Terapi Realitas Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
PERANAN GURU DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Advertisements

PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN
Prinsip - Prinsip Bimbingan dan Konseling
4 Sifat PRIBADI YANG BERHASIL
KONSEP-KONSEP DASAR TEORI KEPRIBADIAN
Bab 3 Kecerdasan emosi.
Konseling.
MEMAHAMI DIRI SENDIRI 2. KOMUNIKASI KONSELING KIP/K
ANALISIS TRANSAKSIONAL
KONSELING PERORANGAN Kerangka Kerja Praktis
Keprofesian Bidang Bimbingan dan Konseling serta Ketatalaksanaan Pendidikan Adriy.weebly.com.
KONSELING PROSES PEMBERIAN BANTUAN DARI KONSELOR KEPADA KLIEN YANG DILAKUKAN MELALUI WAWANCARA BANTUAN KONSELOR KLIEN WAWANCARA.
PERAN PENGAWAS DALAM MEMOTIVASI KERJA KEPALA DAN GURU TAMAN KANAK-KANAK SRAGAN Oleh: Suyatminah Kulsum Nur Hayati.
Client-Centered Approach (Carl Rogers)
Reality Therapy William Glasser
Sebagai Metode Dasar Psikoterapi
HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT - KLIEN
PENDEKATAN PERSON CENTER
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen
KETERAMPILAN DASAR KONSELING
Materi Pertemuan 8 Peran Pendidik dalam Memupuk Bakat dan Kreativitas Anak Psikologi Anak Berbakat Olivia Tjandra W., M. Si., Psi.
Konseling Integratif (suatu pendekatan eklektik dalam konseling)
PRAKTIK LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
PENDEKATAN PERILAKU/ BEHAVIORISTIK
“Teori dan Pendekatan Gestalt”
Bimbingan Karir Fitria Nurmastuti –
KONSELING KELOMPOK.
PENGGERAKAN PERTEMUAN 4.
Pengertian gestalt Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam.
Teori Belajar Humanistik
Persepsi Persepsi memiliki makna penting dalam perilaku manusia. Perilaku seseorang didasarkan pada persepsi mengenai realitas yang dihadapi dalam kehidupanya,
PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL
MENGAMBIL KEPUTUSAN Seorang wirausaha harus kreatif, terutama dalam mengambil keputusan. Kemampuan mengambil keputusan inilah yang membedakan seorang wirausaha.
SELAMAT DATANG DI KELAS PROGRAM MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI
Asas-asas Bimbingan Konseling
Masalah- masalah Belajar
PENGERTIAN DAN HAKIKAT IPS DALAM PROGRAM PENDIDIKAN
KONSEP SEHAT-SAKIT JIWA
Terapi Gestalt Terapi Gestalt dikembangkan oleh Frederick Perls
T E K N I DASAR.
LAYANAN PEMINATAN DENGAN BIMBINGAN KELOMPOK
BIMBINGAN KONSELING INDONESIA.
Tahapan Hubungan Terapeutik Perawat – Klien
HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT - KLIEN
GANGGUAN KONSEP DIRI KONFLIK PERAN
PENDEKATAN NON DIRECTIVE
       
PELAYANAN KONSELING INDIVIDUAL
PENDEKATAN-PENDEKATAN KEPEMIMPINAN
Nama : Brigita Dewanti NIM : BK off B
LANDASAN KONSELING LINTAS AGAMA BUDAYA
KONSELING MULTIKULTURAL DAN MULTIAGAMA
HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT - KLIEN
PENDEKATAN PSIKOANALISIS
“UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI MENGAJAR MENUJU GURU PROFESIONAL”
Persiapan Guru sebagai Fasilitator dalam Memberikan
JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING
MOTIVASI DAN KAUNSELING
PELAYANAN KONSELING INDIVIDUAL
Ini Pilihan Kami.
Oleh : Novianto Puji Raharjo, S.Kom
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen
Pelatihan Dasar Konsultan
KOMUNIKASI INTERPERSONAL / KONSELING (KIP/K) Tri Yunita FD STr. Keb.
Perbedaan konseling dengan nasehat. Konseling Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan.
Pertemuan 9 :Conflict Management Disusun : Lies Sunarmintyastuti
PENDEKATAN EKSISTENSIAL-HUMANISTIK
Peranan Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan Bimbingan Konseling (BK)
E E KEPEMIMPINAN SITUASIONAL. Kepemimpinan situasional menurut Hersey dan Blanchard didasarkan pada saling berhubungannya hal-hal berikut ini:
KOMPONEN PROGRAM BIMBINGAN KONSELING Oleh: Chintya Apriliani Rossa Fitriyani Cindy Ayu Kharisma.
Transcript presentasi:

Terapi Realitas Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini.

A. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseling Yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental klien secara sukses, dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan

Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini, maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya, sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana klien dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang.

B. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu, tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 2. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. 3. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah, diperbaiki, dianalisis dan ditafsirkan. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya, sebagai pengalaman yang berharga.

4. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan 4. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseling 5. Menekankan aspek kesadaran dari klien yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh klien . Tanggung jawab dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya.

6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar klien dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata.

C. Tujuan Terapi 1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 2. Mendorong klien agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

3.Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4.Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 5.Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri

D. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Motivator, yang mendorong Klien untuk: menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri.

Penyalur tanggung jawab, sehingga: keputusan terakhir berada di tangan Klien; (b) Klien sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. Moralist; Yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila Klien bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya

4.Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 5.Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya.

Teknik-Teknik dalam Konseling 1.Menggunakan role playing dengan maaf 2.Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3.Tidak menjanjikan kepada klien maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.

4.Menolong klien untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 5.Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik 6.Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 7.Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan Klien dengan perilakunya yang tak pantas. 8.Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif.