku yang tidak sesuai, atau 2) peserta didik tidak belajar berperilaku yang sesuai.

Pendekatan pengubahan perilaku dibangun atas dasar dua asumsi utama yaitu: 1) empat proses dasar belajar, 2) pengaruh kejadian-kejadian dalam lingkungan. Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan empat prinsip dasar belajar. Prinsip tersebut adalah penguatan positif, hukuman, penghentian, dan penguatan negatif. Penguatan positif yakni pemberian penghargaan setelah terjadi suatu perbuatan. Penghargaan menyebabkan perbuatan yang dikuatkan itu semakin meningkat. Perbuatan yang dihargai tersebut diperkuat dan diulangi di kemudian hari.

Mendasarkan pada uraian di atas, guru dapat mendorong perilaku peserta didik yang sesuai dengan mempergunakan penguatan positif (memberikan penghargaan) dan penguatan negatif (menarik hukuman). Guru dapat mengurangi perilaku peserta didik yang menyimpang dengan mempergunakan hukuman (memberi rangsangan yang tidak menyenangkan), penghentian (menaham penghargaan yang diharapkan), dan penarikan (menarik penghargaan dari peserta didik). Hal yang perlu diingat bahwa konsekuensi-konsekuensi itu memberikan pengaruh kepada perilaku peserta didik sesuai dengan prinsip-prinsip perilaku yang telah terbentuk. Jika guru menghargai perilaku yang menyimpang, perilaku tersebut cenderung diteruskan. Jika guru menghukum perilaku yang sesuai, perilaku tersebut cenderung tidak diteruskan.

Penentuan waktu, frekuensi penguatan, dan hukuman adalah prinsip lain yang penting dalam pengubahan perilaku. Perbuatan peserta didik yang hendak diperkuat oleh guru harus dengan segera dikuatkan setelah perbuatan itu terjadi. Perbuatan peserta didik yang hendak dihentikan harus segera dikenakan hukuman setelah perbuatan itu terjadi. Perilaku yang tidak dikuatkan dengan segera cenderung akan melemah. Perilaku yang tidak dikenakan hukuman dengan segera cenderung akan menguat. Jadi penentuan waktu yang tepat untuk menghargai dan menghukum adalah penting.

Penentuan waktu sama pentingnya dengan frekuensi terjadinya perilaku yang dikuatkan. Penguatan yang terus menerus, yaitu penguatan yang menyusul setiap terjadi perilaku menyebabkan makin cepatnya seseorang mempelajari perilaku tersebut. Jika seorang guru menginginkan penguatan perilaku siswa tertentu, guru harus menghargai setiap kali perilaku itu terjadi. Penguatan terus menerus akan sangat efektif pada tahan awal mempelajari suatu perilaku. Sekali perilaku telah terbentuk akan efektif menguatkannya tanpa tenggang waktu yang lama.

Ada dua macam pendekatan untuk penguatan yang berselang waktu pendek yaitu: penjadwalan selang waktu, dan penjadwalan rasio. Penjadwalan selang waktu adalah pendekatan yang dipergunakan oleh guru mendorong siswa setelah batas waktu tertentu. Misalnya, guru yang menggunakan penjadwalan selang waktu akan mendorong seorang siswa setiap jam. Penjadwalan rasio adalah pendekatan yang digunakan oleh guru mendorong siswa setelah suatu perbuatan terjadi beberapa kali. Misal, guru yang menggunakan penjadwalan rasio akan mendorong siswa setelah perbuatan tertentu terjadi empat kali.

Penghargaan atau pendorong adalah suatu rangsangan untuk meningkatkan frekuensi perbuatan yang mendahuluinya. Hukuman adalah sesuatu yang mengurangi frekuensi frekuensi perbuatan yang mendahuluinya. Pendorong dapat digolongkan dalam dua kategori utama yaitu pendorong primer (diperlukan untuk mempertahankan kehidupan seperti air, makanan, rumah), dan pendorong bersyarat (pujian, rasa kasih sayang dan sebagainya).

Penghargaan atau pendorong adalah suatu rangsangan untuk meningkatkan frekuensi perbuatan yang mendahuluinya. Hukuman adalah sesuatu yang mengurangi frekuensi frekuensi perbuatan yang mendahuluinya. Pendorong dapat digolongkan dalam dua kategori utama yaitu pendorong primer (diperlukan untuk mempertahankan kehidupan seperti air, makanan, rumah), dan pendorong bersyarat (pujian, rasa kasih sayang dan sebagainya).

Penghargaan (dan hukuman) dapat dipahami hanya dalam kaitannya dengan peserta didik secara individual. Penghargaan terhadap seorang peserta didik dapat saja dirasakan sebagai hukuman bagi peserta didik lainnya. Respon yang dimaksudkan oleh guru sebagai penghargaan dapat dirasakan sebagai hukuman, dan respon yang dimaksudkan sebagai hukuman dapat menjadi penghargaan. Hal semacam ini sering terjadi. Cotoh yang sangat lazim sekali terjadi apabila seorang peserta didik berperilaku menyimpang dengan maksud menarik perhatian. Tindakan hukum yang diberikan oleh guru sesudah kejadian itu sesungguhnya adalah menghargai, bukan menghukum peserta didik yang haus perhatian itu. Dan oleh karena itu, peserta didik tersebut meneruskan perilakunya untuk mendapat perhatian yang didambakannya.

Berikut ini adalah strategi-strategi lain yang ditawarkan dalam memanajemeni kelas : Mempergunakan Model Model adalah proses dimana peserta didik dengan mengamati cara berperilaku orang lain mendapatkan perilaku yang baru. model dapat dipandang sebagai suatu proses dimana guru melalui tingkah lakunya menampilkan nilai dan sikap, yang dikehendaki dimiliki dan ditampilkan oleh peserta didik.

