PENJAS ADAPTED BAGI TUNARUNGU

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Oleh: Prof.Dr.Mungin Eddy Wibowo, M.Pd Universitas Negeri Semarang
Advertisements

DASAR-DASAR KOMUNIKASI
DASAR-DASAR KOMUNIKASI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR
KETERAMPILAN KOMUNIKASI DALAM KONSELING
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
BAHAN AJAR RENANG.
Anggota : 1. Ratri Wahyuning Rahayu. ( ) 2. Riska Nurdianah
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
ESTY ARYANI SAFITHRY, M.PSI, PSIKOLOG
Keterampilan Dasar Mengajar
IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
Destina Puji Rahayu Friesca Aster Indah Indriyani Satria Suja Senotsa 4C4C.
HAKEKAT PENDIDIKAN JASMANI
PENJAS ADAPTED BAGI TUNAGRAHITA
PENJAS ADAPTED BAGI TUNALARAS
PENDIDIKAN TUNANETRA Oleh: Sumaryanti
Chandra Setya Nugraha SMAK PENABUR HI
Oleh : Valentin Quanti s
MAHASISWA PGSD SEMESTER 1 FIK UNY
MATERI KULIAH PENDIDIKAN INKLUSI
MUSIK UNTUK ANAK BEGERAK DALAM MUSIK.
Praktikum Jiwa 1 Modul Saraf Jiwa
KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN ANAK
GPK : Mendukung Peran Guru di Kelas Reguler
Pengembangan Penilaian Psikomotor
Menghilangkan Rasa Takut pada Anak
KONSEP BELAJAR Esty Aryani Safitrhry, M.Psi, Psikolog
Prinsip-Prinsip Kesehatan Mental Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental
POKOK BAHASAN Pertemuan 5 Matakuliah: Psikologi Pendidikan Tahun: 2009.
GAMBARAN UMUM KETERAMPILAN BERBAHASA
KONSEP DASAR GERAK.
MEDIA PEMBELAJARAN BAGI ANAK TUNARUNGU
Purwati Staf pengajar Polsri
STKIP-PGRI Banjarmasin
DASAR-DASAR KOMUNIKASI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Mengenal TIPE BELAJAR ANAK (AUDITORY, VISUAL, & KINESTETIK)
PROSES MENDENGARKAN AKTIF
Pengertian Microteaching
KECERDASAN KINESTETIK
PRINSIP–PRINSIP Perkembangan
Etiket Berinteraksi dengan penyandang disabilitas
Matakuliah Keterampilan Dasar dan Lanjut Bolavoli
LOMPAT JAUH Nazerul Ramadanni, S.Pd.
Disusun Oleh : Virsa Bili Putu Pramono
Kesukaran Belajar Part II
SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN JASMANI
ASPEK PSIKOLOGIK PADA ANAK DENGAN KELAINAN ENDOKRIN
KEMAMPUAN KOMUNIKASI SECARA EFEKTIF
Karateristik dan Perbedaan Individu
KONTRAK PEMBELAJARAN PJOK KELAS XI SMT I SMA NEGERI 10 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2017/2018 UMAR SIDIK, M. Pd NIP
Belajar Efektif dan Efisien
Petolongan Pertama Psikologis Psychological First Aid (PFA)
KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN
KELOMPOK 3 NURLI JUMIATIN RISMAWATI DWIKA NOR RINA YULIA MAWADDAH
PERILAKU SISWA SEBAGAI INDIVIDU
Keterampilan Dasar Mengajar
Perkembangan fisik adalah Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan salah satu aspek penting dari perkembanagan individu.
HAKIKAT BELAJAR & PEMBELAJARAN
ANALISIS KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR.
PERTUMBUHAN FISIK REMAJA FKIP EKONOMI AKUNTANSI-2B
IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Keterampilan Dasar Mengajar
Pertemuan Keempat Ratih Pertiwi, M. Ds
Pengasuhan Anak Usia Sekolah Dasar PERTEMUAN 8
DASAR-DASAR KOMUNIKASI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Mengenal Lebih Dekat dan Penanganannya di Kelas Oleh: Ana Karunia, S.Psi.
PERKEMBANGAN ANAK USIA 4 -6 TAHUN
Karakteristik Belajar Peserta Pelatihan
Konseling gizi. Gema didalam/gaung/pantulan bunyi ◦ Gema adalah pikiran yang mungkin kita miliki ketika kita mendengarkan orang lain. ◦ Meskipun kita.
Transcript presentasi:

PENJAS ADAPTED BAGI TUNARUNGU Oleh Erwin Setyo Kriswanto erwin_sk@uny.ac.id PENDIDIKAN OLAHRAGA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Tunarungu Kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggunakan alat pendengaranya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.

