PENALARAN DALAM GEOMETRI

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
GEOMETRI BIDANG Sumarno A
Advertisements

Gambar Teknik Gambar  salah satu informasi visual
BAB 1. LOGIKA MATEMATIK 1.1 PROPOSISI Definisi: [Proposisi]
Telaah kurikulum 1 Drs. DARMO
Oleh : LUFVIANA LIKKU TRIMINTARUM A
Bab 1 INTEGRAL.
Teorema Pythagoras hanya berlaku untuk segitiga siku-siku.
Induksi Matematika.
Logika Matematika Matematika SMK Kelas/Semester: II/2
LOGIKA MATEMATIKA Pertemuan III.
Deduktif - Aksiomatik Perkembangan Geometri
Negasi dari Konvers, Invers, dan Kontraposisi
Bab 5 TRANSFORMASI.
1.2. Logika Predikat Pada pembahasan pasal sebelumnya kita telah
Logika Matematika Matematika SMK Kelas/Semester: II/2
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP YPM BANGKO 2014
PERTEMUAN II SISTIM AKSIOMA 1. Istilah tak terdefinisi
0.5 SIMETRI DAN PENCERMINAN
RUANG DIMENSI TIGA
2.1 Bidang Bilangan dan Grafik Persamaan
PENGANTAR DASAR MATEMATIKA
Macam-Macam Bangun Ruang
HAKIKAT MATEMATIKA 1.
BAB 4 Logika Matematika Standar Kompetensi: Kompetensi Dasar:
METODOLOGI PENELITIAN
Bilangan Real Himpunan bilangan real adalah himpunan bilangan yang merupakan gabungan dari himpunan bilangan rasional dan himpunan bilangan irasional Himpunan.
PROYEKSI SIKU-SIKU gambar proyeksi siku-siku dilihat dari enam arah pandang yaitu Pandangan Atas (PA) adalah tampak benda bila dilihat dari atas Pandangan.
BAB 1. LOGIKA MATEMATIK 1.1 PROPOSISI Definisi: [Proposisi]
Oleh : Siardizal, S.Pd., M.Kom
1. Seorang pedagang menjual barangnya sebesar Rp ,00
Pertemuan ke 1.
Induksi Matematika.
MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA
LOGIKA MATEMATIKA.
GEOMETRI DALAM BIDANG Pertemuan 14.
LOGIKA Logika mempelajari hubungan antar pernyataan-pernyataan yang berupa kalimat-kalimat atau rumus-rumus, sehingga dapat menentukan apakah suatu pernyataan.
PENALARAN MATEMATIKA OLEH KELOMPOK 1 Nama:
ZULFA ROHMATUL MUBAROKAH ( /4A)
Sabtu, 27 Januari 2018 Kalimat Matematika Oleh : Choirudin, M.Pd.
Geometri Netral ? Geometri yang dilengkapi dengan sistem aksioma-aksioma insidensi, sistem aksioma-aksioma urutan, sistem aksioma kekongruenan (ruas garis,
LOGIKA MATEMATIKA.
PROPOSITION AND NOT PROPOSITION
LOGIKA MATEMATIKA.
GEOMETRI ●.
LOGIKA MATEMATIKA.
IMPLIKASI (Proposisi Bersyarat)
Kelompok 6 Logika Matematika.
PENARIKAN KESIMPULAN/ INFERENSI
Logika Matematika Bab 5: Induksi Matematika
Geometri terurut Disusun oleh: Ana Samrotul Jannah ( )
Di susun oleh : Azah Elvana ( )
Logika Matematika Fadjar Shadiq, M.App.Sc
Matematika Diskrit TIF (4 sks) 3/9/2016.
GEOMETRI BIDANG DATAR oleh: Elis muslimah
NEGASI PERNYATAAN MAJEMUK
LOGIKA MATEMATIKA Penerbit erlangga.
LOGIKA MATEMATIKA (Pernyataan Majemuk)
Logika dan Logika Matematika
DEFINISI DALIL AKSIOMA
RUMUS LUAS DAN KELILING BANGUN DATAR
Sifat Sifat Bilangan Real
KONVERS, INVERS, KONTRAPOSISI TAUTOLOGI & KONTRADIKSI
Penalaran Matematika.
Materi perkuliahan sampai UTS
KALKULUS - I.
Contoh 1 Kalimat (p → q) → r bernilai benar Jika
LOGIKA MATEMATIKA.
INFERENSI LOGIKA.
SMK/MAK Kelas XI Semester 1
Transcript presentasi:

PENALARAN DALAM GEOMETRI Oleh : Uswatun Khasanah Tika Nurleli Nurfeti Dwi Susilowati Siti Amidah

Sub Materi Pokok : 1. Penalaran Induksi 2. Contoh Sangkalan 3. Penalaran Deduksi 4. Konvers, Invers, dan Kontraposisi 5. Penarikan Kesimpulan 6. Postulat Geometri 7. Postulat Pengukuran

Penalaran Induksi Penalaran adalah sebuah proses berpikir untuk penarikan kesimpulan dari suatu informasi. Penalaran induksi, yakni proses berpikir untuk menarik kesimpulan dari pengamatan kasus-kasus khusus menuju hal yang bersifat umum.

Contoh berikut dapat menunjukkan bahwa penalaran induksi dapat digunakan dalam geometri Potonglah tiga model bentuk segitiga yang berbeda dari selembar kertas  Pojok dari setiap segitiga dipotong dan dipasangkan bersama seperti gambar di bawah ini  

Proses penalaran induksi di deskripsikan sebagai berikut: Langkah 1: kamu mengamati sebuah benda yang benar untuk setiap kasus yang kamu cek Langkah 2: karena benda tersebut benar untuk semua kasus yang kamu cek, kamu menyimpulkan bahwa benda tersebut benar untuk semua kasus yang lain dan juga menyatakan suatu pernyataan yang bersifat umum. 

Penalaran Deduktif Penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik

Setelah itu kita menggunakan penalaran induksi untuk menemukan beberapa pernyataan umum tentang bentuk-bentuk tersebut. Kita membutuhkan metode untuk membuktikan bahwa pernyataan umum yang kita temukan benar untuk semua kejadian. Metode yang akan kita gunakan disebut penalaran deduksi. Proses penalaran deduksi menginginkan agar kita menerima beberapa pernyataan umum yang bersifat dasar tanpa adanya bukti. Hal seperti ini disebut postulate. Semua pernyataan umum yang dapat dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan definisi, postulat dan logika penalaran deduksi disebut teorema (dalil).

Langkah – langkah dalam penalaran Deduktif: Mulai dengan memberi kondisi (hipotesis) Gunakan logika dan definisi, postulate, atau teorema sebelumnya untuk membuktikan rentetan pernyataan atau langkah – langkah mana yang pasti (sesuai) untuk hasil yang diinginkan. Menyatakan hasil (kesimpulan)

Tipe Pernyataan Jika-Maka Definisi Pernyataan Jika-Maka adalah sebuah pernyataan dengan bentuk jika p maka q dimana p dan q adalah pernyataan sederhana, p disebut hipotesis, q disebut kesimpulan. Simbol p  q ( baca p implikasi q) digunakan untuk mewakili sebuah pernyataan Jika-Maka. Contoh : Diberikan hipotesis dan kesimpulan, tulis pernyataan Jika-Maka nya Hipotesis ( p ) : Bangun datar ABCD adalah sebuah persegi Kesimpulan ( q ) : ABCD memiliki empat sisi yang kongruen

Jika-Maka ( p  q ) : Jika ABCD adalah sebuah persegi, maka ABCD memiliki empat sisi kongruen Sebuah pernyataan Jika-Maka bernilai benar ketika hipotesis bernilai benar, kesimpulan juga benar atau katakanlah sebaliknya, sebuah pernyataan Jika-Maka bernilai salah hanya ketika hipotesisnya bernilai benar dan kesimpulannya bernilai salah

Konvers, Invers, dan Kontraposisi Dari implikasi p ⇒ q , dapat dibentuk tiga implikasi lain dengan menggunakan p dan q sebagai dasar: Konversnya, yaitu q ⇒ p Inversnya, yaitu ~p ⇒ ~q Kontraposisinya, yaitu ~q ⇒ ~p Dengan demikian; konvers, invers, dan kontraposisi dari implikasi  “Jika suatu bendera adalah bendera RI maka ada warna merah pada bendera tersebut.” berturut-turut adalah: Jika suatu bendera ada warna merahnya maka bendera tersebut adalah bendera RI (q ⇒ p) atau konvers dari implikasi p ⇒ q. Jika suatu bendera bukan bendera RI maka pada bendera tersebut tidak ada warna merahnya (~p ⇒ ~q) atau invers dari implikasi p ⇒ q. Jika suatu bendera tidak ada warna merahnya, maka bendera tersebut bukan bendera RI (~q ⇒ ~p) atau kontraposisi dari implikasi p ⇒ q.

Penarikan Kesimpulan Penarikan kesimpulan diawali dengan menentukan himpunan pernyataan tunggal atau pernyataan majemuk yang saling berelasi, dan atau telah diketahui kebenarannya, kemudian dapat diturunkan suatu pernyataan tunggal atau pernyataan majemuk. Himpunan Pernyataan tunggal atau pernyataan majemuk yang ditentukan disebut premis, sedangkan pernyataan tunggal atau pernyataan majemuk yang diturunkan dari premis-premis disebut simpulan(konklusi). Ada 3 pola penarikan kesimpulan, yaitu : Modus Ponens Bentuk argument modus ponens Premis 1 : p ⇒q (benar) Premis 2 : p (benar) Konklusi : q (benar) Modus Tollens Premis 1 : p ⇒q (benar) Premis 2 : q (benar) Konklusi : p (benar) Sillogisme Premis 1 : p ⇒q (benar) Premis 2 : q ⇒r (benar) Konklusi : p ⇒r (benar)

Postulate Geometri  Postulat adalah pernyataan yang diterima tanpa ada yang menyamakan postulat dengan aksioma sehingga mereka dapat dipertukarkan. Postulat geometri dapat dibandingkan dengan aturan game. Dalam “game of geometry” kita terima postulat sebagai kebenaran dan menggunakannya untuk membantu kita dalam membuktikan suatu teorema. Untuk menjamin adanya titik kita terima postulat ini. Postulat juga memberi informais tentang garis-garis dan bidang-bidang.

Postulate Pengukuran The Ruler Postulate Untuk setiap pasang titik yang menghubungkan sebuah bilangan positif yang unik disebut dengan jarak diantara titik-titik itu.Titik-titik yang ada pada sebuah garis dapat dipasangkan satu-satu dengan bilangan-bilangan real sehingga jarak diantara 2 titik adalah nilai mutlak dari selisih bilangan yang mereka gabungkan. Postulate busur derajad Untuk setiap sudut yang menghubungkan sebuah bilangan real diantara 0 dan 180 disebut ukuran sudut (m).Misal P menjadi sebuah titik yang berada pada tepi separuh bidang H. Tiap sinar garis pada separuh bidang atau tepi bidang itu dengan puncak di P dapat dipasangkan satu-satu dengan bilangan real n, 0n180, sehingga ukuran sudut dibentuk oleh sepasang sinar garis yang tidak sejajar dengan ujung (puncak) P, yang merupakan nilai mutlak dari selisih bilangan yang mereka gabungkan.