Mempergunakan pembentukan Pembentukan adalah suatu prosedur dimana guru meminta peserta didik menampilkan serangkaian perilaku yang mendekati atau mirip dengan perilaku yang digunakan. Dan pada setiap kali peserta didik menampilkan perilaku yang mendekati itu guru memberikan dorongan kepada peserta didik sehingga ia mampu secara konsisten menampilkan perilaku yang diinginkan tersebut. Jadi pembentukan adalah strategi pengubahan perilaku yang dipergunakan untuk mendorong perkembangan perilaku yang baru.

Mempergunakan sistem hadiah Sistem hadiah biasanya terdiri dari tiga unsur. Unsur-unsur itu dimaksudkan untuk mengubah perilaku sekelompok peserta didik. Unsur-unsur itu berupa: 1) seperangkat instruksi tertulis yang disiapkan dengan teliti, yang menggambarkan perilaku peserta didik yang hendak dikuatkan atau didorong oleh guru, 2) suatu sistem yang dirancang dengan baik untuk menghadiahkan barang kepada peserta didik yang menampilkan perilaku yang sesuai, dan 3) seperangkat prosedur yang memberikan kesempatan kepada peserta didik saling bertukar hadiah yang mereka peroleh sebagai penghargaan, atau memberikan kesempatan terlibat dalam kegitan-kegiatan sosial.

Mempergunakan kontrak perilaku Kontrak perilaku adalah suatu persetujuan antara guru dan peserta didik yang berperilaku menyimpang. Persetujuan itu menentukan perilaku yang disetujui oleh peserta didik untuk ditampilkan dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya apabila peserta didik menampilkan perilaku tersebut. Kontrak dalah suatu kesepakatan antara guru dan peserta didik yang merinci apa yang diharapkan oleh peserta didik dan ganjaran atau konsekuensi yang akan diperolehnya apabila melakukan hal-hal yang disepakati itu.

Mempergunakan jatah kelompok Penggunaan jatah kelompok adalah penggunaan prosedur dimana konsekuensi (penguatan atau hukuman) tidak hanya tergantung kepada perilaku seorang peserta didik sendiri, melainkan juga kepada perilaku kelompoknya. Penghargaan terhadap setiap anggota kelompok tergantung pada perilaku salah seorang atau lebih atau pada perilaku seluruh anggota kelompok lainnya.

Penguatan alternatif yang tidak serasi Penguatan alternarif yang tidak serasi yaitu penguatan yang bertentangan satu dengan yang lainnya. Penguatan itu terjadi pada situasi dimana guru menghargai perilaku yang tidak dapat terjadi bersamaan dengan perilaku menyimpang yang hendak dihilangkan oleh guru.

Penguatan alternatif yang tidak serasi Penguatan alternarif yang tidak serasi yaitu penguatan yang bertentangan satu dengan yang lainnya. Penguatan itu terjadi pada situasi dimana guru menghargai perilaku yang tidak dapat terjadi bersamaan dengan perilaku menyimpang yang hendak dihilangkan oleh guru.

Mempergunakan pemantauan sendiri Pemantauan diri sendiri diartikan sebagai pengelolaan diri sendiri dimana peserta didik mencatat aspek-aspek perilakunya agar ia dapat merubahnya. Pemantauan diri sendiri secara sistematis akan meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap perilaku yang diharapkan dihilangkan atau dikurangi. Pemantauan diri sendiri meningkatkan kesadaran diri sendiri melalui pengamatan atas dirinya.

Mempergunakan isyarat Isyarat adalah suatu proses untuk merangsang berbuat atau tindakan mengingatkan secara verbal atau non-verbal yang digunakan oleh guru kepada peserta didiknya. Hal ini dilakukan apabila ia merasa peserta didiknya berperilaku menyimpang. Suatu isyarat dapat digunakan untuk mendorong atau mencegah perilaku tertentu. Berlainan dengan pendorong, isyarat mendahului respons.

Ada tiga pandangan pokok yang paling menonjol dalam hal ini yaitu: 1) penggunaan hukuman dengan tepat sangat efektif untuk menghilangkan perilaku peserta didik yang menyimpang, 2) penggunaan hukuman dengan bijaksana pada jenis-jenis situasi tertentu akan dapat memberikan dampak positif pada perilaku peserta didik, tetapi karena adanya risiko timbulnya pengaruh sampingan yang negatif, penggunaan hukuman harus dipantau dengan seksama, 3) penggunaan hukuman harus dihindarkan sama sekali, karena perilaku siswa yang menyimpang dapat ditangani secara efektif dengan teknik-teknik lain yang tidak mempunyai pengaruh sampingan yang negatif seperti hukuman.

Pendekatan Iklim Sosio-Emosional Pendekatan iklim sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinikal, dan karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-emosional yang positif pula.

Glasser mengemukakan delapan langkah untuk membantu peserta didik mengubah perilakunya berikut ini. Secara pribadi melibatkan diri dengan siswa; menerima siswa tetapi bukan kepada perilakunya yang menyimpang; menunjukkan kesediaan membantu siswa memecahkan masalah. Perilaku siswa; menangani masalah tetapi tidak menilai atau menghakimi siswa. Membantu siswa membuat penilaian atau pendapat tentang perilakunya yang menjadi masalah itu. Pusatkan perhatian kepada apa yang dilakukan oleh siswa yang menimbulkan masalah dan yang meyebabkan kegagalannya. Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik; jika perlu berikan alternatif-alternatif; bantulah siswa membuat keputusan sendiri berdasarkan penilaiannya atas alternatif-alternatif yang ada untuk mengembangkan perasaan tanggung jawab sendiri. Membimbing siswa mengikatkan diri dengan rencana yang telah dibuatnya. Mendorong siswa sewaktu melaksanakan rencananya dan memelihara keterikatannya dengan rencana tersebut; yakinkan siswa bahwa guru mengetahui kemajuan-kemajuan yang dibuatnya. Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila siswa gagal meneruskan keterikatannya; bantulah ia memahami bahwa ia sendirilah yang bertanggung jawab atas perilakunya; ingatkan siswa akan perlunya rencana yang lebih baik; menerima pernyataan maaf berarti tidak memusingkan masalah siswa. Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang tetapi jangan menghukumnya; bantulah siswa mencoba lagi menyusun rencana yang lebih baik dan mengikatkan diri dengan rencana tersebut.

Dreikurs dalam kaitan dengan pendekatan sosio-emosional mengemukakan gagasan-gagasan penting yang mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang efektif. Dua diantaranya ialah: 1) penekanan pada kelas yang demokratis dimana siswa dan guru berbagi tanggung jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah maju, 2) pengakuan akan pengaruh konsekuensi wajar dan logis atas perilaku siswa.

Pendekatan Proses Kelompok Premis utama yang mendasari pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi-asumsi barikut: 1) kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas, 2) tugas pokok guru adalah memnciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif, 3) kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung cirri-ciri yang terdapat pada semua system social, 4) pengelolaan kelas oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan.

Schmuck dan Schmuck dalam Weber mengemukakan enam cirri mengenai manajemen kelas yaitu: harapan, kepemimpinan, daya tarik, norma, komunikasi, dan keterpaduan.

Harapan adalah persepsi yang dimiliki oleh guru dan siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain. Kepemimpinan paling tepat diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok bergerak menuju pencapaian tujuannya.

Daya tarik, menunjuk pada pola-pola persahabatan dalam kelompok kelas Daya tarik, menunjuk pada pola-pola persahabatan dalam kelompok kelas. Daya tarik dapat digambarkan sebagai tingkat persahabatan yang terdapat di antara para anggota kelompok kelas. Tingkat daya tarik tergantung pada sejauh mana hubungan antar pribadi yang positif telah berkembang. Pengelola kelas yang efektif ialah seseorang yang membantu mengembangkan hubungan antar pribadi yang positif antara para naggota kelompok.

Norma ialah pengharapan bersama mengenai cara berpikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku para anggota kelompok. Norma sangat mempengaruhi hubungan antar pribadi karena norma tersebut memberikan pedoman yang membantu para anggota memahami apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang dapat mereka harapkan dari orang lain. Norma kelompok yang produktif adalah hakiki bagi efektivitas kelompok. Oleh karena itu, salah satu tugas guru ialah membantu kelompok menciptakan, menerima, dan memelihara norma kelompok yang produktif.

Komunikasi, baik verbal maupun non-verbal adalah dialog antara anggota-anggota kelompok. Komunikasi mencakup kemampuan khas manusia untuk saling memahami buah pikiran dan perasaan masing-masing. Komunikasi yang efektif berarti menerima pesan menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan. Oleh karena itu, tugas rangkap guru adalah membuka saluran komunikasi sehingga semua siswa menyatakan buah pikiran dan perasaanya dengan bebas, menerima buah pikiran dan perasaan siswa.

Keterpaduan adalah menyangkut perasaan kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya. Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu keseluruhan. Kelompok menjadi padu karena alas an: 1) para anggota saling menyukai satu sama lainnya, 2) minat yang besar terhadap pekerjaan, 3) kelompok memberikan harga diri kepada para anggotanya.

9. Pendekatan Eklektik Menyimak secara seksama kedelapan pendekatan yang telah diuraikan di muka adalah ibarat melihat benda yang sama dari berbagai sudut pandangan yang berbeda. Oleh karena itu, seorang guru harus mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan ketika akan menerapkan satu pendekatan. Dalam kenyataan guru jarang sekali menerapkan satu pendekatan secara utuh, melainkan mengkombinasikan masing-masing pendekatan dengan mengambil hal-hal yang positif dari satu pendekatan seraya mengeliminir kelemahan masing-masing pendekatan. Wilford A. Weber menyatakan bahwa pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagai pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosofis, teoritis, dan/atau psikologis dinilai benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan eklektik (Wilford A. Weber, 1986). Dua syarat yang perlu dikuasai oleh guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu: 1) menguasai pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan Pengubahan Perilaku, Penciptaan Iklim Sosio-Emosional, Proses Kelompok, dan 2) dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah manajemen kelas ( M. Endang dan T. Raka Joni, 1983: 43)

Simpulannya adalah bahwa kemampuan guru memilih strategi manajemen kelas yang sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadapinya. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku dipilih, misalnya bila tujuan tindakan manajemen kelas yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah lakupeserta didik yang baik dan/atau menghilangkan perilaku peserta didik yang kurang baik; pendekatan Penciptaan Iklim Sosio-Emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan manajemen kelas adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru dan peserta didik; sementaa itu pendekatan Proses Kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.

10. Pendekatan Analitik Pluralistik Sembilan pendekatan yang diuraikan di muka menggambarkan sembilan macam pendekatan manajemen kelas yang berlainan. Setiap pendekatan ada penganjurannya dan pemakaiannya. Tidak ada anjuran dan saran untuk menganut dan menggantungkan diri pada sattu pendekatan manajemen kelas. Saran dan anjuran yang perlu dipertimbangkan adalah menggunakan pendekatan analitik pluralistik.

