LECTURE #2 PENGANTAR LOGIKA MATEMATIKA DISKRIT TKE 072107 Ari Fadli, S.T. Program Studi Teknik Elektro, UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
L o g I k a 1# Konsep Dasar Logika Anggraini Mulwinda ST MEng
Advertisements

Lecture #3 LOGIKA PROPOSISI
LECTURE #1 TERMMINOLOGI DASAR MATEMATIKA DISKRIT TKE Ari Fadli, S.T. Program Studi Teknik Elektro, UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN.
Pertemuan bilqis.
Pengenalan Logika Informatika
Pertemuan Ke-1 Oleh: Vindo Feladi, ST, M.Pd
Pengenalan logika Pertemuan 1.
Kuliah matematika diskrit Program Studi Teknik Elektro
Pengantar Logika Informatika
Kuliah matematika diskrit Program Studi Teknik Elektro
Bab 1 Logika Matematika Matematika Diskrit.
Kuliah matematika diskrit Program Studi Teknik Elektro
Kuliah matematika diskrit Program Studi Teknik Elektro
Pengenalan Logika Informatika
LOGIKA INFORMATIKA.
Logic & Learning Method
[SAP 9] SILOGISME HIPOTETIS
7. Inverensi Logika 7.1. Validitas suatu argumen
BAB I DASAR-DASAR LOGIKA PERTEMUAN KE-2 OLEH:
Proposisi. Pengantar  Pokok bahasan logika, atau objek dari logika adalah pernyataan-pernyataan atau kalimat yang memiliki arti tertentu dan memiliki.
Logika Matematika Matematika SMK Kelas/Semester: II/2
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP YPM BANGKO 2014
VALIDITAS PEMBUKTIAN – Bagian II
Logika Matematika Pengenalan Logika Matematika dan Pengantar Logika Proposisional AMIK-STMIK Jayanusa ©2009 Pengantar Logika.
Pengantar Logika Informatika
REPRESENTASI PENGETAHUAN - LOGIKA
1.2. Logika Predikat Pada pembahasan pasal sebelumnya kita telah
Pertemuan Ke-1 Oleh: Vindo Feladi, ST, M.Pd
1. 2 Adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari atau berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen yang valid.
Core Jurusan Teknik Informatika Kode MK/SKS : TIF /2
Penarikan Kesimpulan Ekivalensi Ekspresi Logika
VALIDITAS PEMBUKTIAN TATAP MUKA 6 Prodi PGSD FKIP UPM.
Logika Matematika Oleh : Dani Suandi, M.Si. KELOMPOK I.
BAB 1. LOGIKA MATEMATIK 1.1 PROPOSISI Definisi: [Proposisi]
Pengantar logika informatika
PEMBUKTIAN Secara umum pembuktian dapat ditulis sebagai :
Pertemuan ke 1.
Logika Matematika Pendahuluan.
ATURAN PENENTUAN KESIMPULAN (Rule of Inference)
LOGIKA Logika mempelajari hubungan antar pernyataan-pernyataan yang berupa kalimat-kalimat atau rumus-rumus, sehingga dapat menentukan apakah suatu pernyataan.
Mata Kuliah Logika Informatika Teknik Informatika SKS
Pertemuan Ke-1 Oleh: Vindo Feladi, ST, M.Pd
Pertemuan # 2 Logika dan Pembuktian
DU.116 Lise Sri Andar Muni Teknik Informatika STT Wastu Kencana 2013
Proposisi.
Validitas Argumen dengan Aturan Inferensi
LOGIKA MATEMATIKA.
ALGORITMA DAN PEMROGRAMAN
Matematika diskrit Kuliah 1
BAB I DASAR-DASAR LOGIKA PERTEMUAN KE-2 OLEH: SRI WEDA MAHENDRA S.T.
LOGIKA MATEMATIKA (Lanjutan).
Pembuktian Langsung Dan Skema Penarikan Kesimpulan
Matakuliah Pengantar Matematika
KESETARAAN LOGIS Dua buah pernyataan yang berbeda dikatakan setara/equivalen bila nilai kebenarannya sama Contoh: Tidak benar bahwa aljabar linier adalah.
NEGASI PERNYATAAN MAJEMUK
LOGIKA MATEMATIKA Penerbit erlangga.
I. Pengantar umum Logika
Semantik II Oleh : Dani Suandi, M.Si. KELOMPOK I.
VALIDITAS PEMBUKTIAN – Bagian I
Adalah cabang dari matematika yang mengkaji objek-objek diskrit.
Kurniawan Saputra, S.Kom., M.Kom Agiska Ria Supriyatna, S.Si, MTI
Logika Informatika (Pengenalan Logika Matematika)
Pengantar Logika Informatika
1. 2 Suatu pernyataan akan memiliki bentuk susunan minimal terdiri dari subjek diikuti predikat, baru kemudian dapat diikuti objeknya. Setiap kalimat.
Pertemuan Ke-1 Ridwan, S.T,. M.Eng Ridwan, S.T, M.Eng.
Logika Informatika A Pertemuan 1
Contoh 1 Kalimat (p → q) → r bernilai benar Jika
Pengantar logika informatika
INFERENSI LOGIKA.
PENARIKAN KESIMPULAN.
Transcript presentasi:

LECTURE #2 PENGANTAR LOGIKA MATEMATIKA DISKRIT TKE Ari Fadli, S.T. Program Studi Teknik Elektro, UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

1. Logika 2. Jenis-jenis Logika 3. Argumen 4. Logika Argumen 5. Validitas 6. Argumen Logis (Sound, Logically Sound) 7. Argumen Tidak Logis (Not Sound, Fallacy Sound)

Logika Logika/logic berasal dari bahasa yunani “logos” yang artinya ilmu pengetahuan yang mempelajari atau berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen yang valid

 Logika Klasik Pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles (384 – 322 BC). Dalam hal ini Aristoteles mengembangkan suatu aturan untuk penalaran silogistik yang benar.  Logika Modern Logika modern atau logika simbolik dikembangakan dari logika Aristoteles oleh Augutus De Morgan ( ) dan Goorge Boole (1815 – 1864)

 Logika Klasik Suatu silogisme yang berbentuk sempurna (well formed syllogism) jika ia memiliki dua premis dan satu kesimpulan, well formed syllogism bisa valid dan tidak valid  Logika Modern well formed sentences memiliki satu nilai saja = 1 atau 0 1. Logika Proporsisional Purwokerto adalah ibukota Jawa Tengah 2. Logika Predikat Jika Budi seorang mahasiswa, maka ia pandai Susi seorang mahasiswa Dengan Demikian, ia pasti pandai

Argumen Kumpulan pernyataan (statement) yang kemudian disebut sebagai premis dan kemudian diikuti oleh kesimpulan Pernyataan logika : 1. Jika permintaan bertambah, maka proses produksi ditingkatkan 2. Jika proses produksi ditingkatkan maka jam kerja karyawan akan lebih padat 3. Jika permintaan bertambah, maka jam kerja karyawan akan lebih padat

Valid Dilihat dari kebenaran dari suatu kesimpulan, jadi tidak mungkin kesimpulan yang salah diperoleh dari premis yang benar atau premis yang benar tidak mungkin menghasilkan kesimpulan yang salah - Logis Jika dan hanya jika argumennya valid dan semua premisnya bernilai benar - Tidak Logis Jika dan hanya jika argumennya valid dan tidak semua premisnya bernilai benar Tidak Valid Tidak ada hubungan antara kesimpulan dan premis-premisnya

Silogisme  Silogisme Hipotetical  Silogisme Disjungtive  Modus Ponens  Modus Tollens

Modus Ponens (p  (p  q))  (q) Jika p maka q : Jika saya haus, maka saya minum air p : Saya haus q :  Saya minum air

Modus Tolens ((p  q )   q )  (  p) Jika p maka q : Jika saya haus, maka saya minum air Tidak q : Saya tidak minum air Tidak p :  Saya tidak haus

Silogisme Hipotetical ((p  q)  (q  r ))  (p  r) Jika p maka q : Jika hari ini cerah, maka saya akan pergi Jika q maka r : Jika saya akan pergi, maka saya harus mengambil uang Jika P maka R :  Jika hari ini cerah, maka saya harus mengambil uang

Disjunctive syllogism ((p v q)  (  p))  (q) p atau q : Kemarin hari Selasa atau besok hari Senin tidak p : Kemarin hari Kamis q :  Besok hari Senin