A. TAHAPAN KOMUNIKASI Tahap Linguistik adalah tahap pemilihan unsur yang sesuai dengan ide dari otak Tahap Fisiologis adalah gerakan-gerakan pada alat.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
PRAKTIKUM PBAB POWER POINT NURUL TRIJAYANTI LANJUT.
Advertisements

Media Pembelajaran Sistem Respirasi Manusia
CIRI-CIRI SUPRASEGMENTAL BAHASA INDONESIA
Standar kompetensi & kompetensi dasar
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BIOLOGI
KEGIATAN INTI.
SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA
SISTEM PENCERNAAN MANUSIA
Kemampuan berbahasa di SD
BAB 7 Sistem Pernapasan.
Oleh Litta Mirnawati / Silyawati /
Organ tubuh manusia dan hewan (Part 1)
Sistem pernapasan pada manusia
SISTIM PERNAFASAN. SISTIM PERNAFASAN Tujuan pembelajaran: Menjelaskan struktur dan fungsi kavitas nasalis dan faring Menjelaskan struktur laring dan.
SISTEM RESPIRASI MANUSIA
TEKNIK VOKAL DAN PADUAN SUARA
MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISTEM PERNAFASAN MANUSIA
Fonologi Dewi Puspitasari.
Struktur Fonologi Bahasa Indonesia
BIOAKUSTIK Oleh : Rosalina Pangala Salimah Suprihatiningsih
KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL DAN SURASEGMENTAL
Fonologi Bahasa Jawa Siti Mulyani.
Fonologi Dewi Puspitasari.
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERNAFASAN
PANCA INDRA PADA MANUSIA
Pengantar Linguistik Jepang 4 Maret 2013
System Respiratory Dosen Pengampu : Prof.Dr.Ir. Woro Busono, MS
Proses menelan makanan atau minuman pada manusia
SISTEM PERNAPASAN MANUSIA
Kelas VIII Oleh: Agustaman Sistem pernafasan APERSEPSI INDIKATOR
SISTEM RESPIRASI Bernafas ???? Tujuan ???.
SISTEM PENCERNAAN PADA MANUSIA.
ANATOMI SISTEM PERNAFASAN
SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA
Sistem Pernapasan Manusia
Struktur Fonologi Bahasa Indonesia
STKIP Siliwangi Bandung
PENGANTAR LINGUISTIK UMUM
Proses Pembentukan dan Karakteristik Sinyal Ucapan
SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA
BAB 7 Sistem Pernapasan.
BAB VII SISTEM PERNAPASAN.
Sistem Pernapasan pada Burung
DASAR-DASAR MENYANYI OLEH : ANTAMA B.,M.Pd.
--KHUSNUL FATONAH, M.PD. --
Fisiologi sistem stomatognasi
FISIOLOGI Sistem Stomatognatik
Bahasa berupa bunyi.
TEXSI MARINI WAHDALENA
FONOLOGI Dosen : ABUSAMAN BIN AHMAD,S.Pd Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Universitas Terbuka.
KELOMPOK 5 KELAS V SD Desi Muji Hartanti Nurul Hasanah Tutut Widyanti
Sistem Pencernaan Makanan & Gangguan Pada Sistem Pencernaan
Sistem Pencernaan Kelompok 2 : 1.Rina Purwanita ( )
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP BINA BANGSA MEULABOH
SALURAN PENCERNAAN.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN LABIOPALATOSKISIS
Proses pencernaan.
SISTEM RESPIRASI HEWAN
MATA KULIAH FONOLOGI fonologi.
Sistem Respirasi XI IPA SMA IPEKA.
LINGUISTIK BAHASA JEPANG
BUNYI DIFTONG Diftong ialah dua bunyi vokal yang disebut sebagai satu bunyi dan satu hembusan nafas sahaja Dilambangkan dalam dua huruf vokal. 3 jenis.
BUNYI KONSONAN Terdapat dua belas titik artikulasi yang terlibat bagi menghasilkan bunyi-bunyi konsonan. 1. Bibir 7. Gigi Gusi - Lelangit keras 2.
BUNYI VOKAL Bunyi-bunyi vokal melibatkan udara agresif iaitu udara yang dihembuskan keluar semasa menghasilkan bunyi ini. Semasa menghasilkan bunyi-bunyi.
KONSONAN bahasa jawa.
MEMBENTUK SUARA Diakon Yulius Maran, SS.CC Bahan Ajar Musik: Novisiat SSCC.
TUJUAN PEMBELAJARAN Jenis-jenis Pernapasan Penyakit atau Gangguan pada Sistem Pernapasan Mekanisme Pernapasan Struktur Organ Pernapasan Fase Pernapasan.
Sistem Pernapasan Manusia
SISTEM PERNAFASAN PADA HEWAN
PEMBIMBING : Zaenal Arifin, S.Kep.Ns, M.Kes
Transcript presentasi:

BAB III F O N E T I K TAHAPAN KOMUNIKASI, PROSES PEMBENTUKAN, TRANSKRIPSI FONETIS

A. TAHAPAN KOMUNIKASI Tahap Linguistik adalah tahap pemilihan unsur yang sesuai dengan ide dari otak Tahap Fisiologis adalah gerakan-gerakan pada alat ucap sedemikian rupa sehingga memunculkan tekanan udara di sekelilingnya berpotensi menimbulkan fonesi. Tahap Akustik adalah udara yang diakibatkan oleh gerakan alat ucapa dan menimbulkan gelombang bunyi yang merambat keluar.