Berbeda dengan pendakatan eklektik, pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis. Guru yang bijaksana menghargai pendekatan dan strategi manajemen kelas yang mempunyai konsep yang baik. Dengan demikian, pendekatan analitik pluralistik memperluas jangkauan pendekatan. Pendekatan analitik pluralistik berupa pemilihan diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisi yang memberi kemudahan kepada pembelajaran yang efektif dan efisien.

Pendekatan analitik pluralistik tidak mengikat guru pada serangkaian strategi manajerial tertentu saja. Guru bebas mempertimbangkan semua strategi yang mungkin efektif. Terdapat empat tahap pendekatan analitik pluralistik yang perlu dicermati dalam penggunaannya : Menentukan kondisi kelas yang diinginkan Menganalisis kondisi kelas yang nyata Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan Menilai efektivitas pengelolaan

Hambatan dalam Manajemen Kelas Dalam pelaksanaan manajemen kelas akan ditemui berbagai faktor penghambat. Hambatan tersebut bisa datang dari guru sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga, ataupun karena faktor fasilitas.

kewenangan penanganan masalah penglolaan kelas dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu: Masalah yang ada dalam wewenang guru bidang studi. Ada sejumlah masalah manajemen kelas yang ada dalam ruang lingkup wewenang seorang guru bidang studi untuk mengatasinya. Hal ini berarti bahwa seorang guru bidang studi yang sedang mengelola proses pembelajaran dituntut untuk dapat menciptakan, memperhatikan, dan mengembalikan iklim belajar kepada kondisi pembelajaran yang menguntungkan kalau ada gangguan, sehingga peserta didik berkesempatan untuk dapat mengambil manfaat yang optimal dari kegiatan belajar yang dilakukan. Kegiatan tersebut meliputi cara mengatur tempat duduk peserta didik disesuaikan dengan format belajar, membina “report” yang baik dengan peserta didik, memberi pujian, memberi hadiah (barang) kepada peserta didik yang menyelesaikan tugas dengan benar sebelum waktunya, menegur peserta didik yang mengganggu teman di sebelahnya, mendamaikan peserta didik yang bertengkar pada jam pelajaran yang sedang berlangsung sampai kepada melaporkan pelanggaran tata tertib oleh peserta didik yang sudah diberi teguran dan peringatan baik kepada wali kelas, kepada sekolah, ataupun orang tua peserta didik.

Masalah yang dalam wewenang sekolah sebagai satu lembaga pendidikan. Dalam kenyataan sehari-hari di kelas, akan ditemukan masalah yang lingkup wewenang untuk menagatasinya berada di luar jangkauan guru bidang studi. Masalah ini harus di atasi oleh sekolah sebagai suatu lemabga pendidikan. Bahkan mungkin juga ada masalah pengelolaan yang tidak bias hanya diatasi oleh satu lembaga pendidikan akan tetapi menuntut penanganan bersama antar sekolah. Masalah-masalah yang ada dibawa wewenang sekolah antara lain pembagian ruangan yang adil untuk setiap tingkat atau jurusan, pengaturan upacara bendera pada setiap hari senin, dan bila pada hari tersebut turun hujan lebat, menegur peserta didik yang selalu terlambat pada saat apel bendera, mengingat peserta didik yang tidak mau memakai seragam sekolah, menasihati peserta didik yang rambutnya panjang (gondrong), memberi peringatan keras kepada pesera didik yang merokok di kelas atau sekolah dan suka minum-minum keras, sampai kepada mendamaikan peserta didik jika terjadi perselisihan antar sekolah.

Masalah yang ada di luar wewenang guru bidang studi dan sekolah. Masih ada satu masalah pengelolaan yang berada di luar wewenang guru bidang studi atau sekolah untuk mengatasinya. Dalam mengatasi masalah semacam ini mungkin yang harus terlibat adalah orang tua, lembaga-lembaga yang dalam masyarakat seperti karang taruna, bahkan para penguasa dan lembaga pemerintahan setempat. Pihak-pihak tersebut di atas dituntut turut membina keterlibatan melalui pembiasan yang baik di rumah pengawasan orang tua, menyediakan fasilitas rekreasi yang sehat bagi remaja dan sebagainya. Juga kepada mereka dituntut untuk turut mengatasi berbagai masalah pengelolaan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh para peserta didik. Masalah pengelolaan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh peserta didik pengelolaan tersebut mungkin berupa minuman-minuman keras di luar rumah, nonton film di luar umur yang sudah ditentukan, bergerombol di jalan dan membuat keributan, ngebut di jalan umum sehingga membahayakan pemakai jasa jalan yang lainnya, perkelahian antar sekolah, sampai kepada hal-hal yang bisa digolongkan lagi kepada kenakalan akan tetapi sudah masuk kejahatan seperti pencurian, penjambretan, penodongan, dan pemerasan. Masalah semacam ini benar-benar sudah berada di luar jangkauan guru dan sekolah untuk mengatasinya walaupun sampai batas-batas tertentu usaha pencegahan dan penyembuhan selalu dilakukan baik oleh guru bidang studi, wali kelas, ataupun sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Faktor Guru Sudah dikatakan di atas bahwa guru pun bisa merupakan faktor penghambat dalam melaksanakan penciptaan suasana yang menguntungkan dalam proses pembelajaran. Faktor penghambat yang datang dari guru berupa hal-hal seperti di bawah ini : Tipe kepemimpinan guru. Tipe kepemimpinan guru (dalam mengelola proses pembelajaran) yang otoriter dan kurang demokratis akan menumbuhkan sikap pasif peserta didik. Kedua sikap peserta didik ini akan merupakan sumber masalah pengelolaan kelas. Format pembelajaran yang monoton. Format pembelajaran yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi peserta didik. Format pembelajaran yang tidak bervariasi dapat menyebabkan para peserta didik bosan, frustasi/kecewa, dan hal ini akan merupakan sumber pelanggaran disiplin. Kepribadian guru. Seorang guru yang berhasil, dituntut untuk bersikap hangat, adil, objektif, dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses pembelajaran. Sikap yang bertentangan dengan kepribadian tersebut akan menimbulkan masalah pengelolaan kelas. Pengetahuan guru. Terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah pengelolaan dan pendekatan pengelolaan, baik-baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis. Mendiskusikan masalah ini dengan teman sejawat akan membantu mereka dalam meningkatkan keterampilan mengelola kelas dalam proses pembelajaran. Pemahaman guru tentang peserta didik. Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik dan latar belakangnya dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru untuk dengan sengaja memahami peserta didik dan latar belakangnya, mungkin karena tidak tahu caranya ataupun karena beban mengajar guru yang di luar batas kemampuannya yang wajar karena mengajar di berbagai sekolah sehingga guru datang ke sekolah semata-mata untuk mengajar.

