KEBIJAKAN BUMN GULA DALAM MEMPRODUKSI GULA KRISTAL PUTIH

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
ENTREPRENEURSHIP KEWIRAUSAHAAN BAB 15 Oleh : Zaenal Abidin MK SE 1.
Advertisements

KOORDINASI BAWAS - BPKP : PENINGKATAN KUALITAS LK TA.2011
DASAR HUKUM PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO
TURUNAN/ DIFERENSIAL.
Perkeretaapian Khusus Tahap III Tahapan Menuju Perubahan Regulasi Jakarta 21 Juni 2011.
Perkeretaapian Khusus Fase III Pendekatan yang diusulkan terhadap perubahan peraturan Jakarta 20 Mei 2011.
PEDOMAN CARA PRODUKSI PANGAN OLAHAN YANG BAIK (GOOD MANUFACTURING PRACTICES) INDUSTRI MAKANAN, HASIL LAUT DAN PERIKANAN Direktorat Jenderal Industri Agro.
Bab 1 Pemasaran Mengatur Hubungan Pelanggan yang Menguntungkan
ENTREPRENEURSHIP KEWIRAUSAHAAN BAB 14 Oleh : Zaenal Abidin MK SE 1.
PENJELASAN CAPAIAN PAMSIMAS SAMPAI TAHUN 2013
PAU-PPAI-UT 1 2 Peserta dapat menjelaskan strategi pengembangan pendidikan tinggi Tujuan Instruksional Umum Tujuan Instruksional Khusus Peserta dapat.
Riset Operasional (RO)
MANAJEMEN OPERASI DOSEN: Munjiati Munawaroh, S.E.,M.Si
PENILAIAN KINERJA PENGAWAS SEKOLAH
MODEL PENGEMBANGAN KTSP SMA
Sosialisasi EQA BAN-PT – Dikti, Juli-Agustus 2009.
BUSINESS PLAN.
IMPROVING THE ENABLING ENVIRONMENT FOR SUGAR AND BIOETHANOL INDUSTRY COMPETITIVENESS Oleh : SUBIYONO Direktur Utama PTPN X (Persero) Jakarta, 21 Mei 2011.
Dasar Hukum dan Persyaratan Penerbitan Rekomendasi/Pertimbangan Teknis di Lingkungan Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Jakarta, 28.
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
ENTREPRENEURSHIP KEWIRAUSAHAAN Oleh : Zaenal Abidin MK SE 1.
TURUNAN DIFERENSIAL Pertemuan ke
Kualitas Gula Konsumsi: Tuntutan Konsumen
Makalah Kunci (Keynote Speech)
ENTREPRENEURSHIP KEWIRAUSAHAAN BAB 10 Oleh : Zaenal Abidin MK SE 1.
Jakarta Convention Centre, 29 Januari 2010
Gerakan Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional (GPATN )

Luas Daerah ( Integral ).
Kebijakan dan Peraturan Perikanan
Chapter 6 Merancang Struktur Organisasi : Spesialisasi dan Koordinasi
SKEMA PENERAPAN SISTEM KEAMANAN PANGAN PADA TIAP TAHAPAN PRODUKSI
Topik: Visi Pertanian Abad 21 (Pertanian Yang Berkebudayaan Industri)
Chapter 4 The Income Statement.
Is Fatimah. 28/03/ Sudahkan memahami SKEMA PENDANAAN (RD, RT, KP, DF) Insentif SINas ?
OVERVIEW Konsep dasar dan arti penting klasifikasi industri.
Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH
Surabaya, 30 April 2009 Departemen Perdagangan 1.
B. Kombaitan dan Ridwan Sutriadi
PRODUKTIVITAS PERUSAHAAN
Bab 4 LAPORAN LABA-RUGI DAN INFORMASI TERKAIT Intermediate Accounting
KEPEMIMPINAN STRATEGIS DAN VISIONER
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF
Sebagai Media Penyuluhan
PENGEMBANGAN ROTAN INDONESIA MELALUI POLA SENTRA HHBK
Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH
KEUANGAN KORPORAT COPORATE FINANCE.
Andrian Noviardy,SE.,M.Si.
Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH
KAPASITAS PRODUKSI GULA
Ekonomi untuk SMA/MA kelas X
PENGUKURAN PRODUKTIVITAS
EVALUASI DAN PENGENDALIAN STRATEGI
PENANAMAN MODAL (UU No.25 Th.2007)
KONSEP KEPUASAN PELANGGAN
POKOK-POKOK PIKIRAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ”SEMINAR NASIONAL FEED THE WORLD” DENGAN TEMA : ”MENUJU SWASEMBADA YANG KOMPETITIF DAN BERKELANJUTAN SERTA.
PERTANIAN PERTEMUAN 8 Powerpoint Templates.
KONSEP DEMAND DALAM SEKTOR KESEHATAN
KEGIATAN EKONOMI KESEHATAN Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH.
DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP DAN IZIN LINGKUNGAN
SISTEM AUDIT SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL PERGURUAN TINGGI
KONSEP PERILAKU KESEHATAN
Konsep Dasar Manajemen dan Paradigma Manajemen yang Berubah
WISNU HENDRO MARTONO,M.Sc
PENDAFTARAN TANAH Pendaftaran Tanah (Pasal 1 angka 1 PP No.24 Th 1997)
PELATIHAN TEKNIS PENGANEKARAGAMAN PANGAN BERBAHAN BAKU LOKAL
Arah Kebijakan Persusuan
Arah Kebijakan Persusuan
Arah Kebijakan Persusuan
Arah Kebijakan Persusuan
Transcript presentasi:

KEBIJAKAN BUMN GULA DALAM MEMPRODUKSI GULA KRISTAL PUTIH Deputi Bidang Usaha Agro Industri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan SEMINAR SEHARI “MENGANTISIPASI SNI GULA KRISTAL PUTIH : MASALAH DAN SOLUSI PENINGKATAN KUALITAS GULA” SURABAYA, 30 APRIL 2009

PENDAHULUAN GULA MERUPAKAN PEMANIS BERKALORI DARI PRODUK AGROINDUSTRI. MATA RANTAI PROSES PRODUKSINYA DIMULAI DARI BUDIDAYA TEBU DI KEBUN MELALUI FOTOSINTESIS HINGGA PANEN (TEBANG-ANGKUT) DAN PENGOLAHANNYA DI PABRIK. SETIAP AKTIVITAS DALAM MATA RANTAI MEMBERIKAN KONTRIBUSI TERHADAP PRODUK YANG DIHASILKAN. SELAIN DIGUNAKAN UNTUK KONSUMSI LANGSUNG (DIRECT CONSUMPTION), GULA JUGA MERUPAKAN BAHAN BAKU INDUSTRI PANGAN (MAKANAN DAN MINUMAN).

PERILAKU KONSUMEN TERJADINYA PERUBAHAN PERILAKU KONSUMEN SEBAGAI DAMPAK MASUKNYA WHITE SUGAR IMPOR DAN GULA RAFINASI. WARNA PUTIH CEMERLANG DIPERSEPSIKAN BERSIH DAN HYGIENIS, SEDANGKAN GULA BERWARNA COKLAT (KECUALI BROWN SUGAR) DIANGGAP KOTOR. PREFERENSI TENTANG KUALITAS BERUBAH SEJALAN DENGAN TUNTUTAN PRODUK BERSIH DAN YANG DIHASILKAN DARI INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN (ENVIRONMENTALLY FRIENDLY).

PENTINGNYA KUALITAS KESADARAN AKAN PENTINGNYA HIDUP SEHAT DAN BERSIH MENGHARUSKAN SEMUA PRODUK MEMILIKI STANDAR TERTENTU YANG BERLAKU SECARA NASIONAL DAN GLOBAL. SEMUA PRODUK MAKANAN DAN BAHAN PANGAN HARUS DIJAMIN BEBAS DARI PATOGEN DAN HAL-HAL LAIN YANG DIPERKIRAKAN BERDAMPAK SERIUS TERHADAP KESEHATAN DALAM JANGKA PANJANG (MISAL PENYEBAB KANKER). MENGUATNYA TUNTUTAN DIBERLAKUKANNYA STANDAR NASIONAL INDUSTRI (SNI)

KUALITAS SEBAGAI BUDAYA PRODUK BERKUALITAS TINGGI MENCERMINKAN KOMITMEN PRODUSEN DAN KONSUMEN MENCARI YANG TERBAIK. KETERBUKAAN PASAR AKIBAT BORDERLESS WORLD MENJADIKAN PRODUK LOKAL BERKUALITAS RENDAH MAKIN KEHILANGAN SEGMEN PASAR. BAGI PG, PENINGKATAN KUALITAS GULA HENDAKNYA MENJADI GERAKAN BUDAYA UNTUK MERAIH KEUNGGULAN KOMPETITIF DALAM LINGKUNGAN BISNIS YANG MAKIN KETAT. TEKNOLOGI MEMUNGKINKAN DIPEROLEHNYA PRODUK BERKUALITAS TINGGI DAN HARGA POKOK PRODUKSI BERSAING.

PARADIGMA BARU SAAT PRODUKSI LEBIH KECIL DARI KEBUTUHAN, BERAPA PUN JUMLAH GULA DIHASILKAN PG PASTI LAKU TERJUAL. DI MASA LALU, RENDAHNYA RESPONS TERHADAP KUALITAS AKIBAT RENDAHNYA INSENTIF YANG DITERIMA PRODUSEN. PERUBAHAN LANDSCAPE PERSAINGAN MENJADIKAN CARA-CARA LAMA DALAM MELIHAT KUALITAS TIDAK LAGI RELEVAN. DIPERLUKAN KESADARAN KOLEKTIF DAN PARADIGMA BARU DARI SELURUH PRODUSEN YANG MELIHAT KUALITAS SEBAGAI SALAH SATU CARA MEMENANGKAN PERSAINGAN.