CIRI-CIRI TUNARUNGU a) Dalam segi fisik: Cara berjalannya kaku dan anak membungkuk. Hal ini disebabkan terutama terhadap alat pendengaran. Gerakan matanya cepat agak beringas. Hal ini menunjukkan bahwa ia ingin menangkap keadaan yang ada di sekelilingnya. Gerakan kaki dan tangannya sangat cepat atau kidal. Hal tersebut tampak dalam mengadakan komunikasi dengan gerak isyarat. Pernafasannya pendek dan agak terganggu.

b) Ciri khas dari segi intelegensi Intelegensi merupakan faktor yang sangat penting dalam belajar, meskipun disamping itu ada faktor – faktor lain yang dapat diabaikan. begitu saja seperti kondisi kesulitan, faktor lingkungan intelegensi merupakan motor dari perkembangan siswa. c) Ciri – ciri dari segi sosial 1) Perasaan rendah diri dan merasa diasingkan oleh keluarga atau masyarakat. 2) Perasaan cemburu dan salah sangka diperlakukan tidak adil 3) Kurang menguasai irama gaya bahasa.

d)      Ciri – Ciri khas dari segi emosi Kekurangan bahasa lisan dan tulisan seringkali menyebabkan siswa tuna rungu akan menafsirkan sesuatu negative atau salah dalam hal pengertiannya. Hal ini disebabkan karena tekanan pada emosinya

e) Psikomotor Cenderung memiliki sikap badan yang kurang baik. Kadangkala, akan memperlihatkan gerak tanpa tujuan. Beberapa individu berpendengaran terbatas berjalan dengan menyeret kaki. Masalah ini berkaitan dengan ketidakmampuan mendengar gerak dan merasa aman bila selalu ada kontak dengan tanah. Perkembangan gerak berpendengaran terbatas terbelakang kira-kira 1,5 tahun dari yang normal. Kurang bugar daripada yang normal, karena mereka cenderung duduk. Mereka menggunakan energi psikis dan jasmani untuk perjuangan berkomunikasi sehari-hari Keseimbangan (statis dan dinamis) dan kelincahan biasanya kurang pada yang berpendengaran terbatas dengan komplikasi telinga di dalam.

e) Kognitif Kebanyakan berintelegent normal dalam prestasi sekolah disebabkan masalah komunikasi. Kemampuan memahami abstrak biasanya terpengaruh. Kekurangan dalam berkomunikasi merupakan tantangan terbesar Kemampuan bahasa dari yang berpendengaran terbatas sering meningkat dengan menggunakan alat pendengar yang memperkeras suara. Pembaca bibir yang paling kompeten mungkin hanya dapat menangkap ucapan orang lain sebanyak 25 %.Hanya sedikit ucapan suara dapat dipahami

f) Afektif Cenderung kesepian, menutup diri dari dunia luar. Mereka cenderung berhubungan orang lain yang juga kehilangan pendengaran. Biasanya pendiam. Mereka jarang sekali tertawa. Cenderung sangat cemas dan takut, sebagian karena mereka tidak mudah di peringatkan terhadap bahaya.

Karakteristik Tunarungu Karakteristik Tunarungu dalam segi emosi dan social 1. Egosentrisme yang melebihi anak normal. 2. Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas. 3. Ketergantungan terhadap orang lain 4. Perhatian mereka lebih sukar dialihkan. 5. Mereka umumnya memiliki sifat yang polos, sederhana dan tanpa banyak masalah. 6. Mereka lebih mudah marah dan cepat tersinggung.

KLASIFIKASI TUNARUNGU 0 db : Menunjukan pendengaran yang optimal 0 – 26 db : Menunjukan seseorang masih mempunyai pendengaran yang optimal 27 – 40 db : Mempunyai kesulitan mendengar bunyi – bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi bicara . ( tergolong tunarungu ringan ) ·

41 – 55 db : Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara ( tergolong tunarungu sedang ) ·          56 – 70 db : Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, masih punya sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat Bantu dengar serta dengan cara yang khusus. (tergolong tunarungu berat ) ·        

71 – 90 db : Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang – kadang dianggap tuli, membutuhkan pendidikan khusus yang intensif, membutuhkan alat Bantu dengar dan latihan bicara secara khusus. ( tergolong tunarungu berat ) 91 db : Mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuki proses menerima informasi dan yang bersangkutan diangap tuli (tergolong tunarungu berat sekali )

Aktivitas Penjas Yang dapat dilakukan Gunakan indera lain untuk instruksional. Berikan bantuan khusus dalam menggunakan bantuan visual, seperti papan pengumuman, papan tulis, pita video, cermin dan demonstrasi. Gunakan tuntunan tangan untuk menggunakan kemampuan residual. Bila peserta didik memiliki radangan, hindari aktivitas dengan kondisi tempat yang suhu banyak berubah. Hindari suara yang terlalu banyak dalam ruang, kolam renang atau lapangan permainan.

Ajar peserta didik untuk membedakan hubungan ruang melalui gerak baik pendidikan gerak maupun permainan terstruktur. Berikan model dari sikap static dan dinamis yang baik. Gunakan cermin dan alat visual lainnya untuk mendorong memiliki sikap tubuh yang baik. Langsung bertindak untuk menyiapkan perilaku yang tidak baik. Karena hal itu tidak akan hilang dengan sendirinya. Gunakan peserta didik yang normal dan anda sendiri sebagai model. Gunakan umpan balik audio-visual dan cermin sebagai teknik. Secara fisik dorong peserta didik mengangkat kaki dengan secara lembut memukul kakinya. Perkuat cara berjalan dengan tidak menyeret kaki.

Seluruh rentangan perkembangan aktivitas amat penting bagi peserta didik ini. Tekankan berjalan, lari, lompat, di samping keterampilan koordinasi mata-kaki dan mata tangan, karena kemampuan tersebut dibutuhkan seumur hidup. Berikan aktivitas untuk kekuatan kardiovaskuler, kelentukan paling kurang 3 kali per minggu. Manfaatkan semaksimal mungkin bantuan visual. Hindari aktivitas memanjat seperti tali tangga dan perkakas. Latihan kelincahan melibatkan benda lain yang bergerak tidak disarankan.