Faktor Peserta Didik Faktor lain yang dapat merupakan hambatan dalam penglolaan kelas adalah faktor peserta didik. Peserta didik dalam kelas dapat dianggap sebagai seorang individu dalam suatu masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Mereka harus tahu hak-haknya sebagai bagian dari satu kesatuan masyarakat di samping mereka juga harus tahu akan kewajibannya dan keharusan menghormati hak-hak orang lain dan teman-teman sekelasnya. Peserta didik harus sadar bahwa kalau mereka mengganggu temannya yang sedang belajar berarti tidak melaksanakan kewajiban sebagai anggota satu masyarakat kelas dan tidak menghormati hak peserta didik lain untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari kegiatan pembelajaran. Kekurangan sandaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota suatu kelas atau suatu sekolah dapat merupakan faktor utama penyebab masalah pengelolaan kelas.

Faktor Keluarga Tingkah laku peserta didik gi dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik yang mengganggu dan pembuat ribut. Mereka itu biasanya kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya di rumah. Kebiasaan yang kurang baik di lingkungan keluarga seperti tidak tertib, tidak patuh pada disiplin, kebebasan yang berlebihan atau pun terlampau dikekang akan merupakan latar belakang yang menyebabkan peserta didik melanggar disiplin di kelas. Jelaslah sudah bila tuntutan di kelas atau sekolah berbeda jauh dengan kondisi kehidupan keluarga akan merupakan kesukaran sendiri bagi peserta didik untuk menyesuaikan diri. Salah penyesuaian peserta didik terhadap situasi kelas akan merupakan masalah pengelolaan. Disinilah pula letak pentingnya hubungan kerja sama yang seimbang antara sekolah dengan rumah agar terdapat keselarasan antara situasi dan tuntutan di kelas atau di sekolah.

Faktor Fasilitas Faktor fasilitas merupakan penghambat dalam pengelolaan kelas. Faktor tersebut meliputi: Jumlah peserta didik dalam kelas Kelas yang jumlah peserta didiknya banyak sulit untuk dikelola. Julah peserta dalam suatu kelas di SLTA yang mencapai rata-rata 40 orang peserta didik dan perguruan tinggi yang kadang-kadang mencapai sekitar 45 orang peserta didik merupakan masalah tersendiri dalam pengelolaan. Besar ruangan kelas Ruang kelas yang kecil dibandingkan dengan jumlah peserta didik untuk bergerak dalam kelas merupakan hambatan lain bagi pengelolaan. Demikian pula halnya dengan jumlah ruangan yang kurang dibanding dengan banyaknya kelas dan jumlah ruangan khusus yang dibutuhkan seperti laboratorium, auditorium, ruang kesenian, ruang gambar, ruang olahraga, dan sebagainya memerlukan penanganan tersendiri. Ketersediaan alat Jumlah buku yang kurang atau alat lain yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya akan menimbulkan masalah pengelolaan kelas. Dengan demikian keempat faktor yang telah disebutkan di atas yaitu faktor guru, peserta didik, lingkungan keluarga, dan fasilitas merupakan faktor yang senantiasa harus diperhitungkan dalam menangani masalah pengelolaan kelas.

BAB IV Prosedur dan Rancangan Manajemen kelas A. Prosedur Manajemen Kelas Guru merupakan kunci keberhasilan dalam pengelolaan proses pembelajaran, sementara itu manajemen kelas merupakan salah satu aspek dari pengelolaan proses pembelajaran yang paling rumit tetapi menarik perhatian. Rumit, karena manajemen kelas itu memerlukan berbagai kriteria keterampilan, pengalaman, bahkan kepribadian serta sikap dan nilai seorang guru. Dua guru yang sama-sama pandai dan berpengalaman tetapi berbeda dalam kepribadian, sikap dan nilai termasuk cara menyikapi subjek didik akan lain situasi belajarnya yang dihasilkan oleh kedua orang guru tadi. Disinilah letaknya seni dalam mengelola proses pembelajaran. Manajemen kelas, dikatakan menarik, karena selain memerlukan kemampuan pribadi serta ketekunan menghadapinya disatu sisi, di sisi lian calon guru, guru, dan guru yang berpengalaman sekalipun akan bergelut dengan manajemen kelas agar terselenggara proses pembelajaran yang efektif demi tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru mempunyai peranan yang besar dalam menentukan keberhasilan manajemen kelas maupun manajemen pembelajaran. Penciptaan sistem lingkungan yang merangsang anak untuk belajar sangat diperlukan karena hanya dengan situasi belajar seperti itulah tujuan akan tercapai.