B. PROSES PEMBENTUKAN 1. Arus Udara Arus udara egresif Arus udara ingresif

2. Pita Suara Pita suara merupakan sumber bunyi 2. Pita Suara Pita suara merupakan sumber bunyi. Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk paru-paru pita suara dengan glotis terbuka sedikit pada ujung aterior pita suara dengan glotis tertutup pada permulaaan Glotis terbuka hampir sepanjang pita suara pita suara terbuka seluruhnya

3. Alat-alat Ucap Paru-paru berfungsi mengidap zat pembakar untuk disalurkan ke dalam darah dan menyalurkan zat asam arang ke luar tubuh. Pita suara berfungsi menjaga agar tidak ada benda apa pun yang masuk kesaluran pernapasan. Lidah berfungsi memindahkan makanan yang akan atau sedang dikunyah dan merasakan makanan yang akan ditelan. Gigi berfungsi melumat makanan yang akan masuk ke perut sehingga memudahkan kerja pencernaan.

Organ-organ tubuh yang digunakan sebagai alat ucap dapat dibagi menjadi tiga komponen yaitu:

a. Komponen Supraglotal 1) Rongga kerongkongan yang terletak di atas laring ini merupakan tabung dan di bagian atasnya bercabang dua, yang berwujud rongga mulut dan hidung berperan sebagai tabung udara yang akan turut bergetar apabila peta suara menimbulkan gearan pada arus udara yang lewat dari paru-paru 2) Rongga hidung bentuk dan simensi yang relative tetapi dalam kaitannya dengan pembentukan bunyi mempunyai fungsi sebagai tabung resonansi. Bunyi yang keluar melalui rongga hidung saja disebut bunyi nasal, dan yang keluar melalui rongga mulut saja disebut bunyi oral, dan yang keluar melalui rongga hidung dan rongga mulut disebut bunyi dinasalisasi

3) Rongga mulut rongga yang paling penting diatara ke3 rongga yang ada pada rongga supraglotal. Selain dimensi dan bentuknya yang sangat bervariasi, bunyi-bunyi ujar yang dihasilkan dari rongga mulut ini sangat banyak dan bervariasi. Hal ini karena keterlibatan lidah, bibir, dan juga rahang yang mudah digerakan. Bagian-bagian alat ucap yang yang terdapat dalam rongga mulut ysng bisa digerakan disebut articulator Bibir atas (labium) biasa disentuh oleh bibir bawah. Gigi atas (dentum) biasa disentuh oleh bibir bawah, ujung lidah dan daun lidah Pangkal gigi atas (alveolum) biasa disentuh oleh ujung lidah dan daun lidah Langit-langit keras (palatum) biasa disentuh oleh ujung lidah dan daun lidah Langit-langit lunak (velum) biasa disentuh oleh belakang ludah Anak tekak (uvula) biasa disentuk oleh akar lidah

Bibir bawah ( labium) biasa menyentuh atau mendekati bibir atas dan gigi atas Gigi bawah (dentum) bersama-sama dengan ujung lidah biasa menyentuh atau mendekati gigi atas Ujung lidah (apeks) biasa menyentuh atau mendekati gigi atas, pangkal gigi, langit-langit keras. Tengah lidah ( lamina) biasa menyentuh atau mendekati gigi atas, dan langit-langit keras. Belakang lidah (dorsum) biasamenyentuh atau mendekatai langit-langit lunak. Akar lidah (radiks) biasa menyentuh atau mendekati anak tekak.

Keterangan: artikulasi bilabial (bibir bawah dan bibir atas) artikulasi labio-dental (bibir bawah dan gigi atas) artikulasi inter-dental ( gigi bawah dan gigi atas) artikulasi apiko-dental (ujung lidah dan gigi atas) artikulasi apiko –alveolar (ujung lidah dan pangkal gigi) artikulasi lamino-dental (daun lidah dan gigi atas) artikulasi lamino-alveolar (daun lidah dan pangkal gigi) artikulasi lamino-palatal (daun lidah dan langit-langit keras) artikulasi dorso-palatal(pangkal lidah dan langit-langit lunak) artikulasi dorso-velar (pangkal lidah dan langit-langit lunak) artikulasi dorso-uvular ( pangkal lidah dan anak tekak) artikulasi oral ( penutupan arus udara ke rongga hidung oleh anak tekak) artikulasi radiko-faringal (akar lidah dan dinding tenggorok )

b. Komponen Laring Laring berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, dan hidung. Kinerja pita suara dilaringlah yang mengakibatkan penggolongan bunyi bahasa menjadi bunyi bersuara (hisup) dan bunyi tidak bersuara.