PERSOALAN PG-BUMN SEBAGIAN BESAR PG BUMN MERUPAKAN ASET YANG DIBANGUN PADA MASA KOLONIAL. HANYA BEBERAPA PG BUMN YANG BERKAPASITAS BESAR (> 5.000 TCD) DAN BERTEKNOLOGI MAJU. BAHAN BAKU BERASAL DARI TEBU RAKYAT. PERSAINGAN DENGAN GULA RAFINASI DENGAN KUALITAS LEBIH BAIK MAKIN TERBUKA.

INSTRUMEN KEBIJAKAN (1) REVITALISASI PG MELALUI PENINGKATAN KAPASITAS GILING, EFISIENSI, DAN KEMAMPUAN MENGHASILKAN PRODUK BERKUALITAS TINGGI. PENINGKATAN KAPASITAS MEMUNGKINKAN HARI GILING LEBIH PENDEK SEHINGGA SEMUA TEBU DITEBANG SAAT RENDEMEN OPTIMAL DAN SELESAINYA PUN SEBELUM MUSIM PENGHUJAN. MAPPING PG-PG MERUGI YANG DIAWALI KAJIAN KOMPREHENSIF UNTUK DICARIKAN SOLUSI PEMECAHAN MASALAHNYA. KONTRAK MANAJEMEN ANTARA DIREKSI DAN KEMENTERIAN NEGARA BUMN TERKAIT PENCAPAIAN TARGET YANG KEMUDIAN DIJABARKAN HINGGA LEVEL PG TERENDAH (MANDOR).

INSTRUMEN KEBIJAKAN (2) REVITALISASI PADA LEVEL ON-FARM DAN RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN PETANI YANG MEMUNGKINKAN ADOPSI TEKNOLOGI BERJALAN LEBIH CEPAT PEMBATASAN SEGMEN GULA RAFINASI HANYA UNTUK BAHAN BAKU INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN MENDORONG SEMUA PG MELAKUKAN PEMBENAHAN INTERNAL SELAMA MASA TRANSISI MENUJU SNI WAJIB KERJA SAMA DENGAN PUSAT PENELITIAN UNTUK MENGAKSELERASI PENINGKATAN KINERJA UNGGUL MELALUI BEST PRACTICES, MISAL PEMANFAATAN BIOTEKNOLOGI

ICUMSA TAHUN 2008 PTPN IX PG PANGKA (211 IU) – PG RENDENG (450 IU) PTPN X PG TJOKEIR (105 IU) – PG NGADIREDJO (285 IU) PTPN XI PG KANIGORO (140 IU) – PG REDJOSARIE (256 IU) PT RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA PG REDJOAGUNG BARU (180 IU) – PG KARANGSUWUNG (276 IU)

SASARAN TAHUN 2009 MUTU GULA ICUMSA MAKSIMUM 200 IU GRAIN 1,2 MM MOISTURE 0,05% GULA RAFINASI SEBAGAI PERBANDINGAN (ACUAN UNTUK PROGRAM JANGKA MENENGAH) ICUMSA 50 IU GRAIN 0,8 MM MOISTURE 0,05%

PENINGKATAN RENDEMEN CARA TERMURAH YANG DAPAT DILAKUKAN A. DIMULAI DARI BUDIDAYA DI KEBUN : PENATAAN KOMPOSISI VARIETAS TEBU APLIKASI AGRO-INPUTS PEMANFAATAN BIOKOMPOS PEMELIHARAAN OPTIMAL MANAJEMEN TEBANG-ANGKUT PRIMA C. INSENTIF D. PENETAPAN RENDEMEN INDIVIDUAL SEBAGAI SARANA MEMOTIVASI

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS A. EFISIENSI BAHAN PEMBANTU. ASAM FOSFAT KAPUR DAN BELERANG SESUAI pH B. ALIH PROSES PEMURNIAN SULFITASI – KARBONATASI – SEMI RAFINASI SACHARAT PADA DEFEKASI C. KONDISI PROSES. D. KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA.

TANTANGAN KE DEPAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN HPP BERSAING. SELAIN SNI WAJIB, ANTISIPASI TERHADAP SERTIFIKASI PRODUK YANG MAKIN RUMIT. INOVASI DAN KREATIVITAS UNTUK MENCARI TEROBOSAN TEKNOLOGI YANG KNOWLEDGE BASED TEKNOLOGI INFORMASI DAPAT MEMBANTU PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS GULA

PENUTUP PENINGKATAN KUALITAS MERUPAKAN PROGRAM YANG TIDAK PERNAH BERHENTI DAN BERLANGSUNG TERUS MENERUS. MENGANTISIPASI PEMBERLAKUAN SNI WAJIB DAN SERTIFIKASI PRODUK YANG MAKIN RUMIT, DIPERLUKAN INOVASI DAN KREATIVITAS TINGGI DARI SETIAP INSAN PERGULAAN BUMN. PENINGKATAN MUTU HARUS MERUPAKAN GERAKAN BUDAYA.

LAMPIRAN DATA ICUMSA BUMN GULA

PT PERKEBUNAN NUSANTARA II (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA VII (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA X (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA X (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA X (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)

PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)

PT RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA (PERSERO)

PT RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA (PERSERO)