penjelasan tersebut di atas mengisyaratkan bahwa, guru harus memiliki kemampuan profesional termasuk kemampuan memanajemeni kelas. Untuk memiliki kemampuan manajemen kelas guru antara lain harus memahami prosedur dan rancangan prosedur manajemen kelas. Manajemen kelas merupakan suatu tindakan yang menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang berusaha menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Apabila seorang guru melakukan kegiatan manajemen kelas dengan atau melalui langkah-langkah tertentu, berarti guru tersebut sudah melakukan kegiatan manajemen kelas berdasar prosedur manajemen kelas. Prosedur manajemen kelas adalah serangkaian langkah kegiatan manajemen kelas yang dilakukan bagi terciptanya kondisi optimal serta mempertahankan kondisi optimal tersebut supaya proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Serangkaian langkah kegiatan manajemen kelas mengacu kepada: 1) tindakan pencegahan (preventif) dengan tujuan menciptakan kondisi pembelajaran yang menguntungkan, dan 2) tindakan korektif yang merupakan tindakan koreksi terhadap tingkah laku menyimpang yang dapat menggangu kondisi optimal dari proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Mengacu kepada buah tindakan dalam kegiatan manajemen kelas yaitu tindakan pencegahan (preventif) dan tindakan penyembuhan (kuratif) maka tindakan manajemen kelas juga dapat menjurus kepada tindakan manajemen dimensi pencegahan dan tindakan manajemen dimensi kuratif.

a. Dimensi pencegahan (preventif) Merupakan tindakan guru dalam mengatur peserta didik dan peralatan serta format pembelajaran yang tepat sehingga menumbuhkan kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Maka prosedur pencegahannya merupakan langkah-langkah yang harus diambil oleh guru dalam rangka mengatur peserta didik dan format pembelajaran yang tepat yang mendukung berlangsungnya proses pembelajaran. Langkah-langkah pencegahannya sebagai berikut: -Peningkatan kesadaran diri sebagai guru -Peningkatan kesadaran peserta didik -Sikap polos dan tulus dari guru -Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan -Menciptakan kontrak sosial

b. Dimensi kuratif Merupakan tindakan terhadap tingkah laku yang menyimpang yang sudah terlanjur terjadi agar penyimpangan itu tudak berlarut-larut. Guru berusaha untuk menumbuhkan kesadaran akan penyimpangan yang dibuat dan akhirnya akan menimbulkan kesadaran dan tanggung jawab untuk memperbaiki diri melalui kegiatan-kegiatan yang direncanakan dan dapat dipertanggung jawabkan.

Langkah-langkah prosedur dimensi penyembuhan adalah: - Mengidentifikasi masalah - Menganalisis masalah - Menilai alternative-alternatif pemecahan - Mendapatkan balikan

B. Rancangan Prosedur Manajemen Kelas Pemilikan pengetahuan dan keakraban seorang guru terhadap masalah manajemen kelas baik dimensi preventif maupun dimensi kuratif serta menguasai prosedur masing-masing, merupakan dasar yang kuat untuk menyusun rancangan prosedur manajemen kelas. Rancangan dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk mencapai tujuan tertentu. Menyusun rancangan prosedur manajemen kelas nerarti guru menentukan serangkaian kegiatan tentang langkah-langkah manajemen kelas yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk tujuan menciptakan kondisi lingkungan yang optimal bagi berlangsungnya kegiatan belajar siswa. Manajemen kelas merupakan pangkal kegiatan yang dapat berdimensi preventif dan kuratif, sehingga perencanaan prosedur manajemen kelas ke arah dimensi preventif dan kuratif itu. Tujuannya adalah terciptanya kondisi serta mempertahankan kondisi optimal yang mendukung terlaksananya proses belajar mengajar.

lima faktor yang merupakan hal-hal yang patut dipertimbangkan dalam pembuatan rancangan prosedur manajemen kelas. pemahaman terhadap arti, tujuan, dan hakikat manajemen kelas. pemahaman terhadap hakikat peserta didik yang sedang dihadapi. pemahaman terhadap bentuk penyimpangan serta latar belakang tindakan penyimpangan yang dilakukan peserta didik. pemahaman terhadap pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam manajemen kelas. Pemilikan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat rancangan prosedur manajemen kelas.

Langkah-langkah yang dimaksud adalah: dalam rancangan, perlu ada penjabaran lebih lanjut terhadap langkah-langkah kegiatan yang telah ditetapkan, yang kesemuanya itu mengarah pada pencapaian tujuan. Langkah-langkah yang dimaksud adalah: - Identifikasi dari masalah yang timbul dalam manajemen kelas - Analisis masalah - Penilaian alternatif-alternatif pemecahan, penilaian dan pelaksanaan salah satu alternatif pemecahan - Monitoring pelaksanaan - Balikan hasil pelaksanaan alternatif pemecahan masalah  

proses manajemen kelas dimulai dengan langkah-langkah berikut: Memahami hakikat konsep dan tujuan manajemen kelas Menentukan masalahnya: preventif atau kuratif Mempertimbangkan hakikat anak yang memiliki tingkat pertumbuhan perkembangan sendiri, lalu memperhatikan kenyataan penyimpangan tingkah laku yang ada Menentukan masalahnya: individual atau kelompok Menyusun rancangan prosedur manajemen kelas: preventif individual/kelompok, ataukah kuratif individual/kelompok Menjabarkan langkah-langkah kegiatan rancangan prosedur manajemen kelas, yang meliputi: pengidentifikasian masalah, penganalisaan masalah, penilaian alternative pemecahan yang akan digunakan, pelaksanaan monitoring, dan pengumpulan balikan. Melaksanakan rancangan yang telah disusun, dimana fungsi dan peranan guru sangat menentukan Melaksanakan monitoring untuk mengetahui sejauh mana hasil pemecahan masalah itu dilaksanakan dan ditaati atau telah terjadi perkembangan baru Mendapatkan balikan yaitu tahap pelaksanaan yang telah tiba pada penggunaan hasil monitoring untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.

