Indah Praditasari Natalia Onggo Rezky Okabe

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
COACHING: GROW ME MODEL
Advertisements

Perkembangan sosial pada anak-anak tengah
Indikasi critical optimum point telah terlewati dan memunculkan stress  Semakin banyak terjadi pelanggaran yang tidak perlu  Muncul penyimpangan seksual.
PERILAKU NEGATIF DALAM ORGANISASI
KONFLIK DAN FRUSTASI.
Agresi pertemuan Matakuliah : pengantar psikologi sosial
KEPATUHAN SEBAGAI PRESDISPOSISI PERILAKU ANTISOSIAL
Copyright © 2009 Tommy's Window. All Rights Reserved ♫ Turn on your speakers! ♫ Turn on your speakers! CLICK TO ADVANCE SLIDES.
Agresi dan Altruisme.
Social Learning Theory
AGRESI, FRUSTRASI & KONFLIK
Teori Kepribadian Albert Bandura
Emotions, Stress, and Health
AGRESI Psikologi Umum II.
Agresi Interpersonal.
Click to edit Master title style Click to edit Master subtitle style.
Click to edit Master title style Click to edit Master subtitle style.
AGRESI DALAM OLAHRAGA Joko Purwanto, M.Pd. FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
Oleh Dhinda Putri Fhany Aprilia Natalia Onggo
Model perilaku organisasi
Cognitive Dissonance Theory
KONSEP-KONSEP PERILAKU
Chapter 13 Conclusions and Future Directions
Cognitive Dissonance Theory
Social Learning Theory
Coaching Youth Sports: Special Considerations
Psi Kepribadian II: Albert Bandura
Attitude and Personality
Athletes Speak For Themselves
Teori Kepribadian Albert Bandura
Peran Faktor Biologis: Dari Insting hingga Perspektif Psikologi Evolusioner
Kecakapan Antarpribadi
OLEH: WINNY PUSPASARI THAMRIN
AGRESI, FRUSTRASI & KONFLIK
Athletes Speak For Themselves
KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN KONFLIK
KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN KONFLIK
PERBEDAAN INDIVIDU Nataya Charoonsri R.
TEORI SOCIAL COGNITIVE “BANDURA & MISCHELL”
Click to edit Master title style FPPT.com. Slide Title Make Effective Presentations Using Awesome Backgrounds Engage your Audience Capture Audience Attention.
MANAJEMEN STRES (STRESS MANAGEMENT)
Coping.
Asuransi Personal Modul 11 Pembelaan Terhadap Tuntutan
AGRESI, FRUSTRASI & KONFLIK PERTEMUAN 12 NOVENDAWATI WAHYU SITASARI
Pengasuhan Anak Usia Sekolah Dasar PERTEMUAN 8
Teori Kepribadian Albert Bandura
AGRESI, FRUSTRASI & KONFLIK
Motivasi dan Emosi.
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
Sesi 4 : DIAGNOSIS PERILAKU SEHAT
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
Click to edit Master title style Click to edit Master subtitle style.
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
Click to edit Master title style FPPT.com. Slide Title Make Effective Presentations Using Awesome Backgrounds Engage your Audience Capture Audience Attention.
Click to edit Master title style Click to edit Master subtitle style.
Click to edit Master title style Click to edit Master subtitle style.
Oleh Dhindayanti Putri Fhany Aprilia Rezky Okabe
Dinda Ayu Dwi Madinna Nindi Shadrina Pritha Rahmadanty
Click to edit Master title style Click to edit Master subtitle style.
Cognitive Dissonance Theory
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
Model perilaku organisasi
The science of sport psychology
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
SESI 11: model social cognitive theory
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
HADI ABDILLAH, S.KEP., MMRS. Empati 8 Simpati “Saya mengerti bagaimana perasaanmu”. “I understand how you feel”. “Saya merasa kasihan atas.
This presentation uses a free template provided by FPPT.com Click to edit Master title style FPPT.com.
Transcript presentasi:

Indah Praditasari Natalia Onggo Rezky Okabe Aggression in Sport

What is Aggression Aggression  Behavior  harm another person Husman & Silva (1984)  proactive assertion, ex: blocking, shooting Second  aggression does not happen by accident Instrumental aggression  achieve some goal

Theoretical Bases of Aggression Scientist  Biological & Psychological factors Theory : Biological Theories Catharsis Hypotesis Frustration-aggression hypothesis Social Learning theories

Biological Theories Aggression  Natural Konrad & Lorenz (1966)  fight for survival

Catharsis Hypotesis Bushman, Stack & Baumeister (1996) Acting, viewing aggressive behavior  reducing anger Based on Freud’d hydraulic model of anger Research literature  not support the theory

Frustration-Aggresion Hypothesis Displaced aggression  other objects Reformulation pf the F-A Hypothesis: Berkowitz (1989)  link between F-A more compicated Frustation could  withdrawal Widmeyer et all (2002)  F sources  losing games

Social Learning Theory Albert Bandura (1973)  modeling & vicarious Modeling  imitate the action Vicarious  reward & punish for aggressive Social learning theory more validated in real-life sport situations than ice hockey

Agression and Sport Performance Performa dapat meningkat sebagaimana tingkat arousal seseorang meningkat dan kemudian dapat memburuk ketika atlet menjadi over aroused. Setiap olahraga dan kemampuan olahraga mungkin mencakup tingkat arousal yang diinginkan, high – low. Arousal yang rendah tidak memunculkan energi, kecepatan dan kekerasan mental seorang atlet. Arousal yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan atlet terkena pinalti, menyesatkan perhatian, mengurangi konsentrasi, dll.

Pros & Cons of Aggressive Performance : Tidak semua pelatih setuju dengan aggressive behavior, lebih setuju dengan relaxation dengan mengurangi hostility. Tiga alasan yang menjelaskan kesulitan dalam mengukur skala agresi : Agresi tidak dapat diukur secara langsung. Tidak ada kesepakatan mengenai penalti untuk agresivitas Sulit membedakan antara kesuksesan dengan hasil performa.

The Assertive Athlete Beberapa literatur agresi membedakan perilaku dimaksudkan untuk menyakiti orang lain dan perilaku yang merugikan atau dapat menimbulkan cedera. Tindakan agresif dimotivasi oleh hostile intentions dan mengacu pada tindakan yang mencerminkan tingkat yang sesuai kinerja (Connelly,1988) Assertive player tidak membiarkan lawannya untuk mengambil keuntungan dari mereka maupun mereka juga tidak mudah dikuasai atau dipermainkan namun mereka juga menghormati keterampilan lawan dan keselamatan pribadi. Assertive player juga merasa tidak nyaman dengan perilaku mereka dan memiliki rasa menyesal dengan hostile agression , kehilangan kesabaran, dan ”playing dirty”.

Implications for Coaches and Athletes Jika menang adalah tujuan penting, perilaku agresif lebih efektif jika dilakukan di awal kontes. Jika atlet sudah siap mental, memprovokasi dia untuk bersikap keras atau untuk lebih agresif merupakan hal yang tidak bijaksana. Ketika pertemuan pertama, pelatih harus menyatakan harapan mereka terhadap perilaku atlet yang tepat di masa depan. Atlet yang menyalahgunakan aturan dan agresif ketika perilaku tersebut tidak sanksi harus segera ditegur Jika agresi diinginkan, maka instrumen harus lebih dipromosikan daripada agresi gol.

mengekspos atlet untuk model atau contoh orang yang berhasil tanpa menggunakan hostile dengan menggunakan skill yang baik Mengajarkan atlet untuk mengatasi kegagalan dan perlakuan kasar, terutama ketika hal tersebut bersifat non fisik. Pelatih harus memberikan penguatan positif kepada atlet yang dapat mengotrol kesabaran dengan baik. Berperilaku asertive jika memang dibutuhkan untung membangun suasan yang kompetitif. Untuk mengurangi hostility , dorong interaksi antara tim lawan.