c. Komponen Subglotal Komponen ini berfungsi untuk pernapasan, yaitu mengalirkan udara dari dan ke paru-paru. Ada dua macam pernapasan yaitu pernapasan biasa memiliki frekuensi mulai dari penarikan, penghembusan, dan penghentian berkisar antara 10 sampai 200 kali per menit bergantung pada karbondioksida dan darah dan pernapasan berbicara fase penarikan nafas lebih cepat, sedangkan penghembusannya lebih lambat.

C. TRANSKRIPSI FONETIS Transkripsi fonetis adalah perekaman bunyi dalam bentuk lambang tulis. Berikut ini adalah sebagian dari beberapa daftar secara selektif lambing-lambang fonetik yang diperkirakan terdapat dalam bunyi bahasa Indonesia dan dengan penyesuaian seperlunya.

Lambang Fonetis Alphabet Latin Contoh [ Ә ] [ p` ] [ y ] Sama dengan huruf e terbalik Hurup p berpetik tunggal Sama dengan huruf y [ kӘ+lӘ+la+war] ‘kelelawar’ [sap’+ta] ‘sapta’, [a+tap’] ‘atap’ [ba+yi] ‘bayi’, [pӘ+la+yan] ‘pelayan’

BAB IV KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL DAN DEKRIPSI BUNYI SEGMENTAL BAHASA INDONESIA

A. DASAR KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL 1 A. DASAR KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL 1. Ada Tidaknya Gangguan Gangguan adalah penyempitan atau penutupan yang dilakukan oleh alat-alat ucap atas arus udara dalam pembentukan bunyi. Dilihat dari ada tidaknya gangguan ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokan menjadi dua: a. Bunyi Vokoid, yang dihasilkan tanpa melibatkan penyempita atau penutupan pada daerah artikulasi b. Bunyi Kontoid, yang dihasilkan dengan melibatkan penyempitan atau penutupan pada derah artikulasi

2. Mekanisme Udara a. Mekanisme udara pulmonis, udara yang dari paru-paru menuju ke luar b. Mekanisme udara laringal atau faringal, udara yang dating dari laring atau faringal c. Mekanisme udara oral, udara yang dating dari mulut 3. Arah Udara a. Bunyi egresif b. Bunyi ingresif 4. Pita Suara a. Bunyi mati atau bunyi tak bersuara, bunyi dihasilkan dengan pita suara tidak melakukan gerakan membuka menutup sehingga getarannya tidak signifikan (k, p, t, s) b. Bunyi hidup atau bunyi bersuara dihasilkan dengan melakuka gerakan membuka menutup secara cepat sehingga bergetar secara signifikan (g, b, d, z)

6. Mekanisme Artikulasi a. Bunyi bilabial (p, b, m, dan w) b 6. Mekanisme Artikulasi a. Bunyi bilabial (p, b, m, dan w) b. Bunyi labio dental (f dan v) c. Bunyi apiko dental (t pada pintu, d pada dadi, dan n pada minta) d. Bunyi apiko alveolar (t pada pentung, d pada dudu, dan n pada nama e. Bunyi lamino palatal (c, j, n, s) f. Bunyi dorso velar ( k, g, x, η) g. Bunyi dorso uvular (q, R) h. Bunyi laringal (h) i. Bunyi glottal (? atau hamzah)

7. Cara GangguanTinggi-Rendahnya Lidah a 7. Cara GangguanTinggi-Rendahnya Lidah a. Bunyi stop (hambat) (b, t, d, t, d, k, g) b. Bunyi kontinum (alir) (tril, lateral, afrikatif, frikatif) c. Bunyi afrikatif (paduan) (c,j) d. Bunyi frikatif (geser) ( f, v, s, z, x) e. Bunyi trill (getar) (r, R) f. Bunyi lateral (samping) (l, lima) g. Bunyi nasal (hidung) (m, n, η) 8. Maju-Mundurnya Lidah a. Bunyi tinggi yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meninggi (kita, hantu) b. Bunyi agak tinggi posisi lidah meninggi (lele, soto) d. Bunyi tengah, posisi lidah di tengah ( segera, emas, peran) e. Bunyi agak rendah (pepe, lele, joro, poko) f. Bunyi rendah (allah, rahmat)

9. Bentuk bibir Bunyi depan dihasilkan dengan cara bagian depan lidah dinaikan, i, e, a. Bunyi pusat dihasilkan dengan cara lidah merata, tidak ada bagianlidah yang dinaikan(ә) Bunyi belakang dihasilkan dengan cara bagian belakang lidah dinaikkan ( u, Um o, O, α)

Terimakasih