BAB V PENGATURAN KONDISI DAN PENCIPTAAN IKLIM BELAJAR YANG MENUNJANG salah satu faktor penting dalam pembelajaran adalah kondisi atau suasana belajar. Menurut Tyler proses pembelajaran terjadi melalui pengalaman yang diperoleh siswa dari lingkungan tempat siswa berada. Manajemen kelas tidak hanya berupa pengaturan belajar, fasilitas fisik, dan rutinitas. Tugas manajemen kelas adalah menyiapkan kondisi kelas dan sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana belajar yang efektif. Oleh karena itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara baik pula. Dalam penciptaan iklim belajar yang menunjang guru dihadapkan kepada beberapa faktor yang dapat menjadi kendala atau pendukung terciptanya kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar. Sebagai bekal dalam menciptakan iklim belajar yang menunjang, guru harus memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar, dan prinsip-prinsip mengajar yang dapat mendukung terciptanya kondisi belajar optimal tersebut bagi terciptanya proses belajar. Kesemuanya itu perlu dipahami oleh para guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

1. Kondisi dan Situasi Belajar-Mengajar a. Kondisi Fisik - Ruangan tempat berlangsungnya pembelajaran - Pengaturan tempat duduk - Ventilasi dan pengaturan cahaya - Pengaturan penyimpanan barang-barang

b. Kondisi Sosio-Emosional Kondisi sosio-emosional akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektivitas tercapainya tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi hal-hal berikut ini. 1) Tipe kepemimpinan 2) Sikap guru 3) Suara guru 4) Pembinaan hubungan baik

c. Kondisi Organisasional Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun pada tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah manajemen kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada semua siswa secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Kegiatan rutinitas tersebut antara lain: 1) Pergantian pelajaran 2) Guru berhalangan hadir 3) Masalah antar siswa 4) Upacara bendera 5) Kegiatan lain Kegiatan lain yang merupakan kegiatan rutin kelas

d. Kondisi Administrasi Teknik Kondisi administrasi teknik akan turut mempengaruhi manajemem pembelajaran. Ke dalam kondisi administrasi teknik ini termasuk: - Daftar presensi - Ruang bimbingan siswa - Tempat baca - Tempat sampah - Catatan pribadi siswa

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.

3. Mengajar yang Efektif Mengajar adalah membimbing siswa agar mereka mengalami proses belajar. Dalam belajar para siswa menghendaki hasil belajar yang efektif: Demi tuntutan tersebut guru harus membantu dengan cara mengajar yang efektif pula. Mengajar efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar yang efektif. Untuk dapat mengajar secara efektif guru harus mampu menciptakan iklim belajar yang menunjang terciptanya kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar. Kondisi yang dimaksudkan hanya dapat terjadi apabila guru mengajar menggunakan prinsip-prinsip mengajar.

BAB VI MANAJEMEN GURU TERHADAP PEMBELAJARAN A. Hakikat Guru Menurut Saiful Bahri Djamarah (2002:73) secara keseluruhan guru adalah figur yang menarik perhatian semua orang, entah dalam keluarga, dalam masyarakat atau di sekolah. Apapun istilah yang dikedepankan tentang figur guru, yang pasti semua itu merupakan penghargaan yang diberikan terhadap jasa guru yang banyak mendidik umat manusia dari dulu hingga sekarang. Masyarakat melihat figur guru sebagai manusia serba bisa tanpa cela dan nista. Mereka melihat guru sebagai figur yang kharismatik. Kemuliaan seorang guru tercermin dari kepribadian sebagai manifestasi dari sikap dan perilaku dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sedikit cela dan nista dari pribadi guru maka masyarakat mencaci makinya habis-habisan dan hilanglah wibawa guru itu.

Menurut Mulyasa (2007:35), semua orang yakin bahwa guru memiliki andil sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan ini muncul karena manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir bahkan pada saat meninggal. Semua itu menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam pekembangannya, demikian halnya peserta didik; ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal

B.Guru Sebagai Sumber Belajar Menurut Piet A. Sahertian (1992:34), yang dimaksud dengan peranan guru ialah keterlibatan aktif seseorang dalam suatu proses kerja dalam proses penampilan itu ia tampil sebagai sesuatu yang dimainkan. Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Kita bisa menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Dikatakn guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar-benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya. Apapun yang ditanyakan siswa berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkannya, ia akan bisa menjawab dengan penuh keyakinan. Sebaliknya, dikatakan guru yang kurang baik manakala ia tidak paham tentang materi yang diajarkannya.

Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut: Sebaliknya guru memiliki bahan referensi yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa. Guru dapat menunjukkan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yang biasanya memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata siswa yang lain. Guru perlu melakukan pemetaan tentang materi pelajaran, misalnya dengan menentukan materi inti (core), yang wajib dipelajari siswa, mana materi tambahan, mana yang harus diingat kembali karena pernah dibahas, dan lain sebagainya. Melalui pemetaan semacam ini akan memudahkan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai sumber belajar.

C. Guru Sebagai Pendidik Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Berkaitan dengan tanggung jawab, guru harus mengetahui nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat.