Gender Differences & Aggression in Sport Pria cenderung berperilaku lebih agresif daripada perempuan Penelitian: Pria lebih merasa frustasi selama kompetisi Pria cenderung lebih sering ingin marah dan melukai lawan, sedangkan perempuan lebih ingin menganggapi frustasi tersebut Pria lebih dapat dimaklumkan apabila melanggar peraturan (melukai lawan) Agresi dalam olahraga tidak akan hilang, kecuali ketika perselisihan/keributan terjadi administrator olahraga dan orangtua memberi sanksi. Atlet melakukan apa yang diajarkan dan perlu dilakukan, atlet tidak bersalah melainkan orangtua, pelatih, dan administrator olahraga. Maka sebaiknya, atlet yang terlalu agresif, energinya diarahkan ke arah yang positif yang dapat diterima secara sosial.

Mental Control of Anger Ada beberapa pandangan: 1st: kemarahan tidak dapat dikendalikan, emosi adalah nafsu 2nd: kemarahan tidak harus dikendalikan, pembatasan rasa marah menyebabkan kesehatan fisik dan mental yang buruk dan kemarahan yang meledak 3rd: kematahan dapat dikendalikan, kenyatannya dicegah Meskipun kemarahan dapat dikendalikan, diatur, dan disalurkan. Akan tetapi, kemarahan tidak dapat dihilangkan, itu sebabnya program yang ada disebut sebagai manajemen kemarahan bukan pencegahan kemarahan.

Mental Control of Anger cont’ Program manajemen kemarahan terdiri dari beberapa kategori teknik: Relaxing activities – taking deep breaths, lying down, meditating, taking a long walk, social isolation Cognitive self-manipulations – watching tv, attending a sport event, empathy, sensitivity to personal needs, reduces the negative emotion, using humor Physical exercise – memecahkan fokus seseorang yang negatif dan membuat fisik seseorang lelah Ada 2 teknik untuk menggunakan atau menyalurkan kemarahan yaitu belajar melatih kemarahan ke hal positif dan crystallization of discontent. Strategi manajemen kemarahan -> channeling (penyaluran) -> menyakiti diri sendiri (berlatih terlalu keras) dan melukai orang lain.

Mental Control of Anger cont’ Ada strategi manajemen kemarahan yang kontroversial -> justification (pembenaran) -> orang yang marah mungkin merasa dibenarkan dalam bersikap agresif, meskipun tergantung pada tingkat keparahan pelanggaran. Psikolog setuju bahwa kemarahan adalah emosi yang normal. Masalahnya adalah bagaimana kemarahan diekspresikan dan sejauh mana kemarahan mengarah ke agresi.

Spectators & Violence in Sport Penyebab agresi fisik/kekerasan penonton: alkohol, kursi murah, keterlambatan permainan, mengintimidasi tim lawan, cuaca panas, dan keagresifan atlet. Kekerasan penonton dapat diminimalisir dengan cara: 1. Menghilangkan atau mengurangi ketersediaan alkohol di tempat olahraga 2. Memulai pertandingan tepat waktu, selesai tepat waktu 3. Menghasilkan dan melaksanakan kebijakan keras yang menghukum perilaku kasar dari pemain dan pelatih 4. Memberikan informasi kepada pelatih, orang tua, pengatur permainan, dan atlet tentang cara menangani stres dan frustasi yang kontrusktif 5. Memiliki personel keamanan yang memadai

Summary

Slide Title Make Effective Presentations Using Awesome Backgrounds Engage your Audience Capture Audience Attention

Slide Title Make Effective Presentations Using Awesome Backgrounds Engage your Audience Capture Audience Attention