D. Guru Sebagai Pembelajar Menurut Martinis Yamin dan Bamsu I, Ansari (2008:99), guru merupakan salah satu komponen yang berpengaruh dan memiliki peran penting serta merupakan kunci pokok bagi keberhasilan peningkatan mutu pendidikan. Sejak adanya kehidupan sejak itu pula guru telah melaksanakan pembelajaran, dan memang hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang pertama dan utama. Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi dan memahami materi standar yang dipelajari. Berkembangnya teknologi, khususnya teknologi informasi yang begitu pesat perkembangannya, belum mampu menggantikan peran dan fungsi guru, hanya sedikit menggeser atau mengubah fungsinya, itupun terjadi di kota-kota besar saja, ketika para peserta didik memiliki berbagai yang dipelajari. Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyaknya buku dengan harga yang relatif murah, kecuali atas ulah guru. Di samping itu, peserta didik dapat belajar dari berbagai sumber seperti radio, televisi, berbagai macam film pembelajaran bahkan program internet atau electronic learning (e-learning). Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas utama guru yang disebut ”mengajar”.

Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika faktor-faktor diatas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Sehubungan dengan itu, sebagai orang yang bertugas menjelaskan sesuatu, guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik, dan berusaha lebih terampil dalam memecahkan masalah.

beberapa hal yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran, sebagai berikut: - Membuat ilustrasi - Mendefinisikan - Menganalisis - Mensintesis - Bertanya - Mendengarkan - Menciptakan kepercayaan - Memberikan pandangan yang bervariasi - Menyediakan media untuk mengkaji materi standar - Menyesuaikan metode pembelajaran - Memberikan nada perasaan

Uraian diatas lebih bersifat teknis, karena dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik, guru melakukan banyak hal melalui kebiasaan, tentu saja ada keinginan untuk meningkat kemampuan dalam pelaksanaannya, sehingga hasilnya pun semakin baik yang diwujudkan dalam prestasi belajar peserta didik. Menurut Margaret E. Bell Gredler (1991:1), belajat adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar mulai dalam masa kecil, ketika bayi memperoleh sejumlah kecil keterampilan yang sederhana, seperti memegang botol susu dan mengenal ibu. Selama masa kanak-kanak dan masa remaja, diperoleh sejumlah sikap, nilai, dan keterampilan hubungan sosial, demikian pula diperoleh kecakapan dalam berbagai mata pelajaran di sekolah.

E. Guru Sebagai Pembimbing Guru dapat diharapkan sebagai pembimbing perjalanan yang berdasarkan pengetahuannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus di tempuh, menggunakan petunjuk perjalanan, serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Semua itu dilakukan berdasarkan kerja sama yang baik dengan peserta didik, tetapi guru memberikan pengaruh dalam aspek setiap perjalanan. Sebagai pembimbing, guru memiliki berbagai hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakan.

Istilah perjalanan merupakan suatu proses belajar, baik dalam kelas maupun di luar kelas yang mencakup seluruh kehidupan. Analogi dari perjalanan itu sendiri merupakan pengambangan setiap aspek yang terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap perjalanan tertentu mempunyai tujuan, kecuali orang yang berjalan secara kebetulan. Keinginan, kebutuhan, dan bahkan naluri manusia menuntut adanya suatu tujuan. Suatu rencana dibuat, perjalanan dilaksanakan dan dari waktu ke waktu terdapatlah saat berhenti untuk melihat ke belakang serta mengukur sifat, arti, dan efektifitas perjalanan sampai tempat berhentinya tadi.

F. Guru Sebagai Pelatih Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan dan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindah sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan seorang peserta didik tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar, dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar. Oleh karena itu, guru harus berperan sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan potensi masing-masing.

Pelatihan yang dilakukan, di samping harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik, dan lingkungannya. Untuk itu, guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin. Benar guru tidak dapat mengetahui sebanyak yang harus diketahui, tetapi dibandingkan orang yang belajar bersamanya dalam bidang tertentu yang menjadi tanggung jawabnya, ia harus lebih banyak tahu. Meskipun demikian, tidak mustahil kalau suatu ketika menghadapi kenyataan bahwa guru tidak tahu tentang sesuatu yang seharusnya tahu.

G. Guru Sebagai Penasehat Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Banyak guru cenderung menganggap bahwa konseling terlalu banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha untuk mengatur kehidupan orang, dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini. Menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaran meletakkannya pada posisi tersebut. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Peserta didik akan menemukan sendiri dan secara mengherankan, bahkan mungkin menyalahkan apa yang ditemukannya, serta akan mengadu kepada guru sebagai orang kepercayaannya. Makin efektif guru menangani setiap permasalahan makin banyak kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasehat dan kepercayaan diri. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan, dan penasehat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.

H. Guru Sebagai Agen Pembaharu (Innovator) Guru menterjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berbeda jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. Guru harus menjembatani jurang ini bagi peserta didik, jika tidak, maka hal ini dapat mengambil bagian dalam proses belajar yang berakibat tidak menggunakan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Tugas guru adalah memahami bagaimana keadaan jurang pemisahan menjadi dasar adalah pemikiran-pemikiran tersebut, dan cara yang digunakan untuk mengekspresikan di bentuk oleh corak waktu ketika cara-cara tadi dipergunakan. Bahasa memang merupakan alat untuk berpikir, melalui pengamatan yang dilakukan dan menyusun kata-kata serta menyimpan dalam otak, terjadilah pemahaman sebagai hasil belajar.

I. Guru Sebagai Model dan Teladan Guru merupakan model atau teladan bagi peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Keprihatinan, kerendahan, kemalasan, dan rasa takut, secara terpisah ataupun bersama-sama bisa menyebabkan seseorang berpikir atau berkata, ”jika saya harus menjadi teladan atau dipertimbangkan untuk menjadi model, maka pembelajaran bukanlah pekerjaan yang tepat bagi saya.”